MAKALAH
KASUS KORUPSI DI PERTAMINA: TINJAUAN DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN HUKUM
NAMA: ALEKSANDER WUATTE NAKAS NIM: 2204020042
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2025
DAFTAR PUSTAKA
BAB I...3
PENDAHULUAN...3
1.1 Latar Belakang...3
1.2 Rumusan Masalah...4
1.3 Tujuan Penulisan...4
1.4 Manfaat Penulisan...4
BAB II... 5
PEMBAHASAN...5
2.1 Konsep Korupsi dalam BUMN...5
2.2 Profil PT Pertamina (Persero)...5
2.3 Sejarah dan Kasus-Kasus Korupsi di Pertamina...5
2.4 Faktor Penyebab Korupsi di Pertamina...6
2.5 Dampak Korupsi di Pertamina terhadap Perekonomian dan Masyarakat...7
2.6 Upaya dan Rekomendasi Penanggulangan...8
BAB III...9
PENUTUP... 9
3.1 Kesimpulan... 9
3.2 Saran...9
DAFTAR PUSTAKA... 11
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Korupsi merupakan salah satu masalah paling kompleks dan merusak dalam sistem pemerintahan dan perekonomian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tindak pidana korupsi tidak hanya mencederai nilai-nilai moral dan etika, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pembangunan nasional, kepercayaan publik, dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu sektor yang paling terdampak oleh praktik korupsi adalah sektor energi, yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi nasional.
PT Pertamina (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan energi nasional, khususnya minyak dan gas. Perusahaan ini memiliki kewenangan besar dalam kegiatan eksplorasi, produksi, distribusi, hingga penjualan energi di Indonesia. Sayangnya, kekuasaan yang besar tersebut kerap disalahgunakan oleh oknum-oknum di dalamnya untuk meraih keuntungan pribadi atau kelompok, dengan mengorbankan kepentingan publik dan negara.
Kasus korupsi yang melibatkan Pertamina bukanlah hal baru. Salah satu yang cukup menyita perhatian publik adalah kasus investasi Participating Interest (PI) Blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia pada tahun 2009, yang menyeret mantan Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan. Dalam kasus ini, negara dirugikan hingga ratusan miliar rupiah akibat proses investasi yang tidak melalui kajian kelayakan yang layak dan pengambilan keputusan yang tidak sesuai prosedur. Selain itu, sejumlah kasus lainnya yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa, mark-up anggaran, serta konflik kepentingan dalam proyek-proyek strategis juga sempat mencuat.
Kondisi ini memperlihatkan lemahnya sistem pengawasan internal dan budaya integritas dalam tubuh BUMN, khususnya Pertamina. Korupsi di sektor energi menjadi ancaman serius terhadap ketahanan energi nasional, mengingat sektor ini sangat vital bagi kehidupan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji lebih dalam bagaimana kasus korupsi di Pertamina terjadi, dampaknya terhadap perekonomian, dan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa saja bentuk dan kronologi kasus korupsi yang pernah terjadi di Pertamina?
2. Bagaimana dampak kasus korupsi di Pertamina terhadap perekonomian nasional dan kepercayaan publik?
3. Apa saja upaya yang telah dan dapat dilakukan untuk menanggulangi korupsi dalam tubuh Pertamina dan BUMN lainnya?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Untuk mengidentifikasi dan menjelaskan kronologi serta modus operandi dari kasus korupsi yang terjadi di Pertamina.
2. Untuk menganalisis dampak korupsi tersebut dari perspektif ekonomi dan tata kelola perusahaan.
3. Untuk memberikan rekomendasi upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi di lingkungan BUMN, khususnya Pertamina.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
Manfaat Teoritis: Memberikan kontribusi pemikiran dalam kajian hukum dan ekonomi tentang pentingnya tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) di sektor energi.
Manfaat Praktis: Memberikan informasi dan wawasan kepada masyarakat, pemerintah, serta lembaga penegak hukum tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan BUMN, serta memberikan rekomendasi untuk pencegahan korupsi di masa mendatang.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Korupsi dalam BUMN
Korupsi adalah perbuatan yang secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam konteks Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina, korupsi dapat berbentuk penyalahgunaan wewenang jabatan, kolusi dalam pengadaan barang/jasa, penggelapan aset perusahaan, pengambilan keputusan investasi tanpa dasar kajian, hingga manipulasi laporan keuangan.
BUMN memiliki kekhususan karena mereka berada di persimpangan antara kepentingan publik dan mekanisme pasar. Maka dari itu, pengelolaan BUMN semestinya dilakukan secara hati-hati, transparan, dan akuntabel. Sayangnya, karena besarnya wewenang dan keterlibatan elite politik, BUMN kerap menjadi sarang praktik korupsi yang sulit terdeteksi.
2.2 Profil PT Pertamina (Persero)
PT Pertamina (Persero) merupakan BUMN yang bergerak di bidang energi, khususnya minyak dan gas bumi. Didirikan pada tahun 1957, Pertamina mengelola sektor hulu (eksplorasi dan produksi migas) dan hilir (pengolahan, distribusi, dan penjualan produk energi). Dengan posisi strategisnya, Pertamina menguasai sebagian besar rantai pasok energi nasional.
Dalam beberapa dekade terakhir, Pertamina bertransformasi dari perusahaan birokratis menjadi perusahaan yang lebih komersial. Namun, transisi ini tidak selalu diikuti oleh reformasi tata kelola yang memadai. Dalam beberapa kasus, praktik bisnis di Pertamina justru menjadi ruang bagi terjadinya penyimpangan, terutama di bagian pengadaan, investasi, dan distribusi energi.
2.3 Sejarah dan Kasus-Kasus Korupsi di Pertamina 2.3.1 Kasus Blok BMG Australia (2009)
Salah satu kasus paling menonjol adalah investasi Pertamina pada Blok BMG di Australia pada tahun 2009. Dalam kasus ini, mantan Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, ditetapkan sebagai tersangka karena memutuskan pembelian saham tanpa kajian kelayakan dan tanpa persetujuan komisaris. Akibatnya, negara mengalami kerugian lebih dari Rp 568 miliar. Investasi ini ternyata tidak menghasilkan minyak sesuai perkiraan dan akhirnya menjadi aset mati.
2.3.2 Dugaan Manipulasi Impor dan Distribusi BBM (2023–2025)
Kejaksaan Agung RI mengungkap dugaan korupsi dalam pengadaan dan distribusi minyak mentah serta BBM impor oleh Pertamina Patra Niaga dan Kilang Pertamina Internasional. Modus operandi dalam kasus ini antara lain:
Mengurangi pembelian minyak mentah dari dalam negeri (KKKS) untuk memberi ruang impor dari luar negeri dengan harga lebih mahal.
Impor BBM kualitas rendah (RON 90) yang dijual sebagai BBM kualitas tinggi (RON 92), menyebabkan selisih harga yang besar.
Keterlibatan broker atau pihak ketiga yang menjadi perantara dengan keuntungan tidak wajar.
Kolusi internal antara pejabat BUMN dan pihak swasta.
Total kerugian negara diduga mencapai Rp 271 triliun, menurut data dari Kejaksaan Agung. Ini menjadi salah satu kasus dugaan korupsi terbesar di sektor energi dalam sejarah Indonesia.
2.3.3 Kasus Internal: Korupsi Skala Kecil Menengah
Selain kasus besar, banyak juga praktik korupsi berskala kecil-menengah seperti:
Manipulasi tender proyek infrastruktur Pertamina.
Suap dalam penempatan jabatan strategis.
Penyalahgunaan anggaran operasional, perjalanan dinas, dan pengadaan.
Meskipun skalanya lebih kecil, jika dilakukan terus-menerus dan sistemik, dampaknya akan signifikan bagi keuangan dan reputasi perusahaan.
2.4 Faktor Penyebab Korupsi di Pertamina a. Tingginya Sentralisasi Kekuasaan
Pejabat di Pertamina memiliki wewenang yang sangat luas dalam menentukan arah investasi, pengadaan, hingga kerja sama dengan pihak swasta. Minimnya kontrol eksternal menyebabkan keputusan kerap diambil tanpa transparansi.
b. Kurangnya Transparansi dan Akuntabilitas
Banyak proses internal seperti pengadaan dan investasi yang tidak dipublikasikan secara terbuka, sehingga menimbulkan celah untuk penyimpangan.
c. Pengaruh Politik
Sebagai BUMN strategis, posisi di Pertamina sering dijadikan alat bagi elite politik untuk menyebar patronase. Hal ini menciptakan budaya kerja yang tidak profesional dan rentan terhadap kolusi.
d. Sistem Pengawasan Lemah
Pengawasan internal seperti SPI (Satuan Pengawas Internal) tidak selalu efektif, karena terkadang berada di bawah tekanan atasan langsung atau pengaruh politik.
2.5 Dampak Korupsi di Pertamina terhadap Perekonomian dan Masyarakat a. Kerugian Negara
Korupsi di Pertamina langsung menggerus potensi penerimaan negara dari sektor migas. Uang yang seharusnya masuk sebagai dividen, pajak, atau penerimaan negara malah bocor ke individu atau kelompok tertentu.
b. Beban Fiskal dan Subsidi
Akibat praktik korupsi, negara harus menanggung beban subsidi lebih besar.
Misalnya, jika BBM diimpor dengan harga tinggi karena korupsi, maka dana subsidi juga otomatis naik.
c. Kualitas Layanan Menurun
Korupsi membuat kualitas produk BBM bisa turun, seperti dalam kasus blending BBM murah dijual sebagai BBM mahal. Ini merugikan konsumen dan berbahaya bagi kendaraan.
d. Turunnya Kepercayaan Publik dan Investor
Saat Pertamina tersandung kasus korupsi, investor dalam dan luar negeri bisa kehilangan kepercayaan terhadap iklim bisnis Indonesia. Reputasi sebagai negara korup memengaruhi peringkat investasi dan biaya pinjaman negara.
e. Ketimpangan Sosial
Ketika uang negara hilang karena korupsi, pemerintah memiliki dana yang lebih sedikit untuk membiayai pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat miskin.
Ini memperlebar jurang sosial-ekonomi.
2.6 Upaya dan Rekomendasi Penanggulangan a. Reformasi Tata Kelola
Menerapkan Good Corporate Governance (GCG) secara tegas.
Memastikan semua proses pengadaan dilakukan secara transparan dan digital.
Melibatkan komisaris independen dan pengawasan pihak ketiga.
b. Peningkatan Pengawasan
Memperkuat peran BPK, KPK, dan Kejaksaan dalam audit dan penyidikan.
Memberi wewenang lebih kepada SPI dan whistleblower system.
c. Sanksi Tegas dan Publikasi Kasus
Menindak secara hukum semua pelaku korupsi tanpa pandang bulu.
Memberikan publikasi luas terhadap hasil audit dan sanksi, agar menjadi efek jera.
d. Keterlibatan Masyarakat dan Media
Memberi ruang bagi media dan masyarakat sipil untuk ikut mengawasi Pertamina.
Membuka kanal pelaporan daring yang bisa menjamin anonimitas pelapor.
e. Pendidikan dan Budaya Anti-Korupsi
Menanamkan nilai integritas dan profesionalisme sejak dini kepada seluruh karyawan BUMN.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Korupsi merupakan salah satu persoalan serius yang merusak sendi-sendi perekonomian dan kepercayaan publik, terlebih ketika terjadi di sektor strategis seperti energi. PT Pertamina (Persero) sebagai BUMN utama dalam pengelolaan migas memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Namun, berbagai kasus seperti investasi bermasalah di Blok BMG dan dugaan korupsi dalam pengadaan BBM menunjukkan masih lemahnya pengawasan, tata kelola perusahaan, serta budaya integritas di lingkungan Pertamina.
Dampak dari korupsi di tubuh Pertamina sangat luas, mulai dari kerugian negara yang mencapai triliunan rupiah, kenaikan beban subsidi, menurunnya kepercayaan investor, hingga rusaknya reputasi BUMN secara keseluruhan. Untuk itu, penanganan korupsi di Pertamina tidak cukup hanya dengan hukuman, tetapi juga perlu reformasi sistemik melalui penerapan good corporate governance, penguatan pengawasan internal dan eksternal, serta keterlibatan masyarakat dalam pengawasan publik.
3.2 Saran
1. Bagi Pertamina:
Harus secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG) serta memperkuat sistem audit internal dan transparansi digital, khususnya dalam proses pengadaan dan investasi.
2. Bagi Pemerintah:
Perlu mendorong reformasi menyeluruh di sektor energi dan memperkuat lembaga pengawas seperti BPK, KPK, dan Kejaksaan Agung agar lebih aktif dalam menindak kasus korupsi di BUMN.
3. Bagi Masyarakat dan Media:
Diperlukan partisipasi aktif dalam mengawasi kebijakan publik dan kinerja BUMN, termasuk mendukung pelaporan pelanggaran melalui jalur resmi yang aman dan anonim.
4. Bagi Akademisi dan Pelajar:
Penelitian dan diskusi terkait pengelolaan sektor publik harus terus digalakkan sebagai bentuk kontribusi dalam menciptakan sistem negara yang bersih, transparan, dan profesional.
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2023). Laporan Tahunan KPK. Jakarta:
KPK RI.
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI). (2022). Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2022. Jakarta: BPK.
Kejaksaan Agung Republik Indonesia. (2024). Konferensi Pers Dugaan Korupsi Pertamina Patra Niaga dan Kilang Pertamina Internasional. Diakses dari:
https://kejaksaan.go.id
Tempo.co. (2024). Karen Agustiawan Divonis dalam Kasus Korupsi Blok BMG.
Diakses dari: https://www.tempo.co
CNN Indonesia. (2023). Skandal BBM di Pertamina Diduga Rugikan Negara Rp 271 Triliun. Diakses dari: https://www.cnnindonesia.com
Pertamina. (2023). Laporan Tahunan PT Pertamina (Persero) 2022. Jakarta:
Pertamina.
Transparency International Indonesia. (2023). Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2023. Jakarta: TII.