MAKALAH ANTIKORUPSI
BENTUK TINDAK PIDANA PEMERASAN
NAMA :MUHAMMAD FAUZI NPM: :2210005530110
DOSEN PENGAMPU
Dr.HAFRIZAL OKTA ADE PUTRA S.E,M.M
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULITAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TAMAN SISWA PADANG
2022/2023
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“BENTUK TINDAK PIDANA PEMERASAN” dan Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan untuk baginda Rasulullah SAW.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah anti korupsi. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang karangan ilmiah bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak sebagai Dosen Pengampu mata kuliah anti korupsi yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari, makalah yang di tulis ini masih kurang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan di nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Solok , 25 Desember 2022
MUHAMMAD FAUZI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. LATAR BELAKANG MASALAH...1
B.RUMUSAN MASALAH...1
C.TUJUAN...1
BAB II...1
PEMBAHASAN...1
A. BENTUK TINDAK PIDANA PEMERASAAN...1
B.Unsur-Unsur Tindak Pidana Pemerasan :...2
1. Unsur “memaksa”...2
2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”...2
3. Unsur “supaya memberi hutang”...2
4. Unsur “untuk menghapus hutang”...3
5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”...3
C.CONTOH STUDI KASUS...3
BAB III...4
PENUTUP...4
A.KESIMPULAN...4
B.IMPLIKASI...4
C.SARAN...4
DAFTAR PUSTAKA...5
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Korupsi telah menjadi perhatian semua pihak pada saat ini. Bentuk-bentuk dan perwujudan korupsi jauh lebih banyak daripada kemampuan untuk melukiskannya.
Iklim yang diciptakan oleh korupsi menguntungkan bagit umbuh suburnya berbagai kejahatan.
Korupsi pun menjadi permasalahan yang sungguh serius dinegeri ini.Kasus korupsi sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Berkembang dengan pesat, meluas dimana–mana, dan terjadi secara sistematis dengan rekayasa yang canggih dan memanfaatkan teknologi modern.Kasus terjadinya korupsidari hari kehari kian marak.
Hampir setiap hari berita tentang korupsi
menghiasi berbagai media. Bahkan Korupsi dianggap biasa dan dimaklumi banyak orang sehingga masyarakat sulit membedakan nama perbuatan korupdan mana perbuatan yang tidak korup. Meskipun sudah ada komisi pemberantasan korupsi (KPK) dan beberapa instansi antikorupsi lainnya,faktanya negeri ini menduduki rangking teratas sebagai negara terkorup di
dunia.
Tindak korupsi di negeri ini bisa dikatakan mulai merajalela, bahkan menjadi kebiasaan, dan yang lebih memprihatinkan adalah korupsi dianggap biasa saja atau hal yang sepele. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya korupsi namun tetap saja korupsi menjadi hal yang sering terjadi.
B.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam makalah isi adalah sebagai berikut :
1.mengetahui bentuk tindak pidana korupsi tentang pemerasan?
C.TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. untuk mengetahui bentuk tindak pidana korupsi tentang pemerasan
BAB II PEMBAHASAN
A. BENTUK TINDAK PIDANA PEMERASAAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata-kata pemerasan.
Pemerasan merupakan salah satu tindak pidana disertai ancaman guna mencari keuntungan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Dasar hukum mengenai pemerasan diatur dalam Bab XXIII tentang Pemerasan dan Pengancaman Pasal 368 sampai dengan Pasal 371 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP). Secara umum, tindak pidana yang disebut dengan pemerasan diuraikan dalam ketentuan Pasal 368 ayat (1) dan Pasal 369 ayat (1) KUHP yang menyatakan hal sebagai berikut :
“Pasal 368 ayat (1)
Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 369 ayat (1)
Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan ancaman pencemaran baik dengan lisan maupun tulisan, atau dengan ancaman akan membuka rahasia, memaksa seorang supaya memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang atau menghapuskan piutang, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”
Penyerahan suatu barang yang dimaksud dalam unsur-unsur Pasal 368 ayat (1) dan Pasak 369 ayat (1) KUHP, yaitu penyerahan suatu barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diancam tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar-benar dikuasai oleh orang yang mengancam atau belum.
Pemerasan dapat dilakukan secara terang-terangan atau secara terselubung. Tindak pidana pemerasan dapat terjadi di tempat kerja, di rumah, di sekolah, atau di tempat publik lainnya.
Pemerasan dapat terjadi kepada siapa saja, termasuk anak-anak, orang dewasa, atau orang tua. Pemerasan juga dapat terjadi terhadap seseorang karena latar belakang, ras, agama, atau orientasi seksualnya.Para pelaku pemerasan dapat dihukum sesuai
B.Unsur-Unsur Tindak Pidana Pemerasan :
Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP 55:
1. Unsur obyektif, yang meliputi unsur-unsur :
a) Memaksa b) Orang lain
c) Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
d) Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain
e) Supaya memberi hutang f) Untuk menghapus piutang 2. Unsur subyektif,
yang meliputi unsur – unsur : a) Dengan maksud
b) Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Unsur “memaksa”.
Dengan istilah “memaksa” dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang, sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri
2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.
Berkaitan dengan unsur itu, persoalan yang muncul adalah, kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas, tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar - benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Pemerasan dianggap telah terjadi, apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas.
3. Unsur “supaya memberi hutang”.
Berkaitan dengan pengertian “memberi hutang” dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian, bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjian yang menyebabkan orang yang diperas harus
membayar sejumlah uang tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas, tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki.
4. Unsur “untuk menghapus hutang”.
Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras
atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.
5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”.
Yang dimaksud dengan “menguntungkan diri sendiri atau orang lain” adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula.
Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi, tetapi cukup apabila dapat dibuktikan, bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain.
C.CONTOH STUDI KASUS
Preman pelaku kasus pemalakan terhadap sopir truk kontainer di Solok, Sumatra Barat terancam hukuman pidana sesuai pasal 368 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pemerasan.
"Pasal yang diterapkan, pasal 368 KUHP," ujar Wakil Kepala Polres Kota Solok Nasriadi saat dikonfirmasi, di solok, Kamis.
Dalam Pasal 368 ayat (1) KUHP tersebut, ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun.
Selengkapnya, Pasal 368 Ayat (1) KUHP berbunyi, “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.”
Tiga orang tersebut sudah kami tangkap dan saat ini sedang dalam pengembangan,"
ujar Nasriadi.Saat ini, Nasriadi belum mau mengungkap identitas para pelaku karena pihaknya masih dalam tahap pengembangan penyelidikan.
"Nanti, kalau ada hasil pengembangan lagi diungkap secepatnya," ujar dia. (Antara)
BAB III PENUTUP
A.KESIMPULAN
Pasal 369 ayat (1) Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan ancaman pencemaran baik dengan lisan maupun tulisan, atau dengan ancaman akan membuka rahasia, memaksa seorang supaya memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang atau menghapuskan piutang, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.” Penyerahan suatu barang yang dimaksud dalam unsur-unsur Pasal 368 ayat (1) dan Pasak 369 ayat (1) KUHP, yaitu penyerahan suatu barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diancam tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar-benar dikuasai oleh orang yang mengancam atau belum.
B.IMPLIKASI
merugikan orang yang ditipu atau diperas menyebabkan trauma menimbulkan ketidak percayaan kepada seseorang.Warga negara Indonesia yang selalu menjunjung tinggi kesopanan serta keramah-tamahan. Sayangnya, hal ini sering dimanfaatkan oleh sejumlah oknum dalam melakukan berbagai pungutan liar. Akibatnya, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah ataupun pejabat daerah semakin berkurang. Alhasil, rasa cinta Tanah Air kemudian semakin terkikis. Rasa peduli di dalam masyarakat pun kian menipis dengan berpikir segala sesuatunya bisa diatur dengan uang
C.SARAN
Dengan adanya pembahasan bahaya pemerasan ini, diharapkan pembaca dapat memahami lebih lanjut tentang bahaya pemerasan dan dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung serta bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
https://aclc.kpk.go.id/aksi-informasi/Eksplorasi/20220524-ayo-kenali-dan-hindari-30-jenis- korupsi-ini
https://hukumexpert.com/pemerasan/
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-pemerasan/3515