• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Keaktifan Belajar Pkn di SD Negeri 6 Panga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Meningkatkan Keaktifan Belajar Pkn di SD Negeri 6 Panga"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

113 Meningkatan Keaktifan Belajar Pkn Melalui Pemberian Penguatan Pada Siswa

Kelas IV SD Negeri 6 Panga

Dasniar

Guru SD Negeri 6 Panga Aceh Jaya

Abstrak

Berdasarkan data hasil evaluasi belajar siswa tentang kebebasan berorganisasi dapat diketahui bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 6 Panga masih rendah. Hal ini dapat diamati dari nilai hasil evaluasi belajar siswa tentang kebebasan organisasi yang KKM adalah 70 yang peneliti ditentukan.

Rancangan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Subyek penelitian menggunakan siswa Kelas IV (Empat). Kesimpulan Hasil penelitian dengan menggunakan metode diskusi kelompokini pada Sekolah Dasar Negeri 6 Panga dapat melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran, siswa dapat belajar mengajukan pertanyaan, mengembangkan pendapat, menghargai pendapat teman, dan belajar bekerjasama dengan teman, hal ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa menjadi lebih baik.

Kata kunci : Meningkatan Keaktifan Belajar PKn Melalui Pemberian Penguatan

PENDAHULUAN

Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan karena dengan pendidikan dapat menjadikan manusia berpengetahuan, bermoral dan bermartabat. Tanpa pendidikan,manusia akan terbelakang dan sulit berkembang. Orang lain akan mudah memperdaya seseorang karena tidak memiliki pengetatuan.Segala sesuatu yang dilakukan akan bernilai baik jika sebelumnya mendapat pendidikan. Pendidkan sifatnya mutlak dalam kehidupan seeorang keluarga, maupun bangsa dan Negara. Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya suatu pendidikan itu.

Pendidikan sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan merupakan aspirasi yang biasa diterima banyak pihak yang sering diucapkan sebagai janji politibaik ditingkat lokal, nasional maupun internasional. Pendidikan untuk penbangunan cekultural dan structural, kesadaran politi sangat berperan bagi tumbuhnya pendiddikan yang bermutu. Partisipasi masyarakat dalam memajukan pendidikan di Indonesia nampak jelas kemer sejak sebelum kemerdekaan. Kesadaran dan partisipasi masyarakat itu patut dihargai namun tidak akan membuahkan hasil secara optimal jika proses dalam dimensi structural tidak berjalan dengan seimbang.

Hal yang sama juga dialami pada bahan ajar. Kemampuan ilmu pengetahuan dan eknologi berpengaruh terhadap bahan ajar, sementara itu bahan ajar yang diharapkan mampu memberikan penanaman nilai-nilai moral dalam perilaku siswa sehari-hari.

Pendidikan yang hanya menenankan aspek pengetahuan (kognitif) saja akan mengakibatkan siswa tidak berkembang menjadi manusia yang utuh, melainkan dapat berakibat negative dengan terjadinya bermacam-macam tindakan tidak terpuji, seperti tawuran,penyalahgunaan narkoba, membolos dan lain-lain.

Selain ilmu pendidikan guru juga memegang peranan penting.Hampir tanpa kecuali, guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga

(2)

114 masyarakat. Memang benar, ada masyarakat yan mengakui pentingnya peranan guru itu dengan cara yang lebih konkrit daripada masyarakat yang lain. Namun demikian, masih ada yang menyaksikan basarnya tanggung jawab seorang guru, termasuk pula masyarakat yang sering menggaji guru lebih rendah daripada yang diinginkan. Banyak orang tua yang kadang-kadang cemas akan kemampuan guru anak-anak mereka itu sewaktu menyaksikan anak-anak mereka berangkat kesekolah.

Keaktifan siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, didasari dan dikembangkan oleh setiap guru dalam proses pembelajaran. Ada beberapa hal yang mempengaruhi ketidakaktifan murid pada saat proses belajar berlangsung antara lain: a. Tidak memiliki motivasi untuk memperkaya materi pelajaran. b. Kurangnya konsentrasi dalam belajar. c. Kurangnya rasa percaya diri. d. Guru kurang persiapan dan tidak menguasai materi pelajaran. e. Guru cenderung menggunakan satu metode saja,sehingga siswa merasa bosan. f. Siswa takut untuk bertanya tentang sesuatu yang belum dimengerti atau mengemukan gagasanya.

Beberapa hal tersebut diatas dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa yang pada gilirannya dapat menyebabkan rendahnya prestasi belajar yang diperoleh sehingga tidak mencapai hasil yang didnginkan oleh seorang guru. Untuk mengetahui masalah belajar tertama mengambil keaktifan siswa dalam belajar maka guru perlu menagadakan pendekatan pribadi dalam berbagai bentuk yang memungkinkan guru dapat mengenal dan memahami siswa serta asalah dalam belajar karena keberhasilan dalam belajar merupakan muara dari seluruh aktivis yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran, maka sretiap guru harus berupaya secara optimal memahami berbagai factor yang memahami terjadinya hambatan dalam proses belajar dan pembelajaran.

KAJIAN PUSTAKA Penguatan

Pemberian penguatan (reinforcement) merupakan tindakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong timbulnya peningkatan kualitas tingkah laku. Yang pertama mengemukakan tentang penguatan adalah tokoh alirah behaviorisme L.Throndike dan B.F.Skinner. L. Throndike mengemukakan bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi adalah berdasarkan paradigma S-R (Stimulus Respon), yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap suatu yang datang dari luar. Sedangkan B.F. Skinner mengemukakan bahwa setiap kali memperoleh stimulus maka seseorang akan memberikan respon berdasarkan hbungan S-R. Respon yang diberikan ini dapat sesuai “R” (benar) atau tidak sesuai “F” (sala) seperti apa yang diharapkan. Respon yang benar perlu diberikan penguatan (reirforcement) agar orang terdorong untuk melakukanya kembali. Karena itu pemberian penguatan terhadap respon dapat diberikan secara kontinyu dan dapat dilakukan secara berselang-seling. Agar penguatan yang di berikan guru dapat berfungsi secara ektif,guru hendanya memperhatikan prinsip-prinsip peberian pengguna, sebagai berikut: kehangatan, antusiasme, bermakna, menghindari respon negatif.

Belajar

Hamalik mengemukakan bahwa belajar diartikan sebagai suatu perkebangan diri seseorang yang dinyatakan dengan cara tingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan, beajar itu merupakan suatu perubahan yang bersifat psikis (Hamalik,1983).selanjutnya M.E.B Gredler mengemukakan bahwa belajar adalah

(3)

115 proses untuk memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap (Margaret E.Bell Gredler,1991 ).

Hakekat Pembelajaran

Mengajar atau teaching adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dan cara bagaimana belajar (Joyce dan well, 1996). Menurut Degeng dan Marso mamberikan defenisi bahwa: “Pembelajaran adalah suatu proses yang dilaksnakan secara sistematis setiap komponen saling berpengaruh. Dalam proses secara implicit terdapat kegiatan memilh, manetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan (Degeng dan Marso,1993)”. Didalam pembelajaran terdapat proses mengajar. Nasution (1991) “mengartikan mengajar adalah usaha guru untuk menciptakan kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara siswa dan lingkungannya, termasuk guru dan alat pelajaran yang disebut proses belajar dan tujuan pelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Bohar Suharto (1997) mendefenisikan, mengajar merupakan suatu aktivitas menoranisasi atau mengatur (mengelola ) lingkungan sehingga tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan peserta didk sehingga terjadi proses belajar yang menyenangkan.

Pendidikan Kewarganegraan

PKn juga diartikan sebagai program pendidikan yang berintikan demokrasi politik, yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, positif influence pendidikan sekolah, masyarakat orang tua kesemuanya itu diproses untuk melatih pelajar-pelajr berpikir kritis, analitis, bersikap, dan bertindak demkratis dalam mempersiapkan hidup demokratis, dengan berlandaskan pancasila dan UUD 1945 (Nu’mun Soemantri 1976:54).

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di SD Negeri 6 Panga kelas IV (Empat). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 12 September s/d 26 September 2019 (semester I tahun pelajaran 2019/2020) dengan Standar Kompetensi Memahami kebebasan berorganisasi kompetensi dasar (KD). Menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Subjek Penelitian

Subjek PTK ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 6 Panga yang berjumlah 13 orang, 7 laki-laki dan 6 orang perempuan.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi wawancara, observasi dan angket.

Analisis Data

Analisis data berupa teknik analisis deskriptif, maka dipergunakan table prekuensi persentasi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Diskripsi Pelaksanaan Siklus I (satu).

(4)

116 Siklus Pertama ( Tanggal 12 September 2019)

a. Perencanaan: Menyiapkan rencana pembelajaran. Menyiapkan alat peraga dan sarana lain yang akan digunakan. Kelengkapan alat pengumpulan data. Memilih teman sejawat yang akan membantu dalam proses pembelajaran.

b. Pelaksanaan

1. Pendahuluan (Membuka Pelajaran): Guru melakukan apersepsi dan memberi motivasi kepada siswa melakukan tanggung jawab tentang pokok bahasan sehingga siswa mampu menghubung dengan topik yang akan dibahas.

2. Kegiatan Inti: Siswa menyimak penjelasan guru tentang indikator yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran kemudian siswa membaca materi pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman materi.

3. Kegiatan Penutup: Siswa dengan bimbingan guru menarik kesimpulan setelah selesai pembelajaran. Guru membuat kelompok untuk persiapan pembelajaran selanjutnya.

Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Siklus I Siklus

I

Peroleh hasil belajar (KKM 70) Ketuntasan (%) Nilai 70 ke atas Nilai 70 ke bawah Tuntas Tidak tuntas

8 Orang 5 Orang 69 % 31 % Observasi.

Penelitian ini dilakukan dengan teman sejawat pada tanggal 12 September 2019.

Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Pengelolaan Data Lembaran Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I

No Aktivitas Yang Diamati Jumlah Siswa

Pertemuan I Ket

1 Mengajukan pertanyaan 7 54 %

2 Menjawab pertanyaan siswa maupun guru 6 46 %

3 Memberi saran 5 38 %

4 Mengumukakan pendapat 6 46 %

5 Mengajukan pertanyaan kelompok 9 69 %

6 Mempresentasikan hasil kerja kelompok 9 69 %

Rata-rata aktifitas siswa % 54 %

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa pada pertemuan satu peneliti belum menggunakan model pemberian penguatan. Dengan media pembelajaran, tetapi hanya berbentuk ceramah bervariasi disertai penugasan. Di akhir pembelajaran baru peneliti membentuk kelompok dengan media pembelajaran. Pada awal pembelajaran terlihat pada siswa. Dalam mengikuti pelajaran dengan baik karena ada motivasi yang diberikan para guru saat membuka pelajaran. Membuat siswa terbawa suasana belajar apalagi guru dalam menjelaskan pembelajaran yang menyenangkan. Di sertai dengan cerita yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Sehingga timbullah minat belajar siswa dengan metode pembelajaran yang dibawakan. Selanjutnya hasil observasi terhadap kemampuan guru dalam pelaksanaan belajar mengajar dapat dilihat pada table dibawah ini :

Tabel. 3 Data kemampuan PBM guru siklus I

No Aspek yang diamati Katagori

1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Cukup

2 Guru memotivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik Kurang 3 Guru mengelola PBM dengan menggunakan media belajar Kurang 4 Guru membimbing siswa dalam berdialog secara berkelompok Cukup

(5)

117 5 Guru membimbing siswa bermain peran dengan benar Kurang 6 Guru memberikan penjelasan akhir dan penguatan Cukup

7 Guru melakukan penilaian Kurang

Rata-rata Katagori Kurang

Menurut data yang diperoleh rata-rata, kemampuan guru dalam melakukan PBM adalah termasuk dari katagori Kurang dan perlu perbaikan dalam PBM disemua aspek untuk nilai maksimal.

c. Refleksi Siklus I

Berdasarkan kesimpulan data yang diperoleh dari kolaborasi teman sejawat serta catatan lapangan yang ada pada peneliti ternyata sebagian besar siswa belum mampu menyelesaikan tugas dengan optimal setelah pembelajaran selesai. Tingkat keaktifan siswa sangat rendah dalam pembelajaran. Menurut mengamatan peneliti kegagalan siswa nampak dengan jelas karena tidak menggunakan metode diskusi yang sangat peran oleh masing-masing kelompok. Penjelasan guru masih umum sehingga siswa tidak memahami konsep-konsep yang akan dijelaskan. Siswa belum mampu memanfaatkan waktu sesuai dengan yang alokasikan dan siswa sibuk dengan bermain, agar siswa dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut, maka perlu dilakukan tindak lanjut oleh guru secara menyuluruh, penjelasan guru harus spesifik. Alokasi waktu yang sesuai dan diarahkan oleh guru. Bila dicermati penyebab dari kegagalan siswa dalam menyelesaikan evaluasi diakhir pembelajaran adalah sebagai berikut : Siswa belum memahami penjelasan materi. Model diskusi kelompok ini dilakukan oleh guru masih dianggap oleh siswa belum begitu mengarah kesuasana permainan sebenarnya.

Penjelasan materi yang disampaikan oleh guru masih kurang sehingga anak-anak tidak memahami materi yang diajarkan.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus II (Dua)

Pertemuan ke II Pogram Perbaikan I (Tanggal 19 September 2019) a. Perencanaan

Seluruh perangkat pembelajaran disusun sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan adalah: Menyiapkan rencana pembelajaran untuk sekali pertemuan.

Menyiapkan wacana/tugas dalam bentuk LKS. Membentuk format obsevasi aktivitas siswa dalam PBM. Berdasarkan hasil refleksi siklus satu maka tindakan tambahan yang akan direncanakan pada siklus II ini adalah: Guru memberi penjelasan dan contoh- contoh yang bisa ditemukan sendiri pengetahuan oleh siswa. Guru menyuruh siswa untuk mencatat pengaruh dan manfaatnya. Penanaman konsep-konsep kepada siswa harus sesuai dengan metode strategi pembelajaran.

b. Pelaksanaan

Pada siklus II ini dilakukan tindakan seperti pada siklus pertama materi pelajaran yang di bahas adalah “Kebebasan Berorganisasi” siklus kedua ini terdiri dari satu kali pertemuan 2 x 35 menit. Siswa memperhatikan penjelasan-penjelasan guru dengan baik saat membuka pelajaran. Mulai dari mengabsensi siswa, memberi motivasi, menyampaikan kompetensi, dan indikator yang ingin dicapai kemudian guru membentuk kelompok belajar dan menjelaskan bagaimana cara menentukan nilai pecahan dari suatu gambar.

Tabel 4 Hasil belajar siswa siklus II Siklus

II

Peroleh hasil belajar (KKM 60) Ketuntasan (%) Nilai 60 ke atas Nilai 60 ke bawah Tuntas Tidak tuntas

12 Orang 1 Orang 92 % 8 %

(6)

118 Dari tabel diatas terlihat sudah terjadi perubahan yang cukup berarti skor nilai yang diperoleh siswa. Pada hasil belajar siswa di siklus II sudah mencapai 92 % nilai rata-rata dari 13 orang siswa yang mampu mendapat nilai 70 % keatas dari target KKM dan untuk dibidang aktivitas belajar siswa mencapai nilai 54 %, kalau dibandingkan dalam pada siklus I prestasi aktivitas siswa pun sangat rendah hanya mencapai 69 %.

c. Observasi

Observasi dilaksanakan pada tanggal 19 September 2019. Tabel sebagai berikut : Tabel 5. Pengelolaan Data Lembaran Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II

No Aktivitas Yang Diamati Jumlah Siswa Pertemuan II Ket

1 Mengajukan pertanyaan 9 69 %

2 Menjawab pertanyaan siswa maupun guru 8 62 %

3 Memberi saran 7 54 %

4 Mengumukakan pendapat 9 69 %

5 Mengajukan pertanyaan kelompok 10 77 %

6 Mempresentasikan hasil kerja kelompok 11 85 %

Rata-rata aktifitas siswa % 69 %

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa pada pertemuan satu peneliti sudah menggunakan model diskusi ini, namun belum sesaksimal mungkin seperti yang diharapkan. Sebagaimana pada siklus I dan siklus II saat membuka pelajaran secara keseluruhan siswa tertarik mengikuti pelajaran. Permasalahan yang muncul pada siklus I dan siklus II sudah jauh berkurang. Secara rinci kondisi proses pembelajaran dan keaktifan siswa sebagai berikut : 1) Siswa sudah dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan alokasi yang telah ditentukan. 2) Secara komprehensif belum sepenuhnya mampu menyelesaikan konsep-konsep yang dibahas secara utuh.

Tabel 6. Data kemampuan PBM guru siklus II

No Aspek yang diamati Katagori

1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Baik

2 Guru memotivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik Cukup 3 Guru mengelola PBM dengan menggunakan media belajar Baik 4 Guru membimbing siswa dalam berdialog secara berkelompok Baik 5 Guru membimbing siswa bermain peran dengan benar Baik 6 Guru memberikan penjelasan akhir dan penguatan Cukup

7 Guru melakukan penilaian Baik

Rata-rata Katagori Baik

Menurut data yang diperoleh rata-rata, kemampuan guru dalam melakukan PBM adalah termasuk dari katagori Baik dan perlu perbaikan dalam PBM disemua aspek untuk nilai maksimal.

d. Refleksi.

Berdasarkan kumpulan data yang diperoleh dari koloborosi dengan teman sejawat serta catatan lapangan yang ada ternyata penelitian sebagian besar siswa belum mampu menyelesaikan tugas dengan optimal. Setelah pembelajaran selesai.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus III

Pertemuan ke III Pogram Perbaikan II (Tanggal 26 September 2019) a. Perencanaan

(7)

119 Seluruh perbaikan pembelajaran disusun sesuai dengan tindakan yang dilakukan.

Sedangkan rencana tindakan yang dilakukan adalah : Menyiapkan rencana pembelajaran. Menyiapkan media pembelajaran dalam bentuk LKS. Memikirkan bagaimana mengatasi bila ada keributan, sedang dilakukan proses pembelajaran.

Kelengkapan alat pengumpulan data. Berdasarkan hasil refleksi siklus satu dan siklus dua maka tindakan bahan yang direncanakan pada siklus tiga ini adalah : Menjelaskan pembelajaran dengan model pemberian penguatan. Memberikan kebebasan dalam memilih tempat duduknya. Membagikan lembaran kerja siswa. Siswa menghayati dan mempelajari yang menjadi tokoh-tokoh menurut pokok bahasan.

b. Pelaksanaan

Pada siklus tiga dilakukan tindakan seperti pada siklus pertama dan pada siklus kedua. Materi yang dibahas adalah materi seperti materi siklus pertama dan materi siklus kedua yaitu Kebebasan Berorganisasi. Siklus ketiga ini terdiri dari satu kali tatap muka 2 x 35 menit. Sebagaimana yang dilakukan pada siklus I, pada siklus II dan pada siklus III telah dilakukan penjelasan yang mendalam disertai media pembelajaran yang sesuai dengan metode yaitu ceramah terhadap deskripsi data yang dipaparkan diatas. Dimana pada lembaran observasi aktifitas belajar siswa terjadi perubahan kreatifas yang cukup berarti.

Tabel 7. Hasil belajar siswa siklus III Siklus

III

Peroleh hasil belajar (KKM 70) Ketuntasan (%) Nilai 70 ke atas Nilai 70 ke bawah Tuntas Tidak tuntas

13 Orang 0 Orang 100 % 0 %

c. Observasi

Pengamatan observasi guru kolaborator mengamati hal-hal sebagai berikut dalam pembelajaran :

Tabel 8. Pengelolaan Data Lembaran Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus III

No Aktivitas Yang Diamati Jumlah Siswa

Pertemuan II Ket

1 Mengajukan pertanyaan 11 85 %

2 Menjawab pertanyaan siswa maupun guru 11 85 %

3 Memberi saran 9 69 %

4 Mengumukakan pendapat 11 85 %

5 Mengajukan pertanyaan kelompok 11 85 %

6 Mempresentasikan hasil kerja kelompok 13 100 %

Rata-rata aktifitas siswa % 85 %

Data hasil observasi terhadap aktivitas siswa terjadi peningkatan dari siklus II 62

% ke silkus III 85 % terjadi Kenaikan persentase aktivitas siswa menjadi 23 %, selanjutnya hasil juga dilakukan oleh guru yang sama di siklus II, dan siklus III untuk lebih jelas dapat dilihat pada table dibawah ini:

Tabel 9. Data Kemampuan PBM Guru Siklus III

No Aspek yang diamati Katagori

1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Amat.Baik 2 Guru memotivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik Baik 3 Guru mengelola PBM dengan menggunakan media belajar Amat.Baik 4 Guru membimbing siswa menulis secara individu Amat.Baik 5 Guru membimbing siswa membaca dengan benar Amat.Baik 6 Guru memberikan penjelasan akhir dan penguatan Baik

(8)

120

7 Guru melakukan penilaian Amat.Baik

Rata-rata Katagori Amat Baik

Catatan : Dari data yang diperoleh rata-rata, kemampuan guru dalam melakukam PBM adalah termasuk dari katagori Amat Baik, ini disebabkan karena telah dilakukan perbaikan terhadap proses PBM pada siklus III.

d. Refleksi

Berdasarkan pengamatan guru kolaborator yang terlihat pada table kedua maka pelaksanaan tindakan direfleksikan sebagai berikut : Semua tindakan dapat berlangsung dengan baik. Keaktifan siswa dalam kelompok tampak lebih aktif dan meningkat.

Siswa lebih meningkat dalam menemukan konsep. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. Pada siklus I siswa dapat menjawab pertanyaan rata-rata 69 %.

Pada siklus II siswa dapat menjawab pertanyaan rata-rata 92 %. Pada siklus III siswa dapat menjawab pertanyaan rata-rata 100 %. Berdasarkan hasil Post tes dari siklus I dan II belum mencapai target ketuntasan belajar karena dianggap tuntas belajar apabila nilai dari hasil belajar 70 % dapat menjawab dengan baik. Pada siklus III ini nilai belajar siswa mencapai target ketuntasan, dalam hal ini guru peneliti di anggap berhasil membimbing siswa apabila sudah melebihi hasil KKM yang yang ditargetkan, hasil ketuntasan yang diperoleh di siklus III tenyata sudah mencapai target 100 % dari KKM yang ditentukan 70 %.

KESIMPULAN

Pelaksanaan pembelajaran PKn di daerah-daerah yang sumber daya manusianya masih kurang, guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan metode pembelajaran.

Siswa lebih banyak pasif dan hasil belajarnya kurang optimal. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktepatan penggunaan metode ceramah bervariasi tanya jawab yang monoton dan tidak variatif dalam pembelajaran PKn. Namun setelah digunakan teknik lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn dengan materi Kebebasan Berorganisasi yaitu penetapan model Pemberian penguatan sehingga pembelajaran PKn menjadi menarik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV semester II SD Negeri 6 Panga, Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya Tahun Pelajaran 2019/2020.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta;

Rineka Cipta.

Bahri,Syaiful & Djamara.2005. Guru Dan Anak Didik. Rineka Cipta.

Bahri,Syaiful & Djamara.2005. Guru Dan Anak Didik. Rineka Cipta.

Bobbi De Porte & Mike Hernacki. 2000. Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung. Kaifa.

Daryono,M. 1998. Pengantar Pendidikan Pancasila Dan kewarganegaraan.Solo :Rineka Cipta.

Daryono,M. 1998. Pengantar Pendidikan Pancasila Dan kewarganegaraan.Solo :Rineka Cipta.

Depdiknas.2003. Pendekatan Kontekstual (Contectual Teaching and Learning). Jakarta

; Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktoral Pendidikan Lanjutan Pertama.

Dimyati & Mudjino. 2006 Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : PT.Rineka Cipta.

Hasibuan dan Moedjiono. 1996. Proses Belajar Mengajar. Bandung ; Remadja Karya Munandir.2001. Ensiklopedia Pendidikan. Malang ; UM Press.

Referensi

Dokumen terkait

Aspek-aspek yang diamati dalam observasi guru pada siklus I dan siklus II meliputi: (1) membuka pembelajaran, (2) menyampaikan informasi tentang materi yang

Aspek-aspek aktivitas guru yang diamati meliputi: (1) mempersiapkan siswa mengikuti pembelajaran, (2) menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (3) memberikan

Dari tabel di atas, dapat dilihat aspek-aspek yang diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus III) yang dilaksanakan oleh guru dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif

Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa dan guru, hasil analisis tes formatif pada siklus I dan siklus II tampak terjadi peningkatan yang cukup baik pada

Adapun data hasil penelitian pada siklus III menunjukkan bahwa aspek-aspek yang diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus III) yang dilaksanakan oleh guru dengan

Nilai kreativitas guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan dalam aspek yang diamati yaitu aspek inovasi dari kategori

2 Guru memotivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik 2 3 Guru mengelola PBM dengan menggunakan media Asli yaitu bunga. Keaktivitas siswa saat PBM berlangsung dan

Data Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Aspek yang Diamati Skor Ketegori Memotivasi siswa 4 Baik Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran 5 Sangat Baik Mengingatkan materi prasyarat