PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Upacara Rambu Solo merupakan upacara berkabung yang dalam pelaksanaannya tidak kalah meriahnya dengan upacara Rambu Tuka. Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan Upacara Rante yang dilaksanakan di lapangan khusus. Beberapa motivasi masyarakat Toraja menyembelih sapi kerbau pada acara adat (Rambu Solo' dan Rambu Tuka').
Bagi mereka, sebelum upacara Rambu Solo dilaksanakan, orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit. Begitu pula dalam upacara Rambu Solo' terjadi pertukaran yaitu saling memberi sumbangan dalam bentuk hutang yang disebut. Pada dasarnya upacara Rambu Solo juga mendapat banyak reaksi dari masyarakat setempat, khususnya di Kecamatan Ariang.
Makna upacara Rambu solo hendaknya dikristenkan, sebagai ucapan syukur, dan bukan lagi untuk mengantar orang meninggal ke Puya. Dapat disimpulkan bahwa Upacara Rambu Solo memakan biaya yang tidak sedikit (ratusan juta hingga milyaran rupiah).
Definisi Operasional
TINJAUAN PUSTAKA
Persepsi
Umumnya stimulus diteruskan melalui saraf menuju otak melalui sistem saraf pusat dan proses selanjutnya adalah proses persepsi. Menurut Moskowitz dan Ogel (Walgito, 2003:54), persepsi adalah suatu proses terpadu dari individu terhadap rangsangan yang diterimanya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengorganisasian, penafsiran rangsangan yang diterima oleh suatu organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang bermakna dan merupakan suatu kegiatan terpadu dalam diri individu.
Sehingga para ahli sosiologi seperti Mac Iver dan J.L Gillin memberikan pengertian bahwa masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang saling berinteraksi karena mempunyai nilai, norma, tata krama, dan tata cara yang menjadi kebutuhan bersama yang berupa suatu sistem kebiasaan tertentu yang bersifat berkesinambungan dan terikat oleh suatu identitas bersama (Musadun, 2000 dalam Adrianto, 2006). Pengertian persepsi masyarakat dapat disimpulkan sebagai suatu respon atau pengetahuan lingkungan dari kumpulan individu yang saling berinteraksi karena mempunyai nilai, norma, tata krama, dan tata cara yang membentuk suatu kebutuhan bersama yang berupa suatu sistem kebiasaan. Tahap pertama yang disebut proses alami atau proses fisik adalah proses diterimanya suatu rangsangan oleh indera manusia.
Fase kedua yang disebut proses fisiologis adalah proses penyampaian rangsangan yang diterima oleh reseptor (organ indera) melalui saraf sensorik. Tahap ketiga, tahap yang dikenal dengan proses psikologis, merupakan proses kesadaran individu terhadap stimulus yang diterima oleh reseptor.
Pentingnya Kebudayaan bagi masyarakat
Hal ini juga terlihat pada masyarakat Toraja yang telah lama dikenal sebagai masyarakat yang religius dan memiliki integritas yang tinggi dalam menjunjung tinggi kebudayaannya. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap masyarakat selalu menghargai hal-hal tertentu dalam masyarakatnya masing-masing. Rasa hormat yang lebih besar terhadap hal-hal tertentu akan menempatkan hal-hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan hal-hal lainnya.
Misalnya, jika suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan materi daripada kehormatan, maka mereka yang memiliki kekayaan materi lebih banyak akan menduduki kedudukan lebih tinggi dibandingkan orang lain. Sorokin (Narwoko dan Bagong, 2006) menyatakan bahwa sistem stratifikasi dalam masyarakat menyangkut berbagai aspek ciri-ciri yang bersifat permanen dan umum pada setiap masyarakat yang hidup tertib. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, banyak orang asing dan orang barat yang menyukai budaya kita; bahkan banyak dari mereka yang datang jauh-jauh ke Indonesia untuk mempelajari budaya kita, sedangkan penerus negara banyak yang lebih memilih budaya asing, baik itu budaya Asia lainnya.
Namun pernahkah terpikir bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah, banyak orang yang mengatakan bahwa sebagian besar generasi kita tidak mencintai dan tidak melestarikan budaya sendiri, bagaimana dengan orang barat dan asing? Mereka juga mempelajari budaya kita, artinya mereka tidak menyukai budayanya sendiri. Namun alangkah baiknya jika kita mencintai dan melestarikan budaya kita sendiri, sehingga budaya kita mendunia dan menjadi kebanggaan masyarakat.
Upacara Rambu Solo’
Meliputi ritual keagamaan berupa Rambu tuka' (aluk rampe mataallo) dan Rambu solo' (berkabung atau aluk rampe matampu') dan merupakan sumber aturan serta aspek kehidupan suatu masyarakat penganutnya secara turun temurun (Frans, 2007). Oleh karena itu, setiap adat atau ritual dalam masyarakat Toraja harus dijaga keselarasan dan keharmonisannya. Seperti halnya upacara Rambu Solo, pihak keluarga melakukan serangkaian ritual sakral sebelum dilepaskan ke alam roh dengan harapan kelak diterima di sana (puya alam) dan tidak membawa malapetaka. b) Tradisi ritual.
Oleh karena itu pelaksanaan upacara Rambu Tuka' dan upacara Rambu Solo' tidak dapat dicampuradukkan, jenis upacara yang satu harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum jenis upacara yang lain dilaksanakan. Rambu Solo' terdiri dari dua suku kata, yaitu Rambu yang berarti asap dan Solo yang berarti turun. Nenek moyang orang Toraja mengatakan upacara kematian dalam istilah Toraja disebut Rambu Solo' karena penuh dengan duka, duka dan ratapan bagi keluarga.
Rambu solo' merupakan upacara adat pemakaman yang mengharuskan keluarga almarhum mengadakan pesta sebagai tanda penghormatan terakhir terhadap almarhum. Rambu Solo' bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang telah meninggal ke alam roh, yaitu kembali ke alam kekekalan bersama leluhurnya di sebuah tempat peristirahatan bernama Puya yang terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia. Dalam konteks ini, upacara Rambu Solo' menjadi sebuah “kewajiban” agar masyarakat Tana Toraja menyelenggarakannya dengan cara apa pun sebagai bentuk bakti kepada orang lanjut usia yang telah meninggal dunia.
Strata dalam masyarakat yang muncul secara otomatis, seperti strata berdasarkan umur, jenis kelamin, kecerdasan, dan kekayaan. Dalam teori sosiologi terdapat unsur-unsur sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peran (role). Kedudukan sosial berarti kedudukan umum seseorang dalam masyarakat dalam hubungannya dengan orang lain, dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya, reputasinya, serta hak dan kewajibannya.
Orang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan paling atas dalam sistem stratifikasi sosial pada masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan seringkali tidak dapat dipisahkan dari ukuran kekayaan, karena orang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan. Stratifikasi sosial akan selalu dijumpai dalam masyarakat selama masih ada sesuatu yang dihargai dalam masyarakat tersebut.
Interaksionisme
Dasar analisis teori Homans adalah pertukaran sosial tatap muka antara dua individu dengan konsep prinsip ekonomi. Homans berpendapat bahwa masyarakat dan institusi sosial benar-benar ada karena adanya pertukaran sosial. Interaksionisme simbolik memusatkan perhatian kita pada interaksi antar individu dan bagaimana kita dapat menggunakannya untuk memahami apa yang dikatakan dan dilakukan orang lain terhadap kita sebagai individu.
Para ahli dalam perspektif interaksionisme simbolik melihat bahwa individu adalah objek yang dapat langsung dipelajari dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu lain. Mereka menemukan bahwa individu-individu ini berinteraksi menggunakan simbol-simbol, termasuk tanda, gerak tubuh, dan kata-kata. Simbol meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non-verbal dan benda-benda yang disepakati bersama menurut Meed (George Ritzer: 2007).
Bahasa atau komunikasi melalui simbol merupakan isyarat yang mempunyai makna khusus yang dimunculkan oleh individu lain yang mempunyai gagasan yang sama dengan tanda dan simbol yang muncul. Orang mampu secara sadar membayangkan tindakan mereka melalui sudut pandang orang lain; Hal ini menyebabkan masyarakat dengan sengaja membentuk perilakunya dengan tujuan untuk memperoleh respon tertentu dari pihak lain. Komunikasi dengan diri sendiri merupakan suatu bentuk pemikiran yang pada hakikatnya merupakan kemampuan unik manusia.
Dalam interaksi sosial, orang mempelajari makna dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir tersebut. Orang mampu mengadaptasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi mereka terhadap situasi. Melakukan penyesuaian dan perubahan ini, sebagian karena kemampuan mereka berkomunikasi dengan diri mereka sendiri, memungkinkan hal ini.
Kerangka Pikir
Pelaksanaan upacara Rambu Solo’ dimulai dari panggung yang ditampilkan dengan suasana duka yang ditandai dengan banyaknya masyarakat yang mengenakan pakaian serba hitam. Dalam tradisi Toraja, lapisan bawah tidak boleh melakukan atau melaksanakan upacara Rambu Solo' seperti yang dilakukan oleh lapisan atas. Dari upacara Rambu solo' kita dapat mengetahui, dari strata manakah keluarga yang melaksanakan upacara ini, mulai dari strata bangsawan, menengah, atau budak.
Masyarakat kelas bawah dan menengah saat ini berusaha untuk menaikkan status sosialnya di masyarakat dengan menjaga upacara Rambu Solo’ semeriah mungkin. Sebagai orang Toraja, saya setuju dengan Rambu Solo' dan akan dijaga/dilestarikan dalam kerangka yang wajar dan beretika. Gereja Toraja belum memiliki konsep untuk menggantikan peran “Aluk Todolo” yang membawahi upacara Rambu Solo setelah masa tersebut.
Penelitian Relavan
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Tempat
- Waktu
- Fokus Penelitian
- Informan Penelitian
- Jenis dan Sumber Data Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Teknik Keabsahan Data
- Etika Penelitian
Rambu Solo' merupakan acara adat yang sangat meriah di Tana Toraja karena memerlukan waktu beberapa hari untuk merayakannya. Dapat dikatakan bahwa dalam ritual ini, hewan apapun yang dikorbankan atau disumbangkan oleh keluarga dan kerabat secara tidak sengaja menjadi hutang keluarga yang melakukan ritual Rambu solo ini. Petrus, sebagai orang Toraja saya setuju dengan Rambu Solo' dan akan dilestarikan/dilestarikan dalam kerangka yang wajar dan beretika.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Kebudayaan Tana Toraja
“Sesuai dengan perjanjian yang kita pegang sebagai masyarakat Toraja, maka perayaan Rambu Solo merupakan adat dan tradisi yang diturunkan dari nenek moyang kita.” Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa alasan masyarakat Toraja sering mengadakan upacara Rambu Solo adalah untuk menghindari rasa malu dari orang lain. Rambu Solo' dan segala cobaannya. merupakan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Toraja yang tidak dimiliki orang lain.
Menurut pemahaman yang kita pegang sebagai masyarakat Toraja, pesta Rambu Solo merupakan adat dan tradisi yang diturunkan dari nenek moyang kita. Rusma Yanti Menurut pemahaman yang kita pegang sebagai masyarakat Toraja, pesta Rambu Solo merupakan adat dan tradisi yang diturunkan dari nenek moyang kita.