BAB IV ANALISIS TENTANG STATUS PERWALIAN ANAK AKIBAT PEMBATALAN NIKAH
Teks penuh
Dokumen terkait
Hal ini telah diatur secara jelas dan tegas dalam pasal 7 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwa “Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah,
sudah sesuai dengan hukum positif dan untuk mengetahui dan memahami akibat hukum pembatalan perkawinan karena salah sangka terhadap status suami. Metode penelitian
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka Pasal 43 ayat (1) UU 1/1974 yang menyatakan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata
Selanjutnya permasalahan yang berkenaan dengan akibat hukum terhadap pembatalan perkawinan di muat dalam Pasal 28 ayat (2), sebagai berikut: Keputusan tidak
Pada Pasal 86 ayat (2) menyatakan bahwa harta istri tetap menjadi hak istri dan dikuasi penuh olehnya, demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasi penuh
Sebagai bahan masukan bagi masyarakat yang melakukan nikah sirri yang berdampak pada hak-hak anak serta perlindungan hukum yang dilakukan terhadap nikah sirri,
Pasal 20 ayat (1) KHI menyatakan, "Yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yaitu muslim, akil dan baligh". Syarat
Kelangsungan dan Implikasi Hak Ulayat Pasal 3 ayat 1 UUPA menyatakan: “Mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 dan 2, pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu, dari