• Tidak ada hasil yang ditemukan

masyarakat kota dan perilaku berwawasan lingkungan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "masyarakat kota dan perilaku berwawasan lingkungan"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

Pengaruh pengetahuan lingkungan melalui motivasi lingkungan terhadap perilaku masyarakat berwawasan lingkungan di kawasan sempadan kota Maros. Pengaruh kearifan lokal melalui motivasi lingkungan terhadap perilaku masyarakat berwawasan lingkungan di kawasan sempadan kota Maros.

PERILAKU MASYARAKAT BERWAWASAN LINGKUNGAN

Teori perilaku

Oleh karena itu, rangsangan tersebut mengikuti atau memperkuat perilaku tertentu yang telah dilakukan. Sedangkan variabel eksternal (lingkungan) adalah rangsangan eksternal yang membuat orang melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.

Model perilaku

Selain itu, pada tahun 2005, Ajzen melengkapi teorinya dengan menambahkan faktor-faktor yang dianggap sebagai faktor latar belakang perilaku individu (background factors). Clayton dan Myers (2009) dalam Kollmuss dan Agyeman (2002) mengemukakan bahwa terdapat faktor eksternal dan internal yang berkontribusi terhadap perilaku pro lingkungan.

Gambar 2.1 Model Theory Reaction Action (Fishbein & Ajzen, 1975) Dalam perkembangan, teori kedua yang dikemukakan oleh  Ajzen  (1988),  adalah  teori  perilaku  yang  direncanakan  (Theory  of  Planned  Behavior)  yang  disingkat  TPB
Gambar 2.1 Model Theory Reaction Action (Fishbein & Ajzen, 1975) Dalam perkembangan, teori kedua yang dikemukakan oleh Ajzen (1988), adalah teori perilaku yang direncanakan (Theory of Planned Behavior) yang disingkat TPB

Pembangunan berwawasan lingkungan

Pengelolaan sumber daya alam berwawasan lingkungan bertujuan untuk melestarikan sumber daya alam agar lingkungan tidak mudah rusak. Pembangunan berwawasan lingkungan memerlukan perencanaan agar sumber daya alam dapat mendukung pembangunan secara berkelanjutan.

Pengetahuan Lingkungan

Berdasarkan perbedaan pandangan di atas, pembangunan berwawasan lingkungan yang dimaksud dalam kajian ini adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan yang secara sadar dan terencana mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan mencocokkan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya di daerah sempadan sungai untuk meningkatkan kualitas hidup. Daslanie (2011) mengemukakan bahwa pembentukan dan perubahan perilaku dihasilkan dari proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui proses belajar.

Kebijakan Pemerintah

Berkaitan dengan implementasi suatu kebijakan, implementasi kebijakan menurut Wibawa, dkk (1994) adalah perwujudan keputusan-keputusan mengenai kebijakan dasar yang biasanya berupa undang-undang atau instruksi eksekutif. Implementasi kebijakan publik dapat dilihat dari beberapa pendekatan, diantaranya adalah pendekatan Implementation Problems yang diperkenalkan oleh Edwards III (dalam Haedar, 2009).

Gambar 2.4  Implementasi  Kebijakan  Model  Edwards  III  (dalam Haedar, 2009)
Gambar 2.4 Implementasi Kebijakan Model Edwards III (dalam Haedar, 2009)

Kearifan Lokal

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 2 huruf (i), menjelaskan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa asas, salah satunya adalah kearifan lokal. Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup memperluas prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan berbasis ekoregion dan kearifan lokal.

Gambar 2.7  Peranan  Kearifan  Lingkungan  dalam  Pelestarian  Lingkungan Hidup. (Sumber: Lamech AP, 1996)
Gambar 2.7 Peranan Kearifan Lingkungan dalam Pelestarian Lingkungan Hidup. (Sumber: Lamech AP, 1996)

Sikap Terhadap Lingkungan

Indikatornya adalah: (1) kebiasaan turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam kegiatannya yang berkaitan dengan kawasan sempadan sungai; (2) kepercayaan masyarakat terkait DAS; dan (3) tanggung jawab lingkungan terkait wilayah pesisir. Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap masyarakat terhadap wilayah sungai merupakan reaksi atau keinginan masyarakat wilayah sungai untuk merespon secara positif maupun negatif terhadap pengelolaan wilayah sungai, baik dalam perencanaannya. tahap eksploitasi, pengendalian dan pemantauan wilayah sempadan sungai.

Motivasi Melestarikan Lingkungan

  • Daerah Sempadan Sungai

Kawasan sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri dan kanan sungai termasuk sungai buatan yang mempunyai manfaat penting untuk menjaga kelestarian operasi sungai. Manakala kawasan sempadan sungai pula ialah kawasan sepanjang kiri dan kanan Sungai Maros dengan ukuran tertentu termasuk kawasan sekitar yang memberi kesan langsung.

Gambar 2.8 Korelasi Kedalaman dan Lebar Sungai Menurut Maryono,  2005
Gambar 2.8 Korelasi Kedalaman dan Lebar Sungai Menurut Maryono, 2005

Perumahan dan Kawasan Permukiman

Ada dua teori utama perumahan dan permukiman yang merupakan paradigma dalam pemecahan masalah perumahan dan permukiman bagi masyarakat golongan menengah ke bawah yaitu. Bertolak dari berbagai teori dan kebijakan tersebut di atas, dapat disintesakan bahwa perumahan dan kawasan permukiman adalah perumahan beserta fasilitas penunjangnya yang terletak di kawasan pesisir kota Maros, terencana dan tidak terencana.

BAB III

Kondisi fisik wilayah Kabupaten Maros

Jumlah dan luas masing-masing wilayah di Kabupaten Maros dapat dilihat lebih detail pada Tabel 1. Sumber air permukaan di Kabupaten Maros berasal dari beberapa sungai yang tersebar di berbagai kecamatan yang digunakan untuk kebutuhan domestik.

Tabel  4.1 Luas Kecamatan, Jumlah Desa dan Kelurahan Kabupaten  Maros
Tabel 4.1 Luas Kecamatan, Jumlah Desa dan Kelurahan Kabupaten Maros

Kependudukan dan sumber daya manusia

Potensi sumber air di wilayah Kabupaten Maros yang selama ini dimanfaatkan oleh warga dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai keperluan diperoleh dari air tanah dangkal (air permukaan dan air tanah dalam/air tanah dangkal), namun penyediaan air minum masih terbatas. dan penduduknya lebih banyak menggunakan air tanah umumnya sumur, dangkal, dalam (artesian), air permukaan dan mata air yang berasal dari pegunungan.

Transportasi

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa pola persebaran penduduk di Kabupaten Maros umumnya terakumulasi di pusat kota dan pusat pertumbuhan perkotaan.

Gambar 4.4 Peta Jaringan Jalan Kabupaten Maros
Gambar 4.4 Peta Jaringan Jalan Kabupaten Maros

Gambaran Umum Kawasan Perkotaan Maros 1. Kondisi fisik dasar dan sumber daya alam

  • Penggunaan lahan
  • Kependudukan
  • Perumahan dan kawasan permukiman

Hal ini mencerminkan bahwa kawasan perkotaan Marosa merupakan kota yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan perdagangan. Di kawasan perkotaan Maros kepadatan penduduk dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu kepadatan penduduk tinggi, sedang dan rendah.

Gambar 4.5 Peta Administrasi Kawasan Perkotaan Maros
Gambar 4.5 Peta Administrasi Kawasan Perkotaan Maros

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

  • Adat istiadat
  • Kondisi perumahan
  • Kondisi sungai
  • Kualitas air minum
  • Kondisi saluran drainase dan air limbah
  • Persampahan

Secara umum rumah di lokasi penelitian umumnya semi permanen dan darurat, kecuali rumah tepi sungai di pusat Kota Maros pada umumnya rumah permanen. Sumber air minum di lokasi studi khususnya yang berada di pusat Kota Maros menggunakan sumber air minum PDAM.

Tabel  4.9 Jumlah  dan  Kepadatan  Penduduk  pada  Lokasi  Studi  Berdasarkan Wilayah Kelurahan Tahun 2014
Tabel 4.9 Jumlah dan Kepadatan Penduduk pada Lokasi Studi Berdasarkan Wilayah Kelurahan Tahun 2014

Analisis Deskriptif

  • Jenis Kelamin
  • Usia responden
  • Pekerjaan
  • Pendidikan terakhir
  • Pendapatan
  • Status tempat tinggal
  • Status tanah
  • Pengetahuan lingkungan
  • Kebijakan pemerintah
  • Sikap lingkungan
  • Kearifan lokal
  • Motivasi masyarakat
  • Perilaku masyarakat
  • Tabulasi silangantara pendidikan dengan seluruh variabel a. Pendidikan Dengan Variabel Pengetahuan Lingkungan

Dari analisis data responden berdasarkan pendidikan terakhir responden diperoleh persentase responden yang tidak bersekolah sebesar 1,00% (2 dari total 210 responden), diperoleh SD dari 210 total responden, SMP/sederajat diperoleh diperoleh dari 210 total responden), SMA/sederajat diperoleh dari 210 total responden) dan perguruan tinggi diperoleh dari 210 total responden). Pada kategori setuju persentase tertinggi pada pendidikan tinggi sebesar 22,40% dan persentase terendah pada kategori tidak sekolah sebesar 1,00%.

Gambar 4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Responden  (%)
Gambar 4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Responden (%)

Analisis Model Persamaan Struktural

  • Analisis asumsi SEM
  • Kriteria kelayakan model (goodness of fit)
  • Pengujian Construct Reability (C.R)
  • Pengujian Average Variance Extract (AVE)
  • Pengujian Discriminant Validity
  • Pengujian indikator (loading factor)
  • Pengujian hipotesis penelitian

Berdasarkan hasil analisis SEM dengan menggunakan program AMOS 22, besarnya pengaruh motivasi masyarakat terhadap sikap masyarakat adalah positif 0,103 dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,036. Berdasarkan hasil analisis SEM dengan menggunakan program AMOS 22, besarnya pengaruh motivasi masyarakat terhadap perilaku masyarakat adalah positif 0,258 dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,002.

Tabel 4.16 Assessment of Normality
Tabel 4.16 Assessment of Normality

Pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung dan pengaruh total

Kontribusi tidak langsung pengetahuan lingkungan terhadap perilaku masyarakat melalui sikap masyarakat memiliki nilai positif sebesar 0,073. Kontribusi tidak langsung kebijakan pemerintah terhadap perilaku masyarakat melalui sikap lingkungan memiliki nilai positif sebesar 0,005.

Tabel  4.29 Standardized Indirect Effects (Group number 1 - Default  model)
Tabel 4.29 Standardized Indirect Effects (Group number 1 - Default model)

Pengetahuan Lingkungan Dan Perilaku Masyarakat

Kemudian kontribusi pengaruh tidak langsung pengetahuan lingkungan terhadap perilaku masyarakat melalui sikap masyarakat (R2) sebesar 0,53%, sedangkan sisanya sebesar 99,47% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Kontribusi tidak langsung pengetahuan lingkungan terhadap perilaku masyarakat melalui motivasi lingkungan memiliki nilai positif sebesar 0,042.

Gambar 5.1 Diagram Pengaruh Pengetahuan Terhadap Perilaku Keterangan:
Gambar 5.1 Diagram Pengaruh Pengetahuan Terhadap Perilaku Keterangan:

Pengetahuan Lingkungan Dan Sikap Masyarakat

Berdasarkan hasil analisis hipotesis, besarnya pengaruh pengetahuan lingkungan terhadap sikap masyarakat adalah positif sebesar 0,787 dengan nilai probabilitas (p) sebesar. Dengan nilai probabilitas (p) < 0,05 berarti ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan lingkungan terhadap sikap masyarakat.

Gambar 5.4 Diagram Pengaruh Pengetahuan Terhadap Sikap Keterangan:
Gambar 5.4 Diagram Pengaruh Pengetahuan Terhadap Sikap Keterangan:

Pengetahuan Lingkungan Dan Motivasi Masyarakat

Selain itu, motivasi 'harga' dari orang-orang yang berwawasan lingkungan meliputi; sebagai penyelamat lingkungan sungai, menjaga kebersihan dan keindahan bantaran sungai karena ingin dipuji, menjaga dan meningkatkan kebersihan lingkungan karena ingin bilang peduli lingkungan, membersihkan pekarangan karena ingin dihormati. Dengan nilai probabilitas (p) < 0,05 berarti ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan lingkungan terhadap motivasi masyarakat.

Gambar 5.5 Diagram Pengaruh Pengetahuan terhadap Motivasi
Gambar 5.5 Diagram Pengaruh Pengetahuan terhadap Motivasi

Kebijakan Pemerintah Dan Perilaku Masyarakat

Sedangkan kontribusi pengaruh tidak langsung kebijakan pemerintah terhadap perilaku masyarakat melalui sikap lingkungan (R2) sebesar 0,0025%, sedangkan sisanya sebesar 99,9975%. Kontribusi tidak langsung kebijakan pemerintah terhadap perilaku masyarakat melalui motivasi lingkungan memiliki nilai positif sebesar 0,035.

Gambar 5.7 Diagram Pengaruh Tidak Langsung Kebijakan Terhadap  Perilaku Melalui Sikap
Gambar 5.7 Diagram Pengaruh Tidak Langsung Kebijakan Terhadap Perilaku Melalui Sikap

Kebijakan Pemerintah Dan Sikap Masyarakat

Krech dan R.S Crutchfield (1962) berpendapat bahwa sikap adalah organisasi berkelanjutan dari proses motivasi, emosional, perseptual dan kognitif tentang aspek dunia individu. Krech dan R.S Crutchfield (1962) berpendapat bahwa sikap adalah organisasi berkelanjutan dari proses motivasi, emosional, perseptual dan kognitif tentang aspek dunia individu.

Kebijakan Pemerintah Dan Motivasi Masyarakat

Hal ini harus membuktikan bahwa pelaksana memiliki keterampilan, perilaku yang baik terhadap kebijakan, serta memahami dan mengetahui apa yang dapat menjadi penghambat efektifitas implementasi kebijakan. Lebih lanjut Edwards III menjelaskan bahwa dalam melaksanakan suatu kebijakan ada empat faktor yang menjadi syarat penting untuk diperhatikan, yaitu: (i) komunikasi, (ii) sumber daya, (iii) disposisi atau sikap) dan (iv) struktur birokrasi.

Kearifan Lokal Dan Perilaku Masyarakat

Sumbangan pengaruh langsung kearifan lokal terhadap perilaku masyarakat (R2) sebesar 0,33% sedangkan sisanya sebesar 99,67% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Sumbangan pengaruh tidak langsung kearifan lokal terhadap perilaku masyarakat melalui sikap lingkungan (R2) sebesar 0,38% sedangkan sisanya sebesar 99,62% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.

Gambar 5.12 Diagram Pengaruh Kearifan Lokal Terhadap Perilaku  Melalui Sikap
Gambar 5.12 Diagram Pengaruh Kearifan Lokal Terhadap Perilaku Melalui Sikap

Kearifan Lokal Dan Sikap Masyarakat

  • Kearifan Lokal Dan Motivasi Masyarakat

Hasil analisis hipotesis di atas bertentangan dengan kesimpulan Mulyadi N. 2010) bahwa kearifan lokal berpengaruh langsung positif terhadap motivasi bertani. Hasil ini tidak sejalan dengan kesimpulan penelitian Mulyadi N. 2010) bahwa kearifan lokal berpengaruh langsung positif terhadap motivasi bertani.

Gambar 5.14 Diagram Pengaruh Kearifan Lokal terhadap Sikap Keterangan:
Gambar 5.14 Diagram Pengaruh Kearifan Lokal terhadap Sikap Keterangan:

Sikap Dan Perilaku Masyarakat

Sumbangan pengaruh langsung kearifan lokal terhadap motivasi masyarakat (R2) sebesar 0,52%, sedangkan sisanya sebesar 99,48% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Kontribusi pengaruh langsung pengetahuan lingkungan terhadap motivasi masyarakat (R2) sebesar 0,87%, sedangkan sisanya sebesar 99,13% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.

Gambar 5.16 Diagram Pengaruh Sikap Terhadap Perilaku Keterangan:
Gambar 5.16 Diagram Pengaruh Sikap Terhadap Perilaku Keterangan:

Motivasi Masyarakat Dan Perilaku Masyarakat

Sikap masyarakat terhadap lingkungan merupakan tanggapan atau keinginan manusia untuk menanggapi secara positif atau negatif terhadap pengelolaan kawasan sempadan sungai, baik pada tahap perencanaan, pemanfaatan, maupun pengendalian kawasan sempadan sungai. Sumbangan pengaruh langsung motivasi masyarakat terhadap sikap terhadap lingkungan (R2) sebesar 6,66%, sedangkan sisanya sebesar 93,34% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.

Model Perilaku Masyarakat Berwawasan Lingkungan di Kawasan Sempadan Sungai Maros

Model di atas menunjukkan bahwa untuk mencapai pembangunan lingkungan yang sehat (Eco-Development) di kawasan pesisir kota Maros harus dilakukan melalui peningkatan pengetahuan lingkungan baik secara langsung maupun melalui sikap lingkungan dan motivasi lingkungan untuk mendorong hidup sehat. perilaku masyarakat lingkungan. Hasil penelitian ini menjadi model penataan kawasan pesisir di kawasan perkotaan, khususnya kawasan pesisir yang memiliki karakteristik fisik dan sosial ekonomi masyarakat yang relatif sama dengan kawasan pesisir Kota Maros.

Gambar  4.18 . Model  Perilaku Berwawasan Lingkungan di Sempadan   Sungai  Kota  Maros
Gambar 4.18 . Model Perilaku Berwawasan Lingkungan di Sempadan Sungai Kota Maros

PENUTUP

Kesimpulan

Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal melalui sikap masyarakat tidak mengubah perilaku masyarakat berwawasan lingkungan di kawasan sempadan kota Maros. Kebijakan pemerintah tidak berpengaruh signifikan secara tidak langsung terhadap perilaku masyarakat melalui motivasi masyarakat berwawasan lingkungan di bantaran sungai Kota Maros.

Implikasi

  • Implikasi teoritis
  • Implikasi kebijakan
  • Implikasi penelitian

Peningkatan perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan di daerah sempadan sungai sangat penting untuk terwujudnya ruang sempadan sungai yang produktif dan berkelanjutan. Dalam hal ini faktor pengetahuan lingkungan, motivasi dan sikap lingkungan terus ditingkatkan untuk mencapai perilaku masyarakat yang ramah lingkungan di bantaran sungai di perkotaan.

Rekomendasi

Karena kebijakan pemerintah tidak berpengaruh terhadap perilaku masyarakat yang berwawasan lingkungan di kawasan sempadan sungai, hal ini menandakan bahwa pemahaman dan sosialisasi pemerintah terhadap tindakan tata ruang belum optimal bagi lapisan masyarakat yang tinggal di wilayah sungai. daerah pesisir. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius dari pemerintah untuk menciptakan kesadaran dan sekolah lapangan bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.

DAFTAR PUSTAKA

Ekspansi Geografis Industri Perbankan,” Jurnal Uang, Kredit dan Perbankan, Blackwell Publishing, vol. Kualitas pelayanan dan intensi perilaku konsumen setelah menggunakan pelayanan rawat inap di RS Ibu dan Anak Hermina Bekasi.

Gambar

Gambar 2.2 Model Theory of Planned Behavior (Ajzen, 2005) Dalam  teori  TPB  dari  Ajzen,  ada  tiga  faktor  utama  yang  melatar belakangi perilaku seseorang yaitu: faktor personal, faktor  sosial, dan faktor informasi
Gambar  2.3  Faktor-Faktor  yang  Mempengaruhi  Perilaku  (Clayton dan Myers,2009)
Gambar 2.5  Model Implementasi Kebijakan menurut Meter  dan Horn (dalam Subarsono, 2015)
Gambar 2.7  Peranan  Kearifan  Lingkungan  dalam  Pelestarian  Lingkungan Hidup. (Sumber: Lamech AP, 1996)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Penerapan SSK (Strategi Sanitasi Kota) Blitar dalam perspektif pembangunan berwawasan lingkungan pada

Skripsi yang merupakan hasi penelitian dengan judul Pembangunan Industri Berwawasan Lingkungan Di Sidoarjo: tantangan dan kendala berusaha untuk mengetahui

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan menerapkan manajemen sekolah hijau berwawasan lingkungan (eco green school management) melalui penanaman jiwa dan

Kebijakan lingkungan di Indonesia sejak tahun 1973 sudah dapat dijadikan indikator suatu negara yang menerapkan dan telah melaksanakan pembangunan yang berwawasan

Skripsi yang merupakan hasi penelitian dengan judul Pembangunan Industri Berwawasan Lingkungan Di Sidoarjo: tantangan dan kendala berusaha untuk mengetahui

Kebijakan yang dapat dilakukan adalah kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan yang berkenaan dengan upaya pendayagunaan sumber daya alam dengan tetap mempertahankan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Penerapan SSK (Strategi Sanitasi Kota) Blitar dalam perspektif pembangunan berwawasan lingkungan pada

Dari beberapa simpulan sebelumnya, maka inti dari kesimpulan umum adalah bahwa perilaku pengelola bengkel dalam pengelolaan limbah berwawasan lingkungan dipengaruhi secara langsung dan