1. Perkembangan ilmu perencanaan pembangunan
Perencanaan, dalam pengertian yang luas, adalah proses sistematis dalam mempersiapkan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. Ini adalah metode untuk mencapai hasil yang optimal dengan sumber daya yang tersedia, sehingga meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Perencanaan mencakup penentuan tujuan, cara, waktu, dan pihak yang bertanggung jawab untuk mencapainya. Albert Waterston mengartikan perencanaan sebagai tindakan yang melihat ke depan, memilih alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan di masa depan, dan memastikan bahwa pelaksanaannya selaras dengan tujuan.
Perencanaan pembangunan adalah pengarahan sumber daya, termasuk sumber ekonomi yang terbatas, untuk mencapai kondisi sosial ekonomi yang lebih baik secara efisien dan efektif. Sementara itu, perencanaan pembangunan nasional merupakan kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan jangka panjang, menengah, dan tahunan, yang dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) menggantikan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 2005.
Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menjabarkan tujuan sistem perencanaan pembangunan nasional, yaitu:
1. Membantu koordinasi antar pelaku pembangunan,
2. Menjamin integrasi dan sinkronisasi antar daerah, ruang, waktu, fungsi pemerintah, pusat, dan daerah,
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan,
4. Mengoptimalkan partisipasi Masyarakat,
5. Menjamin penggunaan sumber daya yang efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Evolusi Kebijakan Perencanaan Pembangunan Nasional
a. Kebijakan perencanaan pembangunan nasional era orde lama
Evolusi kebijakan perencanaan pembangunan nasional di Indonesia ditandai dengan perubahan signifikan setelah reformasi, termasuk lahirnya UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan UU No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang 2005-2025.
Sistem perencanaan di era reformasi menjadi lebih sistematis, berkesinambungan, dan aplikatif dengan melibatkan partisipasi berbagai elemen masyarakat. Proses politik kini menjadi tahap awal dalam perencanaan pembangunan, dengan Bappenas berperan dalam harmonisasi dan sinkronisasi melalui RPJMN. Pendekatan perencanaan mencakup teknokratis, partisipatif, politis, serta top down dan bottom up, dengan prinsip tematik, holistik, integratif, dan spasial.
b. Dinamika kebijakan perencanaan pembangunan nasional era orde baru.
Pada masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru (1966-1968), terjadi perubahan kebijakan pembangunan yang diatur dalam Tap MPRS No. XXIII/MPRS/1966. Kebijakan ini menekankan UUD 1945 sebagai dasar demokrasi ekonomi serta rasionalitas dan realisme. Prioritas utama adalah pengendalian inflasi, penyediaan kebutuhan pangan dan sandang, rehabilitasi prasarana ekonomi, serta peningkatan ekspor. Pergeseran kerangka pembangunan dari dominasi sektor negara menuju model yang lebih terbuka terhadap pasar dan investasi asing terjadi melalui UU Penanaman Modal Asing No. 1 Tahun 1967. Komunitas cendekiawan
"Mafia Berkeley" berperan penting dalam mengadopsi paradigma liberal dalam pembangunan nasional. Selama Orde Baru, dua produk GBHN ditetapkan melalui Tap MPR yang menjadi dasar bagi Rencana
Pembangunan Lima Tahunan (Repelita), dengan Bappenas memegang posisi sentral dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan berdasarkan konsep Trilogi Pembangunan: pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional.
c. Dinamika Kebijakan Perencanaan Pembangunan Nasional Era Reformasi Pasca-reformasi, Indonesia mengalami perubahan mendasar dalam perencanaan pembangunan nasional dengan penghapusan GBHN yang menimbulkan kekhawatiran tentang pedoman pembangunan berkelanjutan.
Namun, UU No. 25 Tahun 2004 dan UU No. 17 Tahun 2007 hadir sebagai pengganti GBHN. RPJPN dimaksudkan untuk menggantikan fungsi GBHN dengan arahan serta prioritas konkret.
Setiap calon presiden menyusun visi dan misi berdasarkan UU RPJPN untuk menjamin kesinambungan antar periode kekuasaan. UU SPPN menempatkan proses politik sebagai hulu perencanaan dengan proses teknokratik di hilirnya. Penyusunan visi dan misi terikat dengan RPJPN, sementara Bappenas melakukan harmonisasi untuk menghasilkan RPJMN.
Meskipun ada kritik bahwa model ini tidak menjamin kesinambungan dan didominasi oleh presiden, UU SPPN dan UU RPJPN menegaskan bahwa setiap pemerintahan tunduk pada ketentuan tersebut.
Demokratisasi membuka ruang bagi publik untuk terlibat dalam agenda strategis negara termasuk perencanaan pembangunan nasional. Partai politik dapat memanfaatkan proses penyusunan visi dan misi untuk memastikan kebijakan pembangunan mencerminkan aspirasi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Sasoko, D. M. (2021). Bahan Ajar: Perencanaan Pembangunan Semester Ganjil 2021/2022. Jakarta: Universitas Jayabaya.
Hariyadi, A. R. (2021). Dinamika Kebijakan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia. Jurnal Desentralisasi dan Kebijakan Publik (JDKP), 2(2), 1-12.