Puji dan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan kesempatan meneliti ilmu pengetahuan sehingga dapat terselesaikannya makalah ini. Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Hukum Pertanahan dengan judul Tinjauan Yuridis Kegiatan Reforma Agraria di Indonesia yang disusun oleh dosen Rahmat Ramadhani, S.H., M.H. Berdasarkan hal tersebut, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Semoga dengan selesainya makalah ini dapat membawa manfaat ilmiah yang baik bagi penulis dan pembaca.
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Peneltian
- Metode Penelitian
Begitu pula di Indonesia sendiri yang dulunya bernama nusantara, reformasi hukum pertanian mempunyai sejarah yang panjang, dimulai dari masa prakolonial (nomaden, masa pertanian tetap hingga masa kerajaan), masa penjajahan Hindia Belanda dan pada masa era kemerdekaan. Pada masa awal berdirinya kerajaan-kerajaan di Jawa, pola pembagian wilayah yang mencolok adalah dengan membagi tanah ke dalam berbagai jenis penguasaan atau pengawasan, yang diberikan kepada pejabat yang ditunjuk oleh raja atau kepada mereka yang mempunyai wewenang di keraton. Tonggak sejarah pertama terjadi pada masa VOC (United East Indies), yaitu sekitar tahun dimana penjabat kepala sekolah atas nama Jendral Sulten diberikan kekuasaan untuk membuat perjanjian dengan raja-raja yang berkuasa pada saat itu.
Herman Willem Daendels menjabat di Indonesia menggantikan Wiese (walikota terakhir pada masa VOC). 4 Ifik Wiryani, Hukum Agraria (Konsep dan Sejarah Hukum Agraria dari Zaman Kolonial Hingga Kemerdekaan), (Malang, Setara Press, 2018), hal. menciptakan pemikiran keagamaan berupa prinsip fiskal dan menerapkan sistem Sewa Tanah untuk pertama kalinya di Indonesia. Faktanya, kondisi yang paling penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di pedesaan adalah diikutsertakannya petani kecil dan tidak memiliki tanah dalam program reforma agraria yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Oleh karena itu, reforma agraria hadir untuk mempersempit ketimpangan penguasaan dan kepemilikan tanah, yang tentunya akan membawa harapan baru bagi perubahan dan pemerataan sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Pengertian dan Dasar Hukum Reforma Agraria Indonesia
Perubahan kepemilikan dan penguasaan tanah, serta hubungan hukum terkait penguasaan tanah (land reform dalam arti sempit). Reformasi pertanahan dalam arti sempit menyangkut revisi kepemilikan dan penguasaan tanah, serta hubungan hukum mengenai pengembangan tanah. Reforma agraria tidak hanya memperkuat satu pihak dengan mendistribusikan kembali tanah kepada mereka, namun juga dapat berarti bahwa pihak lain akan tercabut kekuasaannya dengan merampas tanah dari tangan mereka.
Sebagaimana dinyatakan, “kebijakan reforma agraria tidak hanya memberdayakan petani miskin, namun di sisi lain juga melemahkan pemilik tanah yang aksesnya sangat terbatas.”13 Oleh karena itu, program reforma agraria tidak hanya memerlukan kemauan politik yang diungkapkan oleh lembaga pemerintah. Untuk mencapai tujuannya, program reforma agraria sangat memerlukan kekuasaan pemerintah yang mampu melakukan pemaksaan. Dalam konteks Indonesia, reforma agraria menggambarkan 'sebuah operasi untuk mengubah struktur kontrol yang tidak seimbang atas tanah dan sumber daya alam melalui penggunaan kewenangan pemerintah dalam membuat undang-undang, dan kekuasaan untuk membuat undang-undang tersebut berjalan melalui program pemerintah, dengan cara yang terencana. '. cara untuk mewujudkan cita-cita konstitusi yaitu mewujudkan pemerataan, keadilan sosial bagi sebagian besar masyarakat miskin pedesaan.”14 Dengan demikian, reforma agraria merupakan amanat konstitusi yang menjunjung tinggi cita-cita keadilan sosial dan menjunjung tinggi hak asasi manusia berupa hak sosial dan ekonomi.
Mengakhiri sistem tuan tanah dan menghilangkan kepemilikan dan penguasaan tanah yang tidak terbatas dalam skala besar dengan menetapkan batas maksimum dan minimum untuk setiap keluarga.
Dasar Hukum
Menjamin pemerataan sumber penghidupan petani dalam bentuk tanah, dengan tujuan menjamin pemerataan hasil, dengan merombak total struktur tanah secara revolusioner, sehingga tercapai terwujudnya keadilan sosial. Penguatan dan perluasan hak kepemilikan tanah bagi setiap warga negara Indonesia yang mempunyai fungsi sosial. Dengan demikian, hal ini juga mengikis sistem liberalisme dan kapitalisme di tanah air serta memberikan perlindungan kepada kelompok ekonomi lemah.
Meningkatkan produksi nasional dan mendorong terselenggaranya pertanian intensif melalui gotong royong dalam bentuk koperasi dan bentuk gotong royong lainnya.
Pelaksanaan Reforma Agraria Berdasarkan UUPA
Ketentuan mengenai larangan pemeriksaan lahan pertanian di luar batas negara diatur dalam Pasal 7 UUPA dan Pasal 17 UUPA. Tanah yang tunduk pada ketentuan yang melarang pemilikan dan penguasaan tanah pertanian yang melampaui batas, bukanlah tanah pertanian yang dikuasai dengan hak milik, melainkan termasuk tanah pertanian yang dikuasai dengan hak-hak lain, misalnya hak sewa-menyewa, hak gadai, dan hak korporasi. berbagi keuntungan. Penetapan luas minimal kepemilikan tanah pertanian dan larangan melakukan tindakan yang mengakibatkan pembagian kepemilikan tanah menjadi bagian-bagian yang terlalu kecil; menyukai.
“Dilarang melakukan segala bentuk peralihan hak baru atas tanah pertanian, yang mengakibatkan pemilik tanah yang bersangkutan menerima sebidang tanah di luar wilayah tempat tinggalnya.” Ketentuan mengenai redistribusi tanah pertanian diatur dalam Pasal 17 ayat (3) UUPA, yaitu: “Tanah yang melebihi batas maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat 2 Pasal ini diambil oleh Pemerintah dengan imbalan dan kemudian dibagikan kepada orang-orang yang memerlukannya menurut pendapatnya.” dengan ketentuan peraturan pemerintah.” Perda yang dimaksud adalah Perda Nomor. Tanah yang disita oleh pemerintah karena pemiliknya berdomisili di luar daerah atau terdapat larangan untuk memiliki tanah pertanian.
Oleh karena pembagian tanah pertanian yang diatas batas maksimal memerlukan persiapan administrasi pertanahan yang tidak mudah, maka sebelum akhirnya diberikan Hak Milik kepada petani yang memenuhi syarat, maka tanah yang bersangkutan boleh digarap oleh petani secara maksimal. jangka waktu dua tahun dengan kewajiban membayar sewa kepada Pemerintah sebesar 1/3 (sepertiga) hasil panen atau yang setara dengan itu (Pasal 14 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961). Yang bertempat tinggal di kecamatan dimana lahan pertanian yang bersangkutan berada atau bertempat tinggal di kecamatan yang berbatasan dengan lokasi lahan pertanian yang bersangkutan. Selama uang hasil tidak dibayar lunas, hak milik atas tanah pertanian yang dihibahkan dilarang dialihkan kepada pihak lain, kecuali diperoleh izin terlebih dahulu dari kepala kantor pertanahan kabupaten/kota wilayah kerjanya. lokasi tanah yang bersangkutan.
224 Tahun 1961 mengatur tentang pemberian ganti rugi kepada mantan pemilik tanah pertanian yang dilarang memiliki dan mengelola tanah pertanian melebihi batas maksimum atau karena ketidakhadirannya. Selain hak gadai, hak atas tanah sementara adalah hak usaha atas bagi hasil (kontrak bagi hasil), hak milik dan hak sewa tanah pertanian. Selain Hak Usaha Bagi Hasil, terdapat pula hak atas tanah yang bersifat sementara seperti Hak Gadai (Hak Gadai), Hak Guna Usaha dan Hak Sewa Tanah Pertanian.
Penetapan batas minimal kepemilikan lahan pertanian dengan melarang dilakukannya tindakan yang mengakibatkan terfragmentasinya kepemilikan lahan pertanian menjadi bagian-bagian yang terlalu kecil. 56 PRP Tahun 1960 mengatur ketentuan yang mencegah terjadinya fragmentasi kepemilikan lahan pertanian menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dari 2 ha, dengan pembatasan peralihan kepemilikan lahan pertanian. Untuk itu, ketentuan batas minimum kepemilikan lahan pertanian diterapkan secara bertahap.
Pada tahap awal, penetapan batas minimal kepemilikan lahan pertanian bertujuan untuk mencegah terjadinya pembagian lahan pertanian menjadi bagian-bagian yang luasnya kurang dari 2 hektar.
Pelaksanaan Reforma Agraria berdasarkan Perpres No.86 Tahun 2018
Dalam pelaksanaan Reforma Agraria terdapat 2 (dua) skema yang masing-masing dapat digunakan untuk menentukan lokasi pelaksanaan Reforma Agraria. Kedua skema yang dimaksud bertujuan untuk memudahkan pemangku kepentingan dalam melakukan sinkronisasi dan optimalisasi kegiatan yang direncanakan. Pelaksanaan reforma agraria dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan reforma agraria. Redistribusi tanah untuk pertanian dibagikan kepada subyek reforma agraria dengan luas paling banyak 5 (lima) hektar sesuai dengan ketersediaan TORA yang disertai dengan pemberian sertifikat kepemilikan atau hak milik bersama.
Perubahan penggunaan dan pengusahaan fasilitas redistribusi tanah oleh subyek reforma agraria harus mendapat izin dari menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh menteri. Pokok bahasan reforma agraria terdiri atas; perseorangan, kelompok masyarakat yang mempunyai hak milik bersama atau badan hukum. Objek pengesahan sebagaimana dimaksud di atas ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan selanjutnya diberikan kepada Badan Reforma Agraria melalui;
Pengaturan akses dilakukan secara klaster dengan tujuan untuk meningkatkan volume perekonomian, nilai tambah dan mendorong inovasi kewirausahaan pada mata pelajaran reforma agraria. Kelompok Nasional Reforma Agraria diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dan anggotanya adalah kementerian, lembaga, dll. Kelompok Reforma Agraria dapat melibatkan, berkolaborasi atau berkoordinasi dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi atau pemangku kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.
Untuk membantu pelaksanaan tugas Tim Reforma Agraria Nasional, dibentuk Satuan Tugas Reforma Agraria Pusat di bawah pimpinan Kementerian Pertanian dan Perencanaan Daerah, provinsi di bawah pimpinan gubernur, dan kabupaten/kota di bawah pimpinan. dari kabupaten/kota. Walikota. Ketentuan mengenai mekanisme dan tata kerja Tim Reforma Agraria diatur dengan Peraturan Menteri Koordinator Bidang. Keekonomian dan ketentuan mengenai mekanisme dan tata kerja Satgas Reforma Agraria pusat, provinsi, dan kabupaten kota diatur dengan peraturan menteri.
Pokok bahasan Reforma Agraria bersifat wajib; mereka sendiri yang menggunakan, mengolah, dan mengusahakan tanah serta menaati ketentuan penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian hak dan penataan ruang. Kemudian dilarang meninggalkan tanah TORA dan subyek reforma agraria; Untuk mengalihkan hak atau mengkonversi TORA harus mendapat izin Menteri melalui Kantor Pertanahan setempat. Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan reforma agraria, Tim Reforma Agraria Nasional, Kelompok Kerja Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota mengikutsertakan masyarakat berupa; Usulan TORA, penerima TORA dan jenis pengaturan akses atau mediasi kontribusi dalam penyelesaian sengketa dan konflik agraria.
Dalam hal ini masyarakat berpartisipasi dalam pelaksanaan reformasi pertanian dan pemerintah juga melakukan pemberdayaan masyarakat dalam mendorong proses reformasi pertanian di Indonesia.
Kesimpulan
Saran
Harsono, Boedi, 2008, Hukum Pertanian Indonesia, Sejarah Terbentuknya Undang-Undang Pokok Pertanian, Isi dan Penerapannya, Cetakan Keduabelas (Edisi Revisi). Rayyan Dimas Sutadi, Disertasi Kebijakan Reforma Agraria di Indonesia (Studi Banding Tiga Masa Pelaksanaan: Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi), Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta, 2018. Peraturan Menteri Pertanian/Kepala Badan Pertanahan No. 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Peruntukan dan Pencabutan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan.