• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah UAS Pendidikan Profetik

N/A
N/A
RICKY DWI SAPUTRA

Academic year: 2023

Membagikan "Makalah UAS Pendidikan Profetik"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah UAS Pendidikan Profetik

Rickky Dwi Saputra (20422187) Program Studi Pendidikan Agama Islam

Jurusan Studi Islam Faktultas Ilmu Agama Islam

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

2023

A. CPMK 2 MAMPU MENJELASKAN FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN PROFETIK 1. Tm8 Pendidik berkarakter Profetik

a. 4 Kompetensi Guru Secara Umum

Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya.1

1) Kompetensi Pedagogik, merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik meliputi a) pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan, b) guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik, c) guru mampu mengembangkan kurikulum/silabus baik dalam bentuk dokumen maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar, d) guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, e) mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan suasana dialogis dan interaktif, f) mampu melakukan evaluasi hasil belajar dengan memenuhi prosedur dan standar yang dipersyaratkan, dan g) mampu mengembangkan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2) Kompetensi Kepribadian, dilihat dari aspek psikologis kompetensi

kepribadian guru menunjukkan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian a) mantap dan stabil yaitu memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, norma sosial, dan etika yang berlaku, b) dewasa yang berarti mempunyai kemandirian untuk bertindak sebagai pendidik dan

1 D. D. Kirana, “PENTINGNYA PENGUASAAN EMPAT KOMPETENSI GURU DALAM MENUNJANG KETERCAPAIAN TUJUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR Damax,” Journal of Physics A: Mathematical and Theoretical 44, no. 8 (2011): 1689–99.

(2)

memiliki etos kerja sebagai guru, c) arif dan bijaksana yaitu tampilannya bermanfaat bagi peserta peserta didik, sekolah, dan masyarakat dengan menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan bertindak, d) berwibawa yaitu perilaku guru yang disegani sehingga berpengaruh positif terhadap peserta didik, dan e) memiliki akhlak mulia dan memiliki perilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik, bertindak sesuai norma religius, jujur, ikhlas, dan suka menolong.

3) Kompetensi Sosial, artinya kompetensi sosial terkait dengan kemampuan guru sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebagai

makhluk sosial, guru berperilaku santun, mampu berkomunikasi dan

berinteraksi dengan lingkungan secara efektif dan menarik mempunyai rasa empati terhadap orang lain. Kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan menarik dengan peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua dan wali peserta didik, masyarakat sekitar sekolah dan sekitar dimana pendidik itu tinggal, dan dengan pihak-pihak

berkepentingan dengan sekolah.

4) Kompetensi Profesional, mengacu pada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Mengenai perangkat kompetensi profesional biasanya dibedakan profil kompetensi yaitu mengacu kepada berbagai aspek kompetensi yang dimiliki seorang tenaga profesional pendidikan dan

spektrum kompetensi yaitu mengacu kepada variasi kualitatif dan kuantitatif.2

b. Kompetensi Guru Profetik

Kepribadian guru yang profetik adalah kepribadian guru yang ruhaninya telah berfungsi secara baik di dalam diri hingga dapat memberikan pengaruh positif terhadap seluruh aktivitas mental, spiritual dan fisik. Atau dapat dikatakan bahwa kepribadian guru yang profetik adalah kepribadian yang termanifestasikan dalaam dirinya menyerupai kepribadian Nabi Muhammad Saw.3

1) Kompetensi 4 sifat kenabian dalam prmbelajaran

2 Kirana.

3 Mustajab, “KEPRIBADIAN GURU YANG PROFETIK,” 2010.

(3)

Dalam mencapai tujuan penerapan pendidikan profetik memuat empat dimensi sifat kenabian yang begitu melekat pada diri Nabi Muhammad Saw yaitu Sidik (Jujur), Amanah, Tabligh, dan Fathanah.

a) Sifat Sidik, ialah salah satu dimensi moral yang tercermin dalam niat, kehendak, perkkataan maupun perbuatan untuk menjadikan peserta didik selalu dapat dipercaya baik dalam berucap maupun bertindak.

b) Sifat Amaanah, yaitu dapat dipecaya dalam segala hal, baik perkataan maupun perbuatannya.

c) Sifat Tabligh, yaitu menyampaikan pesan atau informasi kepada siapa saja yang berhak menerimanya. Dalam arti selalu menyampaikan ajaran dan kebenaran tanpa ada yang disembunyikan sekalipun terasa pahit.

d) Sifat Fathonah, adalah kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.4 2) Kompetensi 6 Kecerdasan profetik.

a) Kecerdasan Spiritual (Hifzh Ad-Diin)

Penjagaan terhadap nilai-nilai agama (al-hifz ad-diin). Mempersiapkan anak-anak dengan nilai-nilai agama.

b) Kecerdasan Emosional (Hifzh An-Nafs)

Yakni penjagaan terhadap jiwa anak (hifz an-nafs). Yang paling penting untuk mempersiapkan emosi anak adalah penuhi anak dengan limpahan kasih sayang yang tulus.

c) Kecerdasan Intelektual (Hifzh Al-Aql)

Yakni penjagaan terhadap akal (hifz al-aql). Penjagaan terhadap akal dan kecerdasan anak-anak.

d) Kecerdasan Sosial (Hidzh An-Nasl)

Hifzh an-nasl. Ini persiapan penting yang bisa kita lakukan dari rumah agar anak bisa bersosialisasi dengan dunia luar.

e) Kecerdasan Entrepreneur (Hifzh Al-Mal)

Minimal anak mengerti tentang konsep uang saku. Bisa memahami bahwa membeli sesuatu dengan uang dan uang itu harus dicari dengan cara yang benar dan dikeluarkan dengan cara yang benar.

f) Kecerdasan Environmental (Hifzh Al-Bi’ah)

4 Mawaddah, “Empat Sifat Kenabian Yang DimilikiOleh Nabi Muhammad Saw.,” no. 2014 (2007): 93–100.

(4)

Nilai-nilai penjagaan terhadap lingkungan. Penting sekali mengenalkan pada anak kecintaan terhadap lingkungan sejak mereka belum masuk SD.

Minimal anak-anak sudah mandiri untuk menjaga kebersihan diri sendiri.

3) Kompetensi Manajemen mutu PDCA

Pendekatan PDCA dapat meningkatkan efektivitas kegiatan pemantauan pengendalian mutu. Diantaranya adalah:

a) Kegiatan perencanaan pemantauan harus menentukan terlebih dahulu proses mana yang harus diperbaiki, selanjutnya menentukan pula langkah perbaikan apa yang akan dilakukan terhadap proses yang telah dipilih sebelumnya.

b) Kegiatan pelaksanaan pemantauan diawali dengan mengumpulkan informasi kembali tentang jalannya proses yang sedang berlangsung, kemudian dilakukan perubahan yang telah ditetapkan untuk dapat diterapkan dilanjutkan dengan mengumpulkan data kembali untuk mengetahui apakah perubahan telah membawa perbaikan atau tidak, artinya memberikan kontribusi yang positif.

c) Kegiatan pemeriksaan/penilaian kegiatan pemantauan dilakukan secara keseluruhan melalui pemantauan dan mengevaluasi proses dan hasil terhadap sasaran serta melaporkan hasilnya.

d) Hasil pelaksanaan kegiatan pemantauan memberikan kontribusi yang positif dalam keberhasilan pengelolaan kegiatan pemantauan

pengendalian mutu yang dilakukan penilik, sehingga terjadi perubahan yang berarti.5

2. Tm9 Kepala sekolah berkarakter Profetik a. 5 komtepensi kepala sekolah

Dalam UU Republik Indonesia No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen (2006:3) dijelaskan bahwa “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan prilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesional”. Kompetensi kepala sekolah diantara adalah:

1) Kepribadian 2) Manajerial

5 Riyantini, “Pendekatan PDCA Dalam Kegiatan Pemantauan PDCA Approach Monitoring Quality Control,”

Jurnal Ilmiah VISI PGTK PAUD Dan DIKMAS 12, no. 20 (2017): 143–53.

(5)

3) Kewirausahaan 4) Supervisi 5) Sosial6

b. 2 kompetensi profetik kepala sekolah

Pertama, Kepala Sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi

kekuatan penggerak kehidupan sekolah. Kedua, kepala sekolah harus memahami tugas dan fungsi mereka demi keberhasilan sekolah, serta memiliki kepedulian kepada staff dan siswa.

1) Mampu menerapkan 4 sifat kenabian

a) Sifat Sidik, ialah salah satu dimensi moral yang tercermin dalam niat, kehendak, perkkataan maupun perbuatan untuk menjadikan peserta didik selalu dapat dipercaya baik dalam berucap maupun bertindak.

b) Sifat Amaanah, yaitu dapat dipecaya dalam segala hal, baik perkataan maupun perbuatannya.

c) Sifat Tabligh, yaitu menyampaikan pesan atau informasi kepada siapa saja yang berhak menerimanya. Dalam arti selalu menyampaikan ajaran dan kebenaran tanpa ada yang disembunyikan sekalipun terasa pahit.

d) Sifat Fathonah, adalah kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.7

2) Berjiwa nasionalis religious menurut Prof. Mahfud MD UII

Mahfud MD mengajak membangun Indonesia sebagai negara yang rahmatan lil-alamin. Dengan demikian Indonesia akan nyaman ditempati serta bisa tinggal di Indonesia secara aman dan damai. Jadikan kecintaan pada Indonesia dan Islam sebagai kesatuan dalam bernegara, umat Islam menjadi nasionalis, cinta bangsa, dan tidak menjadi ekstrim. Beliau mengajak berjuang bersama dengan prinsip-prinsip ke-Islaman dan ke- Indonesiaan, serta berprinsip Pancasila agar bisa bersosial dengan baik.

6 HE Bakti and AR Holidjah, “Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan,” Ap.Fip.Um.Ac.Id, 2007, 381–88, http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/29-H.- Erwin-Bakti-Holidjah-AR.pdf.

7 Mawaddah, “Empat Sifat Kenabian Yang DimilikiOleh Nabi Muhammad Saw.”

(6)

Mampu membuat kebijakan yang searah dengan komponen kecerdasan profetik.

B. CPMK 3 MAMPU MENJELASKAN ILMU PENDUKUNG PENDIDIKAN PROFETIK 1. Tm10 Landasan Teologis

a. Konsep tauhid dalam Pendidikan

Dalam diri anak usia dini memiliki daya tangkap yang sangat kuat dalam menerima segala apa yang diberikan kepadanya. Ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, memiliki pengamatan serta pandangan yang ada disekitarnya.

Sehingga sangat tepat pendidikan pertama kepada anak adalah pendidikan tentang dasar ketika ia dilahirkan pertama di dunia yaitu fitrah (suci), yang dalam hal ini adalah fitrah beragama kepada Allah SWT yang bisa disebut dengan Tauhid.

Konsep pendidikan tauhid pada anak usia dini yaitu:

1) Menjadikan anak agar lebih mencintai Allah SWT.

2) Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Allah SWT.

3) Mengesakan dalam hal beribadah kepada Allah SWT.

4) Membimbing anak untuk senantiasa mensyukuri segala nikmat yang telah Allah SWT berikan.

b. Unity of creation: kesatuan penciptaan: penciptaan alam semesta

Kesatuan penciptaan, seluruh makhluk di alam semesta ini, baik yang

kelihatan maupun yang tidak, baik yang bisa dideteksi dengan alat-alat pengukur maupun yang tidak, yang gaib maupun yang dhahir, dalam konsep tauhid itu semua merupakan ciptaan Allah.8

c. Unity of knowledge: kesatuan ilmu, Ilmu aqli dan ilmu naqli

Kesatuan pengetahuan, berdasarkan kesatuan pengetahuan ini segala disiplin harus mencari obyektif yang rasional, pengetahuan yang kritis mengenai

kebenaran. Dengan demikian, tidak ada lagi pernyataan bahwa beberapa sains bersifat aqli (rasional) dan beberapa sains lainnya bersifat naqli (supra-rasional);

bahwa beberapa disiplin ilmu bersifat mutlak, sedang disiplin-disiplin lainnya bersifat dogmatis dan relatif.9

8 Nurul Hidayah and Suwadi Suwadi, “Implementasi Konsep Tauhid Sosial M. Amien Rais Di Sma Internasional Budi Mulia Dua Yogyakarta,” Jurnal Pendidikan Agama Islam 12, no. 1 (2015): 31–44,

https://doi.org/10.14421/jpai.2015.121-03.

9 Tentang Tauhid and D A N Seni, “PEMIKIRAN ISMAIL RAJI AL-FARUQI TENTANG TAUHID, SAINS, DAN SENI” 2, no. 2 (2018): 687–687, https://doi.org/10.1007/978-94-024-1267-3_100214.

(7)

d. Unity of value: kesatuan nilai-nilai

Kesatuan nilai nilai, beberapa pusat keinginan atau kepercayaan perihal keputusan akhir yang menunjukkan sesuatu yang benar atau salah, baik atau buruk, penting atau tidak penting dalam mengambil keputusan, bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

e. Unity of mankind: kesatuan umat manusia

Meyakini adanya kesatuan kemanusiaan, semboyan yang berbunyi mankind is one -umat manusia adalah satu- terlepas dari warna kulit, latar belakang, bahasa, geografi, sejarah, dan segala macam perbedaan yang melatarbelakangi keragaman umat manusia itu tidak menghilangkan pengertian subtansif atau sangat prinsipil bahwa di dunia ini ada satu kemanusiaan.10

2. Tm11 Landasan Filosofis (filsafat Profetis)

a. Konsep manusia muslim (bukan kapitalis-individualis bukan sosialis-komunisme) Dalam Al-Qur’an terdapat 4 kata atau istilah yang digunakan untuk menunjukkan manusia. Pertama, kata ins yang kemudian membentuk kata insan dan unas. Kata

“insan” diambil dari kata “uns” yang mempunyai arti jinak, tidak liar, senang hati, tampak atau terlihat. Substansi manusia terdiri atas jasad dan ruh, tanpa

memasukkan nafs. Masing-masing yang berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan jasad tanpa ruh merupakan substansi yang mati, sedang ruh tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi. Karena saling membutuhkan maka diperlukan yang dapat menampung kedua natur yang berlawanan, yang dalam terminology psikologi Islam disebut dengan nafs. Al-Qur’an mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi. Jadi, sangat alamiah bahwa pembawaan manusia tersebut terkandung adanya pergulatan antara kebaikan dan keburukan, antara keutamaan dan kehinaan, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi pergulatan antara aspek material dan aspek spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang baik, yakni dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya.11

b. Proses pengembangan manusia (filsafat Pendidikan)

10 Hidayah and Suwadi, “Implementasi Konsep Tauhid Sosial M. Amien Rais Di Sma Internasional Budi Mulia Dua Yogyakarta.”

11 Quran Dari, Louis Pasteur, and Darwin Mereka, “Konsep Manusia Menurut Islam,” 1860, 93–116.

(8)

Proses biologis, kognitif, dan sosioemosi yang saling memengaruhi satu sama lain tersebut menghasilkan periode-periode dalam masa hidup manusia. Periode perkembangan merujuk pada suatu kerangka waktu dalam kehidupan seseorang yang ditandai oleh ciri-ciri tertentu.

1) Periode kelahiran (prenatal period) adalah masa dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku. Periode ini berlangsung kurang lebih sembilan bulan.

2) Masa bayi (infacy), adalah periode perkembangan yang dimulai sejak lahir hingga usia 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat

bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.

3) Masa kanak-kanak awal (early chidhood), adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman-teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak-anak.

4) Masa kanak-kanak pertengahan dan akhir (middle and late childhood), adalah periode perkembangan yang berlangsung antara usia 6 hingga 11 tahun, kurang lebih bersamaan dengan masa sekolah dasar. Periode ini biasanya disebut dengan tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan-

keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

5) Masa remaja (adolescence), adalah periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, hingga masa awal dewasa, yang dimulai pada sekitar usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang

(9)

cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

6) Masa dewasa awal (early adulthood), adalah periode perkembangan yang dimulai pada awal usia 20-an sampai usia 30-an. Ini adalah masa

pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.

7) Masa dewasa menengah (middle adulthood) adalah periode perkembangan yang berlangsung pada usia 40-an hingga usia 60. Ini merupakan masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang

berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.

8) Masa dewasa akhir (late adulthood), adalah periode perkembangan yang bermula pada usia 60- an atau 70-an dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.12

3. Tm12 Landasan Sosiologis (sosial profetis)

a. Integrasi ilmu sosial denagn nilai-nilai transcendental

Integrasi hukum transendental sebagai paradigma hukum Indonesia dapat diletakkan dalam kerangka menjaga kepercayaan dan ekspektasi masyarakat agar tetap pada keyakinannya tentang keutuhan Indonesia. Posisi epistimologi hukum transendental sebagai paradigma hukum Indonesia merupakan keniscayaan yang dapat diujudkan. Hal pertama yang perlu perjelas adalah mendudukan Pancasila

12 Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, Pendidikan Profetik (Bandung: Goresan Pena, 2016).

(10)

sebagai Staatsfundamentalnorm harus dilihat sebagai bentuk pemahaman filosofi yang masih terbuka ruang untuk dialog.13

b. Integrasi 3 sumber pengetahuan realitas empiris, rasio, dan wahyu Ilahi

1) Empirisme Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman.

Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.

Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena ia menyentuhnya, gula manis karena ia mencicipinya. Teori empirikal mengatakan bahwa

penginderaan adalah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan dan (bahwa potensi mental akal budi) adalah potensi yang tercermin dalam berbagai persepsi inderawi.

2) Rasionalisme Rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula. Dicari dengan akal itulah dicari dengan berfikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak.

Bila logis benar; bila tidak salah. Dengan akal inilah aturan untuk manusia dan alam itu dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal.

3) Intuisi-Wahyu Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut.

Jawaban atas permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul dibenaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Suatu masalah yang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba muncul dibenak kita yang lengkap dengan jawabannya.14

c. Sosiologi kritik pada positivisme, sosiologi deskriptif

Dalam sosiologi terdapat pemikiran kritis yang berakar pada tradisi teori-teori kritik social dalam rangka ikut serta berpartisipasi mengembangkan wacana pembangunan yang emansifatoris, legaliter dan demokratis di tanah air. Teori kritis relevan dengan penelitian ini yang berupaya untuk mengkaji pemberdayaan dan peran perempuan dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibannya untuk membantu

13 Sugeng Wibowo, “INTEGRASI EPISTIMOLOGI HUKUM TRANSENDENTAL SEBAGAI PARADIGMA HUKUM INDONESIA” 1, no. 1 (2017).

14 Imam Nasruddin, “Sumber Pengetahuan,” 2005, 1–9.

(11)

rakyat yang ditindas oleh masyarakat masa kini. Menurut anggota aliran ini, sosiolog lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat, maka mereka mengabaikan interaksi individu dan masyarakat.

Walau sebagian besar perspektif sosiologi tidak bersalah ketika mengabaikan interaksi ini, namun pandangan ini menjadi landasan serangan aliran kritis

terhadap sosiologi. Karena mengabaikan individu sosiolog dianggap tidak mampu mengatakan sesuatu yang bermakna tentang perubahan politik yang dapat

mengarah ke sebuah masyarakat manusia dan yang adil. Aliran kritis mengeser orientasinya ke tingkat cultural mengigat kultur dianggap sebagai relaistis

masyarakat kapitalis modern. Artinya tempat dominasi dalam masyarakat modern telah bergeser dari bidang ekonomi ke bidang cultural.15

d. Keberpihakan etis dalam struktur sosial

Menjadi semakin jeias, bahwa dari uraian tentang tiga dimensi etika politik tersebut, perilaku orang perorangan hanya merupakan salah satu dimensi etika yang terkait dengan masalah kehendak baik. Tetapi di dalam pewujudannya, kehendak baik perlu ditopang oleh institusi-institusi yang adil. Dengan

membangun institusiinstitusi yang lebth adil ini, mau dibangun jembatan antara kehendak baik dan pewujudannya. Kehendak baik berfungsi untuk mempertajam makna tanggung jawab, sedangkan InstitusI (aturan, hukum, kebiasaan,

lembagasosial) berperan untuk mengorganislr tanggung jawab atau menclptakan kondisi bagi tindakan yang bertanggung jawab. Namun interaksi yang sebaliknya juga benar, yaitu bahwa kebiasaan yang balk akan mampu menclptakan struktur- struktur sosial yang kondusif bag! terciptanya tindakan yang bertanggung jawab.16

4. Tm13 Landasan Psikologis (psikologi profetis) a. Psikologi Perkembangan

Proses biologis, kognitif, dan sosioemosi yang saling memengaruhi satu sama lain tersebut menghasilkan periode-periode dalam masa hidup manusia. Periode perkembangan merujuk pada suatu kerangka waktu dalam kehidupan seseorang yang ditandai oleh ciri-ciri tertentu.17

15 Argyo Demartoto, “Teori Kritis,” 2000.

16 Haryatmoko, “Penerimaan Fluralitas Agama Sebagai Syarat Kemungkinan Etika Politik Agama Sering Tampil Dalam Dua Wajah,” 2005.

17 Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, Pendidikan Profetik.

(12)

1) Masa bayi, adalah periode perkembangan yang dimulai sejak lahir hingga usia 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.

2) Masa kanak-kanak TK, adalah periode perkembangan yang berlangsung antara usia 6 hingga 11 tahun, kurang lebih bersamaan dengan masa sekolah dasar. Periode ini biasanya disebut dengan tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan-keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

3) Masa anak anak SD, adalah periode perkembangan yang berlangsung antara usia 6 hingga 11 tahun, kurang lebih bersamaan dengan masa sekolah dasar. Periode ini biasanya disebut dengan tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan-keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

4) Masa remaja awal SMP, adalah periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, hingga masa awal dewasa, yang dimulai pada sekitar usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

5) Masa remaja akhir SMA, adalah periode perkembangan yang dimulai pada awal usia 20-an sampai usia 30-an. Ini adalah masa pembentukan

kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.

(13)

6) Masa dewasa awal Perguruan Tinggi, adalah periode perkembangan yang dimulai pada awal usia 20-an sampai usia 30-an. Ini adalah masa

pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.

b. Psikologi Kepribadian

Gaya hidup adalah prinsip yang dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang, inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang. Gaya hidup secara luas diidentifikasikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas) apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia sekitarnya (pendapat).18

1) 4 Qudran Imam Ghazali

a) Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri { Seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu} Orang ini bisa disebut

‘Alim = Mengetahui. yang harus kita lakukan adalah

Mengikutinya. Apalagi kalau kita masih termasuk dalam golongan orang yang awam . yang masih butuh banyak diajari . maka sudah seharusnya kita mencari orang yang seperti ini, duduk bersama dengannya akan menjadi pengobat hati.

b) Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri { Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu} Untuk type ini, bolehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah Tertidur sikap kita kepadanya Bangunkan dia Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di

sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi. Karena keberadaan dia seakan gak berguna, selama dia belum bangun manusia ini sukses di dunia tapi rugi di akhirat.

18 Siti Rofiah, “Psikologi Kepribadian,” 2020.

(14)

c) Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri { Seseorang yang Tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia Tahu alias sadar diri kalau dia Tidak Tahu} Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa

menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar. Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Manusia seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat.

d) Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri { Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu} Dan menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebaba ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya. “manusia yang tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat, untuk itu mari kita intropeksi diri masing- masing, di kelompak manakah kita berada,” ajak khatib.19 2) 4 Quadran Takwa

a) Kecerdasan Sosial b) Kecerdasan Ruhaniah c) Kecerdasan Emosional d) Kecerdasan Finansial 3) 4 Quadran Window Jauhari

Konsep Johari merupakan diagram dengan empat kuadran. Detail dari keempat kuadran dalam Johari Window itu adalah:

a) Area Terbuka b) Area Tertutup c) Blind Spot

19 Sriwanti, “Pengaruh Psikologi Belajar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas Viii Di Smp Negeri 6 Parepare” VIII, no. September (2019): 33–42.

(15)

d) Unknown 4) 4 Quadran Kyosaky

Menurut Robert Kiyosaki, ada beberapa kelompok untuk menggambarkan seseorang melalui penghasilannya yang disebut Cashflow Quadrant.

a) Quadrant E (Karyawan)

Memilih mencari keamanan dan kenyamanan bekerja dengan gaji setiap bulan yang sudah pasti diterima. Sehingga jika mereka tidak bekerja maka tidak ada uang yang dihasilkan.

b) Quadrant S (Pekerja Lepas)

Hampir sama seperti karyawan namun dia harus memikirkan rencana esok hari, dan stategi yang akan diambil.

c) Quadrant B (Pemilik Usaha)

Pemimpin harus memiliki sebuah sistem dalam mengatur kegiatan bisnisnya, memilih pegawai yang tepat.

d) Quadrant I (Investor)

Tipe ini sangat berbeda dengan dengan karyawan ataupun pekerja lepas, karena investor sudah memiliki kebebasan dalam hidup, baik dari waktu ataupun finansial. Uang yang bekerja untuk mereka.

c. Psikologi Belajar

Konsentrasi ilmu psikologi belajar merupakan ilmu yang memberikan wawasan kepada pendidik dan calon pendidik mengenai siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya.20 Sasaran utama dari ilmu ini adalah para pendidik.

Oleh karena itu, mereka dituntut untuk menguasai bidang ilmu psikologi agar mereka Konsentrasi ilmu psikologi belajar merupakan ilmu yang memberikan wawasan kepada pendidik dan calon pendidik mengenai siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya1 . Sasaran utama dari ilmu ini adalah para pendidik.

Oleh karena itu, mereka dituntut untuk menguasai bidang ilmu psikologi agar mereka.21

1) Teori belajar teori belajar konstruktivisme

Teori belajar sibernetik adalah teori belajar yang mementingkan proses pembelajaran dan menggunakanteknologidalam mendapatkan informasi

20 Tatag Yuli Eko Siswono, “Belajar Dan Mengajar Matematika Anak Usia Dini,” Seminar Pendidikan Anak Usia Dini, 2012, 1–9.

21 Sriwanti, “Pengaruh Psikologi Belajar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas Viii Di Smp Negeri 6 Parepare.”

(16)

yang cepat dan tepat.Tujuan dari pada pelajaran ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima informasi dan mengkreatifkan instruktur di dalampembelajarannya.

2) Teori belajar konstruktivisme

Teori kontruktivistik merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi

(bentukan) kita sendiri. Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan adalah bentukkan siswa yang sedang balajar lewat interaksi dengan bahan atau pengalaman baru, ilmu yang didapatkan tidak dapat ditransfer dari dosen ke mahasiswa, isi materi pleajaran ditentukan oleh mahasiswa sendiri 3) Teori belajar humanistic

Teori humnaistik menyatakan bahwa belajar yaitu memanusiakan menusia, maksudnya adalah menghargai segala yang ada pada manusia. Oleh sebab itu teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Pada teori ini juga lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajarnya. Proses belajar mengajarnya dari pengalaman hidup siswa, dengan pengalaman hidup nanti akan dijadikan sebagai landasan materi.

4) Teori belajar behavioristik

Teori belajar behavioristik menyatakan bahwa belajar itu merubah tingkah laku. Para ahli-ahli behavioristik mengatakan bahwa proses belajar itu terjadi apabila tingkah laku siswa sudah berubah, apabila siswa belum merespon, maka tingkah laku siswa tidak berubah maka belum dikatakan belajar. Dan di teori belajar behavioristik, apabila tingkah laku siswa belum berubah maka akan berlaku sistem hukuman. Apabila belajar tidak bisa terus, dan diajarkan lagi, tidak bisa lagi, maka akan berlaku sistem hukuman dan dengan hukuman itu dapat membuat siswa jera dan akan membuat siswa unntuk belajar lebih giat lagi.

5) Teori belajar kognitivisme

Teori belajar kognitivisme menyatakan bahwa belajar adalah perubahan persepsi atau pemahaman. Teori belajar ini lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta

(17)

pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan

belajarnya. Teori belajar kognitif juga menekankan bahwa bagian-bagian dari situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut.

Memisah-misahkan atau membagi-bagi situasi/materi pelajaran ,enjadi komponen-komponen yang kecil-kecil dan mempelajarinya secara terpisah-pisah, akan kehilangan makna.22

5. Tm14 Landasan Organisatoris integrasi ilmu profetis a. Sparated Subjec Curriculum

Sebutan separated subject curriculum dikarenakan bahan pelajaran yang disajikan dalam subject atau mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang satu pisah dari yang lain. Organisasi separated subject curriculum dianggap berasal dari zaman Yunani kuno. Orang Yunani telah mengajarkan berbagai bidang studi seperti

kesusateraan, matematika, filsafat dan ilmu pengetahuan ditambah dengan musik.

Mereka mengadakan dua trivium (gramatika, retorika dan logika) dan kuadrivium (arithmetika, geometri, astronomi, dan musik) yang kemudian dikenal sebagai

“the seven liberal arts” yang diberikan pada pendidikan umum.

b. Correlated Curriculum

Pada dasarnya organisasi kurikulum ini menghendaki agar mata pelajaran itu satu sama lain ada hubungan, bersangkut paut (correlated) walaupun mungkin batas- batas yang satu dengan yang lain masih dipertahankan. Correlated curriculum adalah pola organisasi materi atau konsep-konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya. Model kurikulum

mengintegrasikan semua bidang ilmu, jadi antara satu bidang ilmu dengan ilmu yang lain saling berhubungan atau mata pelajaran disajikan saling berhubungan antara satu dengan yang lain, sehingga pada model kurikulum ini bisa dilihat keterpaduan antara semua mata pelajaran.

c. Integrated Curriculum

Integrated Curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Dengan

kebulatan bahan pelajaran diharapkan mampu membentuk murid yang integral,

22 Dwi Fadhila Damayanti, “Teori Belajar,” 2008.

(18)

selaras dengan kehidupan sekitarnya, apa yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah.23

Daftar Pustaka

Bakti, HE, and AR Holidjah. “Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.” Ap.Fip.Um.Ac.Id, 2007, 381–88.

http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/29-H.-Erwin-Bakti-Holidjah-AR.pdf.

Damayanti, Dwi Fadhila. “Teori Belajar,” 2008.

Dari, Quran, Louis Pasteur, and Darwin Mereka. “Konsep Manusia Menurut Islam,” 1860, 93–116.

Demartoto, Argyo. “Teori Kritis,” 2000.

Haryatmoko. “Penerimaan Fluralitas Agama Sebagai Syarat Kemungkinan Etika Politik Agama Sering Tampil Dalam Dua Wajah,” 2005.

Hidayah, Nurul, and Suwadi Suwadi. “Implementasi Konsep Tauhid Sosial M. Amien Rais Di Sma Internasional Budi Mulia Dua Yogyakarta.” Jurnal Pendidikan Agama Islam 12, no. 1 (2015): 31–44. https://doi.org/10.14421/jpai.2015.121-03.

Kirana, D. D. “PENTINGNYA PENGUASAAN EMPAT KOMPETENSI GURU DALAM MENUNJANG KETERCAPAIAN TUJUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR Damax.” Journal of Physics A: Mathematical and Theoretical 44, no. 8 (2011): 1689–

99.

Mawaddah. “Empat Sifat Kenabian Yang DimilikiOleh Nabi Muhammad Saw.,” no. 2014 (2007): 93–100.

Mustajab. “KEPRIBADIAN GURU YANG PROFETIK,” 2010.

Nasruddin, Imam. “Sumber Pengetahuan,” 2005, 1–9.

Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati. Pendidikan Profetik. Bandung: Goresan Pena, 2016.

Riyantini. “Pendekatan PDCA Dalam Kegiatan Pemantauan PDCA Approach Monitoring Quality Control.” Jurnal Ilmiah VISI PGTK PAUD Dan DIKMAS 12, no. 20 (2017):

23 Sulaiman, “Pola Modern Organisasi Pengembangan Kurikulum,” Jurnal Ilmiah Didaktika 14, no. 1 (2013): 60–

73, https://doi.org/10.22373/jid.v14i1.489.

(19)

143–53.

Rofiah, Siti. “Psikologi Kepribadian,” 2020.

Siswono, Tatag Yuli Eko. “Belajar Dan Mengajar Matematika Anak Usia Dini.” Seminar Pendidikan Anak Usia Dini, 2012, 1–9.

Sriwanti. “Pengaruh Psikologi Belajar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas Viii Di Smp Negeri 6 Parepare” VIII, no. September (2019):

33–42.

Sulaiman. “Pola Modern Organisasi Pengembangan Kurikulum.” Jurnal Ilmiah Didaktika 14, no. 1 (2013): 60–73. https://doi.org/10.22373/jid.v14i1.489.

Tauhid, Tentang, and D A N Seni. “PEMIKIRAN ISMAIL RAJI AL-FARUQI TENTANG TAUHID, SAINS, DAN SENI” 2, no. 2 (2018): 687–687. https://doi.org/10.1007/978- 94-024-1267-3_100214.

Wibowo, Sugeng. “INTEGRASI EPISTIMOLOGI HUKUM TRANSENDENTAL SEBAGAI PARADIGMA HUKUM INDONESIA” 1, no. 1 (2017).

Referensi

Dokumen terkait

sampai pada temuan teori baru, sesuai susunan piramida ilmu pengetahuan, dari bawah ke.. atas yaitu pengalaman sehari-hari, pemurnian, hipotesa, hukum

Pengalaman interaksi antara kekuasaan, kaum intelektual, dan ilmu pengetahuan, terutama ilmu sosial, selama 32 tahun rezim otoritarian Orde Baru (Orba) membangkitkan

Hal ini dibuktikan dengan Kurikulum yang diajarkan di Pesantren ini cukup seimbang antara mata pelajaran ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umumnya, di sisi lain

Suatu pengetahuan tentang sebuah objek baru dianggap sebagai disiplin ilmu bila pengetahuan tersebut telah dilengkapi dengan seperangkat teori tentang objek yang dikaji.

Roqib menjelaskan, Ilmu pendidikan Islam merupakan sekumpulan teori kependidikan yang berdasarkan konsep dasar agama Islam yang berasal dari hasil telaah secara mendalam

suatu kegiatan, proses atau pengalaman suatu kegiatan, proses atau pengalaman dalam menambah ilmu pengetahuan atau dalam menambah ilmu pengetahuan atau

Psikologi pendidikan sebagai ilmu yang meneliti masalah jiwa dan aktivitas psikologis seseorang dalam kaitannya dengan pendidikan sebagai interaksi adalah disiplin yang cukup penting

Pembelajaran sebagai interaksi antara pengajar dengan satu atau lebih individu untuk menumbuh kembangkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman belajar kepada peserta didik.1 RPP