• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Tafsir al-Mizân

4) Rosale dar Ensan qabl al-Donya (Risalah tentang manusia sebelum kehidupan dunia)

Diantar karya-karyanya yang ditulis di Qum:

1) Tafsîr al-Mizân

2) Ushul-e Falsafah (lima jilid) 3) Kifayat al-Ushul

4) al-Asfar al-Arba’ah (Sembilan jilid)

5) Vahy, ya Sho-ur-e Marmuz (Wahyu, atau kesadaran mistik) 6) Ali wa al-Falsafah al-Ilahiyah (Ali dan Falsafat ketuhanan) 7) Shi’a dan Eslam (Islam Syi’ah)

8) Qor’an dar Eslam (Qur’an dalam Islam)52

Munculnya al-Mizân ini disebabkan adanya kebutuhan yang mendesak dari kalangan masyarakat akan adanya satu tafsir alternatif, yang dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang makna-makna yang tersurat maupun yang tersirat dari ayat-ayat Al- Qur’an, sebagai teks yang paling tinggi kedudukannya dan paling penting dalam wacana keilmuan Islam. Sebab, kitab-kitab tafsir yang telah ada banyak dipengaruhi oleh pendapat-pendapat pribadi, sehingga terkadang mereduksi sedemikian dalam makna-makna tekstual dan kontekstual dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Kitab tafsir ini disebut dengan al-Mizân, karena didalamnya Thabathaba’i menampilkan banyak pendapat, baik dari para mufasir maupun pakar keilmuan lainnya, seperti ahli hadis, sejarah, dan lain-lain yang kemudian dia kritisi serta analisa dengan cukup mendalam.

Thabathaba’i juga mendasarkan penafsirannya kepada kitab-kitab lain yang cukup relevan dan bisa mendukung penafsiranya, baik bidang tafsir, hadis, sejarah, bahasa dan lain-lain. Namun, ia tetap memberikan kritikan dan komentar. Dari sinilah letak keunggulan beliau dibanding mufasir-mufasir lainnya.53

Tafsir al-Mizân telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain, bahasa Perancis, Urdu, dan Inggris serta telah dicetak berulang-ulang dibeberapa Negara, antar lain Iran, Beirut, Pakisan.

2. Karakteristik Tafsir al-Mizân

Ath-Thaba’i menjelaskan bahwa tafsir al-Mizân menggunakan metode atau kaidah tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an, sedangkan metode penafsiranya adalah metode tahlili dengan menggunakan dua pendekatan

53IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, h. 188.

sekaligus, yaitu bi al-ma’tsur dan bi al-ra’yi. Adapun menurut ‘Ali al- Usi dan al-Iyazi, jenis bi al-ma’tsurnya al-Mizân adalah dengan cara maudhu’i.

Thabathaba’i juga menggunakan rasio untuk memahami ayat, terutama ayat-ayat yang menuntutnya untuk dijelaskan secara filosofis dan logis, seperti masalah tauhid, ‘ishmah, keadilan Tuhan, perbuatan manusia antara jabr dan qadr.

Secara spesifik metode tafsir al-Mizân berpedoman kepada pendapat para pakar dari berbagai disiplin ilmu, seperti tafsir, hadis, tarikh, dan lain-lain, baik yang sumber dari pada Imam Syi’ah Imamiyah, maupun ulama kalangan Sunni. Ini dimaksudkan untuk menyikapi sisi-sisi pembahasan yang dikehendaki oleh tema tersebut dan menjaga kejujuran pandangannya terhadap masalah yang dibahas.54

3. Corak Penasaran kitab Tafsir al-Mizân

Kecenderungan Ath-Thabathaba’i dalam menafsirkan Al-Qur’an secara umum yaitu multidisiplin, segala bidang keilmuan hampir semua dijelaskan dalam tafsir ini. Ada juga yang mengatakan tafsirannya bercorak filosofis, hal ini dilihat dari penguasaan beliau dalam bidang filsafat. Namun, bila dilihat dari segi kecenderungan madzhabnya, tafsir al-Mizân termasuk tafsir Syi’i, karena teologi Syi’ah banyak mempengaruhi Ath-Thabathaba’i dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Walaupun begitu beliau mengambil pendapat-penadapat Ahlu Sunnah Wal Jama’ah sebagai penunjang dalam menafsirkan Al-Qur’an.55

54IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, h. 189.

55IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, h. 190

4. Metode dan Sistematika Penafsiran Kitab Tafsir al-Mizân

Langkah atau sistematika penafsiran Ath-Thabathaba’i dalam tafsirnya dimulai dengan seputar mufradat (arti kalimat), kemudian penjelasan dari segi hukum, teologi, dan diakhiri dengan kajian berbagai riwayat. Mengikuti sistematika tartib mushafi, yaitu menyusun kitab tafsir berdasarkan susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam mushaf Al- Qur’an, yang dimulai dari surah Al-Fatihah hingga surah An-Nas.

Disamping itu Thabathaba’i dalam penafsirannya membagi-bagi ke dalam beberapa tema. Sehingga dalam penafsirannya tidak secara ayat per-ayat, melainkan dengan cara mengumpulkan beberapa ayat.

Untuk mengungkap makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al- Qur’an, Ath-Thabathaba’i menggunakan tiga cara yang bisa dilakukan.

Pertama, menafsirkan suatu ayat dengan bantuan data ilmiah dan non ilmiah. Kedua, menafsirkan Al-Qur’an dengan hadis Nabi yang diriwayatkan dari imam-imam yang diucapkan dalam konteks ayat yang dibahas. Ketiga, menafsirkan Al-Qur’an dengan jalan merefleksikan kata-kata dan makna ayat dengan bantuan sejumlah ayat lain yang relevan, dan sebagai tambahan, dengan merujuk kepada hadis-hadis jika diperlukan. Metode tafsir ini disebut metode tahlili.56

5. Penilaian Para Ulama Mengenai Tafsir al-Mizân

‘Ali al-Alusi berkomentar bahwa, Ath-Thabathaba’i telah mengumpulkan berbagai macam persoalan penting yang dipengaruhi oleh kebangkitan modern dalam dunia penafsiran. Beliau melakukan perlawanan dengan musuh-musuh Islam secara sengaja membelokan pemahaman keIslaman yang benar, yang dilandasi atas jiwa

56 Waryono Abdul Ghofur, Desertasi, Millah Ibrahim dalam al-Mizan fi Tafsir Al- Qur’an, (tt.p: t.p., t.t), h. 27

kemasyarakatan yang terlahir dari Al-Qur’an itu sendiri di dalamnya terdapat sepuluh pembahasan yang cukup penting.

Sedangkan Fahmi al-Rumi berkomentar bahwa, ketika membaca tafsir ini secara sekilas memunculkan sebuah kesan bahwa tafsir ini tidak untuk orang awam tetapi untuk level para ulama. Hal ini ditunjukan pada pembahasan-pembahasannya yang sangat mendalam. Sebagaimana tafsir al-Kasysyaf, yang dianggap oleh para pengkaji tafsir sebagai kitab terbaik, seandaiya tidak terlalu terlihat muktazilahnya. Demikia juga al- Mizân, ia akan menjadi kitab tafsir yang terbaik seandainya tidak terlalu menonjol kesyi’ahannya.57

57Waryono Abdul Ghofur, Desertasi, Millah Ibrahim dalam al-Mizan fi Tafsir Al- Qur’an, (tt.p: t.p., t.t), h. 28.

TERHADAP AYAT NIKAH MUT‘AH

A. Dasar Hukum Nikah Mut‘ah dan Asbab An-Nuzul Surat An-