• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN INDRIANTI R

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN INDRIANTI R"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

SEJARAH DAN KEBUDAYAAN SUKU JAWA

Disusun sebagai salah satu tugas semester satu mata kuliah Psikologi Pendidikan

Disusun Oleh:

1. SISKA FRASTYANI

2. INDRIANTI RAMADHANI

PROGRAM PASCASARJANA KEPENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

(2)

KATA PENGANTAR

Seiring dengan kemajuan zaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah.

Makalah ini dimaksudkan untuk Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia 2 .Disini pembaca bisa memahami lebih dalam tentang suku jawa.Adapun pembahasan dalam makalah ini adalah suku bangsa jawa,sistem kekerabatan disuku jawa,agama,budaya dll.Makalah ini juga dapat digunakan sebagai panduan bagi semua masyarakat yang belum mengerti suku jawa.

Bagaimanapun kami menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan atau kekurangan .kami mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang berifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.dan tak lupa kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya .semoga makalah ini dapat memberikan manfaat.

Samarinda, 4 Januari 2014

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Manusia adalah makhluk Allah yang di anugrahi akal, fikiran, dan fisik untuk menunjang kehidupannya sebagai seorang insan yang di tunjuk oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi yang Allah Yang Maha Kuasa ciptakan. Oleh karena manusia adalah khalifah di bumi ini sepatutnya seorang manusia haruslah mempunyai prilaku yang sesuai dengan yang Tuhan inginkan untuk dipercayakan menjaga keutuhan bumi yang Allah ciptakan dengan segala makhluk hidup didalamnya untuk manusia jaga kelestariannya.

Manusia yang menjadi seorang terpilih dan tinggi derajatnya di mata Tuhan, manusia haruslah mempunyai kepercayaan, ilmu, dan menjalankan segala apa yang di perintahkan Allah dan menjauhi yang di larang oleh Allah SWT. Sebagai makhluk yang mempunyai akal dan fikiran serta fisik manusia haruslah memanfaatkan anugrah yang di berikan oleh Allah itu dengan sebaik – baiknya dan jangan menyalah gunakannya sebagai suatu yang Allah benci. Manusia haruslah mempunyai budaya yang baik untuk menjadikannya seorang manusia yang memiliki derajat tinggi di mata Allah SWT. Maka manusia harus menjadikan budaya yang baik sebagai bagian dari dirinya tanpa mengabaikan apa yang menjadi kewajiban sebagai makhluk yang berketuhanan.

(4)

Disini, saya mencoba untuk peduli dengan budaya dari mana kami berasal yaitu jawa. Dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuan, kami mencoba merangkum berbagai tulisan yang berkaitan dengan budaya Jawa dari berbagai sumber.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana manusia sebagai makhluk yang berbudaya? 2. Apa pengertian suku jawa?

3. Apa bahasa yang digunakan oleh suku jawa? 4. Bagaimana system kekerabatan di suku jawa? 5. Bagaimana etika seksual masyarakat suku jawa? 6. Apa agama yang dianut oleh masyarakat suku jawa? 7. Apa saja budaya yang ada di suku jawa?

8. Apa saja profesi masyarakat suku jawa?

9. Bagaimana system kemasyarakatan dan politik di suku jawa? 10. Bagaimana stratifikasi soal masyarakat suku jawa?

11. Bagaimana stereotip masyarakat suku jawa?

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menuntaskan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan yang menjadi salah satu syarat kelulusan dalam proses pembelajaran di jenjang S2 Pendidikan Kimia Universitas Mulawarman. Selain itu, di harapkan makalah ini menjadi tulisan yang bermanfaat dan menjadi referensi bagi semua orang yang membacanya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERBUDAYA

(5)

berbudaya tidak menjalankan sikap-sikap atau tindakan yang menyinpang dari peraturan-peraturan baik berupa norma- norma yang ada di masyarakat maupun hokum yang berlaku.

Oleh karena itu sifat manusia yang berbudaya itu yang harus dimiliki setiap manusia khususnya bangsa Indonesia yang dikenali sebagai Negara yang besar dengan banyaknya budaya yang dimiliki. Jadilah manusia yang memiliki budaya yang tinggi yang menjadikan manusia tersebut sebagai manusia yang berbudaya dan tentu manusia yang berbudaya itu pasti juga manusia yang berpendidikan, akan tetapi sebaliknya manusia yang berpendidikan itu belum tentu dia manusia yang berbudaya. Banyak contoh di negara ini manusia yang pintar atau berpendidikan yang melakukan banyak tindak kejahatan atau menyimpang contohnya seperti korupsi. Itu semua terjadi karena mereka tidak menjadi manusia yang berbudaya Dan akibatnya mereka tidak memiliki moral, kejujuran, Dan rasa tanggung jawab.

Karena itu jadilah manusia yang berbudaya. Dengan menjadi manusia yang berbudaya maka masyarakat akan memiliki sikap yang berakal budi, bermoral, sopan dan santun dalam menjalani kehidupan diri sendiri ataupun berbangsa dan bernegara. Sikap Dan sifat manusia yang berbudaya itu juga yang akan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang besar yang memiliki jati diri sendiri sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat.

(6)

B. PENGERTIAN

Suku Jawa (Jawa ngoko: wong Jowo, krama: tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger. Suku bangsa jawa termasuk suku bangsa yang telah maju kebudayaannya, karena sejak zaman dahulu mereka telah banyak mendapat pengaruh dari berbagai kebudayaan, seperti : kedubayanan Hindu, Budha, Islam dan Eropa. Setelah mengetahui suku bangsa di Indonesia maka sekarang penyusun akan membahas tentang salah satu suku di Indonsia yaitu Suku jawa.

C. BAHASA

Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.

Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.

(7)

Menurut hikayat, asal muasal suku Jawa diawali dari datangnya seorang satria pinandita yang bernama Aji Saka. Ia adalah orang yang menulis sebuah sajak, dimana sajak itu yang kini disebut sebagai abjad huruf Jawa hingga saat ini. Maka dari itu, asal mula sajak inilah yang digunakan sebagai penanggalan kalender Saka. Definisi suku Jawa adalah penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan timur, kecuali pulau Madura. Selain itu, mereka yang menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya untuk berkomunikasi juga termasuk dalam suku Jawa, meskipun tidak secara langsung berasal dari pulau Jawa. Demikian adalah definisi Magnis-Suseno mengenai suku bangsa Jawa. Asal usul suku Jawa juga berkaitan dengan bahasa yang digunakan, yakni bahasa Jawa. Secara resmi, ada dua jenis bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat suku Jawa. Dua jenis bahasa ini tersedia sebagai berikut:

1. Bahasa Jawa Ngoko adalah bahasa Jawa yang digunakan oleh orang yang sudah akrab, orang dengan usia yang sama atau seseorang kepada orang lain yang status sosialnya lebih rendah.

2. Bahasa Jawa Kromo. Bahasa tersebut digunakan kepada orang yang belum akrab, dari orang muda kepada orang tua atau dengan orang yang status sosialnya lebih tinggi.

(8)

digunakan kepada orang yang lebih tua atau memiliki jabatan dan status sosial yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang berbicara.

D. SISTEM KEKERABATAN DI SUKU JAWA

Di dalam rumusan masalah ada permasalahan yaitu tentang bagaimana system kekerabatan Suku Jawa. Dalam system kekerabatan Jawa keturunan dari Ibu dan Ayah dianggap sama hak nya, dan warisan anak perempuan sama dengan warisan laki-laki tetapi, berbeda dengan banyak suku bangsa yang lain, yang ada Indonesia. Misalnya, dengan suku-suku Batak di Sumatra Utara, masyarakat jawa tidak mengenal system marga. Susunan kekerabatan suku jawa berdasarkan pada keturunan kepada kedua belah pihak yang di sebut Bilateral atau Parental yang menunjukan system penggolongan menurut angkatan-angkatan. Walaupun hubungan kekerabatan di luar keluarga inti tidak begitu ketat aturannya, namun bagi orang jawa hubungan dengan keluarga jauh adalah tetap penting.

Masyarakat Jawa dalam hal perkawinana melalui beberapa tahapan. Biasanya seluruh rangkaian acara perkawinan berlangsug selama kurang lebih dua bulan, mencangkup 1. Nontoni: Melihat calon istri dan keluarganya, dengan mengirim utusan (wakil).

2. Nglamar (meminang): Tahapan setelah nontoni apabila si gadis bersedia dipersunting. 3. Paningset : Pemberian harta benda, berupa pakaian lengkap disertai cin-cin kawin. 4. Pasok Tukon : Upacara penyerahan harta benda kepada keluarga si gadis berupa

uang,pakaian dan sebagainya, diberikan tiga hari sebelum pernikahan.

5. Pingitan : Calon istri tidak diper4bolehkan keluar rumah selama 7 hari atau 40 hari sebelum perkawinan.

6. Tarub : Mempersiapkan perlengkapan perkawianan termasuk menghias rumah dengan janur.

7. Siraman : Upacara mandi bagi calon pengantin wanita yang dilanjutkan dengan selamatan.

8. Ijab Kabul (Akad Nikah) : Upacara pernikahan dihadapan penghulu, disertai orang tua atau Wali dan saksi-saksi.

(9)

10. Ngunduh Mantu (ngunduh temanten) : Memboyong pengantin wanita kerumah pengantin pria yang disertai pesta ditempat pengantin pria.

11. Jika di dalam perkawinan ada masalah antara suami istri maka dapat dilakukan "Pegatan" (Perceraian). Jika istri menjatuhkan cerai di sebut "talak" sedangkan istri meminta cerai kepada suami di sebut "talik". Jika keinginan isteri tidak di kabulkan oleh suami istri mengajukan ke pengadilan maka di sebut "rapak". Jika ingin kembali lagi jenjang waktunya mereka rukun kembali adalah 100 hari di namakan "Rujuk" jika lebih dari 100 hari dinamakan "balen" (kembali). Setelah cerai seorang janda boleh menikah dengan yang lain setelah "masa Iddah".

Mengenai etika seksual di jawa tidak ada superior ataupun interior,semua pria dan wanita sama saja. Hanya tanggung jawabnya saja yang berbeda.dalam bidang seksual, masyarakat jawa condong untuk bersikap tegas. pada setiap perayaan-perayaan di desa, pria dan wanita duduk secara terpisah.

Para orang tua melarang keras jika putrinya berjalan dengan seorang pria. Mereka berpendapat bahwa anak muda tidak dapat menahan emosinya, Sehingga mereka takut terjadi sesuatu kepada putrinya.

F. KEPERCAYAAN

(10)

tinggi oleh masyarakat Jawa, terutama yang abangan. Di antara tradisi dan budaya ini adalah keyakinan akan adanya roh-roh leluhur yang memiliki kekuatan ghaib, keyakinan adanya dewa dewi yang berkedudukan seperti tuhan, tradisi ziarah ke makam orang-orang tertentu, melakukan upacara-upacara ritual yang bertujuan untuk persembahan kepada tuhan atau meminta berkah serta terkabulnya permintaan tertentu.

Setelah dikaji inti dari tradisi dan budaya tersebut, terutama dilihat dari tujuan dan tatacara melakukan ritus-nya, jelaslah bahwa semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tuhan yang mereka tuju dalam keyakinan mereka jelas bukan Allah, tetapi dalam bentuk dewa dewi seperti Dewi Sri, Ratu Pantai Selatan, roh-roh leluhur, atau yang lainnya. Begitu juga bentuk-bentuk ritual yang mereka lakukan jelas bertentangan dengan ajaran ibadah dalam Islam yang sudah ditetapkan dengan tegas dalam al-Quran dan hadis Nabi Saw. Karena itulah, tradisi dan budaya Jawa seperti itu sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam dan perlu diluruskan atau sekalian ditinggalkan.

Selain itu masyarakat Jawa percaya terhadap hal-hal tertentu yang dianggap keramat, yang dapat mendatangkan mala petaka jika di tintang atau diabaikan. Kepercayaan itu diantaranya :

1. Kepercayaan terhadap Nyi roro kidul

2. Kepercayaan kepada hari kelahiran (Wathon) 3. Kepercayan terhadap hari-hari yang dianggap baik 4. Kepercayaan kepada Nitowong

5. Kepercayaan kepada dukun prewangan

(11)

1. Selamatan memperingati siklus hidup

2. Selamatan berkaitan dengan kehidupan Desa 3. Selamatan menjelang pernikahan

4. Selamatan berkaitan dengan kejadian tertentu

5. Selamatan untuk memperingati hari besar keagamaan 6. Selamatan memperingati meninggalnya seseorang.

Selain itu, masyarkat jawa juga mempunyai tradisi upacara adat dalam setiap kegiatan – kegian besar, seperti :

1. Kematian ( Mendhak )

2. Upacara nyewu dina (memohon pengampunan kepada Tuhan )

3. Upacara Brobosan (penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia )

4. Upacara-upacara sebelum pernikahan (Siraman, Upacara Ngerik, Upacara Midodareni, Upacara diluar kamar pelaminan, Srah-srahan atau Peningsetan, Nyantri, Upacara Panggih atau Temu, Balangan suruh Penganten, dll )

5. Upacara untuk kelahiran bayi, seperti :

 Wahyu Tumurun

Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu mendapat.

 Sido Asih

Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu di cintai dan dikasihi oleh sesama serta mempunyai sifat belas kasih

 Sidomukti.

Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang mukti wibawa, yaitu berbahagia dan disegani karena kewibawaannya.

 Truntum.

Maknanya agar keluhuran budi orangtuanya menurun (tumaruntum) pada sang bayi.

 Sidoluhur.

Maknanya agar anak menjadi orang yang sopan dan berbudi pekerti luhur.

 Parangkusumo.

Maknanya agar anak memiliki kecerdasan bagai tajamnya parang dan memiliki ketangkasan bagai parang yang sedang dimainkan pesilat tangguh.

 Semen romo.

(12)

 Udan riris.

Maknanya agar anak dapat membuat situasi yang menyegarkan, enak dipandang, dan menyenangkan siapa saja yang bergaul dengannya.

 Cakar ayam.

Maknanya agar anak pandai mencari rezeki bagai ayam yang mencari makan dengan cakarnya karena rasa tanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya, sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi, syukur bisa kaya dan berlebihan.

 Grompol.

Maknanya semoga keluarga tetap bersatu, tidak bercerai-berai akibat ketidakharmonisan keuarga (nggrompol : berkumpul).

 Lasem.

Bermotif garis vertikal, bermakna semoga anak senantiasa bertakwa pada Tuhan YME.

 Dringin.

Bermotif garis horisontal, bermakna semoga anak dapat bergaul, bermasyarakat, dan berguna antar sesama.

G. BUDAYA SUKU JAWA

Budaya merupakan ciri yang membedakan satu suku dengan yang lainnya. Tetapi yang akan di bahas adalah budaya suku jawa tengah salah satu ciri dari suku jawa tengah adalah kebudayaan tentang kerajaan yang ada di jawa antara lain adalah adanya sebuah kerajaan.

(13)

Candi Borobudur di bangun menurut tradisi jawa kuno sebagai candi yang berteras dan melambangkan alam raya.dengan demikian borobudur merupakan mandala raksasa dalam batu, suatu lingkaran mistik yang di samping pungsi simbolisnya, sekaligus memiliki kekuatan nyata yang dapat menghasilkan bagi kaum beriman apa yang di lambangkan itu. Mungkin juga bahwa candi Borobudur sekaligus masih mempunyai maksud lain yaitu menjadi makam monumental bagi raja syailendra yang berkuasa. Kalo begitu maka kebudayaan jawa yang mengambil alih agama-agama asing untuk diabdikan dari dalam bagi kepentingan sendiri, artinya untuk menjawakannya. Tendensi jawanisasi juga nampak dalam penggantian bahasa sangsakerta dengan bahasa jawa kuno dan dalam perkembangan huruf jawa yang mulai pada waktu itu.

H. PROFESI

Mayoritas orang Jawa berprofesi sebagai petani, namun di perkotaan mereka mendominasi pegawai negeri sipil, BUMN, anggota DPR/DPRD, pejabat eksekutif, pejabat legislatif, pejabat kementerian dan militer. Orang Jawa adalah etnis paling banyak di dunia artis dan model. Orang Jawa juga banyak yang bekerja di luar negeri, sebagai buruh kasar dan pembantu rumah tangga. Orang Jawa mendominasi tenaga kerja Indonesia di luar negeri terutama di negara Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Taiwan, AS dan Eropa.

Sistem Ekonomi Jawa

1. Pertanian

(14)

2. Perikanan

Adapun usaha yang dilakukan cukup banyak baik perikanan darat dan perikanan laut. Perikanan laut diusahakan di pantai utara laut jawa. Peralatannya berupa kail, perahu, jala dan jarring

3. Peternakan

Binatang ternak berupa kerbau, sapi, kambing, ayam dan itik dan lain-lain. 4. Kerajinan

Kerajinan sangat maju terutama menghasilkan batik, ukir-ukiran, peralatan rumah tangga, dan peralatan pertanian.

I. SISTEM KEMASYARAKATAN DAN POLITIK SUKU JAWA

Masyarakat jawa masih membedakan antara golongan priyayi dan orang kebanyakan wong cilik, Golongan priyayi atau bendara terdiri atas pegawai negri dan kaum terpelajar. Orang kebanyakan disebut juga wong cilik, seperti petani,tukang,dan pekerja kasar lainnya.priyayi dan bendara merupakan lapisan atas, sedangkan wong cilik menjadi lapisan bawah.

Secara administrative,suatu desa di jawa biasanya disebut kelurahan yang dikepalai oleh seorang lurah. Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari ,seorang kepala desa dengan semua pembantunya disebut pamong desa. Pamong desa mempunyai dua tugas pokok, yaitu tugas kesejahteraan desa dan tugas kepolisian untuk keamanan dan ketertiban desa.

Adapun pembantu-pembantu lurah dipilih sendiri oleh lurah. Pembantu-pembantu lurah terdiri atas:

a) Carik,bertugas sebagai pembantu umum dan penulis desa.

b) jawa tirta atau ulu-ulu,bertugas mengatur air kesawah-sawah penduduk. c) Jaga baya,bertugas menjaga keamanan desa.

J. STRATIFIKASI SOSIAL

(15)

masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.

K. SENI

Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.

Contoh kesenian yang berkembang di mastarakat jawa adalah :

 Topeng (topeng madura, topeng malang, topeng dongkrek, )

 Angklung

 Bali-balian

 Wayang ( kuli, klitik, purwo, godog, golek, dll )

 Trian (tari topeng kuncaran, tari merak, tari serimpi, tari blambangan cakil, tari remong, reog ponorogo dan jaipong )

Kesenian Suku Jawa

(16)

1. Kesenian tipe jawa tengah

Wujud kesenian tipe jawa tengah bermacam-macam misalnya sebagai berikut :

 Seni Tari Contoh : Seni tari tipe jawa tengah adalah tari serimpi dan tari bambang cakil

 Seni Tembang berupa lagu-lagu daerah jawa, misalnya lagu-lagu dolanan suwe ora jamu, gek kepiye dan pitik tukung

 Seni pewayangan merupakan wujud seni teater di jawa tengah

 Seni teater tradisional wujud seni teater tradisional di jawa tengah antara lain adalah ketoprak.

2. Kesenian tipe jawa timur

Wujud kesenian dari pesisir dan ujung timur serta madura juga bermacam-macam, misalnya sebagai berikut :

 Seni tari dan teater antara lain tari ngremo, tari tayuban, dan tari kuda lumping

 Seni pewayangan antara lain wayang beber

 Seni suara antara lain berupa lagu-lagu daerah seprerti tanduk majeng (dari Madura) dan ngidung (dari Surabaya)

 Seni teater tradisional antara lain ludruk dan kentrung.

(17)

4. Pakaian adat jawa, pakaian pria jawa tengah adalah penutup kepala yang di sebut kuluk, berbaju jas sikepan, korset dan kris yang terselip di pinggang. Memakai kain batik dengan pola dan corak yang sama dengan wanita. Wanitanya memakai kain kebaya panjang dengan batik sanggulnya disebut bakor mengkurep yang diisi dengan daun pandan wangi.

L. STEREOTIPE ORANG JAWA

(18)

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

(19)

2. Suku jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.

3. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari.

4. Dalam system kekerabatan Jawa keturunan dari Ibu dan Ayah dianggap sama hak nya, dan warisan anak perempuan sama dengan warisan laki-laki

5. Etika seksual jawa tidak ada superior ataupun interior,semua pria dan wanita sama saja 6. Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang belum bisa

meninggalkan tradisi dan budaya Jawanya.

7. Budaya suku jawa tengah salah satu ciri dari suku jawa tengah adalah kebudayaan tentang kerajaan yang ada di jawa antara lain adalah adanya sebuah kerajaan

8. Mayoritas orang Jawa berprofesi sebagai petani, namun di perkotaan mereka mendominasi pegawai negeri sipil, BUMN, anggota DPR/DPRD, pejabat eksekutif, pejabat legislatif, pejabat kementerian dan militerBagaimana system kemasyarakatan dan politik di suku jawa?

9. Sistem kemasyarakatan dan politik suku jawa masyarakat jawa masih membedakan antara golongan priyayi dan orang kebanyakan wong cilik

10. Stratifikasi sosial seperti di jawa membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan dan priyayi

11. Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai sukubangsa yang sopan dan halus. Tetapi mereka juga terkenal sebagai sukubangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang

B. SARAN

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Dewey, Alice G. "Antropology Agama" Jakarta ,1975.

Edel, May and Abraham edel, 1968. "Antropology and Ethics. The Press of Case Western Reserve University Press".

http://duniabaca.com/definisi-budaya-pengertian-kebudayaan.html http://robertusbeny.blogspot.com/2012/01/pengertian-manusia.html

http://tugas-mrhanz25.blogspot.com/2011/02/manusia-sebagai-makhluk-budaya.html

Kamlah, W ,1973 "philosophische Anthropology" , Mannheim/wien/Zurich ; Bibliographisches institute, Jakarta.

Kartodirdjo,1975 "sejarah nasional Indonesia", Jakarta; Departemen pendidikan dan kebudayaan, Jakarta.

(21)

Koentjoroningrat, 1977 "system gotong-royong dan jiwa gotong royong", dalam berita anthropology, Jakarta

Mulder, Niels. 1973 "Kepribadian jawa dan pembangunan nasional". Yigyakarta; Gadjah mada University press.

Sajogo, 1978 "Lapisan masyarakat yang paling lemah di pedesaan jawa". Dalam prisma.Bandung.

Supriyatno, E. 1994. "Bahan Acuan kegiatan belajar mengajar Antropologi" PT.Rakaditu, Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dinilai sangan mendasar dan sangat fatal jika dibiarkan secara terus menerus sehingga akan membentuk karakter yang bernilai kurang baik bagi peserta didik, dalam contoh

Grafik diatas merupakan grafik titik embun hasil keluaran model WRF-ARW sebelum dan setelah diasimilasi terhadap data hasil observasi dari Stasiun Meteorologi Klas II Padang

Belum jelas dalam kebijakan pelaksanaan perwujudan konsep otonomi yang proporsional ke dalam pengaturan pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional, serta perimbangan

Fungsi heatsink adalah membuang panas yang dihasilkan oleh prosessor lewat konduksi panas dari prosessor ke heatsink.Untuk mengoptimalkan pemindahan panas maka heatsink harus dipasang

my faith in you Is it a sin, is it a crime, to worship somebody all of the time anytime I would do anything for you To design a seal for the new nation, the self-educated the

Kabupaten Kuningan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki potensi yang cukup besar dalam PAD-nya, khususnya dari sektor

Hari senin waktu loro , simbol lontara, simbol H Daud, dan simbol Hj Nursia merujuk pada kualitas waktu mallise ; simbol bahasa Arab, simbol komputer, simbol

Apakah ada pengaruh pengetahuan ibu, dukungan suami, dan dukungan tenaga kesehatan terhadap pemanfaatan pelayanan Antenatal Care (ANC) di wilayah kerja Puskesmas Pasar Ujung