• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Konsep Pertanggungan Dalam Islam Dan Konsep Pengalihan Tanggungan Menurut Syariah Islam

N/A
N/A
anisa anno

Academic year: 2024

Membagikan "Makalah Konsep Pertanggungan Dalam Islam Dan Konsep Pengalihan Tanggungan Menurut Syariah Islam"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Konsep Pertanggungan Dalam Islam Dan Konsep Pengalihan Tanggungan Menurut Syariah Islam

Makalah disusun sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Fikih Muamalah Dosen Pengampu : Siti Shopiyah, M.A.

Disusun Oleh : Kelompok 1

Amanda Sahla Febriani : 20312274

Anisa Noviananda : 20312275

FAKULTAS TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT ILMU Al-QUR`AN (IIQ) JAKARTA

TAHUN AKADEMIK 2021/2022

(2)

i

KATA PENGANTAR

ِمْي ِحَّرلا ِنَمْحَّرلا ِالله ِمــــــــــــــــــْسِب

Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah Swt., kami panjatkan atas limpahan Rahmat, Hidayah serta Inayah-Nya, kami bisa menyelesaikan karya Ilmiyah berupa makalah yang singkat dan sederhana ini. Shalawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi akhir zaman, penolong umat, yaitu Baginda Muhammad Saw. yang telah menunjukkan kita kepada jalan hidup lurus yang di ridhoi oleh Allah Swt.

dengan ajarannya agama Islam.Makalah ini dibuat dalam rangka untuk memenuhi tugas dari Ibu Dosen Mata Kuliah Fikih Muamalah dengan judul Konsep Pertanggungan Dalam Islam Dan Konsep Pengalihan Tanggungan Menurut Syariah Islam, Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pengampu Ibu Siti Shopiyah, M.A. yang selalu kami harapkan keberkahannya dan semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini masih belum sempurna, untuk itu perlu masukan dari semua pihak terutama Ibu Siti Shopiyah, M.A. dan teman-teman Mahasiswi lainnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penyusun sendiri umumnya para pembaca makalah ini, apabila ada kekurangan dalam penulisan makalah ini Penulis mohon maaf yang sebesar- besarnya. Terima kasih.

Tangerang, 14 September , 2021

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I ... 3

PENDAHULUAN... 3

A. Latar Belakang ... 3

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Masalah ... 3

BAB II ... 5

PEMBAHASAN ... 5

A. Konsep pertanggungan dalam islam ... 5

1. Pengertian Kafalah ... 5

2. Dasar Hukum Kafalah ... 7

3. Rukun dan Syarat Kafalah ... 9

4. Macam-macam Kafalah ... 12

5. Ketentuan-ketentuan terkait Kafalah ... 13

6. Aplikasi Kafalah dalam Lembaga Keuangan saat ini... 16

B. Konsep Pengalihan Tanggungan Menurut Syariat Islam ... 18

1. Pengertian Hiwalah ... 18

2. Dasar Hukum ... 19

3. Rukun dan Syarat ... 22

4. Macam-macam Hiwalah ... 24

5. Ketentuan yang terkait. ... 25

BAB III ... 14

PENUTUP... 14

A. Kesimpulan ... 14

DAFTAR PUSTAKA ... 16

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kafalah, Hawalah/Hiwalah sering kita dengar baik dalam ekonomi syariah maupun dalam lembaga keuangan syariah. Hal tersebut dalam dunia perbankan terdapat dalam produk jasa. Pada umumnya masyarakat awam tidak begitu

memahami apa yang dimaksud dengan hal tersebut. Untuk Indonesia sebagai negara muslim sudah seharusnya sistem keuangan yang digunakan berlandaskan prinsip syariah.

Kafalah secara bahasa berarti dhammu (gabungan), sedangkan secara syara' kafalah bermakna penggabungan tanggungan seorang kafil dengan tanggungan seorang ashil untuk memenuhi tuntutan dirinya, atau utang, atau barang, atau suatu pekerjaan. Hawalah/Hiwalah dapat digunakan untuk pemindahan utang dari seseorang kepada orang lain. Ini sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu pemakalah mengangkat materi tentang, kafalah, dan hawalah/hiwalah

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian kafalah dan hiwalah?

2. Apa saja hukum dasar dari kafalah dan hiwalah?

3. Apa saja rukun dan syarat kafalah dan hiwalah?

4. Sebutkan macam-macam dari kafalah dan hiwalah?

5. Kapan berakhirnya kafalah dan hiwalah?

C. Tujuan Masalah

1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian kafalah dan hiwalah.

2. Mahasiswa dapat mengetahui hukum dasar kafalah dan hiwalah.

3. Mahasiswa dapat mengetahui rukun dan syarat kafalah dan hiwalah.

(5)

4. Mahasiswa dapat mengetahui macam-macam dari kafalah dan hiwalah.

5. Mahasiswa dapat mengetahui kapan berakhirnya kafalah dan hiwalah.

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep pertanggungan dalam islam

1. Pengertian Kafalah

Al-kafalah menurut bahasa berarti al-Dhaman (jaminan), hamalah (beban), dan za’mah (tanggungan). Menurut Sayyid Sabiq yang di maksud dengan al-kafalah adalah proses penggabungan tanggungan kafil menjadi beban ashil dalam tuntutan dengan benda (materi) yang sama baik utang barang maupun pekerjaan. Menurut Iman Taqiyyudin yang dimaksud dengan kafalah adalah mengumpulkan satu beban dengan beban lain. Menurut Hasbi Ash Shidiqi al-kafalah ialah menggabungkan dzimah kepada dzimah lain dalam penagihan.1

Al-kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga yang memeneuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain kafalah juga berarti

mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin.2

Menurut syariah, kafalah adalah suatu tindak penggabungan

tanggungan orang yang menanggung dengan tanggungan penanggungan utama terkait tuntutan yang berhubungan dengan jiwa, hutang, barang, atau pekerjaan. Kafalah terlaksana dengan adanya penanggung,

penanggung utama, pihak yang ditanggung haknya, dan tanggungan.

1 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.187

2 Dimyaudin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2008), hlm.247

(7)

Penanggung atau disebut kafil adalah orang yang berkomitmen untuk melaksanakan tanggungan.3

Kafil adalah orang yang berkewajiban melakukan makful bihi (yang ditanggung). Ia wajib seorang yang mubaligh, berakal berhak penuh untuk bertindak dalam urusan hartanya, rela dengan kafalah, sebab segala urusan hartanya berada ditangannya. Kafil tidak boleh orang gila dan tidak boleh anak kecil, sekalipun ia sudah bisa membedakan sesuatu.

Kafil ini disebut dengan sebutan dhamin (orang yang menjamin), Za’im (penanggung jawab), hammil (orang yang menanggung beban), dan qobil (orang yang menerima).

Dan yang dimaksud dengan ashil adalah orang yang berhutang, yaitu orang yang ditanggung. Untuk ashil tidak disyaratkan baligh, berakal, kehadiran dan kerelaannya, tetapi cukup kafalah ini dengan anak kecil, orang gila dan orang tidak hadir.4 tidak sama dalam hal tuntutan, hal ini dimaksudkan untuk kemudahan dan kedisiplinan. Dan tuntutan untuk itu berbeda-beda. Sehingga tanpa adanya hal itu jaminan dianggap tidak benar. Dan tidak disyaratkan dikenalnya madmun’anhu (yang ikhwalnya ditanggung). Dan yang dimaksud dengan makful bihi adalah orang, atau barang, atau pekerjaan, yang wajib dipenuhi oleh orang yang hal

ikhwalnya ditanggung (makful anhu).5

3 Muhammad Syafi‟I Antonio, Bank Mandiri Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta:Gema Insani, 2001). hlm 123

4 Abdul Rahman Ghazaly Dkk, Fiqh Muamalat, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group, 2010). hlm 20

5 Dimyaudin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2008), hlm.248-25

(8)

2. Dasar Hukum Kafalah

Kafalah disyaratkan oleh Allah SWT terbukti dengan Firman-Nya :

ۖ ْمُكِب َطاَحُي نَأ ٓ َّلَِّإ ٓۦِهِب ىِنَّنُتْأَتَل ِ َّللَّٱ َنِ م ا ًۭ قِث ْوَم ِنوُتْؤُت ٰىَّتَح ْمُكَعَم ۥُهَلِس ْرُأ ْنَل َلاَق ْمُهَقِث ْوَم ُه ْوَتاَء ٓاَّمَلَف

ُقَن اَم ٰىَلَع ُ َّللَّٱ َلاَق ًۭ ليِك َو ُلو

Artinya : “ Ya’qub berkata: “ aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali,” (QS. Yusuf: 66).6

Jabir bin Abdullah ra. Berkata:

اَنْيَتَأ َّمُث ،ُهاَّنَّفَك َو ،ُهاَنْطَّنَح َو ،ُهاَنْلَّسَغَف ،اَّنِم لُجَر َيِ فُوُت ( :َلاَق هنع الله يضر ٍرِباَج ْنَع َو ِ َّ َاَللّ َلوُس َر ِهِب

اَنْلُقَف ملسو هيلع الله ىلص: ، َف َرَصْناَف ،ِناَراَنيِد :اَنْلُق ? نْيَد ِهْي َل َعَأ :َلاَق َّمُث ،ى طُخ اَطَخَف ?ِهْيَلَع يِ لَصُت َةَداَتَق وُبَأ َلاَقَف ،ُهاَنْيَتَأَف ،َةَداَتَق وُبَأ اَمُهَلَّمَحَتَف: ملسو هيلع الله ىلص ِ َّ َاَللّ ُلوُس َر َلاَقَف ،َّيَلَع ِناَراَنيِ دلَا َو ُمي ِرَغْلَا َّق ِحُأ ،ُّيِئاَسَّنلا َو ،َد ُواَد وُبَأ َو ،ُدَمْحَأ ُها َوَر ) ِهْيَلَع ىَّلَصَف ،ْمَعَن :َلاَق ?ُتِ يَمْلَا اَمُهْنِم َئ ِرَب

ُمِكاَحْلا َو ،َناَّب ِح ُنْبِا ُهَحَّحَص َو

Hadis No. 900

Artinya: “Jabir Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada seorang laki-laki di antara kami meninggal dunia, lalu kami memandikannya,

menutupinya dengan kapas, dan mengkafaninya. Kemudian kami mendatangi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan kami

6 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Departemen Agama RI), hlm 327

(9)

tanyakan: Apakah baginda akan menyolatkannya?. Beliau melangkan beberapa langkah kemudian bertanya: "Apakah ia mempunyai hutang?". Kami menjawab: Dua dinar. Lalu beliau kembali. Maka Abu Qotadah menanggung hutang tersebut. Ketika kami mendatanginya; Abu Qotadah berkata: Dua dinar itu menjadi tanggunganku. Lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Betul-betul engkau tanggung dan mayit itu terbebas darinya." Ia menjawab: Ya. Maka beliau menyolatkannya. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa'i. Hadis shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.7

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Salamah bin al-Akwa‟ dan disebutkan bahwa utangnya dua dinar.Di dalam riwayat Ibn Majah dari Abu Qatadah, ia ketika itu berkata, “Wa anâ attakaffalu bihi (Aku yang menanggungnya).” Di dalam riwayat al- Hakim dari Jabir di atas terdapat tambahan sesudahnya: Nabi

bersabda kepada Abu Qatadah, “Keduanya menjadi kewajibanmu dan di dalam hartamu sedangkan mayit tersebut terbebas?” Abu Qatadah menjawab, “Benar.” Lalu Nabi saw. menshalatkannya. Saat bertemu Abu Qatadah Rasul saw. bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh dua dinar?” Akhirnya Abu Qatadah berkata, “Aku telah membayar keduanya, ya Rasulullah.” Nabi saw. bersabda, “Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya.” (HR al-Hakim).8

7 Bulughul Maram 900 (carihadis.com)

8 Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fhatul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari Jilid 19, (Jakarta, Pustaka Iman,2014) hlm 262

(10)

3. Rukun dan Syarat Kafalah

Rukun kafalah terdiri atas sighat kafalah (ijab qabul), makful bih (objek tanggungan), kafil (penjamin), Makful’anhu (tertanggung), makful lahu (penerima hak tanggungan).

a. Sighat Kafalah.

Bisa diekspresikan dengan ungkapan yang menyatakan adanya kesanggupan untuk menanggung sesuatu, sebuah kesanggupan untuk menunaikan kewajiban. Seperti ungkapan “aku akan menjadi

penjagamu” atau “saya akan menjadi penjamin atas kewajibanmu atas seseorang” atau ungkapan lain yang sejenis. Ulama tidak mensyaratkan kalimat verbal yang harus diungkapkan dalam akad kafalah, semuanya dikembalikan pada akad kebiasaan. Intinya, ungkapan tersebut menyatakan kesanggupan untuk menjamin sebuah kewajiban.

b. Makful Bihi

Objek pertanggungan harus bersifat mengikat terhadap diri tertanggung, dan tidak bisa dibatalkan tanpa adanya sebab syar’i.

selain itu objek tersebut harus merupakan tanggung jawab penuh pihak tertanggung. Seperti menjamin harga atas pihak transaksi barang sebelum serah terima, menanggung beban hutang yang bersifat mengikat terhadap diri seseorang. Selain itu, nominal objek tertanggung harus jelas, tidak diperbolehkan menanggung sesuatu yang tidak jelas (majhul). Namun demikian sebagian ulama fiqh membolehkan menanggung objek pertanggungan yang dijamin oleh Rasulullah, “barang siapa dari orang-orang mukmin yang

meninggalkan tanggungan hutang, maka pembayarannya menjadi kewajibanku”. Berdasarkan hadits ini, nilai objek pertanggungan

(11)

yang dijamin oleh Rasulullah bersifat majhul, dengan demikian diperbolehkan.

c. Kafil

Ulama fiqh mensyaratkan seorang kafil haruslah orang yang berjiwa filantropi, orang yang terbiasa berbuat baik demi

kemaslahatan orang lain. Selain itu, ia juga orang yang baligh dan berakal. Akad kafalah tidak boleh dilakukan oleh anak kecil, orang- orang safi ataupun orang yang terhalang untuk melakukan transaksi.

Karena bersifat charity, akad kafalah harus dilakukan oleh seorang kafil dengan penuh kebebasan, tanpa adanya paksaan. Ia memiliki kebebasan penuh guna menjalankan pertanggungan. Karena dalam akad ini, kafil tidak memiliki hak untuk merujuk pertanggungan yang telah ditetapkan.

d. Makful ‘Anhu

Syarat utama yang harus melekat pada diri tertanggung (makful‟anhu) adalah kemampuannya untuk menerima objek pertanggungan, baik dilakukan oleh diri pribadinya atau orang lain yang mewakilinya. Selain itu Makful ‘anhu harus dikenal baik oleh pihak kafil.

e. Makful lahu

Ulama mensyaratkan makful lahu harus dikenali oleh kafil, guna meyakinkan pertanggungan yangmenjadi bebannya dan mudah untuk memenuhinya. Selain itu, ia juga disyaratkan untuk menghadiri

(12)

majlis akad. Ia adalah orang yang baligh dan berakal, tidak boleh oranggila atau anak kecil yang belum berakal.

f. Lafadz

Disyaratkan keadaan lafadz itu berarti menjamin, tidak digantungkan pada sesuatu yang berarti sementara.

Syarat-syarat Kafalah

Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam kegiatan kafalah adalah sebagai berikut9 :

Ad-Dhamin atau al-kafil : orang yang menjamin atau memberikan jaminan harus memenuhi syarat baligh, berakal, merdeka atau beas dalam pengelolaan harta bendanya. Dengan begitu, anak-anak dan orang dengan gangguan jiwa tidak bisa menjadi penjamin dalam kegiatan kafalah.

Al-Madhmun lahu atau al-makful lahu : orang yang diberikan jaminan atau memiliki piutang harus diketahui oleh orang yang memberikan jaminan. Selain itu, harus diketahui pula bahwa setiap manusia itu tidak sala, ada yang keras dan ada yang lunak dalam cara menuntut jaminan.

Al-Madhmun ‘anhu atau al-makful ‘Anhu : atau orang yang dijamin, biasanya tidak disyaratkan untuk rela terhadap penjamin, namun jika rela akan lebih baik. Dengan begitu, kerelaan orang yang dijamin

9 Kafalah adalah Hukum Jaminan dalam Islam, Ketahui Rukun dan Cara Pelaksanaannya | merdeka.com

(13)

bukan syarat wajib yang menentukan sah tidaknya akad jaminan yang dilakukan

Al-Madhmun atau al-makful : yaitu utang yang berupa barang atau orang. Syarat untuk barang atau orang yang menjadi objek jaminan adalah dapat diketahui dan sudah ditetapkan. Dengan begitu, akan tidak sah ketika objek jaminan tidak diketahui dan belum ditetapkan sebelumya, karena hal ini dimungkinkan bisa berupa gharar atau tipuan.

Sighah : akad yang dilakukan oleh penjamin, syaratnya mengandung makna menjamin, tidak digantungkan pada sesuatu atau tidak berarti sementara.

4. Macam-macam Kafalah

Kafalah jiwa atau juga dikenal dengan kafalah wajah adalah komitmen penanggung untuk menghadirkan sosok pihak tertanggung kepada orang yang ditanggung haknya.10

a. Kafalah bi an-Nafs Adalah jaminan si penjamin.

Keterangan: Bank sebagai juridical personality dapat memberikan jaminan untuk maksud-maksud tertentu.

b. Kafalah bi al-Mal Adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang.

Keterangan: Bentuk kafalah ini merupakan medan yang paling luas bagi bank untuk memberikan jaminan kepada para

nasabahnya dengan imbalan fee tertentu.

c. Kafalah bit Taslim Jenis kafalah ini bisa dilakukan untuk menjamin dikembalikannya barang sewaan pada akhir masa kontrak.

10 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.194

(14)

Keterangan: hal ini dapat dilakukan dengan leasing company terkait atas nama nasbah dengan mempergunakan depositnya di bank dan mengambil fee atasnya.

d. Kafalah al-Mujazah Adalah jaminan untuk tidak dibatasi oleh kurun waktu tertentu atau dihubungkan dengan maksud-maksud tertentu.

e. Kafalah al-Mualah Bentuk kafalah ini merupakan

penyederhanaan dari kafalah al-Munjazah dimana, jaminan dibatasi oleh kurun waktu dan tujuan-tujuan tertentu.

Keterangan: dalam dunia perbankan modern jaminan jenis ini biasa disebut performance bonds (jaminan prestasi)11

5. Ketentuan-ketentuan terkait Kafalah

Kafalah sebagai suatu jasa penjaminan merupakan salah satu bentuk perikatan dalam Islam. Menurut Sabiq (2009), syarat sahnya suatu perikatan adalah sebagai berikut:

1. Tindak hukum syariah yang disepakati. Maksudnya bahwa perjanjian yang diadakan oleh para pihak itu bukanlah perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bertentangan dengan hukum syariah, sebab perjanjian yang bertentangan dengan ketentuan hukum syariah adalah tidak sah. Maka dengan sendirinya tidak ada

kewajiban bagi masing-masing pihak untuk menepati atau

melaksanakan perjanjian tersebut. Dengan kata lain segala bentuk perjanjian yang bertentangan dengan hukum syariah dengan sendirinya batal demi hukum.

11 Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syari’ah,(UII Perss, Yogyakarta:2000).

(15)

2. Harus sama rida dan ada pilihan. Maksudnya perjanjian yang diadakan para pihak haruslah didasarkan kepada kesepakatan kedua belah pihak, yaitu masing-masing pihak rida atau rela akan isi

perjanjian tersebut atau dengan kata lain isi perjanjian tersebut adalah kehendak para pihak. Dalam hal ini tidak boleh ada paksaan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain. Apabila perjanjian terdapat unsur pemaksaan, maka dengan sendirinya perjanjian yang diadakan tidak mempunyai kekuatan hukum.

3. Harus jelas dan gamblang. Maksudnya apa yang diperjanjikan oleh para pihak harus terang tentang apa yang menjadi isi perjanjian, sehingga tidak mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman di antara para pihak tentang apa yang mereka perjanjikan di kemudian hari.

Dengan demikian maka pada saat perjanjian dibuat maka masing- masing pihak harus mempunyai interpretasi yang sama tentang apa yang telah mereka perjanjikan baik terhadap isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh perjanjian itu.12

6. Berakhirnya Kafalah

Apabilah jenis kafalah-nya kafalah bi al-mal, maka kafalah berakhir dengan salah satu dari dua perkara yaitu:

1. Berakhirnya Kafalah apabila pemilik hak menyedekahkan hartanya kepada kafiil. Harta telah diserahkan kepada pemilik hak atau dalam pengertian diserahkan, baik penyerahan tersebut oleh penjamin atau kafiil maupun oleh ashiil atau makful anhu.

(16)

2. Kafalah berakhir apabila pemilik hak membebaskan penjamin atau makful anhu. Apabila pemilik hak membebaskan makful anhu maka penjamin atau kafiil menjadi bebas, karena utang tersebut ada pada ashiil atau makful anhu kafiil disini hanya membantu makful anhu untuk

melunasi utangnya, sedangkan apabila pemilik hak membebaskan kafiil maka makful anhu belum bebas dari utangnya, Demikian pula kafalah dapat berakhir dengan adanya perdamaian.

Apabila jenis kafalah-nya kafalah bi an-nafs, maka kafalah berakhir karena dua sebab, yaitu sebagai berikut.

1. Kafiil harus menyerahkan diri makful anhu di tempat yang

memungkinkannya untuk dihadapkan di muka sidang pengadilan, apabila kafiil menyerahkan makful anhu misalnya di kota A penyerahannya dilakukan di lapangan atau tempat yang tidak mungkin makful anhu dihadapkan di muka sidang sidang maka kafiil belum bebas karena tujuan belum terwujud. Tetapi apabila kafiil harus menyerahkan diri makful anhu di kota A, tetapi penyerahan di kota B, maka imam Abu Hanifah berpendapat kafiil sudah bebas, karena makful anhu

memungkinkan untuk dihadapkan di muka sidang pengadilan. Tetapi Abu Hanifah berpendapat kafiil belum belum bebas kecuali makful anhu di serahkan di kota yang sudah ditentukan sebagaimana penjelasan diatas.

2. Kafiil bisa bebas dari kewajiban kafalah bi an-nafs tetapi makful atau belum bebas karena hanya kafil saja yang dibebaskan bukan terhadap makful anhu, tetapi bila pemilik hak telah membebaskan makful anhu maka keduannya sudah dinyatakan telah bebas. Apabila jenis kafalahnya- nya yaitu kafalah bi al-‘ain, maka kafalahnya bisa berakhir karena dua hal, yaitu sebagai berikut:

(17)

1. Penyerahan benda yang ditanggung atau yang dijamin, apabila barangnya masih ada, persamaannya, atau harganya, apabilah barangnya telah rusak.

2. Kafalah bisa gugur atau berakhir karena ashiil atau makful anhu telah bebas dari kewajiban menyerahkan barang yang ada padanya, dan kafiil bisa bebas dari tugas kafalah, misalnya dalam perkataan pemilik hak menyatakan bahwa: “saya bebaskan engkau dari tugas kafalah”13 7. Aplikasi Kafalah dalam Lembaga Keuangan saat ini

a. Kartu Indonesia Sehat

Kartu Indonesia Sehat Sistem al-Kafalah dalam mekanisme penjaminan Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan al-kafalah bi an- nafs yang paling murni dan sesuai dengan mekanisme asli al-kafalah yang diterapkan pada zaman nabi, menurut peneliti. Hal ini dikarenakan tidak adanya ujrah maupun biaya tambahan yang dikenakan pada pihak makful ‘anhu bahkan pihak kafil secara sukarela menjamin embayaran seluruh biaya kesehatan milik makful ‘anhu. Demikian al-Kafalah seharusnya diterapkan sesuai asas tabarru’ (tolong-menolong), bukan taawudh (bil iwadh). Validasi kepemilikan KIS tidak dapat dilakukan terhadap semua masyarakat Indonesia seperti sistem pendahulunya, BPJS. Akan tetapi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pemegang KIS melalui proses pendataan yang ketat. Pemerintah menggolongkan KIS dalam sistem asuransi sosial yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Proses seleksi pemegang KIS telah sesuai dengan pemenuhan persyaratan makful ‘anhu dalam syariah. Tujuan serta mekanismenya juga berjalan selaras dengan akad al-kafalah.

13 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Sinar Grafika,2006) h. 444 - 446.

(18)

Sehingga dalam transaksi ini, tidak ada yang merugikan maupun dirugikan.

b. Bank Garansi

Jaminan diperlukan selain sebagai pemenuhan atas ketentuan Undang-undang perbankan, juga merupakan salah satu kontra garansi atas kemungkinan terjadinya resiko yang harus ditanggung oleh pihak bank (Muhammad: 1999). Karena menurut pandangan Islam jaminan merupakan ketentuan yang disyariatkan (Qs.Al-Baqarah: 283) dapat disimpulkan bahwa resiko adalah sesuatu yang harus diperhitungkan karena bank sebagai lembaga intermediasi tidak hanya mengelola dana yang ada padanya tapi juga dana masyarakat yang harus dikembalikan, selain nantinya akan menjadi alat pemenuhan kewajiban jika nasabah tidak mampu membayar kewajibannya (Susilo, et all., 1999).

Dalam bentuknya jaminan dapat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu perorangan atau kebendaan. Secara fisik jaminan juga merupakan pengaman, misalnya sertifikasi tanah yang dijaminkan yang tentu saja akan disimpan dengan aman oleh pihak bank agar terhindar dari

berbagai bencana, misalnya: banjir,gempa, kebakaran, atau hilang ,dsb, maka pihak bank akan bertanggung jawab. Inilah yang dinamakan dengan Bank Garansi (Taswan, 2006).

Bank garansi adalah persetujuan dari bank untuk mengikatkan diri pada penjamin selama waktu dan syarat-syarat tertentu hingga yang dijamin mampu memenuhi kewajibannya. Garansi ini berupa sejumlah uang yang akan diserahkan kepada pihak yang dijamin bila tidak mampu membayar hutangnya kepada pihak lain. Macam-macam bank garansi adalah garansi pelaksanaan, pemeliharaan, penawaran, dan uang muka

(19)

Bentuk-bentuk garansi ini diterapkan sesuai ketentuan dan syarat yang telah ditetapkan oleh bank, dan pada mekanismenya, menggunakan sistem al-Kafalah bil ujroh, yakni membebankan biaya kepada pihak penjamin sebesar 1,0% atau sesuai dengan ketentuan bank untuk keperluan administrasi (Ikatan Bankir Indonesia, 2014).14

B. Konsep Pengalihan Tanggungan Menurut Syariat Islam 1. Pengertian Hiwalah

Secara istilah banyak defenisi yang diberikan para ulama terhadap pengertian hawalah. Akan tetapi diantara defenisi-defenisi tersebut mempunyai suatu pemahaman yang sama. Dibawah ini peneliti memuat beberapa defenisi tentang hawalah menurut pendapat para ekono m muslimdan juga sebagian ulama,diantaranya yaitu :

a. Menurut Firdaus hawalah “suatu akad yang mengharuskan pemindahanutang dari yang bertanggung jawab kepada penanggung jawab yang lain. 15

b. Kalangan Mallikiyah, Syafi,Iyah dan Hanbaliyah mendefinisikan sebagaiakad berimplikasi pada perpindahan utang dari tanggungan pihak tertentukepada pihak lain. Definisi Hawalah dalam

kompilasi hokum ekonomi syariah (KHES) pasal 20 aya(13) adalah: pengalihan hutang dari muhil alashil kepada muhal alaih.16

c. Menurut Idris Ahmad Hawalah adalah “semacam ikatan (ijab Kabul) pemindahan hutang dari tanggungan seseorang yang

14 Moh. Asra, Implementasi Aplikasi al-Kafâlah di Lembaga Keuangan Syari’ah di Indonesia, Jurnal – Implementasi Aplikasi Al-Kafâlah di Lembaga Keuangan Shari’ah, Vol.

Volume 4, Nomor 2, 2020

15 Ismail nawai, Fiqh Muamalah klasik dan kontenporer, (bogor : ghalia indoneisa 2012) h.180

16 Imam Mustofa, Fikih Mu’amalah kontenporer, (Jakarta: Rajawali Pers 2016), h.234

(20)

berhutang kepada orang lain itu mempunyai utang pula pada yang memindahkannya. 17

2. Dasar Hukum a. Hadist.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairoh, bahwa Rasulullah saw, bersabda:

عبتيلف يلم ىلع مكدح أ عبت أ اداف ملظ ينغل ا لطم

“Memperlambat pembayaran hukum yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah ia beralih(diterima pengalihan tersebut)”.(HR Jama’ah)Ijma’

Para ualama sepakat bahwa hiwalah dibolehkan.

Hawalah dibolehkan pada utang yang tidak berbentuk

barang/benda karena hawalah adlah perpindahan muhi, yaitu:

orang yang menghawalahkan utang. Oleh sebab itu, harus pada uang atau kewajiban financial.18

b. Komplikasi Hukum Ekoomi Syariah 1) Pasal 318

a) Rukun Hawalah/pemindahan utang terdiri atas:

• Muhil (peminjam)

• Muhal (pembeeri pinjaman)

17 Suhendi. Hendi, haji, fiqh muamalah, (PT. Raja Grafindo persada, Jakarta, 2007), h.99-100

18 Muhammad Syafii Antonio, “ bank syariah dari teori ke praktek”, Jakarta, gema insani, 2002) hal 126-127.

(21)

• Muhal ‘alaih (penerima hawalah)

• Muhal bihi (utang)

• Akad.

b) Maksud dari akad pada ayat 1 c dinyatakan oleh para pihak secara lisan, tulisan atau isyarat.

2) Pasal 319

c) Para pihak yang melakukan akad hawalah /

pemindahan utang harus memiliki kecakapan hukum.

3) Pasal 320

a) Peminjam harus memberitahu kepada pemberi pinjaman bahwa ia akan memindahkan utangnya kepada pihak lain.

b) Persetujuan pemberi pinjaman mengenai rencana peminjam untuk memindahkan utang seperti yang dimaksud pada ayat (1) adalah syarat dibolehkannya akad haawalah / pemindahan utang.

c) Akad hawalah/pemindahan utang dapat dilakukan jika pihak penerimahawalah/pemindahan utang menyetujui keinginan peminjam pada ayat

4) Pasal 321

a) Hawalah / pemindahan utang tidak disyratkan adanya utang dari penerima hawalah/pemindahan kepada pemindah utang.

b) Hawalah/pemindah utang tidak disyaratkan adanya sesuatu yang diterima oleh pemindah utang dari pihak yang menerima hawalah/pemintang utang sebagai hadiah imbalan.

(22)

Akibat Hiwalah 5) Pasal 322

a) Pihak yang utangnya dipindahkan, wajib membayar utangnya kepada penerima hawalah.

b) Penjamin utang yang dipindahkan, kehilangan haknya untuk menahan barang jaminan

6) Pasal 323

a) Utang pihak pinjaman yang meninggal sebelum melunasi utangnya, dibayar dengan harta yang ditinggalkannya.

b) Pembayaran utang kepada penerima hawalah/

pemindah utang harus didahulukan atas pihak-pihak pemberi pinjaman lainnya jika harta yang ditinggalkan oleh peminjam tidak mencukupi

7) 324

Akad hawalah/pemindahan utang yang bersyarat menjadi batal dan utang Kembali kepada peminjam jika syarat- syaratnya tidak terpenuhi.

8) Pasal 325

Peminjam wajib menjual kekayaannya jika pembayaran utang yang dipindahkan ditetapkan dalam akad bahwa utang akan dibayar dengan dana hasil penjual

kekayaannya.

9) Pasal 326

Pembayaran utang yang dipindahkan dapat dinyatakan dan dilakukan dengan waktu yang pasti, dan dapat pula dilakukan tanpa waktu pembayaran yang pasti.

(23)

10) Pasal 327

Pihak peminjam terbebas dari kewajiban membayar utang jika penerima hawalah/pemindahan utang

membebaskannya.

11) Pasal 328

Apabila terjadi hawalah pada seseorang. Kemudian orang yang menerima pemindahan utang tersebut meninggal dunia, maka pemindahan utang yang terjadi tidak dapat diwariskan.

3. Rukun dan Syarat a. Rukun

Menurut syafi’iyah rkun hawalah ada 4, aiyu:

1) Muhil : orang yang menghawalahkan yaitu yang memindahkan hutangnya.

2) Muhal: orang yang dihawalahkan, yaitu orang yang mempunyai utang kepada muhil.

3) Muhal ‘alaih yaitu: orang yang menerima hawalah.

4) Sighat hawalah yaitu ijab dari muhil dengan kata-katanya:

“aku hiwalahkan utangku yang hak bagi engkau kepada si fulan” dan kabul dari muhal dengan kata-katanya “aku terima hawalah engkau”

b. Syarat Hawalah

Memindahkan suatu tanggungan (hutang) kepada orang lain boleh, berikut adalah syarat hawalah:

1) Kerelaan orang yang menanggung dan penerima orang yang di beri pertanggungan.

2) Kesesuaian hutang 3) Kepastian hutang

(24)

4) Kepastian pertanggungan dari orang yang berhutang.

Syarat siqah dapat menggunakan bahasa lisan maupun dengan syarat siqat harus menunjukan pengalihan hak penagihan tanggungan.syaratyang berkaita dengan muhil adalah:

1) berakal, 2) baliq,

3) kerelaan muhil.

Berdasarkan syarat ini maka hiwalah karena adanya keterpaksaan atau adaunsur paksaan terhadap muhil maka sah.

Sementara dengan muhal adalah 1) berakal,

2) baliqh,

3) adanya unsur kerelaan, tidak terpaksa atau dipaksa, 4) majelis hiwalah.

Adapun syarat yang terkait dengan muhal alaih adalah 1) berakal,

2) baliq,

3) adanya unsur kerelaan, tidak adanya keterpaksaan atau paksaan,

(25)

4) majelis hiwalah.19 4. Macam-macam Hiwalah

a. Hawalah muthlaqah

Terjadi jika seseorang memindahkan hutangnya agar ditanggung muhal alaih, sedangkan ia tidak mengaitkannya dengan hutang piutang mereka, sementara muhal alaih menerima hawalah tersebut. Ulama selain mazhab hanafitidak

membolehkan hiwalah semacam ini. Sebagian ulama berpendapat pengalihan utang secara muthlaq ini termasuk kafaah madhdah (jaminan), untuk itu harus didasarkan ketiga belah pihak, yaitu orang yang mempunyai piutang, orang yang berhutang dan orang yang menanggung utang.

b. Hawalah muqayyadah

Terjadi jika orang yang berhutang memindahkan beban hutangnya tersebut pada muhal alaih dengan mengaitkannya pada hutang muhal alaih padanya.inilah hawalah yang dibolehkan berdasarkan kesepakatan ulama. Namun kedua macamhiwalah tersebut dibolehkan berdasarkanhadist nabi yang diriwayatkan oleh abu hurairah.

c. Hawalah al haq

Pemindahan hak atau piutang dari seorang pemilik piutang lainnya biasanya itu dilakukan bila pihak pertama mempunyai hutang kepada pihak kedua ia membayar utangnya tersebut dengan piutannya pada pihak lain. Jika pembayaran barang/

benda, maka perbuatantersebut dinamakan sebagai hawalah hak.

19 Imam Mustofa, Fiqh Mu’amalah kontenporer, (Jakarta: rajawali pers 2016), h.236

(26)

Pemilik piutang dalam hal ini adalah muhil, karena dia yang memindahkan kepada orang lain untuk memindahkan haknya d. Hawalah al dain

Hawalah ad dain adalah pengalihan utang dari seorang penghutang kepada penghutang lainnya. Ini dapat dilakukan karena penghutang pertama masih mempunyai piutang pada penghutang kedua. Muhil dalam hawalah ini adalah orang yang berutang, karena dia memindahkan kepada orang lain untuk membayar hutangnya. Hiwalah ini di syariatkan berdasarkan kesepakatan ulama.20

7. Ketentuan yang terkait.

Ketentuan Fatwa Dwan Syariah Nasional (DSN MUI) Nomor 12/DSN MUI/IV/2000 Mengenai Hiwalah :

Dalam proses hutang-piutang disepakati pihak-pihak yang saling terkait baik muhil, muhal dan muhal alaih. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh pihak menunjukan kehendak dalam mengadakan kontrak akad hiwalah. Akad dituangkan dalam sebuah perjanjian tertulis dari pihak yang saling berkaitan. Ketentuan dan syarat yang terdapat pada Hiwalah berdasarkan persetujuan muhil, muhal, dan muhal alaih. Kedudukan dan kewajiban dari masing- masing pihak yang terkait dalam hiwalah dinyatakan dalam akad hiwalah diawal kesepakatan.

Ketentuan Khusus dalam Akad Hiwalah : Jika dalam proses pelaksanaan akad hiwalah terdapat kesalahfahaman diantara pihak yang saling terkait maka , upaya yang dapat dilakukan dalam penyelesaian permasalahan tersebut melalui Badan Arbitrase

20 Suhendi, Hendi, 2008, Fiqh Muamalah, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

(27)

Syariah jika tidak terjadi kesepkatan melalui musyawarah yang dilakukan bersama masing-msing pihak.

8. Berakhirnya Hiwalah

a. Dibatalkan atau fasakh. Hal ini terjadi jika akad hawalah belum dilaksanakan sampai tahapan akhir lalu di fasakh. Dalam hal ini hak penagihan dan muhal akan Kembali lagi pada muhil.

b. Hilangnya hak muhal alaih karena meninggal dunia atau bangkrut atau ia mengingkari adanya akad hawalah sementara muhal tidak dapat menghadirkan bukti atau saksi.

c. Jika muhal alaih telah melaksanakan kewajibannya kepada muhal berarti akad hawalah telah terpenuhi oleh semua pihak.

d. Jika muhal menghibahkan atau menyedekahkan harta hawalah kepada muhal alaih dan ia menerima hibah tersebut.

e. Jika muhal menghapus bukukan kewajiban embayar hutang kepada muhal Alaih.21

9. Aplikasi dalam Lembaga keuangan Syari’ah (LKS) saat ini

Dalam praktek lembaga keuangan syari’ah seperti perbankan syari’ah fasilitas hiwalah umumnya untuk membantu suplier dalam mendapatkan modal tunai sehingga mereka dapat melanjutkan kegiatan usahanya. Dalam ini bank mendapat upah ganti biaya atas jasa pemindahan hutang. Untuk mengantisipasi dan mengatasi

keugian yang akan terjadi pihak bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berhutang dan adanya kebenaran transaksi antara yang berhutang dan yang memindahkan hutang, karena suplier

21 Muhammad syafi’I Antonio, “Bank Syariah dari teori ke praktek”, (Jakarta, gema insani, 2001), h.127

(28)

akan di likuiditas, maka ia meminta pihak bank untuk mengalihkan piutang dan bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.

Kontrak hiwalah dalam perbankan syari’ah biasanya diterapkan dalam hal-hal seperti dibawah ini : Factoring (Anjak piutang), dimana para nasabah yang memiliki piutang kepada pihak ketiga memindahkan itu kepda Bank, Bank lalu membayar piutang tersebut dan Bank menagihnya dari pihak ketiga. Post Dated Cheek, dimana Bank bertindak sebagai juru tagih tanpa membayar dulu piutang tersebut. Bill Discounting, secara prinsip serupa dengan hiwalah hanya saja dalam bill counting nasabah hanya membayar fee, sedangkan 15 pembahasan fee tidak disepakati dalam kontrak hiwalah.

(29)

14 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Kafalah adalah menggabungkan dua tanggungan dalam permintaan dan hutang. Rukun kafalah ada lima, yaitu:

a. Shighat yaitu ijab dari penjamin atau ijab-qabul dari akad transaksi.

b. Dhamin atau kafil (penjamin)

c. Pemilik hak, atau yang mempunyai piutang (makful lahu) d. Pihak yang dijamin (makful anhu)

e. Obyek kafalah (makful bih)

Kemudian dalam rukun-rukun diatas juga memiliki syarat masing-masing. Kafalah terdapat dua macam kafalah diantaranya yaitu :

a. Kafalah bi an-nafs b. Kafalah bi al-mal Al-Hawalah

adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepadaorang lain yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya.Dalam istilah para ulama, hali ini merupakan pemindahan beban utang dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih atau orangyang berkewajiban membayar utang.

(30)

1. Rukun hawalah

a. muhil yaitu: orang yang meng hawalahkan.

b. muhal yaitu:orang yang dihawalahkan.

c. muhal’alaih yaitu:orang yang menerima hawalah.

d. sighat hiwalah yaitu ijab.

2. Syarat Hawalah:

a. Kerelaan orang yang menanggung dan penerima orang yang di beri pertanggungan.

b. Kepastian hutang.

c. Kesesuain hutang.

d. Kepastianya pertanggungan dari orang yang hutang

(31)

DAFTAR PUSTAKA

Suhendi, Hendi. Fiqh Muamalah, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2002

Djuwaini, Dimyaudin. Pengantar Fiqh Muamalah, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2008

Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Mandiri Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta:Gema Insani, 2001.

Abdul Rahman Ghazaly Dkk, Fiqh Muamalat, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group, 2010.

Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahannya, Departemen Agama RI.

Hajar Al-Asqalani, Ibnu Fhatul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari Jilid 19, Jakarta, Pustaka Iman,2014

Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syari’ah, UII Perss, Yogyakarta:2000.

Wardi Muslich, Ahmad . Fiqh Muamalat, Jakarta: Sinar Grafika,2006.

Asra,Mohammad. Implementasi Aplikasi al-Kafâlah di Lembaga Keuangan Syari’ah di Indonesia, Jurnal – Implementasi Aplikasi Al-Kafâlah di Lembaga Keuangan Shari’ah, Vol. Volume 4, Nomor 2, 2020

nawai, Ismail. Fiqh Muamalah klasik dan kontenporer, bogor : ghalia indoneisa 2012 h.180

Mustofa, Imam. Fikih Mu’amalah kontenporer, Jakarta: Rajawali Pers 2016.

Suhendi. Hendi, haji, fiqh muamalah, PT. Raja Grafindo persada, Jakarta, 2007.

(32)

Syafii Antonio, Muhammad . “ bank syariah dari teori ke praktek”, Jakarta, gema insani, 2002.

syafi’I Antonio, Muhammad. “Bank Syariah dari teori ke praktek”, Jakarta, gema insani, 2001.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini ada beberapa hal yang menjadi tanggung jawab terhadap harta dalam Islam antara lain: melandaskan harta kepada tauhid mulkiyah, harta adalah amanah

Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana pertimbangan hakim dalam memutus perkara ekonomi syariah mengenai hak

Dari penyataan Desmita (2009) mengatakan profesionalisme seseorang dapat tercermin jika memiliki integritas, tanggung jawab dan mandiri dalam melakukan sesuatu,

Pengertian Syirkah Inan Syirkah menurut bahasa ialah al-ikhtilath yang berarti campur atau percampuran, maksudnya ialah penyatuan harta seseorang dengan orang lain sehingga tidak

Dari latar belakang diatas peneliti mengemukakan pertanyaan yaitu “Bagaimana pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial CSR di Bank Aman Syariah Sekampung dan Bagaimana tinjauan Etika Bisnis

Dalam pengertian ini al-khuluk berarti perbuatan yang dengan gampang dan mudah muncul dalam diri seseorang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.15 Sebagian lagi mendefinisikan

Prinsip syariah adalah perjanjian yang dilandaskan pada hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana atau pembiayaan dalam bentuk kegiatan usaha atau transaksi lainnya

Pengambilan keputusan Dalam Etika dan Tanggung Jawab Sosial Keuangan Syariah Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa faktor-faktor etika dan tanggung jawab sosial memiliki