• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PENGANTAR BISNIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN BISNIS

N/A
N/A
Elia Putri Khoeronika

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH PENGANTAR BISNIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN BISNIS "

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENGANTAR BISNIS

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BISNIS

Dosen Pengampu : Suryadi Marthadinata, S.E., M.Ikom

Disusun Oleh :

ELIA PUTRI KHOERONIKA (211010501123) FINKA PURWANTINA (211010504246) SHAKILA PUTRI AMANDA (211010504570)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PAMULANG 2023

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat meneyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari makalah ini adalah “Pengambilan Keputusan Bisnis”.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada dosen mata kuliah Pengantar Bisnis yang telah memberikan tugas terhadap kami. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam pembuatan makalah ini.

Kami jauh dari kata sempurna dan ini merupakan langkah yang baik dari studi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, keterbatasan waktu dan kemampuan kami, maka kritik dan saran yang membangun senantiasa kami harapkan. Semoga makalah ini dapat berguna bagi penulis dan pihak yang membaca makalah ini.

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 1

1.3 Tujuan ... 1

BAB II ... 3

2.1 Pengertian Pengambilan Keputusan ... 3

2.2 Teori Pengambilan Keputusan ... 4

2.2.1 Kriteria pengambilan keputusan bisnis ... 7

2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan ... 10

2.2.3 Jenis-Jenis Keputusan ... 14

2.2.4 Model Pengambilan Keputusan ... 16

2.2.5 Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan ... 16

2.3 Membuat Keputusan Usaha ... 18

2.3.1 Pertimbangan dalam membuat keputusan usaha ... 18

2.3.2 Pengambilan keputusan dalam ketidakpastian ... 20

2.3.3 Hambatan dalam proses pengambilan keputusan ... 20

2.3.4 Model deskriptif dalam pengambilan keputusan usaha ... 22

BAB III ... 25

3.1 Kesimpulan ... 25

3.2 Saran ... 25 DAFTAR PUSTAKA

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengambilan keputusan merupakan hal paling mendasar dalam kegiatan sehari-hari. Masalah seringkali hadir dalam kehidupan manusia dalam bersosial, oleh sebab itu kita harus berusaha mencari alternatif dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan bermusyawarah atau berdiskusi, sehingga hasil yang keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut disebut dengan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan menyediakan berbagai alternatif- alternatif yang dikumpulkan lalu dibuatlah keputusan.

Dalam dunia usaha tidak lepas dengan yang namanya keputusan bisnis.

Berbagai rintangan yang dihadapi membuat pengusaha harus berfikir kritis untuk mempertahankan bisnisnya. Oleh sebab itu, keputusan bisnis menjadi hal penting yang paling mendasar dalam sebuah usaha. Makalah ini akan menjelaskan apa itu pengambilan keputusan bisnis, faktor yang mempengaruhinya dan metode yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian pengambilan keputusan bisnis?

2. Apa saja kriteria dalam pengambilan keputusan bisnis?

3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan bisnis?

4. Apa saja model-model dalam pengambilan keputusan bisnis?

5. Langkah apa saja dalam pengambilan keputusan bisnis?

1.3 Tujuan

1. Menjelaskan pengertian pengambilan keputusan bisnis

2. Menjelaskan kriteria-kriteria dalam pengambilan keputusan bisnis

3. Memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan bisnis

(5)

2

4. Menguraikan model-model yang digunakan dalam pengambilan keputusan

5. Menjelaskan langkah-langkah dalam pengambilan keputusan

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah sesuatu yang dihadapi manusia setiap hari, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Kita dihadapkan pada pengambilan keputusan setiap hari, semua yang kita katakan dan lakukan adalah hasil dari keputusan, baik kita membuatnya secara sadar atau tidak. Untuk setiap pilihan, besar atau kecil, tidak ada rumus sederhana untuk membuat keputusan yang tepat. Keputusan terbaik yang dapat dibuat adalah mendekatinya dari sebanyak mungkin perspektif yang berbeda, dan kemudian memilih tindakan yang tampaknya masuk akal dan seimbang pada saat itu. Pengambilan keputusan adalah elemen kunci dari kegiatan manajerial. Kegiatan ini memegang peranan penting, terutama realisasi fungsi perencanaan. Dalam proses perencanaan, pemimpin memutuskan tujuan organisasi apa yang akan dicapai, sumber daya apa yang akan digunakan, dan siapa yang akan melakukan tugas tersebut.

Beberapa pengertian terkait pengambilan keputusan menurut para ahli sebagai berikut. Menurut Wang dan Ruhe (2007), pengambilan keputusan adalah proses yang memilih pilihan yang lebih disukai atau suatu tindakan dari antara alternatif atas dasar kriteria atau strategi yang diberikan. Menurut Suharnan (2005), pengambilan keputusan adalah proses memilih atau menentukan berbagai kemungkinan diantara situasi-situasi yang tidak pasti. Menurut Terry (2003), pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih, tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui pemilihan satu diantara alternatif- alternatif yang memungkinkan. Menurut Simon (1993), pengambilan keputusan merupakan suatu bentuk pemilihan dari berbagai alternatif tindakan yang mungkin dipilih, yang prosesnya melalui mekanisme tertentu dengan harapan akan menghasilkan suatu keputusan yang terbaik. Menurut Baron dan Byrne (2008), pengambilan keputusan adalah suatu proses melalui kombinasi

(7)

4

individu atau kelompok dan mengintegrasikan informasi yang ada dengan tujuan memilih satu dari berbagai kemungkinan tindakan.

Menurut beberapa teori yang ada, keputusan yang baik adalah keputusan yang diambil setelah melalui beberapa tahapan dan proses, antara lain mengidentifikasi masalah, mengumpulkan berbagai pilihan, menganalisis pilihan yang ada dengan pikiran jernih dan logis, kemudian membentuk pemikiran yang rasional dan logis. Setelah beberapa langkah dan proses, hasil akhirnya adalah keputusan yang baik.

2.2 Teori Pengambilan Keputusan

Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang pengambilan keputusan dan unsur- unsur dalam teori tersebut. Berikut teori-teori yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

A. Teori Rasional Komprehensif

Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh kalangan luas ialah teori rasional komprehensif.

Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Pembuat keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain.

2. Tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kepentingannya

3. Berbagai altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.

4. Akibat-akibat (biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif yang dipilih diteliti.

(8)

5

5. Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya, dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya.

6. Pembuat keputusan akan memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya yang dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.

Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik, dan kritik yang paling tajam berasal dari seorang ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarnya tidaklah berhadapan dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.

Lebih lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas antara nilai-nilainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Asumsi penganjur model rasionar bahwa antara fakta-fakta dan nilai- nilai dapat dengan mudah dibedakan, bahkan dipisahkan, tidak pemah terbukti dalam kenyataan sehari-hari. Keputusan-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan investasi terdahulu dalam kebijaksanaan dan program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah pembuat keputusan untuk membuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang sudah ada. Untuk konteks negara-negara sedang berkembang, menurut Rs. Milne (1972), model irasionar komprehensif ini jelas tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah: informasi/data statistik tidak memadai. Tidak memadainya perangkat teori yang siap pakai untuk kondisi- kondisi negara sedang berkembang yaitu ekologi budaya di mana sistem pembuatan keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi di negara sedang- berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok unsur- unsur rasionar dalam pengambilan keputusan.

B. Teori Inkremental

Teori inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak menggambarkan cara yang ditempuh oleh

(9)

6

pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil kepurusan sehari-hari. Pokok-pokok teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.

2. Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.

3. Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan dievaluasi.

4. Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.

5. Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.

6. Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalah sosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.

Keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara

(10)

7

pelbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki sifat ambil semua atau tidak sama sekali.

C. Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)

Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori inkremental. Misalnya, keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model inkremental akan lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan terabaikan.

2.2.1 Kriteria pengambilan keputusan bisnis

Menurut konsepsi Anderson, nilai-nilai yang kemungkinan menjadi pedoman perilaku para pembuat keputusan itu dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) kategori, yaitu:

1. Nilai-nilai politik

Pembuat keputusan mungkin melakukan penilaian atas altematif kebijaksanaan yang dipilihnya dari sudut pentingnya altematif-altematil itu bagi partai politiknya atau bagi kelompok- kelompok klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya.

Keputusan-keputusan yang lahir dari tangan para pembuat keputusan seperti ini bukan mustahil dibuat demi keuntungan politik

(11)

8

dan kebijaksanaan dengan demikian akan dilihat sebagai instrumen untuk memperluas pengaruh-pengaruh politik atau untuk mencapai tujuan dan kepentingan dari partai politik atau tujuan dari kelompok kepentingan yang bersangkutan.

2. Nilai-nilai organisasi

Para pembuat kepurusan, khususnya birokrat (sipil atau militer), mungkin dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi di mana ia terlibat di dalamnya’ Organisasi, semisal badan-badan administrasi, menggunakan berbagai bentuk ganjaran dan sanksi dalam usahanya untuk memaksa para anggotanya menerima, dan bertindak sejalan dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh organisasi. Sepanjang nilai-nilai semacam itu ada, orang-orang yang bertindak selaku pengambil keputusan dalam organisasi itu kemungkinan akan dipedomani oleh pertimbangan-pertimbangan semacam itu sebagai perwujudan dari hasrat untuk melihat organisasinya tetap lestari, unuk tetap maju atau untuk memperlancar program-program dan kegiatan- kegiatannya atau atau untuk mempertahankan kekuasaan dan hak- hak istimewa yang selama ini dinikmati.

3. Nilai-nilai pribadi

Hasrat untuk melindungi atau memenuhi kesejateraan atau kebutuhan fisik atau kebutuhan finansial’ reputasi diri, atau posisi historis kemungkinan juga digunakan- oleh para pembuat teputusan sebagai kriteria dalam pengambilan keputusan. Para politisi yang menerima uang sogok untuk membuat kepurusan tertentu yang menguntungkan si pemberi uang sogok, misalnya sebagai hadiah pemberian perizinan atau penandatanganan kontrak pembangunan proyek tertentu, jelas mempunyai kepentingan pribadi dalam benaknya. Seorang presiden yang mengatakan di

(12)

9

depan para wartawan bahwa ia akan menggebut siapa saja yang bertindak inkonstirusional, jelas juga dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan pribadinya misalnya agar ia mendapat tempat terhormat dalam sejarah bangsa sebagai seseorang yang konsisten dan nasionalis.

4. Nilai-nilai kebijaksanaan

Dari perbincangan di atas, satu hal hendaklah dicamkan, yakni janganlah kita mempunyai anggapan yang sinis dan kemudian menarik kesimpulan bahwa para pengambil keputusan politik inr semata-mata hanyalah dipengaruhi oleh pertimbangan- penimbangan demi keuntungan politik, organisasi atau pribadi.

Sebab, para pembuat keputusan mungkin pula bertindak berdasarkan atas penepsi mereka terhadap kepentingan umum atau keyakinan tertentu mengenai kebijaksanaan negara apa yang sekiranya secara moral tepat dan benar.

Seorang wakil rakyat yang mempejuangkan undang-undang hak kebebasan sipil mungkin akan bertindak sejalan dengan itu karena ia yakin bahwa tindakan itulah yang secara moral benar, dan bahwa persamaan hak-hak sipil itu memang merupakan tujuan kebijaksanaan negara yang diinginkan, tanpa mempedulikan bahwa perjuangan itu mungkin akan menyebabkannya mengalami resiko-resiko politik yang fatal.

5. Nilai-nilai ideologis

Ideologi pada hakikatnya merupakan serangkaian nilai-nilai dan keyakinan yang secara logis saling berkaitan yang mencerminkan gambaran sederhana mengenai dunia serta berfungsi sebagai pedoman benindak bagi masyarakat yang meyakininya. Di berbagai negara sedang berkembang di kawasan Asia, Afrika dan Timur Tengah nasionalisme yang mencerminkan

(13)

10

hasrat dari orang-orang atau bangsa yang bersangkutan untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri — telah memberikan peran penting dalam mewamai kebijaksanaan luar negeri maupun dalam negeri mereka. Pada masa gerakan nasional menuju kemerdekaan, nasionalisme telah berfungsi sebagai minyak bakar yang mengobarkan semangat perjuangan bangsa-bangsa di negara- negara sedang berkembang melawan kekuatan kolonial.

Di Indonesia, ideologi Pancasila setidaknya bila dilihat dari sudut perilaku politik regim, telah berfungsi sebagai resep untuk melaksanakan perubahan sosial dan ekonomi. Bahkan ideologi ini kerapkali juga dipergunakan sebagai instrumen pengukur legitimasi bagi partisipasi politik atau partisipasi dalam kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat (Abdul Wahab, Solichin, 1987).

2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan Faktor Internal adalah faktor yang asalnya dari dalam diri seseorang atau individu itu sendiri. Faktor internal umumnya sifat dan sikap yang menimbulkan permasalahan sosial adalah sifat/sikap seperti malas bekerja, tidak memiliki kepedulian dan empati, tidak mengindahkan peraturan, mudah menyerah dan lain sebagainya. Jadi faktor internal dalam pengambilan keputusan adalah faktor-faktor dari diri seseorang yang mempengaruhi seseorang tersebut dalam menentukan dan membuat keputusan.

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang.

Jadi faktor eksternal dalam pengambilan keputusan adalah faktor yang mempengaruhi keputusan yang berasal dari lingkungan sekitar si pengambil keputusan atau dipengaruhi oleh lingkungan sekitar si pengambl keputusan.

➢ Jenis-Jenis Faktor Internal

(14)

11 a) Kepribadian

Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Latar belakang sosial seseorang memainkan peranan dalam pembentukan kepribadian orang bersangkutan. Pengalaman dalam perjalanan hidup pun ikut berperan. Artinya kepribadian pengambil keputusan yang bersangkutan. Demikian pula latar belakang pendidikannya.

Pengalaman dalam perjalanan hidup pun ikut berperan. Ibaratkan dalam sebuah perusahaan atau organisasi, manager yang dapat dikategorikn sebagai pengambil keputusan yang berhasil adalah yang tidak selalu dibebani dengan perhitungan faktor personalitas dari orang-orang yang berada di atasnya, meskipun hal tersebut perlu diperhatikan. Artinya, kepribadian pengambil keputusan yang bersangkutan harus diberi tempat yang wajar dalam pengambilan keputusan dimana ia secara langsung terlibat. Hanya saja faktor- faktor kepribadian tersebut perlu dilengkapi dengan penggunaan berbagai model dan teknik ilmiah.

b) Gaya Manajemen

Gaya manajerial sering dikategorikan kepada gaya yang otoktaris, paternalistis, militerialistis dan demokrasi atau partisipatif. Berbagai gaya identik dengan tipe-tipe kepemimpinan yang dikenal sekarang ini. Masing- masing kategori mempunyai ciri-ciri sendiri dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Akan tetapi berbagai hasil penelitian membuktikan, bahwa dalam kenyataan tidak ada seorang manajer pun yang konsisten melkaksanakan tugas termasuk pengambilan keputusan sehingga ia terus- terus menerus tanpa deviasi hanya menggunakan satu gaya saja. Karena perlunya memperhitungkan situasi dan kondisi yang dihadapi , para manajer memang menggunakan kombinasi berbagai gaya manajerial dalam ia menyelenggarakan fungsinya. Artinya, seorang yang dikategorikan sebagai manajer yang paling otoritas sekalipun adakalanya menempuh pula cara-

(15)

12

cara yang demokratis atau preventif. Sebaliknya seorang manajer yang paling demokratif sekalipun ada kalanya bertindak otoriter jika situasi yang dirasakan menurutnya.

c) Berpikir Kreatif dalam Pengambilan Keputusan.

Pengalaman banyak manajer menunjukkan bahwa efektivitasnya sebagai pengambil keputusan tergantung pada kemampuannya menggabungkan pendekatan ilmiah yang pada dasarnya merupakan pendekatan yang rasional dan logis dengan pendekatan yang asional dan logis dengan pendekatan kreatif yang didasarkan pada intuisi, perasaan, dan pengalaman seseorang. Dapat dinyatakan secara kategori bahwa berpikir secara kreatif mempunyai tempat dalam mengatasi situasi problematik dalam organisasi-organisasi modern, bagaimanapun bentuknya, apapun tujuannya. Kreatifitas menyangkut cara berpikir yang tidak terpukau pada hal-hal yang umum diketahui ia juga menyangkut kemauan mencari dan menemukan ide baru, teknik baru, dan metode baru dengan mendorong timbulnya berbagai pandangan dan gagasan antara orang-orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Artinya kreatifitas merupakan usaha sadar untuk menghasilkan sejumlah besar ide baru yang bentuknya beraneka ragam meskipun pada mulanya berbagai gagasan dan pendengaran tersebut seperti tidak masuk akal, tidak realistis, tidak dapat diterapkan, dan sebagainya.

➢ Jenis-Jenis Faktor Ekternal

a) Adanya Pengaruh Tekanan dari Luar

Adanya pengaruh tekanan dari luar merupakan suatu proses yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, dikarenakan proses cepat atau lambatnya pembuat keputusan tergantung dari banyaknya tekanan yang diterima. Kadang pembuat keputusan ragu-ragu dalam menentukan , namun adanya pengaruh tekanan dari luar dapat mempercepat keputusan yang diambil . Hal ini dikarenakan tidak adanya ketegasan dari pemimpin

(16)

13

organisasi dalam penyelesaian masalah. Sehingga kepribadian yang baik diperlukan untuk menangani suatu tekanan yang datang khususnya dari luar organisasi.

b) Adanya Pengaruh Kebiasaan Lama atau Sifat-Sifat Pribadi.

Faktor sifat yang baik maupun tidak baik yang ada dalam diri seorang pembuat keputusan, merupakan hal yang dapat mempengaruhi keputusan tersebut. Dalam hal ini seorang pembuat keputusan akan terbiasa degan sifat pribadinya. Hal ini dapat dilihat dari sisi kepribadian seorang pemimpin, bagaimana dia mangambil sebuah keputusan dalam menghadapi masalah. Tentunya seorang pemimpin organisasi harus bijaksana dalam bersikap ketika ada masalah dan mengambil keputusan. Akan menjadi baik jika seseorang membuat keputusan dengan melihat situasi sekitar tidak hanya berdasarkan kebijakan pribadi saja supaya dapat menguntungkan pihak-pihak lain.

c) Pengaruh Dari Kelompok Lain

Kelompok lain juga dapat mempengaruhi suatu keputusan dikarenakan kelompok atau organisasi tersebut mempunyai keputusan yang dapat dipertimbangkan oleh pemimin organisasi lain dalam menyikapi masalah dan pengaruh kelompok lain ini juga dapat menjatuhkan organisasi serta mementingkan kepentingan kelompok tersebut. Hal ini bahkan dapat menimbulkan suatu perpecahan dalam organisasi diantara para anggotanya.

Untuk menghindarinya maka dibutuhkan solidaritas yang kuat antara para anggota serta menanamkan prinsp-prinsip yang dimiliki organisasi dalam setiap pengambilan keputusan.

d) Faktor pengalaman

Faktor pengalaman seorang pembuat keputusan adalah hal yang sangat penting, karena banyaknya pengalaman orang tersebut maka ia akan berani dalam menentukan keputusan. Hal ini juga berkaitan terhadap keahlian yang dimiliki oleh pemimpin atau anggota karena pengalaman

(17)

14

yang oernah dialaminya. Pengalaman juga dapat dijadikan suatu pelajaran dalam mengambil keputusan yang tepat bagi organisasi.

2.2.3 Jenis-Jenis Keputusan

Jenis-jenis keputusan dibedakan menjadi tiga macam yaitu keputusan terstruktur, keputusan tidak terstruktur, dan keputusan semi terstruktur.

1. Keputusan Terstruktur

Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan persoalan yang telah diketahui sebelumnya. Proses pengambilan keputusan seperti ini biasanya didasarkan atas teknik-teknik tertentu dan sudah dibuat standarnya. Kategori keputusan ini juga dapat dikatakan suatu proses jawaban secara otomatis pada kebijakan yang sudah ditentukan sebelumnya. Secara alamiah hampir semua masalah rutin dan berulang memiliki parameter-parameter persoalan yang telah diketahui dan terdefinisi dengan baik, sehingga jawaban atau proses pengambilan keputusan pun bersifat rutin dan terjadwal. Keputusan Terstruktur mengacu pada permasalahan rutin dan berulang untuk solusi standar yang ada. Keputusan terstruktur (structured decision) bersifat berulang- ulang, rutin, dan dipahami dengan baik hingga dapat didelegasikan kepada pegawai di tingkat yang lebih rendah dalam suatu organisasi.

Sebagai contoh, keputusan untuk memberikan kredit ke para pelanggan lama, hanya membutuhkan pengetahuan tentang batas kredit pelanggan dan saldo saat ini, keputusan pembelian bahan baku untuk persediaan, pemberian cuti, pemutusan sambungan telepon. Keputusan yang terstruktur sering kali dapat diotomatisasikan.

2. Keputusan Tak Terstruktur

Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan berbagai persoalan baru. Keputusan tidak terstruktur biasanya juga berkaitan dengan persoalan yang cukup pelik, karena banyak parameter yang tidak

(18)

15

diketahui atau belum diketahui. Oleh karena itu, untuk mengambil keputusan ini biasanya intuisi serta pengalaman seorang pelaku organisasi akan sangat membantu. Keputusan tak terstruktur, adalah

“fuzzy”, permasalahan kompleks dimana tak ada solusi yang mengikutinya. Masalah yang tak terstruktur adalah tak adanya 3 fase proses yang terstruktur. Keputusan tidak terstruktur (unstructured decision) bukan merupakan keputusan yang berulang dan rutin.

Contohnya adalah memilih sampul depan sebuah majalah, mengontrak manajemen tingkat senior, dan memilih proyek penelitian awal yang akan dilakukan. Tidak ada kerangka atau model yang dapat memecahkan masalah sejenis ini. Bahkan, dibutuhkan banyak sekali pertimbangan dan intuisi. Walaupun demikian, keputusan tidak terstruktur dapat didukung oleh bantuan dari keputusan yang diambil berdasar hasil komputer, yang berfungsi untuk memfasilitasi pengumpulan informasi dari berbagai sumber. Contohnya adalah keputusan untuk pengembangan teknologi baru, pengembangan jenis usaha baru, keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain, perekrutan eksekutif.

3. Keputusan Semi Terstruktur

Terdapat beberapa keputusan terstruktur, tetapi tak semua dari fase-fase yang ada.Keputusan semi terstruktur (semistructured decision) ditandai dengan peraturan-peraturan yang tidak lengkap untuk mengambil keputusan, dan adanya kebutuhan untuk membuat penilaian serta pertimbangan subjektif sebagai pelengkap analisis data yang formal. Menetapkan anggaran pemasaran untuk suatu produk baru adalah contoh dari keputusan semi terstruktur. Walaupun keputusan seperti ini biasanya tidak dapat secara penuh diotomatisasikan, namun sering didukung oleh bantuan dari keputusan yang diambil berdasar hasil dari komputer (computer-based decision). Contoh keputusan jenis ini adalah investasi keuangan, pengevaluasian kredit, penjadwalan produksi, pemberian dana rehabilitasi sekolah, dan pengendalian persediaan.

(19)

16 2.2.4 Model Pengambilan Keputusan

➢ Rasional, model perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa orang- orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan nilai, yang secara mendasar konsisten.

➢ Birokrasi, apapun yang dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas dan proses bisnis yang terasah oleh penggunaan aktif selama bertahun-tahun.

➢ Keputusan klasik (classical dision), berpandangan bahwa manager bertindak dalam kepastian. Merupakan model yang sangat rasional untuk pembuatan keputusan manajerial.

➢ Rasionalitas terbatas dan memadai (bounded rationality and satisficing), menekankan bahwa pembuatan keputusan harus menghadapi kenyataan tidakmemadainya informasi mengenai sifat masalah.

Heuristic, orang yang tergantung pada prinsip heuristic/pedoman umum, untuk menyederhanakan pembuatan keputuasan.

2.2.5 Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan

Terdapat 6 langkah dalam pengambilan sebuah keputusan, diantaranya sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi keputusan yang akan diambil

Sebelum mengambil sebuah keputusan diperlukan identifikasi masalah yang terjadi. Masalah apa yang perlu dipecahkan, apa tujuan menerapkan keputusan ini, dan seberapa besar peluang jika keputusan ini digunakan. Setelah mengidentifikasi masalah tersebut akan lebih banyak informasi yang didapatkan untuk dijadikan pertimbangan.

2. Kumpulkan informasi yang relevan

Mengumpulkan informasi terkait keputusan yang akan dibuat merupakan langkah penting dalam pengambilan keputusan yang tepat. Mencari informasi dari luar tim atau perusahaan juga penting. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan informasi dari berbagai sumber. Mencari informasi dari luar

(20)

17

misalnya dengan melakukan riset pasar, bekerja sama dengan konsultan, atau berbicara dengan rekan kerja di perusahaan lain yang memiliki pengalaman relevan.

Mengumpulkan informasi membantu tim menemukan solusi yang berbeda untuk menyelesaikan masalah.

3. Cari solusi alternatif

Pada tahap ini diperlukan untuk mencari banyak solusi yang berbeda untuk masalah yang sedang dihadapi. Menemukan banyak opsi sangat penting saat membuat keputusan bisnis karena pemangku kepentingan yang berbeda mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda tergantung pada peran mereka. Misalnya, jika perusahaan sedang mencari alat manajemen kerja, tim desain mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda dengan tim pengembangan. Memutuskan hanya satu solusi pada awalnya mungkin bukan cara yang tepat.

4. Pertimbangkan buktinya

Setelah mencari beberapa alternatif, saatnya menganalisis alternatif- alternatif tersebut. Dimulai dengan mengidentifikasi keuntungan dan kerugian dari setiap alternatif dan mengeliminasi alternatif dari keputusan tersebut.

Ada beberapa cara umum agar dapat menganalisis dan meninjau bukti alternatif yaitu :

➢ Membuat daftar kelebihan dan kekurangan

➢ Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats)

➢ Matriks keputusan 5. Pemilihan Alternatif

Tahap selanjutnya adalah keputusan akhir. Pertimbangkan semua informasi yang sudah dikumpulkan dan implikasi dari keputusan ini untuk setiap pemangku kepentingan. Terkadang keputusan yang tepat bukanlah salah satu pilihan, melainkan kombinasi dari beberapa pilihan. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan pemecahan masalah dan pemikiran kreatif.

(21)

18

6. Pelaksanan keputusan dan mengevaluasi hasilnya

Setelah dibuat keputusan akhir, saatnya untuk mengimplementasikan keputusan tersebut, perhatikan bagaimana keputusan tersebut berjalan, dan apa saja yang harus dievaluasi. Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan ketika mengevaluasi keputusan:

✓ Apa keputusan pemecahan masalah yang diidentifikasi pada tahap 1?

✓ Apakah keputusan ini memengaruhi tim secara positif atau negatif?

✓ Pemangku kepentingan mana yang akan mendapat manfaat dari keputusan ini?

✓ Pemangku kepentingan mana yang terkena dampak negatif?

2.3 Membuat Keputusan Usaha

Keputusan merupakan kesimpulan terbaik yang diperoleh setelah mengevaluasi berbagai alternatif. Di dalam arti tersebut, terkandung unsur situasi dasar, peluang munculnya situasi dasar, dan aktifitas pencapaian keputusan. Kajian tentang keputusan banyak berbasis metode dan dipandang lebih menarik daripada domain pengambilan keputusan itu sendiri.

Berdasarkan kajian metode, keputusan terpecah menjadi empat, yaitu, metode keputusan rasional, metode keputusan tawar menawar, metode keputusan agregatif, dan metode keputusan keranjang sampah. Dengan pendekatan metode ada berbagai aliran yang sesuai untuk kengkaji keputusan yaitu birokratik, manajemen saintifik, hubungan kemanusiaan, rasionalitas ekonomi, kepuasan dan analisis sistem.

2.3.1 Pertimbangan dalam membuat keputusan usaha

Pertimbangan-pertimbangan dalam membuat keputusan, didasarkan atas beberapa hal sebagai berikut :

1) Keputusan yang akan diambil

Keputusan yang akan diambil, harus dipertimbangkan masak-masak secara obyektif. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat keputusan, antara lain:

(22)

19

• Manfaatnya

• Pelaksanaannya

• Orang-orangnya 2) Tindakan-tindakan

Tindakan-tindakan dalam mengambil dan membuat keputusan yang tepat dan akurat, adalah sebagai berikut:

a) Menilai data-data

Di dalam menilai data-data, seorang wirausaha harus mengenal betul persoalan atau permasalahan yang hendak diputuskan, seperti :

➢ Mencari sebab persoalan pokok

➢ Memikirkan kemungkinan untuk memecahkan persoalan atau mencari jalan keluarnya.

➢ Memformulasikan faktor-faktor yang berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya.

b) Konsekuensi pilihan

Konsekuensi pilihan dalam membuat keputusan adalah :

➢ Usaha untuk menilai tiap-tiap pilihan

➢ Usaha untuk meramalkan apa yang terjadi apabila salah satu alternatif yang dilaksanakan.

c) Tindakan pelaksanaan

Tindakan pelaksanaan dalam keputusan adalah usaha untuk memiliki suatu tindakan yang telah ditentukan oleh salah satu pilihan seperti:

➢ Menetapkan langkah-langkah dalam tindakan.

➢ Pemikiran langkah-langkah untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil.

➢ Membuat keputusan terakhir. keberanian untuk mengambil keputusan, sangat tergantung pada sifat pribadi seorang wirausaha. mereka juga

(23)

20

harus selalu berkata pada dirinya, bahwa pasti bisa mengambil keputusan di dalam menentukan bisnisnya.

➢ Jika Anda mampu mengambil keputusan dalam batas-batas waktu yang masuk akal, Anda akan mampu mengambil keuntungan sewaktu-waktu timbul peluang-peluang bisnis

✓ Semakin berpengalaman dalam pengambilan keputusan, semakin besar pula kepercayaan pada dirinya dan semakin berorientasi pada tindakannya.

2.3.2 Pengambilan keputusan dalam ketidakpastian

Model Pengambilan Keputusan dengan Ketidakpastian (Uncertainty) Menggambarkan bahwa setiap rangkaian keputusan (kegiatan) mempunyai sejumlah kemungkinan hasil dan masing-masing kemungkinan hasil probabilitasnya tidak dapat diketahui/ditentukan. Model Keputusan dengan kondisi seperti ini adalah situasi yang paling sulit untuk pengambilan keputusan.

Kebanyakan dari kita gagal untuk menerima bahwa banyak keputusan harus dibuat dalam menghadapi ketidakpastian. Dawes (1988) telah mengamati bahwa cara yang umum untuk mengatasi ketidakpastian adalah dengan mengabaikannya. Dowes berpendapat bahwa manusia memiliki kebutuhan patologis untuk "labu sekarang" dalam situasi yang mengandung ketidakpastian yang melekat. Ia menegaskan bahwa kebutuhan untuk meniadakan ketidakpastian sering menyebabkan orang mengambil kredibilitas terlalu banyak untuk keberhasilan dan terlalu banyak disalahkan atas kegagalan.

2.3.3 Hambatan dalam proses pengambilan keputusan 1. Hambatan terhadap pemecahan masalah individu

Terdapat empat pendekatan dalam mengindentifikasi pengenalan masalah dan pemecahan masalah yang defektif yang dapat menghambat seseorang yang harus mengambil keputusan penting (Stoner dan Freeman, 1994).

a) Penghindaran santai

(24)

21

Manajer memutuskan untuk tidak mengambil keputusan atau tidak bertindak setelah melihat bahwa berdiam diri itu tidak akan berakibat terlalu besar. Ini mungkin sikap seorang manajer yang telah diberitahu oleh atasan bahwa keanikan pangkat akan tergantung pada peningkatan prestasi. Ketika mendengar kabar angin bahwa atasan yang bersangkutan mungkin akan dibebas tugaskan, manajer tersebut tidak mengerjakan apa pun. Tetapi jika ia tidak mengetahui bahwa kedudukan atasannya goyah, manajer yang sama itu akan bekerja giat dan menggunakan waktu kerja yang lebih lama.

b. Perubahan santai

Manajer memutuskan untuk mengambil tindakan tertentu, setelah mengetahui akibat dari tindakan melakukan sesuatu akan lebih serius.

Akan tetapi, manajer tersebut tidak menganilis situasi, melainkan hanya mengambil alternatif pertama yang muncul ke permukaan yang risikonya kecil. Analisis yang saksama dihindari.

c. Penghindaran defensif

Karena menghadapi masalah dan tidak menemukan pemecahan yang baik yang didasarkan pada pengalaman yang lampau, seorang manajer akan mencari jalan keluar. Ia mungkin menangguhkan pertimbangan mengenai akibat atau mungkin mencoba menghindari tanggungjawab. Ia mungkin membiarkan orang lain mengambil keputusan dan menanggung akibatnya atau hanya mengabaikan risiko dan memilih pemecahan ynag paling nyata. Sikap menerima nasib ini dapat menghambat pertimbangan mengenai alternatif yang lebih baik.

d. Panik

Manajer merasa tertekan bukan hanya oleh masalah itu sendiri, melainkan juga oleh waktu. Hal ini menimbulkan stres yang hebat yang manifestasinya bisa dalam bentuknya yang ekstrim, dapat mengakibatkan sakit fisik. Dalam keadaan panik, seseorang dapat sedemikian terganggu sehingga ia tidak dapat menilai situasi secara

(25)

22

realistik atau menerima uluran tangan bawahan. Dan jika tidak ditangani secara tepat, keadaan ini mungkin akan memburuk.

2.3.4 Model deskriptif dalam pengambilan keputusan usaha

Menurut Plous (1993) terdapat beberapa model deskriptif dalam pengambilan keputusan, yaitu

1. Model Kepuasan (Satisficing)

Seseorang yang membuat suatu keputusan biasanya lebih mengutamakan kepuasan dibandingkan sesuatu yang optimal. Dalam teori utilitas harapan, pembuat keputusan diasumsikan memiliki informasi yang lengkap mengenai peluang dan konsekuensi yang melekat pada setiap alternatif tindakan. Untuk mendapatkan kepuasan tersebut adalah dengan memilih satu cara yang dianggap memuaskan, sesuatu yang dibutuhkan meskipun pilihan tersebut mungkin tidak ideal atau optimal. Kenyataannya, informasi mengenai alternatif tidak sepenuhnya tersedia dan mengandung ketidakpastian.

2. Teori Prospek

Teori ini dikembangkan oleh Kahneman dan Tversky (1974) danmemiliki perbedaan dengan teori ekspektasi kegunaan dalam jumlah tanggapan penting. Teori prospek memprediksi bahwa suatu keputusan tergantung pada bagaimana suatu masalah disusun. Jika suatu nilai referensi didefinisikan sebagai suatu pengeluaran yang terlihat sebagai sebuah keuntungan, maka hasil nilai fungsi akan menjadi cekung dan pembuat keputusan akan menolak mengambil risiko.

3. Dampak Kepastian (The Certainty Effect)

Ketika seseorang telah yakin, akan nilai referensi yang mereka dapatkan dari teori prospek, maka pembuat keputusan akan berusaha untuk menghilangkan atau menghindari risiko secara keseluruhan dibandingkan dengan mengurangi risiko tersebut.

4. Pseudocertainty

(26)

23

Untuk model pengambilan keputusan ini, pengambil keputusan membuat suatu kebijakan dimana kebijakan tersebut tidak terlihat jelas atau tidak terlihat langsung dampaknya.

5. Theory Regret (Teori Penyesalan)

Basis dari teori penyesalan adalah bentuk counterfactual reasoning, dimana teori ini didapat berdasarkan ketika seseorang membandingkan kausalitas dari keputusan mereka dengan apa yang akan terjadi jika mereka membuat pilihan yang berbeda. Teori ini berasai dari dua asumsi: pertama, bahwa banyak pengalaman orang- orang yang merasakan sensasi penyesalan dan kegembiraan dan kedua, bahwa dalam membuat keputusan dibawah ketidakpastian, maka mereka mencoba untuk mengantisipasi dan mengindahkan sensansi-sensasi diatas.

6. Pilihan Beragam Sifat

Sebagian besar hasil penelitian, pilihan beragam sifat lebih fokus pada “bagaimana” dibandingkan “seberapa baik” seseorang membuat keputusan. Orang-orang menggunakan sejumlah strategi keputusan yang berbeda untuk membuat pilihan beragam sifat dan strategi- strategi ini sangat tergantung pada jenis masalah. Ketika pembuat keputusan dihadapkan pada pilihan sederhana antara dua alternatif, mereka sering menggunakan sesuatu yang dikenal sebagai “strategi pengganti”. Strategi lainnya adalah “model linier”, pada strategi ini setiap dimensi ditimbang berdasarkan kepentingan dan pertimbangan nilai disimpulkan pada bentuk indeksi keseluruhan bentuk.

Strategi pengganti lain dikenal dengan “model tambahan berbeda”. Model ini mirip dengan model linier, kecuali pada model linier, setiap alternatif dievaluasi pada semua dimensi kemudian dibandingkan dengan alternatif lain. Dimana pada model tambahan berbeda, setiap dimensi dievaluasi satu persatu di tiap alternatif dan perbedaan di antara alternatif ditimbang dan dijumlahkan bersama.

7. Strategi Non-Kompensasi

(27)

24

Ketika seseorang bertemu dengan pilihan yang rumit diantara sejumlah alternatif, maka mereka biasa menggunakan “strategi tanpa pengganti”. Pembuat keputusan menggunakan aturan konjungtif, yaitu mengeliminasi berbagai alternatif yang berada di luar batas sebelum definisi. Di sisi lain,seorang pembuat keputusan memakai aturan disjungtif dimana setiapalternatif dievaluasi pada syarat-syarat sifat terbaik.

Strategi ketiga dari strategi tanpa pengganti adalah lexicographic.

Pembuat keputusan menggunakan strategi ini dimulai dari mengidentifikasi dimensi yang paling penting untuk diperbandingkandan dipilih sebuah alternatif yang paling diperlukan.

Strategi keempat adalah strategi “eliminasi oleh aspek- aspek”.

Berdasarkan strategi ini, setiap aspek perbandingan diseleksi dengan proporsi kemungkinan ke kepentingan. Berbagai alternatif dibandingkan dengan tanggapan dari aspek yang terseleksi, alternatif inferior lalu dieliminasi, aspek lain yang diperbandingkan diseleksi, alternatif tambahan dieliminasi dan sampai pada hanya satu alternatif.

8. Dimensi Paling Penting

Hipotesisnya adalah memberi pilihan diantara dua alternative yang sama. Orang-orang akan memilih alternative yang superior pada dimensi yang paling penting. Pembuatan keputusan dapat di telaah dari segi normative maupun segi deskriptif.

(28)

25

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kita dihadapkan pada pengambilan keputusan setiap hari, semua yang kita katakan dan lakukan adalah hasil dari keputusan, baik kita membuatnya secara sadar atau tidak. Setiap pilihan besar maupun kecil, tidak ada rumus sederhana untuk membuat keputusan yang tepat. Kemudian pengambilan keputusan juga merupakan elemen kunci dari kegiatan manajerial, kegiatan ini memegang peranan yang cukup penting, terutama realisasi fungsi perencanaan.

Keputusan dan kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara berbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada.

Pengambilan keputusan usaha ini juga mempunyai nilai-nilai yang menjadi pedoman perilaku para pembuat keputusan yaitu nilai politik, nilai organisasi, nilai pribadi, nilai kebijaksanaan dan nilai ideologis. Dan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, faktor internalnya terdiri dari kepribadian, gaya manajemen, berpikir kreatif dalam pengambilan keputusan. Sedangkan eksternalnya yaitu adanya pengaruh tekanan dari luar, pengaruh kebiasaan lama atau sifat pribadi, pengaruh dari kelompok lain, pengalaman. Selain nilai dan faktor, pengambilan keputusan ini juga ada langkah, hambatan dan model pengambilan keputusan yang bisa kita baca.

3.2 Saran

Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan baik dari

(29)

26

penulisan maupun penggunaan bahasa yang kami sajikan. Oleh karena itu, mohon untuk memberikan saran agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Pasolong, H. 2023. Teori Pengambilan Keputusan. Bandung: Alfabeta

Riadi, M. 2018. Pengambilan Keputusan (Decision Making). Diakses melalui www.kajianpustaka.com, pada 19 April 2023

Anneahira. 2011. Pengambilan Keputusan. Diakses melalui anneahira.blogspot.com, pada 19 April 2023

Laoyan, S. 2022. 7 Langkah Penting dalam Proses Pengambilan Keputusan.

Diakses melalui asana.com, pada 20 April 2023

Wiryanto. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo

Referensi

Dokumen terkait

Persoalan pengambilan keputusan dengan tujuan jamak (multiple attribute decision making) menjadi lebih mudah apabila pengambil keputusan mampu membuat ranking kepentingan dari

Untuk memahami perubahan dalam metode akuntansi dan untuk menyesuaikan aturan pengambilan keputusan sesuai dengan itu, maka pengambil keputusan harus

§ Kualitas keputusan yang diambil oleh manajer sangat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi atau perusahaan. Untuk itu manajer harus mengerti dan

AHP merupakan sebuah metode untuk membuat urutan alternatif keputusan dan memilih yang terbaik pada saat pengambil keputusan memiliki beberapa tujuan, atau kriteria, untuk

SPK merupakan suatu sistem berbasis komputer yang ditujukan untuk membantu pengambil keputusan dalam memanfaatkan data dan model tertentu untuk memecahkan berbagai

Biasanya dalam mengambil keputusan digunakan model yang sederhana .Alasan mengapa para pengambil keputusan cenderung memilih model pengambilan keputusan yang sederhana

Dalam Metode ini, sebuah keputusan akan diambil atau disetujui jika didalam proses pengambilan keputusan telah disepakati oleh semua anggota organisasi, secara transparan

Dokumen ini membahas masalah pengambilan keputusan bisnis yang melibatkan perhitungan keuntungan dan sumber daya yang