See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/371303448
KONSEP DASAR KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
Book · June 2023
CITATIONS
0
READS
87
5 authors, including:
Wulan Pingkan Julia Kaunang Sam Ratulangi University 108PUBLICATIONS 24CITATIONS
SEE PROFILE
Anggriani Oktavia Sam Ratulangi University 2PUBLICATIONS 0CITATIONS
SEE PROFILE
Avelina Maria Rosari da Gomez Sam Ratulangi University 2PUBLICATIONS 0CITATIONS
SEE PROFILE
Christine Mawu Sam Ratulangi University 2PUBLICATIONS 0CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Anggriani Oktavia on 05 June 2023.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
MAKALAH
MATA KULIAH SURVEILANS KESEHATAN MASYARAKAT
“KONSEP DASAR KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)”
DOSEN PENGAMPU:
Dr. dr. Wulan Pingkan Julia Kaunang, Grad.Dip, M.Kes, DK
DISUSUN OLEH:
Kelompok 16, Kelas 4B
Avelina Maria Rosari Da Gomez 211111010060
Christine Mawu 211111010062
Anggriani Oktavia 211111010081 Anjela Sherina Korengkeng 211111010051
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO 2021
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas berkat Tuhan yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah dengan judul “Konsep Dasar Kejadian Luar Biasa (KLB)” guna memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat.
Kami juga tidak lupa pada berbagai pihak yang membantu dalam kegiatan pembuatan makalah ini, juga kepada semua pihak yang berpartisipasi, kami selaku penulis mengucapkan terima kasih banyak. Selain itu, kami juga ingin berterima kasih kepada penulis yang jurnal dan karya tulis lainnya kami gunakan sebagai sumber acuan materi dalam makalah kami, kami ucapkan terima kasih yang terdalam atas ilmu pengetahuannya yang sangat bermanfaat dan berguna.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena terbatasnya pengetahuan serta pengalaman kami. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritikan yang membangun dari dosen dan para pembaca agar makalah ini menjadi lebih baik lagi. Kami berharap makalah ini dapat membawa banyak manfaat untuk pengetahuan Surveilans Kesehatan Masyarakat.
Manado, 8 April 2023
Kelompok 16
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Pengertian Kejadian Luar Biasa (KLB) ... 3
B. Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) ... 3
C. Penyakit-Penyakit Yang Berpotensi Menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) . 4 D. Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB)... 4
E. Langkah-Langkah Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) ... 5
1. Persiapan Penelitian Lapangan... 5
2. Pemastian Diagnosis Penyakit ... 5
3. Penetapan KLB ... 5
4. Identifikasi kasus atau paparan ... 6
5. Deskripsi KLB... 6
6. Penanggulangan sementara ... 7
7. Identifikasi sumber penularan dan keadaan penyebab KLB ... 8
8. Perencanaan penelitian lain yang sistematis... 8
9. Penyusunan Rekomendasian. ... 8
10. Penyusunan laporan KLB ... 10
BAB III PENUTUP ... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 12
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kejadian bertambahnya penderita atau kematian yang disebabkan oleh suatu penyakit diwilayah tertentu, seringkali dapat menjadi hal yang mengejutkan atau mengkhawatirkan bagi masyarakat di wilayah itu. Secara umum, hal ini disebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Kejadian Luar Biasa yang selanjutnya disingkat KLB, adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Penderita atau yang beresiko penyakit dapat menimbulkan KLB dapat diketahui jika dilakukan pengamatan yang merupakan semua kegiatan yang dilakukan secara teratur, teliti dan terus-menerus, meliputi pengumpulan, pengolahan, analisa/interpretasi, penyajian data dan pelaporan. Apabila hasil pengamatan menunjukkan adanya tersangka KLB, maka perlu dilakukan penyelidikan epidemiologis yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya dan penyebarluasan KLB tersebut di samping tindakan penanggulangan seperlunya.
Hasil penyelidikan epidemiologis mengarahkan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam upaya penanggulangan KLB. Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB,termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak 1yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Efendi, 2009).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kejadian luar biasa (KLB)?
2. Bagaimana kriteria KLB?
3. Apa saja penyakit-Penyakit Yang Berpotensi Menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)?
4. Apa saja faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB)?
5. Bagaimana langkah-Langkah Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB)?
2 C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari kejadian luar biasa (KLB) 2. Untuk mengetahui kriteria dari kejadian luar biasa
3. Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB)
4. Untuk mengetahui faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB)?
5. Untuk mengetahui langkah-langkah penyelidikan kejadian luar biasa (KLB)?
3 BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kejadian Luar Biasa (KLB)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1501/MENKES/PER/X/2010, Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnyakejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerahdalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Selain itu, Mentri Kesehatan RI (2010) membatasi pengertian wabah sebagai berikut: “Kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanyameningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka”.
Istilah wabah dan KLB memiliki persamaan, yaitu peningkatan kasus yang melebihisituasi yang lazim atau normal, namun wabah memiliki konotasi keadaan yang sudah kritis,gawat atau berbahaya, melibatkan populasi yang banyak pada wilayah yang lebih luas.
B. Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1501/MENKES/PER/X/2010, suatu derah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB apabilamemenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal padasuatu daerah.
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hariatau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnyadalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis penyakitnya.
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kaliatau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikandua kali atau lebih dibandingkan dengan rata -rata jumlah kejadian kesakitan perbulan padatahun sebelumnya.
4
6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentumenunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan angkakematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkankenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
C. Penyakit-Penyakit Yang Berpotensi Menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1501/MENKES/PER/X/2010, penyakit menular tertentu yang menimbulkan wabah adalah:
1. Kholera 2. Pes
3. Demam berdarah 4. Campak
5. Polio 6. Difteri 7. Pertusis 8. Rabies 9. Malaria
10. Avian Influenza H5N1 11. Antraks
12. Leptospirosis 13. Hepatitis
14. Influenza H1N1 15. Meningitis 16. Yellow Fever 17. Chikungunya Penyakit-penyakit berpotensi Wabah/KLB:
1) Penyakit karantina/penyakit wabah penting: kholera, pes, yellow fever.
2) Penyakit potensi wabah/KLB yang menjalar dalam waktu cepat/
mempunyai memerlukantindakan segera: DHF, campak, rabies, tetanus neonatorum, diare, pertusis, poliomyelitis.
3) Penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan beberapa penyakit penting:
malaria, frambosia,influenza, anthrax, hepatitis, typhus abdominalis, meningitis, keracunan, encephalitis, tetanus.
4) Penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi wabah dan atau KLB, tetapi masuk program: kecacingan, kusta, tuberkulosa, syphilis, gonorrhoe, filariasis, dan lain-lain.
D. Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) Menurut Notoatmojo (2003), faktor yang mempengaruhi timbulnya Kejadian Luar Biasa adalah:
1. Herd Immunity yang rendah
5
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/ wabah adalah herd immunity. Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity ialah kekebalan yang dimiliki oleh sebagian penduduk yang dapat menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan tingkatkekebalan individu. Makin tinggi tingkat kekebalan seseorang, makin sulit terkena penyakit tersebut.
2. Patogenesitas
Patogenesitas merupakan kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.
3. Lingkungan Yang Buruk
Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme, tetapi mempengaruhi kehidupan ataupun perkembangan organisme tersebut.
E. Langkah-Langkah Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB)
Penyelidikan KLB mempunyai tujuan utama yaitu mencegah meluasnya (penanggulangan) danterulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian). Langkah-langkah yang harus dilalui pada penyelidikan KLB, sebagai berikut:
1. Persiapan Penelitian Lapangan
Persiapan lapangan sebaiknya dikerjakan secepat mungkin, dalam 24 jam pertama sesudah adanya informasi. Kelsey (1986), Greg (1985) dan Bres (1986) dalam Maulani (2010) mengatakan bahwa persiapan penelitian lapangan meliputi:
a. Pemantapan (konfirmasi) informasi.
b. Pembuatan rencana kerja
c. Pertemuan dengan pejabat setempat.
2. Pemastian Diagnosis Penyakit
Cara diagnosis penyakit pada KLB dapat dilakukan dengan mencocokan gejala/tanda penyakit yang terjadi pada individu, kemudian disusun distribusi frekuensi gejala klinisnya.
3. Penetapan KLB
Penetapan KLB dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah berjalan dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa (endemik) pada populasi yang dianggap berisiko, pada tempat dan waktu tertentu. Adanya KLB juga ditetapkan apabila memenuhi salah satudari kriteria KLB. Pada penyakit yang endemis, maka cara menentukan KLB bisa menyusun dengan grafik pola maksimum- minimum 5 tahunan atau 3 tahunan.
6 4. Identifikasi kasus atau paparan
Identifikasi kasus penting dilakukan untuk membuat perhitungan kasus dengan teliti. Hasil perhitungan kasus ini digunakan selanjutnya untuk mendeskripsikan KLB. Dasar yang dipakai pada identifikasi kasus adalah hasil pemastian diagnosis penyakit. Identifikasi paparan perlu dilakukan sebagai arahan untuk indentifikasi sumber penularan. Pada tahap ini cara penentuan paparan dapat dilakukan dengan mempelajari teori cara penularan penyakit tersebut. Ini penting dilakukan terutama pada penyakit yang cara penularannya tidak jelas (bervariasi). Pada KLB keracunan makanan identifikasi paparan ini secara awal perlu dilakukan untuk penanggulangan sementara dengan segera (CDC, 1979 dalam Maulani, 2010).
5. Deskripsi KLB
a. Deskripsi Kasus Berdasarkan Waktu.
Penggambaran kasus berdasarkan waktu pada periode wabah (lamanya KLB berlangsung) digambarkan dalam suatu kurva epidemik. Kurva epidemik adalah suatu grafik yang menggambarkan frekuensi kasus berdasarkan saat mulai sakit (onset of illness) selama periode wabah. Penggunaan kurva epidemik untuk menentukan cara penularan penyakit. Salah satu cara untuk menentukan cara penularan penyakit pada suatu KLB yaitu dengan melihat tipe kurva epidemik, sebagai berikut:
1) Kurva epidemik dengan tipe point common source (penularan berasal dari satu sumber).
Tipe kurva ini terjadi pada KLB dengan kasus-kasus yang terpapar dalam waktu yang samadan singkat. Biasanya ditemui pada penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air dan makanan (misalnya: kolera, typoid).
2) Kurva epidemik dengan tipe propagated
Tipe kurva ini terjadi pada KLB dengan cara penularan kontak dari orang ke orang. Terlihat adanya beberapa puncak. Jarak antara puncak sistematis, kurang lebih sebesar masa inkubasi rata rata penyakit tersebut.
3) Tipe kurva epidemik campuran antara common source dan propagated
Tipe kurva ini terjadi pada KLB yang pada awalnya kasus-kasus memperoleh paparan suatu sumber secara bersama, kemudian terjadi karena penyebaran dari orang ke orang (kasus sekunder).
b. Deskripsi kasus berdasarkan tempat
7
Tujuan menyusun distribusi kasus berdasarkan tempat adalah untuk mendapatkan petunjuk populasi yang rentan kaitannya dengan tempat (tempat tinggal, tempat pekerjaan). Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber penularan. Agar tujuan tercapai, maka kasus dapat dikelompokan menurut daerah variabel geografi (tempat tinggal, blok sensus), tempat pekerjaan, tempat (lingkungan) pembuangan limbah, tempat rekreasi, sekolah, kesamaan hubungan (kesamaan distribusi air, makanan), kemungkinan kontak dari orang ke orang ataumelalui vektor (CDC, 1979; Friedman, 1980 dalam Maulani, 2010)
c. Deskripsi kasus berdasarkan orang.
Teknik ini digunakan untuk membantu merumuskan hipotesis sumber penularan atau etiologi penyakit. Orang dideskripsikan menurut variabel umur, jenis kelamin, ras, status kekebalan, status perkawinan, tingkah laku, atau kebudayaan setempat. Pada tahap dini kadang hubungan kasus dengan variabel orang ini tampak jelas.
Keadaan ini memungkinkan memusatkan perhatian pada satu atau beberapa variabel di atas. Analisis kasus berdasarkan umur harus selaludikerjakan, karena dari age spscific rate dengan frekuensi dan beratnya penyakit. Analisis ini akan berguna untuk membantu pengujian hipotesis mengenai penyebab penyakit atau sebagai kunci yang digunakan untuk menentukan sumber penyakit (Mac Mahon and Pugh, 1970; Mausner and Kramer, 1985; Kelsey et al., 1986 dalam Maulani, 2010).
6. Penanggulangan sementara
Kadang-kadang cara penanggulangan sementara sudah dapat dilakukan atau diperlukan, sebelum semua tahap penyelidikan dilampaui.
Cara penanggulangan ini dapat lebih spesifik atau berubah sesudah semua langkah penyelidikan KLB dilaksanakan. Menurut Goodman et al. (1990) dalam Maulani (2010), kecepatan keputusan cara penanggulangan sangat tergantung dari diketahuinya etiologi penyakit, sumber dan cara penularannya, sebagai berikut:
a. Jika etiologi telah diketahui, sumber dan cara penularannya dapat dipastikan maka penanggulangan dapat dilakukan tanpa penyelidikan yang luas.
b. Jika etiologi diketahui tetapi sumber dan cara penularan belum dapat dipastikan, maka belum dapat dilakukan penanggulangan. Masih diperlukan penyelidikan yang lebih luas untuk mencari sumber dan cara penularannya.
8
c. Jika etiologi belum diketahui tetapi sumber dan cara penularan sudah diketahui maka penanggulangan segera dapat dilakukan, walaupun masih memerlukan penyelidikan yang luas tentang etiologinya.
d. Jika etiologi dan sumber atau cara penularan belum diketahui, maka penanggulangan tidak dapat dilakukan. Dalam keadaan ini cara penanggulangan baru dapat dilakukan sesudah penyelidikan.
7. Identifikasi sumber penularan dan keadaan penyebab KLB a. Identifikasi sumber penularan
Untuk mengetahui sumber dan cara penularan dilakukan dengan membuktikan adanya agent pada sumber penularan.
b. Identifikasi keadaan penyebab KLB
Secara umum keadaan penyebab KLB adalah adanya perubahan keseimbangan dari agent, penjamu,dan lingkungan.
8. Perencanaan penelitian lain yang sistematis
Goodman et al (1990) dalam Maulani, 2010 mengatakan bahwa KLB merupakan kejadian yang alami (natural), oleh karenanya selain untuk mencapai tujuan utamanya penyelidikan epidemiologi KLB merupakan kesempatan baik untuk melakukan penelitian. Mengingat hal ini sebaiknya pada penyelidikan epidemiologi KLB selalu dilakukan:
a. Pengkajian terhadap sistem surveilans yang ada, untuk mengetahui kemampuannya yang adasebagai alat deteksi dini adanya KLB, kecepatan informasi dan pemenuhan kewajiban pelaksanaan sistem surveilans.
b. Penelitian faktor risiko kejadian penyakit KLB yang sedang berlangsung.
c. Evaluasi terhadap program kesehatan.
9. Penyusunan Rekomendasian.
a. Program Pengendalian
Program pengendalian dilakukan oleh institusi kesehatan dalam upaya menurunkan angkakesakitan, kematian dan kecacatan akibat penyakit menular dan penyakit tidak menular. Tahapan-tahapan program, yaitu:
1) Perencanaan
Dalam tahap perencanaan dilakukan analisis situasi masalah, penetapan masalah prioritas, inventarisasi alternatif pemecahan masalah, penyusunan dokumen perencanaan. Dokumen perencaan harus detail terhadap target/tujuan yang ingin dicapai, uraian kegiatan dimana, kapan, satuan setiap kegiatan, volume,
9
rincian kebutuhan biaya, adanya petugas penanggungjawab setiap kegiatan, metode pengukuran keberhasilan.
2) Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan dilakukan implemantasi dokumen perencanaan, menggerakan dan mengkoordinasikan seluruh komponen dan semua pihak yang terkait.
3) Pengendalian (Monitoring/Supervisi)
Supervisi dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan benar- benar dilaksanakan sesuai dengandokumen perencanaan. (Pickett dan John, 2009).
b. Penanggulangan KLB
Penanggulanagn dilakukan melalui kegiatan yang secara terpadu oleh pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat, meliputi:
1) Penyelidikan epidemilogis
Penyelidikan epidemiologi pada Kejadian Luar Biasa adalah untuk mengetahui keadaan penyebab KLB dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut, termasuk aspek sosial dan perilaku sehingga dapat diketahui cara penanggulangan dan pengendaian yang efektif dan efisien (Anonim, 2004 dalam Wuryanto, 2009).
2) Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk tindakan karantina. Tujuannya adalah:
a) Memberikan pertolongan medis kepada penderita agar sembuh dan mencegah agar mereka tidak menjadi sumber penularan.
b) Menemukan dan mengobati orang yang tampaknya sehat, tetapi mengandung penyebab penyakit sehingga secara potensial dapat menularkan penyakit (carrier).
3) Pencegahan dan pengendalian
Merupakan tindakan yang dilakukan untuk memberi perlindungan kepada orang-orang yang belum sakit, tetapi mempunyai resiko terkena penyakit agar jangan sampai terjangkit penyakit. Upaya pencegahan perluasan KLB meliputi kegiatan :
Pengobatan penderita sebagai sumber penularan penyakit penyebab KLB.
Perbaikan kondisi lingkungan sebagai sumber penyebaran penyakit.
Meningkatkan daya tahan tubuh dengan perbaikan gizi dan imunisasi
10
Tujuan pencegahannya untuk menghalangi perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Sehingga diharapkan upaya pencegahan penyakit ini mampu menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat.
4) Pemusnahan penyebab penyakit
Pemusnahan penyebab penyakit terutama pemusnahan terhadap bibit penyakit/kuman dan hewan tumbuh-tumbuhan atau benda yang mengandung bibit penyakit.
5) Penanganan jenazah akibat wabah
Terhadap jenazah akibat penyebab wabah perlu penanganan secara khusus menurut jenis penyakitnya untuk menghindarkan penularan penyakit pada orang lain
6) Penyuluhan kepada masyarakat
Penyuluhan kepada masyarakat, yaitu kegiatan komunikasi yang bersifat persuasif edukatif tentang penyakit yang dapat menimbulkan wabah agar mereka mengerti sifat-sifat penyakit, sehingga dapat melindungi diri dari penyakit tersebut dan apabila terkena, tidak menularkannya kepada orang lain. Penyuluhan juga dilakukan agar masyarakat dapat berperan serta aktif dalammenanggulangi wabah.
7) Upaya penanggulangan lainnya
Upaya penanggulangan lainya adalah tindakan-tindakan khusus masing-masing penyakit yang dilakukan dalam rangka penanggulangan wabah. (Menteri Kesehatan RI, 2010).
10. Penyusunan laporan KLB
Hasil penyelidikan epidemiologi hendaknya dilaporkan kepada pihak yang berwenang baik secara lisan maupun secara tertulis. Laporan secara lisan kepada instansi kesehatan setempat berguna agar tindakan penanggulangan dan pengendalian KLB yang disarankan dapat dilaksanakan. Laporan tertulis diperlukan agar pengalaman dan hasil penyelidikan epidemiologi dapat dipergunakan untuk merancang dan menerapkan teknik-teknik sistem surveilans yang lebih baik atau dipergunakan untuk memperbaiki program kesehatan serta dapat dipergunakan untuk penanggulangan atau pengendalian KLB.
11 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
- Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnyakejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerahdalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
- Beberapa penyakit yang berpotensi menjadi KLB adalah kholera, pes, demam berdarah, campak, polio, dan beberapa penyakit lainnya.
- Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya KLB yaitu: Herd Immunity yang rendah, patogenesitas, dan lingkungan yang buruk
- Langkah-Langkah Penyelidikan KLB yaitu: persiapan penelitian lapangan, pemastian diagnosis penyakit, penetapan KLB, identifikasi kasus atau paparan, deskripsi KLB, penanggulangan sementara, identifikasi sumber penularan dan keadaan penyebab KLB, perencanaan penelitian lain yang sistematis, penyusunan rekomendasian, dan penyusunan laporan KLB.
B. Saran
Penulis merekomendasikan agar pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait terus berkoordinasi dan memperkuat upaya pencegahan dan penanganan KLB. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman mengenai KLB dan mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam menghadapinya. Terakhir, penulis juga mengajak seluruh pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran akan pentingnya upaya pencegahan dan penanganan KLB.
12
DAFTAR PUSTAKA
Bustan, 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
KEMENKES, RI. (2011) ‘Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2052/Menkes/Per/X/2011’, 2008, pp. 1–30.
Kementerian Kesehatan RI (2017) ‘Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan (Pedoman Epidemiologi Penyakit)’, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Edisi Revi(2017), pp. 1–251.
Maulani, Novie Sri. 2010. “Kejadian Luar Biasa”, Catatan Kuliah. Program Studi S1 KesehatanMasyarakat STIKES HAKLI Semarang.Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2010.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. Jakarta:
(tidak diterbitkan).
View publication stats