Rama Satria Wiguna 180110210030 Sastra Bandingan B
Motif dalam Novel Gadis Pantai dan Kumpulan Cerpen Sagra
Sederhananya motif adalah alasan seseorang melakukan sesuatu. Motif dalam cerita memiliki pengertian sesuatu yang mendorong tokoh untuk melakukan suatu perbuatan.
Pengertian lain mengatakan bahwa motif merupakan sesuatu yang menonjol dalam cerita, biasanya memiliki sifat yang tidak biasa. Menurut Sutrisno, motif adalah unsur penggerak yang menonjol mendorong cerita ke arah peristiwa (Jumanus, 2017:2).
Buku yang dianalisis adalah novel Gadis Pantai dan kumpulan cerpen Sagra. Analisis ini merupakan analisis bandingan yang membandingkan motif cerita dalam dua buku yang dianalisis. Dalam menentukan motif, maka dapat dilihat dari hal menonjol yang coba diterangkan penulis kepada pembaca. Adapun hasil analisis pada kedua buku ini, yaitu motif masyarakat, motif bijaksana, dan motif perselingkuhan.
a. Motif masyarakat
Motif ini memiliki dua motif pendukung, yaitu motif keluarga brahmana dan bangsawan dan motif tatanan sosial. Motif masyarakat agaknya sering ditonjolkan oleh beberapa penulis karena pada dasarnya latar tempat menjadi sesuatu yang inti dari sebuah cerita. Motif brahmana dan bangsawan ditemukan dalam kumpulan cerpen Sagra, sedangkan pada novel Gadis Pantai lebih menonjolkan motif bangsawan.
Motif brahmana dan bangsawan dilihat dari penggunaan motif kebangsawanan tokoh. Pada buku Sagra digunakan pangkat kebangsawanan dalam bentuk nama. Nama- nama dari bangsawan yang merupakan keturunan brahmana ini biasanya berawalan Ida Ayu untuk perempuan dan Ida Bagus untuk laki-laki. Awalan nama Ida Ayu dan Ida Bagus itu diibaratkan sebuah gelar di Bali. Dari nama tersebut dapat terlihat bentuk motif kebangsawanan tokoh dalam buku Sagra. Selain itu, penggunaan istilah Ratu dan Tugus untuk memanggil orang yang terhormat, hal ini dilakukan oleh orang biasa yang melakukan komunikasi dengan orang dari kalangan bangsawan atau brahmana.
Sedangkan pada novel Gadis Pantai, motif bangsawan yang ditunjukan adalah dengan nama dari suami si Gadis Pantai yang dipanggil Bendoro, yaitu sebutan untuk kaum priayi. Tokoh Bendoro ini mencerminkan kebangsawanan tokh dalam nvel Gadis Pantai.
Motif tatanan sosial masyarakat yang ditemukan di kedua buku tersebut adalah penggunaan kasta pada masyarakat Bali dan Jawa. Di Bali terdapat kasta brahmana hingga Sudra (orang kebanyakan). Kasta-kasta ini menjadi unsur pendukung untuk menggerakan cerita. Motif serupa yang dipakai di tanah Jawa adalah adanya hamba sahaya dan kaum bangsawan. Orang-orang biasa tersebut biasanya memiliki ketergantungan ekonomi pada kaum-kaum bangsawan.
b. Motif Bijaksana
Motif kebijaksaan yang ditemukan dalam dua buku ini yaitu motif kebijaksanaan karena tuntutan. Walaupun pada praktiknya motif kebijaksanaan ini
ditentukan oleh kaum bangsawan, tetapi keputusan dari kaum yang lebih rendah juga dipertimbangkan berdasarkan kebijakan. Kebijaksanaan tersebut menyangkut ada perubahan nasib jika anak-anak mereka dapat diangkat atau tinggal bersama di tempat bangsawan. Hal ini digambarkan pada kaum-kaum sudra yang ingin menyerahkan anak mereka kepada bangsawan atau gadis-gadis sudra yang berambisi untuk menikah dengan kaum brahmana hingga statusnya di masyarakat menjadi naik. Begitupun yang dilakukan oleh orang tua Gadis Pantai yang menyerahkan anaknya untuk menikah dengan Bendoro.
c. Motif perselingkuhan
Motif ini banyak ditemukan pada cerita kebanyakan, termasuk pada dua buku ini. Motif perselingkuhan yang ditemukan adalah praktik pergundikan, yaitu laki-laki dari kaum bangswan yang memiliki gundik atau selir. Pada buku Sagra hal ini dilakukan oleh Ida Bagus Dawer yang menikahi banyak wanita dan ayah Sita yang juga menikahi banyak wanita karena ia adalah seorang bupati yang menyalahgunakan status. Pada novel Gadis Pantai Bendoro juga menikahi banyak perempuan.
Adapun motif perselingkuhan terjadi pada cerita pendek berjudul Sagra yaitu perselingkuhan antara ibu Sagra dengan suami Ida Ayu Pidada dan Ida Ayu Pidada dengan suami dari ibu Sagra. Mereka memiliki anak dari hubungan gelap tersebut tetapi menikah dengan lelaki yang lain. Hal tersebut dila
Motif-motif serupa yang ditemukan tersebut membangun cerita sehingga mendapat suatu alur dan struktur yang saling berkaitan. Dari motif-motif tersebut kita diberikan gambaran sifat manusia dan tatanan masyarakat yang ternyata masih relevan hingga saat ini sekalipun latar waktu dalam novel memiliki jarak yang jauh dengan waktu saat ini.
Referensi
Zakiyah Mustafa Husba, L. A. (2021). POLA MOTIF CERITA ASAL-USUL RAJA PERTAMA DALAM LEGENDA MUNA,. Jurnal Penelitian Budaya.