C. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Nikah Mut‘ah ,
1. Persamaan dan Perbedaan Nikah Mut‘ah dengan Nikah Permanen
a. Persamaan nikah mut‘ah dengan nikah permanen
Kedua pernikahan ini didahului dengan ijab kabul, yaitu ucapan akad nikah untuk pasangan yang akan mengikat dalam hubungan suami isteri. Kemudian ada mahar juga yang merupakan persyaratan dalam pernikahan permanen maupun pernikahan mut‘ah. Dalam pernikahan permanen, ibu dan anak perempuan dari istri menjadi mahram, demikian halnya dengan pernikahan mut‘ah. Disamping itu, sebagaimana lamaran pernikahan terhadap wanita bersuami adalah haram, demikian pula lamaran wanita yang menjadi istri mut‘ah, sebagaimana perzinaan
31Sachiko Murata, Lebih Jelas Tentang Nikah Mut‘ah, (Jakarta: PT Raja Grafido Perssada, 2001), Cet. 1. h. 70.
32Sachiko Murata, Lebih Jelas Tentang Nikah Mut‘ah, (Jakarta: PT Raja Grafido Perssada, 2001), Cet. 1. h. 44-89.
dengan wanita bersuami permanen membuat wanita itu haram bagi pezina lelakinya selama-lamanya, demikian pula halnya dengan perzinaan dengan wanita berkedudukan sebagai istri mut‘ah.
Sebagaimana halnya wanita istri permanen yang harus menjalani iddah setelah perceraian atau ditinggal mati suaminya, demikian pula istri mut‘ah harus menjalani ‘iddah setelah berakhirnya ketentuan jangka waktu pernikahan habis. Perbedaannya adalah ‘iddah perceraian permanen adalah tiga kali masa haid, sedangkan dalam pernikahan mut’ah adalah dua kali masa haid. Dalam pernikahan permanen suami tidak menikahi dua saudara perempuan dalam masa pernikahan yang sama, begitu pula dengan nikah mut ‘ah.
b. Perbedaan nikah mut‘ah dengan nikah permanen
Diantara segi-segi yang membedakan kedua jenis pernikahan ini ialah pertama, dalam pernikahan mut‘ah bila seorang wanita dan seorang pria mengambil keputusan bahwa mereka akan menikah untuk jangka waktu tertentu, maka akan menikah untuk jangka waktu tertentu, maka pada akhir jangka waktu itu, bila mereka hendak memperpanjang perkawian mereka bisa melanjutkan (dengan akad baru), jika tidak merekapun berpisah. Segi lainnya bahwa dalam perkawinan mut‘ah mereka lebih bebas dalam menetapkan ketentuan-ketentuan sebagi persyaratan menurut kehendak mereka, misalnya, dalam perkawinan permaen si pria, mau tidak mau bertanggungjawab penuh, atas nafkah harian, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya, tetapi dalam pernikahan mut‘ah pasangan itu dipersatukan oleh suatu perjanjian sukarela yang mereka sepakati. Mungkin si pria tidak
menghendaki atau tidak mampu untuk memikul kewajiban nafkah, atau si wanita tidak mau menggunakan uang si pria.33
2. Hukum dan Sejarah Nikah Mut‘ah a. Dasar Hukum Nikah Mut‘ah
Dasar hukum nikah mut‘ah adalah Firman Allah dalam Surat An-Nisa [4]:24
....
“Apabila kamu telah bersenang-senang (Istamta’tu) dengan salah seorang diantara mereka, maka berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai satu kewajiban”.
Kata istamta‘tu dalam ayat ini mengandung makna nikah mut‘ah, karena nama ini telah digunakan oleh para sahabat Nabi SAW pada saat turunnya ayat ini, baik ada anggapan nikah mut‘ah itu di-mansukh oleh ayat lain atau sunnah ataupun yang lain.34
Sahabat-sahabat Rasul seperti ‘Ubay bin Ka‘ab, Ibnu ‘Abbas, Said bin Jubair membaca ayat tersebut sebagai berikut:
ﻰًّﻤَﺴُﻣ ٍﻞَﺟَأ َﱃِإ
...
“Dan untuk kenikmatan yang kamu peroleh dari merea “sampai pada waktu yang ditentukan”
Penambahan bacaan ‘ilâ ajalin musamma” disampaikan oleh Ath- Thabari dalam Tafsir al-Kabir tatkala ia menerangkan ayat An-Nisa [4]:24 ini pada permulaan jilid 5 yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dan yang lainnya. Bacaan ini juga disampaikan oleh Zamakhsyari dari Ibn Abbas
33 Ibnu Mustafa, Nikah Mut’ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, (Jakarta: Lentera Basritama, 1999), Cet. 1, h. 48-51
34 Sachiko Murata, Lebih Jelas Tentang Nikah Mut’ah, (Jakarta: PT Raja Grafido Perssada, 2001), Cet. 1. h. 48.
dan ar-Razi dan Ubay bin Ka’ab. Setelah menceritakan bahwa sahabat Rasul membaca fama’astamta’tum bihî min hunna ilâ alin musamma fa âtûhunna ujûra hunna faridhatan”, Zamakhsyari berkata: “Demikian bacaan Ibnu ‘Abbas”. Dan ia berkata lagi “Umat Islam tidak mengingkari bacaan ‘Ubay bin Ka’ab dan Ibnu ‘Abbas dan umat sepakat akan kebenaran baca ini”.35
b. Hadis-hadis Ahul Bait tentang hukum Nikah Mut‘ah 36
1) Abi Basyir berkata dalam sahihnya: “aku bertanya pada Imam Bagir AS., tentang halalnya nikah mut‘ah”, lalu beliau menjawab “Halalnya nikah mut‘ah tercantum dalam Al-Qur’an (An-Nisa [4]:24)”.
2) Zurarah berkata: “Abdullah bin Umaah al-Laitsy mendatangi rumah Imam Bagir AS., kemudian bertanya pendapat Imam tentang nikah mut‘ah. Beliau menjawab “Allah menghalalkan nikah seperti yang disebutkan dalam kitab suci-Nya dan diucapkan juga oleh Nabi Muhammad, dan nikah mut‘ah halal sampai hari kiamat”.
3) Diriwayatkan bahwa Imam Ali AS., pernah melakukan nikah mut‘ah dengan seorang gadis dari Bani Nasyhal di Kota Kuffah. Disebut dalam kitab al-Wasil bab nikah mut‘ah.
4) Imam Abu Hanifah pernah bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq AS., tentang nikah mut‘ah kemudian Imam menjawab: “mut‘ah yang mana yang engkau maksudkan? Abu Hanifah menjawab ‘tentang haji tamattu’. Setelah Imam menjelaskan tentang haji tamattu, Abu Hanifah bertanya kembali tentang kebenaran halalnya nikah mut‘ah kepada Imam. Imam menjawab Maha Suci Allah! Tidakkah engkau membaca ayat yang berbunyi:
35O. Hasyem, Syi’ah di Tolak, Syi’ah Dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet. ke-5, h. 171
36Sayyid Ja’far Murtadho al-Amili, az-Zuwaj al-Muaqot Fi al-Islam,Terj, (Iran: al- Hikmah, 1975), Cet ke-2. h, 123.
“Apabila kamu telah bersenang-senang (Istamta’tu) dengan salah seorang diantara mereka, maka berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban”.
Kemudian Abu Hanifah berkata: “Demi Allah! Sepertinya aku belum pernah membaca ayat itu”.37