• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi peng&sejarah wakaf

N/A
N/A
Sondari Aniliya

Academic year: 2024

Membagikan " Materi peng&sejarah wakaf"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pengertian Wakaf

Wakaf adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab, yakni "waqafa," yang berarti menahan, menghentikan, atau membatasi. Dalam bahasa Indonesia, kata "waqaf" umumnya diucapkan sebagai "wakaf," dan itulah yang digunakan dalam hukum di Indonesia.1 Secara istilah, wakaf merujuk pada tindakan menahan suatu harta agar dapat dimanfaatkan tanpa menghabiskan atau mengubah substansinya, dan harta tersebut digunakan untuk kebaikan.2 Dalam terminologi fiqih, wakaf adalah upaya untuk menahan pemilikan atas harta sehingga manfaatnya dapat diambil tanpa mengubah hak kepemilikan dan tujuan utamanya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan niat mencari keridhaan-Nya.3

B. Sejarah Wakaf di Indonesia

Wakaf di Indonesia sebagai lembaga Islam, memiliki hubungan yang kuat dengan isu-isu sosial dan tradisi Indonesia, telah dikenal sejak zaman sebelum kemerdekaan, yakni sejak agama Islam pertama kali masuk ke Indonesia. Perkembangan sejarah wakaf di Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Zaman Kesultanan

Pada masa Kesultanan, banyak bukti sejarah menunjukkan praktik ibadah wakaf.

Ini terlihat melalui peninggalan sejarah, seperti tanah dan bangunan masjid, madrasah, kompleks makam, serta lahan basah dan kering yang tersebar di seluruh Indonesia, terutama di daerah yang sebelumnya diperintah oleh Kesultanan atau Bupati yang beragama Islam.

Pengaturan mengenai wakaf pada masa Kesultanan, terutama di Jawa (terutama di Jawa Tengah), telah diatur dalam Staatsblad No. 605, bersama dengan Besluit Govermen General Van Ned Indie pada tanggal 12 Agustus 1896 No. 43, dan ddo. 6 November 1912 No. 22 (Bijblad 7760). Aturan tersebut menyatakan bahwa masjid-masjid di Semarang, Kendal, Kaliwungu, dan Demak memiliki tanah sawah yang digunakan untuk pemeliharaan dan perbaikan masjid, halaman, dan makam keramat para wali yang terletak di sekitar masjid-masjid tersebut. Ini menunjukkan bahwa pada masa Kesultanan, peraturan terkait harta wakaf sudah ada, meskipun masih dalam lingkup yang terbatas.4 2. Zaman Kolonial

Pada masa pemerintahan kolonial, berbagai aturan tentang wakaf diperkenalkan, termasuk surat edaran Sekretaris Gubernur pertama pada tanggal 31 Januari 1905 No.

435 yang mewajibkan Bupati untuk membuat daftar rumah ibadah Islam, serta surat edaran lain pada tahun 1931. Ketentuan-ketentuan ini menimbulkan reaksi dari umat Islam yang merasa campur tangan Pemerintah Kolonial adalah campur tangan terhadap urusan agama Islam. Kemudian, pada tahun 1934, terbit surat edaran lain yang menguatkan ketentuan sebelumnya.5

1 Departemen Agama, Ilmu Fiqih 3, (Jakarta : Depag RI, 1986), cet. ke-II, h. 207.

2 H. Adijani Al-Alabij, Perwakafan Tanah Di Indonesia Dalam Teori Dan Praktek, (Jakarta:1989), h. 23

3 Subulus Salam, Bulughul Maram, Juz Ke-3, Lihat Terjemah, Al-Bassam Abdullah Bin Abdurrahman, Syarah Bulughul Maram, (Jakarta:Pustaka Azzam, 2006), cet. ke-1, Jilid 5, h. 117.

4 Agus Fathuddin Yusuf, Melacak Bondo Masjid yang Hilang, (Semarang: Aneka Ilmu, 2001), hlm. 80.

5 Soeprapto, Perubahan Penggunaan Tanah Wakaf dari Sudut Agraria, Mimeo, Makalah disampaikan Temu Wicara Perwakafan Tanah Milik Departemen Agama RI. (Jakarta, 19-20 September 1987), h. 4.

(2)

Setelah kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia tetap menghormati hukum agama mengenai wakaf, tetapi peran pemerintah hanya terbatas pada penyelidikan, penetapan, pencatatan, dan pengawasan pemeliharaan harta wakaf. Selanjutnya, ada perubahan dalam proses pengesahan perwakafan tanah milik, yang kemudian dialihkan kepada Kepala Pengawas Agraria.6

Dalam upaya menjaga tanah wakaf dan mencegah penyalahgunaannya, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977. Peraturan ini didasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin kebebasan beragama dan menegaskan bahwa negara didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Wakaf dianggap sebagai bentuk ibadah, dan pemerintah memiliki kewajiban untuk mengaturnya melalui peraturan perundang-undangan. Tujuannya adalah untuk menciptakan keteraturan dalam pelaksanaan wakaf sehingga manfaatnya dapat dinikmati oleh masyarakat.7

3. Zaman Kemerdekaan

Perwakafan umum di Indonesia belum memiliki regulasi resmi yang mengatur.

Karena wakaf berada dalam ranah hukum Islam, pelaksanaannya mengikuti hukum Islam, terutama fiqih Islam. Di Indonesia, ada sejumlah peraturan yang mengatasi isu perwakafan tanah milik, termasuk dalam buku Himpunan Peraturan Perundang-undangan Perwakafan Tanah yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI. Peraturan-peraturan tersebut mencakup UU No 15 Tahun 1960, PP No. 10 Tahun 1961, Peraturan Menteri Agraria No. 14 Tahun 1961, PP No. 38 Tahun 1963, Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 1977, Peraturan Menteri Agama No.

1 Tahun 1978, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 Tahun 1978, dan sejumlah lainnya. Selain itu, ada peraturan-peraturan yang secara tidak langsung terkait dengan perwakafan tanah milik. Pada awalnya, wakaf hanya diidentifikasi dalam bentuk tanah, tetapi sejak peraturan perundang-undangan tentang wakaf tunai dikeluarkan pada tahun 2004, masyarakat mulai mengenali wakaf dalam bentuk uang. Wakaf tunai adalah bentuk wakaf yang diberikan dalam bentuk uang tunai dan termasuk dalam kategori wakaf produktif. Salah satu contoh wakaf uang di Indonesia adalah Layanan Kesehatan Cuma- Cuma (LKC) Dompet Dhu‟afa Republika, yang memberikan layanan kesehatan gratis kepada kaum dhu‟afa.8

6 Suharmadi dan Muhda Hadisaputra dan Amidhan, Pedoman Praktis Perwakafan, (Jakarta: Badan Kesejahteraan Masjid, 1990), h. 129

7 Hazairin, DemokrasiPancasila, (Jakarta: Bina Aksara, 1993), h. 34.

8 Muhammad Daud Ali, SistemEkonomi Zakat Dan Wakaf, (Jakarta: Penerbit UI Press, Jakarta 1998), h. 98-99.

Referensi

Dokumen terkait

Kata-kata atau istilah bahasa Arab yang sudah lazim digunakan dalam bahasa Indonesia, penulisannya disesuaikan dengan Pedoman Umum Pembentukan istilah bahasa Indonesia.Misalnya,

Tidak memergunakan kata/istilah dari bahasa lain jika dalam bahasa Indonesia sudah ada kata yang tepat, misal: peragaan busana untuk fashion show.. Penggunaan kata/istilah

Banyak kosa kata atau istilah dalam bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari kosa kata atau istilah dari bahasa Inggris, dan beberapa dari bahasa Arab, Perancis, atau

Istilah dalam bahasa asing, bahasa daerah, atau nama umum yang tidak terdapat padanannya dalam EYD, dapat dituliskan dengan kata aslinya dan dicetak miring.. Istilah dalam bahasa

Hal ini perlu diperhatikan karena mendikte adalah menuliskan bahasa yang dilisankan (diucapkan). Sebagaimana diketahui, dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata yang

Kata-kata yang merupakan istilah bidang politik tersebut memang hanya sebatas istilah tertentu saja atau bisa juga merupakan kata-kata dalam bahasa Indonesia

Dalam surat yang berisi usulan pembentukan Badan Wakaf Indonesia (BWI) tersebut diberikan landasan pemikiran, yaitu dalam kaitan pengelolaan produktif dengan

Pidato yang dipakai untuk menyatakan bahasa Melayu menjadi bahasan Indonesia diucapkan dalam bahasa Belanda (Amran Halim 1972: 13)... Sebagai bahasa perantara