• Tidak ada hasil yang ditemukan

makna dakwah dalam tradisi sangkrep pada prosesi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "makna dakwah dalam tradisi sangkrep pada prosesi"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

Apa makna simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi Sangkrep di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo. Untuk mengetahui simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi Sangkrep di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

Telaah Pustaka

Dalam penelitian ini penulis ingin memfokuskan pada proses pelaksanaan tradisi tersebut dan juga makna yang terkandung dalam tradisi Sankrep di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo. Sumber data dalam penelitian ini adalah Sesepuh Dusun dan Masyarakat Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo.

KAJIAN TEORI

Konsep Tradisi 1) Pengertian tradisi

Khususnya pada masyarakat Jawa, tradisi dianggap penting karena menurut mereka merupakan warisan nenek moyang. Muludan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Muslim Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Makna Simbolis

Kebudayaan itu sendiri terdiri dari gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai sebagai hasil perbuatan manusia, sehingga timbul ungkapan: “Kebudayaan manusia begitu erat kaitannya dengan simbol-simbol karena manusia berpikir, merasakan, dan berperilaku melalui ekspresi-ekspresi simbolik.”61. Setiap simbol selalu berpotensi polisemi, dan hanya mempunyai makna jika dikontraskan dengan simbol lain secara keseluruhan.Menurut Jung, simbol agama adalah psikis alami dengan kehidupan organik dan evolusinya sendiri selama berabad-abad.

Dia menunjukkan bahwa bahkan saat ini kita mengidentifikasi simbol-simbol keagamaan otentik yang tumbuh seperti bunga dari alam bawah sadar. Simbol menampakkan dirinya baik dalam bentuk maupun isinya, seolah-olah jiwa bawah sadar yang sama muncul pada awal mula agama-agama besar dunia. Universalitas dan keefektifan simbol-simbol agama disebabkan oleh ekspresi tepat dari ketidaksadaran, yang menjadi alasannya.

Melalui simbol-simbol tersebut, ketidaksadaran kolektif melepaskan kesadaran yang terluka akibat perjuangan hidup64. Hal ini disebabkan karena simbol-simbol sakral bersumber dari etos dan pandangan hidup yang merupakan dua unsur terpenting bagi eksistensi manusia, dan juga karena simbol-simbol lain digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.67 Geertz dalam Bustanuddin Agus, menyatakan bahwa simbol adalah sesuatu yang konkrit dari gagasan, sikap, keputusan, keinginan, atau keyakinan masyarakat yang dapat dirasakan, yang merupakan rumusan pandangan atau abstraksi pengalaman. Bahwa masyarakat tersebut menganggap tumbuhan atau hewan sebagai sesuatu yang sakral sebagai simbol kesatuan sukunya.

Tradisi Masyarakat Jawa

Sebab, nilai budaya merupakan konsep tentang apa yang hidup dalam pikiran. Orang Jawa menganggap hakikat kehidupan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan konsep agama yang bernuansa mistis. Hakikat bekerja bagi orang Jawa adalah orang harus terus bekerja untuk mewujudkan apa yang diperjuangkannya.

Karena segala sesuatu yang diperjuangkan dan memerlukan usaha yang sungguh-sungguh memerlukan biaya dan uang. Karena menurut orang Jawa tidak perlu terburu-buru dalam melakukan sesuatu, yang penting selesai. Pandangan hidup orang Jawa menuntut masyarakat mengupayakan keamanan dunia dan isinya, agar tetap terjaga dan harmonis.

Seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, Suku Jawa sendiri terbagi menjadi wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, dimana terdapat banyak tradisi berbeda yang ada dalam masyarakat Jawa. Bentuk tradisi yang ada pada masyarakat jawa sangat beragam dan bermacam-macam bentuknya, mulai dari tradisi perkawinan, tradisi orang hamil, tradisi penyelamatan baik dari kematian maupun penyelamatan bumi.

Tradisi Sangkrep

Di desa saya sendiri hal ini terjadi menurut bacaan Al-Qur'an, bukan menurut cara Jawa. Dengan menggunakan simbol-simbol berupa benda-benda yang diyakini mampu menembus, sebagai perantara Tuhan. Percaya atau tidak, hal itu terjadi, dan jika tidak, biasanya akan menjadi topik pembicaraan orang lain; hal buruk juga bisa terjadi.

Bagi masyarakat Jawa, simbol merupakan media yang dapat menuntun manusia menuju tujuan spiritualnya. Oleh karena itu, keyakinan akan keberadaan simbol-simbol itu sakral sangat diperlukan, bahkan diperlukan bila manusia menginginkan kehidupan sejati (sejatining urip), yang dapat mempersatukan diri, alam, dan Tuhan. Makna simbolis dari ritual malam Mangbulan Sangkrep dan Mbubak pranikah di desa Karangpatihan Ponorogo adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat desa Karangpatihan dengan cara memohon doa kepada Tuhan agar keinginannya dapat terkabul dengan lancar.

Banyak hikmah dan nilai yang bisa dipetik dari ritual ini, mulai dari keyakinan, ketidakpercayaan hingga hal-hal mistis lainnya. Dan taburkan nasi yang diberi pewarna kunyit, lalu sebarkan nasi tersebut ke seluruh penjuru rumah, dimulai dari samping kiri rumah dan mengelilinginya. Dipercaya bahwa ketika Nabi Muhammad dikepung di rumahnya, ketika Nabi Muhammad dikepung di rumahnya, Nabi mengambil abunya, lalu membacakan doa dan menyebarkannya di sekitar rumah dan disanalah musuh yang mendekat menjadi mengantuk dan terjatuh. tertidur dan Nabi berhasil melarikan diri tanpa diketahui musuh.

PAPARAN DATA

99,98% penduduk di desa Karangpatihan beragama Islam sehingga tidak terdapat tempat ibadah kecuali masjid dan musala. Hal ini perlu dikembangkan lebih luas lagi agar dapat memberikan dampak ekonomi seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya Desa Karangpatihan. Keharmonisan masyarakat desa Karangpatihan menjadi modal penting dalam membangun budaya masyarakat yang dinamis khususnya di bidang seni.

77 Alip Sugianto, “Penelitian Potensi Desa Wisata Untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Ponorogo,” Equilibrium, Vol. Pak Sipur selaku pembawa acara pada saat pelaksanaan tradisi Sangkrep kepada masyarakat di Dukuh Bnedo Desa Karangpatihan mengatakan : 82. Kepercayaan masyarakat Desa Karangpatihan adalah ibu dan anaknya selalu sehat dan bahagia sampai nanti. mereka melahirkan.

Dalam upacara kematian, masyarakat desa Karangpatihan masih menganut upacara atau slametan bagi keluarga orang yang meninggal. Hal ini berdasarkan penuturan Mbah Nyaman, salah seorang sesepuh di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan sebagai berikut: 83. Tradisi Sangkrep merupakan tradisi yang ada di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

ح اَذِا دِسِاَحدَس

Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimarahi, dan bukan jalan orang-orang yang sesat.

ساَّنَلاَو

نْيِذَّلا

Dan mereka yang beriman kepada kitab Al-Quran yang diturunkan kepadamu (Muhammad SAW) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya hari akhirat.

ريِدَق ءَْيَشَ

Baik kamu mengungkapkan atau menyembunyikan apa pun yang ada di hatimu, Allah akan tetap memperhatikanmu. Semua beriman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, dan rasul-rasulnya. Kami tidak membeda-bedakan rasul yang satu dengan rasul yang lain.’ Mereka menjawab: ‘Kami mendengar dan menaatinya.

Dia mendapat pahala atas apa yang dia lakukan dan hukuman atas apa yang dia lakukan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Maksudnya: “Dan rahmat Allah dan rahmat-Nya (kami harap) mencurahkan ke atas kamu sekalian wahai Ahlulbayt.

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala kotoran daripada kamu, wahai Ahlulbayt, dan mensucikan kamu sebersih-bersihnya,”105 (Surah Al-Ahzab, ayat 33). Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu dan penghulu kami, Nabi Muhammad a.s. dan keluarganya, sebanyak ilmu-Mu dan tinta kalimat-kalimat-Mu pada waktu mengingat orang-orang yang mengingat dan di masa kemalasan. orang-orang yang lalai dari mengingati-Mu.” 107. Maksudnya: "Aku memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa".(3 kali).Allah) yang tiada Tuhan melainkan Dia yang hidup lagi Maha Mengetahui.

كِنا

Makna keimanan lainnya dalam tradisi Sangkrep adalah ungkapan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan upacara pernikahan dari awal hingga akhir acara. “Sangkrep merupakan sebuah tradisi yang jelas tujuannya memohon kepada Allah SWT untuk mendoakan terkabulnya keinginan seseorang, namun di dalamnya banyak hal, mulai dari merekatkan tali silaturahmi dan menumbuhkan sikap toleransi serta bahu membahu melakukan advokasi untuk mempersiapkan diri. apa yang diperlukan dalam tradisi Sangkrep.” Dari pernyataan di atas peneliti menyimpulkan bahwa tradisi Sangkrep merupakan warisan budaya yang patut dilestarikan diantara warisan budaya yang ada di Selo.

Salah satu bentuk ekspresi moral dalam pelestarian tradisi Sangkrep adalah dengan mengkaji dan memupuk sikap bangga terhadap tradisi tersebut sebagai bagian dari jati diri yang tidak dapat dilepaskan dari kawasan Dusun Bendo. Dari pernyataan di atas peneliti menyimpulkan bahwa tradisi Sangkrep merupakan tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Provinsi Ponorogo, dan memberikan manfaat dalam dinamika kehidupan seperti meningkatkan persahabatan. hubungan. Tradisi Sangkrep yang dilakukan masyarakat Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo merupakan tradisi yang selalu hadir dalam prosesi pernikahan.

Pertunjukan tradisi Sangkrep dirancang sebagai wujud perwujudan nilai-nilai keagamaan dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat, karena motif keagamaan dapat menjadi salah satu kecenderungan penting dalam penyelenggaraan suatu upacara atau ritual bagi masyarakat. Merupakan wujud memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan adat istiadat dan simbol-simbolnya. Berdasarkan data di atas, peneliti meyakini bahwa simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi Sangkrep di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Provinsi Ponorogo bukan sekedar simbol biasa melainkan mengandung makna yang mengungkapkan kebesaran Allah SWT.

PENUTUP

Saran

Setelah melakukan penelitian dan menemukan kesimpulan tentang makna dakwah tradisi sangkrep dalam prosesi pernikahan Dusun. Harapannya masyarakat terus melestarikan dan memasyarakatkannya sehingga dapat meningkatkan edukasi dan melestarikan peninggalan nenek moyang khususnya tradisi dalam prosesi pernikahan seperti tradisi sangkrep. Tradisi sangkrep artinya ya menolak kejahatan, artinya memohon, berdoa kepada Allah SWT.

Warga Dusun Bendo dari dulu hingga sekarang masih sangat memegang teguh bahwa dalam setiap tradisi pasti menggunakan ayam ingkung karena menjadi atribut ketika seseorang harus menunaikan hajat. Masyarakat Dusun Bendo masih mempercayai bahwa sego golong merupakan representasi dari para leluhur dan juga Walisongo yang ketika berdakwah menyebarkan agama Islam dengan simbol-simbol seperti nasi yang dibentuk agar mudah dipahami oleh masyarakat. Brokohan sendiri, ketika masyarakat Dusun Bendo mengadakan hajatan, ada yang memanfaatkannya dan ada pula yang tidak sesuai kebutuhan tuan rumah.

Masyarakat Dusun Bendo meyakini bahwa nasi merupakan obat kejahatan dan rumah tersebut dilindungi secara gaib oleh ridho Allah SWT. Pemuda yang menyajikan atau membawakan makanan, peralatan adat Sangkrep untuk para sesepuh dan beberapa warga sudah habis. Refleksi Proses Penerapan Tradisi Sangkrep Dalam Prosesi Pernikahan di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo.

Biografi Mahasiswa

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana bentuk dan fungsi dari upacara tradisi Ngundhuh Sarang Burung Walet, serta apa makna simbolik yang terdapat dalam upacara tradisi

Makna simbolik ubarampe yang terdapat dalam tradisi Rasulan di Dusun Kropak dapat dilihat dari berbagai macam ubarampe yang digunakan, seperti gunungan yang

Dari ulasan tentang makna-makna simbolik yang terkandung dalam bagian- bagian prosesi upacara adat Sedekah Laut di Desa Tanjungan Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mendeskipsikan (1) Prosesi tradisi Baritan di Desa Kedungwringin, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen (2) Makna dan fungsi Baritan

Informan yang tidak paham akan makna simbolik prosesi adat Jawa tetap menjalankan kehidupan rumah tangganya berdasarkan pengalaman hidup orang tuanya dan berdasarkan

Berdasarkan uraian dari benda-benda tersebut dengan merujuk kepada makna denotasi dan makna konotasinya, maka makna simbolik yang terkandung dalam ke13 benda yang terdapat dalam tradisi

KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bentuk simbolik prosesi Akkattang ‘khitan’ pada masyarakat Makassar di Desa Pallangga Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa berdasarkan

Namun seiring perkembangan zaman tidak sedikit juga masyarakat Jawa dan lainnya belum mengetahui seperti apa bentuk, makna, dan fungsi simbolik dari tradisi tedak siten tersebut.6