• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH Riyan Agustian Teknologi Pangan

N/A
N/A
Riyan Agustian

Academic year: 2024

Membagikan " MAKALAH Riyan Agustian Teknologi Pangan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KOLOKIUM FAKULTAS ILMU PANGAN HALAL UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR

Nama : Riyan Agustian

NIM : B.1910153

Program Studi : Teknologi Pangan

Judul Penelitian : PROFIL PROTEIN DAGING BABI

MENGGUNAKAN SDS-PAGE (Sodium dodecyl-sulfate polyacrylamide gel

electrophoresis)

Dosen Pembimbing : 1. Dr. Lia Amalia,S.T.,SS.,M.T

2. Dr. Rodiana Nopianti, S.Pi., M.Sc.

Hari/Tanggal : Kamis/ 29 Desember 2022

Jam : 09.00-10.00 WIB

Tempat : Zoom Meeting

(2)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1999 (PP 69/1999) tentang label dan iklan pangan dalam pasal 1 ayat 5 disebutkan bahwa pangan halal adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, baik yang menyangkut bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang diolah melalui proses rekayasa genetika dan iradiasi pangan dan pengelolaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam. Pangan merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia, sehingga perlu adanya perhatian yang serius dalam ketersediaannya baik secara kualitas maupun kuantitas (Gustiani, 2009). Di luar faktor keamanan pangan, faktor kehalalan suatu produk pangan harus menjadi perhatian masyarakat muslim Makanan yang dikonsumsi oleh umat muslim selain harus memenuhi syarat halal juga harus thayyib (baik) (BPOM, 2007).

Sertifikasi Halal dilakukan oleh lembaga penyelenggaraan sertifikasi halal.

Penyelenggaraan sertifikasi halal yang selama ini dilaksanakan oleh LPPOM-MUI kini di alihkan ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Dalam kegiatan ini dilakukan penelitian produk makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat luas tentang halal dan haramnya suatu produk makanan yang di konsumsi oleh masyarakat luas tentang halal dan haramnya suatu produk untuk kemudian dikeluarkan sertifikat halal. Penelitian dilakukan oleh tim BPJPH dimulai dengan melakukan pemeriksaan secara teknis yang meliputi penelusuran asal usul bahan produk makanan, cara proses dan pengemasannya. Namun dalam hal ini tentunya diperlukan kerja sama dan kejujuran dari produsen, terutama produk yang ada kemungkinannya dicampur dengan lemak atau daging babi. Kehalalan suatu produk pangan sangat penting dijadikan pertimbangan dalam mengkonsumsi produk pangan. Makanan halal harus terbebas dari kandungan babi baik sebagai bahan dasar, bahan tambahan maupun dalam proses pembuatannya (Andriyani et al., 2019). Keberadaan komponen babi serendah apapun kandungannya dalam bahan pangan, akan membawa makanan tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi.

Kehalalan merupakan persyaratan mutlak bagi setiap muslim untuk mengkonsumsi makanan, begitu pula keharaman makanan merupakan persyaratan mutlak bagi

(3)

setiap muslim untuk tidak mengkonsumsinya (Asy’ari, 2011). Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 173, “Hanya yang diharamkan atas kamu ialah bangkai, darah, daging babi dan hewan yang disembelih bukan dengan nama Allah melainkan dengan nama berhala. Tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya, sedang ia tiada aniaya dan tiada pula melampaui batas, maka takada dosa terhadapnya. Sungguh Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang“

Pangan asal hewan (PAH) yang banyak diminati masyarakat sebagai sumber protein utama sehari-hari adalah daging segar, salah satunya daging sapi (Nida et al., 2020). Berdasarkan hasil Survei Konsumsi Bahan Pokok (VKBP) tahun 2017 dan Susenas tahun 2019, kebutuhan daging sapi sampai bulan Mei 2021 diperkirakan sebesar 302.300 Ton. Adapun ketersediaan daging sapi sampai Mei 2021 berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 165.478 Ton (Ditjen PKH, 2021).

Tingginya permintaan daging sapi ini belum bisa diimbangi dengan kecukupan produksi daging sapi yang berasal dari ternak dalam negeri. Ketidakcukupan produksi daging secara langsung akan berdampak pada ketersediaan di pasar (Kemendag, 2021).

Stok daging sapi yang terbatas disertai dengan permintaan daging sapi yang melonjak menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) seringkali berujung pada naiknya harga daging sapi. Hal ini kadang disalahgunakan oleh beberapa oknum pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan lebih banyak, salah satunya yaitu mencampurkan daging sapi dengan daging babi (Nida et al., 2020). Oleh karena itu dilakukan penelitian mengidentifikasi pada profil protein babi dan sapi untuk melihat apakah ada daging sapi yang tercampur dengan daging babi dilihat dari berat molekul pada daging sapi dan babi menggunakan metode elektroforesis.

Identifikasi adanya protein daging sapi dan babi menggunakan teknik elektroforesis. Teknik ini dapat digunakan untuk memisahkan protein berdasarkan muatan dan ukuran. Untuk menghilangkan perbedaan muatan negatif yaitu dengan menambahkan SDS dan dipanaskan selama 2-10 menit pada suhu 100℃, dan dengan menambahkan tiol (β-mercaptoetanol) maka terjadi pemutusan disulfida (S- S) dengan cara mereduksi ikatan tersebut (Clark dan Switzer,1977). Teknik elektroforesis seperti diatas dikenal dengan nama elektroforesis kondisi denaturasi atau (Sodium Dodecyl Sulfat-Polyacrylamide Gel Electrophoresis) yaitu metode

(4)

elektroforesis untuk penentuan kuantitatif, komparasi dan karakterisasi protein yang akurat dan cepat.

Identifikasi protein daging sapi dan babi dengan tujuan untuk mendapatkan metode deteksi adanya kandungan protein pembeda antara daging babi dan sapi.

B. Tujuan

1. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pembeda berat molekul protein pada daging sapi dan babi.

2. Tujuan Khusus

a. Mengautentifikasi pembeda antara berat molekul protein daging sapi dan babi

b. Untuk mendapatkan data dasar berat molekul protein daging babi dan daging sapi

C. Ruang Lingkup Penelitian

Permasalahan yang muncul saat ini adalah pencampuran atau penggantian daging menggunakan jenis daging yang tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat tertentu terutama masyarakat muslim. Contohnya adalah pencampuran atau penggantian daging sapi dengan daging lain (Mustaqimah et al., 2021).

Kasus pemalsuan daging sapi dengan daging babi cenderung ditemukan di pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern (Nida et al., 2020)

Maka dari itu dilakukan penelitian dengan cara eksploratif dengan mencari data untuk menemukan data dasar protein pembeda yang terdapat pada daging sapi dan babi dan dilakukan analisis data yang diuraikan secara diskriptif dari data-data yang diperoleh selama penelitian yang dilakukan di laboratorium.

(5)

II. TINJUAN PUSTAKA

A. Daging Sapi

Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya (Soeparno, 1994).

Daging sapi merupakan bagian dari hewan potong yang digunakan manusia untuk bahan makanan (Saptarini, 2009). Daging sapi merupakan produk ternak yang merupakan sumber protein hewani. Daging sapi merupakan bahan pangan yang mengandung gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk pertumbuhan dan kesehatan (Arifin et al., 2008).

Daging sapi merupakan salah satu bahan pangan asal ternak yang mengandung nutrisi berupa air, protein, lemak, mineral, dan sedikit karbohidrat sehingga dengan kandungan tersebut menjadikan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan menjadikan mudah mengalami kerusakan (Nurwantoro et al., 2012 ). Bahan pangan asal ternak menjadi berbahaya dan tidak berguna apabila tidak aman, oleh karena itu, perlu penjagaan yang mutlak dalam keamanan pangan supaya menjadikan berguna bagi tubuh (Bahri, 2008). Komposisi daging sapi terdiri dari 19% protein, 5% lemak, 70% air, 3,5% zat-zat non protein, dan 2,5% mineral (Forrest et al., 1992). Sumber lain menyatakan bahwa daging sapi terdiri dari 75%

air, 19% protein, 3,5% substansi non protein yang larut, dan 2,5% lemak (Lawrie, 2003).

Klasifikasi sapi menurut Parker dan Haswell (1978) adalah sebagai berikut:

Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Class : Mamalia Familia : Bovidae Genus : Bos

Species : Ada dua yaitu : 1. Bos indicus sp 2. Bos taurus sp

(6)

B. Daging Babi

Babi merupakan salah satu hewan ternak yang dikembangbiakkan untuk menghasilkan daging. Babi jenis ini biasa dipasarkan pada umur 5-12 bulan dengan diambil bagian dagingnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari penimbunan lemak yang berlebihan.

Taksonomi babi jenis pedaging adalah (Kumari, 2009) : Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Artiodactyla Familia : Suidae Genus : Sus

Spesies : Sus scrofa domesticus

Daging babi memiliki karakteristik yang berbeda dari daging lainnya. Adapun ciri-ciri dari daging babi adalah: baunya khas, daging lebih kenyal dan mudah direnggangkan, cenderung berair, warna lebih pucat, harga pasaran lebih murah dibandingkan daging sapi, seratnya lebih halus daripada daging sapi, lemaknya tebal dan cenderung berwarna putih, serta elastis. Kemudian lemak babi juga sangat basah dan sulit dipisah dari dagingnya (Kumari, 2009).

Gambar 1. Nama Bagian-Bagian pada sapi Gambar 2. Daging Sapi Bagian Paha Sumber. Disnakkan (2022) Sumber. Disnakkan (2022)

(7)

Komposisi kimia daging bervariasi antar spesies, bangsa, atau individu ternak. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan nutrisi. Nilai nutrisi daging berhubungan dengan kandungan protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin yang terdapat dalam daging tersebut. Penyumbang kalori daging berasal komponen protein, lemak, dan karbohidrat dalam jumlah yang terbatas.

Sedangkan penyumbang kalori sebagai bahan pangan yang lebih vital berasal dari protein, mineral tertentu, dan vitamin B (Suardana dan Swacita, 2008). Kandungan kimia daging babi meliputi kadar air sebesar 60-70%, lemak 6-10%, dan protein 20-28% (USDA, 2009; Veerman, 2013)

Beberapa masyarakat mengonsumsi daging babi namun ada juga yang tidak.

Salah satu sebabnya dapat dikarenakan adanya berbagai resiko penyakit yang dapat ditularkan babi seperti pengerasan urat nadi, naiknya tekanan darah, angina pectoris, dan radang atau nyeri pada sendi-sendi tubuh (Arifin, 2014).

C. Protein

Protein adalah zat makanan yang mengandung nitrogen yang diyakini sebagai faktor penting untuk fungsi tubuh, sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa protein (Muchtadi, 2010). Protein merupakan makromolekul yang terdiri dari rantai asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida membentuk rantai peptida dengan berbagai panjang dari dua asam amino (dipeptida), 4-10 peptida (oligopeptida), dan lebih dari 10 asam amino (polipeptida) (Gandy, J.W., 2014)

Tiap jenis protein memiliki perbedaan jumlah dan distribusi jenis asam amino penyusunnya. Berdasarkan susunan atomnya, protein megandung atom karbon (C), atom oksigen (O), atom nitrogen (N) atom hidrogen (H) dan atom sulfur (S) dan

Gambar 3. Nama Bagian-Bagian pada Babi Sumber. www.biolib.cz

Gambar 4. Daging Babi Bagian Paha Sumber. www.foodsafetynews.com

(8)

terkadang mengandung unsur logam dan tembaga (winarno 2004)

Terdapat empat macam struktur protein yakni struktur primer, struktur sekunder, struktur tersier dan struktur kuartener. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing struktur protein :

a. Struktur Primer

Struktur primer protein menggambarkan urutan linier residu asam amino dalam suatu protein. Urutan asam amino selalu dituliskan dari gugus terminal amino ke gugus terminal karboksil. Struktur sekunder, tersier, dan kuartener.

Faktor yang menentukan untuk menjaga atau menstabilkan ketiga tingkat struktur tersebut adalah ikatan kovalen yang terdapat pada struktur primer (Fatchiyah et al, 2011)

b. Struktur Sekunder

Merupakan kombinasi antara struktur primer yang linear distabilkan oleh ikatan hidrogen antara gugus =CO dan =NH di sepanjang tulang belakang polipeptida. Salah satu contoh struktur sekunder adalah α-heliks dan β-pleated. Struktur ini memiliki segmen-segmen dalam polipeptida yang terlilit atau terlipat secara berulang. (Campbell et al., 2009; Conn, 2008).

Gambar 5. Struktur Primer Sumber. Campbell et al., 2009

(9)

c. Struktur Tersier

Suatu protein adalah lapisan yang tumpang tindih di atas pola struktur sekunder yang terdiri atas pemutarbalikan tak beraturan dari ikatan antara rantai samping (gugus R) berbagai asam amino. Struktur ini merupakan konformasi tiga dimensi yang mengacu pada hubungan spasial antar struktur sekunder. Struktur ini distabilkan oleh empat macam ikatan, yakni ikatan hidrogen, ikatan ionik, ikatan kovalen, dan ikatan hidrofobik. Dalam struktur ini, ikatan hidrofobik sangat penting bagi protein. Asam amino yang memiliki sifat hidrofobik akan berikatan di bagian dalam protein globuler yang tidak

Gambar 6. Struktur Sekunder α-heliks Sumber. Murray et al, 2009

Gambar 7. Struktur Sekunder β-pleated Sumber. Campbell et al., 2009

(10)

berikatan dengan air, sementara asam amino yang bersifat hodrofilik secara umum akan berada di sisi permukaan luar yang berikatan dengan air di sekelilingnya (Murray et al, 2009; Lehninger et al, 2004).

Struktur ini tersusun dari struktur sekunder yang satu dengan bentuk yang lain. Struktur protein tersier adalah struktur yang menunjukkan rantai polipeptida mengalami folded yang sempurna.

d. Struktur Kuartener

Struktur kuartener melibatkan asosiasi dua atau lebih rantai polipeptida yang membentuk multisubunit atau protein oligometrik. Rantai polipeptida penyusun protein oligometrik dapat berbeda atau sama (Fatchiyah, 2011) Marker Protein adalah campuran dari marker protein murni yang digabungkan secara kovalen dengan pewarna biru yang dapat diuraikan menjadi 8 pita saat dielektroforesis. Konsentrasi protein diseimbangkan secara hati-hati pada tiap intensitas. Kopling kovalen dari pewarna untuk protein mempengaruhi sifat elektroforesis (pemisahan) dalam gel SDS-PAGE terhadapa tiap protein (Laemmli, 1970). Pita marker protein digunakan sebagai pembanding utama dari protein yang dianalisa (Mannuchi et al, 1998)

Gambar 8. Struktur Tersier Sumber. biologydictionary.net

(11)

III. METODE PENELITIAN

A. Bahan dan Alat a. Ekstraksi

Bahan yang digunakan dalam proses ekstraksi meliputi sampel daging sapi, daging babi, air, dan larutan buffer fosfat Ph 7 dan untuk alat meliputi hotplate, beaker glas, tabung reaksi. rak tabung, penjepit, sudip, trashbag, mortar tabung sentrifuge

b. Elektroforesis

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Pengolahan Pangan Fakultas Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda dan Laboratorium Bioteknologi Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor mulai bulan November sampai dengan Desember 2022.

C. Prosedur Penelitian a. Prosedur Ekstraksi

Gambar 9. Diagram Alir Proses Ekstraksi

(12)

b. Prosedur Elektroforesis

c. Pemeriksaan Sampel Daging dan Ekstraksi

Masing-masing sampel daging dipotong ukuran 1x1x1 cm. Sampel daging direbus setelah air mendidih masing-masing selama 15 menit.

Sebanyak 5 g masing-masing daging segar dan direbus dicincang dan digerus dengan lumpang. Kemudian daging yang sudah halus ditambah dengan larutan buffer fosfat 0,1 M dengan pH 7.0 sebanyak 5 ml dan disentrifus 3.000 rpm selama 10 menit dengan alat sentrifus dingin.

d. Pembuatan Larutan Buffer Fosfat

a) Larutan A : 0,2 M larutan Na-phosphat monobasis (27,8 g dalam 1000 ml)

b) Larutan B : 0,2 M larutan Na-phosphat dibasis (52,65g Na2HPO47H2O atau 71,7 g Na2HPO4 12H2O dala. 1000 ml)

Gambar 10. Diagram Alir Proses Elektroforesis

(13)

c) Perhitungan : x ml larutan A + y ml larutan B, encerkan sampai 200ml.

Diketahui :

pH yang diperlukan : 7,0

x : 39,0 ml

y : 61,0 ml

Perhitungan : x ml larutan A + y ml larutan B

= 39,0 ml + 61,0 ml

= 100 ml untuk diencerkan sampai 200 ml.

e. Pembuatan Gel Pemisah

Pembuatan gel pemisah (running gel) konsentrasi 12,5% (resolving gel/lapisan bawah) terdiri dari 3.200μl dH2O ditambahkan 2.500μl larutan 1.5 M Tris-HCL pH 8,8; 100μl larutan SDS 10%; 4.050μl larutan akrilamid 30%; 50μl larutan APS 10%; 16μl TEMED) dan 4% stacking gel (lapisan atas) terdiri dari 3.050μl dH2O ditambahkan 1.250μl larutan 0,5 M Tris- HCL pH 6,8; 50μl larutan SDS 10%; 650μl larutan akrilamid 30%; 25μl larutan APS 10%; 6μl TEMED) (harus selalu dalam keadaan baru dilarutkan). Untuk preparasi gel pengumpul (stacking gel) dicetak dengan

Tabel 1. Konsentrasi pembuatan Larutan Buffer Phospat

x y pH x y pH

93,5 6,5 5,7 45,0 45,0 6,9

92,0 8,0 5,8 39,0 61,0 7,0

90,0 10,0 5,9 33,0 67,0 7,1

87,7 12,3 6,0 28,0 72,0 7,2

85,0 15,0 6,1 23,0 77,0 7,3

81,5 18,5 6,2 19,0 81,0 7,4

77,5 22,5 6,3 16,0 84,0 7,5

73,5 26,5 6,4 13,0 87,0 7,6

68,5 31,5 6,5 10,5 90,5 7,7

62,5 37,5 6,6 8,5 91,5 7,8

56,5 43,5 6,7 7,0 93,0 7,9

51,0 49,0 6,8 5,3 94,7 8,0

(14)

bantuan “sisir” (comb) untuk membuat sumur-sumur memasukkan contoh yang akan dipisahkan. Ketebalan gel yang dibuat adalah 4mm. gel yang didapat kemudian dipasang hingga gel mengeras lalu sisir diangkat.

f. Pembuatan Sampel buffer

Preparasi sampel menggunakan sampel buffer yang terdiri dari 4 ml dH20; 1 ml larutan 0,5 M Tris-HCL pH 6,8; 0,8 ml gliserol; 1,6 ml larutan SDS 10%; 0,4 ml larutan β-mercaptoethanol; 0,2 ml larutan bromophenol blue 0,05%. Supernatanya diambil 20μl lalu lemle sebanyak 20μl dengan perbandingan 1:1. Setelah itu supernata tercampur dengan lemle dipanaskan dengan suhu 100̊C selama 5 menit. Tujuannya agar terjadi reaksi enzimatis.

Setelah dingin baru dimasukkan ke dalam sumur sebanyak 30μl, kemudian dianalisis pola-pola atau pita-pita menggunakan SDS-PAGE.

g. Tekhnik Pemisahan Protein

Teknik pemisahan protein dengan elektroforesis dilakukan dalam tiga tahap. Tiga tahap tersebut adalah ektraksi protein dari sampel, pembuatan gel dengan menggunakan sodium dodecyl sulphate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) dan pemisahan protein dengan menggunakan teknik elektroforesis yang dilanjutkan dengan pendeteksian pita-pita atau fraksi-fraksi protein yang terbentuk.

h. Elektroforesis

Proses pemisahan protein menggunakan buffer pemisah (running buffer) yang terdiri dari Tris-HCL 9 gr; glycine 43,2 gr; SDS 10% 3 gr dan H2O sebanyak 600 ml. Buffer elektroforesis dimasukkan dan alat elektroforesis dirangkai. Sampel lalu dimasukkan ke dalam sumur dengan menggunakan miktro pipet sebanyak 10-20μl tergantung tebal tipisnya pita protein yang diinginkan. Perangkat elektroforesis dijalankan pada suhu rendah dengan tegangan 100 volt dan arus 125 mA selama 1-1,5 jam hingga bromphenol blue mencapai 1 cm dari batas bawah gel.

Setelah elektroforesis selesai, gel difiksasi dengan larutan Commassie brilian blue R-250 (larutan 0,05% commassie blue sebanyak 0,50 gram yang dilarutkan dalam 45% methanol sebanyak 225 ml dan 10% acetic acid sebanyak 50 ml dalam 45% dH2O), kemudian gel dipucatkan dengan larutan

(15)

destain yang terdiri dari campuran 50% dH2O 250 ml; 10% asam asetat 50 ml; 40% metanol 200 ml, gel direndam dengan pewarnaan biru konasi (sambil digoyang-goyang) selama 24 jam. Setelah itu gel dipucatkan dengan larutan peluntur dan digoyang-goyangkan sampai terlihat pita-pita protein (Laemmli, 1970).

Pita-pita protein yang muncul dan hasil SDS-PAGE dihitung retardation factor (Rf) dengan menggunakan rumus (Cavalli et al., 2006) :

Rf=(jarak gerak pita protein awal)/(jarak gerak warna pelacak awal)

Berdasarkan nilai Rf berat molekul dihitung dengan persamaan regrasi logaritma dengan rumus :

Y = ( a x Ln(X)) + b.

Keterangan : Y = berat molekul X = nilai Rf sampel a = nilai koefisien b = nilai konstanta.

Persamaan ini diperoleh dari grafik antar Log BM sebagai ordinat dan Rf sebagai absis. Berdasarkan kurva kalibrasi maka dapat dihitung BM masing masing pita protein.

D. Hasil Penelitian Sebelumnya

Keberhasilan uji kehalalan suatu produk harus disertai dengan tersedianya metode uji yang valid dan reliable untuk mengetahui ada dan tidaknya komponen non-halal dalam produk tersebut (Ahda, 2018). Adanya komponen bahan makanan yang mengandung babi dalam bahan dan produk pangan dapat diidentifikasi melalui lemak, protein maupun DNAnya (Yunita Prabawati & Fajriati, 2018). 7 Salah satu metode identifikasi cemaran babi melalui protein adalah dengan Rapid Test/Pork Detection Kit. Salah satu Rapid Test/Pork Detection Kit yang tersedia di pasaran adalah Xema Rapid Test/Pork Detection Kit untuk uji kandungan babi dalam sampel makanan/minuman, alat pemotong, maupun fasilitas produksi lainnya (Mauli & Asmara, 2019).

Metode ini menjadi pilihan alternatif yang memungkinkan deteksi babi dilakukan secara cepat, mudah, dan murah (Rao dan Hsieh, 2007). Berbagai metode

(16)

pengujian kandungan babi sebenarnya telah banyak dikembangkan seperti kromatografi, isoelectric focusing, FTIR, electronic nose, LC-MS/MS, ELISA, dan real-time PCR namun metode-metode tersebut memerlukan instrumen kompleks (misalnya reagen/microplate reader/thermocycler), membutuhkan keahlian khusus, waktu lama dan biaya tinggi (Nakyinsige et al., 2012 dan Peruski & Peruski, 2003).

Hasil penelitian Puspitasari et al (2019), dalam deteksi kandungan babi pada makanan berbahan dasar daging di kampus Universitas Al Azhar Indonesia metode pengujian yang dilakukan menggunakan Pork Detection Kit merupakan uji cepat immunochromatographic (lateral flow) yang digunakan untuk pengujian kualitatif atau semikuantitatif penentuan antigen daging babi.

Hasil penelitian lainnya Mauli & Asmara (2019), melakukan penelitian untuk mengetahui ada tidaknya kandungan minyak babi dalam kue bakpia menggunakan metode immunochromatograhic (lateral flow) yaitu Xema Rapid Test.

Dalam penelitian ini menggunakan metode SDS-PAGE guna untuk dapat menemukan pembeda protein daging babi dan sapi dari berat molekul dari masing masing daging, penelitian dilakukan secara eksploratif dengan mencari data untuk menemukan data dasar protein pembeda yang terdapat pada daging sapi dan babi dan dilakukan analisis data yang diuraikan secara diskriptif dari data-data yang diperoleh selama penelitian

E. Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode SIMCA. Metode SIMCA merupakan perangkat lunak SIMCA-P (v. 16.0, Sartorius- Umetric, Umea, Swedia) digunakan untuk melakukan analisa data Partial Component Analysis. Uji validasi silang dan permutasi respons kemudian digunakan untuk memvalidasi model PCA. Indikator validasi yang diwakili oleh nilai Q2 minimal 0,4 dianggap dapat diterima. Selanjutnya model kredibel harus memiliki nilai Q2 yang lebih tinggi dalam pengujian permutasi daripada nilai Q2 yang dihasilkan oleh model acak yang menggunakan kumpulan data yang sama (Worley dan Powers, 2016).

(17)

16

DAFTAR ISI

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 173, dan Terjemahannya.

Anonim. 2009. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 20 Tentang Pemasukan dan Pengawasan Peredaran Karkas, Daging, dan/atau Jeroan dari Luar Negeri.

Jakarta.

Andriyani, E., Fais, N. L., & Muarifah, S. 2019. Perkembangan Penelitian Metode Deteksi Kandungan Babi untuk Menjamin Kehalalan Produk Pangan Olahan. 4(1), 104-126.

Badan Pusat Statistik. 2021. Rata-rata Konsumsi Daging Sapi/Kerbau Di Indonesia 10 Tahun Terakhir. [Internet]

https://databoks.katadata.co.id/datapublish2022/10/09/ini-tren-konsumsi- daging-sapi-di-indonesia-10-tahun-

terakhir#.~:text=Menurut%20laporan%20Badan%20Pusat%20Statistik,mi nggu%20selama%20periode%202017%2D2021 diakses pada 15

Desember 2022.

BSN. 1995. Standar Nasional Indonesia Sosis Daging. Jakarta.

Blakely, J., & Blade, D. 1992. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Biokids Inquiry of Diverse Species. Wild Boar (Sus Scrofa). [Internet]

http://www.biokids.umich.edu/critters/Sus_scrofa/ diakses pada 30 Desember 2022.

Cahyaningsari, D., Latif, H., & Sudarnika, E. 2019. Identifikasi Penambahan Daging Babi pada Pangan Berbahan Dasar Daging Sapi Menggunakan ELISA dan qPCR.. Acta VETERINARIA Indonesiana.

https://doi.org/10.29244/avi.7.2.17-25.

Cahyani, Sri., Tamrin dan Hermanto. 2019. Pengaruh Lama Suhu Pengeringan Terhadap Karakteristik Organoleptik, Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Kimia Tepung Kulit Pisang Ambon (Musa Acuminata Colla).

Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 4 No.1, Universitas Halu Oleo.

Cavalli SV, Silva SV, CiminoC, Malcata FX, Priolo N. 2006. Hydrolysis of caprine and ovine milk proteins, brought about by aspartic peptidases from silybum marianum. J Plant Physiol, 1-7.

Ditjen PKH. 2021. Produksi Daging Sapi Di Indonesia Dalam 2 Tahun Terakhir.

[Internet] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/11/25/tren- produksi-daging -sapi-indonesia-menurun-dalam-2-tahun-terakhir diakses pada 30 Desember 2022.

(18)

Hermanto, S., & Dhien K. Meutia, C. 2009. Perbedaan Profil Protein Produk Olahan ( Sosis ) Daging Babi dan Sapi Hasil Analisa SDS-PAGE, 181–186.

Hemes, B. 1998. Electhrophoresis of Protein. Oxford University Press, New York.

Laemmli UK. 1970. Cleavage on structural protein during the assembly of the head of bacteriopage T4. J Nature, 227: 680-685.

Mustollah, H. (2016). Analisa Profil Protein Gelatin Sapi dan Gelatin Babi Gummy Vitamin C Menggunakan Metode SDSPAGE (Sodium Dodecyl Sulphate Poly Acrylamide Gel Elektrophoresis).

Nida, L. Pisestyani, H., & Basri, C. 2020. Studi Kasus: Pemalsuan Daging Sapi dengan Daging Babi Hutan di Kota Bogor. 8(2), 121-130.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia.

Prof. Dr. Hj. Aisjah Girindra, 2008. Dari Sertifikasi Menuju Labelisasi Halal.

Pustaka Jurnal Halal hlm: 13, Jakarta.

Prof. Dr. H. Masthu, MED. 1995. Makanan Indonesia Dalam Pandangan Islam.

Kantor Menteri Negara Urusan Pangan Republik Indonesia.

Prof. Dr. Hj. Aisjah Girindra. 1998. Pengukir Sejarah Sertifikasi Halal hlm: 124- 125. LPPOM MUI.

Prof. Dr. Hj. Aisjah Girindra, 2008. Dari Sertifikasi Menuju Labelisasi Halal.

Pustaka Jurnal Halal hlm: 25, Jakarta.

Riyanto, I. 2006. Analisis Kadar, Daya Cerna Dan Karakteristik Protein Daging Ayam Kampung Dan Hasil Olahannya. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Rahman, F. S. (2014). Aplikasi Metode SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulphate Poly Acrylamide Gel Electrophoresis) Untuk Mengidentifikasi Sumber Gelatin Pada Kapsul Keras.

Sidik, A. 2009. Struktur Dan Fungsi Protein Kolagen, 2(5).

Widodo Cipto, S., Ni Ketut, S., I Nyoman, S. 2015. Karakteristik Protein Daging Sapi Bali Dan Wagyu Setelah Direbus. Buletin Veteriner Udayana p- ISSN:2085-2495 Vol 7 No. 1:17-25.

Worley B, Powers R. 2016. PCA as a Practical Indicator of OPLS-DA Model Reliability. Curr Metabolomics. 4(2):97-103.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil yang didapatkan pada analisis SDS-PAGE terdapat pita protein dari enzim protease ekstrak kasar yang berjumlah empat pita dengan kisaran berat molekul 8 sampai 24

Hasil penelitian dengan menggunakan elektroforesis SDS PAGE menunjukkan gambaran profil pita-pita protein atau pemisahan protein berdasarkan berat molekulnya. Tebal

Wardani dan Sari (2015), melakukan penelitian mengenai deteksi molekuler cemaran daging babi pada bakso sapi di pasar tradisional Kota Malang menggunakan PCR

Hasil dari penelitian yang telah dilakukan kesimpulannya yaitu terdapat 3 buah pita protein yang menjadi pita pembeda pada ekstrak daging sapi mentah yang

Penelitian yang sudah dilakukan dalam bidang pengolahan citra yaitu Budianita, Jasril, & Handayani.(2015) untuk membangun aplikasi pembeda daging sapi, dan

Hasil penelitian dengan menggunakan elektroforesis SDS PAGE menunjukkan gambaran profil pita-pita protein atau pemisahan protein berdasarkan berat molekulnya. Tebal

Berdasarkan hasil penelitian Susanto dan Wardoyo (2014) juga diketahui bahwa profil asam lemak beberapa perlakuan substitusi daging babi kedalam sosis sapi

SDS-PAGE merupakan salah satu teknik elektroforesis yang banyak digunakan saat ini untuk memisahkan suatu protein berdasarkan berat molekul dan muatan yang