• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH ULUMUL QUR’AN

N/A
N/A
Idris Nur Hikmah

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH ULUMUL QUR’AN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH ULUMUL QUR’AN

PENULISAN AL-QUR’AN PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW, ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RA, DAN UTSMAN BIN AFFAN

Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Ulumul Qur’an

Dosen pengampu: Nur Hamid,S.Ag, M.Hum Penyusun:

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN JURUSAN SASTRA INGGRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA 2015-2016

Agus Nur Sodiqin 143211038 Reza Dwi Wijayanti 143211040 Asyrof Abdullathif 143211041

(2)

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Muslim yang menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama. Al-Qur’an yang telah sampai ditangan kita tidak lepas dari sejarahnya dan peran para sahabat dalam penulisan Al-Qur’an itu sendiri. Bermula dari masa Rasulullah saw, kemudian masa Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, dan masa Utsman bin Affan.

Terdapat dua hal yang membuat Al-Qur’an terjaga dari keutuhannya. Pertama, hafalan yang tersimpan rapi dalam dada para sahabat. Kedua, tersusunnya Al-Qur’an dalam tulisan-tulisan yang belum teratur. Ayat-ayat dan surat-suratnya masih tertulis dalam lembaran-lembaran yang terdiri dari kulit, pelepah korma, batu, kayu, dan tulang. Yang pada akhirnya Al-Qur’an dibukukan seperti pada masa sekarang.

Al-Qur’an harus diimani dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Sehingga, tidaklah berlebihan jika selama ini kaum Muslimin tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya, tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga keutuhannya. Upaya itu telah mereka lakukan sejak Nabi Muhammad Saw masih berada di Mekkah dan belum berhijrah ke Madinah hingga saat ini. Dengan kata lain upaya tersebut telah dikerjakan sejak al-Qur’an diturunkan hingga saat ini.

II. Rumusan Masalah

Dari uraian diatas dapat ditarik kedalam pembahasan yg menarik yaitu bagaimana upaya-upaya penyusunan dan pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad Saw, masa Abu Bakar, hingga pada masa Utsman Ibn Affan.

(3)

DAFTAR ISI BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah……… 2

II. Rumusan Masalah………. 2

DAFTAR ISI ……….. 3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Penulisan Al-Quran pada Masa Nabi Muhammad Saw ……… 4 B. Penulisan Al-Quran pada Masa Abu Bakar ………... 6 C. Penulisan Al-Quran pada Masa Utsman bin Affan ………... 9

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ………... 11

DAFTAR PUSTAKA ………. 12

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Penulisan Al-Quran pada Masa Nabi Muhammad Saw

Dapat diketahui bahwa Al-Qur’an yang sekarang kita miliki ternyata tidak turun secara bersamaan, namun ia turun secara bertahap. Melalui malaikat Jibril, Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad. Kemudian Nabi Muhammad saw dalam memelihara semua wahyu yang telah diterimanya dari kemusnahan yaitu melalui dua metode. Metode pertama yaitu menyimpannya ke dalam “dada manusia”. Makna dari hal tersebut yaitu menghafalkan wahyu tersebut. Sedangkan metode yang kedua yaitu dengan cara merekam semua wahyu secara tertulis pada berbagai macam bahan, seperti:

tulang, batu, pelepah korma dan masih banyak lagi.

Pada awalnya Allah menurunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan dan peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu. Hal tersebut terdapat banyak hikmah yang dapat diambil, seperti: agar mudah dihafalkan dan difahami serta mudah diamalkan, untuk memantapkan hati Rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya agar sabar dalam menghadapi kaumnya, tidak tergesa-gesa jika kaum Rasullullah tidak segera mendapatkan hidayah, serta agar mukjizat Allah lebih kelihatan. Terkadang Al-Qur’an turun sebagai jawaban dari kaum muslimin, ahli kitab, dan kaum musyrikin.

Alasan mengapa pada masa Rasulullah lebih mementingkan hafalan Al-Qur’an dan memeliharanya dalam dada daripada menuliskannya dalam lembaran-lembaran yaitu karena pada masa tersebut untuk mendapatkan bahan tulis-menulis masih sulit. Sehingga Rasulullah meminta kepada para sahabat untuk menghafalkan bersama. Hal tersebut dapat dilakukan karena para sahabat pada saat itu memiliki tradisi hafalan yang kuat, sehingga memungkinkan terpeliharanya keutuhan Al-Qur’an tersebut.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al Maidah ayat 67, setelah Nabi Muhammad SAW menghafalkan Al-Qur’an selanjutnya diperintahkan untuk menyampaikan Al-Qur’an tersebut kepada para pengikutnya.

(5)

“Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjagamu dari bahaya manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.“(Q.S. Al Maidah: 67)

Metode kedua yang dilakukan dalam pemeliharaan Al-Qur’an di masa Nabi Muhammad SAW adalah perekaman dalam bentuk tulisan. Pada masa ini terdapat beberapa para sahabat yang sudah bisa membaca dan menulis. Laporan paling awal tentang penyalinan Al-Qur’an secara tertulis dapat ditemukan dalam kisah masuknya Umar ibn Khathab ke dalam agama Islam, yaitu empat tahun menjelang hijrah nya Nabi ke Madinah.

Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad saw sedang berada di rumah al- Arqam ibn Abi al-Arqam (w.673), Umar telah bertekad bulat untuk membunuhnya.

Tetapi niat ini terpaksa ditunda karena ia mendengar berita tentang masuk islamnya adik kandung, adik ipar, dan keponakannya. Ia kemudian pergi kerumah adik perempuannya dan menemukan orang yang dicarinya bersama beberapa Muslim lain sedang membaca salah satu surat Al-Qur’an.

Terjadilah pertengkaran sengit, kemudian Umar menyerang kedua adiknya hingga terluka, melihat adik perempuannya terluka bercucuran darah, Umar tersentuh hatinya kemudian meminta lembaran tersebut. Dikatakan setelah membaca wahyu tersebut Umar mengungkapkan keimanannya kepada risalah yang dibawa Nabi.

Setelah hijrah ke Madinah dikabarkan bahwa Nabi mempekerjakan sejumlah sekretaris untuk menuliskan wahyu. Di antara para sahabat yang biasa menuliskan wahyu adalah empat khalifah pertama, seperti: Mu’awiyah (w.680), Ubay ibn Ka’ab, Zayd ibn Tsabit, Abd Allah ibn Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari(w.664), dan masih banyak lagi.

(6)

Adapun yang pertama menuliskan wahyu bagi Rasulullah saw di Makkah adalah Abdullah bin Sa’ad. Sedangkan yang pertama kali menuliskan wahyu ketika beliau di Madinah adalah Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit1.

B. Penulisan Al-Quran pada Masa Abu Bakar

Dengan wafatnya Nabi Muhammad berarti penerimaan wahyu telah berakhir untuk selamanya. Maka yang menggantikan beliau sebagai khalifah dalam memimpin pemerintahan Islam dan kaum Muslimin adalah Abu Bakar. Karena tidak akan terdapat ayat lain, perubahan hukum, serta penyusunan ulang. Upaya untuk memelihara keutuhan teks Al-Qur’an selangkah lebih maju dengan terlaksananya penyalinan ayat-ayat Al- Qur’an kedalam mushaf2.

1. Penugasan Zaid bin Thabit dalam mengomplikasikan Al-Qur’an

Zaid melaporkan, Abu Bakar memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran al-Yamama yang menelan korban para sahabat sebagai shuhada. Abu Bakar mulai berkata, “Umar baru saja datang menyampaikan pendapat ini, dalam pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar para penghafal Al- Qur’an dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain.

Oleh karena itu kami berpendapat agar di keluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur’an.”

Abu Bakar menyanggah pendapat umar, ia berkata kepada Umar

bagaimana mungkin kita melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?’ Umar menjawab, ‘ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiki pendapat serupa. Zaid! Anda seorang pemuda yang cerdik pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Quran agar dapat dirangkum seluruhnya.

Jika sekiranya mereka minta kami memindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat melakukan

1 Akaha, Abduh Zulfidar, 1996, Al-Qur’an dan Qiroat, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, hal: 23.

2 Athaillah, 2010, Sejarah Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 214

(7)

sesutu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakar dan Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenangkan rasa keberatan yang ada hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakar dan Umar.

2. Jati Diri Zaid bin Thabit

Sejak usiannya di awal dua puluh-tahunan, dimasa itu Zaid di beri keistimewaan tinggal berjiran dengan nabi Muhammad dan bertindak sebagai seorang penulis wahyu yang sangat cemerlang. Abu Bakar as-Siddiq mencatat kualifikasi dirinya sebagai berikut:

a) Di masa muda Zaid menunjukkan vitalitas dan kekuatan energinya.

b) Akhlak amanah dan amanah yang tak pernah tercemar membuat Abu Bakar memberi pengakuan dengan kata-kata ‘kami tak pernah memiliki prasangka negatif kepada anda.3

c) Kecerdasannya menunjukkan pentingnya kompetensi dan kesadaran.

d) Pengalamannya di masa lampau sebagai penulis wahyu paling banyak di bandingkan para sahabat dan hafal seluruh isi Al-Qur’an.

e) Zaid seorang yang bernasib mujur di antara beberapa orang sahabat yang sempat mendengar bacaan Al-Qur’an Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad di bulan Ramadan.4

3. Intruksi Abu bakar terhadap Zaid bin Thabit

Ulasan singkat tentang satu masalah yang pernah di kemukakan di hadapan Abu Bakar semasa menjadi khalifah. Sekali waktu ada seorang nenek menghadap minta penjelasan tentang hak waris dari seorang cucu yang telah meninggal dunia.

Beliau menjawab bahwa bagian seorang nenek dari cucu tidak di sebut dalam Al- Qur’an dan tidak pula beliau ingat bahwa Nabi Muhammad pernah member penjelsan tentang hal itu. Abu Bakar menerima jawaban al-Mughira yang saat itu berdiri mengatakan bahwa beliau hadir saat Nabi Muhammad mengatakan bahwa bagian seorang nenek adalah satu per enam (1/6). Hukum kesaksian memainkan

3 Ibid, hal: 220

4 M.M.Al-Azami, 2005, The History of The Qur’anic Text, Jakarta: Gema Insani, hal: 85.

(8)

peranan penting dalam komplikasi Al-Qur’an(juga ada dalam ilmu hadits), yang merupakan bagian penting dari intruksi Abu Bakar pada Zaid bin Thabit.

Saya lebih cenderung menerima pendapat kedua menyangkut penerimaan materi(ayat Al-Qur’an) berdasarkan bukti sumpah di hadapan dua orang saksi lain bahwa mereka telah menulis ayat di depan Nabi Muhammad. Pendapat ini di perkuat oleh pendapat Ibn Hajar yang mana “Zaid tidak mau menerima suatu materi tulisan yang akan dapat di pertimbangkan kecuali dua orang sahabat menyaksikan bahwa orang itu menerima ayat Al-Qur’an seperti di perdengarkan oleh Nabi Muhammad sendiri.

4. Zaid bin Thabit Memanfaatkan Sumber Hafalan

Degan meletakan dasar-dasar persyaratan yang begitu ketat dalam penerimaan, baik dalam segi tulisan maupun hafalan. Dalam keadaan apapun Zaid bin Thabit selalu merujuk pada hafalan orang lain: “Al-Quran saya kumpulkan dari berbagai bentuk kertas kulit, potongan tulang dan dari dada para penghafal.” Apa yang dimaksud Zaid pada dasarnya ia hanya mencari ayat-ayat tertulis dari berbagai sumber yang masih tercecer untuk dicoocokkan dengan apa yang teleh dihafal oleh para huffaz5.

5. Keaslian Al-Qur’an Masalah Dua Ayat Terakhir

Kata tawatur ditujukan pada pengumpulan informasi dari berbagai sumber dan perbandingan dimana jika sebagaian besar menyetujui suatu bacaan, maka hal yang demikian memberi keyakinan akan keaslian bacaan itu sendiri. Pada surah al- Bara’ah dimana dua ayat terakhir diberi pengesahan dan dimasukkan kedalam mushaf, semata-mata berdasar atas kulit kertas dari Khuzaimah(serta saksi-saksi yang jadi kemestian), yang diperkuat hafalan Zaid dan beberapa huffaz lainnya.

Masalah Surah Al-Bara’ah diman tidak ada perselisihan antara sumber-sumber yang ada, walaupun ada perselisihan itu relatif sangat kecil, menjadikan dasar yang cukup memadai untuk kepastian. Kedua ayat tersebut tidak memiliki sesutu yang baru secara teologis, tidak membicarakan tentang sebuah pemujaan famili tertentu dan tidak pula memberi informasi tentang suatu yang tak terdapat dalam Al-Qur’an.

Adanya konspirasi menciptakan ayat-ayat seperti itu tidak masuk akal karena tak ada

5 Ibid, hal: 90.

(9)

kepentingan yang tampak yang mungkin lahir dari upaya pemalsuan6. Dalam suasana seperti ini dimana Allah swt. secara pribadi menjamin sikap kejujuran para sahabat terhadap kitab suci-Nya, maka kita dapat menarik kesimpulan akan adanya tawatur yang cukup dalam menentukan keputusan akhir ayat-ayat tersebut.

C. Penulisan Al-Qur’an pada Masa Utsman Bin Affan

Tunduknya bangsa-bangsa Arab di bawah pemerintahan Islam terus berkembang pada masa Utsman bin Affan. Sehingga kaum muslimin pun semakin bertambah jumlahnya. Tentu bangsa-bangsa tersebut memiliki bermacam-macam dialek7 bacaan Al-qur’an yang beraneka ragam sesuai dengan perbedaan mushaf- mushaf yang berada di tangan para sahabat. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi fitnah, maka dari itu Utsman bin Affan memiliki ide yang cemerlang. Ia memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf, sehingga kaum muslimin akan memiliki pandangan yang sama antara satu dengan yang lainnya. Alasan mengapa hal ini dilakukan oleh Utsman yaitu agar kaum muslimin tidak lagi bertengkar memperdebatkan tentang Al-Qur’an, yang pada akhirnya akan terpecah belah8.

Pada awalnya, para sahabat dari kalangan penghafal dan penulis Al-Qur’an banyak yang meninggalkan kota Madinah menuju daerah-daerah yang telah dikuasai Islam. Mereka berpencar menuju pelosok negeri dengan tujuan ingin mengajarkan Al-Qur’an kepada kaum Muslimin dan anak-anak mereka. Sebagaimana Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat: “Sampaikanlah yang kalian dapatkan dariku meskipun hanya satu ayat”.

Tentu saja dalam dakwah ke jalan Allah terdapat berbagai cara untuk mendapatkan ridha-Nya, demikian pula dengan para sahabat yang berlomba-lomba dalam mengajarkan Al-Qur’an. Tetapi dalam hal ini, terjadi perbedaan bacaan Al- Qur’an pada setiap daerah. Pada umumnya, penduduk setiap daerah mengambil qiroah dari sahabat yang mengajar mereka. Sedangkan para sahabat masing-masing membaca Al-Qur’an menurut yang mudah bagi mereka. Seperti penduduk Syam membaca dengan qiroah Ubay bin Ka’ab. Peduduk Kufah membaca dengan qiroah Abdullah bin Mas’ud. Penduduk Himsh membaca dengan qiroah Ubadah bin Shamit. Begitu seterusnya.

Dalam kitab Shahih Imam Bukhari disebutkan, bahwasanya Hudzaifah Ibnu Yaman datang menghadap Utsman Ibn Affan dari perang pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Dia khawatir melihat perbedaaan mereka pada dialek bacaan Al- Qur’an, lalu dia berkata : “Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berpecah belah pada Kitab Allah seperti perpecahan kaum Yahudi dan

6 Ibid, hal: 94.

7 Dialek yaitu variasi bahasa yg berbeda-beda menurut pemakai (missal: bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu).

8 Akaha, Abduh Zulfidar, 1996, Al-Qur’andan Qiroat’, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, hal: 36.

(10)

Nasrani!” Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah bin Umar: “Kirimkan kepada kami mushaf yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu!”, Hafshah lalu mengirimkan mushaf tersebut.

Kemudian Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az- Zubair, Sa’id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Utsman berkata kepada ketiganya : “Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al- Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek tersebut!”, merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur’an selainnya.

Utsman melakukan hal ini tentu saja telah meminta pendapat kepada para sahabat yang lain sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mengatakan : “Demi Allah, tidaklah seseorang melakukan apa yang dilakukan pada mushaf-mushaf Al-Qur’an selain harus meminta pendapat kami semuanya”, Utsman mengatakan : “Aku berpendapat sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu Mushaf saja sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan”. Kami menjawab : “Alangkah baiknya pendapatmu itu”.

Mushaf Al-Qur’an tetap seperti itu sampai sekarang dan disepakati oleh seluruh kaum muslimin serta diriwayatkan secara Mutawatir. Dipelajari oleh anak- anak dari orang dewasa, tidak bisa dipermainkan oleh tangan-tangan kotor para perusak dan tidak sampai tersentuh oleh hawa nafsu orang-orang yang menyeleweng.

(11)

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Penulisan Al-Qur’an mengalami beberapa fase, yaitu pada masa Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar Ra, dan Utsman bin Affan. Pada masa Rasulullah, Al-Qur’an turun secara mutawatir atau bertahap. Melalui malaikat Jibril, Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad. Kemudian Nabi Muhammad mengajarkan kepada umat manusia. Pada masa ini, dalam pengumpulan Al-Qur’an, Nabi Muhammad menggunakan dua metode, yaitu: hafalan dan tulisan. Yang dimaksud dengan hafalan yaitu Nabi Muhammad menyuruh para sahabatnya untuk menghafalkan wahyu Al-Qur’an dalam dada mereka. Sedangkan yang berupa tulisan, pada waktu itu karena para sahabat sudah banyak yang bisa membaca dan menulis, maka Nabi Muhammad meminta para sahabat untuk menulis wahyu-wahyu yang diterimanya. Entah itu di pelepah korma, batu tulang, dan masih banyak lagi.

Kemudian pada masa yang kedua yaitu masa Abu Bakar. Pada masa ini, Al-Qur’an mulai dikumpulkan dalam lembaran-lembaran. Hal ini dilakukan karena pada saat itu Abu Bakar dan para sahabat sedang berperang dalam perang Yamama dan banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an yang ternyata meninggal dunia. Hal ini dikhawatirkan hilangnya keutuhan Al-Qur’an tersebut. Maka dari itu, Umar mempunyai usulan untuk mengumpulkannya dan ditulis dalam lembaran-lembaran. Pada awalnya abu bakar tidak setuju dengan usulan Umar tersebut, karena Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan hal semacam itu. Namun, Umar terus berusaha untuk meyakinkan Abu Bakar. Dan pada akhirnya abu bakar setuju dengan usulan Umar.

Pada masa yang ketiga yaitu pada masa Utsman bin Affan.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

barangsiapa yang mengatakan bahwa khilafah itu adalah milik Ali setelah Abu Bakar dan Umar, maka dia telah sesat karena telah menyelisihi ijmak sahabat (yang memilih Utsman). Untuk

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrahman al-Salamî bahwa orang-orang seperti Utsman bin ‘Affan dan Abdullah bin Mas’ud, yang dibacakan kepada mereka ayat

sesuai kemampuan siswa, adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab “al-Adab” No. Telah lewat di hadapan ‘Aisyah seseorang bernama Sa’il, lalu

Masa Khulafaur Rasyidin (Khalifah-Khalifah yang lurus) adalah masa saat pemerintahan Islam dipimpin secara bergantian oleh Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan dan

Rasm Al-Qur’an atau adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan Mushaf Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal- lafalnya

Adapun Utsman Najati 2003, seorang pakar psikologi Islam mengutip beberapa pendapat ahli ilmu jiwa tentang indikator-indikator yang menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai kesehatan

Empat sahabat Rasul yang termasuk dalam khulafaur rasyidin adalah Abu Bakar Ash- Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib Masa pemerintahan Khulafaur

Kesimpulan Khulafaur Rashidin merupakan empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, yang dipilih umat Islam untuk memimpin setelah wafatnya Nabi