• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

N/A
N/A
Reza Firdaus

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN "

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh Kelompok 3:

1. Reni (21058037)

2. Zulaienny Pratama (21053120) 3. Dilla Agustia (21058064)

4. Efria Nadila (21058010) 5. Fauziah Hani (21058015) 6. Rohmatul Azizah Putri ( 21329141) 7. Rizki Hidayatullah Achmad (21329140)

8. Khairani Rizky (21058154)

Dosen Pembimbing Drs. Afrizal Sano, M.Pd.Kons.

UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2022

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Subhanahuwataala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Pertumbuhan Dan Perkembangan Serta Hubungannya Dengan Proses Pembelajaran sebagai tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan sehingga makalah ini dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.

Ucapan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan Bapak Drs. Afrizal Sano, M.Pd.,Kons yang telah memberikan tugas makalah sehingga penulis berkesempatan untuk membuat makalah ini sebagai pedoman, acuan, dan sumber belajar. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan yang ditemukan baik dari segi bahasa, tulisan, maupun kalimat yang kurang tepat dalam makalah ini.Oleh sebab itu, penulis mengharapkan masukan- masukan dan kritik yang membangun sebagai bahan evaluasi guna memperbaiki makalah ini.

Akhir kata dari penulis mengucapkan terimakasih dan berharap agar makalah ini dapat memberi manfaat nantinya.

Padang,10 September 2022

Kelompok 3

(3)

DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR……… ii

DAFTAR ISI……… iii

BAB I PENDAHULUAN……….. 4

A. Latar Belakang... 4

B. Rumusan Masalah ………..5

C. Tujuan Masalah ………..5

BAB II PEMBAHASAN………...6

A. Pengertian Kecerdasan ………..6

B. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kecerdasan ………..7

C. Klasifikasi Kecerdasan Intelektual (IQ) ………9

D. Jenis-Jenis Kecerdasan (berdasarkan teori multiple intelligence) …………....11

E. Upaya Pendidik dalam Mengembangkan Kecerdasan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran………..15

BAB IV PENUTUP ……….16

A. Kesimpulan ………..16

B. Saran ……….16 .

DAFTAR PUSTAKA………17

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kecerdasan merupakan sebuah proses untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi manusia dan melibatkan aktivitas otak. Ada tiga macam kecerdasan dalam diri manusia yaitu kecerdasan kognitif (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan tersebut membantu manusia untuk memecahkan masalah, berhubungan dengan orang lain maupun diri sendiri serta berhubungan dengan nilai- nilai atau norma yang diyakini oleh individu. Kecerdasan yang paling mempengaruhi kehidupan sosial manusia adalah EQ, karena menurut Goleman (dalam Efendi 2005) EQ merupakan kemampuan manusia untuk memahami perasaannya sendiri dan orang lain, mampu memotivasi diri sendiri serta mampu mengelola emosi dalam diri maupun hubungan dengan orang lain.

Semua jenis kecerdasan itu penting bagi manusia, namun untuk meraih kesuksesan dalam dunia pekerjaan maupun sosial yang paling mempengaruhi adalah EQ. Hal itu diungkapkan oleh McCleland bahwa seseorang yang mempunyai kemampuan untuk berempati, disiplin diri, dan inisiatif memiliki kesuksesan yang berbeda dengan orang yang hanya sukses dilapangan pekerjaan atau hanya sekedar analisis. Ini dikarenakan kunci kesuksesan seseorang ada pada kemampuan pribadi dan sosial (Agustian, 2007).

Semakin besar kepekaan sosial dan emosi yang kita miliki, maka semakin mudah bagi kita untuk menjalani kehidupan secara efektif dan produktif. Alasan pentingnya kecerdasan sosial bagi seseorang karena individu mampu menghadapi tekanan dan tuntutan dari lingkungan dengan menggunakan kecerdasan emosi dari dalam diri.

(5)

B. Rumusan Masalah

1) Apa Pengertian Kecerdasan?

2) Apa saja Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kecerdasan ? 3) Bagaimana Klasifikasi Kecerdasan Intelektual (IQ)?

4) Apa saja Jenis-Jenis Kecerdasan (berdasarkan teori multiple intelligence)?

5) Bagaimana Upaya Pendidik dalam Mengembangkan Kecerdasan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran?

C. Tujuan

Makalah ini dibuat bertujuan untuk memberikan dan menambah wawasan penulis maupun pembaca tentang:

a) Pengertian Kecerdasan

b) Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kecerdasan c) Klasifikasi Kecerdasan Intelektual (IQ)

d) Jenis-Jenis Kecerdasan (berdasarkan teori multiple intelligence)

e) Upaya Pendidik dalam Mengembangkan Kecerdasan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran

(6)

6

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Kecerdasan

Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang berarti pintar dan cerdik, cepat tanggap dalam menghadapi masalah dan cepat mengerti jika mendengar keterangan.Kecerdasan adalah kesempurnaan perkembangan akal budi.Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dalam hal ini adalah masalah yang menuntut kemampuan fikiran.

Kecerdasan atau yang biasa disebut dengan inteligensi berasal dari bahasa Latin <intelligence= yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain

(to organize, to relate, to bind together).Bagi para ahli yang meneliti, istilah inteligensi memberikan bermacam-macam arti. Menurut mereka, kecerdasan merupakan sebuah konsep yang bisa diamati tetapi menjadi hal yang paling sulit untuk didefinisikan.Hal ini terjadi karena inteligensi tergantung pada konteks atau lingkungannya.

Menurut Dusek kecerdasan dapat didefinisikan melalui dua jalan yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, kecerdasan adalah proses belajar untuk memecahkan masalah yang dapat diukur dengan tes inteligensi, sedangkan secara kualitatif kecerdasan merupakan suatu cara berpikir dalam membentuk konstruk bagaimana menghubungkan dan mengelola informasi dari luar yang disesuaikan dengan dirinya. Howard Gardner berpendapatkecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan atau menciptakan sesuatu yang bernilai bagi budaya tertentu.

Alfred Binet merupakan seorang tokoh perintis pengukuran inteligensi, ia menjelaskan bahwa inteligensi merupakan kemampuan individu mencangkup tiga hal. Pertama, kemampuan mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, artinya individu mampu menetapkan tujuan untuk dicapainya (goal setting).Kedua, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila dituntut demikian, artinya individu mampu melakukan penyesuaian diri dalam lingkungan

(7)

tertentu.Ketiga, kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan auto kritik, artinya individu mampu melakukan perubahan atas kesalahan-kesalahan.

Lebih lanjut, Raymond Bernard Cattel mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu inteligensi fluid (gf) dan inteligensi crystallized (gc). Inteligensi fluid merupakan kemampuan yang berasal dari faktor bawaan biologis yang diperoleh sejak kelahirannya dan lepas dari pengaruh pendidikan dan pengalaman. Sedangkan inteligensi crystallized merupakan kemampuan yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan dan kebudayaan dalam diri seseorang, inteligensi ini akan meningkat kadarnya dalam diri seseorang seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman dan keterampilan- keterampilan yang dimiliki oleh individu. Karakteristik dari inteligensi fluid cenderung tidak berubah setelahusia 14 atau 15 tahun, sedangkan inteligensi crystallized masih dapat terus berkembang sampai usia 30 - 40 tahun bahkan lebih.

Berdasarkan pengertian kecerdasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dalam hal ini adalah masalah yang menuntut kemampuan fikiran serta dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif.

B.Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kecerdasan

Kecerdasan intelektual adalah kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi serta inovasi.Kecerdasan ini digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang. Kecerdasan intelektual responden sebagian besar berada pada kategori rata-rata sebesar 61,7%.

Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengendalikan impuls emosianal, kemampuan untuk membaca perasaan orang lain dan kemampuan untuk membina hubungan yang baik dengan orang lain. Kecerdasan emosional responden sebagian besar berada pada kategori baik yaitu sebesar 86,7%. Seagian besar responden memiliki kecerdasan emosional yang baik kemungkinan karena mereka mendapatkan kasih saying yang cukup dari orang tuanya sehingga emosi mereka lebih terkontrol dan memiliki rasa empati pada orang lain.

(8)

8

Responden yang memiliki staus gizi kurang memiliki kecerdasan intelektual (IQ)yang rendah karena kecerdasan intelektual dipengaruhi juga oleh asupan makan bergizi yang kemungkinan tidak diperoleh oleh responden yang status gizinya kurang.Asupan zat gizi sangat penting agar responden dapat berpikir dengan lebih konsentrasi dan agar daya piker serta daya ingat responden tidak menurun.

Pola asuh yang diberikan orang tua atau pengasuh kepada anaknya dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual anak.Tetapi dari penelitian ini tidak terdapat hubungan antara pola asuh dengan IQ.Sebagian besar responden yang pola asuhnya baik memiliki IQ rata-rata.

Tingkat social ekonomi keluarga menentukan bagaimana orang tua mengalokasikan dana kepada anaknya. Pendapatan orang tua memberikan dukungan terhadap pengeluaran untuk pendidikan.Tetapi dalam penelitian ini tingkat social ekonomi keluarga tidak memiliki hubungan dengan IQ responden karena IQ yang tinggi dipengaruhi juga oleh genetic, lingkungan dan status gizi responden.

Ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang, Yitu factor yang bersifat bawaan atau genetic (temperamen), factor yang berasal dari lingkungan keluarga (cara asuh orang tua), dan factor pendidikan emosi yang diperoleh di sekolah. Menurut Goleman (2006) kecerdasan emosi itu tumbuh seiring pertumbuhan seseorang sejak lahir hingga ia meninggal dunia. Jadi dapat diketahui bahwa status gizi tidak mempengaruhi kecerdasan emosi, hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini.

Cara asuh atau pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap anaknya dapat mempengaruhi kecerdasan emosi anak.Dalam penelitian ini pola asuh tidak memiliki hubungan dengan kecerdasan emosi.Hal ini karena selain pola asuh, aspek genetic dan lingkungan menjadi factor penentu juga sehingga walaupun pola asuh responden sebagian besar dalam kategori baik tapi tetap tidak memiliki hubungan dengan kecerdasan emosional responden.

(9)

C. Klasifikasi Kecerdasan Intelektual (IQ)

a) Idiot (IQ: 0 29)

Idiot merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah.Tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata saja. Biasanya tidak dapat mengurus dirinya sendiri, seperti: mandi, berpakaian, makan, dan sebagainya, dia harus diurus oleh orang lain. Anak idiot tinggal di tempat tidur seumur hidupnya. Rata-rata perkembangan inteligensinya sama dengan anak normal umur 2 tahun. Seringkali umurnya tidak panjang, sebab selain inteligensinya rendah, juga badannya kurang tahan terhadap penyakit. Baik di sekolah biasa maupun di sekolah luar biasa anak idiot ini tidak akan ditemui.

b) Imbecile (IQ: 30 40)

Imbecile setingkat lebih tinggi dari anak idiot.Ia dapat belajar berbahasa, dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan yang teliti. Pada imbecile dapat diberikan latihan-latihan ringan, tetapi dalam kehidupannya selalu bergantung pada orang lain, tidakdapat berdiri sendiri/mandiri. Kecerdasannya sama dengan anak normal berumur 3 7 tahun. Anak imbecile tidak bisa dididik – di sekolah-sekolah biasa.

c) Moron atau Debil (mentally handicapped/mentally retarded), (IQ: 50 69)

Kelompok ini sampai tingkat tertentu dapat belajar membaca, menulis dan membuat perhitungan-perhitungan sederhana, dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan.Banyak anak-anak debil ini mendapat pendidikan di sekolah-sekolah luar biasa.

d) Kelompok bodoh (dull/borderline) (IQ: 70 – 79)

Kelompok ini berada di atas kelompok terbelakang dan di bawah kelompok normal (sebagai batas).Secara bersusah payah dengan beberapa hambatan, individu tersebut dapat melaksanakan sekolah lanjutan pertama tetapi

(10)

10

sukar sekali untuk dapat menyelesaikan kelas-kelas terakhir di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

e) Normal rendah (below average), (IQ: 80 89)

Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata atau sedang tetapi pada tingkat bawah, mereka agak lambat dalam belajar.Mereka dapat menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama tetapi agak kesulitan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas pada jenjang SLTA.

f) Normal sedang, (IQ: 90 – 109)

Kelompok ini merupakan kelompok yang normal atau rata-rata.Mereka merupakan kelompok yang terbesar persentasenya dalam populasi penduduk.

g) Normal tinggi (above average), (IQ: 110 119)

Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal tetapi berada pada tingkat yang tinggi.

h) Cerdas (superior), (IQ: 120 129)

Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik.Mereka seringkali terdapat dalam kelas biasa.Pimpinan kelas biasanya berasal dari kelompok ini.

i) Sangat cerdas (very superior/gifted), (IQ: 130 139)

Anak-anak gifted/very superior lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan tentang bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang luas dan cepat memahami pengertian yang abstrak.Pada umumnya, faktor kesehatan, kekuatan, dan ketangkasan lebih menonjol daripada anak normal.

j) Genius (IQ: 140 ke atas)

Kelompok ini kemampuannya sangat luar biasa.Mereka pada umumnya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang

(11)

baru, walaupun mereka tidak bersekolah.Kelompok ini berada dalam semua ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi, baik laki-laki atau perempuan.Contoh orang genius adalah Edison dan Einstain.

D. Jenis-Jenis Kecerdasan (berdasarkan teori multiple intelligence)

a) Kecerdasan Verbal-Linguistik

Kecerdasan verbal-linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa, termasuk bahasa ibu dan bahasa-bahasa asing, untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan memahami orang lain. Menggunakan kata merupakan cara utama untuk berpikir dan menyelesaikan masalah bagi orang yang memiliki kecerdasan ini. Kecerdasan linguistik disebut juga kecerdasan verbal karena mencakup kemampuan untuk mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis serta kemampuan untuk menguasai bahasa asing. Mereka menggunakan kata untuk membujuk, mengajak, membantah, menghibur, atau membelajarkan orang lain.

b) Kecerdasan Logis-Matematik

Kecerdasan matematik adalah kemampuan yang berkenaan dengan rangkaian alasan, mengenal pola-pola dan aturan. Kecerdasan ini menunjuk pada kemampuan untuk mengeksplorasi pola-pola, kategorikategori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau simbol untuk melakukan percobaan dengan cara yang terkontrol dan teratur. Kecerdasan matematika disebut juga kecerdasan logis dan penalaran karena merupakan dasar dalam memecahkan masalah dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari sistem kausal atau dapat memanipulasi bilangan, kuantitas, dan ope rasi. Oleh karena itu, orang yang kuat dalam kecerdasan ini sangat senang berhitung, bertanya, dan melakukan eksperimen.

c) Kecerdasan Visual-Spasial

Kecerdasan visual adalah kemampuan untuk memahami gambar-gambar dan bentuk. Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung berpikir dengan gambar dan sangat baik ketika belajar melalui presentasi visual seperti film,

(12)

12

gambar, video, dan demonstrasi yang menggunakan alat peraga. Mereka juga sangat menyukai aktivitas menggambar, mengecat, mengukir, dan biasa mengungkapkan diri mereka melalui aktivitas seni.Mereka juga sangat baik untuk membaca peta, diagram, dan menyelesaikan teka-teki jigsaw.Kecerdasan visual disebut juga kecerdasan spasial karena mencakup kemampuan untuk menggambar bentuk dan ruang suatu objek, kemampuan memikirkan bentuk sehingga memungkinkan seseorang untuk mengetahui di mana dia berada, dan kemampuan untuk memotret dunia.

d) Kecerdasan Berirama-Musik

Kecerdasan berirama-musik adalah kapasitas berpikir tentang musik seperti mampu mendengar, mengenal, mengingat, dan bahkan memanipulasi pola- pola musik.Orang yang memiliki kecerdasan musik dianggap memiliki apresiasi yang kuat terhadap musik, dengan mudah mengingat lagu-lagu dan melodi, mempunyai pemahaman tentang warna nada dan komposisi, dapat membedakan perbedaan antara pola nada dan pada umumnya senang terbenam dalam musik.Kemampuan memainkan instrumen datang dengan alamiah pada diri orang yang memiliki kecerdasan musik.Kecerdasan musik juga meliputi kemampuan memersepsi dan memahami, mencipta dan menyanyikan bentuk-bentuk musikal dan para ahli mengakui bahwa musik merangsang aktivitas kognitif dalam otak dan mendorong kecerdasan.

e) Kecerdasan Jasmaniah-Kinestetik

Kecerdasan jasmaniah-kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide, perasaan dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu.Orang yang memiliki kelebihan dalam kecerdasan kinestetik cenderung mempunyai perasaan yang kuat dan kesadaran mendalam tentang geraka-gerakan fisik.Mereka mampu berkomunikasi dengan baik melalui bahasa tubuh dan sikap dalam bentuk fisik lainnya. Mereka juga mampu melakukan tugas dengan baik setelah melihat orang lain melakukannya terlebih dahulu, kemudian meniru dan mengikuti tindakannya.

(13)

Namun, orang yang memiliki kecerdasan ini sering merasa tidak tenang ketika duduk dalam waktu yang relatif lama dan bahkan merasa bosan jika segala sesuatu yang dipelajari atau disampaikan tanpa disertai dengan tindakan yang bersifat demonstratif.

f) Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk membaca tanda dan isyarat sosial, komunikasi verbal dan non-verbal, dan mampu menyesuaikan gaya komunikasi secara tepat. Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi melakukan negosiasi hubungan dengan keterampilan dan kemahiran karena orang tersebut mengerti kebutuhan tentang empati, kasih sayang, pemahaman, ketegasan, dan ekspresi dari kebutuhan dan keinginan. Orang seperti ini mengetahui bagaimana pentingnya berkolaborasi dengan orang lain, memimpin ketika diperlukan, mengikuti jika memang keikutsertaan sangat diperlukan, bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki keterampilan komunikasi yang berbedabeda. Kecerdasan interpersonal berhubungan dengan konsep interaksi dengan orang lain di sekitarnya. Interaksi yang dimaksud bukan hanya sekedar berhubungan biasa saja seperti berdiskusi dan membagi suka dan duka, melainkan juga memahami pikiran, perasaan, dan kemampuan untuk memberikan empati dan respons.

g) Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan yang bersumber pada pemahaman diri secara menyeluruh guna menghadapi, merencanakan, dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi. Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung memiliki kesadaran diri yang tinggi di mana mereka mampu memproses tujuan yang jelas tentang segala sesuatu yang dilakukan sekarang dan masa yang akan datang. Pada umumnya, mereka memilih untuk bekerja sendiri dalam menyelesaikan proyek-proyek meskipun kadang-kadang memerlukan perhatian ekstra. Mereka bukan hanya cenderung untuk selalu menyendiri dan tidak mau bergaul dengan yang lain, tetapi juga berhubungan dengan

(14)

14

kemampuannya untuk merefleksi diri. Mereka dapat menghabiskan waktu dalam kehidupan sehari-hari untuk merefleksi diri memikirkan tujuan dan keberadaan diri mereka. Jika tidak memiliki tujuan tertentu yang harus dilakukan di luar, seperti pergi ke sekolah atau kegiatan lain, maka mereka mungkin tidak akan pernah meninggalkan rumah mereka selama beberapa waktu tertentu.

h) Kecerdasan Naturalistik

Kecerdasan naturalistik adalah kemampuan dalam mengenal dan mengklasifikasi berbagai spesies termasuk flora dan fauna dalam suatu lingkungan.Orang yang memiliki kecerdasan naturalistik yang kuat mempunyai ketertarikan pada dunia luar atau dunia binatang, ketertarikan ini mulai muncul sejak dini.Mereka menyukai subjek, cerita-cerita, dan pertunjukan yang berhubungan dengan binatang dan fenomena alam. Bahkan, mereka menunjukkan minat yang luar biasa pada mata pelajaran seperti biologi, ilmu hewan (zoology), ilmu tumbuh-tumbuhan (botany), ilmu tanah (geology), ilmu cuaca (meteorology), ilmu falak (astronomi), dan paleontologi. Kecerdasan naturalistik disebut juga cerdas alam karena sangat peka terhadap perubahan dalam lingkungan, sekalipun perubahan tersebut dalam hitungan menit dan sangat perlahan yang bagi orang lain pada umumnya sama sekali tidak merasakan. Hal ini terjadi karena tingkat persepsi sensori yang dimilikinya jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang. Kekuatan perasaan yang berhubungan dengan alam dapat memberi pemahaman tersendiri dalam mengamati persamaan, perbedaan, dan perubahan pada alam jauh lebih cepat dibandingkan orang lain pada umumnya.

Oleh karena itu, orang yang cerdas pada alam sangat mudah untuk mengategori dan membuat katalog terhadap sesuatu.

E. Upaya Pendidik dalam Mengembangkan Kecerdasan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran

1) Guru selalu melibatkan anak secara bersama-sama dalam semua kegiatan sentra.

(15)

Dalam pembelajaran sentra guru selalu melibatkan partisipasi anak.Upaya guru dalam mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak adalah merangsang minat anak dan selalu melibatkan anak dalam kegiatan sentra.Partisipasi anak dalam kegiatan sentra ini juga disesuaikan dengan karakter atau pribadi anak, agar anak lebih mudah dalam memahaminya.

2) Melibatkan orang tua dalam pembelajaran anak

Dalam pembelajaran, para guru juga melibatkan peran orang tua.

Pembelajaran akan berjalan dengan baik jika orang tua juga berperan.

Sebagaimana lingkungan belajar utama anak adalah keluarga. Ayah dan ibulah yang berperan dalam pembelajaran anak ketika di rumah.

3) Melibatkan orang tua dalam pembelajaran anak

Dalam pembelajaran, para guru juga melibatkan peran orang tua.

Pembelajaran akan berjalan dengan baik jika orang tua juga berperan.

Sebagaimana lingkungan belajar utama anak adalah keluarga. Ayah dan ibulah yang berperan dalam pembelajaran anak ketika di rumah.

4) Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator

Di dalam kegiatan sentra main peran, guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.Peran fasilitator yang dilakukan oleh guru adalah menyiapkan segala peralatan yang digunakan dalam sentra bermain peran dan menjadi penghubung antara satu anak dengan anak yang lainnya.sedangkan peran sebagai motivator adalah selalu memberikan semangat dan motivasi, mendampingi dan memberikan pemaknaan terhadap peran yang telah dilakukan oleh anak usia dini setelah selesai bermain di sentra main peran.

5) Selalu menyiapkan cerita yang menarik untuk anak pada setiap harinya Untuk membuat anak-anak tertarik dalam memainkan suatu peran/tokoh, guru harus menyiapkan cerita atau kegiatan yang menarik sesuai tema.

(16)

16

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dalam hal ini adalah masalah yang menuntut kemampuan fikiran serta dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi. Ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang, Yitu factor yang bersifat bawaan atau genetic (temperamen), factor yang berasal dari lingkungan keluarga (cara asuh orang tua), dan factor pendidikan emosi yang diperoleh di sekolah.

Klasifikasi Kecerdasan Intelektual (IQ) yaitu yang pertama Idiot (IQ: 0- 29), Imbecile (IQ:30-40), Moron atau Debil (IQ: 50-69), Kelompok bodoh (IQ: 70-79), Normal Rendah (IQ: 80-89), Normal sedang (IQ:90-109), normal tinggi (IQ: 110-119), Cerdas (IQ: 120-129), Sangat Cerdas (IQ:

130-139), Genius (IQ: 140 Keatas).

Jenis-jenis kecerdasan (berdasarkan teori multiple intelligence) yaitu kecerdasan Verbal-Linguistik, kecerdasan Logis-Matematik, Kecerdasan Visual-Spasial, Kecerdasan Berirama Musik, Kecerdasan Jasmaniah- Kinestetik, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, dan kecerdasan Naturalistik.

(17)

Daftar Pustaka

Kajian kecerdasan. http://repo.iain-tulungagung.ac.id/9794/5/BAB%20II.pdf Febrindah, Shally,dkk. Faktor yang mempengaruhi kecerdasan.

https://www.google.com/search?q=jurnal+B.%09Faktor+yang+Mempenga ruhi+Perkembangan+Kecerdasan+&sxsrf

KECERDASAN INTELEKTUAL (IQ), KECERDASAN EMOSIONAL (EQ), KECERDASAN SPIRITUAL (SQ) DAN PERILAKU SOSIAL.

https://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB214146210004.pdf

Pengertian Multiple Intelligences (Kecerdasan Jamak) .https://psikologi.uma.ac.id/wp-content/uploads/2018/12/Pengertian-

Multiple-Intelligences.pdf

Ikasari, Murni Nur.2020. UPAYA GURU MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTRAPERSONAL ANAK USIA DINI MELALUI SENTRA MAIN PERAN di TA AL-MANNAR PONOROGO.Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol 01(01)

Referensi

Dokumen terkait

Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-.. anaknya, sikap tersebut meliputi cara orang tua memberikan

Yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima ada hubungan signifikan antara pola asuh orang tua permisif dengan kecerdasan emosi anak usia dini di TK Melati Ngembat Padas

Aprilica Manggalaning Murti, S541208007, 2014: Hubungan Kecerdasan Emosi dan Pola Asuh Orang Tua dengan Kedisiplinan Belajar Mahasiswa Akademi Kebidanan YAPPI Sragen

Pola asuh terbagi menjadi 3 yaitu, pola asuh demokratis merupakan cara orang tua membimbing anak dengan mengarahkan anaknya agar dapat bertingkah laku

Pola asuh yang diterapkan orang tua sudah semaksimal mungkin di berikan kepada anak, orang tua selalu ingin menjadikan anaknya yang terbaik dalam proses pendidikan untuk

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua adalah pola perilaku orang tua yang diterapkan kepada anak-anaknya dengan memberikan penuh kasih sayang,

Sehingga sebaiknya orang tua lebih memahami tentang pengaruh pola asuh yang diterapkan terhadap kecerdasan emosi anak.Dalam hasil prasurvey tersebut maka dapat diasumsikan bahwa

Pola asuh neglectful merupakan gaya pola asuh dimana orang tua tidak terlibat dalam kehidupan anak-anaknya, Orang tua dengan pola asuh ini lebih menolak anak dan tidak punya waktu dan