• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengejar Mimpi Layaknya Elang

N/A
N/A
D1-19@Alfiandri

Academic year: 2024

Membagikan "Mengejar Mimpi Layaknya Elang"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Nama: ALFIANDRI NIM: D1401201019

Mengejar Mimpi Layaknya Elang

Perkenalkan nama saya Alfiandri merupakan mahasiswa jurusan Teknologi Produksi Ternak angkatan 57 atau mahasiswa tingkat akhir. Saya berasal dari keluarga yang sederhana dengan kedua orang tua berjualan buah di salah satu pasar yang ada di Muara Bungo, Jambi. Saya memiliki 3 adik dan sekaligus menjadi anak pertama di dalam keluarga. Keluarga saya bukanlah keluarga yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup bagus, karena ayah saya hanya tamat SLTP, sedangkan ibu saya hanya tamat SLTA. Keterbatasan finansial di keluarga menjadi kendala untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan hal inilah yang menyebabkan Ayah &

Ibu saya tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Namun, saya sangat bersyukur sekali saat ini, karena kedua orangtua saya diberikan rezeki yang lebih, sehingga saya bisa melanjutkan pendidikan bahkan di jenjang perguruan tinggi. Tentunya dalam mencapai titik ini tidaklah mudah, banyak hal yang harus dikorbankan seperti uang, tenaga, mental, jauh dari orang tua, keluarga, hingga kenyamanan yang didapatkan sebelumnya. Pengalaman jauh dari orang tua sudah saya rasakan tidak hanya sekali ini saja, melainkan mulai dari SMP, karena masuk pesantren yang ada di Padang Panjang dan berpindah ke daerah Kota Solok untuk melanjutkan SMA, dan barulah terakhir merantau ke daerah Bogor untuk berkuliah. Setiap daerah baru yang saya lewati, banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan. Rasa penasaran dan ingin berguna untuk orang sekitar menjadi alasan utama saya untuk terus bergerak maju.

Pada tahun pertama ketika saya berkuliah di IPB, tidak ada rasanya kepikiran untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, melainkan hanya mimpi sederhana ketika tamat dari IPB ingin bekerja di perusahaan peternakan dengan gaji UMR. Bahasa Inggris dan rasa kurang percaya diri menjadi alasan utama, kenapa anak seorang pedagang buah ini tidak berani bermimpi terlalu tinggi. Saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa inggris, bahkan di tahun pertama kuliah saya tidak mengenal apa itu simple present tenses dan cara penggunaannya. Beranjak ke masalah kedua yaitu rasa kurang percaya diri, selama menjadi mahasiswa di tahun pertama penolakan demi penolakan untuk mengikuti ormawa hingga kepanitiaan sering didapatkan, sehingga tidak pantas rasanya orang yang selalu gagal ini untuk bermimpi besar, apalagi berkuliah di luar negeri. Hal ini terus berlanjut hingga tahun kedua saya di IPB dan ditambah lagi, dari awal Ibu saya kurang mendukung saya untuk mengambil jurusan peternakan, karena beliau menginginkan saya untuk menjadi seorang polisi. Sepertinya masalah-masalah tadi sudah cukup membuat seorang mahasiswa untuk tidak berani bermimpi besar.

Titik balik kehidupan, bukan elang namanya kalau tidak bisa terbang tinggi untuk mencapai suatu impian besar di dalam hidup. Sikap ketangguhan, kebebasan, dan ingin terus bergerak maju menjadi alasan utama yang membawa elang untuk terus terbang tinggi di angkasa. Begitupun semangat yang ada di dalam diri saya. Saya mulai menyelesaikan permasalahan yang dihadapi satu persatu, mulai dari keterbatasan berbahasa inggris yang membuat saya harus memberanikan diri untuk belajar bahasa inggris ke Pare selama 1 bulan. Selama belajar bahasa inggris 1 bulan di Pare tentunya tidak membuat saya langsung menjadi ahli dalam berbahasa inggris, setidaknya saya memahami beberapa grammar bahasa inggris, peningkatan dalam kosakata, kemampuan berbicara

(2)

bahasa inggris sehari-hari, hingga kemampuan menulis dalam bahasa inggris. Modal awal inilah yang akan mengembangkan diri saya, sehingga nantinya saya diberikan kesempatan untuk menjadi perwakilan mahasiswa di dalam kegiatan akreditasi ASIIN untuk jurusan Teknologi Produksi Ternak dan tidak hanya itu, saya juga menjadi panitia di dalam kegiatan pertukaran mahasiswa Vietnam ke Indonesia sebagai student buddy-nya mereka bersama yang lainnya, lebih kurang selama 1 minggu. Kemudian, menuju masalah kedua yaitu penolakan demi penolakan ketika ingin bergabung ke dalam ormawa ataupun kepanitiaan. Dalam menyelesaikan masalah ini, menurut saya hanya satu yaitu rasa pantang menyerah. Saya sering membaca dan melihat biografi tokoh- tokoh hebat di dunia, mulai dari Nelson Mandela, Soekarno, Barack Obama dan masih banyak lainnya. Semua dari mereka tidak ada yang terlahir langsung menjadi tokoh hebat atau bisa mendapatkan pencapaian tertinggi di dalam hidupnya dengan mudah, pasti selalu ada rintangan yang mereka hadapi untuk menuju ke sana, seperti Nelson Mandela yang harus di penjara bertahun-tahun oleh lawan politiknya sebelum beliau menjadi presiden di Afrika Selatan, bahkan menghapuskan praktik apartheid yang ada di Afrika Selatan. Selain Nelson Mandela, saya juga mengambil pelajaran dari Presiden terpilih saat ini yaitu Bapak Prabowo Subianto. Jika kita melihat ke belakang kehidupan beliau, sudah berapa kali beliau selalu gagal menjadi wakil presiden dan presiden di Indonesia, kalau dihitung sudah 4 kali. Namun, sikap pantang menyerah yang ada di dalam diri beliau, bisa membawanya menjadi pemenang dalam pemilihan presiden tahun 2024 di Indonesia dengan hanya satu putaran mengalahkan dua pesaing lainnya.

Saya bersyukur sikap pantang menyerah ini membuahkan hasil di dalam hidup saya. Sebelum tahun kedua perkuliahan selesai, saya mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan di luar kampus. Beruntungnya pada percobaan ketiga mendaftar kegiatan di luar kampus, saya mendapatkan kesempatan menjadi Campus Ambassador di MySkill ditambah kegiatan ini dibayar.

Tentunya saya sangat senang sekali, karena itu merupakan uang pertama yang saya peroleh dari hasil kerja keras sendiri. Seiring bertambahnya waktu, saya mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk mengikuti kegiatan di luar kampus dan dibayar juga, kalau saya hitung-hitung selama mengikut kegiatan di luar kampus ini saya telah mendapatkan uang sebanyak 20 juta lebih dengan pengalaman kerja sebagai freelance 1 tahun 3 bulan di Rakamin Academy, serta telah menghandle kurang lebih 9 project baik itu B2C (Business to Consumer) ataupun B2B (Business to Business) untuk saat ini.

Rasa percaya diri itu mulai tumbuh di dalam diri saya, bahkan membuat saya berani dan yakin untuk melanjutkan pendidikan S2 ke luar negeri. Puncak pencapaian tertinggi di dalam hidup saya, ketika saya diberikan kesempatan untuk mewakili Fakultas Peternakan untuk maju ke IPB dalam kontestasi pemilihan mahasiswa berprestasi di IPB 2023. Perjalanan menjadi mahasiswa berprestasi tidaklah mudah, karena untuk menjadi perwakilan Fakultas Peternakan ke IPB. Saya harus bersaing dengan seluruh mahasiswa yang ada di Fakultas peternakan, khususnya mahasiswa tingkat dua dan tiga dari 3 jurusan yang berbeda yaitu TPT (Teknologi Produksi Ternak, THT (Teknologi Hasil Ternak), dan INTP (Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan), serta saat itu saya sudah masuk tahun ketiga di IPB. Seleksi demi seleksi saya lewati mulai dari jenjang departemen, fakultas, hingga ke IPB. Syaratnya untuk menjadi mahasiswa berprestasi tidaklah mudah, karena untuk menjadi mahasiswa berprestasi harus memiliki kemampuan bahasa inggris yang bagus, psikologi yang matang, banyak menorehkan prestasi baik itu dalam perlombaan ataupun karya, serta pengakuan, dan yang terakhir yaitu harus membuat gagasan kreatif. Semua tahapan itu saya lalui dan bersyukurnya saya bisa melewati berbagai tahapan itu hingga ke IPB, meskipun di IPB saya hanya menjadi finalis mahasiswa berprestasi IPB. Namun, untuk mencapai kesana tidaklah

(3)

mudah, karena banyak hal yang harus dikorbankan. Pada akhirnya, gelar mahasiswa berprestasi IPB inilah, yang membuat Ibu saya mau mendukung pilihan yang sudah saya ambil sebagai mahasiswa di Jurusan Peternakan IPB.

Pada bagian terakhir ini, saya ingin menceritakan mimpi yang ingin saya wujudkan yaitu ingin melanjutkan studi S2 di luar negeri (University of Queensland, Australia atau Massey University, New Zealand) dengan jurusan manajemen dan breeding peternakan, khususnya ruminansia kecil seperti domba. Nantinya setelah saya memahami bagaimana meningkatkan produktivitas ternak melalui manajemen dan perkawinan pada domba. Saya ingin mengimplementasikannya kepada para peternakan rakyat di Indonesia, sehingga mereka bisa memaksimalkan produktivitas domba meskipun jumlahnya hanya sedikit.

Referensi

Dokumen terkait

Lotu adalah salah satu kota di Nias Utara, lokasi ini menjadi awal pembangunan karena memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi sebuah daerah yang

Konferensi tahun ini akan membahas kesempatan yang diberikan untuk sektor konstruksi dengan perluasan jaringan jalan tol di Indonesia, program sejuta rumah dan peningkatan

Kaitannya dengan seorang Awal Uzhara adalah bagaimana beliau yang pada dasarnya adalah mahasiswa berprestasi karena terpilih menjadi perwakilan Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID) ke

bersifat wajib yang harus diambil oleh mahasiswa di Jurusan Fisika, mata.. kuliah ini diharapkan menjadi landasan awal untuk matakuliah

Dalam pelaksanaan PLT, mahasiswa diberikan kesempatan mengajar terbimbing yakni kelas X Akuntansi. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan mahasiswa untuk

Raka Sudewi, Sp.S(K), Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa pada Program Studi

Bertanya dalam proses belajar merupakan kesempatan atau peluang harusnya dimanfaatkan sebaik mungkin bagi tiap individu mahasiswa untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik, bertanya

Salah satu program dalam MBKM yaitu Kampus Mengajar dimana mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengabdi dan berbakti dalam mengembangkan pendidikan melalui terjun ke sekolah-sekolah