• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUT'AH DALAM PANDANGAN SUNNI SYI'AH - repository iiq

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "MUT'AH DALAM PANDANGAN SUNNI SYI'AH - repository iiq"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

Tn. dan Ny. Dosen Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta yang telah mendedikasikan ilmunya kepada seluruh mahasiswanya dan menyaksikan keberhasilan mahasiswa dalam meraih gelarnya. Sahabat Ushuluddin A dan B yang turut mengisi kenangan hidup bersama selama 4 tahun, dalam kebahagiaan menjadi penghafal Al-Quran.

Konsonan

Vokal

Kata Sandang

Perbedaan paling populer antara Ahlusunnah dan Syi'ah adalah mengenai pernikahan, yaitu pernikahan dengan batas waktu yang tetap (nikah mut'ah). Oleh karena itu, dalam skripsi ini akan dibahas mengenai tafsir Asy-Syaukâni, Al-Alûsi dan Ath-Thababa'i mengenai hukum perkawinan mut'ah.

Latar Belakang

Sebahagian daripada mereka mengaitkan pengharaman nikah mut'ah kepada Khalifah kedua, Umar bin Khattab. Dan Umar ra. turut mengumumkan pengharaman nikah mut'ah ketika menyampaikan pidato mimbar semasa pemerintahannya.

Identifikasi Masalah

Maka melihat penjelasan di atas, penulis berpendapat ada baiknya topik ini ditinjau kembali, yaitu dengan judul skripsi “Perkawinan Mut’ah dalam Pandangan Syi’ah Sunni”.

Batasan Masalah

Dalam skripsi ini penulis akan menggunakan tiga tafsir, yaitu: Fath al-Qâdhîr, Rûhul Ma'âni dan al-Mizân. Karena Tafsir Fath al-Qâdhîr dan al-Mizân merupakan Tafsir kaum Syi'ah pada zaman sekarang dan dianggap moderat, maka Tafsir Rûhul Ma'âni terkenal dengan gaya sufinya, sehingga membuat penulis ingin mengetahui lebih jauh tentang mut'ah - pernikahan. dalam pandangan sufi Ahlusunnah.

Rumusan Masalah

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan pendapat para ulama mengenai persoalan nikah mut’ah. Secara akademis dapat menambah dan memperkaya pustaka temuan penelitian tentang Hukum Perkawinan Mut’ah.

Tinjauan Pustaka

Informasi yang diperoleh dalil penolakan nikah mut'ah terfokus pada dua kelompok masyarakat yaitu Sunni dan Syiah. 16 Pipin Tohidin, “Perkawinan Mut'ah Dalam Pandangan al-Syaukani dan Thabathab'i”, Skripsi, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2010,), hal.

Metodologi Penelitian

Persamaan: Kedua-duanya membincangkan nikah mut'ah dan kedua-duanya membandingkan antara dua mazhab yang membolehkan nikah mut'ah dan yang melarang nikah mut'ah. 4] : 24 adalah satu-satunya ayat yang menjadi hujah mazhab Syiah tentang halal nikah muta.

Nikah

  • Definisi Nikah
  • Rukun Nikah
  • Hukum Nikah
  • Macam-macam Pernikahan pada Masa Jahiliyah a) Nikah Mut’ah

5 Shaikh al-'Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, "Rahmah al-Ummmah fi Ikhtilaf al-A'immah, Trans., (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet. 6 Shaikh al-'Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, "Rahmah al-Ummmah fi Ikhtilaf al-A'immah, Trans., (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet. 11 Shaikh al-'Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, "Rahmah al-Ummmah fi Ikhtilaf al-A'immah, Trans., (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet.

12 Shaikh al-'Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, "Rahmah al-Ummmah fi Ikhtilaf al-A'immah, Trans., (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet.

Nikah Mut ‘ah

Definisi Nikah Mut ‘ah

Nikah istibdla' adalah perkawinan yang mana suami mengajak isterinya untuk menyetubuhi laki-laki lain hingga isterinya hamil guna mendapatkan bibit unggul dari laki-laki lain, ketika isterinya hamil isterinya kembali menyetubuhinya.

Rukun dan Syarat Nikah Mut ‘ah

Kaum Syiah berpendapat bahwa istilah khusus ini adalah sebutan untuk perkawinan sementara, karena Al-Qur'an menyebut perkawinan ini dengan istilah yang berasal dari akar kata yang sama. Jika seorang laki-laki mempunyai isteri tetap yang bebas, maka ia tidak boleh mengadakan akad mut'ah dengan seorang budak tanpa persetujuan isterinya. Menurut Imam Ridha, ‘mut’ah adalah sesuatu yang harus ditentukan jangka waktunya.’ Selain itu, Imam pernah ditanya apakah boleh melakukan mut’ah hanya satu atau dua jam saja.

Adapun kemungkinan penundaan dimulainya mut'ah tergantung pada ketentuan bulan dilakukannya mut'ah.

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Nikah Mut‘ah ,

  • Persamaan dan Perbedaan Nikah Mut‘ah dengan Nikah Permanen
  • Sahabat dan Tabi’in Yang Meriwayatkan Mut‘ah
  • Nikah Mut’ah Menurut Ulama Sunni
  • Pembatalan Terkait Hukum Nikah Mut‘ah

33 Ibnu Mustafa, Nikah Mut'ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Semasa, (Jakarta: Lentera Basritama, 1999), Cet. Setelah imam menerangkan tentang haji tamattu, Abu Hanifah bertanya semula kepada imam tentang halalnya nikah mut'ah. 40 Ibnu Mustafa, Nikah Mut'ah Dalam Perspektif Hadith dan Tinjauan Semasa, (Jakarta: Lentera Basritama, 1999), Cet.

Kerana aku mendengar Rasulullah melarang nikah mut'ah dan membelai daging keldai pada hari Khaibar. 48.

Biografi Imam Asy-Syaukâni

  • Profil Kelahiran Imam Asy-Syaukani
  • Karya-Karya Imam Asy-Syaukani
  • Latar Belakang Penulisan
  • Sumber penafsiran
  • Corak Penafsiran
  • Metode dan Sistematika Penafsiran
  • Madzhab dan Akidah Tafsir Fath al-Qâdîr

Dalam tafsirnya Asy-Syaukani juga menjelaskan makna yang dikandungnya sesuai dengan berbagai bidang keilmuan yang dikuasainya. 24 Syekh Manna al-Qahthan, Mabahits Fi Ulumil Qur'an, terj. juga memuat pendapat para komentator sebelumnya secara rinci.25. al-Ghumari menjelaskan: “Ketika menjelaskan suatu ayat atau beberapa ayat, Asy-Syaukani terbiasa menyajikan penjelasannya secara rinci dengan urutan sebagai berikut; 25Ahmad Atabik, Tarjih dalam penafsiran Al-Qur'an dari sudut pandang Imam asy-Syaukani dalam Tafsir asy-Syaukani.

Namun begitu, beliau bukanlah seorang yang fanatik buta, kerana asy-Syaukani juga memetik daripada ulama fiqh mazhab lain seperti Imam Syafi'I, Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Ahmad Ibn Jabir.30 Beliau juga akhirnya menjadi pembela menjadi Sunnah. . dan mengalahkan ramai lawan, lawan polemiknya.

Biografi Al-Alûsi

  • Profil Kelahiran Al-Alûsi
  • Karir Pendidikan/ Intelektual
  • Karya-Karya
  • Latar Belakang Nama Kitab
  • Sumber Penafsiran
  • Metode Penafsiran
  • Sistematika Penafsiran
  • Corak Penafsiran
  • Madzhab Teologi/Fiqih
  • Refrensi penafsiran
  • Riwayat Pendidikan dan Karya-Karya Ath-Thabathaba’i

Daripada Syaikh al-Islam Ahmad Arif Rahmat, beliau memberi sanad dan al-Alusi juga memberinya ijazah. Di antara karya-karya ini, karya al-Alusi yang paling popular nampaknya adalah yang terakhir yang kemudiannya dikenali sebagai tafsir al-Alusi atau Ruh al-Ma'ani 39. Sumber tafsiran (mashadir) yang digunakan oleh al-Alusi , adalah gabungan daripada sumber al-ma'tsur (riwayat) dan al-ra'yi (ijtihad).

Dan apabila al-Alusi memetik daripada kitab tafsir Abi Su'ud, dia menulis bersama-sama dengan Syaikh al-Islam.

Profil Tafsir al-Mizân

  • Latar Belakang Penafsiran
  • Karakteristik Tafsir al-Mizân
  • Corak Penasaran kitab Tafsir al-Mizân
  • Metode dan Sistematika Penafsiran Kitab Tafsir al-Mizân
  • Penilaian Para Ulama Mengenai Tafsir al-Mizân

Kecenderungan Ath-Thabathaba'i dalam menafsirkan Al-Qur'an secara umum bersifat multidisiplin, hampir semua bidang keilmuan dijelaskan dalam penafsiran ini. Namun jika dilihat dari kecenderungan madzhabnya, tafsir al-Mizan merupakan tafsir Syi'ah karena teologi Syi'ah sangat mempengaruhi Ath-Thabathaba'i dalam menafsirkan Al-Qur'an. Untuk mengungkap makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur'an, Ath-Thabathaba'i menggunakan tiga kemungkinan metode.

57 Waryono Abdul Ghofur, Desertasi, Millah Ibrahim dalam el-Mizan dan Tafsir Al-Qur'an, (tt.p: t.p., t.t), f.

Dasar Hukum Nikah Mut‘ah dan Asbab An-Nuzul Surat An- Nisa[4]:24

Maka umat Islam bertanya kepada Nabi SAW sehingga turun ayat di atas (QS. An-Nisa [4]:24). Riwayat lain menyatakan bahawa ayat ini diturunkan semasa Perang Hunain, ketika Tuhan memberi kemenangan ke atas kaum Muslimin dan menawan beberapa wanita Ahli Kitab. Hampir semua ulama Syiah bersetuju bahawa ayat ini menerangkan tentang ayat mut'ah, contohnya Imam Thaba-thaba'i.

Tetapi keadaannya berbeza dengan ulama Sunni, misalnya al-Qurtubi mengatakan bahawa Surah An-Nisa [4]:24 yang dijadikan sandaran untuk menentukan nikah mut’ah adalah tidak betul kerana jika niat ayat itu membolehkan nikah mut'ah, kenapa Nabi sendiri melarang dan mengharamkannya.

Penafsiran asy-Syaukâni Terhadap Surat An-Nisa[4]:24

Penafsiran ayat

As-Sanqithi mengatakan dalam kitabnya bahawa ayat ini berkaitan dengan nikah Syar i dan bukan dengan nikah mut'ah. Kemudian tafsiran ayat ini dengan nikah mut'ah adalah bertentangan dengan hujah yang lebih kuat yang disepakati oleh kebanyakan ulama, dan terdapat hadis sahih yang melarang perkara ini berlaku sehingga hari kiamat. Walaupun ayat tersebut diterangkan dengan nikah mut'ah, maka ayat tersebut dimansuhkan sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahihain (Hadis Bukhari-Muslim).

Nikah mut'ah telah dimansuhkan dua kali iaitu kali pertama semasa Perang Khaibar dan kali kedua semasa Fathul Makkah.

Dalil Yang Menasikh Hukum Nikah Mut‘ah

Adanya sekelompok sahabat yang pendirinya bertentangan dengan pernyataan ini, tidak sedikit pun mengurangi keabsahannya sebagai dalil, dan tidak pula menjadi alasan yang membolehkan kita melangsungkan perkawinan mut'ah. Wahai manusia, sesungguhnya aku pernah memperbolehkan kamu bersenang-senang dengan wanita (nikah muta), namun sekarang Allah telah mengharamkannya hingga hari kiamat. Sedangkan wanita yang menikah secara mut'ah tidak termasuk dalam kategori istri dan bukan juga budaknya, karena status istri adalah warisan dan warisan, sedangkan pernikahan mut'ah tidak seperti itu.

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, dia berkata bahawa mut'ah itu boleh, dan ia tetap berlaku dan tidak dihilangkan.

Penafsiran Al-Alûsi Terhadap Surat An-Nisa[4]:24

Pendapat-Pendapat Tentang Penasikhan Ayat Mut‘ah 19

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali isteri atau hamba sahaya yang mereka miliki, iaitu. Barangsiapa mencari perkara yang di luar, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Mu'minun [23]:4-7). Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu, hendaklah kamu menceraikannya apabila mereka boleh (menghadapi) 'iddah mereka." (QS. Ath-Thalaq [65]: 1).

Ada pula yang mengatakan bahwa ayat mut'ah ini diamalkan berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. Ayat ini dibuat pada tahun Khaibar, ada yang mengatakan beliau menasikh pada tahun Fathul Makkah, ada pula yang mengatakan pada Haji Wada' Ada pula yang mengatakan nikah mut'ah pada awalnya diperbolehkan, kemudian dijadikan dua atau tiga kali haram, dan akhirnya pernikahan mut'ah dinyatakan haram.

Jawaban Terhadap Penasikhan Ayat Mut’ah

Kerana pendapat ini pada dasarnya bercanggah dengan riwayat-riwayat muttawatir yang menjelaskan Al-Qur'an dan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan Al-Qur'an'. 22.

Dalil-Dalil yang Membolehkan Nikah Mut’ah 23

Pengarang mengatakan bahawa kisah ini diriwayatkan oleh al-Ayasji daripada Abu Ja'far, dan kisah ini juga diriwayatkan oleh majoriti (Ahlusunnah), dengan sanad yang banyak, daripada Ubay bin Ka'abi dan Abdullah bin 'Abbas. Dalam tafsir al-Eyasi, dari Muhammad bin Muslim, dari Abu Jafar, dia berkata bahawa Jabir bin Abdullah berkata dari Rasulullah saw, bahawa mereka (sahabat) berperang dengannya, lalu dia mengizinkan mereka melakukan nikah mut'ah dan dia tidak pernah melarangnya. Dan dia juga berkata bahawa Ali bin Abi Talib berkata: "Seandainya Umar bin Khattab tidak mendahuluiku dalam perkara mut'ah, nescaya tidak ada sesiapa yang melakukan zina kecuali orang yang celaka.

Ibnu Abbas berkata: “Apabila kamu mengahwini salah seorang dari mereka, sampai waktu yang ditentukan, maka berikanlah kepada mereka mahar sebagai suatu kewajipan, dan mereka (sebahagian sahabat) mentaati hukum nikah ini, walaupun Rasulullah saw. menjadikannya sah dan tidak pernah mengharamkannya." .

Analisis Perbandingan Antara Pandangan Thabathaba’i, asy- Syaukani, dan al-Alusi

Kesimpulan

Dari ketiga mufassir yang penulis sebutkan, ada satu mufassir yang mempunyai pendapat berbeda mengenai hukum nikah mut'ah. Menurutnya, Surat An-Nisa: 24 merupakan dalil dibolehkannya nikah mut'ah dan sampai saat ini belum ada dalilnya. Begitu pula dengan pengikutnya dari kalangan Syi'ah Istna' Asyari yang masih mempraktekkan pernikahan mut'ah hingga saat ini.

Namun berbeda dengan pandangan asy-Syaukani dan al-Alusi, kedua mufassir ini tidak menganggap ayat ini sebagai ayat yang menghalalkan nikah mut'ah, melainkan ayat yang menjelaskan wanita-wanita yang boleh dinikahi dan kewajiban-kewajibannya di dalamnya. membayar mahar.

Saran-saran

Mengenai ayat nikah mut'ah, para mufassir masih mempunyai pendapat berbeda mengenai status hukumnya tergantung dari latar belakang pendidikan dan mazhab yang dianut. Maka penulis hanya berpesan kepada pembaca jika ingin mempelajari ayat tentang nikah mut'ah ini agar mengetahui terlebih dahulu latar belakang penafsirnya. Mustafa, Ibnu, Nikah Mut'ah Dalam Perspektif Hadits dan Kajian Terkini, Jakarta: Lentera Basritama, Cet.

Quraish Shihab, M., Wanita, Dari Cinta Hingga Seks Dari Nikah Mutah Hingga Nikah Sunnah Dari Bias Lama Hingga Bias Baru.

Referensi

Dokumen terkait