• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH fiqih ilmu hadist

N/A
N/A
habibchuy

Academic year: 2025

Membagikan "MAKALAH fiqih ilmu hadist "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH FIQIH IBADAH

HUBUNGAN IBADAH DENGAN IMAN Dosen pengampu :

Makhasin Ariffi Setya M.Pd

Di susun oleh : Lintang Ramadhani

NIM : 2401010067

(2)

Kata Pengantar

Assalamu`alaikum Wr.Wb

Segala puji bagi ALLAH SWT,atas segla limpahan rahmat dan karunianya sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah yang diberikan oleh dosen pengampu dalam mata kuliah Fiqih Ibadah tepat pada waktunya. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW,nabi yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju jalan terang benderang.

Makalah berjudul “hubungan ibadan dengan iman” ini saya buat untuk memberi pemahaman kepada pembaca mengenai hal tersebut. Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan maupun dari segi lainnya. Maka dari itu, saya menghrapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca. Khususnya dosen pembimbing mata kuliah ini.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dalam memdapatkan sumber-sumber materi dalam pembuatan makalah ini serta para pembaca yang memberikan kritik dan saran pada penyusunan makalah ini.

Wassalamu`alaikum Wr.Wb

Sukorejo,November 2024

Penyusun

(3)

Daftar Isi

Cover...1

Kata Pengantar...2

Daftar Isi...3

I. PENDAHULUAN...4

A. Latar Belakang...4

B. Rumusan Masalah...4

C. Tujuan...4

II. PEMBAHASAN... 5

A. HUBUNGAN IBADAH DENGAN IMAN...5

III. PENUTUP...7

A. Kesimpulan...7

B. Saran... 7

DAFTAR PUSTAKA...8

(4)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Banyak cara yang dilakukan seseorang yang beragama dalam rangka mendekatkan dirinya dengan Tuhannya. Namun dalam hal ini akan membicarakan bagaimana seorang muslim dalam upayanya beribadah secara khusyu’ kepada Allah.

Setiap muslim pasti memiliki cara tersendiri dalam upayanya menyatukan hatinya sedekat mungkin dengan Allah, sehingga hati dan jasadnya merasakan keberadaan Allah. Namun tak jarang pula, masih banyak orang-orang muslim dalam hal beribadah, jasadnya memang melakukan suatu perbuatan peribadahan, akan tetapi pikiran dan hatinya masih terpaut oleh hal-hal yang lain. Sehingga esensi dalam ibadah yang dilakukannya sia-sia.

Dan dalam melakukan suatu ibadah, seorang muslim tidak hanya asal melakukan ibadah seperti hanya melakukan gerakan shalat saja, bukan hanya jasadnya saja yang melakukan shalat, akan tetapi jiwa dan rohaninya pun harus ikut melakukannya. Dalam hal ini, keimanan seseorang sangatlah berperan. Keimanan merupakan salah satu hal yang harus dimiliki oleh seseorang dalam beribadah.

Dengan iman seseorang bisa merasakan keberadaan Allah dalam hidupnya sehingga apapun yang diperbuat bisa menjadi ibadah.Dan orang yang ada iman dalam dirinya pasti beranggapan bahwa ibadah itu bukanlah sekedar kewajiban yang meski dilaksanakan akan tetapi suatu kebutuhan yang dirasakan dalam hidupnya.

B. Rumusan Masalah

Apa hubungannya ibadah dengan iman ? C. Tujuan

Mengetahui dan memahami apa hubungannya ibadah dengan iman

(5)

II. PEMBAHASAN A. HUBUNGAN IBADAH DENGAN IMAN

Akidah (keimanan) mempunyai kaitan yang erat dengan syariat (ibadah) dalam agama Islam itu di umpamakan sebagai pohon dengan buahnya. Dan di antaranya itu terdapat hubungan, dengannya, keimanan dapat mempengaruhi ibadah atau sebaliknya, Ibadah dapat mempengaruhi keimanan. Pada pembahasan pada kali ini, yang dimaksud dengan akidah adalah keimanan atau keyakinan, sedangkan syarat adalah amaliah keagamaan seseorang. Dengan demikian, materi pada kali ini merupakan pembahasan mengenai hubungan antara akidah dan syariat yang dimaksudkan adalah apa hubungan akidah dan syariat disampaikan sejauh mana keimanan dapat mempengaruhi ibadah dan sebaliknya.

Syahadat sebagai rukun islam yang pertama, merupakan inti serta syarat pertama dari seseorang disebut sebagai muslim. Syahadat mengandung unsur akidah , yaitu keimanan atau kepercayaan akan Allah dan kerasulan Muhammad SAW. Keyakinan (iman) itu selanjutnya menyebabkan keyakinan atau keimanan kita kepada adanya para malaikat, Rasul-rasul, dam kitab-kitab Allah. Selanjutnya keimanan itu pula melahirkan keimanan kepada hari kiamat dan qada qadar.

Jika seorang muslim menunaikan atau melakukan suatu ibadah dengan sungguh-sungguh, niscaya hal itu akan berdampak pada meningkatnya keimanan yang ada didalam dirinya. Sebelumnya dikatakan bahwa ibadah adalah manifestasi atau pernyataan pengabdian seorang muslim pada tuhan-Nya, sedangkan iman adalah bentuk batin atau rasa agama islam. Kehidupan batin religi dari muslim diisi oleh iman. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa iman mengalami turun naik, kuat dan lemah, pasang dan surut. Ia akan menguat dengan amal shaleh atau ketaatan dan menurun dengan maksiat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 21

نَوْقُتَّتَ مْكُلَعَلَ مْكُلَبْقَ نْمِ نْيْذِلَا وَ مْكُقُلَخَ يْذِلَا مْكُبَّرَ اوَدُبْعْا سُانَّلَا اهَ"يْا ايْ

(6)

mukmin itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat dan saling mempengaruhi.

Lebih dari itu, antara iman dengan ibadah terdapat pula hubungan kausalitas (hubungan timbal balik atau sebab akibat). Pelaksanaan ibadah yang dilandasi oleh keimanan yang terdapat dalam dada seseorang mukmin dapat memberikan dampak positif terhadap sikap perilaku seseorang Muslim.

Seseorang rajin beribadah dan mengabdikan dirinya kepada Allah, imannya akan semakin kuat dan tangguh, sehingga tidak ada satupun yang dapat mempengaruhi apalagi menggoyahkan keimanan dalam dadanya. Dengan kata lain, makin tebal iman seseorang, maka makin baik dan makin tinggi nilai ibadahnya.

Makin tinggi dan makin banyak ibadah seseorang maka semakin kokoh imannya.

Sebaliknya, semakin malas seseorang untuk beribadah maka makin tipis dan goyah keimanan seseorang.

(7)

III. PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas ibadah merupakan sikap pasrah dan tunduk sepenuhnya kepada semua aturan Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian, orang yang taat kepada Allah tapi tidak cinta kepada-Nya belum dikatakan melaksanakan ibadah.

Setiap muslim pasti mengetahui seperti apa perbuatan yang dinamakan ibadah itu.

Namun dalam mengerjakan ibadah itu bukan berarti hanya melakukan amaliyah atau tatacara dalam beribadah saja, tetapi hati dan akal pikiran juga harus ikut beribadah dalam artian hati dan pikiran kita ini hanya tertuju kepada Allah semata. Semakin tebal iman seseorang maka makin baik dan makin tinggi frekuensi ibadahnya. makin baik dan makin sempurna ibadah yang dilakukan seseorang, maka makin mantap pula keimanan dalam dirinya

B. Saran

Demikian makalah ini,kami menyarankan kepada para pembaca sekiranaya membaca pembahasan dengan penuh perhatian dan keseluruhan,agar para pembaca dapat benar-benar paham mengenai hubungan anatara ibadah dengan iman.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Budiman Mustofa, Lc. M.P.I dan Nur Sillaturahmah, Lc, Buku Pintar Ibadah Muslimah, (Surakarta; Shahih, 2011), hlm 41

Budiman Mustofa, Lc. M.P.I dan Nur Sillaturahmah, Lc, Buku Pintar Ibadah Muslimah, (Surakarta; Shahih, 2011), hlm 41

Drs. Sidi Gazalba, Mesjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, cetakan ke IV, (Jakarta; Pustaka Antara, 1994), hlm 17

Ridwan, M. 2013, 21 Agustus. Hubungan Antara Ibadah dengan Iman. Diakses pada tanggal 04 November 2024 dari

https://coretanbinderhijau.blogspot.com/2013/08/hubungan-antara-iman- dengan-ibadah.html?m=1

Referensi

Dokumen terkait

Seorang produsen muslim yakin bahwa apapun yang diusahakannya sesuai dengan ajaran islam tidak membuat hidupnya menjadi kesulitan. Allah SWT telah menjamin rezekinya dan

Faktor penyebab diharamkannya Riba yaitu merugikan orang lain ,sama dengan mengambil hak orang lain, mendapat laknat dari Allah, neraka ancamannya, termasuk perbuatan syetan

Seorang produsen muslim yakin bahwa apapun yang diusahakannya sesuai dengan ajaran islam tidak membuat hidupnya menjadi kesulitan. Allah SWT telah menjamin rezekinya dan

Pesan Aqidah (Iman kepada Allah) yang terdapatdalam kalimat ini bahwa puasa adalah suatu Ibadah yang hanya kamu dengan Allah yang tau yang bersifat tertutup dan orang lain

“Telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagi agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Wahai ibuku, hendaklah

Jika orang beranggapan bahwa iman itu datang dari dirinya sendiri bukan dari Allah, sedangkan manusia itu sudah berdosa maka sangat mungkin orang itu berubah dan tidak bisa

Ia adalah kata absrak atau masdhar dari Alima – ya’malu – ‘ilman.1 ‘Alim yaitu orang yang tahu subyek, sedang yang menjadi objek ilmu disebut ma’lum atau yang diketahui.2 Secara

Beberapa ulama lainnya beranggapan bahwasanya pembai’atan seorang imam pemimpinyang cuma dilakukan oleh tiga orang adalah sah, dari tiga orang tersebut, salh satunya diangkat menjadi