MAKALAH
SHOLAT WAJIB DAN SHOLAT SUNNAH Dosen Pengampu : Eidat Ahmad, M.Pd Mata Kuliah : Praktikum Pembelajaran Fikih
Disusun Oleh : 1. Etin Rokayah 2. Dewi Sri Nurbaeti 3. Meldini Tsaniah
FAKULTAS TARBIYAH PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA TASIKMALAYA Jl. Argasari No. 31 Argasari Cihideung Kota Tasikmalaya Jawa Barat 46122
Tahun Akademik 2023 – 2024
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama alloh yang maha pengasih dan penyayang puji dan syukur kita panjatkan kepada Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul ‘’ SHOLAT WAJIB Dan SHOLAT SUNNAH’’
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum pembelajaran fikih.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak luput dari kekurangan-kekurangan. Hal ini di sebabkan oleh keterbatasan kemampuan ndan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu,semua kritik dan saran pembaca akan kami terima dengan senang hati demi perbaikan makalah ini.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... ii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan...1
BAB II... 2
PEMBAHASAN... 2
A. Materi Shalat...2
1. Pengertian Shalat...2
2. Tujuan shalat...2
3. Macam-macam Shalat...2
4. Syarat-syarat sah shalat... 4
BAB III...6
PENUTUP...6
A. Kesimpulan...6
B. Saran... 6
DAFTAR PUSTAKA...7
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim.
Sholat memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim karena merupakan sarana untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Ada dua jenis sholat yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim, yaitu sholat wajib dan sholat sunnah.
Sholat wajib adalah sholat yang harus dilakukan oleh setiap Muslim sesuai dengan ketentuan agama Islam. Sholat wajib terdiri dari lima waktu sholat, yaitu sholat subuh, sholat dhuha, sholat zuhur, sholat asar, sholat maghrib, dan sholat isya. Sholat wajib harus dilakukan secara rutin dan tidak boleh ditinggalkan kecuali ada uzur atau halangan yang membuat seseorang tidak mampu melaksanakannya.
Sedangkan sholat sunnah merupakan sholat yang dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap Muslim untuk mendapatkan keutamaan dan pahala lebih dari Allah SWT. Sholat sunnah tidak wajib dilakukan, namun sangat dianjurkan dilaksanakan oleh setiap Muslim. Sholat sunnah terbagi menjadi dua jenis, yaitu sholat sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan secara rutin dan sholat sunnah ghairu muakkadah yang tidak wajib dilakukan namun tetap dianjurkan untuk dilakukan.Sholat wajib memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim karena merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Melakukan sholat wajib secara rutin dapat meningkatkan ketaqwaan seseorang kepada Allah dan meraih keberkahan dalam hidupnya. Sedangkan sholat sunnah merupakan amalan tambahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan nilai ibadah seseorang.Dalam menjalankan sholat wajib dan sunnah, seorang Muslim harus senantiasa memperhatikan waktu-waktu sholat, niat, gerakan sholat, dan bacaan- bacaan yang dibacakan dalam sholat. Dengan melaksanakan sholat wajib dan sunnah dengan baik dan khusyuk, maka seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT dan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
B. Rumusan Masalah
1. Tentang Pengertian Shalat 2. Tujuan Shalat
3. Syarat-Syarat Shalat 4. Macam – Macam Shalat C. Tujuan
Tujuan penulisan yang disusun dalam bentuk makalah ini adalah untuk memaparkan pemahaman tentang :
1. Arti Shalat
2. Bagaimana cara mengerjakan shalat seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
3. Mengkaji khalifiyah antar majhab
4. Sebagai koreksi terhadap perilaku kita
BAB II PEMBAHASAN
A.
Materi Shalat
1.
Pengertian Shalat
Pengertian Shalat menurut bahasa adalah berdoa (memohon). Dalam bahasa Arab, perkataaan Shalatdigunakan untuk beberapa arti. Diantaranya digunakan untuk arti do’a, seperti dalam firman Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat (9) At Taubah, ayat 103: digunakan untuk arti rahmat dan untuk arti mohon ampunan seperti dalam Firman Allah dalam Al-Qur’an surat (33) Al- Akhzab, ayat 43 dan 56.
Dalam istilah ilmu Fiqih, shalat adalah suatu macam atau bentuk ibadah yang diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu, disertai dengan ucapan-ucapan tertentu, dan dengan syarat- syarat tertentu pula. Digunakannya istilah shalat bagi ibadah ini, adalah tidak jauh berbeda dari arti yang digunakan oleh bahasa diatas, karena di dalamnya mengandung do’a-do’a, baik yang berupa permohonan, rahmat, dan lain sebagainya.[1]
Sedangkan menurut Syara’ sebagaimana kata Imam Rafi’i, pengertian shalat adalah :
ةِصَوْصُخْمَ طِئِ ارَشَبِ مِيْلِسْتَّلاِبِ ةِمَتَّتَّخْمَ رَيْبِكْتَّلاِبِ ةِحَتَّتَّفْمَ لٌاِعفَاوَ لٌاوْقْا يعفَارَلا لٌاِقْ اِمَكَ اِ&عًرَشَوَ
Shalat ialah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam disertai beberapa syarat yang sudah ditentukan.[2]
Jadi, shalat ialah suatu ibadah yang dilakukan oleh setiap muslim berupa suatu perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai syarat-syarat dan rukun yang telah ditentukan oleh syara’.
2.
Tujuan shalat
Adapun tujuan shalat diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Seseorang menjadi ingat kepada Allah SWT.
2) Mendapat ketenangan dan ketentraman hati dalam menjalani hidup.
3) Menjaga hati untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
4) Mendorong untuk mengetahui dan mengikuti tuntunan hidup yang diberikan Allah SWT.
5) Dapat membentengi seseorang dari perbuatan keji dan munkar.
Shalat merupakan ibadah wajib yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Tujuan dalam melaksanakan shalat sangat banyak sekali. Karena dengan shalat, setiap individu dapat berkomunikasi secara langsung dengan Allah Swt. Dengan shalat, semua manusia dapat merasa lebih dekat dengan Allah Swt dan selalu mengingat-Nya. Dengan begitu, shalat dapat menuntun setiap manusia untuk menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt dan menta’ati segala perintah-Nya sehingga terciptalah ketenangan dan ketentraman dalam diri seseorang.
3.
Macam-macam Shalat
Dilihat dari hukum melaksanakannya, pada garis besarnya shalat dibagi menjadi dua, yaitu shalat fardhu dan shalat sunnah. Shalat fardhu yaitu shalat yang harus dikerjakan dan tidak boleh diringgalkan.Artinya, jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan akan mendapat dosa.
Sedangkan shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan untuk dikerjakan. Artinya bagi yang mengejakan akan mendapat pahala, jika ditinggalkan maka tidak mendapat dosa.
Selanjutnya shalat fardhu dibagi menjadi dua, yaitu shalat fardhu ‘ain, dan shalat fardhu kifayah.
Shalat fardhu ‘ain adalah shalat yang harus dikerjakan oleh setiap orang. Shalat ini sebanyak lima kali dalam satu hari satu malam. Sedangkan shalat fardhu kifayah adalah shalat yang diwajibkan kepada sekelompok kaum muslimin, yang apabila telah ada seseorang atau sebagian dari mereka yang
seorangpun dari mereka yang mengerjakan, maka berdosalah mereka semua. Dalam hal ini, shalat jenazah dihukumi fardhu kifayah.
Demikian juga shalat sunnah dibagi menjadi dua, yaitu shalat sunnah mu’akkadah dan shalat sunnah ghoiru mu’akkad. Shalat sunnah mu’akkadah adalah shalat sunnah yang selalu dikerjakan ileh Rasulullah Saw. Seperti shalat witir, shalat ‘idain dan lain-lain. Sedangkan shalat sunnah ghoiru mu’akkad adalah shalat sunnat yang jarang dikerjakan oleh Rasulullah Saw. Seperti shalat dhuha, dan shalat-shalat rawatib yang tidak mu’akkad.
Dengan adanya pembagian shalat fardhu dan sunnah tersebut, menunjukkan bahwa agama Islam merupakan agama yang penuh dengan kemurahan. Dimana banyak sekali waktu ibadah shalat baik yang fardhu maupun yang sunnah untuk dapat dikerjakan oleh setiap muslim.
a. Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah
Shalat fardhu
Shalat fardhu atau biasa disebut dengan shalat wajib, yaitu shalat yang harus dikerjakan dan tidak boleh ditinggalkan. Artinya jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan akan mendapat dosa. Sebagaimana telah disebutkan di atas, shalat fardhu dibagi menjadi dua macam yaitu shalat fardhu ain dan shalat fardhu kifayah.
1. Shalat fardhu ‘ain, yaitu shalat yang harus dikerjakan oleh setiap orang. Shalat ini sebanyak lima kali dalam satu hari satu malam, mengingat sabda Rasulullah SAW, ketika ditanya oleh seorang penduduk Najd tentang kewajiban-kewajiban tersebut, yaitu shalat lima kali dalam satu hari satu malam, dimana beliau bersabda:
ةِلِيْلِلاوَ مِوْيْلا يفَ *تٍاوْلِصَ سُمَخَ
هلِلاديْبِعً نبِ هحَلِط نعً مِلِعمَوَ ير اِخْبِلا هاوَر Artinya: Shalat lima (kali) dalam satu hari satu malam”. (HR. Bukhari-Muslim dari Talhah bin Ubaidillah).
Sedangkan yang dimaksud dengan shalat lima kali yaitu, shalat dhuhur, asar, maghrib, isya’ dan subuh. Termasuk ke dalam pengertian shalat lima kali ini, yaitu shalat jumat, yang menurut jumhur ulama’, diwajibkan kepada laki-laki muslim, yang bukan budak, tidak sedang bepergian atau sakit, kewajiban shalat jumat ini didasarkan kepada firman Allah dalam Al- qur’an surat Al-jumuah : 9, juga didasarkan kepada beberapa hadits antara lai hadits dari Jabir yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia wajib (shalat) jumuah, kecuali wanita atau orang yang sedang yang bepergian, atau seorang hamba atau orang yang sedang sakit.” (HR. Ad-daruquthniy dan Al-Baihaqi).
2. Shalat fardhu kifayah, yaitu shalat yang diwajibkan kepada sekelompok kaum muslimin, yang apabila telah ada seseorang atau sebagian dari mereka yang mengerjakan, maka berarti telah lepaslah kewajiban tersebut dari mereka semua, dan jika tidak seorangpun dari mereka yang mengerjakan, maka berdosalah mereka semua. Dalam hal ini ulama’ sepakat bahwa shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah.
Shalat Sunnat
Shalat sunnat disebut juga dengan shalat tathawwu’, shalat nawafil, shalat mandhub, dan shalat mustahab, yaitu shalat yang dianjurkan untuk dikerjakan. Artinya bagi yang mengerjakan akan mendapat pahala, jika ditinggalkan maka tidak mendapat dosa.
1) Shalat sunnat mu’akkad, yaitu shalat sunnat yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Seperti : shalat witir, shalat ‘idain, dan lain-lain.
2) Shalat sunnat ghairu mu’akkad, yaitu shalat sunnat yang jarang dikerjakan oleh Rasulullah SAW, seperti shalat dhuha, dan shalat-shalat rawatib yang tidak mu’akkad.
Semua shalat, termasuk shalat sunnat dilakukan adalah untuk mencari keridhoan atau pahala dari Allah SWT. Namun shalat sunnat, jika dilihat dari ada atau tidak adanya sebab- sebab dilakukannya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: shalat yang bersebab dan shalat sunnah yang tidak bersebab.
1) Shalat sunnah yang bersebab, yaitu shalat sunnah yang dilakukan karena ada sebab-sebab tertentu, seperti shalat istisqo’ (minta hujan) dilakukan karena terjadi kemarau panjang, shalat qushof (gerhana) dilakukan karena terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan dan lain sebagainya
2) Shalat sunnah yang tidak bersebab, yaitu shalat sunnah yang dilakukan tidak karena ada sebab-sebab tertentu. Sebagai contoh : shalat witir, shalat dhuha danlain sebagainya.
4. Syarat-syarat sah shalat
1) Mengetahui waktunyaSeperti kita ketahui, bhwasannya setiap shalat mempunyai waktu-waktu yang telah ditentukan untuk melakukannya. Untuk itu, orang yang akan melakukan shalat harus mengetahui bahwa paad saat itu sudah masuk shalat yang akan dilaksanakan. Hal ini dapat diperoleh, misalnya dengan melihat tanda-tanda sebagaimana yang diterangkan oleh hadits- hadits tentang waktu shalat, atau mendengar suara adzan, atau dengan pemberitahuan dari orang yang dapat dipercaya atau dari jadwal waktu shalat yang dibuat oleh para ahli, dan lain sebagainya.
2) Suci dari hadast besar dan hadast kecil
Orang yang shalat harus suci baik dari hadats kecil maupun dari hadats besar. Apabila ia berhadats ketika akan shalat, terlebih dahulu ia harus bersuci untuk menghilangkan hadatsnya terlebih dahulu. Syarat ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam QS Al-Maidah : 8, juga didasarkan pada sabda Rasulullah SAW :
(رَمَعً نبِا نعً هجاِمَ نبِاوَ ىذمَرَتَّلاوَ مِلِسْمَ هاوَر *ر وْهُطُبِ :لّاا &ةً لَاصَ هلِلا لُبِقْيَ لّا ) Artinya : “Allah tiada menerima shalat tanpa bersuci.”
(HR. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan Ibnu Umar).
3) Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis
Untuk syarat kesucian badan dari najis, didasarkan pada sabda Rasulullah SAW :
Artinya : Bersucilah engkau dari air kencing, karena pada umumnya siksa kubur itu, adalah disebabkan karenanya. (HR. Ad-daruquthniy).
4) Menutup aurat
Syarat ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raaf :31
Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[534], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-A’raaf : 31)
5) Menghadap ke kiblat (ka’bah)
Yang dimaksud dengan menghadap kiblat yaitu, menghadap ke ka’bah. Syarat ini didasarkan kepada hadits dari Al-Barra’ bin Azib, sebagai berikut :
اوْحَن اِنفَرَصَ مِثُ سِ دقْمَلا تِيْبِ وْحَن ا&رَهُشَرَشَعً ةِعبِسَ وَا ا&رَهُشَ رَشَعً ةِتَّسَ مِ:لِسَ وَ هيْلِعً هلِلا ىلِصَ Lيبِنا عَمَ اِنيْلِصَ
( ء ارَبِلا نعً مِلِسْمَ ه اوَر ةِبِعكْلا ) Artinya : kami shalat bersama dengan Rasulullah SAW selama 16 atau 17 bulan menghadap ke Baitul Maqdis, keudian diperintahkan menghadap ke ka’bah. (HR. Muslim dari Al-Barra’).
Syarat sah shalat adalah segala sesuatu yang harus dipenuhi dengan sempurna atau cukup selama shalat, yaitu memenuhi syarat dan rukunnya, dan dikerjakan secara benar. Dengan begitu, shalatnya sah. Tetapi kalau tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian Shalat menurut bahasa adalah berdoa (memohon). Dalam bahasa Arab, perkataaan Shalat digunakan untuk beberapa arti. Diantaranya digunakan untuk arti do’a, seperti dalam firman Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat (9) At Taubah, ayat 103: digunakan untuk arti rahmat dan untuk arti mohon ampunan seperti dalam Firman Allah dalam Al-Qur’an surat (33) Al-Akhzab, ayat 43 dan 56.
Adapun tujuan shalat diantaranya adalah seseorang menjadi ingat kepada Allah SWT, mendapat ketenangan dan ketentraman hati dalam menjalani hidup, menjaga hati untuk selalu ingat kepada Allah SWT, mendorong untuk mengetahui dan mengikuti tuntunan hidup yang diberikan Allah SWT, dan dapat membentengi seseorang dari perbuatan keji dan munkar.
Dilihat dari hukum melaksanakannya, pada garis besarnya shalat dibagi menjadi dua, yaitu shalat fardhu dan shalat sunnah. Selanjutnya shalat fardhu dibagi menjadi dua, yaitu shalat fardhu
‘ain, dan shalat fardhu kifayah. Demikian juga shalat sunnah dibagi menjadi dua, yaitu shalat sunnah mu’akkadah dan shalat sunnah ghoiru mu’akkad.
Syarat-syarat sah shalat antara lain mengetahui waktunya, suci dari hadast besar dan hadast kecil, suci badan, pakaian, dan tempat dari najis, menutup aurat, menghadap ke kiblat (ka’bah).
B. Saran
Demikian makalah yang kami susun, selebihnya kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan. Semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk makalah berikutnya agar lebih sempurna.