KEBERAGAMAN SISWA (STUDENT DIVERSITY) KELAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN A (PX 204 A) Dosen Pengampu: Dr. Enjang Wahyuningrum, M.Si., Psikolog
KELOMPOK 6 :
Juliatry Sarini Wardoyo (802023248) Michelle Moudysherly. M (802023265)
Damai Yuanita Utami (802023269)
PROGRAM STUDI S1 PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA
2025
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI II
DAFTAR GAMBAR... III
A. LATAR BELAKANG...1
B. KONSEP TEORI UTAMA...2
1. Budaya dan Etnisitas...2
2. Pendidikan Multikultural...7
3. Gender………...12
C. KONSEP PENTING LAINNYA...14
D. APLIKASI DALAM BIDANG PENDIDIKAN / PEMBELAJARAN...25
1. Pendidikan Multikultural...25
2. Peran Gender dalam Pendidikan Multikultural...27
3. Pembelajaran Berbasis Proyek Kolaboratif...27
E. KESIMPULAN...28
1. Kesimpulan terhadap Teori atau Materi...29
2. Kritik terhadap Teori atau Materi...29
DAFTAR PUSTAKA...30
LAMPIRAN……...35
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. 1 Student Diversity...1
Gambar 2. 2. 1 Pendidikan Multikultural...7
Gambar 2. 2. 2 Siswa Berperan Aktif dalam Pembelajaran……….10
Gambar 2. 3. 2. 1 Jigsaw Classroom...17
Gambar 2. 3. 2. 2 Toleransi Antar siswa...18
Gambar 2. 3. 3. 1 Anak Laki-Laki Bermain Mobil-Mobilan...20
Gambar 2. 3. 3. 2 Anak Perempuan Bermain Boneka...20
Gambar 2. 3. 3. 3 Marah... 24
Gambar 2. 3. 3. 4 Sad Expression………..…………24
Gambar 2. 4. 1 Jigsaw Method………..26
A. LATAR BELAKANG
Dalam sistem pendidikan modern, pendidikan bilingual menjadi aspek penting dalam menghadapi keberagaman bahasa dan budaya di sekolah. Pendidikan bilingual mengacu pada penggunaan dua bahasa sebagai media instruksi dalam pembelajaran, yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan
komunikasi dan akademik siswa dalam kedua bahasa tersebut.
Berdasarkan, pembelajaran bahasa kedua melibatkan periode sensitif, yaitu waktu tertentu di mana individu lebih mudah menguasai bahasa tambahan.
Johnson & Newport
(1991), mengemukakan bahwa jika seseorang tidak mempelajari bahasa kedua sebelum masa pubertas, mereka kemungkinan besar tidak akan mencapai kefasihan seperti penutur asli. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa periode sensitif ini bervariasi dalam aspek bahasa, di mana remaja dan orang dewasa lebih mudah mempelajari kosakata dibandingkan tata bahasa dan pengucapan.
Pendidikan bilingual juga erat kaitannya dengan status sosial ekonomi (SES). Siswa dari keluarga dengan SES rendah sering menghadapi keterbatasan dalam memperoleh pendidikan berkualitas, termasuk dalam pembelajaran bahasa. Sekolah di lingkungan berpendapatan rendah cenderung memiliki lebih sedikit sumber daya dibandingkan sekolah di lingkungan berpendapatan tinggi, sehingga menghambat efektivitas pendidikan bilingual. Selain itu, dalam konteks keberagaman budaya, pendidikan bilingual dapat membantu mengatasi prasangka dan diskriminasi terhadap kelompok etnis tertentu. Kozol (2005) menemukan bahwa sekolah dengan populasi siswa minoritas yang tinggi sering mengalami kekurangan sumber daya dan cenderung menerapkan metode
Gambar 1. 1 Student Diversity
pembelajaran berbasis hafalan, daripada mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, pendidikan bilingual harus dirancang secara inklusif agar mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan akademik siswa dari berbagai latar belakang budaya dan bahasa. Dengan meningkatnya populasi siswa dari berbagai etnis dan latar belakang bahasa, pendidikan bilingual tidak hanya menjadi alat untuk penguasaan bahasa, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran multikultural dan menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil. Oleh karena itu, memahami teori dan faktor yang mempengaruhi pembelajaran bilingual menjadi kunci dalam merancang program pendidikan yang efektif.
B. KONSEP TEORI UTAMA 1. Budaya dan Etnisitas
a. Budaya dan Etnisitas
Budaya adalah cara berperilaku, kepercayaan, dan berbagai hasil kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat serta diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Studi lintas budaya melibatkan perbandingan semacam itu, yang memberikan informasi tentang tingkat kesamaan orang dan tingkat perilaku tertentu yang khusus untuk budaya tertentu (Chen & Liu, 2016). Studi lintas budaya adalah studi yang membandingkan kejadian dalam satu budaya dengan budaya lain.
Menurut Matsumoto & Juang (2017) Sasaran pribadi disubordinasikan untuk menjaga integritas kelompok, saling ketergantungan anggota kelompok, dan hubungan yang harmonis. Individualisme berfokus pada kepentingan pribadi di atas kepentingan kelompok, termasuk pencapaian kebahagiaan, keuntungan pribadi, dan kemandirian. Sebaliknya, kolektivisme mengacu pada nilai-nilai yang menitik beratkan dukungan dan
kebersamaan dalam kelompok.
Analisis terkini mengusulkan empat nilai yang mencerminkan keyakinan orang tua dalam budaya individualistis tentang apa yang dibutuhkan untuk pengembangan otonomi anak yang efektif yaitu pilihan pribadi, motivasi intrinsik, harga diri, dan memaksimalkan diri, yang terdiri dari mencapai potensi penuh seseorang (Tamis-LeMonda
& lainnya, 2008). Analisis ini juga mengidentifikasi tiga nilai yang mencerminkan keyakinan orang tua dalam budaya kolektivis, yaitu keterikatan dengan keluarga dan hubungan dekat lainnya, keterpaduan dalam kelompok yang lebih luas, serta sikap hormat dan kepatuhan.
Etnisitas merujuk pada sekumpulan karakteristik yang mencakup aspek-aspek seperti warisan budaya, identitas kebangsaan, ras, agama, serta bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu secara alami tergabung dalam satu atau lebih kelompok etnis yang memiliki ciri khas tersendiri. Interaksi antara individu dari latar belakang etnis yang berbeda tidak selalu berjalan harmonis, karena perbedaan dalam nilai, tradisi, dan cara pandang dapat menimbulkan kesalahpahaman, bias, atau bahkan konflik dalam masyarakat.
b. Status Sosial Ekonomi (SES)
Status Sosial Ekonomi (SES) merupakan kelompok orang dengan kesamaan dalam pekerjaan, pendidikan, dan kondisi ekonomi. Secara umum, anggota masyarakat memiliki pekerjaan dengan tingkat prestise yang bervariasi, di mana beberapa orang memiliki akses lebih besar ke pekerjaan berstatus tinggi, tingkat pendidikan yang berbeda, dengan sebagian individu mendapatkan akses lebih baik ke pendidikan berkualitas, perbedaan dalam sumber daya ekonomi serta tingkat
kekuasaan yang beragam dalam mempengaruhi institusi sosial.
Di Amerika Serikat, status sosial ekonomi (SES) berpengaruh signifikan terhadap pendidikan. Individu dengan SES rendah cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih rendah, keterbatasan dalam mempengaruhi institusi sosial seperti sekolah, serta sumber daya ekonomi yang lebih terbatas.
SES orang tua terkait dengan lingkungan tempat tinggal anak- anak dan sekolah yang mereka datangi (Murry & lainnya, 2015).
Remaja dari keluarga kaya juga menghadapi tantangan, dengan remaja laki-laki biasanya mengalami kesulitan beradaptasi lebih besar dibandingkan remaja perempuan. Di sisi lain, remaja perempuan dari keluarga kaya cenderung memiliki peluang lebih besar untuk sukses secara akademis. Selain itu, remaja dari keluarga dengan SES menengah ke atas yang sedang berkembang lebih rentan mengalami lebih banyak masalah internal maupun eksternal dibandingkan rekan-rekan mereka dari keluarga SES menengah.
Menurut Evans (2004) lingkungan kemiskinan anak- anak menyimpulkan bahwa dibandingkan dengan rekan rekan mereka yang secara ekonomi lebih beruntung, anak-anak miskin mengalami kesulitan yaitu lebih banyak konflik keluarga, kekerasan, kekacauan, dan perpisahan dari keluarga mereka, lebih sedikit dukungan sosial, lebih banyak menonton TV, sekolah dan fasilitas penitipan anak yang buruk, serta orang tua yang kurang terlibat dalam kegiatan sekolah mereka, rumah yang penuh sehingga mengakibatkan sesak, berisik dan lingkungan yang lebih berbahaya.
c. Prasangka, Diskriminasi, dan Bias
Pengalaman sekolah yang negatif dari banyak anak-anak dari kelompok etnis minoritas yang dijelaskan oleh Kozol
mungkin melibatkan prasangka, diskriminasi, dan bias (Marks &
others, 2015). Prasangka adalah pandangan negatif yang tidak didasarkan pada alasan yang jelas terhadap individu karena keanggotaannya dalam suatu kelompok tertentu.
Kelompok yang menjadi sasaran prasangka dapat dikategorikan berdasarkan etnis, gender, usia, atau perbedaan lain yang tampak secara kasat mata. Dalam konteks ini, perhatian lebih diberikan pada prasangka terhadap kelompok etnis kulit berwarna. Pendapat mengenai prasangka dan diskriminasi pun beragam, dengan sebagian orang menentangnya dan mengakui bahwa telah terjadi kemajuan dalam hak-hak sipil dalam beberapa tahun terakhir.
d. Pembelajaran Bahasa Kedua dan Pendidikan Dua Bahasa 1) Pembelajaran Bahasa Kedua
Selama bertahun-tahun, diklaim bahwa jika individu tidak mempelajari bahasa kedua sebelum pubertas, mereka tidak akan pernah mencapai kemahiran pembelajar bahasa ibu dalam bahasa kedua (Johnson & Newport, 1991).
Misalnya, pembelajar bahasa yang terlambat, seperti remaja dan orang dewasa, mungkin mempelajari kosakata baru lebih mudah daripada bunyi atau tata bahasa baru (Neville, 2006).
Kemampuan anak-anak untuk melafalkan kata dalam bahasa kedua dengan aksen seperti penutur asli cenderung menurun seiring bertambahnya usia, terutama setelah mereka melewati usia 10 hingga 12 tahun. Sementara orang dewasa dapat mempelajari bahasa kedua dengan lebih cepat, tingkat penguasaan mereka umumnya tidak sebaik anak- anak. Selain itu, proses pembelajaran bahasa kedua antara anak-anak dan orang dewasa memiliki perbedaan yang
signifikan. Secara keseluruhan, bilingualisme dikaitkan dengan manfaat positif bagi perkembangan bahasa dan kognitif anak. Salah satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan orang tua bayi dan anak kecil adalah apakah mengenalkan dua bahasa sejak dini akan memberikan keuntungan atau justru menimbulkan kebingungan.
2) Pendidikan Bilingual
Dalam metode bilingual, pengajaran diberikan dalam bahasa ibu dan bahasa Inggris bagi anak-anak dengan durasi yang bervariasi tergantung pada tingkat kelas mereka. Salah satu alasan mendukung pendekatan ini adalah penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa anak-anak bilingual memiliki keterampilan pemrosesan informasi yang lebih baik dibandingkan anak-anak monolingual.
Jika strategi bilingual diterapkan, sering kali diasumsikan bahwa anak-anak imigran hanya memerlukan satu hingga dua tahun pembelajaran dengan metode ini.
Namun, secara umum dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima tahun bagi anak-anak imigran untuk mengembangkan kemahiran berbicara dan tujuh tahun untuk mengembangkan kemahiran membaca dalam bahasa Inggris (Hakuta, Butler,
& Witt, 2000)
Gambar 2. 1. 1 Pendidikan Bilingual
Anak-anak yang berasal dari latar belakang sosial
ekonomi rendah memiliki lebih banyak kesulitan daripada mereka yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi tinggi (Hakuta, 2001). Oleh karena itu, terutama bagi anak- anak imigran dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, mungkin diperlukan lebih banyak tahun pembelajaran bilingual dibandingkan yang saat ini mereka peroleh.
Menurut Kenji Hakuta (2001, 2005), mendukung pendekatan gabungan bahasa ibu dan bahasa Inggris karena anak-anak mengalami kesulitan mempelajari mata pelajaran ketika diajarkan dalam bahasa yang tidak mereka pahami, ketika kedua bahasa diintegrasikan di kelas, anak-anak mempelajari bahasa kedua dengan lebih mudah dan berpartisipasi lebih aktif.
2. Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang
menghargai keberagaman atau perbedaan yang mencakup budaya, etnis, bahasa, ras, dan latar belakang sosial dalam masyarakat.
Tujuan dari pendidikan multikultural adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, adil, dan saling menghormati satu sama lain. Dari pendidikan multikultural ini, para siswa diharapkan bisa belajar untuk menghargai dan dapat terciptanya pendidikan yang setara.
Gambar 2. 2. 1 Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural mulai tumbuh dari gerakan hak- hak sipil pada tahun 1960-an dan seruan untuk kesetaraan dan keadilan sosial bagi perempuan dan orang kulit berwarna (Gollnick
& Chinn, 2017). Sebagai suatu ranah, pendidikan multikultural melingkupi persoalan yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi, latar belakang etnis, dan kesetaraan gender. Namun seiring berjalannya waktu, pendidikan multikultural tidak menjadikan etnisitas sebagai titik fokus, tetapi juga mencakup status sosial ekonomi, agama, disabilitas, orientasi seksual, dan bentuk- bentuk perbedaan lainnya (Koppelman, 2017).
Menurut James Banks (2014) sebagai pakar pendidikan multikultural, ciri-ciri sekolah yang menerapkan pendidikan multikultural sebagai berikut.
1) Sikap, kepercayaan, dan tindakan staf sekolah, memiliki harapan tinggi kepada semua peserta didik dan semangat membantu siswa untuk belajar.
2) Kurikulum. Pendidikan multikultural mengganti kurikulum agar peserta didik dapat memahami peristiwa, konsep, dan isu sudut pandang yang berbeda dari etnisitas dan sosial ekonomi yang berbeda.
3) Bahan ajar. Pada buku atau media yang digunakan untuk pembelajaran seringkali terdapat bias, misalnya mengesampingkan pengalaman orang lain dari kelompok ras yang berbeda, perbedaan bahasa, perempuan, dan individu yang berpenghasilan rendah. Pada sekolah multikultural, seharusnya memberikan materi pembelajaran yang menggambarkan latar belakang dan pengalaman dari berbagai kelompok etnis dan budaya.
4) Budaya sekolah dan kurikulum yang tersembunyi. Kurikulum tersembunyi adalah pelajaran yang tidak diberikan secara langsung, namun masih tetap dipahami oleh siswa. Pada sekolah
multikultural, lingkungan sekolah disesuaikan supaya pesan tersembunyi dari kurikulum dapat mendukung keberagaman secara positif. Hal tersebut dapat dilihat dari foto di papan pengumuman, keberagaman staf dan guru, serta bagaimana cara pemberian hukuman kepada siswa tanpa melihat latar belakang.
5) Program konseling. Program konseling pada sekolah multikultural membantu para siswa dari berbagai latar belakang untuk memilih karir yang tepat, serta membantu dalam pengambilan jurusan yang mendukung tujuan para siswa.
a. Pemberdayaan Siswa
Pemberdayaan berarti memberikan keterampilan berpikir dan memecahkan masalah agar individu dapat berhasil dan menciptakan lingkungan yang lebih adil. Pada tahun 1960- an sampai 1980-an, pendidikan multikultural berfokus pada pemberdayaan siswa serta meningkatkan representasi kelompok minoritas dan budaya dalam kurikulum juga buku materi.
Sampai sekarang, pemberdayaan siswa masih menjadi bagian penting dari pendidikan multikultural. Dalam hal ini, sekolah seharusnya memberi kesempatan bagi para siswa untuk belajar tentang pengalaman, perjuangan, dan visi dari berbagai kelompok etnis dan budaya (Koppelman, 2017). Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri siswa dari kelompok minoritas, mengurangi prasangka, dan menciptakan kesempatan belajar yang lebih adil.
b. Pengajaran yang Relevan Secara Budaya
Pengajaran yang relevan secara budaya merupakan aspek yang penting dari pendidikan multikultural (Gollnick &
Chinn, 2017). Pengajaran ini berusaha untuk terhubung dengan latar belakang budaya siswa. Menurut Koppelman (2017), para ahli pendidikan multikultural menekankan bahwa guru yang
baik harus memahami dan memasukkan unsur budaya dalam pemberian bahan ajar agar lebih efektif. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa dari berbagai kelompok etnis yang berbeda memiliki cara belajar yang berbeda juga. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Jackie Irvine (1990) dan Janice Hale Benson (1982), menemukan bahwa siswa Afrika-Amerika
sering lebih ekspresif dan bersemangat. Oleh karena itu, mereka menyarankan agar siswa seperti ini diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi, bukan hanya mengerjakan ujian tertulis.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa banyak siswa Amerika lebih mudah belajar melalui gambar dan visual. Karena itu, untuk peserta didik yang seperti itu, para guru bisa menggunakan lebih banyak alat bantu untuk mengajar seperti model 3D, diagram, gambar, grafik, dan menulis di papan tulis.
Para guru perlu memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi siswa yang memiliki latar belakang etnis minoritas dan yang dari keluarga yang berpenghasilan rendah, serta melibatkan mereka dalam program pembelajaran yang menantang. Jika harapan yang tinggi tersebut digabungkan dengan pengajaran yang sesuai dengan budaya mereka serta diberikan dukungan dari komunitas, para siswa bisa mendapatkan manfaat yang besar.
c. Pendidikan yang Berpusat Pada Isu
Pendidikan yang berfokus pada isu sosial menjadi bagian penting juga dari pendidikan multikultural. Pendekatan ini mengajarkan siswa untuk menganalisis masalah yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial secara sistematis. Para siswa tidak hanya memahami nilai-nilai mereka sendiri, tetapi juga mempertimbangkan berbagai alternatif serta konsekuensi dari setiap pilihan yang mereka buat. Pendekatan ini juga berkaitan erat dengan pendidikan moral, yang membantu perkembangan sosial dan emosional siswa.
Salah satu contoh dari pendekatan ini adalah kasus kebijakan makan siang di sebuah sekolah menengah (Pang, 2005). Pada sekolah tersebut, siswa yang menerima subsidi makan siang melalui program federal harus menggunakan jalur khusus di kafetaria, yang membuat mereka merasa dipermalukan dan rendah terstigma sebagai siswa yang berasal dari keluarga miskin. Akibatnya, banyak siswa dari keluarga berpenghasilan rendah memilih untuk tidak makan siang karena merasa malu. Setelah menyampaikan permasalahan ini kepada guru, para siswa dan guru bekerja sama untuk menyusun tindakan, mereka kemudian mengajukan usulan perubahan kepala distrik sekolah, dan pada akhirnya merevisi kebijakan antrian makan siang di sepuluh sekolah menengah yang terkena dampak. Dari kasus ini, menunjukkan bahwa bagaimana pendidikan berbasis isu dapat memberdayakan siswa untuk memperjuangkan perubahan yang lebih adil di dalam lingkungan sekolah mereka.
3. Gender
Dalam pembahasan gender ada tiga definisi pandangan terhadap gender yang harus diketahui, yaitu gender, peran gender dan penggolongan gender. Secara definisi, gender adalah
karakteristik orang sebagai laki-laki dan perempuan. Sedangkan, peran gender adalah seperangkat harapan yang menentukan bagaimana perempuan atau laki-laki harus berpikir, bertindak, dan berperasaan. Istilah penggolongan gender secara tradisional mengacu pada perolehan peran laki-laki dan perempuan.
a. Teori Perkembangan Gender
Ada berbagai cara untuk melihat perkembangan gender (Leaper, 2015). Dapat dilihat dari berbagai perspektif, termasuk faktor biologis, sosial, dan kognitif, berikut :
1) Teori Biologis
Menjelaskan bahwa perbedaan gender dalam belajar bisa dipengaruhi oleh struktur dan aktivitas otak.
a) Otak perempuan lebih kecil tetapi memiliki lebih banyak lipatan (konvolusi), yang meningkatkan jumlah jaringan otak di dalam tengkorak (Luders & lainnya, 2009).
b) Area pada lobus parietal yang berfungsi dalam keterampilan visuospasial cenderung lebih besar pada laki-laki (Frederikse & lainnya, 2000).
c) Area yang berhubungan dengan ekspresi emosi lebih aktif secara metabolik pada perempuan (Gur & lainnya, 1995).
2) Teori Sosial- Kognitif
Anak-anak belajar peran gender melalui pengamatan, pengalaman sosial, dan penguatan dari lingkungan (Leaper, 2015).
a) Teori Belajar Sosial– Albert Bandura
Bandura menekankan bahwa individu belajar melalui observasi dan peniruan perilaku orang lain (modeling). Dengan hal ini Anak-anak belajar perilaku gender dengan mengamati orang tua, teman sebaya,
guru, dan media. Misalnya, anak laki-laki yang melihat ayahnya melakukan pekerjaan mekanik mungkin belajar bahwa tugas tersebut adalah "maskulin" atau anak perempuan yang sering dipuji karena membantu memasak mungkin mengembangkan skema gender bahwa "perempuan harus pandai memasak" dan media memainkan peran besar dalam membentuk pemahaman gender, misalnya kartun yang menggambarkan laki-laki sebagai pemimpin dan perempuan sebagai karakter pendukung.
3) Teori Skema Gender
Teori skema gender adalah teori kognitif gender yang menyatakan bahwa anak-anak secara bertahap mengembangkan skema gender yang mengorganisasi dunia dalam konteks perempuan dan laki-laki. Anak-anak mengembangkan kerangka mental (skema) yang membantu mereka mengorganisasi informasi berdasarkan gender.
Anak-anak secara internal termotivasi untuk bertindak sesuai dengan skema gender yang telah mereka pelajari (Bem, 1977). Seiring waktu, skema gender membentuk cara anak memahami dunia, mengingat informasi, dan berperilaku sesuai dengan ekspektasi gender dalam masyarakat.
b. Perbedaan Gender dalam Pendidikan 1) Perbedaan Kognitif dan Akademik
Tidak ada perbedaan signifikan dalam kecerdasan, tetapi perempuan lebih unggul dalam keterampilan verbal (Maccoby & Jacklin, 1974), sedangkan laki-laki lebih baik dalam visuospasial (geometri dan geografi) (Halpern, 2012).
2) Perbedaan Sosial dan Emosional
Perempuan lebih prososial dan empatik (Eisenberg, Spinrad, & Knafo-Noam, 2015), sementara laki-laki lebih agresif secara fisik (Underwood, 2011). Laki-laki lebih sering menunjukkan kemarahan, sedangkan perempuan lebih cenderung mengalami kesedihan dan kecemasan.
3) Gender dan Interaksi Guru-Siswa
Guru sering memiliki ekspektasi berbeda terhadap siswa laki-laki dan perempuan. Siswa laki-laki lebih sering mendapat perhatian dan instruksi langsung dibandingkan siswa perempuan, terutama dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) (Sadker &
Sadker, 1994, 2005). Hal ini biasanya terjadi streotipe gender, bias tidak sadar, kurangnya role model perempuan di bidang STEM, harapan sosial dan norma budaya.
C. KONSEP PENTING LAINNYA 1. Budaya dan Etnisitas
a. Dampak Status Sosial Ekonomi terhadap Pendidikan
Sekolah-sekolah di daerah miskin biasanya dikelola oleh guru-guru muda yang kurang berpengalaman, berbeda dengan sekolah-sekolah di daerah kaya. Selain itu, di sekolah-sekolah dengan pendapatan rendah, pembelajaran lebih banyak mengandalkan hafalan, sementara di sekolah-sekolah kaya, lebih fokus pada pengembangan keterampilan berpikir siswa. Secara keseluruhan, banyak sekolah di lingkungan berpendapatan rendah yang tidak menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran efektif.
Gambar 2. 3. 1. 1 Student of Elementary School
Sekolah-sekolah yang dihadiri anak-anak dari keluarga miskin seringkali memiliki sumber daya yang lebih terbatas dibandingkan dengan sekolah di daerah berpendapatan tinggi. Di kawasan berpendapatan rendah, siswa umumnya memiliki nilai ujian yang lebih rendah, tingkat kelulusan yang lebih rendah, dan lebih sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Fasilitas sekolah sering kali sudah tua, rusak, dan tidak terawat.
b. Imigrasi dan keanekaragaman Etnis
Hal penting tentang kelompok etnis mana pun adalah bahwa kelompok tersebut beragam (Koppelman, 2017). Sebagai contoh, warga Amerika keturunan Meksiko dan Kuba sama-sama merupakan orang Latin, namun mereka memiliki alasan yang berbeda untuk bermigrasi ke Amerika Serikat, berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda, memiliki tradisi yang berbeda, dan menjalani jenis serta tingkat pekerjaan yang berbeda di sana.
Orang yang lahir di Puerto Riko berbeda dengan orang Latin yang bermigrasi ke Amerika Serikat karena mereka sudah menjadi warga negara AS sejak lahir, sehingga mereka bukan imigran, meskipun tinggal di AS. Saat ini, pemerintah AS mengakui 511 suku asli Amerika yang masing-masing memiliki
latar belakang leluhur yang unik dengan nilai dan ciri khas yang berbeda.
c. Pengalaman Sekolah berdasarkan Etnisitas
Faktor historis, ekonomi, dan sosial menciptakan perbedaan yang dapat merugikan maupun dianggap sah di antara berbagai kelompok etnis. Individu yang tumbuh dalam kelompok etnis atau budaya tertentu menyesuaikan diri dengan nilai, sikap, dan tekanan budaya yang ada. Perilaku mereka mungkin berbeda dari orang lain, tetapi tetap relevan dan berfungsi dalam konteks mereka.
Memahami serta menghormati perbedaan ini sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat yang beragam dan multikultural. Selain itu, perlu diingat bahwa setiap kelompok etnis juga memiliki keragaman internal, sebagaimana budaya AS yang tidak hanya beragam, tetapi juga mencakup berbagai perbedaan dalam tiap kelompok etnisnya.
2. Pendidikan Multikultural
Dalam pendidikan multikultural, sangat penting untuk membangun hubungan yang baik antara siswa dari berbagai latar belakang budaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.
Berbagai strategi dapat diterapkan untuk meningkatkan kerja sama dan mengurangi prasangka di antara mereka.
1) Kelas Teka-Teki
Salah satu strategi yang dikembangkan oleh psikolog sosial Elliot Aronson adalah kelas teka-teki (jigsaw classroom). Metode ini bertujuan untuk
mengurangi
ketegangan rasial di
sekolah dengan
16
mendorong kerja sama siswa dari latar belakang budaya yang berbeda. Dalam kelas teka-teki, para peserta didik dibagi ke dalam kelompok kecil yang isinya terdiri dari berbagai etnis dan tingkat akademik yang berbeda. Setiap siswa akan diberikan materi pada bagian tertentu, kemudian mereka akan bertanggung jawab untuk mempelajari bagian mereka sendiri dan kemudian mengajarkannya pada teman satu kelompok. Dengan cara ini, mereka akan bergantung satu sama lain untuk memahami keseluruhan materi, sehingga tercipta kerja sama dan saling menghargai.
2) Kontak Pribadi Yang Positif
Memindahkan siswa minoritas ke lingkungan mayoritas atau sebaliknya tidak secara otomatis menghilangkan prasangka, yang lebih penting adalah bagaimana cara mereka berinteraksi satu sama lain setelah berada pada lingkungan baru. Hubungan antar kelompok dapat menjadi baik ketika para siswa berbagi cerita pribadi, pengalaman hidup, tantangan, dan keberhasilan mereka. Berbagi informasi pribadi membantu mengurangi batasan antara siswa, serta membangun hubungan yang lebih harmonis di sekolah.
3) Latihan Pengambilan Perspektif
Latihan pengambilan perspektif, yang dirancang untuk membantu siswa memahami bagaimana rasanya berada dalam budaya yang berbeda. Dalam latihan ini, siswa belajar tentang kebiasaan dan cara berinteraksi dari dua kelompok budaya yang berbeda. Mereka kemudian berinteraksi sesuai dengan kebiasaan tersebut, yang sering kali membuat mereka canggung atau tidak nyaman. Pengalaman ini memberikan pemahaman langsung tentang guncangan budaya yang bisa terjadi ketika seseorang berada pada lingkungan yang asing. Mempelajari dan memahami berbagai budaya dan adat istiadat dari seluruh dunia juga dapat membantu siswa memahami perspektif yang berbeda.
4) Pemanfaatan Teknologi Untuk Koneksi Global
Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas interaksi siswa dengan teman sebayanya dari berbagai negara. Melalui konferensi video, media sosial, dan platform kolaborasi daring, siswa dapat belajar langsung dari orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Dengan cara ini, teknologi dapat membantu mengurangi prasangka terhadap kelompok lain.
5) Mengurangi bias dalam Pembelajaran
Pendidikan multikultural juga harus berfokus pada mengurangi bias dalam pembelajaran. Guru harus secara aktif mencegah diskriminasi dan prasangka dalam lingkungan sekolah.
Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain memilih materi pembelajaran yang mencerminkan keberagaman budaya, mengajak siswa untuk mendiskusikan stereotip dan diskriminasi, serta menetapkan aturan yang melarang tindakan yang merugikan kelompok tertentu. Selain itu, guru dapat menampilkan gambar atau cerita yang menampilkan individu dari berbagai latar belakang untuk memperkuat nilai keberagaman di kelas.
6) Meningkatkan Toleransi
Meningkatkan toleransi dan rasa hormat terhadap individu dari berbagai latar belakang etnis merupakan aspek penting dalam pendidikan multikultural.
Salah satu program yang mendukung tujuan ini adalah “teaching tolerance project”, yang menyediakan berbagai materi dan sumber daya bagi sekolah untuk
meningkatkan pemahaman serta hubungan antarbudaya. Program ini membantu siswa dari berbagai ras dan budaya untuk lebih memahami satu sama lain dan mengurangi prasangka.
Gambar 2. 3. 2. 2 Toleransi Antar siswa
7) Sekolah dan Komunitas Tim
Psikiater James Comer mengembangkan pendekatan yang menekankan kerja sama antara sekolah dan komunitas dalam mendidik anak-anak. Proyek Comer untuk Perubahan didasarkan pada tiga aspek utama:
a) Tim tata kelola dan manajemen, bertanggung jawab dalam menyusun rencana sekolah, strategi evaluasi, serta program pengembangan untuk staf pengajar.
b) Tim kesehatan mental dan dukungan sekolah, menyediakan bantuan emosional dan psikologis bagi siswa untuk mendukung perkembangan mereka.
c) Program orang tua, melibatkan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka sehingga proses belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah.
3. Gender
a. Faktor Sosial dalam Perkembangan Gender
Pandangan sosial menyoroti konteks sosial seperti keluarga, teman sebaya, sekolah, dan media dalam membentuk perilaku gender :
1) Keluarga
Banyak orang tua mendorong anak laki-laki dan perempuan untuk terlibat dalam berbagai jenis permainan dan aktivitas (Leaper & Farkas, 2015). Orang tua cenderung mendorong anak untuk berperilaku sesuai peran gender tradisional, seperti anak perempuan diberi boneka dan diajarkan mengasuh, sementara anak laki- laki lebih banyak diberi kebebasan dan permainan agresif.
2)
Teman Sebaya
Teman sebaya juga memberi penghargaan dan hukuman atas perilaku yang berkaitan dengan gender (Rubin, Bukowski, & Bowker, 2015). Anak laki-laki dan perempuan sering bergaul dalam kelompok yang sama jenis kelaminnya, lebih mudah bagi gadis "tomboy"
untuk bergabung dengan perkumpulan anak laki-laki daripada bagi anak laki-laki "feminin" untuk bergabung dengan perkumpulan anak perempuan karena ada tekanan lebih besar bagi anak laki-laki untuk tidak menampilkan perilaku feminin.
3) Sekolah
Gambar 2. 3. 3. 1 Anak Laki-Laki Bermain Mobil- Mobilan
Gambar 2. 3. 3. 2 Anak Perempuan Bermain Boneka
Guru dan lingkungan sekolah berperan dalam sosialisasi gender, yang dapat mempengaruhi prestasi dan interaksi siswa. Menurut penelitian bisa terjadi bias dalam interaksi guru-siswa, perbedaan harapan dan perlakuan, kurangnya representasi dalam kurikulum dan sosialisasi dalam aktivitas sekolah
4) Media
Media juga memainkan peran sosialisasi gender, menggambarkan perempuan dan laki-laki dalam peran gender tertentu (Senden, Sikstrom, & Lindholm, 2015).
Menggambarkan peran gender tradisional, di mana laki- laki lebih sering ditampilkan sebagai kompeten dibanding perempuan.
b. Streotipe Gender dan Konsekuensinya
1) Stereotip gender menciptakan ekspektasi sosial Hal ini yang dapat membatasi perkembangan individu. Misalnya, anak laki-laki yang menunjukkan sifat feminin mungkin mengalami tekanan sosial yang lebih besar dibandingkan anak perempuan yang menunjukkan sifat maskulin (Best, 2010).
2) Pengaruh pada Kehidupan Akademik dan Sosial Stereotip gender lebih kaku untuk anak laki-laki dibandingkan perempuan, yang menyebabkan tekanan lebih besar untuk menyesuaikan diri dengan peran gender tradisional. Stereotip siswa sebagai "maskulin"
atau "feminin" dapat memiliki konsekuensi yang signifikan (Best, 2010). Misalnya, anak laki-laki yang
"feminin" atau anak perempuan yang "maskulin" akan kehilangan status sosial dan penerimaan di antara teman- temannya.
c. Kontrovensi Gender
1) Pandangan Evolusioner
Menurut pendapat David Buss (2012, 2015) perbedaan gender berasal dari tantangan adaptasi dalam sejarah evolusi manusia.
2) Pandangan Sosial
Menurut pendapat Alice Eagly (2012, 2013) perbedaan gender muncul karena kondisi sosial yang memberikan lebih sedikit kekuasaan dan sumber daya kepada perempuan.
3) Pandangan Kesetaraan
Perbedaan gender telah dilebih-lebihkan, dengan penelitian yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan (Janet Shibley Hyde, 2014).
d. Klasifikasi Peran Gender dan Androgini 1) Konsep Androgini
Awalnya, anak laki-laki dibesarkan untuk menjadi maskulin; anak perempuan menjadi feminin.
Namun, sejak tahun 1970-an, muncul konsep androgini, yang memungkinkan seseorang memiliki sifat maskulin dan feminin secara bersamaan (Bem, 1977; Spence &
Helmreich, 1978). Misalnya, seorang anak laki-laki dapat bersikap tegas (maskulin) sekaligus peduli, sedangkan anak perempuan dapat menjadi kuat namun tetap peka terhadap perasaan orang lain (feminim).
Penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial telah mendorong anak perempuan untuk menjadi lebih tegas (Spence & Buckner, 2000), sementara anak laki- laki cenderung lebih androgini dibanding ayah mereka
(Guastello & Guastello, 2003). Menurut Sandra Bem, individu yang memiliki keseimbangan yang lebih baik antara fitur maskulin dan feminin lebih fleksibel, kompeten, dan sehat secara mental dibandingkan dengan orang yang sangat berpegang teguh pada satu peran gender. Namun, konteks juga mempengaruhi peran gender. Dalam hubungan intim, individu yang berorientasi feminin dan androgini adalah pasangan yang lebih dapat diterima karena dianggap peduli. Di sisi lain, dalam lingkungan akademis dan profesional yang menantang, individu yang maskulin dan androgini dianggap sebagai pekerja yang lebih cocok.
2) Krisis anak laki-laki
Di sisi lain, menyoroti adanya krisis anak laki- laki, yang disebabkan oleh "kode anak laki-laki" yang mengajarkan mereka untuk menekan emosi dan selalu bersikap tangguh. Pola asuh ini sering kali menghambat anak laki-laki dalam mengekspresikan perasaan mereka, sehingga berpotensi menimbulkan masalah emosional dan agresi. Untuk mengatasi hal ini, Pollack menyarankan agar anak laki-laki diberikan ruang untuk mengekspresikan kecemasan dan kekhawatiran mereka serta diajarkan cara mengelola agresi dengan lebih baik.
e. Gender dalam Konteks Sosial dan Budaya
Memahami gender dalam konteksnya berarti melihat bagaimana peran gender dapat berubah dan beradaptasi sesuai dengan interaksi sosial yang berlangsung.
1) Perilaku Membantu
Perempuan lebih sering terlibat dalam perawatan dan bantuan sosial, sementara laki-laki lebih cenderung
membantu dalam situasi yang menuntut keterampilan atau melibatkan risiko (Eagly & Crowley, 1986).
Misalnya seorang laki-laki lebih mungkin daripada perempuan untuk berhenti dan membantu seseorang yang terdampar di pinggir jalan dengan ban kempes.
2) Ekspresi Emosi
Perbedaan emosional pada pria dan wanita bergantung pada emosi tertentu yang terlibat dan konteks di mana emosi itu ditampilkan (Chaplin, 2015; Shields, 1991). Laki-laki lebih sering menunjukkan kemarahan terhadap orang asing, sementara perempuan lebih banyak mengekspresikan ketakutan dan kesedihan.
3)
Pengaruh Budaya
Gender dalam konteks paling jelas terlihat ketika memeriksa apa yang secara budaya ditentukan perilaku untuk perempuan dan laki-laki di berbagai negara di seluruh dunia (Matsumoto & Juang, 2017). Di beberapa negara seperti Irak dan Iran, laki-laki terutama disosialisasikan dan disekolahkan untuk bekerja di ruang publik; perempuan terutama disosialisasikan untuk tetap
Gambar 2. 3. 3. 3 Marah Gambar 2. 3. 3. 4 Sad Expression
berada di dunia pribadi rumah dan membesarkan anak.
f. Menghilangkan Bias Gender dalam Pendidikan
Bias gender masih banyak ditemukan dalam interaksi sosial, terutama di sekolah :
1) Bias terhadap Laki-laki
Guru lebih sering berinteraksi dengan anak laki- laki dan menganggap mereka lebih bermasalah (Blakemore, Berenbaum, & Liben, 2009).
2) Bias terhadap Perempuan
Anak perempuan cenderung lebih patuh, tetapi kurang mendapatkan perhatian dan instruksi dari guru, yang dapat mempengaruhi perkembangan rasa percaya diri mereka (Sadker, 2015; Sadker & Sadker, 1994, 2005) dan anak perempuan dapat mengalami pelecehan seksual dalam berbagai bentuk mulai dari ucapan seksis dan kontak fisik terselubung (menepuk, menyentuh tubuh) hingga ajakan terang-terangan dan serangan seksual.
3) Strategi Pengurangan Bias
Meningkatkan kesadaran akan bias gender di sekolah, menggunakan materi ajar yang netral gender, dan memberi kesempatan yang setara kepada siswa laki- laki dan perempuan.
D. APLIKASI DALAM BIDANG PENDIDIKAN / PEMBELAJARAN Aplikasi dalam pendidikan bertujuan untuk membangun lingkungan belajar yang inklusif, adaptif terhadap keberagaman, serta mendukung peningkatan prestasi akademik dan perkembangan sosial siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada berbagai metode dan strategi dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.
1. Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mencerminkan keberagaman budaya, nilai, dan sejarah berbagai kelompok etnis. Untuk mewujudkannya, salah satu cara untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung hubungan yang baik dalam keberagaman siswa adalah dengan mengaplikasikan teknik pembelajaran yang dikembangkan oleh Elliot Aronson, yaitu jigsaw classroom (Kelas teka-teki).
Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Usman. M., dkk (2022), pada 70 mahasiswa program studi teknologi pendidikan di Univesitas Muhammadiyah Sindereng Rappang dengan membagi menjadi 2 kelompok, yaitu satu kelompok dengan metode pembelajaran jigsaw dan satu kelompok lagi dengan metode pembelajaran discovery learning. Pada kelompok jigsaw didapatkan hasil bahwa para mahasiswa menunjukkan pemahaman materi jauh lebih baik dan menunjukkan hasil belajar yang baik dengan tingkat disiplin belajar yang tinggi. Pengaruh jigsaw classroom terhadap hubungan sosial siswa menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Beberapa studi melaporkan peningkatan interpersonal dan empati, sedangkan yang lain
Gambar 2. 4. 1 Jigsaw Method
menemukan bahwa metode jigsaw dapat menimbulkan kesulitan dalam kerja kelompok, terutama jika ada perbedaan signifikan dalam kemampuan siswa (Cochon Drouet, O., at al, 2023).
2. Peran Gender dalam Pendidikan Multikultural
Menurut Muyasaroh (2018) penelitian ini membahas peran ibu dalam mengenalkan nilai-nilai multikultural kepada anak dalam lingkungan keluarga. Ibu dianggap sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, sehingga memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, keadilan, kebersamaan, dan persaudaraan sejak dini. Dalam pendidikan multikultural, khususnya peran ibu dalam mendidik anak-anaknya untuk mengenalkan nilai-nilai multikultural di lingkungan keluarga. Studi ini menekankan pentingnya peran ibu sebagai pendidik pertama dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap keragaman. Dari hasil penelitian peran ibu sebagai penjaga nilai-nilai multikultural dalam keluarga, sebagai penasihat yang aktif berdialog dengan anak mengenai toleransi dan keberagaman, sebagai teladan dalam bersikap adil, menghargai perbedaan, dan saling menolong dan sebagai pengawas dalam memastikan anak mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menurut penelitian nilai-nilai multikultural yang harus ditanamkan ibu kepada anak seperti terbuka terhadap perbedaan, mengutamakan komunikasi, kepedulian sosial, toleransi, tolong menolong, keadilan, berbaik sangka, persamaan dan persaudaraan.
Kesimpulannya adalah ibu memiliki peran utama dalam membentuk kesadaran multikultural pada anak, pendidikan multikultural harus dimulai dari keluarga untuk membangun masyarakat yang harmonis dan peran ibu meliputi penjaga, penasihat, teladan, dan pengawas dalam menanamkan nilai-nilai multikultural.
3. Pembelajaran Berbasis Proyek Kolaboratif
Menurut Yanti (2018) pembelajaran berbasis multikultural yang
bertujuan untuk memberdayakan siswa agar dapat menghormati budaya lain, bekerja sama dengan orang dari berbagai etnis, serta memahami dan menerima perbedaan budaya. Pendidikan multikultural membantu siswa mengembangkan kebanggaan terhadap budaya sendiri, memahami konflik nilai, serta melihat kehidupan dari perspektif budaya yang berbeda. Dimana mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat bekerja sama dalam proyek yang mengeksplorasi isu-isu multikultural dan gender, sehingga mendorong pemahaman yang lebih mendalam melalui pengalaman langsung. Dalam metode ini pendidikan multikultural menanamkan nilai kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan hak asasi manusia, sekolah menjadi wadah untuk mencerminkan keberagaman budaya dan menanamkan nilai-nilai demokrasi dan pembelajaran dilakukan dengan pendekatan yang menekankan interaksi sosial dan kerja sama antar siswa. Kesimpulannya adalah pendidikan multikultural bertujuan untuk membentuk individu yang mampu beradaptasi dalam keberagaman sosial dan budaya dan implementasi yang efektif memerlukan reformasi kurikulum, strategi pembelajaran yang inklusif, serta manajemen kelas yang mendukung keberagaman.
Pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning - PjBL) terbukti efektif dalam meningkatkan aktivitas dan kemampuan mahasiswa. Penelitian yang dilakuan oleh Suseno., et al (2022), pada mahasiswa semester lima Universitas Jambi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 77,70 (pre-test) menjadi 86,39 (post-test). Selain itu, 94,92% mahasiswa menyatakan tertarik dengan metode ini dan mereka menunjukkan peningkatan dalam keterampilan berpikir kritis, kerja sama, serta tanggung jawab. Temuan ini menegaskan bahwa PjBL dalam pembelajaran perlu didukung dengan perencanaan yang matang dan evaluasi berkelanjutan (Suseno., et al, 2022).
E. KESIMPULAN
1. Kesimpulan terhadap Teori atau Materi
Pendidikan yang efektif harus lebih dari sekadar akademik harus mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan emosional siswa.
Tantangan seperti bias gender, kesenjangan pendidikan berdasarkan latar belakang ekonomi, serta pendekatan yang terlalu kaku dalam sistem pembelajaran masih perlu diperbaiki. Implementasi program berbasis komunitas, pendidikan yang relevan secara budaya, dan peningkatan akses bagi siswa dari keluarga kurang mampu adalah langkah-langkah penting menuju sistem pendidikan yang lebih inklusif dan adil.
2. Kritik terhadap Teori atau Materi
Teori tentang budaya individualis dan kolektivis mendapat kritik karena dianggap terlalu umum dan kurang akurat. Banyak yang berpendapat bahwa pembagian ini tidak selalu mencerminkan kenyataan, karena dalam satu negara bisa terdapat unsur individualisme dan kolektivisme sekaligus. Selain itu, setiap orang, apa pun budayanya, tetap membutuhkan keseimbangan antara rasa percaya diri dan hubungan sosial yang baik. Penelitian juga menunjukkan bahwa perilaku yang dianggap khas dalam suatu budaya belum tentu berlaku untuk semua orang di dalamnya. Oleh karena itu, teori ini sebaiknya digunakan dengan lebih fleksibel dan tidak dianggap sebagai aturan baku dalam memahami kepribadian dan perilaku seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Ansani, H. M. (2022). Bandura's Modeling Theory. Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), 3067-3080.
Banks, J.A. (2014). Introduction to multicultural education (5th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson.
Banks, J.A. (2015). Cultural diversity and education (6th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson.
Bem, S.L. (1977). On the utility of alternative procedures for assessing psychological androgyny. Journal of Consulting and Clinical Psychology , 45, 196–205.
Best, D.L. (2010). Gender. In M.H. Bornstein (Ed.), Handbook of developmental cultural science. New York: Psychology Press.
Blakemore, J.E.O., Berenbaum, S.A., & Liben, L.S. (2009). Gender development.
New York: Psychology Press.
Buss, D.M. (2012). Evolutionary psychology (4th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Buss, D.M. (2015). Evolutionary psychology (5th ed.). Upper Saddle River, NJ:
Pearson.
Chaplin, T.M. (2015). Gender and emotion expression: A developmental contextual perspective. Emotion Review, 7, 14–21.
Chen, X., & Liu, C. (2016). Culture, peer relationships, and developmental psychopathology. In D. Cicchetti (Ed.), Developmental psychopathology (3rd ed.). New York: Wiley.
Cochon Drouet, O., Lentillon-Kaestner, V., & Margas, N. (2023). Effects of the Jigsaw method on student educational outcomes: systematic review and meta-analyses. Frontiers in Psychology, 14, 1216437.
Eagly, A.H., & Crowley, M. (1986). Gender and helping behavior: A meta-analytic review of the social psychological literature. Psychological Bulletin, 100, 283–308.
Eagly, A.H. (2012). Women as leaders: Pathsthrough the labyrinth. In M.C. Bligh
& R.Riggio (Eds.), When near is far and far is near: Exploring distance in leader-follower relationships. New York: Wiley Blackwell.
Eagly, A.H. (2013). Science and politics: A reconsideration. In M.K. Ryan & N.R.
Branscombe (Eds.), Sage handbook of gender and psychology. Thousand Oaks, CA: Sage.
Eisenberg, N., Spinrad, T.L., & KnafoNoam, A. (2015). Prosocial development. In R.M. Lerner (Ed.), Handbook of child psychology and developmental science (7th ed.). NewYork: Wiley.
Evans, G.W. (2004). The environment of childhood poverty. American Psychologist, 59, 77–92.
Frederikse, M., Lu, A., Aylward, E., Barta, P., Sharma, T., & Perlsons, G. (2000).
Sex differences in inferior lobule volume in schizophrenia. American Journal of Psychiatry, 157, 422–427.
Fuligni, A.J., & Tsai, K.M. (2015). Developmental flexibility in the age of globalization: Autonomy and identity development among immigrant adolescents. Annual Review of Psychology (Vol. 66). Palo Alto, CA:
Annual Reviews.
Gollnick, D.M., & Chinn, P.C. (2017). Multicultural education in a pluralistic society (10th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson.
Guastello, D.D., & Guastello, S.J. (2003). Androgyny, gender role behavior, and emotional intelligence among college students and their parents. Sex Roles, 49, 663–673.
Gur, R.C., & others (1995). Sex differences in regional cerebral glucose metabolism during a resting state. Science, 267, 528–531.
Hakuta, K., Butler, Y.G., & Witt, D. (2000). How long does it take English learners to attain proficiency? Berkeley, CA: The University of California Linguistic Minority Research Institute Policy Report 2000–1.
Hakuta, K. (2001, April 5). Key policy milestones and directions in the education of English language learners. Paper prepared for the Rockefeller Foundation Symposium, Leveraging change: An emerging framework for educational equity, Washington, DC.
Hale-Benson, J.E. (1982). Black children: Their roots, culture, and learning styles.
Baltimore: Johns Hopkins University Press.
Halpern, D.F. (2012). Sex differences in cognitive abilities (2nd ed.). New York:
Psychology Press.
Hyde, J.S. (2014). Gender similarities and differences. Annual Review of Psychology (Vol.66). Palo Alto, CA: Annual Reviews.
Irvine, J.J. (1990). Black students and school failure. New York: Greenwood Press.
Johnson, J.S., & Newport, E.L. (1991). Critical period effects on universal properties of language: The status of subjacency in the acquisition of a second language. Cognition, 39, 215–258.
Johnson, J.S., & Newport, E.L. (1991). Critical period effects on universal properties of language: The status of subjacency in the acquisition of a second language. Cognition, 39, 215–258.
Koppelman, K.L. (2017). Understanding human differences (5th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson
Koppelman, K.L. (2017). Understanding human differences (5th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson.
Kozol, J. (2005). The shame of the nation. New York: Crown.
Leaper, C., & Farkas, T. (2015). The socialization of gender during childhood and adolescence. In J.E. Grusec & P.D. Hastings (Eds.), Handbook of socialization (2nd ed.). NewYork: Guilford.
Leaper, C. (2015). Gender development from a social-cognitive perspective. In R.M. Lerner (Ed.), Handbook of child psychology and developmental science (7th ed.). NewYork: Wiley.
Luders, E., Narr, K.L., Thompson, P.M., & Toga, A.W. (2009). Neuroanatomical correlates of intelligence. Intelligence, 37, 156–163.
Maccoby, E.E., & Jacklin, C.N. (1974). The psychology of sex differences. Palo Alto, CA: Stanford University Press.
Marks, A.K., Ejesi, K., McCullough, M.B., & Garcia Coll, C. (2015).
Developmental implications of discrimination. In R.M. Lerner (Ed.), Handbook of child psychology and developmental science (7th ed.). New York: Wiley
Matsumoto, D., & Juang, L. (2017). Culture and psychology (6th ed.). Boston:
Cengage.
Matsumoto, D., & Juang, L. (2017). Culture and psychology (6th ed.). Boston:
Cengage.
Murry, V.M., Hill, N.E., Witherspoon, D., Berkel, C., & Bartz, D. (2015). Children in diverse social contexts. In R.M. Lerner (Ed.), Handbook of child
psychology and developmental science (7th ed.). New York: Wiley Muyasaroh. (2018). Peran Gender Dalam Pendidikan Multikultural (Kajia Ibu
Mendidik Anak Dalam Mengenalkan Nilai-Nilai Multikultural Di Lingkungan Keluarga)). Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Keagamaan, 157-175.
Neville, H.J. (2006). Different profiles of plasticity within human cognition. In Y.
Munakata & M.H. Johnson (Eds.), Attention and Performance XXI:
Processes of change in brain and cognitive development. Oxford. UK:
Oxford University Press.
Pang, V.O. (2005). Multicultural education. (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.
Papert, S. (1980). Mindstorms, children, computers, and powerful ideas.
New York: Basic Books.
Rubin, K.H., Bukowski, W.M., & Bowker, J.(2015). Children in peer groups. In R.M. Lerner (Ed.), Handbook of child psychology and developmental science (7th ed.). NewYork: McGraw-Hill.
Sadker, D.M., & Zittleman, K. (2015). Teachers, schools, and society (4th ed.).
NewYork: McGraw-Hill.
Sadker, M.P., & Sadker, D.M. (1994). Failing at fairness: How America’s schools cheat girls. New York: Scribner.
Santrock, J. W. (2018). Educational psychology: Theory and application to fitness and performance (6th ed.). McGraw-Hill Education.
Senden, M.G., Sikstrom, S., & Lindholm, T. (2015). “She” and “he” in news media messages: Pronoun use reflects gender biases in semantic contexts. Sex Roles, 72, 40–49.
Spence, J.T., & Buckner, C.E. (2000). Instrumental and expressive traits, trait stereotypes, and sexist attitudes: What do they signify? Psychology of Women Quarterly, 24, 44–62.
Suseno, R., Indriyani, Afdal, M., & Nizori, A. (2022). Efektivitas model pembelajaran berbasis proyek terhadap keaktifan dan kemampuan mahasiswa. JINOTEP: Jurnal Inovasi Teknologi Pembelajaran, 9(1), 90–
98.
Tamis-LeMonda, C.S., & others (2008). Parents’ goals for children: The dynamic coexistence of individualism and collectivism in cultures and individuals.
Social Development, 17, 183–209.
Underwood, M.K. (2011). Aggression. In M.K. Underwood & L. Rosen (Eds.), Social development. New York: Guilford.
Usman, M., Degeng, I. N. S., Utaya, S., & Kuswandi, D. (2022). The influence of Jigsaw learning model and discovery learning on learning discipline and learning outcomes. Pegem Journal of Education and Instruction, 12(2), 166-178.
Yanti, R. P. (2018). Pembelajaran Berbasis Multikultural pada Mata Pelajaran Sosiologi. Jurnal Basicedu, 70-74.
LAMPIRAN
https://youtu.be/KzJpVE-fQeE?si=H8FMM8-KLvPPTHRf https://vt.tiktok.com/ZSMFeL4LU/