• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen K3 Pekerjaan Erection Girder Metode HIRARC Studi Kasus Jalan Tol Semarang – Demak Paket 2

N/A
N/A
ELFIAN AJI NUGRAHA GYMNASTYAR

Academic year: 2024

Membagikan "Manajemen K3 Pekerjaan Erection Girder Metode HIRARC Studi Kasus Jalan Tol Semarang – Demak Paket 2"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN K3 PEKERJAAN ERECTION GIRDER MENGGUNAKAN METODE HIRARC STUDI KASUS TOL SEMARANG – DEMAK PAKET 2

Muhammad Alwi Febriyanto

(Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta) E-mail : [email protected]

Suryo Handoyo,S.T.,M.T.

(Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta) E-mail : [email protected]

Gatot Nursetyo,S.T.,M.T.

(Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta) E-mail : [email protected]

Abstrak

Pada tahun 2020 PT Wijaya Karya berkesempatan ikut serta dalam pembangunan Jalan Tol yang berada pada daerah pantura Jalan Tol Semarang-Demak. Pembangunan yang dilakukan terdapat pekerjaan yang memiliki faktor tingkat risiko kecelakaan yang tinggi yaitu pekerjaan erection girder, yang dimana Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus diperhatikan betul. Untuk penelitian ini meneliti tentang manajemen K3 pekerjaan erection girder menggunakan metode hirarc studi kasus Tol Semarang-Demak Paket 2. Untuk penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang dimana metode yang dilakukan yaitu dengan cara pengambilan sampel dilakukan proposive sampling dengan cara mengambil sampel dengan responden kuesioner 20 orang. Dari hasil penelitian ini mencari tingkat kemungkinan dan keparahan dan hasilnya digunakan untuk menentukan seberapa besar tingkat risiko, diketahui dari hasil tingkat kemungkinan dan keparahan diambil yang paling mendominasi pada setiap aktivitas pekerjaan erection girder memiliki level risiko yang paling exstrime. Pada pekerjaan erection girder ini pada aktivitas pekerjaan yang mendominasi adalah pada level sangat tinggi (high) dan risiko sedang (medium). Potensi bahaya K3 yang dapat timbul antaranya cidera, patah tulang, cacat sampai meninggal dunia. Agar mengurangi angka kecelakan maka diwajibkan untuk pekerja menggunkan APD lengkap pada proses pekerjaan erertion girder.

Kata kunci : Hirarc, K3, Pekerjaan Erection Girder Tol Semarang-Demak Paket 2

(2)

ABSTRACT

in 2020 PT Wijaya Karya had the opportunity to participate in the construction of a toll road located in the northern coast of the Semarang-Demak Toll Road. The construction carried out includes work that has a high accident risk factor, namely erection girder work, in which Occupational Health and Safety must be considered properly. This research examines the K3 management of erection girder work using the case study hierarchical method of the Semarang-Demak Toll Road Package 2. For this study using a quantitative descriptive method in which the method used is by taking a sample using a proportional sampling method by taking samples with questionnaire respondents. person. From the results of this study looking for the level of likelihood and severity and the results are used to determine how big the level of risk is, it is known from the results that the level of likelihood and severity is taken which most dominates in each erection girder work activity having the most extreme risk level. In this erection girder work, the dominating work activities are at a very high level (high) and moderate risk (medium). Potential K3 hazards that can arise include injury, broken bones, disability and even death. In order to reduce the number of accidents, it is mandatory for workers to use complete PPE in the erection girder work process.

Keywords: Hirarc, K3, Erection Girder Work for Semarang-Demak Toll Road Package 2

I. PENDAHULUAN

Proses pambangunan konstruksi baik itu proyek jalan maupun gedung, telah banyak mengalami perkembangan dari segi alat kerja dan pada keselamatan kerja. Tentunya hal ini terjadi karena pekerjaan yang dilakukan manusia dengan alat konvensional sudah tidak efisien, sehingga perlunya suatu sistem keselamatan kerja yang baik untuk suatu proyek dan memliki standart sendiri dalam penerapan K3 pada proyek tersebut.

Proyek yaitu suatu kumpulan kegiatan yang dimaksud untuk mencapai suatu hasil akhir yang tertentu dan cukup penting bagi kepentingan pada pihak manajemen. Pada proses suatu pembangunan konstruksi itu merupakan suatu kegiatan yang dimana

mengandung suatu unsur bahaya. Pada suatu pekerjaan konstruksi itu pekerjaan yang berbahaya adalah pekerjaan dalam ketinggian dan yang menggunakan alat berat. Pada pekerjaan konstruksi diperlukannya keselamatan dan kesehatan kerja dikarenakan pada pekerjaan ini kecelakaan kerja yang terjadi sangat cenderung serius sering sekali mengakibatkan cacat dan bahkan kematian. Kejadian ini akan mengakibatkan kecelakaan yang fatal. Sementara resiko kurang dipahami para pekerja konstruksi, dan sering kali mengabaikan penggunaan alat pelindung (personal full arrest system) yang sebenarnya telah diatur dalam pedoman K3 konstruksi.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang merupakan bagian penting pada suatu pekerjaan.

Resiko kegagalan (risk of failures) dapat terjadi

(3)

pada aktivitas pekerjaan yang disebabkan pada pelaksaan yang kurang cermat, maupun akibat yang tidak sengaja. Salah satu resiko pekerjaan yang dapat terjadi adalah kecelakaan kerja.

Kecelakaan kerja (work accident) akan mengakibatkan adanya efek kerugian seberapapun jumlahnya. Oleh karena itu sedapat mungkin kecelakaan kerja harus dicegah, atau jika mungkin dapat dikurangi, atau setidaknya dihilangkan dampaknya.

Hirarc (Hazard Indentification, Risk Assesment And Risk Control) adalah serangkaian proses mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi dalam aktifitas rutin ataupun non rutin diperusahaan, kemudian adanya penilaian risiko dari bahaya tersebut lalu membuat program untuk pengendalian bahaya tersebut agar dapat meminimalisir tingkat risikonya ke yang lebih rendah dengan tujuan mencegah mencegah kecelakaan.

(Hspaacademy. Com)

Dengan kurangnya kesadaran masyarakat pada masalah keselamatan kerja, dan rendahnya tingkat kesadaran keselamatan mengakibatkan pada penerapan peraturan keselamatan kerja yang masih jauh optimal, maka pada akhirnya masih tingginya angka kecelakaan yang menerapkan sebagian besar disebabkan oleh adanya anggapan bahwa progam K3 hanya akan menjadi tambahan beban biaya perusahaan.

Dengan adanya Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang harus dijadikan hal penting dan memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja karena dampak kecelakaan kerja dapat saja timbul dan menghambat pekerjaan yang sedang dikerjakan dalam proyek konstruksi. Pengertian

Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur. Tujuan dibuatnya progam K3 adalah untuk mengurangi biaya perusahan apabila timbul kecelakaan akibat kerja dan menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.

II. METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yaitu untuk memberikan suatu gambaran yang jelas dan tepat tentang penilaian risiko dan bahaya-bahaya apa saja yang terdapat pada proyek pekerjaan pemasangan girder pada proyek pembangunan jalan tol semarang-demak paket 2. Setiap tahapan merupakan bagian dalam penentuan untuk menjalankan tahapan selanjutnya.

Pengembangan data dengan melakukan analisis deskriptif mulai dari tahap pengumpulan informasi mengenai proyek dan pengumpulan data yang akan digunakan pada proses penelitian berlangsung. Untuk pembahasan pada laporan penelitian ini penulis hanya menuliskan tentang apa yang ada pada pandangan penulis, seperti mengambarkan subjek objek yang akan diteliti.

Dalam penelitian ini yang akan dibahas mengenai tentang keselamatan, kesehatan kerja proses perkerjaaan pasangan erection girder pada proyek pembangunan jalan tol semarang- demak paket 2.

(4)

B. Pengumpulan Data

1. Data Primer a. Wawancara

Sebelum dilakukaknya pengumpulan data hal yang harus digunakan dengan cara ini dilakukan dengan mewawancarai kepada responden yang telah ditentukan sebelumnya mengenai pengaruh (K3) terhadap pekerja pada pekerjaan erection girder proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak.

b. Observasi

Observasi yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung di lapangan secara visual. Data hasil pengamatan dan penelitian di lapangan dicatat dan diolah untuk dijadikan bahan atau data untuk laporan penelitian.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan data-data atau objek yang kita lihat dan kita dokumentasikan dari lapangan yang berfungsi sebagai pelengkap atau arsip.

Sehingga kita lebih jelas dan mudah mengingat gambar yang telah kita pelajari atau lebih kita lihat dilapangan.

2. Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh dari pihak kontraktor pelaksana. Dalam hal ini yang bertindak menjadi konsultan pelaksana yaitu PP- WIKA Konsorsium.

C. Cara Pengumpulan Data

Pengolahan data dilakukan apabila data sudah mencukupi, pada Analisa data

dan pengolahan data yang akan dilakukan dirangkum dan disusun indentifikasi mengenai potensi bahaya dan penilaian risiko pada proses pekerjaaan pemasangan erection girder yang akan dilaksanakan oleh PT.

Wijaya Karya pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Paket 2. Dengan berdasarkan Metode Hirarc, urutan dari proses pengolahan data untuk menentukan penilaian risiko, pengendalian risiko dan serta cara untuk meminimalisir kecelakaan kerja pada proses pemasangan girder yaitu:

1. Melakukan identifikasi sumber bahaya dan dampak K3 apa saja yang bisa timbul pada setiap aktivitas pekerjaan pemasangan girder.

2. Melakukan penilaian tingkat kekerapan/kemungkinan dengan kriteria (Jarang terjadi, Kemungkinan kecil, Mungkin, Kemungkinan besar, Hampir pasti). Serta melakukan deskripsi menggunakan analisis kualitatif dan semi kualitatif.

3. Lalu melakukan penilaian tingkat keparahan dengan kriteria (Tidak signifikan, Kecil, Sedang, Berat dan Bencana).

4. Terakhir hasil rekapan dari penilaian risiko pada setiap aktivitas pekerjaan pemasangan girder.

(5)

D. Bagan Alir Penelitian

Gambar 1.1 Bagan Alir Penelitian III. PEMBAHASAN DAN HASIL

Pada Proyek Jalan Tol Semarang-Demak Paket 2, dari perencanaan pembangunan jalan tol tersebut adanya pembangunan jembatan yang berada langsung diatas jalan antar provinsi semarang-demak. Untuk perencaan pembangunan jalan tol tersebut akan dilakukannya pemasangan girder. Perencanaan keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap pekerjaan konstruksi dimulai dengan melakukannya identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penentuan pengendalian pada perencanaan sistem manajemen K3.

Pada pekerjaan pemasangan girder yang dilaksanakan oleh PT. Wijaya Karya proyek pembangunan jalan tol semarang-demak dengan menggunakannya metode hirarc supaya bisa meminimalisir angka kecelakaan kerja yang yang dapat timbul yang berada pada lingkungan area proyek. Untuk itu risiko harus didefinisikan dalam bentuk suatu rencana atau ter-prosedur.

Pada keselamatan, kesehatan dan kerja sudah dikerjakan oleh tim SHE pada proyek pembangunan jalan tol tersebut dengan mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi faktor-faktor terjadinya kecelakaan kerja seperti identifikasi bahaya dan tentang penilaian risiko kecelakaan kerja. Dengan dilakukannya identifikasi perlunya identifikasi bahaya maka penilaian risiko dapat diketahui melalui rumus untuk menemukan frekuensi/peluang (probability) dan keparahan (serverity).

Proses penilaian risiko yang dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Penilaian tingkat kekerapan

Penilaian terhadap tingkat kekerapan atau keseringan pada terjadinya suatu kecelakaan/sakit akaibat kerja, dan harus mempertimbangkan tentang berapa sering dan berapa lama seseorang tenaga kerja terpapar potensi bahaya.

b. Penilaian tingkat keparahan

Apabila telah melakukan penilaian pada tingkat keparahan kecelakaan kerja/sakit akibat kerja maka langkah selanjutnya perlu dilakukannya membuat keputusan tentang keparahan kecelakaan/sakit yang mungkin terjadi. Untuk penentuan suatu tingkat keparahan kecelakaan kerja perlunya suatu pertimbangan yang harus dilakukan tentang seberapa banyak orang yang terkena dari dampak pada suatu kecelakaan kerja, dan pada bagian tubuh apa saja yang terkena paparan potensi bahaya atas kecelakaan kerja.

c. Penentuan tingkat risiko

Setelah dilakukannya penilaian pada tingkat kekerapan dan tingkat keparahan pada saat terjadinya kecelakaan kerja atau penyakit yang

(6)

mungkin bisa timbul, lalu langkah selanjutnya perlu dilakukanya suatu penentuan tingkat risiko dari masing-masing bahaya pada step pekerjaan yang telah dilakukannya identifikasi dan dinilai.

d. Prioritas risiko

Apabila telah dilakukanya penentuan tingkat risiko, selanjutnya harus dibuat suatu skala penentuan risiko pada setiap potensi bahaya pada pekerjaan tersebut dan mengidentifikasi risiko dengan tepat dan akurat.

Pada potensi bahaya tingkat risiko antara lain mendesak/exstrim (urgent/exstrame) menjadi prioritas utama High, Medium, dan Low.

Sedangkan tingkat risiko tidak ada/sepele (none/trivial) umtuk sementara dapat diabaikan dari rencana pada penegendalian risiko (Tarwaka, 2008).

Identifikasi Sumber Bahaya

Dengan Pekerjaan. erection Girder dengan panjang 50.8 meter

Tabel 1. Hasil pemeriksaan agregat kasar ukuran 1-2 cm

No Aktivitas Pekerjaan Potensi Bahaya Potensi Dampak K3

1

Penurunan PCI Girder dan alat Launcher dari trailer ke stokyard

1. Tertimpa girder - Cidera - Patah Tulang - Cacat - Meninggal 2. Tertimpa launcher

2

Sterssing girder:

Proses pekerjaan struktur jembatan sebelum dilakukannya erection girder.

1. Kabel tendon putus - Cidera - Patah Tulang - Cacat - Meninggal 2. Tertimpa Material

Asing

3 Perakitan dan pemasangan alat launcher

1. Tertimpa Launcher - Cidera - Patah Tulang - Cacat - Meninggal 2. Pekerja jatuh dari

ketinggian

4

Erection girder:

Proses pemasangan girder dengan bantuan alat launcher.

1. Tertimpa girder

- Cidera - Patah Tulang - Cacat - Meninggal

2. Tertimpa launcher

3. Pekerja jatuh dari ketinggian

5

Pemasangan Bracing Girder untuk stabilitas girder

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

- Cidera - Patah Tulang - Cacat - Meninggal 2. Pekerja terkena

percikan api las

6 Pengecoran Diagfragma

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

- Cidera - Patah Tulang - Cacat - Meninggal 2. Tertimpa material

asing(bongkahan girder/sampah)dll

7

Pemasangan Spandek, Pembesian slab dan pengecoran slab

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

- Cidera - Patah Tulang - Cacat - Meninggal 2. Tertimpa material

asing(bongkahan girder/sampah)dll

Total dari hasil pemilihan pada setiap responden tentang penentuan tingkat kemungkinan dan keparahan pada setiap aktivitas pekerjaan dan serta potensi bahaya pada pekerjaan, dengan total hasil yang paling mendominasi dan yang digunakan untuk penentuan tingkat kemungkinan dan keparahan sebagai berikut:

1. Penilaian Tingkat Kemungkinan Terjadi Pada Setiap Aktivitas Pekerjaan:

a) Penurunan PCI Girder dan alat Launcher dari trailer ke stokyard: Aktivitas 1 didominasi 14 orang memilih Jarang, Aktivitas 2 didominasi 15 orang memilih Jarang.

b) Sterssing girder: Proses pekerjaan struktur jembatan sebelum dilakukannya erection girder. Aktivitas 1 didominasi 13 orang memilih Sering, Aktivitas 2 didominasi 13 orang memilih Sering.

(7)

c) Perakitan dan pemasangan alat launcher.

Aktivitas 1 didominasi 15 orang memilih Jarang, Aktivitas 2 didominasi 15 orang memilih Jarang.

d) Erection girder: Proses pemasangan girder dengan bantuan alat launcher. Aktivitas 1 didominasi 14 orang memilih Jarang, Aktivitas 2 didominasi 15 orang memilih Jarang, Aktivitas 3 didominasi 15 orang memilih Jarang.

e) Pemasangan Bracing Girder untuk stabilitas girder. Aktivitas 1 didominasi 15 orang memilih Jarang, Aktivitas 2 didominasi 11 orang memilih Sedang.

f) Pengecoran Diagfragma. Aktivitas 1 didominasi 15 orang memilih Jarang, Aktivitas 2 didominasi 13 orang memilih Sering.

g) Pemasangan spandek, Pembesian slab dan Pengecoran slab. Aktivitas 1 didominasi 15 orang memilih Jarang, Aktivitas 2 didominasi 13 orang memilih Sering.

2. Penilaian Tingkat Keparahan Pada Setiap Aktivitas Pekerjaan:

a) Penurunan PCI Girder dan alat Launcher dari trailer ke stokyard: Aktivitas 1 didominasi 14 orang memilih Berat, Aktivitas 2 didominasi 13 orang memilih Berat.

b) Sterssing girder: Proses pekerjaan struktur jembatan sebelum dilakukannya erection girder. Aktivitas 1 didominasi 10 orang memilih Sedang, Aktivitas 2 didominasi 12 orang memilih Ringan.

c) Perakitan dan pemasangan alat launcher.

Aktivitas 1 didominasi 13 orang memilih

Berat, Aktivitas 2 didominasi 10 orang memilih Berat.

d) Erection girder: Proses pemasangan girder dengan bantuan alat launcher. Aktivitas 1 didominasi 14 orang memilih Berat, Aktivitas 2 didominasi 13 orang memilih Berat, Aktivitas 3 didominasi 10 orang memilih Berat.

e) Pemasangan Bracing Girder untuk stabilitas girder. Aktivitas 1 didominasi 10 orang memilih Berat, Aktivitas 2 didominasi 12 orang memilih Ringan.

f) Pengecoran Diagfragma. Aktivitas 1 didominasi 10 orang memilih Berat, Aktivitas 2 didominasi 12 orang memilih Ringan.

g) Pemasangan Spandek, Pembesian slab dan pengecoran slab. Aktivitas 1 didominasi 10 orang memilih Berat, Aktivitas 2 didominasi 12 orang memilih Ringan.

Penilaian Risiko

Setelah dilakukannya identifikasi sumber bahaya pada setiap aktivitas pekerjaan maka selanjutnya dilakukannya tinjauan yang dapat dikatagorikan berdasarkan pada tabel 4.7 tentang identifikasi potensi bahaya dan k3 dengan menggunakan panduan tabel pembantu matriks penentuan tingkat risiko sebagai berikut:

Tabel 2. Matrik penentuan tingkat risiko

SKALA KEPARAHAN

Tingkat Risiko

1 2 3 4 5

KEMUNGKINAN

5 (5)H (10)H (15)E (20)E (25)E E : Exstrim 4 (4)M (8)H (12)H (16)E (20)E H : Risiko Tinggi 3 (3)L (6)M (9)H (12)E (15)E M : Risiko Sedang 2 (2)L (4)L (6)M (8)H (10)E L : Risiko Rendah

1 (1)L (2)L (3)M (4)H (5)H

KEMUNGKINAN KEPARAHAN

1. SJ = Sagat Jarang 1. SR = Sangat Ringan 2. J = Jarang 2. R = Ringan

3. SD = Sedang 3. SD = Sedang

4. S = Sering 4. B = Berat 5. SS = Sangat Sering 5. SB = Sangat Berat

(8)

Tabel 3. Penilaian Tingkat Kemungkinan

Tabel 4. Penilaian Tingkat Keparahan

Rekapitulasi Penilaian Kemungkinan dan Keparahan Proses Erection Girder.

Apabila pada setiap pekerjaan sudah dikelompokan maka dapat ditentukan hasil penilaian risiko pada proses pekerjaan erection girder dengan menggunakan alat bantu dari tabel matriks penentuan penilaian risiko dari penilaian tingkat kemungkinan terjadi dan tingkat

keparahan pada setiap aktivitas pekerjaan dan sebagaiberikut:

Tabel 5. Rekap penilaian risiko Erection girder Aktivitas

Pekerjaan

Potensi Bahaya

Kemungki nan Terjadi

Keparah an Penurunan

PCI Girder dan

alat Launcher dari trailer

ke stokyard

1. Tertimpa

girder 2 4

2. Tertimpa

launcher 2 4

Sterssing girder:

Proses pekerjaan

struktur jembatan

sebelum dilakukan

nya erection

girder.

1. Kabel tendon putus

4 3

2. Terimpa Material asing

4 2

Perakitan dan pemasang

an alat launcher

1. Tertimpa

Launcher 2 4

2. Pekerja jatuh dari ketinggian

2 4

Erection girder:

Proses pemasang

an girder dengan bantuan

alat launcher.

1. Tertimpa

girder 2 4

2. Tertimpa

launcher 2 4

3. Pekerja jatuh dari ketinggian

2 4

Pemasanga n Bracing Girder

untuk stabilitas

girder

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

2 4

2. Pekerja terkena percikan api las

3 2

Pengecoran Diagfragma

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

2 4

Kemungkinan (P)

Level Kriteria Deskripsi

Kualitatif Semi Kualitatif

1 Sangat Jarang

Dapat diperkirakan tetapi tidak hanya saat keadaan ekstrim

Terjadi kurang dari sekali dalam setahun.

2 Jarang

Belum terjadi tetap bisa muncul pada suatu waktu

Terjadi 1 kali per tahun

3 Sedang

Seharusnya terjadi dan mungkin telah terjadi / di tempat lain

Terjadi 1 kali 5 tahun, sampai 1 kali per tahun

4 Sering

Terjadi dengan mudah, mungkin muncul dalam keadaan yang sering banyak terjadi.

Terjadi lebih dari 1 kali per tahun sampai 2 kali per bulan

5 Sangat Sering

Sering terjadi diharapkan muncul dalam keadaan yang paling banyak terjadi.

Terjadi lebih dari 1 kali per bulan

Keparahan (S)

Level Kriteria Deskripsi

Kualitatif Semi Kualitatif

1 Sangat Ringan

Kejadian tidak menimbulkan kerugian atau cidera pada

manusia.

Tidak menyebabkan kehilangan hari

kerja.

2 Ringan

Menimbulkan cidera ringan, kerugian kecil, dan tidak menimbulkan dampak serius

terhadap kehilangan bisnis.

Masih dapat bekerja pada hari /

sift yang sama.

3 Sedang

Cidera berat dan dirawat dirumah sakit, tidak menimbulkan cacat tetap, kerugian finansial sedang.

Kehilangan hari kerja dibawah 3

tahun.

4 Berat

Menimbulkan cidera parah, cacat tetap, kerugian finansial

besar, dan menumbilkan dampak serius terhadap kelangsungan usaha.

Kehilangan hari kerja 3 hari atau

lebih.

5 Sangat Berat

Mengakibatkan korban meniggal dan kerugian parah

bahkan dapat menghentikan kegiatan usaha selamanya.

Kehilangan hari kerja selamanya.

(9)

2. Tertimpa material asing (bongkahan girder/samp ah) dll

4 2

Pemasanga n Spandek, Pembesian slab dan pengecoran

slab

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

2 4

2. Tertimpa material asing (bongkahan girder/samp ah) dll

4 2

Tabel 6. Rekap Tingkat Risiko Erection Girder

Aktivitas Pekerjaan

Potensi Bahaya

Tingkat Risiko

Level Risiko Penurunan

PCI Girder dan alat Launcher dari trailer ke stokyard

1. Tertimpa

girder 8 H

2. Tertimpa

launcher 8 H

Sterssing girder:

Proses pekerjaan

struktur jembatan

sebelum dilakukanny

a erection girder.

1. Kabel tendon putus

12 H

2. Tertimpa material asing

8 H

Perakitan dan pemasangan

alat launcher

1. Tertimpa

Launcher 8 H

2. Pekerja jatuh dari ketinggian

8 H

Erection girder:

Proses pemasangan

girder dengan bantuan alat

1. Tertimpa girder

8 H

2. Tertimpa launcher

8 H

3. Pekerja 8 H

launcher. jatuh dari ketinggian Pemasangan

Bracing Girder

untuk stabilitas

girder

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

8 H

2. Pekerja terkena percikan api las

6 M

Pengecoran Diagfragma

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

8 H

2. Tertimpa material asing (bongkahan girder/samp ah) dll

8 H

Pemasangan Spandek, Pembesian

slab dan pengecoran

slab

1. Pekerja jatuh dari ketinggian

8 H

2. Tertimpa material asing (bongkahan girder/samp ah) dll

8 H

Dengan terdapatnya level risiko yang sangat tinggi dapat timbul pada pekerjaan pemasangan PCI Girder pada pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Paket 2. Untuk setiap aktivitas pada pekerjaan pemasangan girder peralatan dan material yang digunakan dapat mengakibatkan bahaya dan mengakibatkan dampak yang paling fatal. Dikarenakan pada setiap aktivitas pekerjaan pemasangan girder yaitu sanggat tinggi (High) maka untuk meminimalisir kecelakaan kerja harus segera adanya tindakan-tindakan untuk dikurangi dengan timbulnya terjadi kecelakan kerja ataupun dapat dihilangkan agar pekerja dapat aman dalam bekerja.

(10)

Identifikasi Aspek dan Dampak Erection Girder Bagi Lingkungan

Lingkungan suatu keadaan sekeliling dimana adanya suatu organisasi yang dimana terdapat sumber daya alam, manusia, flora, fauna, udara, air, tanah dan beserta interaksinya.

Dalam aspek pada lingkungan adanya unsur kegiatan atau produk ataupun jasa organisasi yang dapat berinteraksi dengan lingkungan, dan dampak pada lingkungan Setiap perubahan pada lingkungan, baik yang merugikan atau bermanfaat, yang keseluruhannya ataupun Sebagian disebabkan oleh aspek lingkungan organisasi. Berikut penanganganan indentifikasi erection girder pada lingkungan sekitar:

Tabel 7. Aspek impact Erection Girder pada lingkungan

No Kegiatan Aspek Pengendalian 1 Clearing

- Ketidak nyaman nan masyarak at akibat alat berat.

- Adanya timbul polisi udara.

- Sosialisasi kepada masyarakat tentang pembanguna n proyek - Penyiraman

jalan secara berkala pada lokasi pekerjaan

2 Penutupan Jalan

-Timbulnya Kemacetan pada jalan.

- Sosialisasi kepada masyarakat tentang pembanguna n proyek.

- Keoordinasi kepada pihak

kepolisian dan dishub terkait.

3 Pemindaha n arus jalan

- Masyarakat

harus memutar arah atau lewat jalan

lain.

- Sosialisasi kepada masyarakat tentang pembanguna n proyek.

- Keoordinasi kepada pihak kepolisian dan dishub terkait.

- Dilakukanny a pembuatan jalan

smentara bagi warga sekitar.

Alat Pelindung Diri Pada Erection Girder

Alat pelindung diri (APD) adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja (Depnaker, 2006). APD adalah alat pelindung diri yang dipakai oleh tenaga kerja secara langsung untuk mencegah kecelakaan yang disebabkan oleh berbagai faktor yang ada atau timbul di lingkungan kerja (Soeripto, 2008).

Terdapat beberapa contoh alat pelindung diri dengan SNI dan standar internasional lainya yaitu:

1. Topi Pengaman (Helmet) sesuai ANZI Z 89, 1997 Standar.

(11)

2. Sepatu Pengaman (Safety Boots) Sesuai SII-0645-82, DIN 4843, Australian Standard As/NZS 2210.3.2000. ANZI Z 41PT 99, SS105, 1997.

3. Sabuk Pengaman (Safety Belt) Sesuai EN 795 Class C ANZI OSHA.

Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan pada proses pemasangan girder yang dapat dibagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut:

1. Alat Pelindung Kepala

Topi Keselamatan (Safety Helmet) untuk bekerja di tempat berisiko karena benda jatuh atau melayang, dan dilengkapi dengan ikatan ke dagu untuk menghalangi terlepasnya helmet dari kepala akibat menunduk atau kena benda jatuh.

2. Alat Pelindung Mata dan Muka

Kaca Mata Pelindung (Protective Goggles) untuk melindungi mata dari percikan logam cair, percikan bahan kimia, serta kacamata pelindung untuk pekerjaan menggerinda dan pekerjaan berdebu. Masker Pelindung Pengelasan yang dilengkapi kaca pengaman (Shade of Lens) yang disesuaikan dengan diameter batang las (Welding Rod).

3. Alat Pelindung Tangan

Sarung tangan untuk pekerjaan yang dapat menimbulkan cedera lecet atau terluka pada tangan seperti pekerjaan pembesianfabrikasi dan penyetelan, pekerjaan las, membawa barang seperti asam dan alkali.

4. Alat Pelindung Kaki

Sepatu Keselamatan (Safety Boots) untuk menghindari kecelakaan yang diakibatkan tersandung bahan keras seperti logam atau kayu, terinjak atau terhimpit beban berat atau mencegah luka bakar pada waktu mengelas.

Sepatu boot karet bila bekerja pada pekerjaan tanah dan pengecoran beton.

5. Alat Pelindung Telinga

Alat pelindung telinga digunakan untuk

mencegah rusaknya pendengaran akibat suara bising di atas ambang aman seperti pada saat pekerjaan plat logam.

6. Alat Pelindung Tubuh

Alat pelindung tubuh berupa pakaian kerja.

Pakaian kerja yang digunakan pekerja harus sesuai dengan lingkup pekerjaannya. Pakaian tenaga kerja pria yang melayani mesin harus sesuai dengan pekerjaanya. Pakaian kerja wanita sebaiknya berbentuk celana panjang,baju yang pas,tutup rambut dan tidak memakai perhiasanperhiasan.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Pada proyek konstruksi yang dilaksanakan oleh PT Wijaya Karya pekerjaan erection girder yaitu.

a. Pada pekerjaan erection girder memiliki tingkat risiko sangat tinggi yaitu pada aktivitas pekerjaan stressing girder potensi bahaya yang akan timbul kabel tendon bisa putus.

b. Pada pekerjaan erection girder ini aktivitas pekerjaan yang mendominasi adalah pada level sangat tinggi (high) dan risiko sedang (medium).

c. Potensi bahaya K3 yang dapat timbul antanya cidera, patah tulang, cacat sampai meninggal dunia.

2. Strategi untuk meminimalisir/pengurangan kecelakaan kerja pada pekerjaan erection girder yaitu.

a. Pekerjaan wajib menggunakan APD lengkap pada proses pekerjaan erection

(12)

girder. Serta untuk untuk operator alat berat harus memiliki sertifikat SIO (Surat Ijin Operator) dan untuk alat berat juga harus memiliki sertifikat SIA (Surat Ijin Alat) serta alat yang digunakan harus sering dilakukannya pengecekan.

b. Selalu dilakukannya pengecekan kesehatan pekerja setiap hari sebelum pekerja memulai bekerja dan dilakukannya pengecekan alat yang akan digunakan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang diberikan sebagai berikut :

1. APD yang digunakan pada pekerjaan konstruksi harus sesuai SNI yang berlaku.

2. Semua pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi selalu mengutamakan dan memprioritaskan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

3. Dilakukanya pengarahan sebelum dan sesudah pekerjaan berlangsung.

4. Perlunya penelitian lebih lanjut terkait pekerjaan struktur atas lainnya dengan metode berbeda sehingga menjadi temuan baru untuk dunia konstruksi khususnya pada K3 untuk meminimalisir risikonya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada PT Wijaya Karya Proyek Pembangunan Jalan TOL Semarang- Demak khususnya TIM SHE yang telah memberikan tempat dan ruang untuk penelitian serta teman-teman yang sudah membantu dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

A.M. Sugeng Budiono. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan Kesehatan Kerja. Semarang : Badan Penerbit UNDIP

AS/NZS 4360:1999 (The Australian Standard/New Zealand Standart), 2004. Risk Management Guidelines.

Internationa Labour Organitation. 1989.

Pencegahan Kecelakaan. Jakarta. PT. Pustaka Binaman Pressindo.

Kerznet, Harold, Project Management, a System Approach to Planning, Scheduling, and Controling, seventh edition, 2001.

NSW Health and Safety (2008). Risk Management Program.

Ramli, Soehatman. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja OHSAS 18001. Jakarta: Dian Rakyat, 2010

Silalahi N. B Bennett., Silalahi B. Rumondang, 1991; “Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja”, cetakan kedua, Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen: PT.

Pustaka Binaman Pressindo.

Simatupang, Hasudungan. "Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja." Journal of Law and Policy Transformation 1.2 (2017): 194-225.

Suma’mur. P.K. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. PT. Gunung Agung, Jakarta: 1989.

Suma’mur P.K,1988. Hygene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.CV Haji Mas agung.

Jakarta.

Suma'mur, P. K. (1981). Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Gunung Agung.

Tresnaningsih, Erna. "Pelayanan Kesehatan."

(1991).

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang didapat setelah melalui proses pengolahan dan perhitungan dengan menggunakan metode launcher pada pekerjaan girder erection pada bentang tengah pembangunan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem pengelolaan pemeliharaan jalan tol yang didasarkan oleh manajemen proyek pada PMBOK® Guide (Project

Tahapan pelaksanaan pekerjaan slab pada P324 – P325 A proyek jalan tol Jakarta – Cikampek II Elevated ini meliputi pekerjaan persiapan yang terdiri atas

Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1) Rencana trase Jalan Tol Semarang – Demak akan melintasi wilayah Pantai Morosari.

Di dalam HIRADC di PT Waskita Karya (Persero) Tbk khususnya pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Ruas Serpong – Cinere sudah dilakukan identifikasi bahaya yang

Dari hasil analisis data yang dilakukan teknik perbaikan tanah dengan menggunakan metode Prefabricated Vertical Drain PVD pada proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 2

vii ANALISIS KEBUTUHAN DAN WASTE DALAM PEKERJAAN PEMBESIAN MENGGUNAKAN SOFTWARE BARBEQUEPRO PADA PEKERJAAN BOX TRAFFIC STA.421+803,2 PROYEK JALAN TOL BATANG-SEMARANG SEKSI 3

74 PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PADA PEKERJAAN PROYEK JALAN TOL Studi Kasus: Ruas Jalan Tol Pematang Panggang – Kayu Agung Seksi 2, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan Gary Raya