• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH RUMUS RASIO KEUANGAN

N/A
N/A
dimas loro

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH RUMUS RASIO KEUANGAN "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

RUMUS RASIO KEUANGAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Analisis Kinerja Keuangan Dosen Pengampu : Hj. Fatonah, SE., MM.

Oleh:

LIDA URBANINGRUM (11012100374) IIS (11012100)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN S1 FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS BINA BANGSA

(2)

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum. Wr. Wb

Ucapan puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingg a saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Dan juga kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu memberikan materi dan masukannya sehing ga terselesainya makalah ini.

Dengan keseriusan dan ketekunan dalam pembuatan makalah ini, harapan kami dapat Terlepas dari semua itu, kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam pen yusunan makalah ini, baik dari segi materi maupun dari tata bahasa. Oleh karena itu dengan t angan terbuka kami menerima kritik dan saran dari teman-teman demi perbaikan makalah ini.

Akhir kata semoga makalah karya ilmiah ini, dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman dan p embaca, untuk memulai berkarya khususnya dalam hal tulis menulis.

memberikan manfaat bagi teman-teman dan para pembaca, khususnya memotivasi unt uk memulai penelitian. Serta dapat menjadi pembelajaran bagi kami dalam pembuatan sebuah makalah, terkhusus dalam materi karya ilmiah.

Serang, 31 March 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I...3

PENDAHULUAN...3

1.1 Latar Belakang...3

1.2 Rumusan Masalah...4

BAB II...5

PEMBAHASAN...5

2.1. Pengertian Anggaran Produksi...5

2.2. Tujuan Penyusunan Anggaran Produksi...7

2.3. Faktor-faktor Apa Saja Yang Mempengaruhi Anggaran Produksi...10

BAB III...13

PENUTUP...13

3.1 Kesimpulan...14 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persaingan industri semakin hari semakin terlihat jelas. Perusahaan satu dengan perusaha an lainnya berlomba-lomba untuk menguasai pasar, baik pasar domestik atau pun pasar intern asional. Dengan meningkatnya persaingan antar perusahaan, menuntut perusahaan untuk sem akin pandai dalam berencana dan mengelola perusahaan dengan seefektif dan seefisien mung kin. Tanpa perencanaan dan pengelolaan yang baik, tentunya akan merugikan perusahaan sen diri, karena telah mengeluarkan biaya dan usaha tanpa menghasilkan apa-apa bagi perusahaan.

Terlebih setiap perusahaan pastinya memiliki tujuan pasti untuk perusahaannya.

Guna optimalisasi pencapaian sebuah tujuan perusahaan, dibutuhkan sebuah alat khus us agar pengelolaan manajemen menjadi efektif dan efisien khususnya dalam pengendalian p engeluaran perusahaan. Perusahaan membutuhkan sebuah manajemen anggaran untuk bisa m engendalikan biaya produksi.

Berbicara tentang hasil, tentu tidak bisa mengabaikan adanya kebutuhan biaya untuk bisa sampai kesana. Perusahaan membutuhkan anggaran. Anggaran membutuhkan pengendalian.

Anggaran produksi dinilai sebagai rencana dari jumlah barang yang akan diproduksi dengan mempertimbangkan target penjualan. Jadi anggaran produksi ini adalah penjabaran dari rencana penjualan ke program produksi. Di dalam program produksi akan diketahui dari jumlah yang dihasilkan, bahan baku, karyawan, overhead perusahaan, dan kapasitas produksinya. Jadi dalam melakukan produksi haruslah disesuaikan dengan kebijakan produksi, mulai dari persediaan dan kuantitas yang harus diproduksi.

Penganggaran (Budgeting) menunjukkan suatu proses sejak tahap persiapan yang diperlukan sebelum dimulainya penyusunan rencana, pengumpulan berbagai data dan informasi yang perlu, pembagian tugas perencanaan, penyusunan rencananya sendiri, implementasi dari rencana tersebut, sampai pada akhirnya tahap pengawasan dan evaluasi dari hasil rencana itu.

1.2 Rumusan Masalah

(5)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas ialah seba gai berikut:

a. Apa Pengertian Anggaran Produksi?

b. Apa Tujuan Penyusunan Anggaran Produksi ?

c. Faktor-faktor Apa Saja Yang Mempengaruhi Anggaran Produksi ? 1.3 Tujuan Masalah

a. Untuk Mengetahui Dari Dengertian Anggaran Produksi b. Untuk Mengetahui Tujuan Penyusunan Anggaran Produksi

c. Untuk Mengetahui Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Anggaran Produksi

(6)

BAB II

PEMBAHASAN 2.1 PENGERTIAN ANGGARAN PRUDUKSI

Supriyono (2000) mengartikan anggaran produksi sebagai perencanaan jumlah produk yang akan diproduksi dalam periode tertentu. Dilakukan dengan mempertimbangkan proyeksi penjualan dan memodifikasi untuk perubahan persediaan pada awal dan akhir periode. Angga ran manufaktur dinyatakan dalam bentuk jumlah barang yang akan diproduksi.

Adapun Kana (2003) menyatakan bahwa anggaran produksi merupa- kan rencana pro duksi yang meliputi volume output, kebutuhan persediaan, bahan baku, tenaga kerja langsung, dan kapasitas pabrik yang dihasilkan dari transformasi rencana penjualan.

Lubis (Lubis, 2011) menerjemahkan anggaran sebagai rencana sistematis yang menca kup kegiatan perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk satuan moneter untuk periode terten tu.

Menurutnya RA supriyono (RA supriyono, 2000), anggaran produksi diartikan sebaga i anggaran yang diwujudkan dalam bentuk barang secara fisik yang direncanakan untuk dipro duksi selama periode yang telah ditetapkan. Anggaran produksi ini disesuaikan dengan jumla h unit awal dan jumlah akhir yang berhasil terjual di akhir periode produksi.

Anggaran Produksi menurut Darmanegara (Darmanegara, 2010) diartikan sebagai cet ak biru sebagai gambaran formal untuk kegiatan yang akan dilaksanakan di masa yang akan d atang dengan melihat jumlah pasokan pada periode sebelumnya untuk kebijakan selanjutnya.

Sedangkan Haruman dan Rahayu (Haruman dan Rahayu, 2007) memaknainya sebagai bagian dari wewenang manajemen dengan pendekatan sistematis yang bersifat formal, berisik an tentang sistematika perencanaan, koordinasi antar tim produksi, sehingga memudahkan dal am mengawasi proyek yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan perusahaan. Menurut Puspit a (puspita, 2010) anggaran diartikan sebagai serangkaian kebijaksanaan yang berisi sasaran d an tujuan yang dituliskan berupa angka-angka sebagai penjelas dari aturan yang harus dilaksa nakan dalam periode tertulis.

Any Agus Kana (Any Agus Kana, 2003) mendefinisikan anggaran produksi dengan p enjelas dari rencana penjualan menjadi rencana produksi, mulai dari besaran volume produksi, jumlah barang yang direncanakan, bahan bakunya, karyawan dan juga kapasitas produksinya.

Lebih jelasnya, anggaran produksi dibuat untuk menyesuaikan dengan rencana jumlah penju alan selama satu periode produksi.

Anggaran produksi dapat pula diartikan sebagai anggaran kegiatan, karena produksi it u sendiri adalah merupakan proses kegiatan membuat/mengolah suatu produk. Karena sifatny a seperti itu, ada yang berpandangan bahwa sebenarnya produksi tidak perlu dianggarkan, tet api perlu dijadwalkan. Terlepas dari perbedaan pandangan itu, kita sepakat saja bahwa anggar

(7)

an produksi yang kita bahas pada bab ini maksudnya tidak lain adalah identik dengan anggara n kegiatan perusahaan itu.

Anggaran produksi disusun dengan memperhatikan semua kegiatar produksi yang dip erlukan untuk menunjang anggaran penjualan yang telah disusun. Rencana produksi meliputi penentuan produk yang harus diproduksi untuk memenuhi penjualan yang direncanakan dan mempertahankan tingkat persediaan barang jadi yang diinginkan.

Anggaran produksi adalah suatu perencanaan secara terperinci mengenai jumlah unit produk yang akan diproduksi selama periode yang akan datang, yang di dalamnya mencakup rencana mengenai jenis (kualitas), jumlah (kuantitas), waktu (kapan) produksi akan dilakukan.

Rudianto (2009) menambahkan dengan mendefinisikan anggaran produksi sebagai re ncana anggaran dengan menentukan jumlah barang yang akan diproduksi dalam periode wakt u tertentu. Memperhitungkan juga kebutuhan persediaan pada awal dan akhir periode, jenis b arang yang akan diproduksi, jumlah atau unit fungsional yang akan diproduksi, serta rencana operasi yang akan dilakukan.Haruman & Rahayu (2007) menjelaskan bahwa anggaran produ ksi secara umum mencakup perencanaan produksi, meliputi volume output, kebutuhan persed iaan, bahan baku, personel, dan kapasitas mesin yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan pen jualan, serta merupakan jumlah barang yang harus diproduksi bisnis untuk mencapai tujuan p enjualan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Di sisi lain, Munandar (2001) mengusulkan definisi anggaran produksi pada setiap biaya prod uksi sebagai berikut.

1. Rencana anggaran biaya bahan baku, yaitu perhitungan terperinci mengenai harga bahan b aku yang diperlukan untuk proses produksi selama periode waktu berikutnya.

2. Anggaran biaya tenaga kerja langsung, yaitu rencana memerinci gaji yang harus dibayarka n kepada tenaga kerja langsung selama periode waktu mendatang.

3. Anggaran overhead pabrik, yaitu strategi yang mencakup perhitungan terperinci biaya tida k langsung pabrik yang diperlukan selama periode waktu berikutnya.Diskusikan kualitas, kua ntitas, dan waktu produksi yang akan dilakukan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rumus pengeluaran manufaktur ialah melalui anggaran sebagai berikut.

Produksi Anggaran = Penjualan + Persediaan Akhir - Persediaan Awal

Apabila merujuk pada definisi di atas, kemampuan kognitif yang sensitif sangatlah pe nting dalam menjual produk sensitif. Sebagai konsekuensi- nya, kesalahan dalam mengestima si anggaran penjualan dapat berdampak pada ketidakakuratan dalam menghitung anggaran lai n; seperti anggaran produksi. Anggaran produksi bertindak sebagai dasar bagi anggaran-ang- garan lainnya. Termasuk anggaran bahan baku, anggaran energi, anggaran tenaga kerja langs ung, dan anggaran overhead pabrik.

(8)

d. Cash Low Coverage

Aliran Kas Masuk + Depreciation Fixed Cost + Dividen Saham Preferen + Dividen Saham Preferen (1-Tax) (1-Tax)

Keterangan:

Depreciation = Depresiasi atau Penyusutan

Penyusutan adalah penurunan nilai secara berangsur-angsur. Penurunan nilai ini terjadi pada berbagai jenis barang, seperti gedung, kendaraan, Peralatan kantor, dan berbagai inventaris lainnya. Bagi suatu perusahaan Penurunan nilai barang dapat di perlambat dengan cara melakukan perawatan secara berkala atau service setiap waktunya. Di sinilah timbulnya biaya perawatan tersebut. Secara akuntansi biaya perawatan secara berkala ini juga disebut sebagai biaya tetap (fixed cost), seperti pada mesin adanya biaya ganti oli, service kaburator, pencucian kendaraan, pengecatan gedung, pembersihan kaca, dan lain sebagainya.

Adapun metode perhitungan penyusutan dalam keuangan dikenal berbagai metode, di antaranya adalah metode garis lurus (straight line method), metode jumlah angka tahun (sum of years digit method), metode saldo menurun, dan metode unit produksi. 35) Namun bagi lembaga tertentu untuk mempercepat perhitungan dalam menganalisis nilai suatu penyusutan barang seperti gedung, mobil, mechine, dan lain sebagainya maka dipergunakannya perhitungan penyusutan secara kumulatif.

 Fixed Cost (FC) = Beban Tetap

Fixed cost adalah biaya yang tetap yang harus dikeluarkan oleh perusahaan selama perusahaan tersebut terus menjalankan aktivitasnya. Contohnya biaya asuransi, biaya pajak, biaya sewa, dan biaya-biaya lainnya. Biaya- biaya seperti tetap harus selalu dikeluarkan oleh perusahaan selama aktivitas perusahaan terus berjalan, dan besar kecilnya fixed cost itu sangat tergantung pada bentuk bisnis yang dijalankan. Jika perusahaan yang bersifat padat modal maka fixed cost juga bertambah besar. Kategori bisnis padat modal seperti industri pesawat terbang, industri baja, industri mobil, industri peralatan alat berat, industri pesawat luar angkasa, dan lain sebagainya.

 Tax = Pajak

Tax adalah kewajiban perusahaan yang harus selalu dibayar kepada pihak yang berkepentingan, yang mana kemudian pendapatan dari pembayaran pajak tersebut dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Contohnya PBB (pajak Bumi dan Bangunan), Pajak barang mewah, pajak barang, pajak penghasilan, dan lain-lain.

e. Long-Term Debt to Total Capitalization

Long-term debt to total capitalization disebut juga dengan utang jangka panjang/total kapitalisasi. Long term debt merupakan sumber dana pinjaman yang bersumber dari utang jangka panjang, seperti obligasi dan sejenisnya. Adapun rumus long-term debt to total capitalization adalah:)

Long-term debt + Ekuitas pemegang saham Keterangan:

(9)

Long-term debt = Utang jangka panjang f. Fixed Charge Coverage

Fixed charge coverage disebut juga dengan rasio menutup beban tetap. Rasio menutup beban tetap adalah ukuran yang lebih luas dari kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetap dibandingkan dengan rasio kelipatan pembayaran bunga karena termasuk pembayaran beban bunga tetap yang berkenaan dengan sewa guna usaha. Adapun rumus fixed charge coverage Laba usaha + Beban bunga Beban bunga + Beban sewa

g. Cash Flow Adequancy

Cash flow adequancy disebut juga dengan rasio kecukupan arus kas kecukupan arus kas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menutup pengeluaran modal, utang jangka panjang, dan pembayaran dividen setiap tahunnya. Dalam konteks ini suatu perusahaan yang baik adalah memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan arus kas artinya mampu memberikan arus kas sesuai yang diharapkan. Dan begitu pula sebaliknya jika arus kas yang dihasilkan tidak sesuai harapan maka memungkinkan perusahaan akan mengalami masalah termasuk mencari dana untuk membayar kewajiban-kewajibannya.

Adapun rumus cash flow adequancy dari adalah:

Arus kas dari aktivitas operasi Pengeluaran modal + Pelunasan utang + bayar dividen 3. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimilikinya guna menunjang aktivitas perusahaan, dimana penggunaan aktivitas ini dilakukan secara sangat maksimal dengan maksud memperoleh hasil yang maksimal. Rasio ini bagi banyak praktisi dan analis bisnis menyebutnya juga sebagai rasio pengelolaan aset (asset management ratio).

Rumus rasio aktivitas secara umum ada 4 (empat), yaitu inventory turnover (perputaran persediaan), rata-rata periode pengumpulan piulang fixed asset turnover (perputaran aktiva tetap), dan total asset turwoer (perputaran total aset).

a. Inventory Turnover

Rasio inventory turnover ini melihat sejauh mana tingkat perputaran persediaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Adapun rumus inventory turnover (perputaran persediaan) adalah:

Cost of Good Sold Average Inventory Keterangan:

Cost of Good Sold = Harga Pokok Penjualan Avarage Inventory = Rata-rata Persediaan

(10)

Rasio Day sales outstanding disebut juga dengan rata-rata periode pengumpulan piutang.

Rasio ini mengkaji tentang bagaimana suatu perusahaan melihat periode pengumpulan piutang yang akan terlihat. Adapun rumus Day sales outstanding adalah:

Receivable Credit Sales/360 Keterangan:

 Receivable = Piutang (Receivable dapat diterjemahkan sebagai kebijakan perusahaan yang memberi piutang pada perusahaan lain, dan jika piutang itu dibayar dalam waktu satu tahun atau bahkan kurang dari satu tahun disebut dengan aktiva lancar. Namun begitu pula sebaliknya jika dibayar melebihi dari satu tahun maka piutang tersebut bisa masuk kategori piutang tidak lancar. Pengklasifikasian piutang secara umum ada dua yaitu piutang dagang dan bukan piutang dagang)

 Credit Sales = Penjualan Kredit (Credit sales merupakan penjualan yang pembayarannya dilakukan secara bertahap, maka pemasukan dana dari kredit juga akan diterima secara bertahap. Diletakkannya angka 360 itu menunjukkan jumlah han dalam 1 (satu) tahun adalah 360 hari, dan dirata-ratakan dalam satu bulan adalah 30 hari).

c. Fixed Assets Turnover

Rasio fixed assets turnover disebut juga dengan perputaran aktiva tetap. Rasio ini melihat sejauh mana aktiva tetap yang dimiliki oleh suatu perusahaan

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Anggaran produksi adalah suatu perencanaan secara terperinci mengenai jumlah unit produk yang akan diproduksi selama periode yang akan datang, yang di dalamnya mencakup rencana mengenai jenis (kualitas), jumlah (kuantitas), waktu (kapan) produksi akan

dilakukan. Anggaran produksi berarti anggaran kegiatan, karena produksi adalah proses kegiatan membuat produk. Produksi tidak perlu dianggarkan, tetapi dijadwalkan. (Ellen Christina, 2001: 60) Dalam pengertian sempit anggaran produksi adalah merupakan jumlah yang harus diproduksi.

Jumlah barang yang akan dijual akan mencerminkan pendekatan yang berbeda yaitu kebijaksanaan tingkat produksi yang menekankan pada stabilitas produksi persediaan yang mengambang, dan jika kebijaksanaan ditekankan pada tingkat penjualan maka pengendalian tingkat persediaan yang mengambang. Kombinasi keduanya akan memunculkan produksi dan persediaan akan berubah dalam batas waktu tertentu. Anggaran produksi disusun dengan

(11)

memperhatikan semua kegiatan produksi yang yang diperlukan untuk menunjang anggaran penjualan yang telah disusun.

Rencana produksi meliput penentuan produk yang harus diproduksi untuk memenuhi penjualan yang direncanakan dan memepertahankan tingkat persediaan barang jadi yang diinginkan. Anggaran produksi adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin, dan peralatan lain serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang pada suatu priode tertentu dimasa depan sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau diramalkan.(Adi Saputro, 1995: 35)

DAFTAR PUSTAKA

Adisaputro, G. d. (2003). Anggaran Perusahaan. Yogyakarta: BPFE UGM. Chorry Sulistyow ati, E. F. (2020). ANGGARAN PERUSAHAAN: TEORI DAN PRAKTIKA. Surabaya: Scop indo Media Pustaka.

Dharmanegara, I. B. (2010). Penganggaran Perusahaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Haruman, T. &. (2007). Penyusunan Anggaran Perusahaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Lubis, D. (2013). enyusunan Anggaran Belanja Daerah Dengan Pendekatan Ad-Daruriyyat A l-Khams/Maqasid As-Syariah: Studi Kasus APBD Kabupaten Bogor Tahun 2011. Jurnal AL- MUZARA'AH Vol. 1 No. 2, 119-138.

(12)

Savitri, E. (2016). Penganggaran Perusahaan. Yogyakarta: Pustaka Sahila. Supriyono, R. (20 00). Sistem Pengendalian Manajemen. Yogyakarta: BPFE UGM. PENGANGGARAN PERU SAHAAN

Adisaputro, Gunawan dan Marwan Asri, (2010), Anggaran Perusahaan, Buku I, BPFE, UniV ersitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Arikunto, Suharsimi. (2010). Anggaran Perusahaan. Jakarta: Rineka Cipta.

Bustami, Bastian dan Nurlela. (2010). Akuntansi Biaya. Edisi kedua. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Darsono, P. Ari. (n.d.). Penganggaran Perusahaan (2nd ed.). Bogor: Mitra Wahana Media.

Dharmanegara, I. B. A. (2010). Penganggaran Perusahaan Teori dan Aplikasi (1st ed.). Yogy akarta: Graha Ilmu.

Fahmi, I. (2015). Manajemen Investasi: Teori dan Soal Jawab (2nd ed.). Jakarta: Salemba Em pat.

Harahap, Sofyan Syafri. (2008). Budgeting Penganggaran Perencanaan Lengkap.

Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Husnan Suad, P. E. (2012). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan (6th ed.). Yogyakarta: UPP S TIM YKPN.

BUDGETING Perusahaan, Koperasi, dan Simulasinya

Kasmir. (2013). Dasar-Dasar Perbankan (11th ed.). Jakarta: Rajawai Pers.

Mukhlis, I. (2015). Ekonomi Keuangan & Perbankan (1st ed.). Jakarta:

Salemba Empat.

Munandar, M. (2010). Budgeting Perencanaan Kerja Pengkoordinasian Kerja Pengawasan Ke rja. Yogyakarta: BPFE.

Mursyidi. (2010). Akuntansi Biaya: Conventional Costing, Just In Time, dan Activiti-Based Costing. Bandung: PT Refika Aditama.

Nafarin, M. (2015). Penganggaran Perusahaan. (3th ed.), Jakarta: Salemba Empat.

(13)

Rahayu, Sri dan Andry Arifian Rachman. 2013. Penyusunan Anggaran Perusahaan. Yogyaka rta: Graha Ilmu.

Rudianto. (2009). Penganggaran: Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran. Jakarta: Erlang ga.

Adisaputro, Gunawan dan Yunita Anggarini. 2011, Anggaran Bisnis Analisis Perencanaan, d an Pengendalian Laba, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.

Ambarwati, Titiek, Jihadi, 2003, Anggaran Perusahaan, UMM Press, Malang.

Any Agus Kana, 2010, Anggaran Perusahaan, Ak Group, Yogyakarta. Armin, K. (2015). Ana slisis Anggaran Penjualan terhadap Realisasi Penjualan pada PT. Anugerah Pharmindo Lestar i Cabang Palembang. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Amkop (STIM Amkop) Palembang: Diterbitkan. Bowling, D. M., &

Rieger, L. A. (2005). Making sense of COSO's new framework for enterprise risk manageme nt. Bank Accounting & Finance, 18(2), 29- 35.

Catur S. & Safrida R.P., 2010, Anggaran, Salemba Empat, Jakarta. Christina Ellen, Fuad, Sug iarto, Edi Sukarno, 2007, Anggaran Perusahaan

Suatu Pendekatan Praktis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Danang S., 2012, Budgetin g Perusahaan, CAPS, Yogyakarta

Horngren, Charles T, Srikant M. Datar, George Foster., (2005). Akuntansi Biaya Penekanan Manajerial, edisi kesebelas. Alih bahasa Desi Adhariani. Jakarta: PT. INDEKS Kelompok Gr amedia

Referensi

Dokumen terkait

Kedua, direksi, laporan hal kinerja keuangan pada periode-periode yang lalu membantu penyusunan rencana-rencana serta kebijakan-kebijakan yang lebih baik dan

Kebutuhan bahan baku untuk produksi*……. XXX Persediaan akhir bahan baku……….. XXX + Jumlah kebutuhan bahan baku……… XXX Persediaan awal bahan baku……… XXX - Pembelian

Kebutuhan bahan baku untuk produksi*……. XXX Persediaan akhir bahan baku……….. XXX + Jumlah kebutuhan bahan baku……… XXX Persediaan awal bahan baku……… XXX -

Produk Selesai + (Tingkat Penyelesaian X Produk dalam proses akhir) (2.2) Berikut ilustrasi perhitungan harga pokok dalam kondisi tanpa ada persediaan awal namun terdapat

Persediaan BDP awal xxx Produk masuk proses periode ini xxx Total unit yang diproses xxx Persediaan BDP akhir (xxx) Produk selesai xxx.. Pada akhir bulan

Dalam suatu Dept. Produksi, produk yang belum selesai diproses pada akhir periode akan menjadi persediaan produk dalam proses pada awal periode berikutnya. Produk dalam proses

Laporan Persediaan Barang Periode, Nama Barang, Satuan, Stok Awal, Pembelian, Penjualan, Stok Akhir, Harga, Total Harga1. Laporan Laba Rugi Periode, Pendapatan,Laba

Pada akhir periode distribusi akan diperoleh persediaan sebesar stok pengaman di setiap unit pelayanan kesehatan.. Rencana tingkat ketersediaan di UPOPPK tiap akhir periode juga