Pendahuluan
Covid-19 menjadi pandemi di berbagai belahan dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami dampak serius pandemi ini. Berbagai aspek kehidupan pun mau tidak mau berubah drastis.
Dunia pendidikan tak luput dari dampak Covid-19. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan untuk mengendalikan agar sekolah tidak menjadi kluster penyebaran virus corona. Pemerintah berusaha melindungi murid, generasi muda penerus bangsa, agar tidak menjadi korban Covid-19.
Kebijakan Kemendikbud dalam mengendalikan penyebaran virus corona yang tertuang dalam SE nomor 15 tahun 2020 yaitu menyelenggarakan kegiatan belajar dari rumah. Sejak akhir tahun ajaran 2019/2020 murid tidak beraktivitas di sekolah untuk melaksanakan proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar murid tidak berkerumun di sekolah. Dengan demikian, kondisi ini memperkecil potensi penyebaran virus corona.
Proses pembelajara dari rumah ini dilaksanakan secara daring dan/atau luring.
Proses pembelajaran dari rumah memaksa guru dan murid beradaptasi dengan sistim yang baru. Pelaksanaan BDR yang lebih banyak dilaksanakan secara daring menuntut guru dan murid lebih banyak menggunakan gawai atau laptop atau komputer sebagai sarana utama pembelajaran jarak jauh.
Proses pembelajaran jarak jauh ini bukan berarti mengurangi hak murid dalam mengakses pendidikan. Mereka tetap harus mendapat pembelajaran meski tidak bertatap muka dengan para guru.
Dengan demikian, guru harus melaksanakan proses pembelajaran dengan disesuaikan kondisi yang ada. Guru harus dapat mengemas proses pembelajaran yang lebih banyak menggunakan sistim daring semenarik mungkin agar murid tidak jenuh atau bosan. Guru harus kreatif dan inovatif mencari berbagai terobosan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas maya.
Murid pun seharusnya mengikuti pembelajaran secara aktif seperti halnya pembelajaran tatap muka. Satuan pendidikan tentu sudah menyusun jadwal kegiatan pembelajaran. Jika murid tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran, proses pembelajaran pun tidak dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan.
Namun, terbatasnya kemampuan dan perangkat membuat kontrol guru terhadap keaktifan murid menjadi kurang. Sementara, partisipasi orang tua dalam pengawasan keaktifan anak-anak mereka dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, keaktifan belajar murid dalam pembelajaran saat pandemi Covid-19 menurun drastic dibandingkan saat kondisi sebelum pandemi.
Sejak Tahun Ajaran 2021/2022, pandemi mulai menurun. Di akhir tahun ajaran ini, kegiatan pembelajaran tatap muka mulai dilakukan meski secara terbatas. Pembelajaran tatap muka benar-benar dilakukan secara normal pada Tahun Ajaran 2022/2023.
Pada tahun 2022/2023 ini pula mulai diberlakukan kurikulum baru yaitu Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini memang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran pascapandemi.
Meski pembelajaran sudah dilaksanakan secara luring atau tatap muka di kelas, motivasi belajar murid-murid khususnya di SMP Negeri 2 Pejagoan, belum pulih. Hal ini dapat dilihat pada saat kegiatan pembelajaran. Cukup banyak murid yang tidak merespon dengan baik pertanyaan atau tugas dari guru. Saat diminta berkolaborasi dengan murid lain, sebagian tidak bekerja, hanya mengandalkan teman yang bekerja. Hal tersebut tentu merupakan masalah karena murid tidak bekerja sama bahkan cenderung pasif dalam pembelajaran
Tidak hanya keaktifan dan kerja sama antarmurid yang rendah, hasil belajar pun kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari nilai sumatif murid yang rata-rata masih kategori mulai berkembang. Padahal, diharapkan anak-anak memiliki kemampuan minimal kategori berkembang sesuai harapan.
Oleh karena itu, diperlukan suatu model, metode atau teknik pembelajaran yang tepat untuk mengaktifkan anak dalam pembelajaran. Tidak hanya untuk mengaktifkan murid dalam pembelajaran, model, metode atau teknik yang diterapkan juga membuat murid dapat bekerja sama dengan murid lain.
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan mengatasi masalah tersebut adalah pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pada pembelajaran menulis, pembelajaran kolaboratif ini dapat dilakukan dengan menulis kolaboratif secara bergantian atau berantai.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dapat tidaknya model pembelajaran menulis berantai untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar murid pada pembelajaran materi teks deskripsi. Penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh murid, guru maupun satuan pendidikan. Bagi murid, laporan hasil penelitian ini dapat mendorong murid memiliki pengalaman bermakna dan mengembangkan potensi kebahasaan terutama pada elemen menulis. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan inovasi pembelajaran guru maupun satuan pendidikan untuk mengoptimalkan potensi dan hasil belajar murid.
Menurut Hilgard (dalam Sanjaya, 2010: 228-229) belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah
Sementara, Susanto (2013: 5) menyatakan bawa hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari belajar.
P. Sopiatin. dan , S. Sahroni (2011: 67-68) mengemukakan bahwa hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif dan psikomotorik.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2011: 7) hasil belajar merupakan suatu kompetensi atau kecakapan yang dapat dicapai oleh siswa setelah melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru di suatu sekolah dan kelas tertentu.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah proses perubahan bersifat positif aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dalam aspek melalui kegiatan di lingkungan alamiah maupun buatan.
Menurut Bloom (Thobron, 2016: 21), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, efektif dan psikomotorik.
a. Domain kognitif mencakup knowledge (pengetahuan), comprehensision (pemahaman, menjelaskan, meringkas), application (menerapkan), analisis (menguraikan), syinthesis (mengorganisasikan, merencanakan)
b. Domain efektif mencakup reiciving (sikap menerima), responding (memberikan respons), valuing , organization (organisasi), characterization (karakterisasi)
c. Domain psikomotorik mencakup intiatory, pre-rountine, rountinized, ketrampilan produktif, teknik, fisik, sosial.
Sedangkan menurut Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yaitu:
a) Keterampilan dan kebiasaan; b) Pengetahuan dan pengertian; c) Sikap dan cita-cita (Nana Sudjana, 2007: 22).
Dengan demikian, ada 3 macam hasil belajar yaitu keterampilan dan kebiasaan yang masuk dalam domain psikomotorik, pengetahuan dan pengertian yang masuk domain kognitif, serta sikap dan cita-cita yang masuk domain afektif.
Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku). Hal ini sesuai dengan pendapat Bettencourt (Suparno, 2012: 61) yang menuliskan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman siswa dengan dunia fisik dan lingkungannya.
Selanjutnya menurut M. Chatib (2012: 169-170), hasil belajar tidak hanya terbatas pada tes atau ujian saja tetapi sangat luas. Hasil belajar dapat dilihat dari
a. perubahan perilaku anak;
b. perubahan pola pikir anak;
c. membangun konsep baru.
Menurut Slameto (2010:54) ada dua faktor mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar, yaitu faktor intern (dari dalam diri siswa) meliputi : faktor jasmaniah (seperti : kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (seperti : intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan), dan keaktifan siswa dalam bermasyarakat, serta faktor ektern yang meliputi: faktor keluarga (meliputi : cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (meliputi : metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah), faktor masyarakat (meliputi : kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan
a. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa
b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa
yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran (Muhibbin Syah, 2010: 129).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada 2 faktor yang memengaruhi hasil belajar (dari dalam dan dari luar) yang mencakup beberapa perubahan dalam diri siswa.
Untuk mengetahui kemajuan belajar, kegiatan belajar harus ada pengukuran. Guru perlu melakukan pengukuran hasil belajar.
Secara sederhana pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukam untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala, peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. Dalam proses pembelajaran guru juga melakukan pengukuran terhadap proses dan hasilnya berupa angka-angka yang mencerminkan capaian dan proses atau hasil belajar tersebut (Hamzah B. Uno dan Satria Koni, 2013: 2).
Zainal Arifin (2013:4) menyatakan pengukuran merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu. Kata sesuatu ini bisa berarti siswa, guru, gedung sekolah, meja belajar, whiteboard dan sebagainya. Dalam proses pengukuran, tentu guru harus menggunakan alat ukur (tes maupun nontes). Alat ukur tersebut harus standar, yaitu memiliki derajat validitas dan reliabilitas yang tinggi.
Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan data yang objektif. Objektivitas dapat dicapai karena pengumpulan data mengambil jarak dengan objek yang diukur dan meyerahkan wewenang pengukuran kepada alat ukur. Penyerahan kewenangan pengukuran kepada alat ukur menyebabakan pengumpulan data tidak lagi menyerahkan subjektivitasnya ke dalam hasil ukur yang diperoleh data yang objektif (Purwanto, 2011: 3).
Jadi, pengukuran hasil belajar adalah perubahan yang ditimbulkan setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pembelajaran melalui atau menggunakan alat ukur tertentu.
Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu, permasalahan yang dihadapi murid SMP Negeri 2 Pejagoan adalah hasil belajar dan kealtifan belajar.
Keaktifan belajar siswa adalah sesuatu yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka proses belajar mengajar ( Dyah Ayu Novieta Sari, 2017: 2)
Menurut Ahmadi (2013: 206) keaktifan belajar adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga subjek didik betul-betul berperan dan berpatisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Menurut Eveline Siregar (2010: 106) keaktifan belajar merupakan pengolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keaktifan belajar merupakan proses interaksi guru dan siswa yang terlibat secara intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar.
Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku sebagai berikut :
a. sering bertanya kepada guru atau siswa lain, b. mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, c. mampu menjawab pertanyaan,
d. senang diberi tugas belajar dan yang lainnya ( Dyah Ayu Novieta Sari, 2017: 3 ).
Siswa dikatan aktif dalam pembelajaran menurut Suryosubroto (2009: 71) bila terdapat ciri-ciri:
a. siswa berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran;
b. pengetahuan dipelajari, dialami dan ditemukan oleh siswa;
c. mencobakan sendiri konsep-konsep;
d. siswa mengkomunikasikan hasil pikirannya.
Dengan demikian, siswa dikatakan aktif jika memenuhi ciri-ciri mampu mengerjakan tugas yang guru berikan, menjawab pertanyaan, sering berkomunikasi, dan mencoba konsepnya.
Menurut Paul B. Diedrich (Sardiman A.M., 2012: 101) keaktifan belajar dapat digolongkan menjadi 8 yaitu visual activities, oral activities, listening activities, writing activities, drawing activities, motor activities, mental activities, dan emotional activities.
Hal ini sejalan dengan pendapat Oemar Hamalik (2011: 11), terdapat delapan aspek kegiatan siswa, yaitu
a. Visual activities (kegiatan-kegiatan visual), seperti membaca, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
b. Oral Activities (kegiatan-kegiatan lisan), seperti mengemukakan suatu fakta, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.
c. Listening Activities (kegiatan-kegiatan mendengarkan), seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato, dan sebagainya.
d. Writing activities (kegiatan-kegiatan menulis), seperti menulis cerita karangan, laporan, tes, angket, menyalin, dan sebagainya.
e. Drawing activities (kegiatan-kegiatan menggambar), seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagaram, pola, dan sebagainya.
f. Motor activities (kegiatan-kegiatan motorik), seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model bermain, berkebun, memelihara binatang, dan sebagainya.
g. Mental activities (kegiatan-kegiatan mental), seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya.
h. Emotional activities (kegiatan-kegiatan emosional), seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani, tenang, gugup, dan sebagainya.
Jadi, jenis keaktifan belajar meliputi 8 aspek meliputi kegiatan visual, lisan, mendengarkan, menulis, menggambar, motorik, mental, dan emosional.
Kegiatan pembelajaran yang baik dibuat dengan perencanaan yang matang.
Perencanaan ini salah satunya menggunakan model, metode, atau teknik yang tepat.
Salah satu model pembelajaran yang sering digunakan adalah pembelajaran kontekstual dan pembelajaran kolaboratif.
Estafet writing atau menulis berantai merupakan salah satu metode active learning atau learning by doing yang bertujuan agar siswa mengasosiasikan belajar sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan (Syathriah, 2011 : 42).
Menurut Heriawan (2012:148) kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode estafet writing ini dilakukan sebagai langkah memotivasi siswa dalam mengembangkan imanjinasinya untuk menulis karangan yang akan dilaksanakan secara individu.
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan secara individu. Namun, tidak menutup kemungkinan kegiatan ini dilakukan secara berkelompok, beberapa orang menghasilkan sebuah teks.
Elizabeth F. Barkley, Claire H. Major, dan K. Patricia Cross. (2012: 381) menjelaskan bahwa prosedur yang dapat digunakan dalam pembelajaran menggunakan teknik collaborative writing di antaranya sebagai berikut.
a. Siswa membentuk pasangan atau kelompok beranggotakan dua atau tiga orang dengan memilih pasangan sendiri kemudian mencari gagasan dengan melaku-kan sumbang saran bersama atau melakukan riset pendahuluan.
b. Siswa menyusun gagasan-gagasan dan membuat sebuah kerangka tulisan.
c. Siswa membagi kerangka tulisan tersebut, memilih atau membagi masing-masing bagian untuk setiap anggota agar mereka dapat membuat rancangan secara individual.
d. Kelompok kemudian membaca rancangan pertama dan mendiskusikan serta me- nyelesaikan perbedaan pemikiran, konten, dan gaya yang signifikan.
e. Kelompok menggabungkan hasil kerja individual menjadi sebuah dokumen tunggal.
f. Kelompok merevisi dan mengedit hasil kerja mereka, memeriksa konten dan ke- jelasan termasuk tata bahasa, ejaan, dan tanda baca.
g. Setelah pengeditan akhir, kelompok mengumpulkan hasil tulisan mereka kepada pengajar untuk mendapatkan penilaian dan evaluasi.
Menurut Syathariah (2011: 42) langkah-langkah metode pembelajaran menulis berantai atau estafet writing adalah sebagai berikut. Sebelum memulai metode estafet writing, guru menjelaskan sebuah tema dan materi yang akan diajarkan.
a. Guru meminta siswa membuat kelompok yang berjumlah 5-6 orang.
b. Setelah itu guru meminta siswa membuat satu kalimat pembuka.
c. Setelah siswa menulis kalimat pembuka, siswa itu menjadi orang pertama.
Kemudian pada hitungan pertama, guru memberikan perintah untuk mengangkat tinggi buku milik siswa masing-masing, pada hitungan kedua guru menyuruh siswa menyerahkan buku miliknya ke teman sebelah kanannya.
d. Siswa tersebut menjadi orang ke dua yang harus melanjutkan karangan temannya dengan menambahkan satu kalimat lanjutan. Siswa wajib melihat kalimat sebelumnya untuk melanjutkan karangan berikutnya.
e. Setelah orang kedua selesai, guru kembali melakukan hitungan untuk diserahkan kepada teman sebelah kanannya, begitu seterusnya berputar searah jarum jam, hingga waktu yang ditentukan oleh guru.
f. Setelah waktu yang ditentukan guru selesai, buku latihan harus dikembalikan kepada pemilik awalnya. Pemilik buku membaca hasil karangan yang ditulis secara berantai dan menandai kalimat-kalimat yang sumbang atau tidak nyambung.
g. Guru menyuruh salah satu siswa menuliskan hasil menulis berantai di papan tulis, lalu guru dan siswa mengoreksi secara bersama.
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research (CAR). Penelitian tindakan kelas (PTK) dapat didefinisikan sebagai suatu proses investigasi terkendali yang berdaur ulang dan bersifat reflektif mandiri yang dilakukan oleh guru atau calon guru dengan tujuan melakukan perbaikan- perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi pembelajaran (Herawati Susilo dkk, 2011: 1).
Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki kualitas dan praktik pembelajaran secara berkesinambungan (Taufiqrur Rahman, 2018: 4). Penelitian tindakan kelas tidak berhenti pada identifikasimasalah, tetapi juga berperan untuk mengatasai masalah terebut dengan melakukan perubahan dan perbaikan (Prihantoro & Hidayat, 2019).
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada September-Oktober 2023. Lokasi penelitian adalah di Kelas IXA SMP Negeri 2 Pejagoan. SMP Negeri 2 Pejagoan SMP Negeri 2 Pejagoan beralamat di Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, berjarak kurang lebih 10 kilometer dari pusat kabupaten. Sekolah ini berada di desa, tidak jauh dari bantaran Sungai Lukulo.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah murid Kelas IX-A SMP Negeri 2 Pejagoan Tahun Ajaran 2022/2023. Murid Kelas IX-A berjumlah 32 orang, terdiri atas 16 putra dan 16 putri.
Prosedur
Untuk memperoleh data, penulis mengikuti prosedur sesuai teori. Prosedur yang ditempuh adalah dengan menganalisis permasalahan pembelajaran melalui refleksi. Setelah menganalisis permasalahan yang ada, penulis menyimpulkan bahwa masalah utama yang dihadapi murid Kelas IX-A pada pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya aspek keterampilan berkaitan dengan keaktifan dan hasil belajar. Murid jarang belajar saat pandemi, sehingga cenderung pasif saat pembelajaran dan motivasi belajarnya rendah.
Metode pembelajaran menulis berantai dipilih karena metode ini dapat “memaksa”
siswa untuk aktif dalam pengerjaan tugas. Di samping itu, metode ini membutuhkaan kolaborasi siswa sehingga setiap siswa dituntut bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya.
Tahap pembelajaran menggunakan metode chatting berantai untuk materi menulis teks cerita pendek adalah sebagai berikut.
1. Guru membagi siswa ke dalam 6 kelompok sekaligus ditunjuk ketua kelompoknya dengan mempertimbangkan minat.
2. Setiap anggota diminta mengirimkan ide cerita ke grup kelompok lalu menyepakati salah satu ide yang dianggap paling menarik.
3. Ketua membagi tugas anggota kelompok untuk menentukan pokok-pokok cerita.
4. Ketua membagi urutan anggota dalam penyusunan cerita inspiratif.
5. Anggota I mengirim satu kalimat bagian orientasi ke grup kelompok.
6. Anggota II melanjutkan kalimat yang dibuat anggota I, lalu dilanjutkan anggota III, dan seterusnya.
7. Jika bagian orientasi cukup, ketua menginstruksikan untuk penyusunan bagian komplikasi, resolusi, dan koda menggunakan langkah yang sama.
8. Salah satu anggota menulis/mengetik kalimat yang sudah dibuat menjadi teks yang utuh.
9. Anggota kelompok menyepakati judul dan mengoreksi kekurangan teks yang telah disusun dan memperbaikinya.
10. Ketua kelompok mempresentasikan teks yang sudah disepaakati di grup kelas sesuai waktu yang ditentukan guru.
11. Siswa mengomentari teks yang dipresentasikan kelompok lain dan ditanggapi siswa lain dipandu guru.
12. Siswa bersama guru menyimpulkan penyusunan teks cerita fantasi.
Setelah selesai, guru memberikan kegiatan evaluasi berupa pembuatan teks cerita inspiratif secara individu. Dari sini, dapat dilihat kemampuan individu siswa dalam menyusun teks cerita inspiratif.
Di samping itu, guru juga melakukan penilaian sikap. Untuk penilaian sikap keaktifan, indikator keaktifan yang ditetapkan meliputi
1. kehadiran
2. keaktifan mengerjakan tugas 3. keaktifan bertanya
4. keaktifan menjawab
Herawati Susilo dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas sebagai Sarana Pengembangan Keprofesian Guru dan Calon Guru. Malang: Bayu Media Pubishing.
Taufikur Rahman. 2018. Aplikasi Model-model Pembelajaran dalam Penelitian Tindakan Kelas.
Semarang: Pilar Nusantara.