• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KESEHATAN MASYARAT

N/A
N/A
Aisya Defiana Putri

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH KESEHATAN MASYARAT "

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KESEHATAN MASYARAKAT

WABAH, KEJADIAN LUAR BIASA (KLB), DAN RESPON DINI Dosen pengampu :

Niken widyastuti Hariati, S. Gz., M. Kes

Disusun Oleh Aisya Defiana Putri

(P07131223001)

KEMENTRIAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KESEHATAN BANJARMASIN PROGRAM SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA

TAHUN AJARAN 2023/2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai selesai. Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca.

Bahkan saya berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Banjarbaru, 16 Februari 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI Judul

Kata Pengantar...i Daftar Isi...ii

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang...1 B. Rumusan Masalah...1 C. Tujuan...1

Bab II Pembahasan

A. Pengertian...2 B. Faktor factor ...7 C. Cara penanggulangan...10 Bab III Penutup

A. Kesimpulan ...6 Daftar Pustaka...7

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Untuk mencerdaskan kehidupan dan melindungi segenap bangsa, adalah merupakan kewajiban dari negara kita, seperti yang diamanatkan dalam alinea ke empat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini mencerdaskan bukan berarti menyangkut soal pendidikan saja, melainkan melindungi masyarakat baik langsung maupun tidak langsung yang berkenaan dengan kesehatan. Kesehatan merupakan salah satu sektor utama yang mempengaruhi tingkat kecerdasan, sekaligus gambaran kualitas kenyamanan masyarakat terhadap serangan penyakit. Peristiwa bertambahnya penderita atau kematian yang disebabkan oleh suatu penyakit menular di suatu wilayah tertentu, kadang-kadang dapat merupakan kejadian yang mengejutkan dan membuat heboh masyarakat di wilayah itu.

Secara umum kejadian ini disebut dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan dapat menimbulkan suatu wabah yang menyerang masyarakat luas dalam waktu singkat yang diakibatkan oleh penyakit menular. Di lain pihak, dampak dari perkembangan ilmu dan teknologi saat ini menimbulkan berbagai penemuan baru dari penyakit-penyakit menular yang semakin bertambah dan sulit diatasi pengobatannya, misalnya HIV, AIDS, SARS, Flu Burung dan lain-lain. Demikian juga dalam aspek perundang-undangan terjadi perubahan- perubahan seperti undangundang otonomi daerah, undang-undang perlindungan konsumen, undangundang narkotika dan psikotropika, akan mempengaruhi sistem dan kebijakan pengumpulan, pengolahan, analisis penyajian dan pelaporan kasus-kasus penyakit menular

Untuk mencerdaskan kehidupan dan melindungi segenap bangsa, adalah merupakan kewajiban dari negara kita, seperti yang diamanatkan dalam alinea ke empat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini mencerdaskan bukan berarti menyangkut soal pendidikan saja, melainkan melindungi masyarakat baik langsung maupun tidak langsung yang berkenaan dengan kesehatan. Kesehatan merupakan salah satu sektor utama yang mempengaruhi tingkat kecerdasan, sekaligus gambaran kualitas kenyamanan masyarakat terhadap serangan penyakit. Peristiwa bertambahnya penderita atau kematian yang disebabkan oleh suatu penyakit menular di suatu wilayah tertentu, kadang-kadang dapat merupakan kejadian yang mengejutkan dan membuat heboh masyarakat di wilayah itu.

Secara umum kejadian ini disebut dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan dapat menimbulkan suatu wabah yang menyerang masyarakat luas dalam waktu singkat yang diakibatkan oleh penyakit menular. Di lain pihak, dampak dari perkembangan ilmu dan

(5)

teknologi saat ini menimbulkan berbagai penemuan baru dari penyakit-penyakit menular yang semakin bertambah dan sulit diatasi pengobatannya, misalnya HIV, AIDS, SARS, Flu Burung dan lain-lain. Demikian juga dalam aspek perundang-undangan terjadi perubahan- perubahan seperti undang-undang otonomi daerah, undang-undang perlindungan konsumen, undang-undang narkotika dan psikotropika, akan mempengaruhi sistem dan kebijakan pengumpulan, pengolahan, analisis penyajian dan pelaporan kasus-kasus penyakit menular B. Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan wabah, KLB, dan respon dini?

2. Bagaimanakah cara penanggulannya?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai wabah, KLB, dan respon dini 2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Masyarakat

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian

1. Wabah

Wabah Penyakit Menular yang selanjutnya disebut Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Penyebab Wabah secara garis besar adalah karena Toxin ( kimia & biologi) dan karena Infeksi (virus, bacteri, protozoa dan cacing).

Sumber penyakit adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang mengandung dan/atau tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah. Daerah Wabah adalah suatu wilayah yang dinyatakan terjangkit wabah. Daerah Wabah adalah suatu wilayah yang dinyatakan terjangkit wabah. Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Penyakit Karantina adalah Pes (Plague); Kolera (Cholera);

Demam Kuning (Yellow Fever); Cacar (Smallpox); Typhus bercak wabahi Typhus exanthe maticus infectosa (Louse borne Typhus); Demam balik-balik (Louse borne Relapsing fever). Tindakan Karantina adalah tindakan-tindakan terhadap kapal/pesawat udara beserta isinya dan daerah pelabuhan untuk mencegah penjangkitan dan penjalaran penyakit karantina. Isolasi adalah pengasingan seseorang atau beserta orang dari yang lain dalam suatu stasiun karantina, rumah sakit atau tempat lain oleh dokter pelabuhan untuk mencegah penularan penyakit. Pemerintah Pusat, adalah Presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara RI, yang dalam penyelenggaraan di bidang kesehatan dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan. Menteri adalah Menteri yang tugas tanggung jawabnya di bidang kesehatan. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah wewenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem NKRI. Penanggulangan adalah segala upaya yang ditujukan untuk memperkecil angka kematian, membatasi penularan serta penyebaran penyakit agar wabah tidak meluas kedaerah lain. Evakuasi adalah pemindahan sebagian atau seluruh penduduk dari lokasi terjangkit penyakit kelokasi yang lebih aman.

(7)

WHO secara resmi mengumumkan virus korona covid-19 sebagai pendemik pada Rabu, 11 Maret 2020 pukul 3.20 sore kemarin. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO mengatakan, "Ini pendemik pertama yang disebabkan oleh coronavirus,"

saat mendeklarasikannya di Geneva, Swiss.

Ini kali pertama WHO menyebut kejadian ini sebagai wabah atau pendemik sejak kasus H1N1 "flu babi" di tahun 2009. Per Rabu kemarin, virus ini telah melanda 114 negara. Dilansir dari Worldometers.info/coronavirus virus yang merebak dari Wuhan, Tiongkok ini telah menelan 4.633 korban jiwa. Namun, yang pulih dari virus korona ini juga banyak, yaitu 68.286 jiwa.

Perbedaan dari pandemik, endemik, epidemik serta wabah sebagai berikut.

1. Pandemik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tersebut berarti tersebar luas (tentang penyakit) di suatu kawasan, benua, atau di seluruh dunia.

WHO mendefinisikan istilah ini sebagai wabah patogen baru yang menyebar dengan mudah dari orang ke orang di seluruh dunia. Pandemik adalah ketika ia menyebar di beberapa negara atau benua dan biasanya memengaruhi orang dalam jumlah besar.

Penyebarannya secara global.

Wabah penyakit yang masuk dalam kategori pandemi adalah penyakit yang menular dan memiliki garis infeksi yang berkelanjutan. Jadi, jika ada kasus terjadi di beberapa negara lainnya selain negara asal, tetap digolongkan sebagai pandemi.

2. Wabah

Hampir mirip dengan defisini epidemik, kata wabah dalam KBBI berarti penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas (seperti penyakit lainnya misalnya wabah cacar, disentri, kolera).

Wabah adalah terjadinya suatu penyakit dalam masyarakat, di mana jumlah orang terjangkit lebih banyak daripada biasanya. Penyakit dikatakan wabah ketika penyakit itu sudah lama tidak pernah menjangkiti masyarakat, datang penyakit baru yang sebelumnya tidak diketahui, dan penyakit tersebut adalah penyakit yang baru pertama kali menjangkiti masyarakat di daerah itu.

3. Epidemik

(8)

Terdengar mirip dengan poin di atas? Ya, secara lisan terdengar hampir sama. Tapi definisinya dalam KBBI adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban - misalnya penyakit yang tidak secara tetap

berjangkit di daerah itu.

Dalam laman Verywell, kata epidemik berarti adanya peningkatan jumlah penyakit di atas normal yang diharapkan. Epidemi adalah istilah secara luas digunakan untuk menggambarkan setiap permasalahan yang telah tumbuh di luar kendali.

Epidemi didefinisikan sebagai wabah dari suatu penyakit yang terjadi lebih luas - wilayah geografis yang sangat tinggi dan memengaruhi proporsi penduduk.

4. Endemik

Arti endemik dalam rujukan KBBI yaitu berkenaan dengan penyakit yang muncul dalam wilayah tertentu. Endemik merupakan frekuensi suatu masalah kesehatan yang pada umumnya berupa sebuah penyakit pada suatu wilayah tertentu yang menetap dalam

waktu yang lama.

Mike Ryan, Assistant Director-General for Emergency Preparedness and Response di WHO's Health Emergencies Programme dari 2017 sampai 2019 mengatakan endemik merupakan keadaan atau karakteristik wilayah atau lingkungan tertentu yang ada hubungannya dengan penyakit. Penyakit ini selalu ada di daerah tersebut tapi

frekuensinya rendah.

Penyakit endemik adalah suatu penyakit yang menyerang wilayah geografis atau kelompok populasi tertentu. Endemik bisa digambarkan salah satunya dengan definisi kejadian DBD misalnya. Penyakit yang disebabkan virus Dengue yang ditularkan melalui

nyamuk ini dapat timbul sepanjang tahun.

Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita DBD

serta luas daerah penyebarannya semakin bertambah.

Selain DBD endemik di Indonesia antara lain adalah penyakit kaki gajah, kusta, atau malaria serta hepatitis.

2. KLB (Kejadian Luar Biasa)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1501/MENKES/PER/X/2010, Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnyakejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi

(9)

pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Selain itu, Mentri Kesehatan RI (2010) membatasi pengertian wabah sebagai berikut: “Kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanyameningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka”. Istilah wabah dan KLB memiliki persamaan, yaitu peningkatan kasus yang melebihisituasi yang lazim atau normal, namun wabah memiliki konotasi keadaan yang sudah kritis,gawat atau berbahaya, melibatkan populasi yang banyak pada wilayah yang lebih luas.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.1501/MENKES/PER/X/2010, suatu derah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:

1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal padasuatu daerah.

2. Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hariatau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.

3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnyadalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis penyakitnya.

4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kaliatau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per bulan dalam tahun sebelumnya.

5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikandua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan perbulan padatahun sebelumnya.

6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentumenunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan angkakematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

(10)

7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkankenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

3. Respon Dini

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) atau Early Warning Alert Response and System (EWARS) adalah suatu sistem yang dapat memantau perkembangan trend suatu penyakit menular potensial KLB/wabah dari waktu ke waktu (periode mingguan) dan memberikan sinyal peringatan (alert) kepada pengelola program bila kasus tersebut melebihi nilai ambang batasnya sehingga mendorong program untuk melakukan respons.

Alert atau signal yang muncul pada system bukan berarti sudah terjadi KLB tetapi merupakan praKLB yang mengharuskan petugas untuk melakukan respons cepat agar tidak terjadi KLB.

Tujuan penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon adalah sebagai berikut:

1. Menyelenggarakan deteksi dini KLB penyakit menular berpotensi KLB

2. Memberikan input kepada program dan sektor terkait untuk melakukan respon pengendalian penyakit menular berpotensi KLB

3. Meminimalkan kesakitan dan atau kematian akibat penyakit menular berpotensi KLB.

4. Memonitor kecenderungan atau tren penyakit menular berpotensi KLB.

5. Menilai dampak program pencegahan dan pengendalian penyakit menular berpotensi KLB. Pada tahun 2015, Kemenkes mengembangkan SKDR berbasis website untuk mempermudah pengolahan dan pelaporan data. Melalui sistem ini, pihak Puskesmas dapat memasukkan data sesuai dengan alur data dan jadwal yang ditentukan, kemudian Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan verifikasi lebih lanjut, sehingga informasi terkini dapat dilihat oleh Provinsi maupun Kemenkes.

Sistem Kewaspadaan Dini KLB di Indonesia Di lingkup nasional, Sistem Kewaspadaan Dini KLB diatur dalam beberapa peraturan, yang isinya merupakan realisasi di lingkup nasional dari peraturan-peraturan yang tertulis dalam IHR, kegiatan- kegiatan utama terkait GHSA dan NAPHS.

 Beberapa peraturan nasional terkait yaitu:

(11)

1. Undang-undang No. 6 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular. Peraturan ini memberikan informasi mengenai definisi serta hal-hal yang perlu dilakukan terkait peristiwa wabah penyakit menular.

2. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Peraturan ini menjelaskan kewajiban dan wewenang pemerintah dalam menetapkan dan mengumumkan penyakit- penyakit yang berpotensi menular dalam waktu yang singkat, serta melakukan langkah- langkah yang diperlukan.

3. Undang-Undang No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Peraturan ini menjelaskan mengenai definisi, kegiatan, dan wewenang pemerintah serta pihak-pihak yang terkait dalam karantina untuk kepentingan kesehatan masyarakat.

4. Permenkes No. 949/Menkes/SK/VIII/ 2004 mengenai pedoman penyelenggaraan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa (SKDKLB). Peraturan ini memberikan informasi secara rinci mengenai definisi operasional, unit-unit yang terlibat, dan kegiatan- kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing unit terkait SKD-KLB.

5. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.

Peraturan ini merinci jenis-jenis penyakit menular yang berpotensi menimbulkan wabah, serta upaya penanggulangannya yang melibatkan otoritas kesehatan dari semua tingkat.

6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Peraturan ini mengatur mengenai tatalaksana penyakit menular.

7. Peraturan Pemerintah 2/2018 tentang standar pelayanan minimal. Dalam peraturan ini, dicantumkan bahwa pelayanan kesehatan bagi penduduk pada kejadian luar biasa provinsi termasuk salah satu pelayanan dasar yang dinilai dalam standar pelayanan minimal.

8. Instruksi Presiden 4/2019 tentang peningkatan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons wabah penyakit, pandemic global, dan kedaruratan nuklir, biologi, dan kimia. Instruksi presiden ini memberikan arahan pihak-pihak mana saja di tingkat nasional dan sub-nasional yang berperan, serta peran dari masing-masing pihak dalam rangka meningkatkan kemampuan ketahanan nasional dalam menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat.

(12)

9. Peraturan Menteri Kesehatan No. 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan. Peraturan ini merupakan dasar dari pelaksanaan surveilans kesehatan dan respons. Berdasarkan permenkes 949/2004, Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya data meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, sedangkan wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Perbedaan utama wabah dan KLB yaitu wabah mencakup wilayah yang lebih luas, jumlah kasus yang lebih besar, waktu yang lebih lama, serta dampak yang lebih berat. Baik KLB maupun wabah penyakit tidak hanya dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang tinggi, tetapi juga dampak pada pariwisata, ekonomi dan sosial. KLB merupakan gejala awal akan terjadinya wabah, oleh karena itu, penentuan KLB memegang peran penting sebagai langkah awal untuk mencegah terjadinya wabah. Penanganan KLB membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kejadian KLB atau berpotensi KLB perlu dideteksi sedini mungkin diikuti oleh tindakan yang cepat dan tepat, sehingga dapat mencegah terjadinya dampak yang kesehatan maupun non-kesehatan yang besar.

B. Faktor faktor

I. Faktor faktor terjadi wabah

"Faktor-faktor tersebut merusak habitat alami dan memperlihatkan eksploitasi yang dilakukan oleh manusia ke spesies lain, yang membuat manusia semakin dekat dengan sumber penyakit. Jika telah ditularkan pada manusia, penyakit tersebut dapat menyebar cepat dalam dunia yang saling terhubung saat ini, seperti yang kita lihat terjadi pada kasus Covid-19," ungkap Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

Laporan tersebut menjelaskan bagaimana hewan seperti sapi, babi, dan ayam, sering dibesarkan dalam kondisi yang “tidak ideal” dalam level produksi yang tinggi serta cenderung serupa secara genetik, sehingga sangat rentan mengalami infeksi dibandingkan dalam populasi yang lebih beragam. Lebih parahnya lagi, mayoritas hewan ternak saat ini dibesarkan dalam peternakan pabrikasi, fasilitas yang dirancang untuk mengurung ribuan hewan dalam satu tempat dan tidak memberi ruang untuk adanya jarak fisik antar satu hewan dengan yang lainya. Di banyak negara berkembang,

(13)

seperti Indonesia, UNEP menyebutkan, terdapat peningkatan tajam terhadap konsumsi produk hewani, yang membuat produksi daging meningkat sebesar 260% dan telur 360% secara global dalam 50 tahun terakhir. Tidak pula mengagetkan bahwa, menurut laporan tersebut “Sejak tahun 1940, usaha dalam melakukan intensifikasi pertanian dan peternakan seperti, waduk, proyek irigasi, dan peternakan pabrikasi telah dikaitkan dengan lebih dari 25 persen dari semua penyakit–serta lebih dari 50 persen daripenyakit zoonosis menular yang telah muncul ke manusia.” UNEP juga menekankan adanya faktor risiko tambahan di negara berkembang, karena seringkali produksi hewan ternak berada di dekat kota, praktik biosekuriti dan peternakan yang dilakukan sering tidak memadai, limbah peternakan sering tidak dikelola dengan baik, juga obat antimikroba yang sering digunakan untuk menjadi tameng kondisi atau praktik yang buruk.

Kerusakan Lingkungan dan Peternakan Hewan Liar Selain itu, industri peternakan juga menjadi salah satu penyebab utama rusaknya lingkungan. "Sekitar sepertiga lahan pertanian digunakan untuk pakan hewan. Di beberapa negara hal ini menjadi faktor yang menyebabkan deforestasi," ungkap UNEP. Deforestasi memainkan peran utama yang memperparah perubahan iklim, satu faktor yang meningkatkan resiko wabah.

Pengrusakan hutan juga diasosiasikan dengan peningkatan penyakit menular seperti demam berdarah, malaria, dan penyakit penyakit kuning. Laporan tersebut juga melihat fakta, bukan hanya peningkatan permintaan daging tradisional saja yang tumbuh tetapi juga permintaan daging untuk hewan liar, yang menyebabkan spesies baru diternakkan.

Hal ini menjadi salah satu faktor yang menjelaskan munculnya SARS-CoV dan SARS- COV-2 di Asia Timur serta, penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) yang ditularkan melalui unta ke manusia, yang mengalami transisi produksi unta dari ekstensif ke sistem produksi intensif.

Awalnya MERS diidentifikasi terjadi di Arab Saudi dan telah menyebar ke 27 negara. LSM Minta Pemerintah Indonesia Ambil Tindakan Hasil temuan PBB, sangat didukung oleh Act for Farmed Animals, LSM yang mengadvokasi pola makan berbasis nabati. ”Kita tentunya akan hidup lebih berkelanjutan dan aman jika bukan karena protein hewani,” ungkap Dian Pitaloka, Manajer Kampanye di Sinergia Animal. “Kita tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada sistem pangan yang mengancam ekosistem dan kesehatan kita”.

(14)

LSM Act for Farmed Animals meluncurkan kampanye “Sebelum Terlambat”

yang meminta pemerintah Indonesia untuk mengambil aksi dalam mencegah wabah di masa depan dengan menghentikan deforestasi, menyetop penggunaan tidak bertanggung jawab obat-obatan yang digunakan di peternakan hewan dan mengubah sistem pangan yang tidak terlalu bergantung pada operasi intensif peternakan. Hal yang sama dilakukan oleh UNEP dengan pendekatan “one health”, sebagai metode yang menekankan pada pemahaman hubungan yang kompleks antara lingkungan, keanekaragaman hayati, masyarakat, dan penyakit manusia dengan menyatukan kesehatan publik, serta ilmu kedokteran hewan dan juga lingkungan. Hal tersebut penting, menurut PBB, bukan hanya untuk merespon wabah masa depan juga untuk mencegah wabah baru.

II. Factor factor terjadi nya Kejadian Luar Biasa

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1501/MENKES/PER/X/2010, penyakit menular tertentu yang menimbulkan wabah adalah:

1. Kholera 2. Pes

3. Demam berdarah 4. Campak

5. Polio 6. Difteri 7. Pertusis 8. Rabies 9. Malaria

10. Avian Influenza H5N1

Penyakit-penyakit berpotensi Wabah/KLB:

1) Penyakit karantina/penyakit wabah penting: kholera, pes, yellow fever.

2) Penyakit potensi wabah/KLB yang menjalar dalam waktu cepat/ mempunyai memerlukantindakan segera: DHF, campak, rabies, tetanus neonatorum, diare, pertusis, poliomyelitis.

3) Penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan beberapa penyakit penting: malaria, frambosia,influenza, anthrax, hepatitis, typhus abdominalis, meningitis, keracunan, encephalitis, tetanus.

(15)

4) Penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi wabah dan atau KLB, tetapi masuk program: kecacingan, kusta, tuberkulosa, syphilis, gonorrhoe, filariasis, dan lain-lain.

 Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) Menurut Notoatmojo (2003), faktor yang mempengaruhi timbulnya Kejadian Luar Biasa adalah:

1. Herd Immunity yang rendah

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/ wabah adalah herd immunity. Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity ialah kekebalan yang dimiliki oleh sebagian penduduk yang dapat menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan tingkatkekebalan individu. Makin tinggi tingkat kekebalan seseorang, makin sulit terkena penyakit tersebut.

2. Patogenesitas

Patogenesitas merupakan kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.

3. Lingkungan Yang Buruk

Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme, tetapi mempengaruhi kehidupan ataupun perkembangan organisme tersebut.

III. Faktor faktor terjadinya Respon dini

Faktor-faktor yang memengaruhi respon dini terhadap suatu situasi atau peristiwa dapat bervariasi tergantung pada konteksnya. Berikut beberapa faktor yang relevan:

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR): SKDR adalah suatu sistem yang memantau perkembangan tren penyakit menular potensial, seperti kejadian luar biasa (KLB) atau wabah, dari waktu ke waktu. Sistem ini memberikan sinyal peringatan kepada pengelola program jika kasus melebihi nilai ambang batas, mendorong respons cepat untuk mencegah KLB.

faktor Genetik: Faktor keturunan atau genetik memainkan peran penting dalam respon dini. Jenis kelamin dan suku bangsa adalah contoh faktor genetik yang tidak dapat diubah.

Faktor Lingkungan Pranatal dan Postnatal: Lingkungan sebelum dan setelah kelahiran juga memengaruhi respon dini. Gizi selama kehamilan dan lingkungan pasca kelahiran dapat memengaruhi perkembangan anak.

 Pendidikan dan Pengetahuan: Tingkat pendidikan dan pengetahuan individu memengaruhi kemampuan mereka dalam merespons situasi dengan cepat dan efektif.

(16)

 Ketersediaan Sumber Daya: Akses terhadap fasilitas kesehatan, informasi, dan dukungan memengaruhi kemampuan seseorang untuk merespons dini terhadap ancaman kesehatan.

 Kesadaran dan Kesiapan: Kesadaran akan risiko dan kesiapan untuk mengambil tindakan memainkan peran penting dalam respon dini.

Ingatlah bahwa faktor-faktor ini saling terkait dan dapat berbeda tergantung pada situasi yang dihadapi. Semakin baik kita memahami faktor-faktor ini, semakin efektif kita dapat merespons dini terhadap perubahan dan ancaman.

C. Cara penanggulangan wabah, Kejadian Luar Biasa dan Respon dini

Penanggulangan wabah, kejadian luar biasa (KLB), dan respon dini merupakan langkah-langkah penting dalam menghadapi situasi kesehatan yang darurat. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat diambil:

1. Penyelidikan Epidemiologi:

Melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab wabah atau KLB.

Menentukan sumber penularan dan mengisolasi penderita.

Menganalisis pola penyebaran penyakit.

2. Pencegahan dan Pengendalian:

Menginformasikan masyarakat tentang tindakan pencegahan.

Memberlakukan karantina bagi penderita dan kontak erat.

Memastikan pemusnahan penyebab penyakit.

3. Penyuluhan kepada Masyarakat:

Edukasi tentang gejala, penularan, dan cara pencegahan.

Mengajak masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus yang mencurigakan.

4. Respon Cepat:

Membentuk tim khusus yang siap tanggap dalam menghadapi wabah.

Mengkoordinasikan dengan pihak terkait untuk mengambil tindakan segera.

(17)
(18)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Wabah penyakit menular merupakan fenomena yang mempengaruhi kesehatan manusia dan hewan, yang memerlukan upaya penanggulangan yang efektif. Upaya penanggulangan wabah melibatkan penyelidikan epidemiologi, pemutusan mata rantai penularan penyakit, dan perbaikan faktor risiko. Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) sangat penting dalam mendeteksi dini dan merespons ancaman penyakit potensial KLB/wabah. Undang-Undang No. 4 Tahun 1984 mengatur beberapa pengertian, seperti wabah penyakit menular, daerah wabah, upaya penanggulangan, dan kejadian luar biasa. Respon dini merupakan langkah yang sangat penting dalam mengurangi dampak wabah dan kejadian luar biasa, yang melibatkan deteksi dini dan merespons ancaman penyakit potensial KLB/wabah. Upaya penanggulangan wabah dan kejadian luar biasa harus dilakukan secara bersama antara pemerintah, masyarakat, dan institusi kesehatan.

Penanggulangan wabah dan kejadian luar biasa memerlukan keterlibatan profesional dalam bidang kesehatan, seperti dokter, petugas kesehatan, dan ahli epidemiologi.

Respon dini merupakan langkah yang sangat penting dalam mengurangi dampak wabah dan kejadian luar biasa, yang melibatkan deteksi dini dan merespons ancaman penyakit potensial KLB/wabah. Upaya penanggulangan wabah dan kejadian luar biasa harus dilakukan secara bersama antara pemerintah, masyarakat, dan institusi kesehatan.

Penanggulangan wabah dan kejadian luar biasa memerlukan keterlibatan profesional dalam bidang kesehatan, seperti dokter, petugas kesehatan, dan ahli epidemiologi.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Dipna Videlia Putsanra , 2020, 4 Faktor yang Bisa Memunculkan Wabah Baru Seperti Corona

UU No 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular

PP No 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .

Kep Menkes No. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelengaraan Sistim Surveilans Epidemiologi Kesehatan.

Kep Menkes No 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sisitim Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular

Yatin Suleha, 2020 Ketahui Beda Wabah, Pandemik, Endemik, dan Epidemik

Referensi

Dokumen terkait

Potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Dinas Kesehatan Kabupaten. Karanganyar

Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir Januari tahun 2016, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD

- Pengelolaan Pelayanan Kesehatan bagi Penduduk pada Kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) (UPTD Puskesmas Pondok Sukmajaya) - Pengelolaan Pelayanan Kesehatan bagi. Penduduk pada

Abstrak: Diare masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh dunia dengan kejadian yang tinggi lebih banyak terjadi pada bayi dan

Hal inilah yang menarik perhatian dunia internasional World Health Organization(WHO) mendefinisikan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan atau dikenal

Untuk mencapai sasaran 2 yaitu Meningkatnya status kesehatan ibu,bayi,balita serta menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit dan bencana dengan

Berdampak yang lebih serius seperti kekurangan gizi, timbulnya kecacatan, timbulnya angka kesakitan dan bahkan terjadinya kematian [7] Pemberdayaan perempuan Nelayan di Kuwu Pabean

PENGERTIAN • KEWAS- SITUASI PADAAN KRITIS EPIDEMI OUTBREAK K L B WABAH MENINGKATNYA KEJADIAN KESAKITAN / KEMATIAN DARI YANG TIDAK DIHARAPKAN DI SUATU DAERAH PADA SUATU KELOMPOK