• Tidak ada hasil yang ditemukan

Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah

N/A
N/A
Rofiq Wahyuda Khoirulloh

Academic year: 2024

Membagikan "Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah”

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dosen Pengampu Mata Kuliah: Darsono, M.Pd.

Oleh:

Rospiyati Tri Ningsih (221444000 Rizqi Wiji Nurhiayah (22144400007) Rofiq Wahyuda Khoirulloh. (22144400015)

KELOMPOK 2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA Gasal

(2)

KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunia-Nya yang selalu dilimpahkan kepada kita sehingga kita masih bisa menjalankan semua kegiatan yag kia lakukan sampai saat ini.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada baginda alam Nabi Muhammad SAW. Semoga kelak dihari akhir nanti kita bisa mendapatkan syafaat dari beliau Amiin.

Sehubungan dengan makalah yang kami buat. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Darsono, M.Pd. selaku Dosen Mata Kuliah Filsafat Ilmu yang telah membimbing kami dalam perkuliahan serta memberikan penugasan kepada kami untuk membuat makalah. Apabila dalam makalah kami masih ada kekurangan atau kesalahan kami terbuka untuk diberi kritk dan saran atau masukan agar makalah kami bisa dipergunakan dengan baik dan bisa menjadi ilmu buat kami khususnya dan umumnya untuk khalayak ramai.

Yogyakarta, 29 Oktober 2023

Penyusun

(3)
(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

A.Latar Belakang...1

B.Rumusan Masalah...2

C.Tujuan Masalah...2

BAB II...4

PEMBAHASAN...4

A.Pengetian Sarana Berpikir Ilmiah...4

B.Tujuan dan Fungsi Sarana Berpikir Ilmiah...4

C.Peran Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah...5

BAB III...8

PENUTUP...8

A.Kesimpulan...8

B.Saran-Saran...8

DAFTAR PUSTAKA...9

(5)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Filsafat merupakan sebagai pengetahuan untuk melihat adanya sebuah hakikat tentang berbagai hal dalam memperoleh sebuah kebenaran, dikenal juga sebagai hakikat sebuah pengetahun. Filsafat adalah hasrat atau keingianan yang sungguh-sungguh untuk menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran sejati dengan menggunakan akal untuk melakukan tesis-antitesis yang bersifat bebas dan tanpa metodologi (Harianto, 1999). Rasa tidak puas dan rasa ingin tahu lebih dalam menjadi faktor pendorong adanya Filasafat Ilmu untuk membuktikan sebuah kebenaran. Filasafat ilmu yakni manusia yang saling berhubungan berpikir ilmiah. Manusia memiliki sifat yang senantiasa mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul dalam kehidupannya, dalam mencari ilmu pengetahuan manusia melakukan telaah yang mencakup 1) objek yang dikaji, 2) proses menemukan ilmu dan 3) mafaat atau kegunaan ilmu.

Manusia akan selalu berpikir, dengan berpikir akan muncul pertanyaan, dengan pertanyaan maka akan ditemukan jawaban yang mana jawaban adalah sebuah kebenaran.

Berfikir adalah suatu aktifitas untuk menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran. Berfikir juga dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk menentukan langkah yang akan ditempuh, sedangkan Ilmiah adalah ilmu yakni berfikir ilmiah adalah proses atau aktifitas manusia untuk menemukan atau mendapatkan ilmu yang bercirikan dengan adanya kausalitas, analisis dan sintesis (Firmansyah & Ali, 2021).

Berpikir ilmiah juga diartikan sebagai berpikir yang logis dan empiris.

Logis adalah masuk akal dan empiris adalah dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Manusia disebut sebagai homo faber yaitu makhluk yang membuat alat; dan kemampuan membuat alat dimungkinkan oleh pengetahuan. Berkembangnya pengetahuan juga memerlukan alat-alat. Sarana merupakan alat yang

(6)

membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik, dengan demikian fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, bukan merupakan ilmu itu sendiri (Rijal

& Sere, 2017).

Salah satu berpikir ilmiah yakni matematika menjadi sarana untuk manusai berpikir ilmiah. Matematika adalah Ratunya ilmu sekaligus sebagai pelayan Ilmu, matematika dapat digunakan sebagai alat berpikir yang sangat efektif untuk memandang masalah-masalah yang muncul sehingga masalah-masalah tersebut akan dapat dihadapi dan diselesaikan, Matematika tidak hanya sebagai alat berfikir saja, tetapi matematika juga sebagai bahasa ilmu (Prima Mytra, Andi Kaharuddin, Fatimah, 2023).

Peranan matematika sebagai alat pikir dalam kajian ini yaitu cara untuk berpikir, Logika, Simbol, Perhitungan, Kuantitas, aturan ketat. Berpikir, bertutur dan bertindak lah menggunakan matematika, sebab ia dapat membuat hidup lebih teratur, disiplin dan dapat saling menghargai.

Dengan matematika dapat memperjelas dan mempertegas yang kabur atau ambigu, karena dalam matematika harus jelas semesta atau topik yang sedang dibicarakan. bahasa matematika itu indah, ia memiliki pola dan keteraturan menurut aturannya sehingga wajar, jika banyak menyatakan bahwa matematika itu seindah seni dan sebaik budi pekerti.

A. Rumusan Masalah

1. Apa itu pengetian dari sarana berpikir ilmiah?

2. Apa tujuan sarana berpikir ilmiah?

3. Apa peran matematika sebagai sarana berpikir ilmiah?

B. Tujuan Masalah

Tujuan penulisan makalah ini agar pembaca dapat memahami tentang ruang lingkup mata pelajaran sejarah. Makalah ini bertujuan sebagai berikut :

(7)

1. Untuk mengetahui definisi atau pengertian dari sarana berpikir ilmiah.

2. Untuk mengetahui tujuan sarana berpikir ilmiah.

3. Untuk mengetahui peran matematika sebagai sarana berpikir ilmiah.

(8)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengetian Sarana Berpikir Ilmiah

Berfikir adalah suatu aktifitas untuk menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran (Buyung, 2023). Berfikir juga dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk menentukan langkah yang akan ditempuh (Rijal & Sere, 2017). Berpikir ilimiah ialah suatu proses atau aktivitas yang dilakukan manusia untuk menemukan atau mendapatkan ilmu melalui adanya analisis, orisinalitas, dan sintesis.

Berpikir ilmiah juga diartikan sebagai berpikir secara logis dan empiris.

Untuk mendapatkan ilmu diperlukan sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir diperlukan untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik dan teratur (Eneng Sumarni, Eti Robiatul Adawiah, 2023). Sarana berfikir ilmiah ini adalah alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Jadi fungsi sarana berfikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dalam mendapat ilmu atau teori yang lain (Rijal & Sere, 2017). Menurut (Suriasumantri, 2003) Sarana berpikir ilmiah ada empat, yaitu: bahasa, logika, matematika dan statistika. Keempatnya memiliki tujuan dan fungsinya masing-masing. Salah satu yang akan dijabarkan secara rinci adalah matematika sebagai sarana berpikir ilmiah.

C. Tujuan dan Fungsi Sarana Berpikir Ilmiah

Menurut (Suriasumantri, 2003) Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari (Buyung, 2023).

(9)

Menurut (Suriasumantri, 2003) ”... fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri”.

Keseluruhan tahapan kegiatan ilmiah membutuhkan alat bantu berupa sarana berpikir ilmiah (Eneng Sumarni, Eti Robiatul Adawiah, 2023).

D. Peran Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah

Matematika adalah bahasa yang melambaikan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan (Rijal & Sere, 2017). Lambang- lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati (Suaedi, 2016).

Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi kekurangan kita berpaling kepada matematika. Matematika adalah bahasa yang berusaha menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Umpamanya kita sedang mempelajari kecepatan jalan kaki seorang anak maka objek

“kecepatan jalan kaki seorang anak” dilambangkan x, dalam hal ini maka x hanya mempunyai arti yang jelas yakni “kecepatan jalan kaki seorang anak”. Demikian juga bila kita hubungkan “kecepatan jalan kaki seorang anak” dengan obyek lain misalnya “jarak yang ditempuh seorang anak”

yang kita lambangkan dengan y, maka kita lambangkan hubungan tersebut dengan z = y / x dimana z melambangkan “waktu berjalan kaki seorang anak”. Pernyataan z = y / x tidak mempunyai konotasi emosional, selain itu bersifat jelas dan spesifik.1

Matematika dalam perkembangannya memberikan masukan- masukan pada bidang-bidang keilmuan yang lainnya. Konstribusi matematika dalam perkembangan ilmu alam, lebih ditandai dengan

1 Rijal, M., & Sere, I. (2017). Sarana Berfikir Ilmiah. Biosel: Biology Science and Education, 6(2), 182.

(10)

pengunaan lambang-lambang bilangan untuk menghitung dan mengukur, objek ilmu alam misal gejala-gejalah alam yang dapat diamatidan dilakukan penelaahan secara berulang-ulang (Rijal & Sere, 2017).

Matematika merupakan sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif (Rismawati, 2016). Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari pada pengalaman seperti halnya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu empirik, melainkan didasarkan atas (penjabaran-penjabaran) (Suaedi, 2016). pola berfikir deduktif banyak digunakan baik dalam bidang ilmiah maupun bidang lain yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan (Andawiyah, 2014). Sebagai rasionalisasi dalam konteks ini adalah, ketika seseorang memasukkan ayam ke dalam kandang pada pagi hari sebanyak 2 (dua) ekor dan kembali memasukkan ayam yang lain sebanyak 2 (dua) ekor juga pada siang harinya, secara deduksi ayam yang berada dalam kandang adalah 4 (empat) ekor. Jika jumlahnya ternyata kurang atau lebih dari 4 (empat) ekor, maka dia akan menyimpulkan bahwa ada yang salah secara empiris dibandingkan penalaran rasionalnya, sebab apapun yang terjadi rasio akan mengatakan jumlahnya harus 4 (empat) (Firmansyah &

Ali, 2021).

Matematika merupakan salah satu puncak kegemilangan intelektual. Disamping pengetahuan mengenai matematika itu sendiri, matematika juga memberikan bahasa, proses dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk kekuasaan. Fungsi matematika menjadi sangat penting dalam perkembangan macam-macam ilmu pengetahuan. Penghitungan matematis misalnya menjadi dasar desain ilmu teknik, metode matematis yang dapat memberikan inspirasi kepada pemikiran di bidang sosialdan ekonomibahkan pemikiran matematis dapat memberikan warna kepada arsitektur dan seni lukis.2

2 Suaedi. (2016). Pengantar Filsafat Ilmu (N. Januarini (ed.); 1st ed.). IPB Press. 73

(11)

Dalam ilmu sosial, matematika biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi politik dalam sebuah suasana politik, misalnya pada saat pemilu. Kita dapat mengambarkan kondisi suasana politik dalam peta politik (Suaedi, 2016).

Mata pelajaran

Sejarah untuk

(12)

Sekolah Menengah Atas meliputi Prinsip Dasar Ilmu Sejarah, Sejarah Indonesia sejak masa Pra

aksara sampai dengan Masa Reformasi, dan

Sejarah Dunia sejak masa Peradaban

Kuno

sampai dengan

Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi, dengan

(13)

rincian sebagai berikut;

1. Prinsip dasar Ilmu Sejarah

2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia

3. Perkembangan negara-negara

tradisional di Indonesia

4. Indonesia pada

masa penjajahan

(14)

5. Revolusi besar dunia dan

pengaruhnya

6. Kebangkitan heroisme dan

kebangsaan Indonesia

7. Proklamasi dan perkembangan

negara kebangsaan Indonesia.

8. Perjuangan

mempertahankan kemerdekaan

Indonesia

(15)

9. Dunia pada masa Perang Dingin dan

perubahan poilitik global

10. Indonesia pada masa Demokrasi

Liberal dan

Demokrasi Terpimpin 11. Indonesia pada

masa Orde Baru

12. Indonesia pada masa Reformasi

13. Indonesia dan

Dunia pada masa

(16)

Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi.

Mata pelajaran Sejarah untuk

Sekolah Menengah Atas meliputi Prinsip Dasar Ilmu Sejarah, Sejarah Indonesia sejak masa Pra

aksara sampai dengan Masa Reformasi, dan

Sejarah Dunia sejak

(17)

masa Peradaban Kuno

sampai dengan

Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi, dengan rincian sebagai

berikut;

1. Prinsip dasar Ilmu Sejarah

2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia

3. Perkembangan

negara-negara

(18)

tradisional di Indonesia

4. Indonesia pada masa penjajahan 5. Revolusi besar dunia dan

pengaruhnya

6. Kebangkitan heroisme dan

kebangsaan Indonesia

7. Proklamasi dan perkembangan

negara kebangsaan

Indonesia.

(19)

8. Perjuangan

mempertahankan kemerdekaan

Indonesia

9. Dunia pada masa Perang Dingin dan

perubahan poilitik global

10. Indonesia pada masa Demokrasi

Liberal dan

Demokrasi Terpimpin 11. Indonesia pada

masa Orde Baru

(20)

12. Indonesia pada masa Reformasi

13. Indonesia dan Dunia pada masa Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi.

Mata pelajaran Sejarah untuk

Sekolah Menengah Atas meliputi Prinsip Dasar Ilmu Sejarah, Sejarah Indonesia sejak masa Pra

aksara sampai

(21)

dengan Masa Reformasi, dan

Sejarah Dunia sejak masa Peradaban

Kuno

sampai dengan

Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi, dengan rincian sebagai

berikut;

1. Prinsip dasar Ilmu

Sejarah

(22)

2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia

3. Perkembangan negara-negara

tradisional di Indonesia

4. Indonesia pada masa penjajahan 5. Revolusi besar dunia dan

pengaruhnya

6. Kebangkitan

heroisme dan

(23)

kebangsaan Indonesia

7. Proklamasi dan perkembangan

negara kebangsaan Indonesia.

8. Perjuangan

mempertahankan kemerdekaan

Indonesia

9. Dunia pada masa Perang Dingin dan

perubahan poilitik

global

(24)

10. Indonesia pada masa Demokrasi

Liberal dan

Demokrasi Terpimpin 11. Indonesia pada

masa Orde Baru

12. Indonesia pada masa Reformasi

13. Indonesia dan Dunia pada masa Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi.

Mata pelajaran

Sejarah untuk

(25)

Sekolah Menengah Atas meliputi Prinsip Dasar Ilmu Sejarah, Sejarah Indonesia sejak masa Pra

aksara sampai dengan Masa Reformasi, dan

Sejarah Dunia sejak masa Peradaban

Kuno

sampai dengan

Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi, dengan

(26)

rincian sebagai berikut;

1. Prinsip dasar Ilmu Sejarah

2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia

3. Perkembangan negara-negara

tradisional di Indonesia

4. Indonesia pada

masa penjajahan

(27)

5. Revolusi besar dunia dan

pengaruhnya

6. Kebangkitan heroisme dan

kebangsaan Indonesia

7. Proklamasi dan perkembangan

negara kebangsaan Indonesia.

8. Perjuangan

mempertahankan kemerdekaan

Indonesia

(28)

9. Dunia pada masa Perang Dingin dan

perubahan poilitik global

10. Indonesia pada masa Demokrasi

Liberal dan

Demokrasi Terpimpin 11. Indonesia pada

masa Orde Baru

12. Indonesia pada masa Reformasi

13. Indonesia dan

Dunia pada masa

(29)

Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi.

Mata pelajaran Sejarah untuk

Sekolah Menengah Atas meliputi Prinsip Dasar Ilmu Sejarah, Sejarah Indonesia sejak masa Pra

aksara sampai dengan Masa Reformasi, dan

Sejarah Dunia sejak

(30)

masa Peradaban Kuno

sampai dengan

Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi, dengan rincian sebagai

berikut;

1. Prinsip dasar Ilmu Sejarah

2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia

3. Perkembangan

negara-negara

(31)

tradisional di Indonesia

4. Indonesia pada masa penjajahan 5. Revolusi besar dunia dan

pengaruhnya

6. Kebangkitan heroisme dan

kebangsaan Indonesia

7. Proklamasi dan perkembangan

negara kebangsaan

Indonesia.

(32)

8. Perjuangan

mempertahankan kemerdekaan

Indonesia

9. Dunia pada masa Perang Dingin dan

perubahan poilitik global

10. Indonesia pada masa Demokrasi

Liberal dan

Demokrasi Terpimpin 11. Indonesia pada

masa Orde Baru

(33)

12. Indonesia pada masa Reformasi

13. Indonesia dan Dunia pada masa Revolusi Teknologi Informasi dan

Komunikasi.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

B. Saran-Saran

Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihakyang telah mempelajari makalah ini, agar kelak dikemudian hari penulis dapat lebih baik lagi dan kesalahan-kesalahan dalam penulisan makalah Insya Allah akan lebih baik.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Andawiyah, R. (2014). Interrelasi Bahasa, Matematika Dan Statistika. OKARA:

Jurnal Bahasa Dan Sastra, 8(2), 69–80.

http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/okara/article/view/464

Buyung, N. B. (2023). Sarana Berfikir Ilmiah (Bahasa, Logika, Matematika Dan Statistik). Jurnal REVORMA, 3(1), 1–13.

Eneng Sumarni, Eti Robiatul Adawiah, Y. Y. (2023). Sarana Berpikir Ilmiah (Bahasa, Logika, Matematika Dan Statistika). Jurnal Pendidikan Berkarakter, 1(4), 106–122. https://doi.org/10.51903/pendekar.v1i4.299 Firmansyah, & Ali, M. (2021). Sarana Pengetahuan Ilmiah (Tinjauan Filosofis).

Jurnal Studi-Studi Keislaman, 2(2), 1–23.

Harianto, B. (1999). Filsafat Ilmu. Pustaka Sinar Harapan, September, 1–3.

Prima Mytra, Andi Kaharuddin, Fatimah, F. (2023). Filsafat Pendidikan Matematika (Matematika Sebagai Alat Pikir dan Bahasa Ilmu. Pendidikan Dan Pembelajaran Matematika, 2(2), 60–71.

Rijal, M., & Sere, I. (2017). Sarana Berfikir Ilmiah. Biosel: Biology Science and

(35)

Education, 6(2), 176. https://doi.org/10.33477/bs.v6i2.170

Rismawati, M. (2016). Mengembangkan Peran Matematika Sebagai Alat Berpikir Ilmiah Melalui Pembelajaran Berbasis Lesson Study. Vox Edukasi, 7(2), 204–215.

Suaedi. (2016). Pengantar Filsafat Ilmu (N. Januarini (ed.); 1st ed.). IPB Press.

Suriasumantri, J. S. (2003). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan.

Referensi

Dokumen terkait

Proses Berpikir Siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama yang Berkemampuan Matematika Sedang dalam Memecahkan Masalah Matematika. Makalah disampaikan pada Seminar

Ilmu merupakan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah sesuai faktual. Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) tingkat kemampuan berpikir kritis dan sikap ilmiah mahasiswa pendidikan matematika, 2) korelasi signifikan kemampuan berpikir kritis

Abstrak: Beberapa penyelesaian masalah trigonometri perlu diselesaikan dengan visualisasi. Makalah ini membahas hasil penelitian tentang profil berpikir visual

Sarana berfikir ilmiah digunakan sebagai alat untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode-metode ilmiah, dan sarana berfikir ilmiah berfungsi untuk membantu

Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan

Makalah ini membahas konsep berpikir kritis yang digunakan dalam proses

Makalah ini membahas tentang keterampilan matematika dan belief matematika dalam konteks pembelajaran