BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kemandirian Pada Remaja
Hurlock (1980) menyatakan minat pada kemandirian berkembang pada masa awal remaja dan mencapai puncaknya menjelang periode ini berakhir.
1. Definisi Kemandirian Pada Remaja
Istilah kemandirian digunakan secara luas untuk menjelaskan isu psikososial yang merupakan hal penting selama masa remaja. Pengertian dari kemandirian ini sering sukar untuk dispesifikkan. Istilah “autonomy” dalam kajian mengenai remaja sering disejajarartikan secara silih berganti dengan kata “independence”, meskipun sesungguhnya ada perbedaan yang sangat tipis diantara keduanya (Steinberg, 2002). Independence, “secara umum menunjuk pada kemampuan individu untuk ‘menjalankan’ atau ‘melakukan sendiri’ aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain”. Sedangkan istilah autonomy, mempunyai komponen emotional dan
cognitive sama baiknya seperti komponen behavioral. Menjadi orang yang mandiri yaitu dapat
mengatur diri sendiri yang menjadi salah satu tugas perkembangan pada masa remaja (Steinberg, 2002).
Menurut Steinberg (dalam Lewis, 2009) kemandirian itu apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan keputusan yang dibuat adalah lebih berdasarkan pada diri sendiri daripada mengikuti apa yang orang lain percayai. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Steinberg (dalam
Newman, 2006) dimana kemandirian itu adalah kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri untuk memilih dan memutuskan keputusan sendiri serta mampu melakukannya tanpa terlalu tergantung pada orangtua. Memberikan kemandirian pada remaja bukan berarti orangtua menolak, mengabaikan atau memisahan fisik dari anak mereka, melainkan lebih pada kebebasan psikologis dimana orangtua dan remaja menerima perbedaan masing-masing namun remaja dan orangtua tetap merasakan cinta kasih sayang, saling pengertian dan tetap menjalin hubungan dan komunikasi yang baik.
Rice dan Dolgin (2008) menyatakan bahwa kemandirian itu adalah sebagai
independence atau freedom. Salah satu tujuan setiap remaja adalah ingin diterima seperti orang
dewasa yang mandiri. Remaja tetap menjadi seorang yang individu dan juga tetap yang berhubungan dengan orangtua pada waktu yang sama (Grotevant dan Cooper dalam Rice, 2008). Remaja tetap menjalin hubungan dengan orangtuanya. Anak mengembangkan dirinya tetapi tetap berkomunikasi dengan orangtuanya sehingga orangtua mengerti apa yang dirasakan anaknya dan memberikan rasa percaya pada anak untuk bertindak (Quintana dan Lapsley dalam Rice dan Dolgin, 2008). Sebagai contoh, mereka mengembangkan minat baru, nilai dan tujuan yang berbeda dari orangtua, tetapi remaja tersebut tetap bagian dari keluarga.
Individuation merupakan prinsip dasar dalam pertumbuhan manusia (Gavazzi dan
Sabatelli dalam Rice dan Dolgin, 2008). Hal ini termasuk sebagai usaha individu untuk membangun pemahaman dan identitas akan diri sendiri dalam berhubungan dengan yang lain. Menurut Lerner (2001) kemandirian itu adalah “berdiri pada kedua kaki”. Kemandirian merupakan konsep pusat dalam teori perkembangan remaja. Orangtua diharapkan dapat memberikan anaknya kebebasan untuk mandiri disaat si anak remaja tersebut menunjukkan pribadi yang bertanggungjawab. Mengembangkan kapasitas fungsi kemandirian dapat dilakukan
dengan mempertahankan hubungan dan mencari suportif dari orang lain ketika dibutuhkan. Orangtua memberi pengaruh yang besar dalam perkembangan kemandirian si remaja seperti orangtua tetap berinteraksi dengan anaknya untuk bernegosiasi dan memutuskan keputusan., menumbuhkan kosep diri yang positif, menumbuhkan rasa percaya diri dan membantu anak mampu mengontrol diri.
Kemandirian remaja menurut Ryan, dkk (dalam Berzonsky, 2006 ) adalah sebagai kualitas individual, dimana tindakan seseorang itu berasal dan diatur oleh diri sendiri. Menurut LaFreniere (2000), kemandirian pada remaja adalah kemampuan meningkatkan self reliance, inisiatif, bertahan pada tekanan kelompok dan bertanggung jawab pada keputusan dan tindakan yang diambil. Kemandirian juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membuat keputusan dengan bebas dan mengatur hidupnya tanpa tergantung berlebihan pada orang lain (Rider dkk, 2003).
Menurut Nashori (1999) kemandirian merupakan modal dasar bagi manusia untuk menentukan sikap dan perbuatan terhadap lingkungannya. Kemandirian mendorong orang untuk berkreasi dan berprestasi karena kemandirian mengantarkan seseorang menjadi makhluk yang produktif dan efisien serta membawa dirinya kearah kemajuan. Hetherington (dalam Afiatin, 1993) mengatakan bahwa kemandirian ditunjukkan dengan adanya kemampuan untuk mengambil inisiatif, kemampuan menyelesaikan masalah, penuh ketekunan, memperoleh kepuasan dari usahanya serta berkeinginan mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Menurut Dariyo (2004) kemandirian remaja adalah sifat yang tidak tergantung pada diri orang lain. Ia akan berusaha menyelesaikan masalah dalam hidupnya sendiri. Menurut Youniss dkk (dalam Kenny, 1997) menyatakan bahwa kemandirian yang sehat adalah dipromosikan oleh
hubungan orangtua anak positif dan suportif. Mereka mengizinkan anak anak mereka untuk mengekpresikan perasaan positif dan negatif yang mereka rasakan, hal ini membantu mengembangkan kemampuan sosial dan kemandirian yang bertanggung jawab.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian pada remaja adalah apa yang dirasakan, dipikirkan dan keputusan yang diambil berdasarkan pada diri sendiri dan dapat mempertanggungjawabkannya, ketika menghadapi masalah dapat mengatasinya.
2. Dimensi Kemandirian
Menurut Steinberg (2002), ada tiga dimensi kemandirian yaitu:
a. Emotional
Kemandirian emosional menurut merupakan aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu, seperti hubungan emosional antara remaja dengan ibunya dan hubungan emosional antara remaja dengan ayahnya. Steinberg dan Silverberg, (1986), membagi kemandirian emosional menjadi empat komponen, yaitu:
1. de-idealized yaitu remaja mampu memandang orangtuanya sebagaimana adanya, maksudnya tidak memandangnya sebagai orang yang idealis dan sempurna yang dapat melakukan kesalahan,
2. seeing parents as people yaitu remaja mampu memandang orangtua mereka seperti orang dewasa lainnya yang dapat menempatkan posisinya sesuai situasi dan kondisi.
3. non dependency, atau suatu tingkat dimana remaja lebih bersandar pada kemampuan dirinya sendiri, daripada membutuhkan bantuan pada orangtua mereka tetapi tidak sepenuhnya lepas dari pengaruh orangtuanya,
4. individuated, mampu dan memiliki kelebihan secara pribadi untuk mengatasi masalah didalam hubungannya dengan orang tua. Remaja percaya bahwa ada sesuatu tentang remaja tersebut yang tidak diketahui oleh orangtuanya.
b. Behavioral
Kemandirian perilaku berarti “bebas” untuk berbuat atau bertindak sendiri tanpa terlalu bergantung pada bimbingan orang lain. Kemandirian perilaku mencakup kemampuan untuk meminta pendapat orang lain jika diperlukan, menimbang berbagai pilihan yang ada dan pada akhirnya mampu mengambil kesimpulan untuk suatu keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Steinberg, (2002) menyatakan bahwa ada tiga domain kemandirian perilaku pada remaja, yaitu:
1. changes in decision-making abilities yaitu perubahan dalam kemampuan untuk mengambil keputusan, dengan indikator meliputi: (a) remaja menyadari resiko yang timbul; (b) remaja menyadari konsekuensi yang muncul kemudian; (c) remaja dapat menggunakan orangtua, teman, atau ahli seagai konsultan; (d) remaja dapat merubah pendapatnya karena ada informasi baru yang dianggap sesuai; (e) remaja menghargai dan berhati-hati terhadap saran yang diterimanya
2. changes in susceptibility to the influence yaitu perubahan remaja dalam penyesuain terhadap kerentanan pengaruh-pengaruh dari luar, remaja
menghabiskan banyak waktu diluar keluarga sehingga nasehat dan pendapat dari teman dan orang dewasa lainnya sangat penting, remaja mampu mempertimbangkan alternatif dari tindakannya secara bertanggung jawab, remaja mengetahui secara tepat kapan harus meminta saran dari orang lain
3. changes in feelings of self-reliance yaitu perubahan dalam rasa percaya diri, remaja mencapai kesimpulan dengan rasa percaya diri, remaja mampu mengekspresikan rasa percaya diri dalam tindakan-tindakannya.
c. Value
Value autonomy menunjuk kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan-keputusan dan menetapkan pilihan yang lebih berpegang atas dasar prinsip-prinsip individual yang dimilikinya, daripada mengambil prinsip-prinsip dari orang lain. Dengan kata lain bahwa value autonomy menggambarkan kemampuan remaja untuk bertahan pada tekanan apakah akan mengikuti seperti permintaan orang lain yang dalam arti ia memiliki seperangkat prinsip tentang benar atau salah, tentang apa yang penting dan tidak penting. Perkembangan
value autonomy dapat dilihat dari moral development, political thinking dan religious belief pada masa remaja.
1. Moral development berkaitan dengan bagaimana individu berpikir tentang dilema moral yang sedang terjadi dan bagaimana mereka bertindak dalam situasi tersebut. Apabila dikaitkan dengan perilaku menolong, individu bersedia menolong sesama. Pada tahap perkembangan moral menurut Kohlberg (dalam Steinberg, 2002), remaja berada pada tahap postconventional moral reasoning
dimana peraturan pada masyarakat dipandang lebih pada subjektif dan relatif bukan yang absolut dan terdefenisi. Postconventional thinking itu lebih luas tidak sebatas berorientasi pada peraturan yang berlaku pada masyarakat dan prinsip lebih abstrak. Menyadari adanya konflik dengan moral standard yang berlaku dan dapat membuat penilaian berdasarkan pada kebenaran, kejujuran dan keadilan. Tingkah laku moral lebih dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri, misalnya seorang istri yang sakit kanker dan dapat ditolong dengan obat seharga $2000 tetapi sang suami hanya dapat mengumpulkan duit sebanyak $1000, dia minta keringanan kepada dokter tetapi dokter tidak bersedia menjual lebih murah. Tak tahu lagi harus berbuat apa, akhirnya suami pun mencuri obat tersebut. Sebagian orang mungkin akan merespon bahwa sikap suaminya itu salah melanggar peraturan karena mencuri, tetapi sebagian pihak akan menerima perbuatan sikap suaminya karena istrinya butuh dan melindungi hidup itu lebih penting.
2. Political Thinking, berkaitan dengan bagaimana remaja menjadi mampu berpikir lebih abstrak (misalnya pada saat ditanya apa tujuan hukum, remaja mungkin akan menjawab untuk memberi kenyamanan, untuk menuntun orang sehingga tidak sebatas pada untuk membuat orang untuk tidak membunuh, mencuri), berkurangnya otoritas dan tidak kaku pada pihak yang berkuasa sehingga lebih bersifat fleksibel (ketika ditanya apa yang harus dilakukan saat hukum tidak bekerja sesuai dengan yang direncanakan, maka remaja akan menjawab bahwa hukum tersebut butuh kaji ulang dan jika perlu untuk diamanden tidak sebatas memaksa dengan keras pada hukum tersebut), serta
meningkatnya penggunaan prinsip (seperti kebebasan mengemukakan pendapat, persamaan hak, dan memberi kebebasan).
3. Religious belief, sama seperti moral dan political belief menjadi lebih abstrak, lebih prinsip dan lebih bebas. Kepercayaan remaja menjadi lebih berorientasi pada spiritual dan ideologis tidak sebatas pada ritual biasa dan bukan hanya mengamati kebiasaan pada agama.
Berdasarkan uraian diatas maka dimensi- dimensi kemandirian itu adalah emotional
autonomy yaitu kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar
individu, seperti hubungan emosional antara remaja dengan ibunya dan hubungan emosional antara remaja dengan ayahnya, behavioral autonomy yaitu “bebas” untuk berbuat atau bertindak sendiri tanpa terlalu bergantung pada bimbingan orang lain. Kemandirian perilaku mencakup kemampuan untuk meminta pendapat orang lain jika diperlukan, menimbang berbagai pilihan yang ada dan pada akhirnya mampu mengambil kesimpulan untuk suatu keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi bukan berarti lepas dari pengaruh orang lain, sedangkan value
autonomy yaitu kemampuan remaja untuk bertahan pada tekanan apakah sesuai dengan
permintaan maupun ajakan orang lain; dalam arti ia memiliki seperangkat prinsip tentang benar atau salah, tentang apa yang penting dan tidak penting yang dilihat dari moral development,
3. Terbentuknya Kemandirian
Kemandirian bukanlah kemampuan yang dibawa anak sejak lahir, melainkan hasil dari proses belajar. Sebagai hasil belajar, kemandirian pada diri seseorang tidak terlepas dari faktor bawaan dan faktor lingkungan. Tentang hal tersebut Ali dan Asrori (2004) menyatakan perkembangan kemandirian juga dipengaruhi oleh stimulus lingkungannya selain oleh potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya. Proses belajar tersebut diawali dari lingkungan terdekat yaitu keluarga, dan pengalaman yang diperoleh dari berbagai lingkungan di luar rumah. Kemandirian semakin berkembang pada setiap masa perkembangan seiring pertambahan usia dan pertambahan kemampuan.
Lie & Prasasti (2004) memberikan gambaran perkembangan kemandirian dalam beberapa tahapan usia. Perkembangan kemandirian tersebut diidentifikasikan pada usia 0 – 2 tahun; usia 2 – 6 tahun; usia 6 – 12 tahun; usia 12 – 15 tahun dan pada usia 15 – 18 tahun. Tahap perkembangan kemandirian pada gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Usia 0 sampai 2 tahun
Sampai usia dua tahun, anak masih dalam tahap mengenal lingkungannya, mengembangkan gerak-gerik fisik dan memulai proses berbicara. Pada tahap ini anak masih sangat bergantung pada orang tua atau orang dewasa lainnya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
b. Usia 2 sampai 6 tahun
Pada masa ini anak mulai belajar untuk menajdi manusia sosial dan belajar bergaul. Mereka mengembangkan otonominya seiring dengan bertambahnya berbagai kemampuan
dan keterampilan seperti keterampilan berlari, memegang, melompat, memasang dan berkata-kata. Pada masa ini pula anak mulai dikenalkan pada toilet training, yaitu melatih anak dalam buang air kecil atau air besar.
c. Usia 6 sampai 12 tahun
Menurut Erikson (dalam Lie & Prasasti, 2004) pada masa ini anak belajar untuk menjalankan kehidupan sehari-harinya secara mandiri dan bertanggung jawab. Pada masa ini anak belajar di jenjang sekolah dasar. Beban pelajaran merupakan tuntutan agar anak belajar bertanggung jawab dan mandiri.
d. Usia 12 sampai 15 tahun
Pada usia ini anak menempuh pendidikan di tingkat menengah pertama (SMP). Masa ini merupakan masa remaja awal di mana mereka sedang mengembangkan jati diri dan melalui proses pencarian identitas diri. Sehubungan dengan itu pula rasa tanggung jawab dan kemandirian mengalami proses pertumbuhan.
e. Usia 15 sampai 18 tahun
Pada usia ini anak sekolah di tingkat SMA. Mereka sedang mempersiapkan diri menuju proses pendewasaan diri. Setelah melewati masa pendidikan dasar dan menengahnya mereka akan melangkah menuju dunia Perguruan Tinggi atau meniti karier, atau justru menikah. Banyak sekali pilihan bagi mereka. Dan pada masa ini mereka diharapkan dapat membuat sendiri pilihan yang sesuai baginya tanpa terlalu tergantung pada orangtuanya. Pada masa ini orangtua hanya perlu mengarahkan dan membimbing anak untuk mempersiapkan diri dalam meniti perjalanan menuju masa depan, berani membuat
keputusan sendiri dan memperoleh kebebasan perilaku sesuai dengan keinginannya, tentunya dengan disertai tanggung jawab.
4. Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Kemandirian
Menurut Allen dkk (dalam Kulbok, 2004) terdapat beberapa hal yang mempengaruhi kemandirian yaitu:
1. Jenis Kelamin
Anak laki-laki lebih berperan aktif dalam membentuk kemandirian dan dituntut untuk lebih mandiri, sedangkan anak perempuan mempunyai ketergantungan yang lebih stabil karena memang dimungkinkan untuk bergantung lebih lama.
2. Usia
Pada setiap tahap perkembangan mempengaruhi kemandirian seseorang. Beberapa sifat yang ada pada remaja awal menunjukkan masih ada pengaruh dari masa kanak-kanaknya, misalnya emosional, belum mandiri, belum memiliki pendirian sendiri. Sedangkan pada remaja akhir sudah diharapkan lebih menunjukkan kedewasaan seperti menerima keadaan fisiknya, bertanggungjawab.
3. Struktur keluarga
Keluarga sekarang sangat bervariasi, tidak hanya keluarga tradisional seperti dulu lagi. Perubahan dalam perkawinan ini membawa dampak pada perkembangan kemandirian anak. Banyak keluarga yang sekarang menjadi single parent dan hal ini mempunyai dampak pada perkembangan kemandirian anak.
4. Budaya
Setiap daerah, setiap negara mempunyai adat istiadat dan cara tertentu dalam mendidik anak. Pada budaya barat, anak sangat dituntut lebih cepat mandiri. Anak pada budaya barat banyak yang kerja part time dan banyak yang sudah mulai tinggal sendiri tidak bersama orangtua lagi.
5. Lingkungan
Manusia sebagai makhluk sosial memang tidak akan pernah dapat dipisahkan dengan manusia lain dan juga lingkungan tempat tinggal individu tersebut. Lingkungan yang baik, dapat mendukung anak untuk mandiri.
6. Keinginan individu untuk bebas
Setiap individu berbeda, ada individu yang memang ingin melakukan sesuatu dengan bebas dan tanpa harus dikekang oleh orang lain. Perbedaan setiap individu ini juga mempengaruhi keinginan setiap orang untuk mandiri.
Menurut Hurlock (dalam Lukman, 2000) terdapat lima faktor yang mempengaruhi kemandirian yaitu:
1. Keluarga
Setiap orang tua berbeda-beda dalam menerapkan disiplin pada anaknya. Penerapan disiplin ini identik dengan pola asuh. Setiap tipe pola asuh mengakibatkan efek yang berbeda. Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya remaja. Dengan kata lain, secara ideal
perkembangan remaja akan optimal apabila mereka bersama keluarganya. Di dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
2.Sekolah
Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja. Perlakuan guru, teman dapat juga mempengaruhi kemandirian seorang anak.
3. Media komunikasi massa
Jenis-jenis media komunikasi masa sekarang sangat bervariasi, salah satu contohnya adalah majalah, koran. Dari pencarian info dan yang terjadi di dunia melalui media dapat menambah wawasan para anak. Anak dapat mencari pengetahuan dan info dari kecanggihan teknologi sekarang.
4. Agama
Agama dapat mempengaruhi kemandirian seseorang misalnya sikap terhadap agama yang kuat. Dikatakan bahwa dengan anak yang mempunyai agama yang kuat dapat membantu anak dalam bersikap dan menjadikan anak lebih mandiri.
5. Pekerjaan atau tugas yang menuntut sikap pribadi tertentu
Pekerjaaan seperti mengurus keperluan diri sendiri, menuntut sikap kita untuk mandiri dan dapat melakukannya sendiri. Tugas harian yang sederhana dapat diselesaikan sendiri tanpa harus ada bantuan. Pekerjaan atau tugas akan membiasakan seseorang untuk
bertanggung jawab termasuk tugas yang menuntut tanggung jawab dalam mengambil keputusan.
B. Keluarga
Keluarga dapat diartikan dalam dua macam, yaitu a) dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan ”marga”; b) dalam arti sempit keluarga meliputi orangtua dan anak (Brown dalam Yusuf, 2004). Menurut Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1994 Bab I ayat 1 keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Sedangkan menurut WHO (1969) keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah adaptasi atau perkawinan.
1. Bentuk atau Pola Keluarga
Menurut Yusuf (2004), terdapat dua pola keluarga yaitu:
a. Keluarga Inti (Nuclear Family)
Keluarga yang terdiri dari atas suami/istri, istri/ibu, dan anak-anak yang lahir dari pernikahan antara keduanya dan yang belum berkeluarga termasuk anak tiri jika ada.
b. Keluarga Luas (Extended Family)
Keluarga yang keanggotaanya tidak hanya meliputi suami istri, dan anak-anak yang belum menikah, tetapi juga termasuk kerabat lain yang biasanya tinggal
dalam sebuah rumah tangga bersama, seperti mertua, adik, kakak ipar dan yang lainnnya yang tinggal menumpang.
2. Pengertian Single Parent dan Orangtua Utuh
DeGenova (2008) mengatakan single parent family adalah keluarga yang terdiri atas satu orangtua baik menikah maupun tidak menikah dengan memiliki anak. Menurut Sager dkk (dalam Setiawati, 2007) single parent adalah orangtua yang memelihara dan membesarkan anaknya tanpa kehadiran dan dukungan dari pasangannya. Single parent merupakan keluarga yang orantuanya hanya terdiri dari ayah atau ibu yang bertanggung jawab mengurus anak setelah perceraian, meninggal, atau kelahiran diluar nikah (Yusuf, 2004). Sedangkan keluarga utuh keluarga utuh adalah keluarga yang terdiri atas ayah dan ibu yang masih lengkap keduanya dan anaknya.
Gaya pengasuhan antara single father dan single mother mungkin dapat berbeda. Faktor demografik seperti pendidikan dan sosia ekonomi mempengaruhi gaya pengasuhan orangtua antara single father dan single mother (Christofferson dalam Borstein, 2008). Menurut Downey (dalam Nord dkk, 1997), single father lebih pada menyediakan kebutuhan ekonomi, sehingga biasanya keadaan ekonomi nya lebih baik dibanding single mother. Pada single mother lebih pada ’interpersonal’ seperti bagaimana sekolah anaknya, berteman dengan siapa dan sebagainya. Ayah mempunyai peran ganda dalam mencari nafkah, mendidik, membesarkan dan memenuhi kebutuhan anak dan tidak biasa dengan afeksi yang kompleks. Ibu yang secara sosial budaya telah dipersiapkan menjadi ibu dan mengasuh anak (Partasari dalam Setiawati, 2007).
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa single parent hanya terdapat satu orangtua baik itu ayah maupun ibu untuk mendidik, mengasuh dan membesarkan
anaknya. Sedangkan orangtua utuh adalah dalam keluarga itu terdapat ayah dan ibu yang mendidik, mengasuh dan membesarkan anaknya.
3. Fungsi Keluarga
Menurut Yusuf (2004), dari sudut pandang sosiologis ada tujuh fungsi keluarga , yaitu:
a. Fungsi Biologis
Keluarga dipandang sebagai pranata sosial yang memberikan legalitas, kesempatan dan kemudahan bagi para anggotanya untuk memenuhi kebutuhan dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi pangan, sandang, papan, hubungan seksual bagi suami istri, dan pengembangan keturunan atau reproduksi.
b. Fungsi Ekonomis
Keluarga dalam hal ini mempunyai kewajiban untuk menafkahi anggota keluarganya, melengkapi kebutuhan mereka.
c. Fungsi Pendidikan
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Keluarga berfungsi sebagai ”transmiter budaya atau mediator” sosial budaya bagi anak. Dalam hal ini menyangkut penanaman, pembingbingan, atau pembiasaan nilai-nilai agama, budaya, dan keterampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak.
d. Fungsi Sosialisasi
Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan faktor penentu yang sangat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang
mensosialisasikan nilai-nilai atau peran hidup dalam masyrakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan, mau bekerja sama dengan orang lain, bersikap toleran, menghargai pendapat gagasan orang lain, mau bertanggung jawab dan bersikap matang dalam kehidupan yang heterogen (etnis, ras, budaya, dan agama).
e. Fungsi Perlindungan
Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari gangguan, ancaman, atau kondisi yang menimbulkan ketidaknyaman (fisik-psikologis) para anggotanya.
f. Fungsi Rekreatif
Untuk melaksanakan fungsi ini, keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan dan penuh semangat bagi para anggotanya. Sehubungan dengan hal ini, maka keluarga harus ditata sedemikian rupa, seperti menyangkut aspek dekorasi interior rumah, hubungan komunikasi yang tidak kaku, bercengkrama dan sebagainya.
g. Fungsi Agama
Keluarga berfungsi sebagai penanam nilai-nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar.keluarga berkewajiban mengajar, membimbing, atau membiasakan anggota keluarganya untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
Menurut Friedman (dalam Littleton,2002), fungsi keluarga ada lima yaitu:
a. Affective Function
Keluarga memberikan kenyamanan emosional anggota keluarga, membantu anggota keluarga dalam membentuk identitas. Dalam fungsi afeksi baik orangtua ke anak maupun anak ke anak saling menyanyangi, saling menyokong dan saling membantu.
b. Socialization and Social Placement Function
Keluarga menyiapkan anggota keluarganya untuk mengambil bagian pada masyarakat nantinya. Keluarga juga memberikan status pada anggota keluarga.
c. Reproductive Function
Keluarga melahirkan anak, menumbuh-kembangkan anak dan meneruskan keturunan
d. Economic Function
Keluarga memberikan finansial untuk anggota keluarganya sehingga anggota keluarga dapat memenuhi kebutuhannya.
e. Health Care Function
Keluarga memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit
Berdasarkan uraian diatas maka keluarga mempunyai fungsi yaitu, fungsi biologis, fungsi perlindungan, fungsi rekreatif, fungsi sosialisasi, fungsi ekonomi dan fungsi pendidikan.
Menurut Friedman keluarga mempunyai fungsi sebagai affective function, socialization and
social placement function, reproduktif function, economic function, health care function.
C. Remaja
1. Pengertian Remaja
Menurut Hurlock (1980) istilah adolescence seperti yang dipergunakan saat ini, mempunyai arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Remaja berkisar antara 12/13-17/18 tahun. Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama.
Menurut Mappiare dalam Ali dan Asrori (2009), masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Menurut Papalia (2007) mengatakan remaja adalah pada saat perkembangan transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa dengan perubahan pada fisik, kognitif dan psikososial. Masa remaja akan dimulai pada saat terjadi pubertas yaitu proses menuju matangnya alat reproduksi, dan mampu berreproduksi.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa remaja adalah anak laki-laki maupun perempuan yang sudah mengalami pubertas dan berusia sekitar 13-18 tahun.
2.. Ciri-Ciri Masa Remaja
a. Masa Remaja Sebagai Periode yang Penting
Kendatipun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kadarnya berbeda-beda. Ada periode penting karena akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Pada periode remaja kedua-duanya sama sama penting. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.
b. Masa Remaja Sebagai Periode Peralihan
Peralihan tidak berarti putus atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya. Artinya, apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa.
c. Masa Remaja Sebagai Periode Perubahan
Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung cepat. Perubahan fisik pada masa pubertas seperti perubahan proporsi tubuh misalnya alat-alat sexual berkembang, tubuh bertambah tinggi dan sebagainya, dan ini yang akan membawa dampak berpenampilan pada remaja, yang bisa membuat dia semakin percaya diri atau semakin minder dengan keadaannya. Ada empat perubahan yang sama yang hampir bersifat universal. Pertama, meningginya emosi
yang intensitasnya tergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh oleh kelompok sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. Remaja akan tetap merasa ditimbuni masalah, sampai dia sendiri menyelesaikannya menurut kepuasannya. Ketiga, dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Apa yang pada masa kanak-kanak penting, sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi. Keempat, sebagian besar remaja bersifat ambivalen terhadap perubahan. Mereka mengiginkan dan menuntut kebebasan, tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan akibat dan meragukan kemampuan untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.
d. Masa Remaja Sebagai Periode Storm and Stress
Masa remaja sering menjadi masalah sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun perempuan. Remaja berada pada situasi ingin melepaskan diri dari orangtua namun perasaan masih merasa belum mampu untuk mandiri. Remaja sering mengalami kebingungan karena sering terjadi pertentangan pendapat antara mereka dan orangtua. Mereka ingin bebas untuk menentukan nasib diri sendiri. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah mereka sebagian diselesaikan oleh orangtua dan guru sehingga menyebabakan mereka kurang berpengalaman. Kedua, karena ketidakmampuan mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja menemukan penyelesaiannya tidak sesuai dengan harapan mereka.
e. Masa Remaja Sebagai Masa Mencari identitas
Pada tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri. Salah satu cara nya adalah dengan mengangkat diri sendiri dengan menggunakan simbol status seperti pakaian dan barang-barang lain yang bagus. Dengan cara ini remaja menarik perhatian diri sendiri dan agar dipandang sebagai individu, sementara pada saat yang sama dia mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebaya.
f. Masa Remaja Sebagai Masa yang Tidak Realistik
Mereka melihat diri mereka sendiri dan orang lain sebagaimana yang remaja inginkan. Semakin tidak realistik cita-citanya semakin remaja tersebut marah bahkan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau ketika remaja tersebut tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya.
g. Masa Remaja Sebagai Ambang Dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotipe belasan tahun dan untuk memberikan kesan mereka telah dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa. Bahkan mereka mulai mulai merokok, minum-minuman keras, dan sebagainya. Mereka menganggap bahwa perilaku itu akan memberikan citra yang mereka inginkan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri masa remaja itu adalah masa remaja sebagai periode yang penting, masa remaja sebagai periode peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai periode storm and stress, masa remaja sebagai
masa mencari identitas, masa remaja sebagai masa yang tidak realistik, dan masa remaja sebagai ambang dewasa.
3. Tugas – Tugas Perkembangan Remaja
Menurut Dariyo (2004), tugas-tugas perkembangan adalah kewajiban atau yang harus dilalui oleh setiap individu sesuai dengan tahap perkembangan individu itu sendiri. Tugas-tugas perkembangan remaja menurut Havighurst (dalam Dariyo, 2004) ada beberapa, yaitu sebagai berikut.
a.Menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis-psikologis
Perubahan fisiologis yang dialami oleh individu mempengaruhi pola perilakunya. Di satu sisi, dia harus dapat memenuhi kebutuhan dorongan biologis, namun apabila dipenuhi hal tersebut akan melanggar norma, padahal dari sisi penampilan fisik, remaja sudah seperti orang dewasa. Oleh karena itu, remaja mengalami dilema.
b.Belajar bersosialisasi dengan seorang laki-laki maupun wanita
Dalam hal ini, seorang remaja diharapkan dapat bergaul dan menjalin dengan individu lain yang berbeda jenis kelamin, yang didasarkan atas saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lain.
c.Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
Ketika sudah menginjak remaja , individu memiliki hubungan pergaulan yang lebih luas, dibandingkan dengan masa anak-anak sebelumnya yaitu selain dari teman tetanggga, teman sekolah, tetapi juga dari orang dewasa lainnya. Hal ini menunjukkkan
remaja tidak lagi sepenuhnya bergantung pada orang tua, bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya bergaul dengan teman- temannya.
d.Remaja bertugas untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab
Untuk dapat mewujudkan tugas ini, umumnya remaja berusaha mempersiapkan diri dengan menempuh pendidikan formal dan non-formal agar memiliki taraf ilmu pengetahuan, keterampilan/ keahlian yang profesional. Oleh Schaie (dalam Dariyo, 2004) masa tersebut diistilahkan sebagai masa aquisitif yakni masa di mana remaja berusaha untuk mencari bekal pengetahuan dan keterampilan guna mewujudkan cita-citanya agar menjadi seorang ahli yang profesional di bidangnya. Karena itu adalah hal wajar agar remaja dipersiapkan dan mempersiapkan diri secara matang dan sebaik-baiknya.
e.Memperoleh kemandirian
Salah satu tugas perkembangan remaja untuk mandiri merupakan tugas yang sulit untuk dicapai. Banyak remaja ingin mandiri dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orangtua atau dewasa lainnya. Remaja mempersiapkan diri untuk menguasai ilmu dan keahlian untuk dapat bekerja sesuai dengan bidang sehingga remaja tersebut dapat menghidupi diri sendiri nantinya sehingga. Remaja itu sendiri yang menentukan pendidikannnya dan membuat keputusan sendiri.
Kemandirian itu dicapai dengan mulai memisahkan diri dari keluarga tetapi bukan berarti menolak keluarganya. Disini remaja bertanggungjawab dengan perbuatannnya tetapi tetap menjaga hubungan dengan orangtua dan anggota keluarganya.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan remaja itu adalah menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis-psikologis, belajar bersosialisasi dengan
seorang laki-laki maupun wanita, memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, remaja bertugas untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, dan memperoleh kemandirian.
3. Minat Pada Kemandirian
Keinginan yang kuat untuk mandiri berkembang pada awal masa remaja dan mencapai puncaknya menjelang periode ini berakhir. Hal ini menimbulkan banyak banyak perselisihan dengan orangtua dan orang dewasa lainnya. Remaja yang mandiri adalah individu yang berani mengambil keputusan dilandasi oleh pemahaman akan segala konsekuensi dari tindakannya sehingga disertai dengan tanggung jawab (Ali dan Asrori, 2009). Orangtua sebaiknya tidak membiasakan menggambil alih tanggung jawab anak. Orangtua bisa mendukung dan mendampinginya, tapi tidak sampai mengambil alih permasalahan anak (Lie dan Prasasti, 2004).
Perkembangan kemandirian sangat berhubungan dengan perubahan biologis, kognitif dan perubahan sosial. Perubahan biologis merupakan dampak dari masa puber. Pada masa puber ini banyak perubahan sikap dan perilaku remaja. Banyak remaja ingin menyendiri, mempunyai emosi yang tinggi, hilangnya kepercayaan diri, dan sebagainya. Pada masa remaja awal memicu terjadinya perubahan hubungan emosional pada orangtua. Remaja mulai menyukai untuk mencari dukungan dari teman sebaya. Pada masa puber ini, remaja mulai mengurangi keterikatan secara emosional dari orangtua. Perubahan kognitif juga sangat berperan penting pada perkembangan kemandirian remaja, dimana remaja mulai mampu mengambil keputusan sendiri, mulai dapat meminta pendapat orang lain dan mengetahui konsekuensi dari keputusan yang diambil. Remaja juga sudah dapat menentukan mana yang baik dan yang salah, dan juga tidak
terlalu berpatokan pada figur orangtua atau figur orang dewasa lainnya. Pada perubahan sosial, remaja sudah dapat bertanggung jawab dan meningkatnya rasa percaya diri (Steinberg, 2002).
Remaja mulai mempertanyakan pandangan orangtuanya dan mulai mengembangkan gagasan sendiri. Remaja tidak lagi memandang orangtuanya sebagai orang yang tahu segalanya. Remaja mulai matang dan realistis sesuai dengan bakat, skill dan pengetahuannnya walau kadang masih bisa melakukan kesalahan (Kenny and Dacey, 1997).
Remaja yang mandiri bukan saja sadar akan berbagai alternatif yang dapat dipilih secara seksama dan dialami sendiri, tetapi juga mampu bersikap realistis dan memecahkan konflik secara objektif dengan tetap mempertimbangkan arahan dari orang lain (Ali dan Asrori, 2009).
D. Kerangka Berpikir Perbedaan Kemandirian Pada Remaja Single Parent Dengan Remaja Yang Mempunyai Orangtua Utuh
Dilihat dari struktur kelengkapan keluarga, ada keluarga yang utuh dan yang tidak utuh. Keluarga utuh adalah keluarga yang terdiri atas ayah dan ibu yang masih lengkap keduanya sedangkan keluarga tidak utuh atau yang sering disebut single parent adalah keluarga yang hanya terdapat satu orangtua baik itu ayah maupun ibu. Banyak hal yang mengakibatkan single
parent terjadi seperti bercerai, kematian pasangan, hamil diluar nikah dan ditinggalkan
pasangannya
Penelitian yang dilakukan Kelly (2008) menunjukkan bahwa anak dari single parent cenderung lebih rentan terkena masalah dalam kehidupannya sehari-hari serta terganggu dalam hal pendidikan dibanding anak yang memiliki orangtua utuh. Menurut Bharat, dkk (1989) mengatakan bahwa anak keluarga single parent lebih merasa loneliness, withdrawal dan anger. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Hansen, dkk (1980) dimana terdapat perbedaan konsep diri, prestasi di sekolah, vocational maturity, occupational aspiration dan persepsi terhadap orangtua mereka pada anak dengan orangtua single parent dan yang memiliki orangtua utuh.
DeGenova (2008) juga mengatakan bahwa single parent biasanya lebih merasa tertekan daripada orangtua utuh dalam kekompetenan sebagai orangtua. Kekompeten orangtua ini nantinya dapat berpengaruh pada bagaimana si orangtua mengasuh anaknya. Orangtua single
parent yang tidak mempunyai pasangan untuk tempat berbagi dalam mendidik dan membesarkan
anak akan berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak, salah satunya dalam hal kemandirian anak. Ada orangtua single parent yang mengasuh anaknya terlalu over protective
mengakibatkan si anak akan menjadi kurang mandiri karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh orangtua. Begitu juga dengan anak yang kurang mendapat perhatian dari orangtua single
parent akibat terlalu sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas
perkembangan atau kurangnya bimbingan untuk menguasai tugas perkembangan tersebut (Musdalifah, 2007). Kekurangkompetannya sebagai single parent dapat mengakibatkan anak kurang mandiri dimana anak menjadi bingung dalam mengambil keputusan dan susah mempertanggungjawabkannnya.
Keadaan keluarga yang tidak lengkap dapat membuat ikatan keluarga dan suasana keluarga tidak dapat memberi rasa aman. Anak tidak mencari perlindungan dan tempat bernaung di keluarga melainkan mencari tempat curahan hati pada teman dekatnya. Sedangkan keluarga sebenarnya justru harus memberikan rasa aman itu (Gunarsa, 2003).
Ditinjau dari sisi peran, terlihat adanya perbedaan single mother dan single father. Ibu
single parent dapat menjadi kurang perhatian pada anak mereka. Hal ini dikarenakan ibu harus
mencari nafkah menggantikan ayah dan harus bekerja, sehingga ibu sering kurang memberikan perhatian pada anaknya. Begitu juga ketika ayah tunggal yang mengasuh anak, maka si ayah akan merasakan bahwa menjadi ayah itu merupakan proses yang menantang bagi seorang pria, dimana proses ini dapat menyebabkan berbagai gejolak emosional karena para ayah tidak terbiasa dengan afeksi kompleks yang dimunculkan dalam hubungan ayah anak, dimana ayah mempunyai peran ganda dalam mencari nafkah, membesarkan, mendidik, dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya (Setiawati, 2007). Berbeda halnya dengan ibu yang secara sosial budaya telah dipersiapkan menjadi ibu dan mengasuh anak (Partasari dalam Setiawati, 2007). Menurut Downey (dalam Nord dkk, 1997), single father lebih pada menyediakan kebutuhan ekonomi, sehingga biasanya keadaan ekonomi nya lebih baik dibanding single mother. Pada
single mother lebih pada ’interpersonal’ seperti bagaimana sekolah anaknya, berteman dengan
siapa dan sebagainya.
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua didalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing, membantu dan mengarahkan anak untuk menjadi mandiri (Gunarsa & Gunarsa, 2004). Menurut Allen (dalam Kulbok, 1980) terdapat lima faktor yang mempengaruhi kemandirian yaitu, jenis kelamin, usia, struktur keluarga, lingkungan, budaya, dan keinginan individu untuk mandiri.
Menurut Stanley Hall (dalam Dariyo, 2004) masa remaja itu adalah masa storm and
stress. Remaja berada pada situasi ingin melepaskan diri dari orangtua dan perasaan masih belum
mampu untuk mandiri. Remaja sering mengalami kebingungan karena sering terjadi pertentangan pendapat antara mereka dan orangtua. Mereka ingin bebas untuk menentukan nasib diri sendiri. Kalau remaja tersebut mendapat arahan dan bimbingan dengan baik, maka remaja tersebut akan menjadi seorang individu yang bertanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing dengan baik, maka remaja tersebut bisa menjadi seorang yang memiliki masalah pada masa dewasanya nanti.
Istilah “autonomy” dalam kajian mengenai remaja sering disejajarartikan secara silih berganti dengan kata “independence”, meskipun sesungguhnya ada perbedaan yang sangat tipis diantara keduanya (Steinberg, 2002). Independence, “secara umum menunjuk pada kemampuan individu untuk ‘menjalankan’ atau ‘melakukan sendiri’ aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain”. Sedangkan istilah autonomy, mempunyai komponen emotional dan cognitive sama baiknya seperti komponen behavioral. Menjadi orang yang mandiri yaitu dapat mengatur diri sendiri yang menjadi salah satu tugas perkembangan pada masa remaja (Steinberg, 2002).
Menurut Steinberg (dalam Lewis, 2009) kemandirian itu apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan keputusan yang dibuat adalah lebih berdasarkan pada diri sendiri daripada mengikuti apa yang orang percayai. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Steinberg (dalam Newman, 2006) dimana kemandirian itu adalah kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri untuk memilih dan memutuskan keputusan sendiri dan melakukannya tanpa terlalu dikontrol dan tanpa terlalu tergantung pada orangtua. Memberikan kemandirian tersebut pada remaja bukan berarti orangtua menolak, mengabaikan atau memisahan fisik dari anak mereka, melainkan lebih pada kebebasan psikologis dimana orangtua dan remaja menerima perbedaan masing-masing dimana remaja dan orangtua tetap merasakan cinta kasih sayang, saling pengertian dan tetap menjalin hubungan dan komunikasi yang baik. Menurut Steinberg ( 2002) ada tiga dimensi kemandirian yaitu behavioral, value dan emotional.
Transisi dari anak-anak menuju ke tahap dewasa, remaja membutuhkan kemandirian dan identitas untuk mengasumsikan peraturan yang dibuat oleh orang dewasa serta dapat bertanggungjawab. Remaja yang mandiri adalah remaja yang berani mengambil keputusan dilandasi oleh pemahaman akan segala konsekuensi dari tindakannya sehingga disertai dengan tanggung jawab (Ali dan Asrori, 2009). Remaja meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah, mampu mempunyai rencana untuk masa depannya, dan dikendalikan oleh diri sendiri sesuai dengan dorongan hati (Breinbauer, 2005).
Remaja yang memiliki kemandirian akan dapat menentukan pilihannya sendiri tanpa dibingungkan oleh pengaruh-pengaruh dari luar dirinya, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Sedangkan remaja yang tidak mandiri tidak dapat menentukan pilihannya sendiri dan belum dapat bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.
E. Hipotesa
Berdasarkan uraian di atas, diperoleh jawaban sementara tentang perbedaan kemandirian remaja yang memiliki orangtua single parent dengan remaja yang memiliki orangtua utuh sebagai berikut : Ada perbedaan kemandirian antara remaja yang memiliki orangtua single