• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Nikah

1. Definisi Nikah

jiwa raganya untuk dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir dengan perceraian dan mendapatkan keturunan yang baik dan sehat. Untuk itu maka UU Perkawinan telah di tentukan batas umur minimal untuk mereka yang akan melangsungkan perkawinan yaitu pria 19 tahun dan wanita 16 tahun. Pembatasan umur ini untuk mencegah terjadinya perkawinan dibawah umur.4

2. Syarat dan Rukun Nikah a. Syarat Nikah

Syarat-syarat perkawinan diatur dalam Pasal 6 s/d Pasal 11 UU Perkawinan, yang pada pokoknya sebagai berikut:

1) Adanya persetujuan kedua calon mempelai

2) Adanya izin dari oran tua/wali bagi calon mempelai

3) Umur calon mempelai pria sudah mencapai 19 tahun, dan perempuan sudah mencapai 16 tahun

4) Antara kedua calon mempelai tidak ada hubungan darah/keluarga yang dilarang kawin

5) Tidak terikat hubungan perkawinan dengan orang lain

6) Tidak bercerai untuk kedua kali dengan suami atau istri yang sama, yang hendak dikawini

7) Bagi seorang janda tidak dapat kawin lagi sebelum lewat waktu tunggu.5

4 Sri G., Perkawinan Antar Agama, (Jakarta: Catur Libra Optima Offset, 1996), Cet.

ke-1, h. 39-47

5Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, “Rahmah al- Ummmah fi Ikhtilaf al-A’immah, Terj, (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet. ke-13. h. 338.

3. Perkara-perkara yang Mengakibatkan Sahnya Nikah a. Cara Perjanjian Akad Nikah

Persetujuan dalam nikah itu ada dua, yaitu dalam bentuk kata- kata bagi pihak laki-laki dan janda, dan dalam bentuk diam, yakni kerelaan bagi gadis (perawan) yang perlu dimintai persetujuannya.

Sedang untuk penolakkan, maka dengan kata-kata. Masalah ini tidak diperselisihkan lagi, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari para pengikut Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa persetujuan gadis harus dalam bentuk kata-kata, jika orang yang menikahkannya bukan ayah atau kakeknya.6

Jumhur Fuqaha dalam memegangi pendapatnya bahwa persetujuan gadis cukup dengan sikap diamnya berdasarkan hadis Rasulullah SAW., yang diriwayatkan dengan shahih, yaitu:

ﺎَﻬُـﺗﻮُﻜُﺳ ﺎَﻬُـﻧْذِإَو ،ُﺮَﻣْﺄَﺘْﺴُﺗ ُﺮْﻜِﺒْﻟاَو ،ﺎَﻬِّﻴِﻟَو ْﻦِﻣ ﺎَﻬِﺴْﻔَـﻨِﺑ ﱡﻖَﺣَأ ُﺐِّﻴﱠـﺜﻟا

“Wanita-wanita janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedang gadis itu dimintai pendapat tentang dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim).7

b. Orang yang dianggap sah persetujuannya

Tentang siapakah yang persetujuannya dapat menjadikan sahnya akad nikah, maka dalam syara’ ada dua. Pertama, persetujuan kedua belah pihak yang hendak menikah itu sendiri, yakni calon suami dan istri, baik bersama wali atau tanpa wali. Bagi fuqaha yang tidak

6Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, “Rahmah al- Ummmah fi Ikhtilaf al-A’immah, Terj, (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet. ke-13. h. 340.

7Muslim bin al-Hijaj Abu al-Hasan al-Qusyairi al-Naisaburi, Shohih Muslim,(Beirut: Daaru Ihya At-Turast Al-‘Arabi, t.t)

,

Jilid 2, h. 1037

mempersyaratkan persetujuan wali pada persetujuan wanita yang dapat mengusai dirinya. Kedua, persetujuan dari wali saja.8

Mengenai gadis dewasa, maka Imam Malik, Syafi’i dan Ibnu Abi Laila berpendapat bahwa ayahnya sajalah yang dapat memaksanya kawin (tanpa meminta persetujuannya).

Berdasarkan dalil khitbah, maka pengertian hadis itu adalah, bahwa gadis yang ber-ayah adalah kebalikan dari gadis yatim (jadi tidak perlu dimintai persetujuannya).

Akan tetapi sabda Nabi SAW. yang terdapat dalam hadis Ibnu Abbas yang terkenal, yaitu:

ُﺮْﻜِﺒﻟا ُﺢَﻜْﻨُـﺗ َﻻَو ﱠﱴَﺣ

َنَذْﺄَﺘْﺴُﺗ

“Gadis itu dimintai persetujuannya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).9

Hadits itu mengharuskan dimintai persetujuannya dari setiap gadis, berdasarkan keumuman kata-kata. Maka hadis inilah yang digunakan oleh Imam Syafi’i bahwa gadis tidak boleh dipaksa.10

c. Perwalian

Ulama berbeda pendapat apakah wali menjadi syarat sah nikah atau tidak. Imam Malik berpendapat bahwa tidak ada nikah tanpa wali, dan wali menjadi syarat sahnya nikah. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam Syafi’i. Imam Abu Haifah, Zufar, asy-Sya’bi dan az-Zuhri berpendapat bahwa apabila seorang perempuan

8Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, “Rahmah al- Ummmah fi Ikhtilaf al-A’immah, Terj, (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet. ke-13. h. 341.

9Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al-Bukhori al-Ju’fi, Shohih Bukhori, (Daarul Thuqi An-Najah: 1422), Cet. ke-1, Jilid 7, h. 17

10

melakukan akad nikahnya tanpa wali, sedang calon suami sebanding (kufu’), maka nikahnya sah.11

Abu Daud memisahkan antara gadis dan janda. Dia mensyaratkan wali untuk gadis, dan tidak mensyaratkan wali untuk janda. Ulama yang mensyaratkan perwalian ini berdasarkan Firman Allah:













“...maka janganlah kamu menghalang-halangi mereka untuk kawin lagi dengan calon-calon suaminya.” (QS. Al-Baqarah [2]:232).

Golongan pertama mengatakan bahwa ayat ini ditunjukkan kepada para wali. Jika mereka tidak mempunyai hak dalam perwalian, tentu mereka tidak dilarang untuk menghalang-halangi.

Sedangkan golongan kedua (yakni yang tidak mensyaratkan perwalian) mengemukakan alasan dari Firman Allah yaitu:

 ...























“(kemudian apabila telah habis masa iddahnya), maka tiada dosa bagi-mu membiarkan mereka berbuat berhadap diri mereka menurut yang patut.” (QS. Al-Baqârâh [2]:234).

Mereka mengatakan bahwa ayat ini merupakan dalil bagi kebolehan wanita bertindak mengawinkan dirinya sendiri. Pernikahan tidak sah kecuali ada wali laki-laki. Oleh karena itu, jika seorang perempuan mengakadkan dirinya sendiri untuk menikah maka pernikahannya tidak sah. Demikian menurut pendapat Syafi’i dan

11Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, “Rahmah al- Ummmah fi Ikhtilaf al-A’immah, Terj, (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet. ke-13. h. 342.

Hambali. Hanafi berpendapat: Perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri dan boleh pula mewakilkan kepada orang lain untuk menikahkan dirinya jika ia telah dibolehkan menggunakan hartanya, juga tidak boleh menghalang-halangi kecuali jika menikah dengan orang yang tidak sekufu dengannya. Jika demikian, maka walinya boleh menghalangi pernikahannya.12

Adapun urutan wali dalam Islam Imam Malik berpendapat bahwa anak laki-laki meski sampai kebawah lebih utama, kemudian ayah sampai keatas, kemudian saudara-saudara lelaki seayah seibu, kemudian saudara-saudara lelaki seayah saja, kemudian anak laki-laki dari saudara-saudara lelaki seayah saja, kemudian kakek dari pihak ayah, meski sampai keatas.13

d. Saksi

Mengenai perwalian orang fasik. Imam Abu Hanafi berpendapat bahwa penikahan dapat terjadi (sah) dengan persaksian orang-orang fasik, karena baginya saksi itu dimaksudkan untuk pemberitahuan saja.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa persaksian itu memuat dua makna, yaitu pemberitahuan dan dapat diterimanya pemberitahuan itu oleh karenanya ia mensyaratkan keadilan pada diri saksi.14

12Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, “Rahmah al- Ummmah fi Ikhtilaf al-A’immah, Terj, (Bandung: Hasyimi, 2010), Cet. ke-13. h. 338-343.

13Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terj. (Semarang: PT. asy-Syifa, 1990), Cet. ke- 1, h. 385.

14 Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terj. (Semarang: PT. asy-Syifa, 1990), Cet. ke-

1, h. 384-385.

e. Mahar

Fuqaha telah sependapat bahwa mahar itu termasuk syarat sahnya nikah, dan tidak boleh diadakan persetujuan untuk meniadakanya dasarnya adalah Firman Allah:









 ...

“Berikan mahar-mahar kepada wanita-waita (yang kamu nikahi) sebagai pemberia dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa [4]:4).

Dan terhadap isteri yang diceraikan sebelum pergaulan maka dia hak atas separuh maharnya.15