KAJIAN JURNAL
MACAM-MACAM TEORI KELUARGA
Disusun Oleh:
Tondy Arya Putra (1504617058)
PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2019
RINGKASAN
Terdapat macam-macam teori didalam sebuah keluarga dimana teori itu mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai keluarga. Adapun teori tersebut sebagai berikut:
Teori Struktural Fungsional, Teori Sosial Konflik, Teori Pertukaran Sosial, Teori Ekologi, Teori Gender, Teori Feminisme, dan Teori Perkembangan.
Struktural–fungsional berpegang bahwa sebuah struktur keluarga membentuk kemampuannya untuk berfungsi secara efektif, dan bahwa sebuah keluarga inti tersusun dari seorang laki-laki pencari nafkah dan wanita ibu rumahtangga adalah yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan anggota dan ekonomi industri baru (Hill SA., 2006).
Teori Konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. (Bernard Raho, 2007).
Pendekatan Ekologi keluarga merupakan teori yang dapat digunakan untuk mengkaji beragam masalah berkaitan dengan keluarga dalam hubungannya dengan beragam lingkungan. Nilai moral dasar ekologi keluarga terletak pada saling ketergantungan manusia dengan alam, kebutuhan manusia untuk hidup berdampingan satu sama lain dan kebutuhan untuk hidup lebih baik. (Sunarti, 2007)
Akar Teori Pertukaran berasal dari sejumlah disiplin ilmu soaial, termasuk psikologi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi mikro (Haryanto, 2012). Para Antropolog-lah yang pertama kali mengakui banyak interaksi sosial di luar ekonomi yang dapat dikonspetualisasikan sebagai pertukaran manfaat.
Konsep Gender. Kata ‘gender’ dapat diartikan sebagai peran yang dibentuk oleh masyarakat serta perilaku yang tertanam lewat proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Ada perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki, namun kebudayaan menafsirkan perbedaan biologis ini menjadi seperangkat tuntutan sosial tentang kepantasan dalam berperilaku, dan pada gilirannya hak-hak, sumberdaya, dan kuasa.
Feminisme adalah paham atau keyakinan bahwa perempuan benar-benar bagian dari alam manusia, bukan dari yang lain yang menuntut kesetaraan dengan laki-laki dalam setiap aspek kehidupan, tanpa melihat kodrat dan fitrahnya. Kesetaraan ini biasanya disebut juga dengan istilah kesetaraan gender (gender equality)(Nuryati, 2015).
Teori perkembangan keluarga menjelaskan perkembangan keluarga secara dinamis dan mengklasifikasikannya ke dalam satu rangkaian tahap perkembangan yang jelas. Tahap- tahap perkembangan dianggap sebagai masamasa stabilitas relatif yang berbeda secara kuantitatif dan kualitatif diantara tahap-tahapnya.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga berasal dari bahasa Jawa yang terbentuk dari dua kata yaitu kawula dan warga.
Didalam bahasa Jawa kuno kawula berarti hamba dan warga artinya anggota. Secara bebas dapat diartikan bahwa keluarga adalah anggota hamba atau warga saya. Artinya setiap anggota dari kawula merasakan sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai bagian dari dirinya dan dirinya juga merupakan bagian dari warga yang lainnya secara keseluruhan.
Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan/hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anakanak yang belum menikah disebut keluarga batih. Sebagai unit pergaulan terkecil yang hidup dalam masyarakat, keluarga batih mempunyai peranan-peranan tertentu
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui teori structural fungsional 2. Untuk mengetahui teori social konflik 3. Untuk mengetahui teori pertukaran social 4. Untuk mengetahui teori ekologi
5. Untuk mengetahui teori gender 6. Untuk mengetahui teori feminisme 7. Untuk mengetahui teori perkembangan
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai referensi untuk pembaca dalam mengerjakan atau menyusun makalah terkait macam-macam teori keluarga
2. Sebagai sumber dan bahan masukan bagi penulis lain untuk menggali dan melakukan eksperimen tentang macam-macam teori keluarga
3. Dapat memberikan informasi kepada pembaca mengenai macam-macam teori keluarga
4. Dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai apa itu teori keluarga dan macam-macamnya
BAB II ISI
2.1 Teori Struktural Fungsional
Teori Struktural Fungsional atau Fungsionalisme Struktural merupakan hasil dari pengaruh yang sangat kuat dari teori system umum di mana pendekatan fungsionalisme yang diadopsi dari ilmu alam khususnya biologi, menekankan pengkajian tentang cara-cara mengorganisasikan dan mempertahankan sistem. Pendekatan strukturalisme yang berasal dari linguistik, menekankan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut pengorganisasian bahasa dan sistem sosial. Fungsionalisme struktural atau ‘analisa sistem’ pada prinsipnya berkisar pada beberapa konsep, namun yang paling penting adalah konsep fungsi dan konsep struktur. (Adibah, 2017)
Secara essensial, prinsip-prinsip pokok teori structural fungsional adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat merupakan sistem yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling tergantung, dan setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya.
2. Setiap bagian dari masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan, karena itu eksistensi satu bagian tertentu dari masyarakat dapat diterangkan apabila fungsinya bagi masyarakat sebagai keseluruhan dapat diidentifikasi.
3. Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme yang dapat merekatkannya menjadi satu; salah satu bagian penting dari mekanisme ini adalah komitmen para anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaan dan nilai yang sama.
4. Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadaan homeostatis, dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan penyesuaian pada bagian lain agar tercapai harmoni dan stabilitas.
5. Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi, maka perubahan pada umumnya akan membawa kepada konsekwensi- konsekwensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan
(Stephen K, 2000)
Lahirnya fungsionalisme struktural sebagai suatu perspektif yang ”berbeda” dalam sosiologi memperoleh dorongan yang sangat besar lewat karya-karya klasik seorang ahli sosiologi Perancis, yaitu Emile Durkheim. Fungsionalisme Durkheim ini tetap bertahan dan dikembangkan lagi oleh dua orang ahli antropologi abad ke-20, yaitu Bronislaw Malinowski dan A.R. Radcliffe-Brown. Malinowski dan Brown dipengaruhi oleh ahli-ahli sosiologi yang melihat masyarakat sebagai organisme hidup, dan keduanya menyumbangkan buah pikiran mereka tentang hakikat, analisa fungsional yang dibangun di atas model organis. Di dalam
batasannya tentang beberapa konsep dasar fungsionalisme dalam ilmu-ilmu sosial, pemahaman mengenai fungsionalisme struktural merupakan dasar bagi analisa fungsional kontemporer. (Radcliffe-Brown, 1952)
Mattessich dan Hill (1987) dalam (Zeitlin MF, Megawangi R, Kramer EM, Colleta ND, Babatunde ED, 1995) mendefinisikan keluarga sebagai suatu kelompok dimana anggotanya memiliki hubungan kekerabatan, tempat tinggal, atau emosional yang erat. Keluarga sebagai sebuah sistem sosial mempunyai tugas atau fungsi agar sistem tersebut berjalan. Tugas tersebut berkaitan dengan pencapaian tujuan, integritas dan solidaritas, serta pola kesinambungan atau pemeliharaan keluarga (Megawangi, 1999).
Struktural–fungsional berpegang bahwa sebuah struktur keluarga membentuk kemampuannya untuk berfungsi secara efektif, dan bahwa sebuah keluarga inti tersusun dari seorang laki-laki pencari nafkah dan wanita ibu rumahtangga adalah yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan anggota dan ekonomi industri baru (Hill SA., 2006). Penerapan teori struktural-fungsional dalam konteks keluarga terlihat dari struktur dan aturan yang ditetapkan.
2.2 Teori Sosial Konflik
Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. (Bernard Raho, 2007)
Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Kalr Marx Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional. (Bernard Raho, 2007)
Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas ploretar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum bourjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.
Ada tokoh lain yang mengemukakan teori konflik yaitu Dahrendorf Ralf. Dahrendorf mula-mula melihat teori konflik sebagai teori parsial, dan menganggap teori ini merupakan
perspektif yang dapat digunakan untuk menganalisa fenomena sosial. Dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerjasama (kemudian ia menyempurnakan sisi ini dengan menyatakan bahwa segala sesuatu yang dapat dianalisa dengan fungsionalisme struktural dapat pula dianalisa dengan teori konflik dengan lebih baik).(Dahrendorf, 1959)
Dahrendorf telah melahirkan kritik penting terhadap pendekatan yang pernah dominan dalam sosiologi, yaitu kegagalannya di dalam menganalisa masalah konflik sosial. Dia menegaskan bahwa proses konflik sosial itu merupakan kunci bagi struktur sosial. Bersama dengan Coser, Dahrendorf telah berperan sebagai suara teoritisi utama yang menganjurkan agar perspektif konflik digunakan dalam memahami fenomena sosial dengan lebih baik.
(Dahrendorf, 1958)
Class and Class Conflict in Industrial Society (1959)
Marx menulis tentang kapitalisme, pemilikan dan kontrol atas sarana- sarana produksi sebagai berada di tangan individu-individu yang sama. Kaum industrialis dan borjuis adalah pemilik dan pengelola sistem kapitalis, sedangkan para pekerja atau proletar, demi kelangsungan hidup mereka, tergantung pada sistem itu. Menurut (Dahrendorf, 1959) yang tidak dilihat oleh Marx ialah pemisahan antara pemilikan serta pengendalian sarana-sarana produksi yang terjadi di abad ke-20. Timbulnya korporasi-korporasi dengan saham-saham yang dimiliki oleh orang banyak, di mana tak seorangpun memiliki kontrol yang eksklusif, berperan sebagai contoh dari apa yang disebut Dahrendorf sebagai dekomposisi modal.
Dekomposisi modal ini melahirkan kesulitan untuk mengidentifikasi kaum borjuis yang memiliki monopoli eksklusif atas modal maupun pengendali perusahaan. Sejalan dengan lahirnya abad ke-20, pemilikan dan pengendalian tersebut mengalami diversifikasi dan tidak lagi berada dalam satu tangan individu atau keluarga saja.
Alasan teoritis utama mengapa revolusi ala Marxis ini tidak terjadi adalah karena pertentangan yang ada cenderung diatur melalui institusionalisasi. Pengaturan dan institusionalisasi terbukti dari timbulnya serikat-serikat buruh yang telah memperlancar mobilitas sosial serta mengatur konflik antara buruh dan manajemen. Melalui institusionalisasi pertentangan tersebut, setiap masyarakat mampu mengatasi masalah- masalah baru yang timbul.(Dahrendorf, 1959)
2.3 Teori Ekologi
Konsep Ekologi manusia menyangkut saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungan, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Pendekatan ekologi atau ekosistem menyangkut hubungan interdependensi antara manusia dan lingkungan di sekitamya sesuai dengan aturan norma kultural yang dianut. Konsep ekologi manusia juga dikaitkan dengan pembangunan. Keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan sangat bergantung pada faktor manusianya yaitu seluruh penduduk dan sumberdaya alam yang dimiliki serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaidah ekologi menetapkan
adanya ketahanan atau ketegaran (resilience) suatu sistem yang dipengaruhi oleh dukungan yang serasi dari seluruh subsistem. (Puspitawati & Krisnatuti, n.d.)
Pendekatan ekologi keluarga merupakan teori yang dapat digunakan untuk mengkaji beragam masalah berkaitan dengan keluarga dalam hubungannya dengan beragam lingkungan. Nilai moral dasar ekologi keluarga terletak pada saling ketergantungan manusia dengan alam, kebutuhan manusia untuk hidup berdampingan satu sama lain dan kebutuhan untuk hidup lebih baik. Nilai moral dasar tersebut diimplementasikan dalam kemampuan adaptasi, daya untuk hidup (survival) dan pemeliharaan keseimbangan (equilibrum atau homeostatis) untuk mengkaji kehidupan manusia yang lebih baik. (Sunarti, 2007)
Menurut (Deacon RE, 1988) lingkungan keluarga dapat diklasifikasikan menjadi lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah kondisi-kondisi di sekitar keluarga baik dalam arti lokasi maupun kontak individu. Lingkungan mikro berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Kedua lingkungan ini menjadi penyangga dalam menyerap berbagai masukan dari lingkungan makro. Lingkungan makro atau larger enviroment merupakan aspek yang ada di luar sistem keluarga dan lingkungan mikronya.
Keluarga akan mempunyai efek yang kecil terhadap atau bahkan tidak bisa mengontrol keadaan dari lingkungan makro. Pada hakekatnya, lingkungan makro dapat dikelompokkan menjadi (a) lingkungan yang berkaitan dengan sistem kemasyarakatan, yaitu sosial budaya, politik, ekonomi dan teknologi dan (b) lingkungan alam dan buatan disekitarnya, yaitu Kondisi alam (sumberdaya alam) serta struktur yang melingkupi seluruh ekosistem seperti struktur sosial dan kebijakan pemerintah (Deacon RE, 1988).
Ada contoh kasus yang menunjukan kalau teori ekologi atau perubahan yang disebabkan oleh lingkungan ini terjadi. Pada penelitian yang berjudul “Perbandingan Sikap Agresivitas Remaja Pedesaan dan Perkotaan (Studi Kasus di Pedesaan Pandeglang Banten dan Perkotaan JakartaPusat)”. Penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa sikap agresivitas remaja di pedesaan Pandeglang Banten lebih dominan baik dari segi indikator pada agresivitas permusuhan yaitu agresif yang sifatnya menyakiti orang lain maupun agresivitas instrumental, sedangkan di kota lebih rendah di bandingkan dengan perkotaan walaupun secara perhintungan tidak menunjukan angka yang tipis. Letak geografis dapat menentukan sikap dan tingkah laku pada remaja. Selain itu, komunikasi dalam keluarga yang tidak terjalin secara efektif sehingga subjek merasakan tidak adanya kasih sayang dan perhatian dari anggota keluarga. Di sisi lain, ketika berkumpul dalam lingkungan sosial untuk mencari kenyamanan di luar rumah, remaja justru mendapakan perilaku tidak mengenakan seperti bullying, hinaan dan ejekan. Hal tersebut menyebabkan remaja mulai mencari cara agar ia di hargai di hormati, dan diakui oleh teman sebaya. Seperti tawuran ataupun berkelahi dan menyakiti lawan baik secara fisik dan verbal dan hal tersebut merupakan tindakan agresivitas (Magdalena, Hasanah, & Rusilanti, 2017).
2.4 Teori Pertukaran Sosial
Akar Teori Pertukaran berasal dari sejumlah disiplin ilmu soaial, termasuk psikologi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi mikro (Haryanto, 2012). Para Antropolog-lah yang pertama kali mengakui banyak interaksi sosial di luar ekonomi yang dapat dikonspetualisasikan sebagai pertukaran manfaat. Baik pertukaran sosial atau ekonomi didasarkan pada satu aspek fundamental dalam kehidupan sosial. Sebagian besar yang orang butuhkan orang hargai hanya dapat diperoleh dari orang lain. Orang saling bergantung untuk mendapatkan sumber-sumber daya barharga ini, dan mereka saling melengkapi melalui proses pertukaran (Ritzer, 2011). Aspek kehidupan sosial inilah yang menjadi fokus teoritikus pertukaran sosial. Tidak seperti teori-teori ekonomi mikro klasik, yang mengasumsikan transaksi independen antara orang-orang yang tidak saling kenal, teoritikus pertukaran sosial tertarik pada relasi dan durasi tertentu.
Dasar-dasar Teori Pertukaran Sosial dapat dilacak dalam sejumlah karya ilmuwan klasik.
Dalam Teori Ekonomi Klasik abad 18 dan 19, para ahli ekonomi politik Inggris, seperti Adam Smith sudah menganalisis pasar ekonomi sebagai hasil dari sekumpulan yang menyeluruh dari sejumlah transaksi ekonomi individual yang tidak terbilang besarnya.
Diasumsikan bahwa transaksi-transaksi pertukaran akan terjadi jika kedua belah pihak dapat memperolah keuntungan dari pertukaran itu. Dan kesejahteraan masyarakat umumnya dapat dengan baik sekali dijamin apabila individu individu diberikan kesempatan untuk mengejar kepentingan pribadinnya melalui pertukaran yang dirembukkan secara pribadi. Tekanan yang sama pada tujuan-tujuan individual dan imbalannya inilah yang menandai sifat Teori Pertukaran di Amerika(Johson, 2008).
Teori-teori Pertukaran Sosial dilandasakan pada prinsip transaksi ekonomi yang elementer. Orang menyediakan barang atau jasa dan sebagai imbalannya berharap memperoleh barang atau jasa yang diinginkan. Ahli Teori Pertukaran Sosial memiliki asumsi sederhana bahwa interaksi sosial itu mirip dengan transaksi ekonomi. Akan tetapi, Ahli Teori Pertukaran Sosial berpendapat bahwa pertukaran sosial tidak selalu dapat diukur dengan nilai uang, sebab dalam berbagai transaksi sosial dipertukarkan juga hal-hal nyata dan tidak nyata.
Dalam sebuah pabrik, misalnya seorang pekerja yang berinteraksi dengan pembantunya dapat menjalin kerja sama yang intim dengan harapan dapat memperoleh ganjaran nyata berupa bonus tahunan. Akan tetapi, ganjaran dari persahabatan dan kemauan baik yang tidak nyata dapat melahirkan perilaku yang sama, bahkan di saat-saat dunia usaha mengalami masa sulit dimana bonus dimana bonus tidak dapat diberukan. Model timbal balik tetap ada sejauh orang memberi dan menerima dan berharap memperoleh imbalan barang atau jasa (Poloma, 2003). Sejalan dengan itu, (West, Richard. Turner, n.d.) menyatakan bawah manusia mempunyai sifat dasar sebagai berikut, yaitu (a) menusia mencari penghargaan dan menghindari hukuman, (b) manusia merupakan makhluk yang rasional, dan (c) standar yang digunakan manusia untuk mengevaluasi pengorbanan dan penghargaan bervariasi seiring dengan berjalannya waktu dan dari satu orang ke orang lainnya. Teori Pertukaran Sosial melangkah lebih jauh dengan memprediksikan bahwa nilai (worth) dari sebuah hubungan
memengaruhi hasil akhir (outcome) atau apakah orang akan meneruskan suatu hubungan atau mengakhirinya.
Menurut Cook dan Rice dalam (Haryanto, 2012) beberapa teori terdahulu mempengaruhi teori pertukaran sosial, yaitu pragmatisme, utilitiarisme, behaviorisme, dan fungsionalisme.
Behaviorisme Skinner juga mempengaruhi Teori Pertukaran Sosial. Behaviorisme menyatakan bahwa pemahaman kepribadian binatang akan melahirkan perilaku manusia.
Penganut aliran perilaku tidak senang dengan konsep-konsep mentalitas, sebab mustahil ia secara langsung dapat mengamati pemikiran manusia. Seperti halnya binatang yang mencari ganjaran positif dan mengehindari hukuman, manusia pun mencoba memperbesar keuntungan dan memperkecil biaya.
Adapun contoh kasus yang menguatkan adanya teori pertukaran social, terdapat dalam penelitian yang berjudul “RISIKO PERKAWINAN USIA MUDA PADA MASYARAKAT DESA SRIAMUR TAMBUN UTARA BEKASI” penelitian ini menggunakan responden laki-laki sebanyak 93 orang dan 43 orang perempuan. Hasil dari penelitian ini menunjukan kalau perceraian banyak terjadi pada pasangan yang menikah usia muda, penyebabnya karena kurang memperhitungkan banyak hal dari segi kesehatan dan keuangan. Hal ini melandasi kalau teori pertukaran social itu memang ada dimana sifat dasar manusia yang cenderung melihat keuntungan dan kerugian. (Fajriah, Nursetiawati, & Cholilawati, 2017)
2.5 Teori Gender
Konsep Gender. Kata ‘gender’ dapat diartikan sebagai peran yang dibentuk oleh masyarakat serta perilaku yang tertanam lewat proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Ada perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki, namun kebudayaan menafsirkan perbedaan biologis ini menjadi seperangkat tuntutan sosial tentang kepantasan dalam berperilaku, dan pada gilirannya hak-hak, sumberdaya, dan kuasa (Bank Dunia 2000). Selanjutnya gender bukan hanya membicarakan tentang perempuan saja, namun juga membicarakan tentang laki-laki dalam kaitannya dengan kerjasama/partnership dan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, gender membahas permasalahan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat (Puspitawati & Krisnatuti, n.d.).
Gender adalah perbedaan peran, fungsi, persifatan, kedudukan, tanggungjawab dan hak perilaku baik perempuan maupun laki-laki yang dibentuk, dibuat, dan disosialisasikan oleh norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat setempat. Jadi konsep gender berhubungan dengan peran dan tugas apa yang pantas/tidak pantas baik untuk laki-laki maupun perempuan (Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2004). Pendekatan gender mencoba merubah situasi yang eksis menjadi situasi dimana berlaku kesetaraan dan keadilan, namun dengan mempertimbangkan sikap, peran dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki.
Dengan demikian, menjadi sebuah pendekatan yang efektif untuk memberikan peluang lebih banyak bagi perempuan dan membuat laki-laki berbagi beban dan mengakui perempuan
sebagai partner yang setara (IRC International Water & Sanitation Centre 1994). Relasi Gender
Relasi gender adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan berkaitan dengan pembagian peran yang dijalankan masing-masing pada berbagai tipe dan struktur keluarga (keluarga miskin/kaya, keluarga desa/kota, keluarga lengkap/tunggal, keluarga punya anak/tidak punya anak, keluarga pada berbagai tahapan life cycle). Bahkan relasi gender ini juga diperluas secara bertahap berdasarkan luasan ekologi, mulai dari mikro, meso, ekso dan makro (keluarga inti, keluarga besar, masyarakat regional, masyarakat nasional, bangsa, dan negara serta masyarakat internasional) (Puspitawati & Krisnatuti, n.d.).
(Mugniesyah, 2007) menyatakan bahwa relasi gender adalah hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki yang terlihat pada lingkup gagasan (ide), praktek dan representasi yang meliputi pembagian kerja, peranan dan alokasi sumberdaya antara laki-laki dan perempuan. Peranan dan relasi gender itu dinamis. Perubahan peranan gender sering terjadi sebagai respon terhadap perubahan situasi ekonomi, sumberdaya alam, dan atau politik termasuk perubahan berupa usaha-usaha pembangunan atau penyesuaian program struktural atau oleh kekuatan-kekuatan di tingkat nasional dan global. Namun demikian, tidak semua perubahan peranan bermakna perubahan dalam relasi gendernya. Itu sebabnya, banyak ahli gender dan pembangunan mengemukakan bahwa pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang mampu mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.
Adapun keadilan gender (gender equity) diartikan sebagai keadilan perlakuan bagi laki- laki dan perempuan berdasar pada kebutuhan-kebutuhannya, mencakup perlakuan setara atau perlakuan yang berbeda akan tetapi dalam koridor pertimbangan kesamaan dalam hak, kewajiban, kesempatan, dan manfaat. Adapun kesetaraan gender (gender equality) adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan keduanya memiliki kebebasan untuk mengembangkan kemampuan personal dan membuat pilihan-pilihan tanpa pembatasan oleh seperangkat stereotip, prasangka dan peranan gender yang kaku. Dinyatakan lebih lanjut bahwa perbedaan perilaku, aspirasi dan kebutuhan perempuan dan laki-laki dipertimbangkan, dinilai, dan didukung secara setara bukan berarti bahwa laki-laki dan perempuan menjadi sama, akan tetapi hak-hak, tanggungjawab, dan kesempatannya tidak ditentukan karena ia terlahir sebagai laki-laki dan perempuan (Mugniesyah, 2007).
Adapun contoh kasus yaitu sebuah penelitian di Provinsi Jawa Tengah pada nelayan yang mempunyai keluarga lengkap menunjukkan bahwa hampir sebagian besar aktivitas domestik dilakukan oleh perempuan (ibu dan atau anak perempuan). Pembagian wilayah partisipasi berdasarkan peran publik dan domestik terlihat secara jelas antara suami dan istri, sehingga istri mempunyai peran yang penting dalam keluarga nelayan (Prasetyo AM, 2004).
2.6 Teori Feminisme
Feminisme adalah paham atau keyakinan bahwa perempuan benar-benar bagian dari alam manusia, bukan dari yang lain yang menuntut kesetaraan dengan laki-laki dalam setiap aspek
kehidupan, tanpa melihat kodrat dan fitrahnya. Kesetaraan ini biasanya disebut juga dengan istilah kesetaraan gender (gender equality).Dalam hal kesetaraan gender dapat diartikan bahwa dengan adanya kesamaan kondisi laki-laki maupun perempuan dalam mendapatkan hak-haknya sebagai makhluk sosial atau manusia. Hal ini diharapkan agar mampu berperan dan berpatisipasi dalam semua kegiatan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan serta kesamaan dalam menikmati pembangunan (Nuryati, 2015).
Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan (Nuryati, 2015).
Awal abad ke-18 dapat disebut sebagai titik awal dalam sejarah feminisme. Walaupun sudah ada wanita yang melakukan debat untuk mendapat posisi yang diakui masyarakat, feminisme belum terlalu banyak berkembang pada saat itu. Pada saat itu yang bermunculan adalah para wanita yang menulis karya yang menunjukkan tuntutan mereka untuk mendapatkan persamaan hak, khususnya di dalam bidang pendidikan. Kemudian, Para wanita mulai tertarik dengan ide-ide baru yang muncul setelah revolusi Perancis. Mereka membayangkan kalau hubungan antar gender yang saat ini berlaku dihapuskan dan muncul dalam bentuk berbagai macam asosiasi yang 9 ingin menghentikan dominasi pria dan menolak anggapan umum bagaimana menjadi seorang wanita saat itu. (Hannam, 2007) Sekitar pertengahan abad ke-18, para wanita di Eropa, Amerika Utara, dan para koloninya di Kanada, Selandia Baru dan Australia mengatur bersama pertama kalinya di dalam kelompok dan masyarakat yang bertujuan mancapai perubahan dan perkembangan di dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik wanita. Organisasiorganisasi menjadi pusat dari sejarah gerakan feminisme. Mereka terus mendidik dan membuat para wanita menuangkan isi pikirannya. Mereka ingin ideologi mereka dikenali di masa depan nantinya. Mereka menulis autobiografi, riwayat hidup atau sejarah yang kelak akan kita kenal sebagai karakteristik dari awal munculnya feminisme. (Hannam, 2007)
Gerakan-gerakan yang terorganisasi inilah yang menjadi pusat di dalam sejarah feminisme. Wanita-wanita yang dididik dan mengeluarkan isi pikirannya ini sadar mereka sedang membuat sejarah. Mereka ingin di masa depan, generasi selanjutnya mengetaui prestasi mereka diketahui dan menceritakannya. Mereka menulis autobiografi, memoir, dan sejarah yang nantinya akan membantu terbentuknya karakteristik dan tujuan dari feminisme awal. Hubungan dekat antara politik feminis dan organisasi-organisasi inilah yang menjadi cikal bakal pergerakan wanita di tahun 1960 sampai dengan tahun 70-an. (Hannam, 2007) Fokus dari organisasi-organisasi pergerakan wanita ini telah membawa perkembangan di dalam sejarah feminisme, yang dibagi dalam dua gelombang, yakni gelombang pertama yang berlangsung pada tahun 1860-1920 dan gelombang kedua pada tahun 1960-1970an.
(Hannam, 2007)
2.7 Teori Perkembangan
Teori perkembangan keluarga menjelaskan perkembangan keluarga secara dinamis dan mengklasifikasikannya ke dalam satu rangkaian tahap perkembangan yang jelas. Tahap-tahap perkembangan dianggap sebagai masamasa stabilitas relatif yang berbeda secara kuantitatif dan kualitatif diantara tahap-tahapnya. Empat asumsi dasar tentang teori perkembangan keluarga: (1) Keluarga berkembang dan berubah dari waktu ke waktu dengan cara-cara yang sama dan dapat diprediksi; (2) Manusia menjadi matang karena berinteraksi dengan orang lain, sehingga mereka memulai tindakan-tindakan serta reaksi terhadap tuntutan lingkungannya; (3) Keluarga dan anggotanya melakukan tugas-tugas tertentu yang ditetapkan oleh mereka sendiri atau oleh konteks budaya dan masyarakat;(4) Kecenderungan keluarga untuk memulai dengan sebuah awal dan akhir yang kelihatan jelas.
Teori perkembangan keluarga meningkatkan pemahaman tentang keluarga pada titik yang berbeda dalam berbagai siklus kehidupan mereka dan menghasilkan deskripsi yang khas tentang kehidupan keluarga dalam berbagai tahap perkembangannya. Setiap fase perkembangan keluarga menghadapi tugas-tugas baru dan belajar teknik adaptasi yang sesuai. (Duvall E. M., 1971) menggambarkan tipe siklus keluarga dari keluarga utuh dengan lingkaran yang memiliki 8 sektor. Lingkaran ini dapat membantu menempatkan keluarga berada difase yang mana dan memprediksi kapan setiap fase akan dicapai. Dalam fase perkembangan Duvall, lansia memasui fase kehidupan ke 8 yaitu masa tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal. Proses lanjut usia dan pensiun merupakan realitas yang tidak dapat dihindari 12 karena berbagai stressor dan kehilangan yang harus dialami keluarga. Stressor tersebut adalah berkurangnya pendapatan, kehilangan berbagai hubungan social, kehilangan pekerjaan serta perasaan menurunnya produktivitas dan fungsi kesehatan.
Menurut Duvall tugas perkembangan lansia meliputi: (1) Menemukan rumah yang memuaskan untuk akhir-akhir tahun kehidupan; (2) Menyesuaikan diri terhadap masa pensiun; (3) Membentuk rutinitas rumah tangga yang nyaman; (4) Saling menjaga satu sama lain sebagai suami istri; (5) Menghadapi kehilangan pasangan; (6) Mempertahankan hubungan dengan anak dan cucu; (7) Menjaga minat terhadap orang di luar keluarga; (8) Saling merawat antara satu sama lain sesama lansia; (9) menemukan makna hidup (life review). Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini (Duvall E. M., 1971)
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan/hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya.
Terdapat 7 (tujuh) teori yang berbeda dalam melihat sebuah keluarga yaitu: Teori structural fungsional, teori konflik, teori pertukaran social, teori ekologi, teori gender, teori feminism, dan teori perkembangan. Teori structural fungsional lebih menekankan pada sebuah keseimbangan system yang stabil dimana semua dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Teori konflik memandang bahwa sebuah konflik adalah hal yang wajar karena pada hakikatnya manusia terlahir tidak patuh kepada peraturan yang telah dibuat. Teori ekologi melihat bahwa perubahan dan perkembangan manusia merupakan dampak dari pengaruh lingkungan. Teori gender menekankan kepada perbedaan gender (jenis kelamin) antara laki-laki dan perempuan, tidak hanya jenis kelamin gender juga melihat perbedaan hak-hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Terakhir teori perkembangan memandang bahwa dalam sebuah keluarga terdapat tahapan-tahapan mulai dari keluarga baru menikah sampai pasangan lansia.
DAFTAR PUSTAKA
Adibah, I. Z. (2017). Struktural Fungsional Robert K. Merton: Aplikasinya Dalam Kehidupan Keluarga. Jurnal Inspirasi, 1(2), 171–184. Retrieved from
http://ejournal.undaris.ac.id/index.php/inspirasi/article/view/12/11 Bernard Raho. (2007). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Dahrendorf, R. (1958). Out of Utopia: Toward a Reorientation of Sociological Analysis.
American Journal of Sociology, 64, :115-127.
Dahrendorf, R. (1959). Class and Class Conflict in Industrial Society. Stanford: Stanford University Press.
Deacon RE, F. F. (1988). Family Resource Management: principle and Application. USA:
Allyn and Bacon, Inc.
Duvall E. M. (1971). Family development: fourth edition. New York (US): JB Lippincott Company.
Fajriah, N., Nursetiawati, S., & Cholilawati, C. (2017). Risiko Perkawinan Usia Muda Pada Masyarakat Desa Sriamur Tambun Utara Bekasi. JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidikan), 3(1), 14. https://doi.org/10.21009/jkkp.031.04 Hannam, J. (2007). Feminism. London: Pearson.
Haryanto, S. (2012). Spektrum Teori Sosial. Jogjakarta: Arruz Media.
Hill SA. (2006). Marriage among african american women: a gender perspective. Journal of Comparative Family Studies, 37(3), 421.
Johson, D. P. (2008). Contemporary Sociological Theory An Integrated Multi-Level Approach. New York: Springer.
Magdalena, K., Hasanah, U., & Rusilanti, R. (2017). Perbandingan Sikap Agresivitas Remaja Pedesaan dan Perkotaan. JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidikan), 3(1), 38. https://doi.org/10.21009/jkkp.031.09
Megawangi. (1999). Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender.
Bandung: Mizan.
Mugniesyah, S. (2007). Gender, lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Dalam Ekologi Manusia (A. Soeryo, Ed.). Bogor: Fakultas Ekologi Manusia.
Nuryati. (2015). Feminisme dalam Kepemimpinan. Instibath, XIV(16), 161–179.
Poloma, M. M. (2003). Sosiologi Kontemporer Jakarta. Jakarta: Rajawali Press.
Prasetyo AM. (2004). Analisis jender terhadap strategi ketahanan hidup keluarga melalui manajemen keuangan pada keluarga nelayan [skripsi]. IPB.
Puspitawati, H., & Krisnatuti, D. (n.d.). Gender dan keluarga. Dalam Ekologi Manusia (A.
Soeryo, Ed.). Bogor: Fakultas Ekologi Manusia.
Radcliffe-Brown. (1952). Structure and Function in Primitive Society. Clencoe: Free Fress.
Ritzer, G. (2011). Handbook Teori Sosial. Bandung: Nusa Media.
Stephen K, S. (2000). Macro sociology. Jakarta: Grafindo.
Sunarti, E. (2007). Mengasuh dengan hati : tantangan yang menyenangkan. Jakarta: Elex Media Komputindo.
West, Richard. Turner, L. H. (n.d.). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi.
Jakarta: Salemba Humanika.
Zeitlin MF, Megawangi R, Kramer EM, Colleta ND, Babatunde ED, G. D. (1995).
Strengthening the family: implications for international development. New York:
United Nations University Press.