MAKALAH
BAB 1 PENDAHULUAN
(PERMASALAHAN PENELITIAN DAN PENEGASAN ISTILAH)
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“METODOLOGI PENELITIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM”
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I Prof. Dr. H. Achmad Patoni, M.Ag
Disusun Oleh:
Alfi Mardhiyatus Staniyah 1880501230026
PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH
TULUNGAGUNG
SEPTEMBER 2023
2 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dapat dilihat sebagai objek kajian interdisiplin yang menurut Mc Millan dan Schumacher (1984) banyak meminjam konsep dan teori bidang ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi, politik, dan ekonomi. Metode yang digunakan dalam penelitian pendidikan juga mengacu pada metodologi yang lazim digunakan di berbagai bidang ilmu tersebut. 1
Penelitian pendidikan adalah upaya ilmiah untuk memahami beragam masalah pendidikan dan fenomena yang ada di dunia pendidikan. Fenomena merujuk pada masalah yang muncul dalam sistem pendidikan formal, non-formal, maupun in-formal. Masalah ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Hampir setiap aspek dari ketiga sistem pendidikan tersebut mempunyai peluang untuk muncul menjadi masalah yang layak teliti. 2
Manajemen Pendidikan Islam merupakan disiplin yang krusial dalam mengelola lembaga-lembaga pendidikan Islam, termasuk madrasah, pesantren, dan sekolah-sekolah Islam. Di tengah perkembangan dunia pendidikan yang dinamis, tuntutan terhadap peningkatan kualitas dan efektivitas manajemen pendidikan Islam semakin mendesak3. Bab 1 pendahuluan dalam penelitian adalah fondasi dari seluruh karya ilmiah, yang harus memberikan gambaran menyeluruh tentang latar belakang, masalah, tujuan dan penegasan istilah pada penelitian. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat tentang pedoman penulisan Bab 1 menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa penelitian dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam berjalan dengan baik dan menghasilkan kontribusi yang berarti.
1 M Toha Angoro,dkk., Metode Penelitian (Edisi 2), (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2021), Modul 1, 1.7
2 Ervin Siwi Arti, Pengembangan Jurnal Belajar Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Praktek Matakuliah Metodelogi Penelitian, Vol. 1 No. 1, Education Journal : Journal Educational Research and Development, Februari 2017, 10.
3 Muslim dan Garianto, Spectrum Of Islamic Education Management, Vol 2 No 1, RJIEM:
ROQOOBA Journal Of Islamic Education Management, 2022, 52. http://journal.iai- agussalimmetro.ac.id/index.php/ROQOOBA
3
Peneliti di bidang Manajemen Pendidikan Islam seringkali dihadapkan pada kompleksitas dalam merumuskan latar belakang masalah yang relevan dan aktual.
Keadaan sosial, budaya, dan ekonomi yang berkembang pesat di berbagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim menjadikan tantangan tersendiri dalam konteks pendidikan Islam.4 Kurangnya pemahaman pada pedoman atau sistematika penulisan yang jelas dalam menulis Bab 1 pendahuluan dapat membuat peneliti kesulitan dalam merinci kerangka pemikiran yang akan digunakan sebagai landasan teoritis dan konseptual dalam penelitian mereka.
Selain itu, pentingnya Bab 1 pendahuluan dalam penelitian Manajemen Pendidikan Islam juga terkait dengan kebutuhan untuk mengidentifikasi permasalahan utama yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam. Permasalahan ini mungkin melibatkan aspek manajemen sumber daya manusia, pengelolaan kurikulum, peran lembaga pendidikan dalam masyarakat, dan sebagainya5. Bab 1 harus mampu menguraikan secara komprehensif dan mendalam permasalahan yang akan menjadi fokus penelitian, sehingga dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Oleh karena itu, dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam, penelitian yang berkualitas dan berdasarkan pedoman yang benar sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam secara keseluruhan. Manajemen yang efektif dan berbasis penelitian dapat membantu lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk lebih baik dalam mencapai tujuan mereka, yaitu memberikan pendidikan berkualitas yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang pedoman penulisan Bab 1 pendahuluan adalah langkah awal yang krusial dalam menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan sebelumnya, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
4 Besse Ruhaya, Fungsi Manajemen Terhadap Pendidikan Islam, Vol. 7, No. 1, Maret 221,
Risâlah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 126,
https://jurnal.faiunwir.ac.id/index.php/Jurnal_Risalah
5 Muslim dan Garianto, Spectrum Of Islamic Education Management, ………, 53
4
1. Bagaimana sistematika penulisan tesis pada bab 1 pndahuluan?
2. Bagaimana definisi permasalahan penelitian?
3. Bagaimana definisi penegasan istilah dalam penelitian?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang serta rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan mendefinisikan sistematika penulisan tesis pada bab 1 pndahuluan.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan definisi permasalahan penelitian.
3. Untuk mengetahui dan mendefinisikan penegasan istilah dalam penelitian.
BAB II PEMBAHASAN A. Sistematika Penulisan Tesis
Sistematika penulisan tesis adalah cara menempatkan unsur-unsur tesis dan urutannya, sehingga merupakan satu kesatuan karya ilmiah yang tersusun secara sistematis, logis, dan komprehensif. Tesis terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian utama (inti), dan bagian akhir.
1. Bagian Awal
Bagian awal mencakup sampul, judul, persetujuan, pengesahan, motto (jika ada), persembahan, prakata, daftar tabel (jika ada), daftar gambar (jika ada), daftar lambang dan singkatan, daftar lampiran, pedoman transliterasi huruf Arab-Latin, abstrak, dan daftar isi.
2. Bagian Inti/Utama Penelitian Kualitatif
Pada bagian ini memuat tentang; (1) Bab I: pendahuluan, (2) Bab II: kajian pustaka, (3) Bab III: metode penelitian, (4) Bab IV: paparan data/temuan penelitian, (5) Bab V: pembahasan, (6) Bab VI: penutup.
a. Bab I Pendahuluan
Pada bab pendahuluan ini memuat konteks penelitian, fokus penelitian dan pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, dan sistematika pembahasan.
5
1) Konteks Penelitian/Latar Belakang Masalah. Konteks penelitian/latar belakang masalah, berisi tentang penjelasan mengenai problematika yang akan diteliti dan alasan mengapa masalah yang dikemukakan menarik, penting dan perlu diteliti, serta belum pernah dipecahkan oleh peneliti terdahulu.
2) Fokus Penelitian dan Pertanyaan Penelitian. Fokus penelitian berupa sebuah pernyataan tentang scope (cakupan) inti yang akan digali dan dikaji dalam penelitian. Pertanyaan penelitian berupa pertanyaan- pertanyaan yang akan dicari jawabannya dalam penelitian. Dalam istilah lain adalah rumusan masalah.
3) Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam penelitian. Tujuan penelitian mengacu pada isi pertanyaan penelitian. Tujuan penelitian dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan.
4) Kegunaan Penelitian. Pada bagian ini peneliti menjelaskan kontribusi yang akan diberikan setelah selesai penelitiannya. Kegunaan penelitian mencakup kegunaan teoritis dan praktis. Adapun kegunaan teoritis yaitu kegunaan yang berkaitan dengan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan kegunaan praktis, yaitu kegunaan bagi instansi dan masyarakat serta peneliti berikutnya baik secara umum maupun khusus. Kegunaan penelitian ini berupa pernyataan riil dan tidak mengada-ada. Kegunaan penelitian harus singkron dengan saran-saran (rekomendasi) di bab penutup.
5) Penegasan Istilah. Istilah-istilah yang perlu ditegaskan dalam bagian ini adalah istilah yang mengandung interpretasi beragam. Istilah yang digunakan dalam penelitian harus ditegaskan secara konseptual dan operasional. Istilah yang ditegaskan adalah istilah-istilah yang mengarah pada fokus penelitian dan menjelaskan pengertian judul yang dimaksudkan oleh peneliti. Penegasan istilah bukan penegasan kata, meskipun terkadang ada suatu istilah hanya terdiri dari satu kata, seperti istilah ‘paradigma’ dan bukan pengertian dari kamus.
6 3. Bagian Akhir
Bagian akhir tesis memuat daftar rujukan, lampiran-lampiran, dan biodata peneliti.6
B. Permasalahan Penelitian
Proses penelitian selalu dimulai dari adanya masalah yang ingin dipecahkan. Sering kali berbagai gejala dan fenomena yang terlihat pada suatu persoalan tidak mudah untuk diidentifikasi. Kemampuan untuk mengidentifikasi suatu persoalan banyak ditentukan oleh pengalaman dan kecermatan pengamatan seorang peneliti. Sebagai contoh, sebuah gejala yang oleh orang awam dilihat sebagai hal yang biasa, oleh seorang peneliti mungkin dapat dilihat sebagai hal yang tidak biasa dan dapat merupakan masalah penelitian.
1. Masalah, Topik, Tujuan, Rumusan Masalah
Masalah penelitian adalah kesenjangan, kontroversi atau kekhawatiran yang memandu dan mengarahkan kebutuhan untuk melakukan penelitian.
Masalah penelitian pendidikan yang baik dapat ditemukan dalam latar pendidikan kita, seperti peningkatan kekerasan di kampus-kampus, kurangnya keterlibatan orang tua di sekolah untuk siswa dengan anomali perilaku. Dalam menulis tentang masalah penelitian, peneliti merumuskan dalam satu kalimat atau beberapa kalimat dalam sebuah proposal atau laporan penelitian. Untuk menemukan masalah, coba mulai dengan bertanya pada diri sendiri, Apa masalahnya? Apa yang menjadi kontroversi yang menyebabkan kebutuhan untuk studi ini?
Untuk lebih memahami masalah penelitian, Anda harus mampu membedakan dari bagian lain dalam proses penelitian. Rumusan masalah penelitian berbeda dari topik penelitian. Dalam definisi singkat maka perbedaan di antara bagian-bagian dari penelitian tersebut sebagai berikut: (1) topik penelitian merupakan subjek yang luas yang akan digarap dalam sebuah penelitian; (2) masalah adalah kesenjangan, kekhawatiran, atau kontroversi dibahas dalam penelitian yang lebih sempit dari topik; (3) tujuan penelitian
6 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Tesis Dan Makalah Pascasarjana IAIN Tulungagung Tahun Akademik 2021/2022, (Tulungagung: Institut Agama Islam Negeri Tulungagung), 51-53.
7
adalah arah dari penelitian yang akan digunakan untuk membahas dan menjawab masalah; (4) rumusan masalah atau pertanyaan penelitian dirumuskan lebih spesifik ke pertanyaan yang ingin dijawab atau dibahas dalam penelitian ini.7 Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh berikut:
Umum => Spesifik
Topik : Pembelajaran jarak jauh
Masalah : Kesenjangan mahasiswa di kelas jarak jauh Tujuan :Untuk mengkaji mengapa mahasiswa tidak
menghadiri kelas jarak jauh di UPBJJ (Unit Program Belajar Jarak Jauh)
Rumusan masalah :Apakah penggunaan teknologi Website mampu mengatasi kesulitan mahasiswa untuk mendaftar di kelas pendidikan jarak jauh?
2. Identifikasi Masalah
Di bidang ilmu apa pun, tak terkecuali pendidikan, masalah selalu ada dan tak terhitung jumlahnya. Meskipun demikian, kita seringkali mengalami kesulitan untuk menemukan masalah yang hendak diteliti. Mengapa demikian?
Apakah kita tidak memahami apa yang dimaksud dengan masalah? Dalam arti luas, masalah sebenarnya adalah semua bentuk pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Walaupun masalah merupakan titik tolak untuk melakukan penelitian, tidak semua masalah dapat dijadikan objek untuk diteliti dan hal ini dapat diketahui dari karakteristik masalah itu sendiri.
Terdapat tiga karakteristik yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi masalah. Pertama adalah masalah tersebut ‘layak teliti’. Arti layak teliti di sini adalah pengkajian terhadap masalah tersebut dapat dilakukan dengan cara yang terukur secara empiris melalui pengumpulan dan pengolahan data. Masalah yang berkaitan dengan isu filosofis dan etika atau moral tidak dapat dikategorikan masalah yang layak teliti dalam konteks pembahasan kita di sini.
Masalah yang menyangkut nilai ideal atau luhur sering kali sangat sulit untuk
7 Basuki Wibawa, Metode Penelitian Pendidikan, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2014), Modul 2, 2.10 - 2.11
8
diukur dibanding dengan masalah di seputar sikap dan kinerja para pelaku pendidikan.
Karakteristik kedua adalah sifat dari masalah tersebut, yakni mempunyai nilai teoretis dan praktis. Suatu masalah penelitian yang baik pada hakikatnya diangkat dari teori yang kuat atau mempunyai dampak praktis yang dapat memperbaiki praktik atau penyelenggaraan pendidikan. Tergantung dari kepekaan, sebenarnya ketika mengidentifikasi masalah Anda dapat menguji masalah tersebut dengan pertanyaan apakah dampaknya apabila masalah tersebut terpecahkan. Apabila jawabannya adalah: 'orang tak akan peduli', maka itu suatu indikasi bahwa Anda perlu mencari masalah yang lebih bermakna untuk diteliti.
Karakteristik ketiga adalah realistis. Pengertian realistis di sini sangat luas, antara lain meliputi keterjangkauan dalam hal kedalaman bekal konsep serta ketersediaan waktu, tenaga, dan biaya. Bekal berupa penguasaan konsep atau teori dan seluruh pengalaman Anda selama berkecimpung dalam dunia pendidikan akan menentukan mutu penelitian Anda. Jika Anda meneliti masalah di bidang yang Anda kuasai yang Anda tahu betul medannya maka peluang terjadinya penyimpangan baik dari segi metode maupun analisis akan kecil sekali. Artinya, penelitian Anda di tingkat tersebut akan cukup handal.
Sebaliknya, bila Anda memaksakan tingkat bekal teori Anda untuk meneliti masalah yang jauh di luar jangkauan bekal teori tersebut maka Anda akan mengalami banyak kesulitan dan hasil penelitian Anda dapat dipertanyakan orang. Aspek lain yang tak kalah penting dalam konteks realistis ini adalah ketersediaan waktu, tenaga, dan biaya. Ketiga aspek ini saling berkaitan. Biaya merupakan faktor cukup penting dalam menunjang keberhasilan suatu penelitian. Sering kali waktu dan tenaga dipengaruhi oleh keterbatasan biaya atau dana. Jika dana yang tersedia cukup besar, maka ruang lingkup aspek yang dikaji dapat ditingkatkan lebih luas atau lebih mendalam, durasi penelitian dapat diperpanjang, dan jumlah tenaga dapat ditingkatkan.
Selain tiga aspek utama tersebut, beberapa pertimbangan lain yang perlu dipertimbangkan ketika Anda mengidentifikasi masalah penelitian adalah
9
keaktualan dan kebaruan atau orisinilitas. Jika masalah yang Anda teliti merupakan masalah yang aktual atau yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan masyarakat maka nilai penelitian Anda akan lebih tinggi.
Demikian pula apabila masalah yang ingin Anda teliti itu betul-betul baru atau orisinil. Namun, hal ini tidak berarti bahwa melakukan penelitian tentang masalah yang muncul di masa lalu atau mengulang suatu penelitian yang pernah dilakukan orang lain merupakan penelitian yang kurang bernilai.
Penelitian semacam ini masih mempunyai nilai yang cukup tinggi apabila ditempatkan pada perspektif untuk kepentingan historis atau kepentingan verifikasi teori yang sudah ada.8
Permasalahan penelitian umumnya dapat diketemukan melalui beberapa sumber, diantaranya:
a. Bacaan: biasanya berasal dari jurnal dan laporan penelitian. Adanya rekomendasi untuk penelitian lanjutan yang diusulkan oleh penelitian terdahulu lebih banyak daripada yang sudah terjawab.
b. Diskusi seminar dan pertemuan ilmiah: Dalam pertemuan semacam ini pada umumnya hadir para pakar yang mampu melihat permasalahan secara profesional sehingga mudah untuk mengidentifikasi masalah yang lain.
c. Pertanyaan pemegang otoritas: Para pemegang otoritas, baik dari pemerintahan maupun bidang keilmuan, umumnya memang mampu melihat permasalahan secara lebih jelas. Pemegang otoritas dari pemerintahan memang harus berhadapan dengan permasalahan secara langsung sedangkan pemegang otoritas ilmiah, karena keahliannya juga memiliki kemampuan yang tinggi untuk melihat masalah. Karena itujika pemegang otoritas menunjukkan adanya masalah berarti masalah tersebut memang betul-betul ada minimal ditinjau dari sudut pandang pemegang otoritas. Contoh: Pernyataan Presiden bahwa korupsi di Indonesia perlu diberantas
8 M Toha Angoro,dkk., Metode Penelitian (Edisi 2), ……….. Modul 1, 1.18 - 1.19
10
d. Pengamatan sepintas: Ilham yang muncul secara tiba-tiba karena melihat sesuatu tanpa rencana untuk menemukan masalah. Contoh: Penemuan konstruksi fondasi Cakar Ayam oleh Prof Sediyatmo, penemuan gaya gravitasi oleh A. Newton ketika melihat apel yang jatuh dari pohonnya, penemuan termometer oleh Galileo Galilei.
e. Institusi: Permasalahan yang muncul tiba-tiba, berupa ilham, karena terjadi penggabungan informasi yang berkaitan dengan suatu masalah, sehingga masalah bisa terbentuk. Berbeda dengan poin d, munculnya ilham tidak perlu karena seseorang sebelumnya melihat sesuatu
f. Pengalaman Pribadi: Perjalanan hidup seseorang maupun keterampilan/keahliannya sehingga dapat mengakibatkan mampu melihat permasalahan. Contoh: Anak seorang pengusaha kecil yang bangkrut kemudian ingin melakukan penelitian tentang karakteristik usaha kecil yang baik.9
3. Pemilihan Masalah
Dalam menentukan masalah penelitian, calon peneliti harus mencoba mendaftar semua kemungkinan pertanyaan yang dapat digali atau langsung menentukan sejumlah pertanyaan tentang masalah yang akan diteliti.
Umumnya dalam menentukan masalah ada 2 cara yaitu:
a. Peneliti (calon peneliti) dapat saja langsung menentukan sejumlah pertanyaan yang menurutnya sangat penting. Cara ini lebih singkat dan tidak menyita waktu. Tetapi, kelemahan yang timbul adalah pikiran yang datang dengan tiba-tiba dapat saja cukup baik dan tepat tetapi sering kali kurang cermat. Hal ini akhirnya dapat dideteksi bila peneliti sudah sampai pada tahap pengumpulan data, di mana data yang diperoleh tidak sesuai dengan pertanyaan penelitian semula.
b. Peneliti membuat daftar pertanyaan yang mungkin penting dan dapat dijawab melalui penelitian yang akan dilakukan. Kelebihan cara ini adalah peneliti dapat mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan
9 Prasetya Irawan, dkk., Metodelogi Penelitian (Edisi 2), (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2022), Modul 3, 3.5
11
masing-masing pertanyaan dan dengan tenang dapat mempertimbangkan sehingga didapat pertanyaan yang terbaik.
Dalam memilih masalah (pertanyaan penelitian) seorang peneliti harus peka terhadap lingkungannya sehingga dapat merasakan banyak permasalahan di sekelilingnya. Dengan banyaknya pertanyaan yang berhasil dikumpulkan, peneliti akan lebih leluasa mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan penelitiannya.10
Sebagai contoh adalah bila seorang peneliti yang kebetulan seorang guru SMU melihat nilai rata-rata rapor muridnya menurun dibanding semester yang lalu. Peneliti tersebut melihat akibatnya yaitu penurunan nilai rata-rata rapor merupakan gejala, tetapi pertanyaan sebenarnya bukan itu. Penurunan nilai rata-rata rapor tersebut dapat saja terjadi karena:
a. berkurangnya motivasi belajar siswa;
b. berkurangnya waktu belajar siswa (mungkin karena terlalu banyak bermain, harus bekerja mencari nafkah, waktu tempuh yang lama antara rumah - sekolah sehingga mengurangi waktu belajar dan sebagainya);
c. berkurangnya perhatian kedua orang tua (karena keduanya sibuk bekerja);
d. sistem belajar mengajar yang menurun mutunya (karena guru-guru relatif lebih sibuk mencari tambahan di luar, dan disiplin yang kurang tepat) Peneliti dianjurkan untuk memilih masalah penelitian yang sesuai dengan bidang ilmunya karena untuk dapat melaksanakan kegiatan penelitian dengan baik, seseorang harus menguasai 2 hal yaitu:
a. materi dari bidang ilmu yang akan diteliti;
b. metodologi (teknik) untuk melakukan penelitian dengan benar.11
Supaya kegiatan penelitian berjalan lancar, permasalahan yang dipilih harus sesuai dengan minat dan kemampuan calon peneliti.
4. Memfokuskan Masalah
10 Ibid., Modul 3, 3.7
11 Ibid., Modul 3, 3.8
12
Apa yang perlu dilakukan apabila sudah mempunyai banyak masalah yang layak untuk diteliti? Apakah akan meneliti semua masalah itu? Tentu tidak.
Langkah yang perlu dilakukan adalah memfokuskan masalah. Mengapa? Suatu masalah yang bersifat terlalu umum dan banyak jumlahnya kelak akan menyulitkan apabila masalah tersebut tidak difokuskan sejak awal. Pengertian memfokuskan di sini adalah memilih dan menentukan masalah yang diminati dan menguraikan masalah yang terlalu umum tersebut menjadi masalah yang spesifik. Jika hal ini tidak dilakukan maka Anda akan menghabiskan waktu yang sangat banyak (dan tidak perlu) ketika Anda melakukan studi literatur.
Anda akan repot sendiri karena topik yang hendak Anda kaji akan melebar ke mana-mana. Tidak hanya sampai di sini kesulitan tersebut akan berlanjut ke tahapan berikutnya dalam proses penelitian itu sendiri seperti penentuan tujuan, hipotesis, metodologi, serta pengumpulan dan pengolahan data.
Bagaimana cara memfokuskan masalah? Bagi para peneliti yang sudah berpengalaman memfokuskan masalah mungkin bukan hal yang sulit karena instingnya telah bekerja dengan baik. Bagi yang belum berpengalaman, pendekatan sistematis dengan cara melakukan klasifikasi masalah akan banyak membantu. Berikut ini adalah contoh teknik mengklasifikasi masalah untuk mendapatkan masalah yang spesifik yang dikemukakan oleh Tuckman (1978) Ia menyajikan dua contoh diagram yang masing- masing dinamakan Model Satu Dimensi (Gambar 1.1) dan Model Tiga Dimensi (Tabel 1.4) sebagai alat bantu untuk memfokuskan masalah. Mari kita lihat model pertama terlebih dahulu
13
Tampak pada Gambar 1.1. beberapa kategori masalah pendidikan. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa gambar tersebut sekedar contoh ilustrasi dasar dan kategori tersebut tidak mutlak. Anda dapat membuat sendiri secara bebas sesuai dengan kerangka teori dan rujukan konsep yang Anda miliki. Setelah membuat dan melihat skema masalah di atas maka:
1. Pertanyaan yang perlu Anda ajukan adalah kategori masalah apakah yang paling menarik untuk saya teliti? dan kategori masalah apakah yang saya kuasai atau mampu? Misalnya jawaban Anda atas pertanyaan tersebut adalah "Alat dan Bahan Instruksional"
2. Langkah selanjutnya yang perlu Anda lakukan adalah mengurai kategori tersebut menjadi sub-kategori yang lebih kecil seperti (1) alat dan bahan instruksional cetak dan (2) alat dan bahan instruksional elektronik (bisa juga istilah tersebut dinamakan cetak dan non-cetak atau elektronik dan non-elektronik). Alat dan Bahan Instruksional Elekronik misalnya masih bisa diurai lagi menjadi radio, kaset, televisi, video, dan computer.
3. Sampai di sini pertanyaan lanjutan yang perlu Anda tanyakan adalah mirip dengan pertanyaan sebelumnya dan hanya tingkat detailnya yang berbeda:
manakah di antara sub-kategori tersebut yang paling menarik untuk saya teliti? Jika Anda sudah menemukan jawabannya (misal komputer)
4. maka Anda bisa melanjutkan dengan memilih aspek instruksional yang Anda sukai (misal: dampak terhadap prestasi belajar siswa).
5. Dengan demikian masalah yang akan diteliti akan fokus pada evaluasi dampak penggunaan alat dan bahan instruksional berbantuan komputer terhadap prestasi belajar siswa. Dengan demikian tergambar desain penelitian yang akan dilakukan seperti sampel, alat ukur, teknik pengumpulan data
Bagaimana dengan model kedua? Model kedua sebenarnya merupakan elaborasi dari model pertama. Dalam model tersebut jumlah jenis kategori yang dipetakan lebih banyak karena masalah penelitian pendidikan ditempatkan dalam perspektif masukan, proses, dan keluaran dalam suatu sistem Pendidikan. Bentuk diagram model kedua adalah seperti pada Tabel 1.4
14
Tampak pada Tabel 1.4. tiga kolom yang masing-masing merupakan kategori masukan, aktivitas, dan keluaran. Agak berbeda dengan penggunaan diagram yang terdapat pada Model pertama,
1. pada Model kedua ini Anda dapat menentukan pada bidang atau kategori apa Anda tertarik dan
2. kemudian setelah itu baru menghubungkan dengan bidang atau kategori lain yang terdapat pada kolom yang berbeda.
3. Anda dapat memulainya dari kolom atau kategori yang mana pun dan terkadang pada awalnya mungkin Anda hanya menggunakan dua kolom yang Anda perlukan.
Cara menggunakan diagram tersebut sebagai alat bantu untuk memfokuskan masalah kurang lebih sebagai berikut. Misalnya:
1. Anda tertarik dengan topik "Pengembangan Karier Akademis" atau
"Peningkatan Prestasi Belajar".
2. Berarti Anda masuk ke dalam kolom atau kategori tiga "Pemenuhan Kebutuhan Individu".
3. Setelah itu, Anda dapat masuk ke kolom dua dan melihat ke salah satu sub- kategori dan sebelum masuk ke sub-kategori tersebut, mungkin Anda akan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu misalnya: Bagaimana agar saya dapat meningkatkan prestasi belajar secara efektif? Pertanyaan ini dapat memandu Anda ke salah satu sub-kategori, misalnya "Jasa".
15
4. Mungkin Anda bertanya, "Jasa apa?" Dalam hal ini, yang dimaksud jasa tentu saja adalah jasa yang relevan dengan peningkatan prestasi belajar dan salah satu contoh jasa tersebut misalnya adalah jasa yang diberikan oleh Kelompok Bimbingan Belajar.
5. Dengan demikian, pertanyaan Anda menjadi: "Apakah seseorang yang bergabung dengan Kelompok Bimbingan Belajar lebih berprestasi dibandingkan dengan yang tidak bergabung?"
6. Jika Anda menghubungkan komponen pertanyaan yang berasal dari dua kolom sebelumnya tersebut dengan kolom pertama maka Anda akan dipandu masuk ke dalam sub-kategori yang terdapat pada kelompok satu.
Hal yang terakhir ini agak lebih mudah. Apabila yang ingin Anda teliti adalah siswa atau calon siswa maka Anda tinggal mengganti kata
"seseorang" pada pertanyaan tersebut dengan kata "siswa" sehingga pertanyaannya menjadi: Apakah siswa yang pernah bergabung dengan Kelompok Bimbingan Belajar lebih berprestasi di bandingkan yang tidak?
7. Dari sini, Anda juga dapat memodifikasi kata "lebih berprestasi" dengan kata "mempunyai strategi belajar yang berbeda", "lebih efisien dalam mengatur waktu", "lebih mandiri" dan sebagainya.12
Jika seseorang akan melakukan penelitian maka harus ada masalah penelitian yang akan dipecahkan. Masalah timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian atau kebingungan terhadap suatu fenomena, kesenjangan baik antar kegiatan, antar fenomena yang ada. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah itu atau setidak-tidaknya sedikit menutup kesenjangan yang terjadi. Oleh karenanya, peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya, mengajukan serta merumuskannya dengan benar, dengan demikian dapat memudahkan memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut.
5. Rumusan Masalah
12 M Toha Angoro,dkk., Metode Penelitian (Edisi 2), ……….. Modul 1, 1.20 – 1.22
16
Rangkaian langkah yang ditempuh dalam proses memfokuskan masalah dengan cara di atas sebenarnya sudah merupakan sebagian besar dari proses perumusan masalah. Pada Model Pertama untuk memfokuskan masalah, Anda dapat membatasi masalah yang hendak diteliti dan mengungkapkan hal tersebut dengan pernyataan "Evaluasi terhadap dampak pembuatan alat dan bahan instruksional berbantuan komputer terhadap prestasi belajar siswa".
Pada Model Kedua, pemfokusan masalah tersebut Anda ungkapkan dalam bentuk pertanyaan "Apakah siswa yang pernah bergabung dengan Kelompok Bimbingan Belajar lebih berprestasi dibandingkan dengan yang tidak?".
Perbedaan antara memfokuskan masalah dengan merumuskan masalah adalah memfokuskan masalah bersifat membatasi agar aspek yang diteliti tidak melebar kemana-mana sedangkan perumusan masalah adalah mengekspresikan aspek yang hendak dikaji tersebut dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan yang spesifik.
Sebagian peneliti percaya bahwa perumusan masalah dengan bentuk pertanyaan lebih baik daripada dengan pernyataan sementara sebagian peneliti yang lain percaya bahwa perumusan masalah dalam bentuk pernyataan lebih baik dari pada dalam bentuk pertanyaan. Rumusan dalam bentuk pertanyaan memang memberikan kesan lebih tajam dan langsung. Bandingkan perumusan contoh kedua bentuk perumusan masalah berikut ini.
a. Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah dampak pengajaran matematika dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu pengajaran terhadap prestasi belajar matematika pada siswa kelas 4 SD di Desa Maju.
b. Apakah dampak penggunaan komputer sebagai alat bantu pengajaran terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas 4 SD di desa Maju? 13 Salah satu yang perlu diperhatikan dalam perumusan masalah adalah bahwa rumusan tersebut hendaknya jelas dan operasional sehingga tidak terbuka peluang terjadinya salah tafsir jika rumusan tersebut dibaca oleh orang lain.
13 Ibid., Modul 1, 1.22 – 1.23
17
Masalah dirumuskan dengan menggunakan kaidah tata bahasa yang baku sehingga bebas dari kesalahan tata bahasa. Peneliti dapat merumuskan masalah yang hendak ditelitinya dengan jelas apabila ia menguasai bidang yang ingin ia teliti.
6. Pertimbangan untuk Metode Penelitian
Setelah merumuskan masalah, peneliti sudah harus mempertimbangkan lebih cocok menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif. Oleh karena dua pendekatan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, harus ada kecocokan antara masalah dan pendekatan yang digunakan. Faktor apa yang patut dipertimbangkan dalam menentukan penentuan pendekatan ini? Berikut adalah beberapa faktor untuk dipertimbangkan: (1) gunakan penelitian kuantitatif jika masalah penelitian mengharuskan Anda untuk: mengukur variabel, menilai dampak dari variabel-variabel, menguji teori atau penjelasan yang luas, menerapkan hasil ke sejumlah besar orang atau populasi; (2) gunakan penelitian kualitatif jika masalah penelitian mengharuskan Anda untuk belajar tentang pandangan individu, menilai proses dari waktu ke waktu, menghasilkan teori tentang perspektif peserta/partisipan, memperoleh informasi rinci tentang beberapa orang atau situs penelitian.
7. Langkah Selanjutnya
Apabila peneliti (calon peneliti) sudah mantap dengan masalah yang diajukan, langkah berikutnya adalah membaca literatur berupa buku-buku bidang pengetahuan dan penemuan hasil penelitian yang relevan dengan permasalahannya. Tujuan pengkajian literatur/pustaka ini adalah untuk mencari dasar/landasan teori, baik yang bersifat mendukung (memperkuat) atau yang menolak (memperlemah) problematika. Apabila dari kajian tersebut ternyata terdapat dukungan teori yang menerangkan pentingnya masalah tersebut untuk diteliti, serta belum ada/belum banyak penemuan yang diperoleh melalui penelitian sejenis dan diperkirakan hasil penemuannya akan bermanfaat bagi masyarakat, maka masalah tersebut dapat dimantapkan untuk diteliti karena arah dan tujuan penelitian sudah terarah dan jelas.
18
Dalam keadaan yang mantap ini, seorang peneliti masih perlu meninjau kembali rumusan pertanyaan yang diajukan. Ada kemungkinan bahwa ketika peneliti mengadakan pengkajian bahan pustaka, dia mendapat tambahan permasalahan yang harus ditambahkan pada penelitiannya. Sebaliknya jika dalam mengadakan pengkajian pustaka tersebut peneliti tidak mendapat dukungan yang jelas maka lebih baik penelitian tentang masalah tersebut dibatalkan selagi belum terlanjur. Harus disadari oleh calon peneliti bahwa keinginan untuk melakukan penelitian tidak selamanya terpenuhi karena belum tentu masalah yang ingin diteliti dapat dicarikan jawabannya dengan mulus dan lancar sehingga tema (topik) semula terpaksa ditinggalkan. Ada kalanya seorang calon peneliti merasa sangat kecewa karena sudah terlanjur mantap dengan tema yang menjadi pilihannya. Biasanya peneliti tersebut sudah banyak kehilangan waktu, dana dan tenaga terpaksa harus berpisah dengan tema pilihannya. Dalam hal ini peneliti harus mengusir kekecewaannya dengan berpikir bahwa lebih baik mundur sebelum melangkah lebih jauh daripada meneruskan kegiatannya yang akan mengakibatkan kerugian yang lebih besar.
Selain harus melakukan kajian pustaka, seorang peneliti juga disarankan untuk melakukan studi pendahuluan ke lapangan. Studi pendahuluan adalah kegiatan yang dilakukan oleh calon peneliti untuk mengadakan pengumpulan data sementara supaya tahap penelitiannya lebih pasti. Studi pendahuluan ini sangat penting karena sering kali peneliti harus berhenti dan mengganti tema penelitian karena data yang diperlukan sulit didapat.14
Contoh: Seorang peneliti ingin meneliti “implementasi program peningkatan kualitas guru di sebuah sekolah di wilayah pedesaan”. Peneliti ini yakin bahwa program ini akan memberikan manfaat besar karena guru-guru di wilayah pedesaan seringkali kurang mendapatkan pelatihan yang memadai.
Namun, setelah melakukan studi pendahuluan ke lapangan, peneliti menemui beberapa kendala yang mungkin mengubah arah penelitiannya:
14 Prasetya Irawan, dkk., Metodelogi Penelitian (Edisi 2), ……., Modul 3, 3.8
19
a. Keterbatasan Aksesibilitas: Setelah mengunjungi sekolah tersebut, peneliti menemukan bahwa sekolah tersebut berada di daerah yang sulit diakses, terutama pada musim hujan. Ini membuat pelatihan guru dari luar daerah menjadi sulit dan mahal.
b. Tingkat Motivasi Guru: Peneliti juga menemukan bahwa sebagian besar guru di sekolah tersebut tidak begitu antusias mengikuti program pelatihan. Beberapa dari mereka merasa kurang termotivasi untuk mengikuti pelatihan tambahan karena alasan tertentu, seperti jarak yang jauh atau kurangnya insentif.
c. Keterbatasan Sumber Daya: Sekolah tersebut memiliki keterbatasan sumber daya, termasuk kurangnya dana untuk pelatihan dan fasilitas yang tidak memadai. Hal ini bisa menjadi hambatan serius dalam melaksanakan program peningkatan kualitas guru.
Berdasarkan temuan studi pendahuluan ini, peneliti mungkin harus mempertimbangkan untuk mengubah judul atau fokus penelitian mereka.
Mereka mungkin perlu mengevaluasi lebih lanjut apakah program peningkatan kualitas guru masih merupakan pilihan terbaik untuk sekolah tersebut atau jika ada solusi lain yang lebih sesuai dengan kondisi dan kendala yang ditemukan.
Dengan melakukan studi pendahuluan, peneliti dapat menghindari kerugian waktu dan sumber daya yang signifikan yang mungkin terjadi jika mereka terus mengejar penelitian dengan fokus yang awalnya telah mereka tentukan tanpa memahami sepenuhnya konteks lapangan.
C. Penegasan Istilah
Penegasan istilah dalam penelitian merujuk pada langkah-langkah yang diambil oleh peneliti untuk mendefinisikan dengan jelas istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian mereka. Hal ini penting untuk memastikan pemahaman yang konsisten dan akurat terhadap konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian. Penegasan istilah, diperlukan apabila diperkirakan akan timbul perbedaan pengertian atau kekurang jelasan makna, seandainya penegasan istilah tidak diberikan. Istilah yang perlu diberi penegasan adalah istilah-istilah yang berhubungan dengan konsep-konsep pokok. Kriteria bahwa suatu istilah
20
mengandung konsep pokok adalah jika istilah tersebut terkait dengan masalah yang diteliti atau variabel penelitian. Penegasan istilah disampaikan secara langsung, tidak diuraikan asal-usulnya. Terdapat dua jenis penegasan istilah dalam penelitian, yaitu secara konseptual dan operasional.
4. Konseptual
Definisi konseptual bagian dari penegasan istilah yang menjelaskan mengenai pengertian atau definisi dari variabel-variabel atau istilah-istilah dalam penelitian yang sifatnya universal (menyeluruh) untuk suatu kata maupun kelompok kata berdasarkan pendapat dari para pakar maupun studi pustaka.
Definisi ini biasanya bersifat abstrak serta formal.
5. Operasional
Definisi operasional merupakan bagian dari penegasan istilah yang berisi mengenai penjelasan dari konsep yang dapat diukur dan didefinisikan oleh peneliti (definisi menurut bahasa peneliti sendiri, bukan definisi para pakar maupun studi pustaka).15
Dengan demikian definisi operasional tidak boleh mempunyai makna yang berbeda atau bertentangan dari definisi konseptual. Sehingga penegasan istilah secara konseptual dan operasional berfungsi untuk menghindari kesalahpahaman baik dari penguji maupun pembaca pada umumnya serta merupakan gambaran umum dari tulisan secara keseluruhan, yang akan menjadi dasar dalam upaya menjawab pertanyaan penelitian dan mengumpulkan data.
Penyusunan penegasan istilah yang baik dan benar dalam penelitian adalah langkah penting untuk memastikan pemahaman yang konsisten dan akurat terhadap konsep-konsep yang digunakan dalam studi Anda. Berikut adalah cara penyusunan penegasan istilah:
a. Identifikasi istilah yang perlu ditegaskan. Identifikasi istilah-istilah yang perlu ditegaskan dalam penelitian Anda. Ini bisa berupa konsep-konsep kunci, variabel, atau istilah-istilah khusus yang memiliki makna penting dalam konteks penelitian.
15 Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 72.
21
b. Penegasan istilah konseptual dan operasional. Berikan definisi yang jelas dan terperinci tentang setiap istilah konseptual dan operasional. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah tersebut dalam kerangka teoritis penelitian Anda.
c. Gunakan bahasa yang jelas dan konsisten. Pastikan bahasa yang digunakan dalam penegasan istilah Anda jelas, konsisten, dan mudah dimengerti.
Hindari penggunaan istilah ambigu atau meragukan.
d. Review dan perbaiki. Setelah Anda menyusun penegasan istilah, lakukan review terhadapnya. Pastikan bahwa penjelasan konseptual dan operasionalnya konsisten dengan kerangka teoritis dan metode penelitian yang Anda gunakan.
e. Inklusif. Jika Anda menggunakan istilah-istilah dalam bahasa asing atau istilah teknis, pastikan untuk memberikan penjelasan atau definisi yang cukup agar pembaca yang tidak terbiasa dengan istilah tersebut dapat memahaminya.
f. Rujukan dan citasi. Jika Anda mengadopsi definisi istilah dari sumber- sumber tertentu, pastikan untuk memberikan rujukan atau citasi yang sesuai.16
Penegasan istilah yang baik membantu memastikan bahwa pembaca atau penerima penelitian Anda memiliki pemahaman yang jelas tentang konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian Anda. Ini juga membantu menjaga konsistensi dan ketepatan dalam pengumpulan data dan analisis Anda.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
8. Tesis terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian utama (inti), dan bagian akhir. Bagian awal mencakup sampul, judul, persetujuan, pengesahan, motto
16 Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal. 129
22
(jika ada), persembahan, prakata, daftar tabel (jika ada), daftar gambar (jika ada), daftar lambang dan singkatan, daftar lampiran, pedoman transliterasi huruf Arab-Latin, abstrak, dan daftar isi. Bagian Inti/Utama Penelitian Kualitatif memuat tentang; (1) Bab I: pendahuluan, (2) Bab II: kajian pustaka, (3) Bab III: metode penelitian, (4) Bab IV: paparan data/temuan penelitian, (5) Bab V: pembahasan, (6) Bab VI: penutup. Bagian akhir tesis memuat daftar rujukan, lampiran-lampiran, dan biodata peneliti.
9. Masalah penelitian adalah kesenjangan kontroversi atau kekhawatiran yang memandu dan mengarahkan kebutuhan untuk melakukan penelitian. Topik penelitian merupakan subjek yang luas yang akan digarap dalam sebuah penelitian; masalah adalah kesenjangan, kekhawatiran, atau kontroversi dibahas dalam penelitian yang lebih sempit dari topik; tujuan penelitian adalah arah dari penelitian yang akan digunakan untuk membahas dan menjawab masalah; rumusan masalah atau pertanyaan penelitian dirumuskan lebih spesifik ke pertanyaan yang spesifik yang ingin dijawab atau dibahas dalam penelitian. Proses merumuskan masalah diantaranya: Identifikasi masalah, pemilihan masalah, memfokuskan masalah, merumuskan masalah, pertimbangan untuk metode penelitian, dan langkah selanjutnya adalah membaca literatur berupa buku-buku bidang pengetahuan dan penemuan hasil penelitian yang relevan dengan permasalahannya.
10. Penegasan istilah dalam penelitian merujuk pada langkah-langkah yang diambil oleh peneliti untuk mendefinisikan dengan jelas istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian. . Terdapat dua jenis penegasan istilah dalam penelitian, yaitu secara konseptual dan operasional. Langkah-langkah menyusun penegasan istilah yang baik dan benar, diantaranya: Identifikasi istilah yang perlu ditegaskan,menuliskan Penegasan istilah secara konseptual dan operasional, Gunakan bahasa yang jelas dan konsisten, lakukan Review dan perbaiki, Inklusif, dan menuliskan Rujukan dan citasi.
B. Daftar Rujukan
Angoro, M Toha., dkk. 2021. Metode Penelitian (Edisi 2). Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka.
23
Arti, Ervin Siwi. Februari 2017. Pengembangan Jurnal Belajar Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Praktek Matakuliah Metodelogi Penelitian, Vol. 1 No. 1. Education Journal : Journal Educational Research and Development.
Azwar, Saifuddin. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Irawan, Prasetya, dkk. 2022. Metodelogi Penelitian (Edisi 2). Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka.
Muslim dan Garianto. 2022. Spectrum Of Islamic Education Management, Vol 2 No 1. RJIEM: ROQOOBA Journal Of Islamic Education Management.
http://journal.iai-agussalimmetro.ac.id/index.php/ROQOOBA
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. 2010 . Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Ruhaya, Besse. Maret 2021. Fungsi Manajemen Terhadap Pendidikan Islam, Vol.
7, No. 1. Risâlah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam.
https://jurnal.faiunwir.ac.id/index.php/Jurnal_Risalah
Tim Penyusun. 2021. Pedoman Penulisan Tesis Dan Makalah Pascasarjana IAIN Tulungagung Tahun Akademik 2021/2022. Tulungagung: Institut Agama Islam Negeri Tulungagung.
Wibawa, Basuki. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka.