• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH INTERNASIONAL

N/A
N/A
AmaliaAyu Febrianti

Academic year: 2024

Membagikan "MAHKAMAH INTERNASIONAL "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH INTERNASIONAL

Nama Kelompok:

Nur Asih Nalasari (2005056035)

Amalia Ayu Febrianti (2005056016)

Dina Wulandari (2005056036)

(2)

 Pengertian, Fungsi dan Tujuan Mahkamah Internasional

Pengertian

Mahkamah Internasional, (bahasa Inggris: International Court of Justice, ICJ; bahasa Prancis:

Cour internationale de justice, CIJ) kadang juga disebut Mahkamah Dunia, adalah sebuah badan kehakiman utama Perserikatan Bangsa-Bangsa. Fungsi utama Mahkamah ini adalah untuk mengadili dan menyelesaikan sengketa antarnegara-negara anggota dan

memberikan pendapat-pendapat bersifat nasihat kepada organ-organ resmi dan badan khusus PBB. Ia beranggotakan lima belas orang hakim yang menjabat selama sembilan tahun dan dipilih oleh Majelis Umum dan Dewan Keamanan. Lembaga peradilan

Internasional ini didirikan pada tahun 1945 dan Mahkamah ini bersidang di Istana Perdamaian, Den Haag, Belanda.

Fungsi

Fungsi utama mahkamah internasional adalah menyelesaikan kasus-kasus persengketaan internasional yang subjeknya adalah negara yang disebutkan dalam pasal 34, dan

merupakan organisasi yang melindungi perdamaian dan keamanan dunia. Keputusan yang diambil oleh mahkamah internasional merupakan suatu kepastian yang terdapat di dalam peraturan hukum internasional.

Tujuan

Tujuan mahkamah internasional adalah menentukan bagaimana hubungan hukum antara kedua negara yang bersengketa di mahkamah internasional. Keputusan norma hukum

internasional yang dikeluarkan oleh para hakim Mahkamah Internasional akan menentukan penyelesaian masalah sengketa negara tersebut.

(3)

 Tugas Mahkamah Internasional

1. Tugas mahkamah Internasional yang pertama yaitu, Mahkamah Internasional memiliki tugas utama untuk memeriksa dan menyelidiki kasus sengketa antar Negara yang

tergabung dalam anggota PBB.

2. Tugas mahkamah Internasional yang berikutnya yaitu Mahkamah Internasional juga memiliki tugas pokok dan harus dilaksanakan yaitu memberikan pendapat kepada

majelis umum terkait dengan penyelesaian terhadap kasus sengketa yang dialami suatu Negara.

3. Tugas mahkamah Internasional yang terakhir yaitu, Mahkamah Internasional bertugas untuk menganjurkan atau memberikan usulan kepada dewan keamanan untuk bertindak terhadap salah satu pihak untuk tidak menghiraukan sebuah keputusan. Ini juga

termasuk salah satu keputusan umum yang dapat dibuat oleh Mahkamah Internasional.

4. Memberi nasihat kepada dewan keamanan PBB dan majelis umum atau Perserikatan Bangsa Bangsa tentang hukum.

5. Memberikan suatu pendapat pada dewan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang sengketa penyelesaian yang terjadi antar negara-negara anggota PBB.

6. Memeriksa persellisihan (sengketa) antar negara-negara yang telah menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa.

7. Mengajukan kepada dewan keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa supaya bertindak terhadap orang yang tidak melakukan hasil keputusan dari Mahkamah Internasional.

(4)

Kewenangan

Sumber-sumber hukum yang digunakan apabila membuat suatu keputusan ialah :

1. konvensi-konvensi internasional untuk menetapkan perkara-perkara yang diakui oleh negara-negara yang sedang berselisih

2. kebiasaan internasional sebagai bukti dari suatu praktik umum yang diterima sebagai hukum

3. asas-asas umum yang diakui oleh negara-negara yang mempunyai peradaban

4. keputusan-keputusan kehakiman dan pendidikan dari publisis-publisis yang paling cakap dari berbagai negara, sebagai cara tambahan untuk menentukan peraturan-peraturan hukum.

Mahkamah dapat membuat keputusan “ex aequo et bono” (artinya : sesuai dengan apa yang dianggap adil) apabila pihak-pihak yang

bersangkutan setuju.

(5)

Prosedur Mahkamah Internasional dalam Menjelaskan Masalah Internasional

Masalah Internasional dapat diselesaikan oleh Mahkamah Internasional dengan melalui prosedur berikut:

1. Telah terjadi pelanggaran HAM atau kejahatan humaniter (kemanusiaan) di suatu negara terhadap negara lain atau rakyat negara lain.

2. Ada pengaduan dari korban (rakyat) dan pemerintahan negara yang menjadi korban

terhadap pemerintahan dari negara yang bersangkutan karena didakwa telah melakukan pelanggaran HAM atau kejahatan humaniter lainnya.

3. Pengaduan disampaikan ke Komisi Tinggi HAM PBB atau melalui lembaga-lembaga HAM Internasional lainnya.

4. Pengaduan ditindaklajuti dengan penyelidikan, pemeriksaan dan penyidikan. Jika ditemui bukti-bukti kuat terjadinya pelanggaran HAM atau kejahatan kemanusiaan lainnya, maka pemerintahan dari negara yang didakwa melakukan kejahatan humaniter dapat diajukan ke Mahkamah Internasional.

5. Dimulailah proses peradilan sampai dijatuhkan sanksi.

Sanksi dapat dijatuhkan bila terbukti 10 bahwa pemerintahan atau individu yang

bersangkutan telah melakukan pelanggaran terhadap konvensi-konvensi Internasional berkaitan dengan pelanggaran HAM atau kejahatan humaniter. Prosedur penyelesaian sengketa internasional yang ditangani oleh Mahkamah Internasional juga dapat

dikelompokkan dalam 2 hal, yaitu: a. Ajudikasi (adjudication) yaitu cara penyelesaian

sengketa Internasional dengan menyerahkan kepada lembaga peradilan untuk memutuskan sengketa. b. Arbitrase yaitu cara penyelesaian melalui prosedur Ad Hoe (khusus) atau

melalui perundingan yang ditengahi oleh pihak ketiga. Untuk menyelesaikan kasus sengketa intemasional maka dikumpulkan bukti-bukti, digunakan pertimbangan-pertimbangan dan berbagai aspek yang menyangkut dampak dari sengketa.

(6)

 Komposisi Mahkamah Internasional

Dalam pasal 9 statuta mahkamah internasional dijelaskan bahwa

komposisi mahkamah internasional terdiri atas 15 orang hakim, dengan masa jabatan 9 tahun. Ke-15 calon hakim tersebut direkrut dari warga negara anggota yang dinilai cakap di bidang hukum internasional. Dari daftar calon hakim ini, majelis umum dan dewan keamanan secara

independen melakukan pemungutan suara untuk memilih anggota

mahkamah internasional. Para calon yang memperoleh suara terbanyak terpilih menjadi hakim mahkamah internasional. Biasanya lima hakim

mahkamah internasional berada dari negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Cina, dan Rusia. Di samping 15 hakim tetap, pasal 32 statuta mahkamah internasional

memungkinkan dibentuknya hakim ad hoc yang terdiri atas dua orang

hakim yang diusulkan oleh negara yang bersengketa. Kedua hakim ad

hoc tersebut bersama-sama dengan ke-15 hakim tetap, memeriksa dan

memutuskan perkara yang di sidangkan.

(7)

DAH HABIS

Referensi

Dokumen terkait

Muladi, 2011, Statuta Roma Tahun 1998 Tentang Mahkamah Pidana Internasional Dalam Kerangka Hukum Pidana Internasional dan. Implikasinya Terhadap Hukum Pidana Nasional

Berdasarkan tugas-tugas dari Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB, maka peranan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa mewakili Majelis Umum dan Dewan

Adapun terkait kewajiban memberikan putusan atas pendapat DPR, disebutkan bahwa Mahkamah Konstitusi wajib memutusnya apakah hal tersebut mempunyai akibat hukum terhadap putusan

Akibat Hukum Penolakan Majelis Hakim atas Permohonan Non Eksekuatur Putusan Arbitrase Internasional Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 808 K/Pdt.Sus/2011 Suatu Sengketa

Ketiga, akibat hukum penolakan majelis hakim terhadap eksekusi putusan arbitrase internasional dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 808 K/Pdt.Sus/2011 mengakibatkan putusan

HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana pada Pasal 41 ayat 1 dari Statuta Mahkamah Internasional menyatakan bahwa Mahkamah memiliki wewenang untuk menyatakan tindakan sementara provisional

Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam melakukan judicial review terhadap Undang-Undang hasil ratifikasi perjanjian

Organisasi internasional adalah organisasi yang didirikan oleh tiga atau lebih negara dan menjalankan tugas-tugas terkait tujuan