Esai tentang “Analisis Putusan Pengadilan Agama Semarang No.0542/Pdt.G/2011/PA.sm Tentang Murtad Sebagai Alasan Nikah Fasakh”. 14 Ulin Nuryani, Analisis Putusan Pengadilan Agama Semarang No.0542/Pdt.G/2011/PA.sm Tentang Penelantaran Sebagai Alasan Nikah Fasakh, (Skripsi IAIN Semarang, 2012).
Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Sumber data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama yang ada di lapangan melalui penelitian19, yaitu: Surat Keputusan Pengadilan Agama Nganjuk No. Penyelenggaraan, yaitu pengumpulan data dan mensistematisasikan data yang diperoleh dalam konteks penyajian yang ada dan yang direncanakan.
Sistematika Pembahasan
Bab Ketiga pada bab ini berisi tentang uraian data laporan penelitian yang berkaitan dengan Pengadilan Agama Nganjuk, gambaran umum Pengadilan Agama Nganjuk, uraian putusan pengadilan nomor: 0689/Pdt.G/2013/PA.Nganjuk, pertimbangan hakim dalam nomor perkara 0689/Pdt.G/2013/PA.Nganjuk tentang pemberian mut'ah dalam perkara perceraian di Fasakh. Bab empat adalah analisis tentang pertimbangan mendasar hakim dalam memutus perkara nomor 0689/Pdt.G/2013/PA.Nganjuk, dan analisis hukum Islam terhadap perkara nomor 0689/Pdt.G/2013/PA.Nganjuk tentang pemberian mut}'ah dalam perkara perceraian Fasakh.
KETENTUAN HUKUM ISLAM TENTANG PUTUSNYA PERKAWINAN
Putusnya Perkawinan
Pengertian Putusnya Perkawinan
Macam - Macam Putusnya Perkawinan
Bersumpah dengan nama Allah SWT atau dengan sifat-sifat-Nya, bukan dengan kalimah cerai, perhambaan atau nazar. Dan jika salah seorang dari mereka membatalkan sumpahnya, maka tidak ada nikah ila'. 36 Adapun dalil ila’ ialah firman Allah SWT.
بِذاَكْلا-
لاحا ى دقعلا ضقن ثقيقحف خسفلا امأ
دقعلا خسف
جوزلا ْب طب رت يلا ةطب ارلا لحو ، ضقن
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkawinan adalah suatu bentuk perceraian yang diputuskan oleh hakim karena suatu hal yang dianggap serius oleh suami istri, sehingga tujuan perkawinan tidak dapat tercapai. Perceraian merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari jika kedua belah pihak telah berusaha mencari solusi damai, yaitu melalui musyawarah. Jika masih belum ada kesepakatan dan mereka merasa tidak bisa melanjutkan rumah tangga, salah satu pihak dapat membawa permasalahan ini ke pengadilan untuk mencapai penyelesaian. cara untuk mendapatkan yang terbaik darinya. Pengadilan merupakan upaya terakhir untuk mempertemukan kembali pasangan suami istri yang berencana bercerai dengan membuka kembali pintu perdamaian melalui musyawarah dengan bantuan mediator yaitu hakim. Bagi masyarakat yang beragama Islam akan membawa permasalahan ini ke Pengadilan Agama, sedangkan bagi pemeluk agama lain akan dibawa ke Pengadilan dimana ia berada.
48 Kementerian Agama Republik Indonesia, Ensiklopedia Islam di Indonesia, Jakarta: Asas utama masyarakat sudah tidak ada lagi kecocokan antara laki-laki dan perempuan karena berbagai sebab. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu berhijrah kepada wanita-wanita mukmin, maka ujilah mereka (imannya). Allah lebih mengetahui keimanan mereka; Maka jika kamu mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suaminya) ) yang kafir.
Mereka tidak halal bagi orang kafir dan orang kafir tidak halal bagi mereka. Maksudnya: "Dan janganlah kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya perempuan budak yang beriman itu lebih baik daripada perempuan musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Dan Allah menerangkan ayat-ayat (perintah)Nya kepada mereka supaya mereka belajar." (Q.S Al-Baqarah Dasar Fiqh.
ةرلا ببسب دقعلا خسف ةيلا دعي َو مَسلا نع ْجوزلا دحا دترا اذا
Dasar Hukum Pemberian nafkah Mut}’ah dan pandangan ulama’
Fuqoha Zahiri meyakini bahawa mut}a adalah wajib bagi setiap wanita yang diceraikan suaminya,64 pendapat ini berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat 241 al-Quran. Maksudnya: "Wanita yang diceraikan (wajib diberikan oleh suami) mut'ah secara marfu, sebagai kewajipan bagi orang-orang yang bertaqwa." (Sal-Baqarah: 241) 65. Abu Hanifa berpendapat bahawa mut}'ah hanya boleh diberikan kepada mana-mana wanita yang diceraikan sebelum melakukan persetubuhan, sedangkan suami belum lagi.
Imam Syafi'i berpendapat bahwa mut}'ah wajib diberikan kepada setiap istri yang dinikahinya apabila putusnya perkawinan itu berasal dari salah satu pihak. سحا dalam surat al-Baqarah ayat 236 diatas menunjukkan bahwa kewajiban mut}}'ah hanya terbatas pada orang-orang yang bertakwa saja. Sedangkan menurut ulama Malikiyyah, satu-satunya istri yang berhak mut}'ah adalah yang maharnya mahr al-mitsl dan ia diceraikan dari qabla dukhul.
Sedangkan menurut al-Turmudziy, perempuan 'Atha' dan al-Nakha'iy yang khulu' tetap berhak untuk mut}'ah. Berdasarkan surat al-Baqarah ayat 241, ulama Hanafi berpendapat bahwa mut}a itu wajib. Dalam ayat tersebut Allah memberikan mut}'ah kepada wanita dengan menggunakan lim tamlik.
Nafkah Mut}’ah perspektif Undang-Undang dan KHI
Menurut ulama Zhahiriyyah, pemberian mut}'ah itu wajib, baik yang terjadi itu talaq raj'i, talaq ba'in atau karena meninggalnya salah satu di antara mereka, sebelum atau sesudah dukhul, sudah jelas disebutkan sebelumnya. atau tidak. Jika suami menolak membayar dengan sukarela, maka hakim harus memaksanya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Namun jika perceraian itu tidak terjadi karena perceraian atau kematian, misalnya karena fasah, maka istri sama sekali tidak berhak mut'ah.80 Meski disebutkan wajib, namun ulama Zahiriyyah tidak merinci secara spesifik. jumlah mut}'ah yang harus diberikan kepada suami, istrinya.
Mereka menyerahkan perkara ini kepada pihak laki-laki atau kepada hakim dengan mempertimbangkan keadaan ekonomi pihak laki-laki tersebut. Selain undang-undang tersebut, KHI juga mengatur mengenai masalah mut}'ah, antara lain: “Dalam kompilasi hukum Islam pasal 149 (a) bahwa laki-laki yang telah akrab secara batin dengan istrinya wajib melakukan mut} 'ah bagi mantan istrinya, kecuali mantan istrinya yang qabla dukhul Menurut pasal 159, KHI mut}'ah sunnah diberikan jika mahar tidak ditentukan dalam ba'da al-dukhul talak atau talak itu datang. dari sisi istri." Dari pasal tersebut jelas bahwa memberikan mut}'ah kepada mantan istri adalah suatu hal yang sangat dianjurkan atau bahkan diwajibkan.
Mut}'ah tidak diberikan segera oleh lelaki kepada bekas isterinya, tetapi terdapat beberapa syarat.
Kadar Nafkah Mut}’ah
Oleh karena itu, kondisi wanita menjadi pedoman dalam menentukan mut'ah. Al-Hasan bin 'Ali memberikan dua puluh ribu mut'ah (dirham) ditambah beberapa kantong besar madu (girbah, wadah air kulit kambing). Menurut pendapat lain, dalam menentukan besarnya mut'ah juga harus memperhatikan kondisi wanita.
Apabila keduanya diceraikan sebelum dukhul, maka akibat keduanya mempunyai hak mut}'ah yang sama nilainya. Hal ini tidak sesuai dengan maksud ayat yang menyatakan bahwa mut}'ah hendaknya diberikan secara ma'ruf (فورعماب). Pengadilan Agama Nganjuk merupakan pengadilan tingkat pertama yang secara organisatoris, struktural dan finansial berada di bawah kewenangan Mahkamah Agung, dimana Pengadilan Agama membidangi perkara hukum perdata di Kabupaten Nganjuk.
Pengadilan Agama Kelas I-B Nganjuk terletak di kota Nganjuk, terletak di Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Nganjuk yang berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk. 7 Tahun 1989 Pasal 9 ayat (1) menyebutkan susunan Peradilan Agama terdiri atas Pengurus, Hakim, Anggota, Sekretaris, Sekretaris, dan Pelaksana. Pengadilan Agama Nganjuk merupakan lembaga pemerintah yang berada di bawah naungan Mahkamah Agung, dalam bidang rekayasa fungsional yang membidangi hukum perdata seperti Peradilan Agama.
Dekskripsi tentang Putusan Pemberian Mut}’ah pada Perceraian Fasakh Perkara yang terdaftar di Pengadilan Agama Nganjuk dengan register
Dalam putusan perkara Nomor 0689/Pdt.G/2013/Pa.Ngj tentang pemberian mut}'ah dalam perkara perceraian fasakh di Pengadilan Agama Nganjuk dalam perkara fasakh, majelis hakim dalam memutus suatu perkara harus mempunyai pertimbangan hukum yang jelas seperti dasar dalam memutus suatu perkara, terutama perkara yang berkaitan dengan masalah perceraian. Bahwa guna memenuhi upaya untuk lebih mengoptimalkan perdamaian sesuai dengan keinginan dalam Pasal 130 ayat 1 HIR dan PERMA Nomor 1 Tahun 2008, majelis hakim telah mengupayakan perdamaian antara penggugat dan tergugat melalui proses mediasi yang dipimpin oleh Dra. Berdasarkan keterangan penggugat dan tergugat, keduanya telah berpindah agama berdasarkan bukti berupa fotokopi.
Untuk memperkuat informasi mengenai putusan tersebut, penulis melakukan wawancara kepada majelis hakim yang menangani perkara ini, intinya penulis berhasil mengungkap bahwa dalam perkara ini Fasakh yang diceraikan masih menerima penghasilan mut}'ah. Sebab menurut majelis hakim, talak fasakh seperti ini tidak membatalkan hak mantan istri untuk mendapat nafkah mut}'ah. Dasar pertimbangan hakim mengacu pada KHI pasal 160 yang berbunyi “Besarnya mut’ah disesuaikan dengan kesusilaan dan kemampuan laki-laki”, pasal 158 yang berbunyi “mut’ah wajib diberikan oleh mantan suami pada saat itu.” syaratnya : a.tidak ada mahar yang tetap bagi da dukhul isteri, b.
Dan dalam penyelesaian perkara ini, menjawabnya sebenarnya tidak menolak, melainkan hanya menjawab permintaannya tentang mut}'ah sebesar Rp. Atas dasar itu, majelis hakim yang mengadili perkara tersebut berpandangan untuk memutus hukuman terhadap suami dengan pembayaran makanan mut}'ah sebesar Rp. ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KEPUTUSAN AP NOMOR 0689/PDT.G/2013/PA.NG TENTANG PEMBERIAN MUT}'AH PADA.
Analisa Terhadap Dasar Pertimbangan Hakim dalam memutus perkara Nomor 0689/Pdt.G/2013/PNgj
Dan pasal ini juga disebutkan dalam putusan perkara ini sebagai dasar penetapan nilai mut}'ah oleh Majelis Hakim. Yang tidak tepat adalah dalam memutus perkara mut}'ah hakim juga harus mempertimbangkan pasal-pasal lain yang berkaitan dengan perkara ini. Rangkuman hukum Islam pasal 158 yang menyatakan “mutaja harus diberikan oleh mantan suami dengan ketentuan: a. belum ditetapkan mahar bagi ba'da dukhul wanita tersebut, b. Perceraian itu atas kemauan suami.”
Kompilasi Hukum Islam pasal 159 yang berbunyi “mut’ah sunnah diberikan oleh mantan suami tanpa syarat sebagaimana diatur dalam pasal 158.”. Yang akan menjadi fokus analisa pada subbab ini adalah mengenai putusnya perkawinan dan ketentuan mut}'ah. Sedangkan menurut ulama Malikiyyah, satu-satunya perempuan yang berhak mut}'ah adalah yang maharnya mahr al-mitsl dan dia diceraikan qabl dukhul.
Namun, mut}'ah yang wajib menurut pendapat Imam al-Syafi'i ialah isteri yang dikahwini dengan mahar al-mitsil dan diceraikan sebelum dukhul. Namun demikian, menurut pendapat lamanya, Imam al-Syafi'i percaya bahawa bagi isteri yang diceraikan dalam keadaan seperti ini, disunatkan diberi mut}'ah. Ia menunjukkan bahawa bagi isteri yang telah disetubuhi juga wajib mendapat mut}'ah.
PENUTUP
Saran
Apabila memutuskan sesuatu kes, hakim hendaklah sentiasa menggunakan asas perundangan mereka yang bersumberkan syariat Islam. Undang-undang dan komposisi undang-undang Islam mestilah bersesuaian agar dapat berjalan secara seimbang dan seterusnya mewujudkan rasa keadilan. Walaupun hakim dalam kes fasakh ini menggunakan asas perundangan daripada Kompilasi Hukum Syarak dalam keputusannya, hakim tidak seharusnya mengenepikan Hukum Syarak sebagaimana pendapat ulama. Abdullah bin Ahmad bin Qudamah, al-Mughniy fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibaniy, (Beirut: Dar al-Fikr, 1405H), Bahagian 7.
Abi Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yunus al-Fairuz Abadi al-Syirazi, al-Nuhazzab Juz 2, (Beirut Dar al-Kutub, 1995). Ali bin Ahmad bin S'id bin Hazm al-Zahiry, al-Muhalla, (Beirut: Dar al-Afaq al- Jadidah), Juz 10. Mansur bin Yunus bin Idris al-Bahuti, Kasyaf al-Qina'an Matan al- Iqma' Jus 5, (Beirut: al-Fikr).