PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA INDONESIA DI ERA PRA KEMERDEKAAN DAN ERA
KEMERDEKAAN
Disusun Oleh :
Dias Andrian (231331039) Evan Kautsar Alyaqsi (231331041) Nizar Iskandar Syah (231331051) Raffy Muhammad Rizki (231331053)
Kelas : 1B-TTE
PROGRAM STUDI D3 – TEKNIK TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2023
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan agama. Selain itu, makalah ini juga bertujuan Untuk menambah wawasan tentang “PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA INDONESIA DI ERA PRA KEMERDEKAAN DAN ERA KEMERDEKAAN”
dalam penyusunan laporan ini sudah disusun dengan maksimal dan tidak lepas dari dukungan dan bimbingan berbagai pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini. Pihak-pihak Tersebut yaitu : 1. Pak Taufiq Rohman, M.Pd Selaku dosen dari mata kuliah Pendidikan agama islam 2. Kepada sahabat-sahabat penulis, yaitu kelas 1B TTE , yang telah memberikan
motivasi berupa saran dan semangat dalam menyelesaikan Makalah.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini, masih memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pembaca. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terutama bagi penulis sendiri dan semua pembacanya
Bandung, September 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
2.1 Latar Belakang...1
2.2 Rumusan Masalah...1
BAB II...2
PEMBAHASAN...2
2.1 Pancasila Pada Masa Zaman Pra Sejarah...2
2.2 Pancasila Pada Saat Zaman Kerajaan...3
2.3 Pancasila Pada Zaman Penjajahan...8
2.4 Pancasila pada Zaman Kebangkitan Nasional...13
2.5 Pancasila pada Zaman Sebelum Proklamasi...17
i. Pembentukan BPUPKI Pada tanggal 29 April 1945...17
ii. Pembentukan Panitia Sembilan pada Tanggal 22 Juni 1945...18
iii. Sidang BPUPKI Kedua pada tanggal 10-16 Juli 1945...19
2.6 Pancasila Pada Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945...19
2.7 UUD 1945 dan Presiden serta wakilnya 18 Agustus 1945...20
2.8 Pergolakan politik dalam negeri yang membahayakan ideology pancasila...20
BAB III...22
PENUTUP...22
3.1 Kesimpulan...22
3.2 Saran...22
Daftar Pustaka...22
BAB I PENDAHULUAN 2.1Latar Belakang
2.2Rumusan Masalah
1. Pancasila Pada Masa Zaman Pra Sejarah 2. Pancasila Pada Saat Zaman Kerajaan 3. Pancasila Pada Zaman Penjajahan
4. Pancasila pada Zaman Kebangkitan Nasional 5. Pancasila pada Zaman Sebelum Proklamasi
6. Pancasila Pada Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 7. UUD 1945 dan Presiden serta wakilnya 18 Agustus 1945
8. Apa Saja Pergolakan politik dalam negeri yang membahayakan ideology pancasila
2.3 Tujuan
1. Bagaiaman rumusan Pancasila Pada Masa Zaman Pra Sejarah 2. Bagaimana Rumusan Pancasila Pada Saat Zaman Kerajaan 3. Bagaimana RumusanPancasila Pada Zaman Penjajahan 4. Bagaimana Pancasila pada Zaman Kebangkitan Nasional 5. Bagaimana Pancasila pada Zaman Sebelum Proklamasi
6. Bagaimana Pancasila Pada Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 7. Apa isi UUD 1945 dan Presiden serta wakilnya 18 Agustus 1945
8. Apa Saja Pergolakan politik dalam negeri yang membahayakan ideology pancasila
BAB II PEMBAHASAN
2.1Pancasila Pada Masa Zaman Pra Sejarah
Ahli geologi menyatakan bahwa kepulauan Indonesia terbentuk pada pertengahan zaman tersier, kira-kira 60 juta tahun silam. Pada zaman kuarter yang dimulai sekitar 600.000 tahun lalu, Indonesia ditinggali oleh manusia berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan. Berdasarkan artefak yang mereka tinggalkan, mereka mengalami hidup tiga zaman yaitu: Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum. Pada masa prasejarah tersebut, mereka telah mengaplikasikan beberapa nilai dari Pancasila, yaitu :
a. Nilai Religius
Adanya sistem penguburan mayat diketahui dari ditemukannya kuburan serta kerangka di dalamnya. Selain itu juga ditemukan alat-alat yang digunakan untuk aktivitas religi seperti upacara mendatangkan hujan, dll. Adanya keyakinan terhadap
pemujaan roh leluhur juga dan penempatan menhir (kubur batu) di tempat-tempat yang tinggi yang dianggap sebagai tempat roh leluhur, tempat yang penuh keajaiban
dan sebagai batas antara dunia manusia dan roh leluhur.
b. Nilai Perikemanusiaan
Adanya penghargaan terhadap hakikat kemanusiaan yang ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap manusia meskipun sudah meninggal. Hal ini menggambarkan perilaku berbuat baik terhadap sesama manusia, yang pada hakekatnya merupakan wujud kesadaran akan nilai kemanusiaan.
c. Nilai Kesatuan
Adanya kesamaan bahasa Indonesia sebagai rumpun bahasa Austronesia, sehingga muncul kesamaan dalam kosa kata dan kebudayaan. Kecakapan berlayar karena menguasai pengetahuan tentang laut, musim, perahu, dan astronomi, menyebabkan
adanya kesamaan karakteristik kebudayaan Indonesia.
d. Nilai Musyawarah
Kehidupan bercocok tanam dilakukan secara bersama-sama. Mereka sudah
memiliki aturan untuk kepentingan bercocok tanam, sehingga memungkinkan tumbuh
kembangnya adat sosial. Kehidupan mereka berkelompok dalam desa-desa, klan, marga atau suku yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang dipilih secara musyawarah berdasarkan Primus Inter Pares (yang pertama diantara yang sama).
e. Nilai Keadilan Sosial
Dikenalnya pola kehidupan bercocok tanam secara gotong-royong dapat diartikan bahwa masyarakat pada saat itu telah berhasil meninggalkan pola hidup food gathering menuju ke pola hidup food producing. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu upaya kearah perwujudan kesejahteraan dan kemakmuran bersama sudah ada.
2.2Pancasila Pada Saat Zaman Kerajaan
Walaupun dirumuskan pada masa kini,namu pada dasarnya ide ide pancasila sudah ada dari zaman kerajaan.
.
A. Masa Kerajaan Kutai
Pada 1300 Kerajaan Kutai Kartanegara didirikan oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti yang sekaligus menjadi raja pertamanya hingga 1325 M. Letak kerajaan bercorak hindu ini berdekatan dengan Kerajaan Kutai Martadipura, yang lebih dulu berdiri kawasan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai yang terkenal sebagai kerajaan hindu tertua di Indonesia merupakan kerajaan yang memiliki sejarah panjang sebagai cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan lainnya di Indonesia. Nama Kutai sendiri diketahui oleh para ahli mitologi saat setelah ditemukannya sebuah prasasti, yaitu Yupa. Prasasti Yupa diidentifikasi sebagai peninggalan asli dari pengaruh agama hindu dan budha yang menggunakan bahasa sansekerta dengan huruf pallawa.
Dari prasasti inilah kemudian ditemukan nama Raja Kudungga sebagai pendiri Kerajaan Kutai. Nama Maharaja Kudungga ini ditafsirkan oleh para ahli sejarah sebagai nama asli Indonesia yang belum terpengaruh dengan bahasa India. Sedangkan keturunannya seperti Raja Mulawarman dan Aswawarman diduga memiliki pengaruh besar budaya hindu dari India.
Seiring dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit pada paruh kedua abad ke-16 lantaran serangan dari Kesultanan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa, pengaruh Hindu di Kerajaan Kutai Kartanegara pun ikut meluruh. Ajaran Islam pun mulai menyebar luas ke Nusantara dan mempengaruhi kerajaan-kerajaan yang sebelumnya memeluk agama Hindu, Buddha, atau ajaran leluhur, tak terkecuali Kerajaan Kutai Kartanegara. Aji Raja Mahkota Mulia Alam (1545-1610) adalah penguasa Kutai Kartanegara pertama yang memeluk Islam, yakni pada 1575. Selain itu, pengaruh Islam di kawasan ini semakin kuat seiring hadirnya para pendakwah. Posisi Kutai Kertanegara sebagai kerajaan Islam di Kalimantan Timur semakin kuat saat dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).
Aji Muhammad Idris, menurut Sutrisno Kutoyo dalam Sejarah Daerah Kalimantan Timur (1978), adalah penguasa pertama di Kutai yang menyandang gelar sultan. Dikutip dari situs Kesultanan Kutai Kartanegara, ketika Sultan Aji Muhammad Idris memimpin, ibu kota kerajaan dipindahkan dari Kutai Lama ke Pemarangan (kini Desa Jembayan, Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara).
Kejayaan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman ditulis dalam Prasasti Yupa.
Dalam prasasti tersebut dikatakan bahwa Mulawarman telah melakukan upacara pengorbanan emas yang jumlahnya sangat banyak. Emas tersebut dibagikan kepada para rakyatnya, selain itu juga dijadikan sebagai persembahan kepada para dewa.
Selanjutnya masa kejayaan pemerintahan Mulawarman bukan hanya ditandai dari bukti tertulis dalam Prasasti Yupa saja. Banyak aspek yang mendorong kerajaan tersebut mencapai masa keemasaanya. Adapun jika dilihat dari beberapa aspek lainnya adalah sebagai berikut:
1. Aspek Sosial
Kehidupan sosial pada kerajaan ini ditandai dengan adanya golongan terdidik yang banyak. Golongan terdidik ini menguasai bahasa sansekerta serta huruf pallawa.
Adapun golongan tersebut adalah golongan brahmana dan ksatria. Golongan ksatria terdiri dari kerabat Raja Mulawarman pada masa itu.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya upacara pemberkatan seseorang yang memeluk agama hindu. Dimana para brahmana memakai bahasa sansekerta yang sering digunakan pada prosesi adat tertentu, namun sulit untuk dipelajari. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pada masa itu, para brahmana memilik intelektual yang tinggi.
2. Aspek Politik
Pada masa pemerintahan Raja Mulawarman, stabilitas politik begitu terjaga. Sistem politik menjadi kekuatan yang besar pengaruhnya dalam memimpin suatu kerajaan.
Hal tersebut juga disebutkan di Prasasti Yupa bahwa Raja Mulawarman dikatakan menjadi raja yang berkuasa, kuat serta bijaksana.
Secara jelas isi Prasasti Yupa tersebut adalah “Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia mempunyai putra yang manshur, bernama Sang Aswawarman, ia seperti Sang Ansuman (Dewa Matahari) dengan menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman memiliki putra tiga, seperti api yang suci berjumlah tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman, raja yang baik, kuat, dan bijaksana. Sang Mulawarman telah melakukan kenduri dengan emas yang amat banyak. Karena kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh para Brahmana.” Dari sinilah kita dapat mengetahui kekuatan politik dari Raja Mulawarman. Begitu kuatnya, hingga rakyat dan para golongan brahmana pun mendirikan tugu sebagai bukti bahwa dirinya sangat berkuasa pada masa itu.
3. Aspek Ekonomi
Letak kerajaan yang berada dekat dengan Sungai Mahakam, membuat rakyatnya begitu mudah untuk bercocok tanam. Hal tersebut menjadi mata pencaharian utama, sedangkan lainnya lebih banyak beternak sapi dan berdagang. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan tertulis yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana.
Selain itu, Kerajaan Kutai juga menerapkan sistem penarikan hadiah yang harus diberikan kepada raja bagi pedagang luar yang ingin berdagang di daerah Kutai.
Pemberian hadiah biasanya berupa barang yang mahal atau upeti yang dianggap sebagai pajak. Oleh sebab itu, Kutai mendapatkan banyak pemasukan dari berbagai sumber.
4. Aspek Agama
Kehidupan masyarakat Kutai begitu kental dengan dengan keyakinannya pada leluhur. Terbukti dengan adanya Prasasti Yupa yang berbentuk seperti tugu batu. Jika dilihat asal usulnya, tugu batu sendiri merupakan peninggalan nenek moyang pada Zaman Megalitikum.
Kemudian terdapat menhir dan batu berundak, selain itu dalam prasati yupa menyebutkan tempat pemujaan yang suci bernama Waprakeswara (tempat pemujaan dewa siwa). Oleh sebab itu, diyakini bahwa bahwa Raja sebagai penganut agama
hindu siwa bercampur dengan golongan brahmana. Sedangkan rakyatnya dibebaskan untuk menganut agama hindu dalam aliran lainnya.
Masa kejayaan tersebut tak berlangsung lama, setelah Raja Mulawarman wafat, Kutai banyak mengalami pergantian pemimpin. Hingga akhirnya kerajaan ini runtuh, pada masa kepemimpinan Raja Dharma Setia. Telah dikabarkan bahwa Raja Dharma Setia tewas dibunuh oleh penguasa Kerajaan Kutai Kartanegara, yaitu Pangeran Anum Panji Mandapa pada abad ke-13 M.
Perlu diketahui bahwa kerajaan Kutai Kartanegara berbeda dengan Kerajaan Kutai yang dipimpin oleh Mulawarman. Kerajaan Kutai Kartanegara terletak di Tanjung Kute. Kemudian kerajaan inilah yang disebut dalam Kitab Negarakertagama pada tahun 1365.
Selanjutnya dalam perkembangannya Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi kerajaan islam yang disebut dengan Kesultanan Kutai Kartanegara. Inilah awal mula keruntuhan Kutai Mulawarman yang disebut juga dengan Kutai Martadipura. Selanjutnya kekuasaan diambil alih oleh Kesultanan Kutai Kertanegara.
B. Masa Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke VII, di bawah kekuasaan Wangsa Sailendra (Melayu Kuno & menggunakan huruf Palawa) di kenal dengan kerajaan Maritim yang mengadakan jalur perhubungan laut. Kerajaan Sriwijaya menguasai Selat Sunda (686 M), Selat Malaka (775M). Sistem perdagangan telah diatur dengan baik, dimana Pemerintah melalui pegawai Raja membentuk suatu badan untuk mengumpulkan hasil kerajinan rakyat supaya rakyat mengalami kemudahan dalam pemasarannya. Selain itu juga sudah ada badan yang yang bertugas mengurus pajak, harta benda kerajaan, kerohaniawan yang menjadi pengawas teknis pembangunan, gedung-gedung dan patung-patung suci sehingga kerajaan dapat menjalankan sistem negaranya dengan nilai-nilai ketuhanan
Pada zaman Kerajaan Sriwijaya telah didirikan Universitas Agama Budha yang sudah dikenal di Asia, Pelajar dari Universitas ini dapat melanjutkan studi ke India, banyak guru- guru tamu yang mengajar disini dari India, seperti Dharmakitri. Cita-cita kesejahteraan bersama dalam suatu Negara telah tercermin dalam Kerajaan Sriwijaya sebagaimana tersebut dalam perkataan "Marvuai Vannua Criwijaya Siddhayatra Subhika" (suatu cita-cita negara yang adil dan makmur).
Pada Hakekatnya Nilai-nilai budaya Kerajaan Sriwijaya telah menunjukan nilai-nilai pancasila, yaitu sebagai berikut:
a. Nilai sila pertama, terwujud dengan adanya agama Budha dan Hindu yang hidup berdampingan secara damai. Pada Kerajaan Sriwijaya terdapat pusat kegiatan pembinaan dan pengembangan agama Budha.
b. Nilai sila kedua, terjalinnya hubungan antara Sriwijaya dengan India (Dinasti Marsha). Pengiriman para pemuda untuk belajar ke India meunjukan telah tumbuh nilai-nilai politik luar negeri yang bebas aktif
c. Nilai sila ketiga, sebagai negara maritim, Kerajaan Sriwijaya telah menerapkan konsep negara kepulauan sesuai dengan konsep wawasan nusantara.
d. Nilai sila keempat Kerajaan Sriwijaya telah memiliki kedaulatan yang luas, meliputi Siam dan Semenanjung Melayu (INA sekarang)
e. Nilai Sila kelima, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pelayanan dan perdagangan sehingga kehidupan rakyatnya sangat makmur.
C. Masa Kerajaan Majapahit
Sebelum kerajaan majapahit berdiri telah berdiri kerajaan di jawa Tengah dan Jawa Timut secara silih berganti yaitu kerajaan Kalingga (abad ke-VII), Sanjaya (abad ke-VIII), sebagai refleksi puncak budaya kerajaan tersebut dibangunnya Candi Borobudur (candi agama Budha pada abad ke-IX) dan Candi Brambanan (candi agama Hindu pada abad ke-X)
Agama yang dilaksanakan pada zaman Majapahit ini adalah Agama Hindu dan Budha yang saling hidup berdampingan secara damai. Pada masa ini mulai dikenal beberapa isitilah dan Nilai-nilai pancasila pada Kerajaan Majapahit, antara lain:
1) Sila 1, terbukti pada waktu agama Hindu dan Budha hidup berdampingan secara damai. Istilah Pancasila terdapat dalam buku 'Negrakertagama karangan Empu Prapanca dan Empu Tantular mengarang buku Sutasoma yang terdapat seloka persatuan nasional yang berbunyi "Bhineha Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrud\
artinya walaupun berbeda-beda namun satu jua dan tidak ada agama yang memiliki tujuan yang berbeda.
2) Nilai sila 2, terwujud pada hubungan baik Raja Hayam Wuruk dengan kerajaan Tiongkok, Ayoda, Champa, dan kamboja. Disamping itu juga mengadakan persahabatan dengan Negara-negara tetangga.
3) Nilai sila 3, terwujud dengan keutuhan kerajaan , khususnya Sumpah Palapa, yang di ucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang Ratu dan Menteri-menteri tahun 1331 yang berbunyi: "Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa, jika
seluruh nusantara tertakluk di bawah kekuasaan Negara, jika gurun, Seram, Tanjung, Ham, pahang, Dempo, Bali Sunda, Palembang, dan Tumasik telah dikalahkan"
4) Nilai sila 4, Terdapat semacam penasehat dalam tata pemerintahan Majapahit yang menunjukan nilai-nilai musyawarah mufakat. Menurut prasasti Kerajaan Brumbang (1329), dalam tata pemerintahan kerajaan Majapahit terdapat semacam penasehat kerajaan , seperti Rakryan I Hino, I Sirikan dan I Halu yang berarti memberikan nasehat kepada Raja. Kerukunan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat telah menumbuhkan adat bennusyawarah untuk mufakat dalam memutuskan masalah bersama.
5) Nllai Sila 5 dengan berdirinya kerajaan selama beberapa abad yang ditopang dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.
2.3 Pancasila Pada Zaman Penjajahan
Sejarah perjuangan bangsa indonesia untuk membentuk suatu negara kesatuan sangat erat kaitannya dengan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, kerakyatan dan keadilan.
Semua itu sudah dimiliki oleh bangsa indonesia sejak dahulu kala.
Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Budha, serta Islam ke Indonesia menandai dimulainya kehidupan beragama di kalangan masyarakat. Agama-agama ini membuat perubahan besar pada gaya kehidupan serta pandangan masyarakat terhadap sistem sosial-ekonominya. Penyelenggaraan perdagangan jual beli di kota-kota dan di pelabuhan menimbulkan komunikasi terbuka, mau itu secara horizontal maupun secara vertikal. Serta perubahan gaya hidup masyarakat dan nilai-nilainya.
Pada masa kejayaan kerajaan Majapahit dengan rajanya Hayam Wuruk serta patihnya Gajah Mada, hidup dan berkembang dua agama yaitu Hindu dan Budha. Majapahit melahirkan beberapa empu diantaranya yaitu seperti empu Prapanca yang menulis buku Negara Kertagama (1365) yang didalamnya terdapat istilah “Pancasila”, sedangkan empu Tantular mengarang buku Sutasoma yang didalamnya tercantum seloka/puisi persatuan nasional “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya walaupun berbeda namun satu juga.
Setelah Majapahit kerajaan Hindu Budha runtuh, maka berkembanglah agama Islam dengan pesatnya di Indonesia. Bersamaan dengan itu maka berkembang kerajaan- karajaan Islam seperti kerajaan Demak, Samudra Pasai dan masih banyak lagi. Selain itu,
mulai berdatangan orang-orang Eropa di nusantara yang ingin mencari pusat tanaman rempah-rempah. Kemudian untuk menghindarkan persaingan diantara mereka sendiri, kemudian mereka mendirikan suatu perkumpulan dagang yang bernama VOC (Verenigde Oost Indische Compaignie) yang dikalangan rakyat dikenal dengan istilah ‘kompeni’.
Praktek-praktek VOC mulai menunjukkan ketidak adilan mereka bagi rakyat dengan paksaan-paksaan sehingga rakyat mulai mengadakan perlawanan. Mataram dibawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) berupaya mengadakan perlawanan dan menyerang ke Batavia pada tahun 1628 dan tahun 1929, walaupun tidak berhasil meruntuhkan namun Gubernur Jendral J.P Coen tewas dalam serangan Sultan Agung yang kedua itu.
Berhubungan dengan bangsa Eropa telah membawa perubahan-perubahan dalam pandangan masyarakat yaitu mulai masuknya paham-paham baru, seperti liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme. Hingga sampai akhirnya Indonesia dapat menumbuhkan jiwa Nasionalisme dan bersatu untuk merdeka. Dorongan akan cinta terhadap tanah air ini yang menimbulkan semangat untuk melawan penindasan belanda, namun sekali lagi karena tidak adanya kesatuan dan persatuan di antara mereka dalam melawan penjajah, maka perlawanan terebut senantiasa kandas dan menimbulkan banyak korban. Mulai memuncak ketika Belanda menerapkan sistem monopoli melalui tanam paksa (1830- 1870) dengan memaksakan beban kewajiban terhadap rakyat.
Pada awal Kebangkitan Nasional di panggung politik internasional terjadilah pergolakan kebangkitan dunia timur, di Indonesia kebangkitan nasional(1908).
Mulailah perjuangan bangsa Indonesia berfokus dan menuju satu titik yaitu pada kesatuan nasional dengan tujuan yang jelas yaitu Indonesia merdeka. Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928 lahirlah Sumpah Pemuda sebagai penggerak kebangkitan nasional yang menyatakan satu bahasa, satu bangsa serta satu tanah air yaitu Indonesia Raya.
Pada tanggal 29 April 1945 bersamaan dengan ulang tahun Kaisar Jepang, bangsa Indonesia diberi hadiah yaitu diperbolehkan memperjuangkan kemerdekaannya, dan untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari bangsa Indonesia maka Jepang menganjurkan membentuk suatu badan yang bertugas untuk menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan yaitu BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Zyumbi Tiosakai. Pada hari itu juga diumumkan sebagai Ketua
(Kaicoo) Dr. KRT. Radjiman Widyodiningrat dan beranggotakan 60 orang, yang kemudian mengusulkan bahwa agenda pada sidang BPUPKI adalah membahas dasar negara.
Sidang BPUPKI pertama (29 Mei – 1 Juni 1945) dengan pembicaranya adalah Mr.
Muh. Yamin, Mr. Soepomo, Drs. Moh. Hatta, dan Ir. Soekarno. Mereka semua berpidato guna membahas tentang rancangan usulan hukum dasar negara.
Sidang BPUPKI pertama terdapat usulan-usulan sebagai berikut:
a) Mr. Muh. Yamin (29 Mei 1945)
Dalam pidatonya tanggal 29 Mei 1945 Muh. Yamin mengusulkan calon rumusan dasar negara sebagai berikut:
Secara Lisan
1. Peri kebangsaan 2. Peri kemanusian 3. Peri Ketuhanan
4. Peri kerakyatan (permusyawaratan, peerwakilan, kebijaksanaan) 5. Kesejahteraan rakyat (keadilan sosial).
Secara Tertulis
1. Ketuhanan yang Maha Esa 2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa kemanusiaan yang adil dan beradap
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia
b). Prof. Dr. Supomo (31 Mei 1945)
Dalam pidatonya Prof. Dr. Supomo mengemukakan teori-teori negara sebagai berikut:
1. Paham kebangsaaan
2. Warga Negara berhak tunduk kepada Tuhan dan supaya setiap saat ingat kepada Tuhan
3. Sistem badan permusyawaratan
4. Ekonomi Negara bersifat Asia Timur Raya
5. Hubungan antar bangsa yang bersifat Asia Timur Raya
Selanjutnya dalam kaitannya dengan dasar filsafat negara Indonesia Soepomo mengusulkan hal-hal mengenai: kesatuan, kekeluargaan, keseimbangan lahir dan batin, musyawarah, keadilan rakyat.
c). Ir. Soekarno (1 Juni 1945)
Dalam hal ini Ir. Soekarno menyampaikan dasar negara yang terdiri atas lima prinsip yang rumusanya yaitu:
1. Nasionalisme(kebangsaan Indonesia) 2. Internasionalisme dan peri kemanusiaan
3. Musyawarah mufakat perwakilan atau demokrasi, 4. kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan
Beliau juga mengusulkan bahwa pancasila adalah sebagai dasar filsafat negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia.
Sidang BPUPKI Kedua (10-16 Juli 1945) dalam siding ini membahas Dasar Negara.
Dalam sidang ini dibentuk panitia kecil yang terdiri dari 9 orang dan populer disebut dengan “panitia sembilan” yang anggotanya adalah sebagai berikut:
1. Ir. Soekarno 2. Wachid Hasyim 3. Mr. Muh. Yamin 4. Mr. Maramis 5. Drs. Moh. Hatta 6. Mr. Soebarjo
7. Kyai Abdul Kahar Muzaki 8. Abikoesmo Tjokrosoejoso 9. Haji Agus Salim
Panitia sembilan ini mengadakan pertemuan secara sempurna dan mencapai suatu hasil baik yaitu suatu persetujuan antara golongan islam dengan golongan kebangsaan.
Panitia sembilan bersidang tanggal 22 Juni 1945 dan menghasilkan kesepakatan yang dituangkan dalam Mukadimah Hukum Dasar, alinea keempat dalam rumusan dasar negara sebagai berikut:
1. Ketuhanan dengan berkewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk- pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Moh. Yamin mempopulerkan kepada rakyat bangsa indonesia kesepakatan tersebut dengan nama Piagam Jakarta atau Jakarta Charter.
B. Arti Penting Pancasila
Menurut Moerdiono menunjukkan adanya 3 tataran nilai dalam ideologi Pancasila.
1. Pertama, nilai dasar.
2. Kedua, nilai instrumental.
3. Ketiga, nilai praksis.
C. Fungsi Pancasila
1. Sebagai Dasar Negara yang mengatur penyelenggaraan negara.
2. Sebagai sumber dari segala sumber hukum.
3. Sebagai penyaring budaya budaya luar yang masuk, serta menyaring baik buruknyb bagi bangsa indonesia.
4. Sebagai Pandangan hidup bangsa indonesia.
5. Sebagai kepribadian bangsa indonesia.
6. Sebagai ciri-ciri dan tujuan bangsa indonesia.
7. Sebagai jiwa bangsa indonesia.
Nilai-nilai pancasila yang terkandung pada zaman masa penjajahan adalah nilai kemanusiaan dan nilai keadilan sosial yang menentang adanya penjajahan, setiap daerah berjuang untuk melindungi wilayah mereka agar tidak dijajah untuk memperoleh keadilan terhadap hak yang paling asasi yaitu kemerdekaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan bagian dari hak asasi tersebut.
2.4 Pancasila pada Zaman Kebangkitan Nasional
Masa kebangkitan nasional, bangsa Indonesia menyadari arti penting persatuan dan kesatuan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah, Kebangkitan Nasional adalah awal penting perjuangan bagi rakyat indonesia yang berbeda yang mengandalkan pikiran/intelektualitas jalur diplomasi generasi muda yang mengandalkan musyawarah
dan mufakat. Sehingga nilai-nilai Pancasila yang paling terlihat atau menonjol pada masa ini adalah nilai musyawarah, nilai keadilan dan nilai persatuan dan kesatuan.
Masa Kebangkitan Nasional ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi modern antara lain Budi Utomo (BU), Sarekat Islam (SI), dan Indische Partij (IP) dalam memperjuangkan perbaikan nasib bangsa. Masa Kebangkitan Nasional ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi modern antara lain Budi Utomo (BU), Sarekat Islam (SI), dan Indische Partij (IP) dalam memperjuangkan perbaikan nasib bangsa.
A. Kebangkitan Nasional 1908
1. Budi Utomo (1908): dr. Wahidin Sudirohusodo
Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 diawali dari upaya dr. Wahidin Sudirohusodo berkeliling Jawa untuk membentuk Studie Fonds (Dana Belajar) untuk memberikan bantuan bagi siswa yang tidak mampu, namun memiliki potensi. Pada akhir 1907, dr. Wahidin bertemu pemuda Sutomo, pelajar STOVIA di Jakarta. Karena adanya kesamaan pemikiran diantara kedua tokoh tersebut, maka pada hari Rabu, 20 Mei 1908, di Gedung STOVIA (Gedung Kebangkitan Nasional sekarang) dibentuklah organisasi modern pertama yang diberi nama Budi Utomo. Sebagai ketua pertamanya terpilih dr. Soetomo.
Pada bulan Oktober 1908, diadakanlah kongres yang pertama Budi Utomo yang diselenggarakan di Yogyakarta, yang menghasilkan keputusan-keputusan sebagai berikut :
a. Budi Utomo tidak ikut mengadakan kegiatan politik
b. Kegiatan Budi Utomo ditujukan kepada bidang pendidikan dan kebudayaan
c. Ruang gerak terbatas pada daerah Jawa dan Madura.
Kongres tersebut juga memutuskan susunan pengurus besar Budi Utomo.
Pusat organisasi ditetapkan di Yogyakarta. Dalam perkembangannya, Budi Utomo kurang diminati oleh kaum golongan muda karena Budi Utomo tidak berpolitik serta Budi Utomo mementingkan menggunakan bahasa Belanda dibandingkan bahasa Indonesia. Walaupun demikian, sampai akhir tahun 1909, Budi Utomo telah
mempunyai 40 cabang dengan jumlah anggota kurang lebih 10.000 orang. Karena perkembangan organisasi ini hanya terbatas di Pulau Jawa dan Madura serta mulai berkembangnya organisasi seperti Sarekat Islam yang mencakup keanggotaan tanpa ada batasan wilayah, Budi Utomo pun mengalami kemunduran. Proses peleburan terjadi pada Kongres Budi Utomo tanggal 24-26 Desember 1935 di Solo.
Nilai pancasila yang terkandung didalam Budi Utomo yaitu nilai persatuan.
Bersatunya para pelajar Indonesia untuk lepas dari jajahan belanda. Nilai keadilan sosial tentang biaya pendidikan bagi yang tidak mampu.
2. Serikat Islam (1905): Haji Samanhudi
Pada awal mulanya, pada tahun 1905, K.H Samanhudi mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI) di Solo, dengan bertujuan untuk membela kepentingan pedagang-pedagang Indonesia dari ancaman para pedagang Cina. Dengan masuknya Umar Said Cokroaminoto, SDI diubah namanya menjadi Serikat Islam (SI), agar anggotanya tidak terbatas pada golongan pedagang saja. Adapun tujuan dari Serikat Islam adalah sebagai berikut :
a. mengembangkan jiwa dagang
b. membantu para anggotanya yang mempunyai kesulitan dalam usahanya
c. memajukan pengajaran
d. memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru tentang Islam.
Dalam waktu yang relatif sangat singkat Serikat Islam mendapatkan simpati dan dukungan dari anggotanya yang sangat besar. Hal ini dikarenakan/disebabkan oleh :
a. Serikat Islam terbuka bagi seluruh golongan
b. Serikat Islam berpolitik untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan
c. Serikat Islam membela kepentingan rakyat pribumi yang menderita karena penjajahan
d. Serikat Islam dipimpin oleh tokoh-tokoh yang dihormati, seperti alim ulama dan kiai-kiai
e. Agama Islam dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia.
Melihat adanya tanda-tanda semangat juang dan revolusioner dalam tubuh Serikat Islam, Gubernur Jendral Idenberg menaruh sikap waspada terhadap Serikat Islam. Pada kongres pertama Serikat Islam di Surabaya, ditegaskan bahwa Serikat Islam bukan partai politik. Hal tersebut dimaksudkan untuk agar tidak melawan kepada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Sarekat Islam mulai mengalami kemunduran pada tahun 1921. Kemunduran ini terjadi karena akibat dari perpecahan dalam organisasi. Sarekat Islam terpecah menjadi dua bagian yaitu SI Putih dan SI Merah. Perpecahan ini terjadi akibat adanya campur tangan golongan komunis melalui tokoh Semaun dan Darsono ke dalam tubuh SI. Kemudian SI merah mengubah nama menjadi "Sarekat Rakyat".
Nilai-nilai pancasila yang terkandung dalam Serikat Islam yaitu nilai keadilan tentang diperbolehkannya golongan lain untuk masuk ke organisasi tersebut, serta nilai persatuan tentang pembelaan kepentingan rakyat pribumi yang menderita karena penjajahan.
3. Indische Partij (1912): Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, Ki hajar Dewantara Indische Partij didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 oleh tiga serangkai, yaitu :
1. E.F.E. Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi.
2. Ki Hajar Dewantar 3. dr. Cipto Mangunkusumo
Tujuan didirikannya Indische Partij ini adalah untuk mempersatukan semua bangsa Indonesia sebagai persiapan menuju kehidupan bangsa yang merdeka. Yang dimaksud dengan Indiers adalah semua orang yang lahir di Indonesia dan mengaku bertanah air Indonesia, baik itu orang Indo-Belanda, Cina, Arab maupun pribumi asli.
Cita-cita Indische Partij ini disebarluaskan melalui surat kabar “De Express”.
Karena sikap dan programnya yang tegas dan bercita-cita yaitu ingin Hindia Merdeka untuk pertamakalinya, maka surat permohonan untuk mendapatkan pengakuan sebagai badan hukum ditolak pemerintah Hindia Belanda. Sikap kritis Indische Partij ini juga tampak dalam artikel yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara
dalam surat kabarnya. Artikel tersebut berisi sindiran terhadap pemerintah Hidia Belanda yang mengajak bangsa Indonesia untuk memperingati hari kemerdekaan Belanda yang ke-seratus.
Karena kegiatan-kegiatan Indische Partij dianggap merugikan bagi pemerintah Belanda, maka pada bulan Agustus 1913, pemerintah Belanda menangkap ketiga pemimpin IP tersebut. Merka kemudian mendapatkan hukuman buang/pengasingan.
Mereka sendiri memilih Belanda sebagai tempat pembuangannya/pengasingannya.
Dengan dibuangnya ketiga tokoh IP tersebut, maka kegiatan IP semakin menurun.
kemudian Indische Partij dibubarkan karena menurut pemerintah Belanda organisasi ini dianggap sebuah gerakan radikal yang mengganggu keamanan mereka.
Nilai-nilai pancasila yang terkandung adalah seperti nilai persatuan, kebangsaan, kemerdekaan, keadilan sosial, serta harkat dan martabat manusia untuk memperjuangkan nasib penduduk pribumi ini.
2.5 Pancasila pada Zaman Sebelum Proklamasi
i. Pembentukan BPUPKI Pada tanggal 29 April 1945
Tepat pada tanggal 29 April 1945, terjadi pembentukan BPUPKI sebagai tahap awal dalam penyusunan dasar negara. BPUPKI, singkatan dari Badan Penyelidikan Usaha- usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, atau dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Dokuritsu Junbi Cosakai, memiliki tujuan utama untuk mempersiapkan dan membahas hal-hal terkait tata pemerintahan dan dasar negara.
Proses pembentukan BPUPKI dimulai pada tanggal 29 Mei 1945, dan sidang pertamanya berlangsung hingga 1 Juni 1945. Sidang tersebut dipimpin oleh ketua terpilih, Dr. Radjiman Wedyodiningrat, dan terdiri dari 33 anggota yang terlibat dalam proses ini.
Dalam sidang pertama BPUPKI, beberapa tokoh penting seperti Muhammad Yamin, Ir. Soekarno, dan Soepomo, menyampaikan serangkaian gagasan tentang 5 poin dasar negara. Muhammad Yamin mengemukakan lima gagasan yang mencakup aspek ketuhanan, peri kerakyatan, peri kemanusiaan, peri kebangsaan, serta kesejahteraan rakyat.
Soepomo juga memberikan kontribusi dengan mengusulkan 5 gagasan berbeda yang mencakup hubungan negara dan agama, sosialisasi negara, paham persatuan, serta hubungan antar bangsa.
Di samping itu, Soekarno juga turut berpartisipasi dengan mengajukan poin-poin dasar negara, seperti mufakat dan demokrasi, ketuhanan yang berkebudayaan, kebangsaan Indonesia, kesejahteraan sosial, dan internasionalisme.
Hasil dari kumpulan gagasan ini kemudian disusun secara kolektif dalam rapat dan menjadi landasan bagi terbentuknya Pancasila. Dan karena hal tersebut lah, hari lahir pancasila dirayakan pada tanggal 1 juni tiap tahun nya.
ii. Pembentukan Panitia Sembilan pada Tanggal 22 Juni 1945
Setelah mendapatkan pokok-pokok dan nama "Pancasila" sebagai dasar negara, pembahasan dilanjutkan dengan lingkup yang lebih kecil yang berjumlah 9 orang dan dikenal sebagai Panitia Sembilan.
Panitia Sembilan dibentuk setelah Ir. Soekarno memberikan rumusan Pancasila.
Adapun anggotanya adalah sebagai berikut:
1. Ir. Soekarno (ketua)
2. Drs. Mohammad Hatta (wakil ketua) 3. Mr. Alexander Andries Maramis (anggota) 4. Abikoesno Tjokrosoejoso (anggota) 5. Abdoel Kahar Moezakir (anggota) 6. H. Agus Salim (anggota)
7. Mr. Achmad Soebardjo (anggota)
8. Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim (anggota) 9. Mr. Mohammad Yamin (anggota)
Dalam prakteknya, Panitia Sembilan berhasil membuat rancangan naskah pembukaan UUD yang pada saat itu dikenal dengan Piagam Jakarta.
Piagam Jakarta atau Jakarta Charter memiliki sebuah naskah yang disusun pada Rapat Panitia Sembilan atau 9 Tokoh pada 22 Juni 1945. Naskah yang terdapat dalam Piagam Jakarta adalah sebuah rumusan dasar negara. Rumusan Dasar Negara dalam Piagam Jakarta Berikut ini rumusan dasar negara menurut Piagam Jakarta.
1) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3) Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan.
4) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Rumusan negara inilah yang nanti akan menjadi sila sila dalam pancasila.
iii. Sidang BPUPKI Kedua pada tanggal 10-16 Juli 1945
Setelah tugas Panitia Sembilan terselesaikan, BPUPKI melakukan sidang yang kedua pada Tanggal 10-16 Juli 1945. Beberapa keputusan penting yang diambil adalah:
Pancasila yang tertuang pada Piagam jakarta dijadikan sebagai dasar negara
Indonesia dijadikan sebagai negara Republik. Keputusan ini Berdasarkan 55 suara dari 64 orang yang hadir dalam sidang.
Indonesia meliputi wilayah Timor Timur, Hindia Belanda dan wilayah Malaka.
Hasil kesepakatan ini berasal dari 34 suara
Pembentukan Panitia Pembela Tanah Air yang ditugaskan untuk merancang Undang Undang Dasar dan Panitia khusus yang mengurusi bidang ekonomi.
Dengan segala persiapan yang telah dibuat, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah itu, Panitia Pembela Tanah Air menggantikan BPUPKI dalam menyempurnakan dasar negara Indonesia.
2.6 Pancasila Pada Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945
Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai
“Pancasila”. Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas. Pada saat itu Bung Karno menyebutkan lima dasar negara Indonesia, yakni Sila pertama
“Kebangsaan”, sila kedua “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, sila ketiga
“Demokrasi”, sila keempat “Keadilan sosial”, dan sila kelima “Ketuhanan yang Maha Esa”. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal "Pancasila" pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPKI.
Untuk menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat Undang-Undang Dasar yang berlandaskan kelima asas tersebut, maka Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk sebuah panitia yang disebut sebagai Panitia Sembilan, berisi Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Bapak AA Maramis, dan Achmad Soebardjo.
setelah melalui beberapa persidangan PPKI, pada tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila ditetapkan sebagai dasar ideologi negara Indonesia bersamaan dengan penetapan Rancangan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. Pada sidang tersebut, disetujui bahwa Pancasila dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia yang sah.
Adapun bunyi Pancasila yang berlaku hingga kini adalah:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang DIpimpin Oleh Hikmat, Kebijaksanaan, dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
2.7 UUD 1945 dan Presiden serta wakilnya 18 Agustus 1945
Selepas perumusan dasar negara Indonesia yang dilaksanakan tanggal 29 Mei-1 Juni 1945,dibentuk panitia kecil (9 orang) untuk merumuskan gagasan-gagasan tentang dasar- dasarnegara yang dilontarkan oleh 3 pembicara pada persidangan pertama. Pada tanggal 22 Juni 1945, rumusan hasil Panitia 9 itu diserahkan ke BPUPKI dan diberi nama
"Piagam Jakarta".
Naskah Piagam Jakarta ditulis dengan menggunakan ejaan Republik dan ditandatangani
oleh Ir. Soekarno, Moh. Hatta, A. A. Maramis, Abdul Kahar, H. Agus Salim, Achmad Subardjo, Abikoesno, K. H. Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin. Namun, ada
perdebatan terkait sila pertama pada Piagam Jakarta. Oleh karena itu, dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta.
Hingga kemudian, rumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945 itu menjadi seperti yang dikenal saat ini, yaitu:
1. Ketuhanan yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2.8 Pergolakan politik dalam negeri yang membahayakan ideology pancasila A. Sejarah RIS
Terbentuknya RIS tidak lepas dari dengan kedatangannya kembali Belanda ke Indonesia lewat Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Pada Agresi Militer II, Belanda menyerang Yogyakarta yang menjadi ibu kota Indonesia waktu itu. Bahkan sejumlah tokoh,seperti Soekarno, dan Moh Hatta, ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke daerah.
Dikutip situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II membuat pemerintahan di Indonesia lumpuh meski tidak bubar secara resmi.
Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta sebelum tertangkap memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran, Syafruddin Prawiranegara yang berada di Sumatera untuk membentuk pemerintahan darurat.Akhirnya pada 22 Desember 1949 di Sumatera Pemerintah Darurat dibentuk.
Kemudian Belanda memilih untuk berunding dengan Indonesia, salah satunya lewat KMB. KMB yang
digelar pada 23 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag, Belanda tersebut berlangsung alot. Hasilnya terbentuk RIS dan Belanda mengakui kedaulatan kepada Indonesia kepada RIS tanpa syarat apa pun.
B. Kembali ke NKRI
RIS berdiri tidak berlangsung berlangsung lama. Karena banyak gejolak-gejolak yang terjadi dengan menuntut dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Banyak negara bagian yang menyatakan ingin bergabung ke dalam NKRI. Adanya desakan tersebut kemudian dilakukan pembahasan antara RIS dengan RI untuk bisa kembali sesuai cita-cita pada awal proklamasi.
Akhirnya pada 15 Agustus 1950, secara resmi kembali ke NKRI setelah penggabungan pemerintahan RIS dan RI dihadapan sidang DPR dan senat.
Konstitusi RIS diubah menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia (yang selanjutnya dikenal sebagai UUDS 1950) berdasarkan UU RIS Nomor 7 Tahun 1950. Pada hari itu juga, Pemangku Jabatan Presiden RI, Assaat, kemudian menyerahkan secara resmi kekuasaan pemerintahan RI kepada Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia.
BAB III PENUTUP
3.1Kesimpulan
Kesimpulan
3.2 Saran
Daftar Pustaka
Kompasiana, 2019. Pancasila di Era Pra Kemerdekaan dan Era Kemerdekaan. Diakses Pada 27 Agustus 2023 dari.
https://www.kompasiana.com/pancasila-di-era-pra-kemerdekaan-dan-era-kemerdekaan Kompas.com, 2020. Terbentuknya Republik Indonesia Serikat. Diakses Pada 27 Agustus 2023 dari
https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/10/080000569/terbentuknya-republik-indonesia -serikat
Gita Laftania, "Pancasila dalam konteks zaman penjajahan", diakses pada tanggal 28-29 Agustus 2023 dari
https://www.academia.edu/11199728/Pancasila_dalam_konteks_zaman_penjajahan
Putra Widia, "Pembahasan Nilai-Nilai Pancasila pada Zaman Pergerakan Nasional", diakses pada tanggal 29 Agustus 2023 dari
https://www.academia.edu/23352862/Pembahasan_Nilai_Nilai_Pancasila_pada_Zaman_Perg erakan_Nasional
K. KSheilaTA, "Nilai Pancasila dimasa penjajahan dan Nilai Pancasila dimasa kebangkitan Nasional", diakses pada tanggal 29 Agustus 2023 dari
https://roboguru.ruangguru.com/forum/nilai-pancasila-dimasa-penjajahan-nilai-pancasila- dimasa-kebangkitan-nasional_FRM-ZFO358O6?action=login&_tracker=forum_detail_lock unikom.ac.id, "Pancasila dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia", diakses pada tanggal 29 Agustus 2023 dari https://repository.unikom.ac.id/33408/1/%28Pertemuan
%20XIV%29%20Pancasila%20dalam%20Konteks%20Sejarah%20Perjuangan
%20Bangsa.pdf
Bestari,Niken. Bukti Adanya Nilai-Nilai Pancasila Sejak Zaman Prasejarah Mulai Dari Sila Pertama Hingga Kelima.Diakses Pada 28 Agustuts 2023 dari
https://bobo.grid.id/read/083604352/bukti-adanya-nilai-nilai-pancasila-sejak-zaman- prasejarah-mulai-dari-sila-pertama-hingga-kelima?page=all
UPI. (2020). Pancasila Dalam Kajian Sejarah Bangsa Indonesia.Diakses Pada 27 Agustus 2023 Dari . https://www.studocu.com/id/document/universitas-pendidikan-
indonesia/penelitian-dalam-administrasi-pendidikan/pancasila-dalam-kajian-sejarah-bangsa- indonesia/22394713
“Sejarah Pancasila Sebelum Kemerekaan Yang Harus Diketahui!”,Diakses Pada 27 Agustus 2023 Dari https://kumparan.com/berita-update/sejarah-pancasila-sebelum-kemerdekaan- yang-harus-diketahui-1uqKPQGvnce
Sisma Annisa Fianni. “Mengenal Rumusan Dasar Negara Menurut Piagam Jakarta" , Diakses pada 27 Agustus 2023 dari https://katadata.co.id/agung/berita/639ca17f6d069/mengenal- rumusan-dasar-negara-menurut-piagam-jakarta
Dewantari Tiara Syabanira, “Sejarah Penerapan Pancasila Saat Masa Awal Kemerdekaan”
,Diakses Pada 27 Agustus 2023 Dari https://www.brainacademy.id/blog/sejarah-penerapan- pancasila-saat-masa-awal-kemerdekaan
Buku kisah pancasila, penerbit kemendikbud, tahun terbit 2017,penulis Panitia Peringatan Hari Lahir Pancasila