UU 10 Bab 1
Kepariwisataan merupakan keseluruhan kegiatan mengenai usaha/industry wisata dalam
menawarkan wisata yang memiliki daya Tarik wisata baik keindahan, budaya, dan lainnya, dengan menyediakan fasilitas barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang dapat dikelola oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, serta pemerintah daerah.
Dalam pengelolaan ekoswisata, pengelola kepariwisataan perlu memperhatikan, mengembangkan, dan menjaga daya Tarik dari tempat wisata, seperti keindahan, budaya, keunikan, fasilitas, dan lainnya, karena hal ini merupakan tujuan para wisatawan melakukan kegiatan wisata.
Bab 2
Dalam penyelenggaraan atau pengelolaan kepariwisataan terdapat 11 asas, Inti dari asas- asas tersebut yaitu, kepariwisataan dapat memberikan manfaat, dikelola dengan asas kemasyarakatan yang adil dan mandiri, dengan menjaga kelestarian dan keberlanjutan.
Fungsi dari kepariwisataan yaitu untuk meningkatkan pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat, dengan memenuhi kebutuhan wisatawan dengan rekreasi baik jasmani, rohani dan intelektual.
Dalam mengelola kepariwisataan terdapat beberapa tujuan yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, melestarikan alam, lingkungan, sumberdaya, dan budaya, memupuk cinta tanah air.
Bab 3 Prinsip Penyelenggaraan Kepariwisataan
Dalam mengelola kepariwisataan selain mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan internasional, terdaapat beberapa prinsip yang perlu diterapkan, antara lain:
Menjunjung tinggi norma agama, nilai budaya, kearifan lokal dan hak asasi manusia.
Memberikan manfaat kepada masyarakat secara adil
Memelihara dan menjaga kelestarian alam
Adanya keterpaduan antar sektor Bab 4 Pembangunan Kepariwisataan
Dalam pengelolaan ekowisata diperlukan melalui rencana pembangunan dengan memperharikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata. Rencana pembangunan tersebut meliputi industry, destinasi, pemasaran, dan
kemebagaan pariwisata. Dimana pemerintah berperan untuk mendorong penanaman modal baik nasional maupun asing, serta menyelenggarakan penelitian dan pengembangan kepariwisataan bersama lembaga terkait.
Bab 5 kawasan strategis
Dalam menetapkan Kawasan strategis pariwisata terdapat beberapa aspek yaitu aspeks umber daya, potensi pasar, lokasi strategis, kediapan dan dukungan masyarakat. Selain itu Kawasan strategis perlu memperhatikan aspek budaya, sosial, serta agama masyarakat setempat.
Bab 6 Usaha Pariwisata
Usaha pariwisata meliputi Kawasan, daya Tarik tempat, jasa- jasa dan fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan dalam berekreasi. Untuk menyelenggarakan usaha pariwisata, diperlukan untuk mendaftar kepada pemerintah atau pemerintah daerah dengan syarat yang tertera dalam permen.
Bab 7 Hak, Kewajiban, dan Larangan
Setiap orang berhak melakukan kegiatan wisata, mengelola atau membangun usaha kepariwisataan, mendapatkan pelayanan, perlindungan, dan fasilitas.
Pemerintah berkewajiban untuk memberikan informasi, perlindungan hukum, memelihara, mengembangkan, melestarikan, dan mengawasi kegiatan kepariwisataan.
Setiap orang berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan daya Tarik wisata, m enjaga norma- norma yang ada, melakukan pemberian pelayanan dan perlindungan kepada wisatawan.
Setiap orang dilarang untuk merusak daya Tarik wisata.
Bab 8 Kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Pemerintah berwenang menyusun dan menetapkan rencaka indung pembangunan kepariwisataan, menetapkan daya Tarik dan destinasi pariwisata, mengembangkan kebijakan, memberikan fasilitas dan mempromosikan pariwisata, dan lainnya.
Bab 9 Koordinasi
Untuk meningkatkan penyelenggaraan kepariwisataan, pemerintah melakukan koordinsasi strategi lintas sector seperti bidang keamanan, pelayanan, prasarana umum, transportasi, dan promosi pariwisata.
Bab 10 Badan Promosi Pariwisata
Pemerintah memfasilitasi pembentukan Badan Promosi Pariwisata Indonesia yang bersifat swasta dan mandiri, serta memiliki unsur penentu kebijakan dan pelaksana.
Bab 11 Gabungan Industri Pariwisata Indonesia
Terdapat lembaga Gabungan Industri Pariwisata yang berfungsi sebagai mitra kerja pemerinta dan pemerintah daerah kepada para anggota penyelenggara kepariwisataan. Lembaga ini bersifat mandiri dan nirbala.
Bab 12 Pelatihan Sumber Daya Manusia, Standarisasi, Sertifikasi, dan Tenaga Kerja
Pemerintah menyelenggarakan pelatihan SDM pariwisata, dimana terdapat standar-standar kompetensi dimana jika sudah sesuai dengan standar maka mendapat sertifikasi koompetensi sebagai lisensi.
Bab 13 Pendanaan
Dalam pendanaan kepariwisataan merupakan tanggungjawab pemerintah, pengusaha, dan masyarakat, berdasarkan keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas public.
Bab 14 Sanksi Administratif
Terdapat sanksi-sanksi yang diberikan baik kepada wisatawan maupun pengusaha jika tidak mematuhi ketentuan, mulai dari sanksi lisan hingga sanksi administrative.
Bab 15 Ketentuan Pidana
Setiap orang yang dengan sengaja merusak daya Tarik wisata di beri hukum pidana selama 7 tahun dan denda paling banya Rp. 10 M. jika tidak sengaja maka dipidana selama 1 atahun dan Rp. 5 M.
Bab 16 Ketentuan Peralihan
Badan Promosi Pariwisata Indonesia dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia paling lambat dibentuk dalam 2 tahun.
Bab 17 Penutup
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 Bab 1 Ketentuan Umum
Ekowisata merupakan kegiatan eisata alam dengan memperhatikan unsur pendidikan, pemahaman, konservasi sda, dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Dalam pengembangan ekowisata terdapat kegiatan perencanaan, pemanfaatan serta pengendalian, dimanan rencana pembangunan dibagi menjadi 3 kategori yaitu jangka panjang (20 tahun), menengah (5 tahun), dan tahunan (1 tahun).
Pelaku pengelolaan ekowisata yaitu pemerintah pengusaha, dan masyarakat.
Bab 2 Jenis dan Prinsip
Jenis ekowisata antara lain ekowisata bahari, hitan, pegunungan dan karst.
Dalam pengembangan ekowisata terdapat prinsip yang diterapkan yaitu kesesuaian jenis dengan karakteristik ekowisata, konservasi, ekonomis, edukasi, memberikan kepuasan, partisipasi masyarakat, menampung kearifan lokal.
Bab 3 Perencanaan, Pemanfaatan, dan Pengendalian
Dalam perencanaan ekowisata meliputi antara lain, jenis ekowisata, data dan informasi, pangsa pasar, hambatan, lokasi, luas, batas, biaya, waktu pelaksanaan, dan desain teknis.
Dalam perencanaan mempertimbangkan kebijakan yang ada dan menggordinasikan kepada pemerintah.
Dalam pemanfaatan ekowisata mencakup pengelolaan, pemeliharaan, pengamanan, dan penggalian potensi Kawasan ekowisata. Pemanfaatan ekowisata dapat dilakukan oleh pemerintah maupun perseorangan namun perlu adanya kerjasama dengan pemerintah daerah setempat.
Pengendalian dalam pengelolaan ekowisaata dilakukan meliputi pemberian izin, pemantauan, penertiban penyalahgunaan izin, penyelsaian konflik atau masalah.
Bab 4 Pembentukan Tim Koordinasi dan Sekretariat
Pemerintah daerah seperti Gubenur dan Bupati/Wali Kota dapat membentuk Tim Koordinasi Ekowisata dengan tujuan untuk melakukan perencanaan, pemanfaatan, serta pengendadlian ekowisata daerah setempat.
Bab 5 Pemberian Insentif dan Kemudahan
Pemenrintah memberikan insetif seperti pengurangan pajak, pembebasan retribusi, bantuan modal, dan pemberian kemudahan seperti penyediaan data dan informasi peluang investasi, sarana
prasarana, bantuan teknis, dan percepatan pemberian perizinan.
Bab 6 Pemberdayaan Masyarakat
Pengembangan ekowisata wajib memberdayakan masyarakat setempat melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan.
Bab 7 Pembinaan dan Pelaporan
Pemerinta melakukan pembinaan kepada pelaksana pengembangan ekowisata, seperti bimbingan, supervise, konsultasi, pendidikan dan pelatihan, pemantauan, dan evaluasi.
Bab 8 Pendanaan
Pendanaan pembinaan dan pengembangan ekowisata berasal dari APBN (Anggara Pendapatan dan Belanja Negara)
PERMEN PAR 14 Pedoman Destnassi Pariwisata Berkelanjutan
Peraturan ini merupakan pedoman bagi pengelola pariwisata baik pemerintah, pengusaha atau masyarakat yang mengelola pariwisata secara berkelanjutan. Dimana runag lingkup pedoman ini meliputi pengelolaan, pemanfaatanm pelestarian budaya dan lingkungan pariwisata.
Bab 1 Pendahuluan
Pariwisata berkelanjutan merupakan kegiatan pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa yang akan datang.
Dimana dalam pengembangan kepariwisataan menggunakan pendekatan pertumbuhan dan pemertaan ekonomi serta pengembangan wilayah yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat.
Dalam pembangunan kepariwisataan berkelanjutan memiliki aspe SDM, pemasaran,
destinasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, keterkaitan lintas sector kerjasama antar negara, pemberdayaan usaha kecil, serta tanggung jawab dalam pemanfaatan sumber kekayaan alam dan budaya.
Pedoman destinasi pariwisata berkelanjutan ini bertujuan untuk sebagai acuan yang kompherensif dalam mengelola destinasi pariwisata secara berkelanjutan, yang berprinsip perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan Kawasan wisata.
Bab 2 Kriteria Destinasi Pariwisata Berkelanjutan
Kriteria destinasi pariwisata berkelanjutan mencakup pengelolaan pemanfaatan, pelestarian budaya dan lingkungan.
Dimana dari keempat kriteria tersebut diperjelas melalkui kriteria, indikator dan bukti pendukung.
Kriteria ukuran yang menjadi dasar penilaian destinasi wisata menerapkan keberlanjutan Indikator petunjuk atau keterangan dari kriteria
Bukti pendukung bukti kebenaran pariwisata menerapkan keberlanjutaan
Dalam pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan yang efektif terdapat 4 kriteia, yaitu:
o Perencanaan strategi, pengaturan, dan standar keberlanjutan
o Pengelolaan organisasi, pengelolaan musiman, akses, property, promosi, dll.
o Pemantauan monitoring, inventarisasi aset, atraksi pariwisata o Evaluasi kepuasan pengunjung, adaptasi perubahan iklim
Dalam pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal yang efetif terdapat beberapa kriteria, antara lain: pemantauan ekonomi, akses dan peluang kerja masyarakat, partisipasi dan opini masyarakat, edukasi serta pencegahan eksploitas wisata, dll.
Dalam pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, terdapa kriteria, antara lain:
perlindungan atraksi wisata, warisan budaya, dan kekayaan intelektual; pengelolaan pengunjung dan perilakunya; dan interpretasi tapak.
Terdapat kriteria dalam pelestarian lingkungan, antara lain: perlindungan lingkungan sensitive, dan alam liar; risiko lingkungan; konservasi energi; pengelolaan, keamanan, serta kualitas air; pengelolaan dan pengurangan limbah dan polusi, transportasi ramah lingkungan.
Bab 3 Ketentuan Penutup
Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam pembangunan destinasi pariwisata berkelanjutan demi terwujud pengelolaan perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan kawasan sebagai destinasi pariwisata yang menarik, berdaya saing dan berkelanjutan.
Permen Par 7 Pedoman Penyelenggaraan Wisata Selam Rekreasi Bab 1 Pendahuluan
Permen ini bertujuan sebagai Standar Operasional Prosedur guna mengatur pelaksanaan dan pengawasan kegiatan penyelaman guna memenuhi aspek keselamatan, keamanan, dan pelestarian alam baik pengusaha wisata dan wisatawan.
Penyelaman rekreasi merupakan kegiatan rekreasi selam di perairan terbuka dengan peralatan selam yang sesuai dengan ketentuan UU.
Bab 2 Penyelenggaraan Operasional Kegiatam Selam Rekreasi
Dalam penyelenggaraan selam rekreasi terdapat batasan-batasan yang perlu dipatuhi mulai dari waktu dan kedalaman, kadar oksigen, batasan-batasan yang membutuhkan sertifikasi dan kualifikasi tambahan, dan lainnya.
Seluruh kegiatan selam rekreasi di periairan terbuka wajib adanya pendampingan atau pengawasan oleh instruktur selam atau pemandu selam (dive guide) yang telah memiliki sertifikasi dan kualifikasi dari agensi pelatihan selam.
Pihak pengelola wisata selam juga wajib memiliki rencana kedaruratan penyelam, guna mengaantisipasi terjaadinya keadaan darurat, seperti wisatawan selam yang hilang, pertolongan pertama ketika kecelakaan selam, dan lainnya.
Bab 3 Mekanisme Pengawasan dan Sanksi
Mekanisme pengawasan wisata selam meliputi kejelasan dan kelengkapan informasi yang diberikan kepada wisatawan yang mencakup jaminan keselamatan, asuransi, dan lainnya.
Kementrian pariwisata dan wisatawan selam berhak melakukan pemeriksaan jaminan mutu pengelola wisata selam.
Kritik atau koomplain wisatawan dapat menjadi dasar penyelidikan dan pemeriksaan pengelola wisata selam.
Jika pengelola mrlanggar ketentuan standar operasional dapat diberikan sanksi Bab 4 Penutup
Pedoman penyelenggaraan wisata selam rekreasi sela mini merupakan acuan untuk pemerintah daerah, pengusaha, serta wisatawan dalam menyelenggarakan wisata salaam rekreasi.