• Tidak ada hasil yang ditemukan

mengapa kenaoa dan siapa bagaimana apa

baim 407

Academic year: 2023

Membagikan "mengapa kenaoa dan siapa bagaimana apa"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

KONFIGURASI POLITIK HUKUM NASIONAL TERHADAP KARAKTERISTIK DAN PRINSIP-PRINSIP HUKUM EKONOMI SYARIAH

[Ichwan Ahnaz Alamudi]

UIN Antasari Banjarmasin, Indonesia [email protected]

Received: 17-April-2023; Revised: 24-Mei-2023; Accepted: 20-Juni-2023;

ABSTRACT

This research is motivated by the process of reforming the formation of legislation in the field of Islamic Economics in Indonesia which is intervened by the politics of law through government policies both from the legislative and executive, one of the causes is the people of Indonesia. the religion of Islam. This study aims to determine how the tug of war that occurs in the political configuration of Islamic Economic Law. The research method that the author tries to do in this study is juridical-normative research with a legal political approach. The results of this study generalize that the government as a policy maker in the realm of legislative power at its stage can not be separated from the role of all sectors of the Muslim religion. In the context of Sharia economic legislation, national legal politics provides a place for a strong tendency in the process of Islamic legal legislation, both in terms of institutional and regulatory substance. This is to affirm that the existence of Muslims as the majority of the Indonesian population is given good legal protection by the state. On the other hand, the discourse of whether or not Islam should be placed as the basis of the state, as well as making Islam a positive law, substantially states that Islamic law can be made part of our national positive law.

Keywords: Politics Law, Legislation, Sharia Economy.

INTISARI

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh proses reformasi pembentukan legislasi di bidang Ekonomi Syariah di Indonesia yang diintervensi oleh politik hukum melalui kebijakan pemerintah baik dari legislatif maupun eksekutif, salah satu penyebabnya adalah masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tarik ulur yang terjadi dalam konfigurasi politik Hukum Ekonomi Syariah. Metode penelitian yang penulis coba lakukan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis-normatif dengan pendekatan politik hukum. Hasil penelitian ini menggeneralisasi bahwa pemerintah sebagai pembuat kebijakan di ranah kekuasaan legislatif pada tahapannya tidak lepas dari peran semua sektor agama Islam.

Dalam konteks legislasi ekonomi Syariah, politik hukum nasional memberikan tempat bagi tendensi yang kuat dalam proses legislasi hukum Islam, baik dari segi kelembagaan maupun substansi regulasi. Hal ini untuk menegaskan bahwa keberadaan umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia mendapat perlindungan hukum yang baik dari negara. Di sisi lain, wacana apakah Islam harus ditempatkan sebagai basis negara atau tidak, serta menjadikan Islam sebagai hukum positif, secara substansial menyatakan bahwa hukum Islam dapat dijadikan bagian dari hukum positif nasional kita.

Kata Kunci: Politik Hukum, Legislasi, Ekonomi Syariah.

(2)

2 A. Pendahuluan

Dewasa ini ekonomi syariah merupakan suatu hal yang menjadi alternatif ekonomi di Indonesia selain sistem ekonomi konvensional. Hadirmya ekonomi syariah dalam perkembangannya selain menjadi kabar gembira bagi umat muslim, juga sebagai penyadaran bagi umat muslim lainnya agar dapat bermuamalah secara syariah. Sehingga ini kemudian banyak regulasi yang mengatur dalam kegiatan di lembaga-lembaga ekonomi syariah.1

Kehadiran ekonomi syariah tentu diapresiasi pemerintah sebagai pemangku kebijakan, sehingga banyak lahir produk-produk hukum yang dapat dikatakan tidak dengan mudah begitu saja, seperti membalik telapak tangan. Maka dari itu Pemerintah dalam usaha membangun kepastian hukum di bidang ekonomi syariah melalui Prolegnas kiranya sebagai langkah awal dalam proses legislasi nasional ekonomi syariah agar menjadi suatu undang-undang di Indonesia.

Di Indonesia kontemporer tumbuh pesat ekonomi syariah dan pranatanya. Lembaga keuangan syariah berkembang menggembirakan. Sejak era reformasi, pemerintah telah mengundangkan banyak aturan atau hukum ekonomi syariah yang digunakan untuk merespons perkembangan hukum di masyarakat dan bentuk akomodasi terhadap keberadaan umat Islam untuk menjalankan ajaran agamanya.2 Setelah sekian lama trend ekonomi syariah berlangsung sudah saatnya semua melihat sejauh mana kontribusi ekonomi syariah terkait dengan pemerataan keadilan dan kesejahtreaan ekonomi terutama terhadap mayoritas masyarakat yang dewasa itu termasuk dalam masyarakat tertinggal.

Ekonomi syariah di bangun untuk tujuan yang suci, dituntun oleh ajaran Islam dan di capai dengan cara-cara yang di tuntunkan pula oleh ajaran Islam. Oleh karena itu kesemua hal tersebut saling terkait dan terstruktur secara hieararkis, dalam arti bahwa spirit ekonomi Islam tercermin dari tujuannya, dan ditopang oleh pilarnya. Tujuan untuk mencapai falah hanya bisa diwujudkan dengan pilar ekonomi Islam, yaitu nilai-nilai dasar (islamic values), dan pilar operasional yang tercermin dalam prinsip-prinsip ekonomi Islam. Maka dari itu melihat arah tindak lanjut perkembangannya penulis ingin membuat suatu tulisan sederhana ini berbentuk makalah dengan judul “Konfigurasi Politik Hukum Nasional Terhadap Karakteristik dan Prinsip- Prinsip Hukum Ekonomi Syariah”.

Sejauh penelusuran yang dilakukan, memang dinamika perkembangan ekonomi syariah ini telah banyak dilakukan dalam berbagai kajian ilmiah, seperti; Fitrianur Syarif dalam tulisan beliau yang berjudul “Perkembangan Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia” yang menghasilkan kesimpulan keberadaan ekonomi syariah di Indonesia, sesungguhnya sudah mengakar sekalipun keberlakuannya masih bersifat normatif sosiologis. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia tahun 1997, menjadikan pemerintah mulai melirik pada sistem yang berangkat dari sistem ekonomi Syari’ah. Beberapa perangkat hukum untuk memayungi penerapan ekonomi syariah Indonesia sudah relatif banyak, sekalipun belum maksimal. Ke depan perlu upaya yang lebih maksimal dan menyeluruh dalam rangka melengkapi aturan atau regulasi terkait dengan

1 Wahyudin Dharmalaksana dan Lutfiyah Arifin, “KONTRIBUSI UIN SGD BANDUNG DALAM MENGEMBANGKAN EKONOMI SYARIAH DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0,” ADLIYA: Jurnal Hukum dan Kemanusiaan 13, no. 1 (2 September 2019): 2, doi:10.15575/adliya.v13i1.4459.

2 Ana Indriana dan Abdillah Halim, “POLITIK HUKUM EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA,” El- Wasathiya: Jurnal Studi Agama 8, no. 1 (20 Juni 2020): 80, http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3932.

(3)

3

ekonomi syariah, sehingga keberadaan ekonomi syariah menjadi kuat tidak hanya secara normatif sosiologis tetapi juga yuridis formil.3

Ada pula Agus Marimin, Abdul Haris Romdhoni dan Tira Nur Fitria dalam tulisannya yang berjudul “Perkembangan Bank Syariah Di Indonesia” yang mempunyai kesimpulan bahwa Bank Syariah pada dasarnya memiliki potensi dan peluang yang luar biasa besar. Pertumbuhan dari segi aset pun sudah membuktikan bahwa Bank Syariah merupakan model bank yang sangat ideal untuk mendorong kemajuan perekonomian Negara. Namun dari segi kualitas pelayanan Bank Syariah harus mengejar ketinggalannya dari Bank Konvensional yang telah lebih awal berdiri. Selain itu, untuk menghasilkan persaingan yang produktif antara Bank Syariah dan Bank Konvensional diperlukan peraturan perbankan khusus untuk Perbankan Syariah sehingga mampu menjalankan tugasnya tanpa harus mengekor kepada sistem konvensional.4

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-normatif, yaitu pendekatan yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan, teori-teori, dan konsep-konsep berhubungan dengan cakupan hukum mengenai regulasi-regulasi pada bidang ekonomi syariah dengan mencoba menggunakan metode politik hukum.5 Sumber data penelitian ini adalah data kepustakaan, sedangkan jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari studi kepustakaan terhadap bahan-bahan hukum atau referensi berkaitan dengan permasalahan penelitian. Studi kepustakaan dilakukan terhadap bahan- bahan hukum yang berkaitan dengan permasalahan penelitian yaitu tentang politik hukum pembentukan undang-undang di bidang ekonomi syariah.

C. Hasil dan Pembahasan

1. Politik Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia

Studi dalam bahasan politik hukum tentang hukum ekonomi syariah dewasa ini pada banyak diskursus ketika ditemui merupakan suatu urgensi terhadap suara-suara umat Islam, salah satu kajian politik hukum menjadi suatu bacaan melihat negara untuk menjawab keinginan rakyatnya.6 Hal ini sejalan ketika merujuk pada suatu gagasan politik hukum Mahfud MD yang menggeneralisasi bahwa “politik hukum kajian terkait legal policy atau garis kebijakan formal tentang norma yang akan dilaksanakan baik dalam konteks pembuatan hukum atau pembaharuan hukum”.7

Sistem hukum di Indonesia dalam sejarahnya merupakan warisan para kolonial dengan sistem hukum eropa kontinental, dalam hal ini mengikuti tradisi civil law dengan ciri khasnya adalah sebuah peraturan perundang-undangan yang terkodifikasi. Untuk mencapai suatu legalisasi sebuah peraturan perundang-undangan di Indonesia dengan metode jalan legislasi,

3 “Perkembangan Hukum Ekonomi Syariah Di Indonesia,” PLENO JURE 8, no. 2 (26 April 2019): 14, doi:10.37541/plenojure.v8i2.38.

4 Marimin Ramdhoni, “Perkembangan bank syariah di Indonesia,” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 1, no. 2 (2015): 86.

5 Ichwan Ahnaz Alamudi dan Ahmadi Hasan, “Politik Hukum Pembentukan Legislasi Bidang Ekonomi Syariah Di Indonesia,” JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES 5, no. 1 (4 Mei 2021): 3, doi:10.18592/jils.v5i1.4749.

6 Abdul Halim, Politik Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Ciputat Press, 2005), 4.

7 Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, Cetakan ke-3 (Jakarta: Rajawali Press, 2010), 1.

(4)

4

proses legislasi ini akan dibicarakan oleh lembaga yang memiliki otoritas terkait proses dalam merumuskan materi-materi hukum.

Berangkat dari hal diatas, umat Islam tentu mengharapkan berlakunya atas ekonomi berbasis syariah di Indonesia. Upaya ini jelas melalui jalan legislasi dengan alurnya menyusun draf Rancangan Undang-Undang (RUU) ini kemudian diajukan kepada lembaga legislatif agar mendapat persetujuan.8 Berkaitan dengan agenda dari proses legislasi mencakup hal mengkaji, merancang, membahas dan mengesahkan undang-undang, serta pengajuan ini dapat melalui presiden atau atas inisitaif DPR.

Dalam mentransformsikan ekonomi syariah menuju Peraturan Perundang-Undangan setidaknya harus ada empat landasan yang harus dipenuhi, yaitu i) landasan filosofis, ii) landasan sosiologis, iii) landasan yuridis, dan iv) landasan politis:9

- Landasan filosofis, berisi nilai moral dan etika. baik dan buruk pada dasarnya merupakan suatu ajaran moral dan etika, sedangkan nilai itu sendiri merupakan suatu pandangan dan cita-cita yang dijunjung tinggi karena didalamnya ada nilai kebenaran dan keadilan.

- Landasan sosiologis, berisi suatu keyakinan umum dalam kesadaran hukum pada masyarakat.

Karena dalam konteks ini hukum atau aturan yang dibuat nantinya akan ditaati oleh masyarakat, hukum notabenenya dibuat sesuai dengan hukum yang hidup (living law).

- Landasan yuridis, berisi landasan hukum yang akan menjadi dasar suatu kewenangan. Dasar hukum kewenangan ini sebuah dasar untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan yang dalam artian juga sebagai suatu wewenang para pejabat dan badan yang memiliki otoritas dalam menerbitkan peraturan.

- Landasan politis, berisi suatu garis kebijakan politik yang kedepan digunakan sebagai dasar atas terlaksananya pemerintahan negara. pada konteks ini tentu landasan politis sebagai arah untuk menjalankan suatu program legislasi nasional.

Selanjutnya pada proses legislasi ekonomi syariah kedalam jalur legislasi, ada tiga hal yaitu substansi, bentuk dan proses. Pertama substansi, doktrin-doktrin dalam kitab fikih, ijtihad, dan fatwa ulama tidak bisa menjadi rujukan yang tak terindahkan. Kedua dalam segi bentuk, memperhatikan suatu hierarki perundang-undangan dalam jangkauan berlakunya. Ketiga dalam prosenya, legislasi ekonomi syariah dinilai lebih sulit karena berbeda dengan bentuk peraturan pemerintah dan turunan dibawahnya.

UUD NRI 1945 sebagai konstitusi dalam hal ini menyatakan secara jelas sesungguhnya negara Indonesia aadalah negara hukum, ini jelas bahwa Indonesia negara yang berdasarkan atas hukum (rechtstaat) bukan negara politik atau kekuasaan. Setelah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia melaksanakan amandemen, bahwa negara Indonesia adalah negara hukum hal dituliskan dalam BAB I Pasal 1 ayat (3) “Negara Indonesia adalah Negara Hukum.10

Hal ini berkaitan dengan cikal bakal pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada merupakan sebuah dari konsep politik hukum, konfigurasi bebas nilai, melalui beberapa aspek pendekatan sosal, budaya, politik, ekonomi dan hukum. Interaksi keduanya merupakan bagian dari proses saling memberi intervensi satu sama lain. Konsep ini dalam konfigurasi

8 Agus Riwanto, “Strategi Politik Hukum Meningkatkan Kualitas Kinerja DPR RI dalam Produktivitas Legislasi Nasional,” Jurnal Cita Hukum 4, no. 2 (Desember 2016): 269.

9 Suhartono, Menggagas Legislasi Ekonomi syariah ke Ranah Sistem Hukum Nasional, www. Badilag. Net.

Diakses 27 Maret 2023.

10 Penjelasan UUD NRI 1945 Setelah Amandemen yaitu Pasal 1 ayat 3; “Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum”.

(5)

5

pembentukan peraturan perundang-undangan dilihat dalam aspek tiga klasifikasi hukum yang notabene berlaku dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:11

- Hukum dan peraturan perundang-undangan sebagai pelayan kekuasaan.

- Hukum dan peraturan perundang-undangan merupakan sebagai institusi yang independent.

- Hukum dan peraturan perundang-undangan selain sebagai fasilitator berfungsi memberikan respon cepat terhadap aspirasi sosial.

Berbicara tentang hadirnya ekonomi syariah dalam tatanan hukum Indonesia, pada dasarnya ini merupakan suatu tuntutan sejarah dan keinginan rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Ekonomi syariah juga dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat luas yang dalam hal ini tujuan ekonomi syariah mengawal kesejahteraan rakyat sesuai dengan gagasan-gagasan para founding fathers yang mengharapkan ekonomi Indonsia adil dan merata tanpa diskriminasi dengan menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Konsep ini sejalan dengan pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan konstitusi negara “Dengan Mewujudkan Suatu Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia”. sehingga Pasal 33 UUD NRI 1945 yang dijadikan dasar sebagai perekonomian nasional mampu menghadirkan kualitas ekonomi rakyat.12

Diskursus mengenai ekonomi syariah tentu tidak akan bisa terlepas dari hukum Islam di Indonesia. hukum Islam sendiri di Indonesia pada dasanya sudah mendapatkan tempat yang baik, hal itu bisa dilihat dalam perspektif normatif, sosiologi dan yuridis. Pandangan Amin Summa bahwa pentingnya untuk berlakunya hukum Islam di Indonesia ini baik dalam alasan sejarah ataupun konstitusi sudah menjadi kebutuhan bangsa Indonesia sendiri.13 kehadiran ekonomi syariah yang menghendaki ekonomi dengan prinsip syariah yang kegiatan usaha dalam hukum ekonomi syariah sesuai ketentuan tidak bertentangan pada sesuatu yang dilarang Islam seperti riba, maisir, gharar, zalim dan haram.14

Politik hukum dalam bidang ekonomi syariah di Indonesia dewasa ini memperlihatkan arah dasar dalam tahapan proses legislasi pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang operasinya berdasarkan konsep bagi hasil. Kemudian terjadinya perubahan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 dengan secara jelas menyatakan bahwa istilah “bank berdasarkan prinsip syariah”. Dalam hal ini menjadikan angin segar bagi ekonomi umat Islam yang diperjuangankan bagi para ulama, akademisi, dan para praktisi. Sehingga eksistensi ekonomi syariah mendapatkan tempat untuk mewujudkan keinginan umat Islam.15

Selanjutnya dalam segi peraturan kehadiran Undang-undang seperti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaiman mengalami perubahan atas Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Nasional, Undang- undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.16

11 Lukman Santoso, “Politik Hukum Ekonomi Syariah,” Jurnal Sosio-Religia 10, no. 2 (Mei 2012): 109.

12 Lihat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33.

13 Muhammad Amin Summa, Himpunan Undang-Undang Perdata Islam dan Peraturan Pelaksana Lainnya di Negara Hukum Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), 4.

14 Ahmadi Hasan, Sejarah Legislasi Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia (Yogyakarta: LKIS, 2017), 107.

15 Santoso, “Politik Hukum Ekonomi Syariah,” 112.

16 M. Rifqinizamy Karsayuda, “Politik Hukum Nasional Legislasi Hukum Ekonomi Syariah,” De Jure:

Jurnal Hukum dan Syar’iah 7, no. 1 (1 Juni 2015): 45, doi:10.18860/j-fsh.v7i1.3510.

(6)

6

Sesungguhnya ekonomi syariah dalam aktualisasinya menjadi penting tertutama dalam konteks mencari solusi dari krisis ekonomi yang dirasakan bangsa Indonesia. Solusi tersebut merupakan dasar pijakan alternatif dalam upaya optimalisasi sumber daya ekonomi umat Islam yang dalam diskursus keuangan perbankan terjadi skeptis terhadap halalnya sistem keuangan perbankan, dewasa ini gagasan ekonomi syariah sebagai lembaga keuangan dengan basis ajaran Islam agar menjadi suatu pencerahan terhadap bentuk praktik-praktik diluar yang menggunakan konsep bunga atau ribawi.17

Pembangunan ekonomi dalam bidang ekonomi syariah dilihat memang banyak memberikan suatu kontribusi terhadap saat Indonesia mengalami krisis moneter, hal ini yang menjadi titik perhatian para lembaga yang memiliki otoritas dalam memberikan tempat terhadap kepastian hukum dalam sisi normatif. Tentu untuk memberikan payung hukum terhadap positifikasi hukum Islam kedalam hukum nasional sangatlah tidak mudah, hal ini terwujud melalui usaha-usaha dan kehendak para pemangku kebijakan untuk mendorong agar terwujudnya cita-cita tersebut.

Berdasarkan uraian diatas dalam proses legislasi yang ada hingga terbitnya suatu produk hukum merupakan bagian dari suatu analisis kajian politik hukum, hal ini dinilai para-para pejuang ekonomi syariah yang notabenenya adalah para pengisi parlemen yaitu partai-partai Islam. Hal ini dilihat dalam beberapa faktor diantaranya, kelompok Islam diberikan tempat dalam lembaga legislasi, banyak dukungan dari partai-partai Islam, perubahan sistem politik dalam masyarakat yang menyebabkan para elite politik harus mengikuti keadaan. Pada konteks ini kedepan dari sisi kelembagaan keuangan syariah menjadi kebutuhan dan keharusan yang menyebabkan negara harus merespon dan menjamin aspirasi dan keinginan masyarakat muslim di Indonesia.18

2. Karakteristik dan Prinsip-Prinsip Hukum Ekonomi Syariah

Kata hukum yang dikenal dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab hukm yang berarti putusan (judgement) atau ketetapan (provision). Dalam ensiklopedi Hukum Islam, hukum berarti menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya.19 Sebagaimana telah disebut diatas, bahwa kajian ilmu ekonomi Islam terikat dengan nilai-nilai Islam, atau dalam istilah sehari-hari terikat dengan ketentuan halal-haram, sementara persoalan halal-haram merupakan salah satu ruang lingkup kajian hukum, maka hal tersebut menunjukkan keterkaitan yang erat antara hukum, ekonomi dan syariah. Pemakaian kata syariah sebagai fiqh tampak secara khusus pada pencantuman syariah Islam sebagai sumber legislasi dibeberapa negara muslim, perbankan syariah, asurqansi syariah, dan ekonomi syariah.

Sistem ekonomi syariah pada suatu sisi dan hukum ekonomi syariah pada sisi lain menjadi permasalahan yang harus dibangun berdasarkan amanah UU di Indonesia. untuk membangun sistem ekonomi syariah diperlukan kemauan masyarakat untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan fiqih di bidang ekonomi, sedangkan untuk membangun hukum ekonomi syariah diperlukan kemauan politik untuk mengadopsi hukum fiqih dengan penyesuaian terhadap

17 Illy i Yanti, “Formalitas Hukum Ekonomi Islam Di Indonesian (Studi Tentang Pemberlakuan Hukum Ekonomi Islam Pasca Lahirnya UU No.3 Tahun 2006,” Al-Risalah: Forum Kajian Hukum Dan Sosial Kemasyarakatan 13, no. 02 (2013): 7, doi:10.30631/alrisalah.v13i02.417.

18 Fauzan Ali Rasyid, “Konfigurasi Politik Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia,” Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan 16, no. 2 (Desember 2016): 313.

19 Eka Sakti Habibullah, “Hukum Ekonomi Syariah dalam Tatanan Hukum Nasional,” Al-Mashlahah:

Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial 5, no. 9 (2017): 699.

(7)

7

situasi dan kondisi masyarakat Indonesia. adopsi yang demikian harus merupakan ijtihad para fukoha, ulama dan pemerintah, sehingga hukum bisa bersifat memaksa sebagai hukum.20

Dalam konteks masyarakat, hukum ekonomi syariah berarti hukum ekonomi Islam yang digali dari sistem ekonomi Islam yang ada dalam masyarakat, yang merupakan pelaksanaan fiqih di bidang ekonomi oleh masyarakat. Pelaksanaan sistem ekonomi oleh masyarakat membutuhkan hukum untuk mengatur guna menciptakan tertib hukum dan menyelesaikan masalah sengketa yang pasti timbul pada interaksi ekonomi. Dengan kata lain sistem ekonomi syariah memerlukan dukungan hukum ekonomi syariah untuk menyelesaikan berbagai sengketa yang mungkin muncul dalam masyarakat.

Produk hukum ekonomi syariah secara konkreet di Indonesia khusunya dapat dilihat dari pengakuan atas Fatwa Dewan Styariah Nasional, sebagai hukum materiil ekonomi syariah, untuk kemudian sebagiannya dituangkan dalam PBI atau SEBI. Demikian juga dalam bentuk undang- undang, seperti contohnya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, dan lain sebagainya, diharapkan dapat mengisi kekosongan perundang-undangan dalam bidang ekonomi syariah.21

Ekonomi syariah mempunyai ciri khas khusus yang membedakan dengan yang lain ekonomi syariah sehingga mempunyai karakteristik dasar yang menjadikannya berbeda dengan ekonomi kapitalis dan sosialis. Ekonomi syariah memiliki nilai-nilai yang berfokus pada ‘amar ma’ruf dan nahi mungkar. Walaupun para ahli berbeda dalam menjelaskan karakteristik ekonomi syariah, namun terdapat beberapa persamaan umum tentang karakteristik ekonomi syariah, beberapa karakteristik ekonomi syariah tersebut adalah sebagai berikut.22

Pertama karakteristik ekonomi ketuhanan, ekonomi syariah bersumber dari wahyu Allah Azza Wa Jalla dalam bentuk syariat Islam. Ekonomi syariah adalah bagian dari pengamalan agama Islam. Karakteristik kedua ekonomi pertengahan, ekonomi syariah mempunyai keseimbangan antara berbagai aspek, sehingga sering disebut sebagai ekonomi pertengahan.

Ekonomi syariah juga mempunyai pandangan terhadap hak individudan masyarakat diletakkan dalam neraca keseimbangan yang adil tentang dunia dan akhirat, jiwa dan raga, akal dan hati, perumpamaan dan kenyataan, imam dan kekuasaan. Ketiga yang menjadi karakteristik ekonomio berkeadilan, ekonomi syariah sangat memperhatikan aspek keadilan bagi semua pihak yang terlibat dalam praktek ekonomi syariah. Hal ini terkait dengan karakteristik yang pertama yaitu ekonomi ketuhanan sehingga diyakini lebih membawa keadilan.23

Prinisp-prinsip ekonomi syariah adalah sejumlah ajaran moral Islam yang menjadi dasar dan orientasi aktivitas ekonomi. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah: pertama, tauhid, bahwa aktivitas produksi dan konsumsi harus berpijak kuat pada prinsip penghambaan kepada Allah semata. Kedua, isti’mar dan istikhlaf, bahwa amanah kepada manusia untuk mengelola kehidupan di dunia harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral terhadap tuhan dan kemanusiaan. Ketiga, kemashalatan, bahwa aktivitas ekonomi dapat dilakukan sejauh mendatangkan kemanfaatan menolak kerusakan terhadap manusia dan alam semesta. Keempat, keadilan, bahwa aktivitas ekonomi harus dilakukan dalam kerangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat. Kelima, kesejahteraan dunia akhirat, lahir dan bathin.24

20 Ibid., 700.

21 Hasan, Sejarah Legislasi Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, 33.

22 Yoyok Prasetyo, Ekonomi Syariah (Yogyakarta: Aria Mandiri Group, 2018), 3.

23 Ibid., 4.

24 Fasiha Fasiha, Ekonomi dan Bisnis Islam: Seri Konsep dan Aplikasi Ekonomi dan Bisnis Islam (Jakarta:

PT Raja Grafindo Persada, 2016), 445–450.

(8)

8

Kehadiran hukum ekonomi syariah dalam tata hukum Indonesia dewasa ini sesungguhnya tidak lagi hanya sekedar karena tuntutan sejarah dan kependudukan (karena mayoritas beragama Islam) seperti anggapan sebagian orang/ pihak; akan tetapi, lebih jauh dari itu, juga disebabkan kebutuhan masyarakat luas setelah diketahui dan dirasakan benar betapa adil dan meratanya sistem ekonomi syariah dalam mengawal kesejahteraan rakyat yang dicita-citakan oleh bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. hal ini seiring dengan perkembangan masyarakat yang semakin kritis tentang mekanisme investasi dengan sistem berbagi laba dan rugi itu diterapkan dan berdampak lebih baik.

Secara yuridis, penerapan hukum ekonomi syariah di Indonesia, yang di dalamnya terangkum lembaga keuangan syariah, memiliki dasar hukum yang sangat kuat. Ketentuan pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang dengan tegas menyatakan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, pada dasarnya mengandung 3 makna, yaitu:25

1. Negara tidak boleh membuat peraturan perundang-undangan atau melakukan kebijakan- kebijakan yang bertentangan dengan dasar keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Negara berkewajiban membuat peraturan perundang-undangan atau kebijakan-kebijakan bagi pelaksanaan wujud rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari segolongan pemeluk agama yang memerlukannya.

3. Negara berkewajiban membuat peraturan perundang-undangan yang melarang siapapun melakukan pelecehan terhadap ajaran agama (paham atheisme).

Dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Kata “menjamin” tersebut bersifat imperatif, yang artinya adalah berkewajiban secara aktif melakukan upaya-upaya agar tiap-tiap penduduk dapat memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.26 Sehingga berdasarkan kepercayaan tersebut maka keinginan umat Islam untuk dibuatnya undang-undang tentang peradilan agama dan perbankan syariah adalah suatu sikap yang proporsional yang berlandaskan konstitusi, yaitu UUD 1945.

Ajaran Islam tumbuh dan berkembang di Indonesia dan mempengaruhi tata kehidupan masyarakat Indonesia, ajaran-ajaran yang tumbuh tersebut telah diformulasi dalam suatu tata aturan yang mengatur tata kehidupan baik dari segi aqidah, muamalah, dan akhlak. Dari segi muamalah, Islam telah mengatur bagaimana cara bermuamalah (berhubungan) antara manusia dengan manusia lain dalam suatu kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ajaran dan prinsip-prinsip syariah yang diterapkan dalam perekonomian hingga melahirkan suatu peraturan-peraturan yang mengandung nilai-nilai syariah; hal ini terlihat seperti apa yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 yaitu pasal 29 ayat 1 dan 2, dan pasal 33 ayat 1, 2, dan 3 yang mana negara Indonesia begitu menjunjung tinggi agama Islam dengan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam perundangan yang mengatur masalah perekonomian Indonesia dengan mengedepankan Ketuhanan, Keadilan dan untuk kemakmuran rakyat. Hukum ekonomi syariah yang merupakan bagian dari hukum Islam adalah juga hukum nasional Indonesia, berdampingan dengan sistem hukum lainnya.

Menurut pandangan kesejarahan jauh sebelum NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia ) dibentuk, bahkan jauh sebelum para penjajah mengangkangi wilayah nusantara

25 Hasan, Sejarah Legislasi Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, 34.

26 Dadan Muttaqien, Aspek Legal Lembaga Keuangan Syariah: Bank, LKM, Reasuransi (Yogyakarta: Safiran Insania Press, 2008), 5–6.

(9)

9

apapun sebutan atau namanya ketika itu, negeri ini telah dihuni oleh penduduk yang jelas-jelas beragama, khususnya Islam yang kemudian keluar sebagai mayoritas tunggal sampai kini.

Sekurang-kurangnya didaerah tertentu, hukum ekonomi Islam dalam konteksnya yang sangat luas pernah berlaku dan paling tidak dari sebagian dari padanya masih tetap diberlakukan sampai sekarang ini.27

Masuknya unsur Islam (ekonomi syariah) dalam cita hukum ekonomi Indonesia, bukian berarti mengarahkan ekonomi nasional kearah ideologi ekonomi agama tertentu, tetapi dikarenakan ekonomi syariah sudah lama hidup dan berkembang tidak hanya di Indonesia, tetapi juga didunia. Sistem ekonomi syariah adalah salah satu dari sistem-sistem ekonomi lainnya seperti kapitalisme dan sosialisme. Menurut Jimmly Asshidiqie,28 dalam perspektif konstitusi ekonomi kita tidak perlu terjebak dalam diskusi mengenai ideologi ekonomi. Ekonomi syariah keberadaannya mempunyai landasan yang kuat baik secara formal syar’i maupun formal konstitusi. Secara formal syar’i keberadaan ekonomi syariah mempunyai landasan dan dalil-dalil yang kuat, sedangkan dalam konteks negara ekonomi syariah mempunyai landasan konstitusional.

3. Konfigurasi Politik Hukum Nasional Terhadap Hukum Ekonomi Syariah

Menurut Mahfud MD secara yuridis konstitusional negara Indonesia bukannlah negara agama dan bukan pula negara sekuler. Indonesia adalah religious nation state atau negara kebangsaan yang beragama, Indonesia adalah negara yang menjadikan ajaran agama sebagai dasar moral, sekaligus sebagai sumber hukum materiil dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu dengan jelas dikatakan bahwa salah satu dasar negara Indonesia adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”.29

Masalah agama merupakan persoalan yang sejak dari awal Indonesia merdeka pada tahun 1945 menjadi perdebatan yang sengit diantara the founding fathers. Pada tanggal 22 Juni 1945 digelar sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang pertama untuk membahas dasar negara Indonesia kelak setelah merdeka. Pembahasan tersebut dilakukan oleh panitia sembilan yang beranggotan Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A.

Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H.A Salim, Achmad Subardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin. Panitia sembilan berhasil merumuskan dasar-dasar negara yang notabene dikenal dengan sebutan Pancasila.30

Namun setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, BPUPKI kembali menggelar sidang kedua dimana salah satunya mensahkan rancangan konstitusi yang telah dibuat sebelumnya menjadi konstitusi resmi negara. hal yang sangat mengejutkan pada saat itu ialah dirubahnya isi poin pertama dasar negara yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan digantikan dengan poin yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam catatan sejarah, perubahan tersebut dilakukan oleh Mohammad Hatta yang kemudian menjadi Wakil Presiden Pertama Indonesia setelah mendengar usul dari A.A Maramis.31

Berangkat dari perspektif sejarah yang tentunya berdampak kepada tatanan sistem maupun konsep hukum ekonomi syariah. Penulis mengutarakan dasar konsep politik hukum yang dikemukakan oleh Mahfud MD bahwa politik hukum adalah legal policy atau garis

27 Habibullah, “Hukum Ekonomi Syariah dalam Tatanan Hukum Nasional,” 692.

28 Jimly Asshidiqie, Konstitusi Ekonomi (Jakarta: Buku Kompas, 2010), 71.

29 MD, Politik Hukum di Indonesia, 8.

30 Karsayuda, “Politik Hukum Nasional Legislasi Hukum Ekonomi Syariah,” 43.

31 Ibid.

(10)

10

kebijakan resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dalam pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara.32 Dengan demikian politik hukum mnerupakan pilihan tentang hukum-hukum yang akan diberlakukan sekaligus pilihan tentang hukum yang akan dicabut atau tidak diberlakukan yang kesemuannya dimaksudkan untuk mencapai tujuan negara seperti yang tercantum didalam pembukaan UUD 1945.

Mahfud MD mengatakan hubungan antara politik dan hukum terdapat tiga asumsi yang mendasarinya, yaitu (1) Hukum determinan menentukan atas politik, dalam arti hukum harus menjadi arah dan pengendali segala kegiatan politik. (2) Politik determinan atas hukum, dalam arti bahwa dalam kenyataannya, baik produk normatif maupun implementasi penegakkan hukum itu, sangat dipengaruhi dan menjadi dipendent variable atas politik. (3) Politik dan hukum terjalin dalam hubungan yang saling bergantung, seperti bunyi adagium, “politik tanpa hukum menimbulkan kesewenang-wenangan (anarkis), hukum tanpa politik akan jadi lumpuh”.33

Pada tataran empiris, politik hukum telah digunakan oleh Mahfud MD dalam memahami relasi antara hukum dan politik. Mahfud MD menghadirkan sebuah pendekatan yang berbeda dalam memahami sebuah fenomena hukum, dalam hal ini berbeda dengan pendekatan klasik yang melihat hukum dari sisi yuridis normatif, Mahfud MD melihat hukum dari sisi yuridis sosio politis, yang menghadirkan sistem politik sebagai variabel yang mempengaruhi rumusan dan pelaksanaan hukum. Berdasarkan hasil penelitiannya Mahfud MD berkesimpulan bahwa suatu proses dan konfigurasi politik rezim tertentu akan signifikan pengaruhnya terhadap suatu produk hukum yang kemudian dilahirkannya. Negara yang konfigurasi politiknya demokratis, produk hukumnya berkarakter responsif atau populistik, sedangkan di negara yang konfigurasi politiknya otoriter, produk hukumnya berkarakter ortodoks, konservatif atau elitis.34

Untuk melihat konfigurasi poliik hukum nasional terhadap hukum ekonomi syariah atas keberpihakannya di Indonesia, kita dapat melihatnya melalui dua aspek yaitu aspek kelembagaan dan aspek substansi hukum yang tercermin dari lahirnya peraturan perundang-undangan yang ada. Pada ranah kelembagaan, politik hukum nasional memberikan peengaturan yang menghadirkan kelembagaan yang memiliki otoritas dalam pengelolaan ekonomi syariah. Sebagai contoh keberadaan Peradilan Agama sebagai institusi kekuasaan kehakiman yang diberikan wewenang untuk menyelesaikan sengketa ekonomi syariah dalam yuridiksi absolutnya. Hal ini dapat dilihat dalam ketentuan pasal 49 UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Pertama UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (UU PA) menyebutkan tentang sejumlah kewenangan yang dimiliki PA. Wewenang (kompetensi) PA diatur dalam pasal 49 sampai dengan pasal 53, dengan kewenangan mengadili perkara perdata bidang; perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum Islam, wakaf, zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi Islam.

Berdasarkan hal diatas dapat dikatakan bahwa kewenangan mutlak (kompetensi absolut) PA meliputi bidang-bidang perdata tertentu seperti tercantum dalam pasal 49 tersebut, dan berdasarkan asas personalitas keIslaman. Dengan perkataan lain, bidang-bidang tertentu dari hukum perdata yang menjadi kewenangan absolut PA adalah bidang hukum keluarga dari orang-

32 MD, Politik Hukum di Indonesia, 1.

33 Karsayuda, “Politik Hukum Nasional Legislasi Hukum Ekonomi Syariah,” 41.

34 Ibid., 42.

(11)

11

orang yang beragama Islam.35 Oleh karena itu menurut Bustanul Arifin, PA dapat dikatakan sebagai peradilan keluarga bagi orang-orang yang beragama Islam.36

Dengan lahirnya UU PA, maka ada beberapa perubahan penting di lembaga Peradilan Agama. Di antaranya adalah wewenang PA dalam menangani sengketa ekonomi syariah. Pada pasal 49 poin i disebutkan dengan jelas bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islamdi bidang ekonomi syariah. Dalam penjelasan undang-undang tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syariah, antara lain meliputi: Bank Syariah, Lembaga keuangan mikro syariah, Asuransi syariah, Reasuransi syariah, Reksadana syariah, Obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah, Sekuritas syariah, pembiayaan syariah, Pegadaian syariah, Dana pensiun lembaga keuangan syariah, dan Bisnis syariah.

Amandemen ini membawa perubahan besar dalam dua kelembagaan penting di negeri ini, yaitu kelembagaan ekonomi syariah dan kelembagaan Peradilan Agama itu sendiri. alah satu materi penting yang diamendemen adalah mengenai wewenang absolut Peradilan Agama.

Selama ini Peradilan Agama hanya berwenang menangani kasus-kasus hukum keluarga seperti nikah, waris/wasiat dan wakaf, tetapi dengan amandemen ini wewenang Peradilan Agama meluas kewilayah ekonomi syariah.

Ini juga berarti membawa implikasi baru dalam sejarah hukum ekonomi di Indonesia.

selama ini, wewenang untuk menangani perselisihan atau sengketa dalam bidang ekonomi syariah diselesaikan di Pengadilan Negeri yang notabene belum bisa dianggap sebagai hukum syariah. Pengadilan Negeri bisa disebut sebagai Pengadilan konvensional. Maka sangat aneh, jika masalah syariah diselesaikan secara konvesional, bukan secara syariah.

Pada dasarnya setiap sengketa yang muncul termasuk sengketa perbankan terdapat tiga aspek, yakni:37

1. Aspek Yuridis, yakni adanya perbedaan antara das sein dan das sollen, atau perbedaan antara kenyataan yang terjadi dengan norma yang seharusnya dijalankan. Sehingga sesuatu yang terjadi itu sebenarnya merupakan hal yang secara normative seharusnya tidak boleh terjadiatau tidak boleh dilakukan.

2. Aspek sosiologis, yakni adanya suatu fakta yang membuat suatu pihak merasa dirugikan oleh pihak lawan yang membuat/ melakukan fakta/kejadian itu, dan tidak mau secara sukarela mengganti kerugian atau menyelesaikan dengan damai dan masing-masing pihak tidak mau atau mengalah salah satunya.

3. Aspek psikologis, yakni bahwa pada hakikatnya sengketa itu terjadi antara sesama manusia dlam kapasitas apapun. Rasa emosional manusia inilah yang memunculkan sengketa.

Selanjutnya A. Mukti Arto karena setiap sengketa mempunyai 3 (tiga) aspek, maka setiap sengketa memiliki tiga sifat yang melekat kepadanya, yang melambangkan unsur-unsur tersebut, yaitu:38

1. Sifat formal, yakni sifat sengketa yang melekat pada nilai atau norma hukum yang mengaturnya, mungkin karena nilai norma hukumnya kurang jelas, terdapat beberapa aturan

35 Zuhriah Erfanah, Peradilan Agama di Indonesiadalam Rentang Sejarah dan Pasang Surut (Malang: UIN Malang Press, 2008), 204.

36 Syaugi Mubarak Seff, “Regulasi Perbankan Syariah Pasca Lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (Kajian Politik Hukum),” Risalah Hukum 4, no. 2 (Desember 2008): 90.

37 Hasan, Sejarah Legislasi Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, 139.

38 Ibid., 140.

(12)

12

yang berbeda atau saling berlawanan, adanya keragu-raguan atau ketidakpastian hukum, atau belum adanya aturan dan lain sebagainya.

2. Sifat substansial, yakni sifat sengketa yang melakat pada objek sengketa atau benda yang dipersengketakan, mungkin bendanya berbeda atau berlainan atau sebagainya.

3. Sifat emosional, yakni sifat sengketa yang melekat pada manusianya mungkin karena perasaan yang meliputi etika dan estetika, pemikirannya, dan kepentingan yang berbeda atau berlawanan.

D. Kesimpulan

Untuk melihat konfigurasi poliik hukum nasional terhadap hukum ekonomi syariah atas keberpihakannya di Indonesia, kita dapat melihatnya melalui dua aspek yaitu aspek kelembagaan dan aspek substansi hukum yang tercermin dari lahirnya peraturan perundang-undangan yang ada. Pada ranah kelembagaan, politik hukum nasional memberikan pengaturan yang menghadirkan kelembagaan yang memiliki otoritas dalam pengelolaan ekonomi syariah.

Dalam konteks legislasi ekonomi syariah politik hukum nasional memberikan tempat sifatnya tendensi yang kuat pada proses legislasi hukum Islam, baik pada aspek kelembagaan, maupun substansi pengaturannya. Hal ini sebagai mempertegas, bahwa keberadaan umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia diberikan perlindungan hukum yang baik oleh negara.

pada sisi lain, diskursus perlu tidaknya Islam diletakkan sebagai dasar negara, sekaligus menjadikan Islam sebagai hukum Positif, secara substansial bahwasanya hukum Islam dapat dijadikan bagian dari hukum positif nasional kita.

Berdasarkan penjelasan di atas, sesungguhnya kajian mengenai kebijakan hukum ekonomi syariah berisfat universal. Karena ruang lingkupnya begitu luas, seperti kebijakan mengenai perbankan syariah, zakat, pasar modal syariah, asuransi syariah, reksada syariah, obligasi syariah sampai dengan penyelesaian sengketa di bidang ekonomi syariah yang dewasa ini jarang sekali tersentuh. Sehingga, rekomendasi yang ditawarkan oleh penulis untuk penelitian selanjutnya diharapkan mampu menyentuh kajian-kajian hukum ekonomi syariah yang lebih spesifik dengan bahasan konfigurasi politik hukum.

DAFTAR PUSTAKA

Alamudi, Ichwan Ahnaz, dan Ahmadi Hasan. “Politik Hukum Pembentukan Legislasi Bidang Ekonomi Syariah Di Indonesia.” JOURNAL OF ISLAMIC AND LAW STUDIES 5, no. 1 (4 Mei 2021). doi:10.18592/jils.v5i1.4749.

Asshidiqie, Jimly. Konstitusi Ekonomi. Jakarta: Buku Kompas, 2010.

Dharmalaksana, Wahyudin, dan Lutfiyah Arifin. “KONTRIBUSI UIN SGD BANDUNG DALAM MENGEMBANGKAN EKONOMI SYARIAH DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0.” ADLIYA: Jurnal Hukum dan Kemanusiaan 13, no. 1 (2 September 2019): 39–56. doi:10.15575/adliya.v13i1.4459.

Erfanah, Zuhriah. Peradilan Agama di Indonesiadalam Rentang Sejarah dan Pasang Surut.

Malang: UIN Malang Press, 2008.

Fasiha, Fasiha. Ekonomi dan Bisnis Islam: Seri Konsep dan Aplikasi Ekonomi dan Bisnis Islam.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016.

Habibullah, Eka Sakti. “Hukum Ekonomi Syariah dalam Tatanan Hukum Nasional.” Al- Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial 5, no. 9 (2017): 699–713.

Halim, Abdul. Politik Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Ciputat Press, 2005.

(13)

13

Hasan, Ahmadi. Sejarah Legislasi Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia. Yogyakarta: LKIS, 2017.

Indriana, Ana, dan Abdillah Halim. “POLITIK HUKUM EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA.” El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama 8, no. 1 (20 Juni 2020): 79–98.

http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/3932.

Karsayuda, M. Rifqinizamy. “Politik Hukum Nasional Legislasi Hukum Ekonomi Syariah.” De Jure: Jurnal Hukum dan Syar’iah 7, no. 1 (1 Juni 2015): 39–46. doi:10.18860/j- fsh.v7i1.3510.

MD, Moh. Mahfud. Politik Hukum di Indonesia. Cetakan ke-3. Jakarta: Rajawali Press, 2010.

Muttaqien, Dadan. Aspek Legal Lembaga Keuangan Syariah: Bank, LKM, Reasuransi.

Yogyakarta: Safiran Insania Press, 2008.

“Perkembangan Hukum Ekonomi Syariah Di Indonesia.” PLENO JURE 8, no. 2 (26 April 2019): 1–16. doi:10.37541/plenojure.v8i2.38.

Prasetyo, Yoyok. Ekonomi Syariah. Yogyakarta: Aria Mandiri Group, 2018.

Ramdhoni, Marimin. “Perkembangan bank syariah di Indonesia.” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 1, no. 2 (2015): 86–96.

Rasyid, Fauzan Ali. “Konfigurasi Politik Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia.” Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan 16, no. 2 (Desember 2016): 313–25.

Riwanto, Agus. “Strategi Politik Hukum Meningkatkan Kualitas Kinerja DPR RI dalam Produktivitas Legislasi Nasional.” Jurnal Cita Hukum 4, no. 2 (Desember 2016): 267–86.

Santoso, Lukman. “Politik Hukum Ekonomi Syariah.” Jurnal Sosio-Religia 10, no. 2 (Mei 2012): 109–23.

Seff, Syaugi Mubarak. “Regulasi Perbankan Syariah Pasca Lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (Kajian Politik Hukum).” Risalah Hukum 4, no. 2 (Desember 2008): 87–97.

Summa, Muhammad Amin. Himpunan Undang-Undang Perdata Islam dan Peraturan Pelaksana Lainnya di Negara Hukum Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

Yanti, Illy i. “Formalitas Hukum Ekonomi Islam Di Indonesian (Studi Tentang Pemberlakuan Hukum Ekonomi Islam Pasca Lahirnya UU No.3 Tahun 2006.” Al-Risalah: Forum Kajian Hukum Dan Sosial Kemasyarakatan 13, no. 02 (2013): 1–19.

doi:10.30631/alrisalah.v13i02.417.

Referensi

Dokumen terkait

Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Sarjana Hukum (S.H) Pada Program Studi Hukum.. Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas

Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Sarjana Syariah (S.Sy) pada Program Studi Hukum.. Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas

Dengan memahami latar belakang sosial ekonomi politik setiap produk hukum ekonomi syariah sebagai bagian penting dari hukum Islam dapat diperoleh berbagai kearifan

8 Ridwan, Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, (Purwokerto: STAIN Press, 2016), hlm. 9 Ridwan, Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, hlm.. Shopee PayLater bisa dinikmati dengan

Matakuliah ini membahas tentang pengertian dan ruang lingkup hukum ekonomi syariah; sejarah dan perkembangan hukum ekonomi syariah di Indonesia;

Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Sarjana Syariah (S.Sy) pada Program Studi Hukum.. Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas

Lahir : Parepare, 30 Oktober 1998 Program Studi : Hukum Ekonomi Syariah Jurusan : Syariah dan Ilmu Hukum Islam Judul Skripsi : Analisis Hukum Ekonomi Islam Terhadap Transaksi Jual Beli

Sriwijaya Parepare Perspektif Hukum Ekonomi Islam” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar “Sarjana Hukum pada Program Studi Hukum Ekonomi Syariah