C. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Nikah Mut‘ah ,
5. Pembatalan Terkait Hukum Nikah Mut‘ah
Perkawinan mut‘ah tidak diakui oleh Ahlussunnah walaupun mereka mengakui bahwa Rasulullah pernah mengizinkannya dan sahabat-sahabat Nabi pun banyak yang melakukannya. Tetapi menurut Ahlussunnah izin itu telah dibatalkan.
Sedangkan Syi’ah tidak mengakui pembatalan dari Nabi itu. Sehingga mereka masih membolehkannya hingga kini. Alasan yang dikemukakan oleh ulama Syi’ah adalah bahwa menetapkan bolehnya nikah mut‘ah membantu kaum Muslim yang dalam perjalanan panjang baik pelajar- pelajar maupun tentara yang masih muda untuk menghindari agar tidak terjerumus dalam perzinahan sementara orang banyak menduga bahwa kawin mut‘ah sama dengan perzinahan. Namun ulama Syi’ah tidak dapat menerima persamaan itu, karena dalam perkawinan ini syarat-syarat mut‘ah sama dengan perkawinan permanen. 41
Syi’ah menganggap ayat An-Nisa [4]:24 belum dihapus, atau mansukh, oleh karena itu halal sampai hari kiamat, berdasarkan ayat Al- Qur’an dan izin yang disampaikan oleh Rasulullah SAW., yang
40 Ibnu Mustafa, Nikah Mut’ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, (Jakarta: Lentera Basritama, 1999), Cet. 1, h. 18
41 Asmuni Solihan Zamakhsyari, Ensiklopedi Sunnah Syi’ah, (Jakarta: Pustaka al- Kautsar. 2001), Cet. 1, h. 251-253
menyatakan bahwa kalau Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu hukum maka tidak boleh ada pilihan lain.
Dan tidak ada penghapusan baik dari Allah SWT maupun dari Rasulullah sampai wahyu putus dan Rasulullah wafat. Demikian juga sumber-sumber Syi’ah sendiri. Dikalangan mereka pembolehan mut’ah merupakan hadis-hadis muttawatir, dan ketiadaan penghapusan membuat kawin mut‘ah berlaku selama-lamanya. 42
Adapun pendapat yang kemukakan oleh Syi’ah itu benar bahwa Nabi membolehkan kepada sahabatnya untuk mut‘ah. Tapi sesungguhnya Nabi membolehkan mut’ah dengan perintah Allah karena ada kebutuhan baru ketika penaklukkan Mekkah sebagai bentuk pengecualian dari hukum Al- Qur’an, kemudian beliau melarangnya setelah mengizinkannya. Dengan pelarangan yang abadi sebagaimana beliau memperbolehkan menumpahkan darah di Mekkah dengan perintah Allah pada sebagian waktu siang, dan sebagaimana beliau melarang menegakkan hukum had ketika mencuri dalam peperangan.
Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Malik, dan lain-lain meriwayatan dari Ali RA., “Bahwa Rasulullah SAW., melarang mut‘ah dan keledai kampung pada masa perang Khaibar”.43
Muhammad bin Hanafiah meriwayatkan dari Ali RA., bahwa pada hari Khaibar Rasulullah SAW mengumumkan “Ketauilah bahwa Allah dan Rasul-Nya melarang mut’ah kepadamu.”
Dalam kedua hadis itu dijelaskan bahwa kaum Muslimin dilarang melakukan mut‘ah pada masa Khaibar atau bahwa Rasulullah memerintahkan mereka untuk nikah mut‘ah pada waktu itu.
42 O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.
ke-5, h. 177
43 O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.5, h.178.
Maka ketika kaum Muslimin dapat menaklukan Khaibar dan kaum Muslimin mendapatkan harta dan menawan banyak wanita. Nabi SAW., menggunakan kesempatan itu untuk melarang mut‘ah dengan menganggap cukup dengan wanita-wanita tawanan sehingga Nabi memindahkan kaum Muslimin dengan sikap halus dari apa yang mereka lakukan pada masa jahiliyah kepada dasar umum tentang sifat-sifat orang Mukmin. Pada masa itu adalah masa pentahapan dalam penentuan syari’at sebagaimana tradisi Islam dalam melakukan pentahapan ketika menetapkan syari’at sehingga agama dapat terealisasi semuanya dengan kesempurnaan risalah seperti dalam pentahapan ketika pengharaman khamr.44
Imam Muslim meriwayatkan dari Saburah bin Mas’ud al-Juhani.;
“Bahwa dia berperang bersama Rasulullah pada penaklukan Kota Mekkah. Lalu beliau mengizinkan mut’ah kepada mereka lalu mengharamkannya seraya berkata: ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku mengizinkan kamu melakukan mut’ah dan sesungguhnya Allah mengharamkan hal tersebut sampai hari kiamat. Maka siapa yang mempunyai isteri yang dimut’ah hendaklah dia meningalkanya dan janganlah kamu mengambil sesuatupun apa yang telah kamu berikan kepadanya’.”
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Salamah bin Akwa’, bahwa dia berkata: “Rasululah SAW., memperbolehkan mut’ah pada tahun Authas tiga hari kemudian melarangnya.”
Bila kita pehatikan hadis ini maka perawinya mengatakan. “Tahun Authas” dan tidak “di Authas”. Sedangkan perang Authas juga terjadi pada tahun penaklukan Mekkah, yakni penaklukkan Mekkah pada bulan Ramadhan. Sedangkan penaklukkan Authas setelah itu, yaitu bulan
44O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.5, h.179.
Syawwal dan karena yang terjadi dalam perang Authas lebih dekat dengan benak perawi hadis itu maka kemudian dia menyebutkan kata “Authas”
sebagai pengganti dari kata “Penaklukkah Mekkah”. Jika tidak demikian maka sangat tidak mungkin bila Rasulullah melarang mut‘ah dengan pelarangan abadi di bulan Ramadhan kemudian memperbolehkannya dalam bulan Syawwal.45
Kemudian bahwa demikian keadaan kaum Muslimin di Authas sama seperti keadaannya di Khaibar. Yaitu mendapatan ghanimah banyak dan menawan banyak perempuan. Maka dari perempuan yang mereka tawan itu membuat mereka tidak memerlukan lagi mut‘ah .Rasulullah sangat memperhatikan perempuan tawanan dalam perang Authas, seraya berkata;
“janganlah kalian menggali wanita yang hamil sehingga dia melahirkan, dan jangan pula menggauli wanita yang tidak hamil sehingga dia bersih dari haidh”.
Jika larangan ini tidak sampai kepada sebagian manusia seperti Ibnu Abbas dan yang lainnya, maka untuk orang seperti ini akan berpendapat bahwa mut‘ah halal secara mutlak atau halal dalam kondisi darurat. Lalu kewajiban atas umat Islam ntuk menegakkan hujjah kepada orang seperti ini, karena jika telah ada hukum dari Rasulullah telah tegak hujjah bagi orang yang mendengarnya. Selain itu wajib untuk menginformasikan kepada yang lain. Siapa yang belum sampai kepadanya berita itu, maka dia bukan sebagai hujjah atas orang yang mendegar atau orang yang menyampaikannya. Sebab orang yang mengerti adalah hujjah atas orang yang tidak mengerti.
45 O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.5, h.180
Sungguh bukan hal yang aneh bila sebagian manusia tidak mengetahui hukum nikah mut‘ah karena dia bukan termasuk syi’ar Islam dan tidak termasuk hal-hal yang sangat diperlukan sehingga semua manusia perlu tahu semuanya sebagaimana mereka perlu mengetahui wajibnya shalat. 46
Ibnu Jarir meriwayatkan, bahwa Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah dia menyampaikan khutbah seraya berkata:
“Sesunggunya Rasulullah SAW., mengizinkan mut‘ah kepada kita selama tiga hari kemudian beliau mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui sepasang yang melakukan mut‘ah sedang dia telah mempunyai suami/isteri melainkan akan merajamnya dengan batu, kecuali jika dia mendatangkan kepadaku empat orang saksi yang menyatakan bahwa Rasulullah menghalalkannya setelah beliau mengharamkannya.
Sesungguhnya Umar RA., menyampaikan peringatan dan pernyataan ini dihadapan para sahabat Nabi dan tidak seorangpun yang menyanggahnya, baik orang-orang yang hadir dan mendengar secara langsung ataupun orang yang tidak hadir dan tidak mendegarnya secara langsung. Juga tidak ada seorangpun dari kaum Muslimin yang mengatakan kepada Umar RA., “Sesungguhnya kamu melanggar ayat dalam kitabullah atau keputusan dari berbagai keputusan Rasululah”.
Padahal Umar pernah menerima sanggahan dari seorang wanita dan bahkan merujuk kepada perkataan wanita tersebut. Jadi, diamya semua sahabat adalah sebagai pembenaran kepada Umar, dan jika yang dilakukan Umar RA., ini dinilai keluar dari agama, maka setiap orang yang diam darinya bersekutu dengannya dalam hal tersebut termasuk Ali RA., karena
46O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.5, h.189.
tidak ada seorang dari kaum Muslimin yang rela menuduh seorang sahabat Rasulullah sebagai penakut dalam Agama.47
Dalam shahih Muslim disebutkan riwayat, bahwa Umar berkata tentang nikah mut’ah, “Sesungguhnya Allah menghalalkan kepada Rasul- Nya apa yang Dia kehendaki dan Al-Qur’an turun pada tempat-tempat turunnya. Maka tinggalkanlah mut’ah. Sungguh jika seorang menikahi wanita sampai waktu tertentu (mut’ah), niscaya aku rajam dengan batu.
Dia berkata tentang mut’ah haji (haji tamttu’), “Sempurnakanlah haji dan umrahmu sebagaimana diperinahkan Allah kepadamu”. Dalam riwayat lain disebutkan. “Pisahkanlah hajimu dengan umrahmu. Sebab demikian itu cara yang paling sempurna untuk hajimu dan lebih sempurna untuk umrahmu”.
Dari keterangan itu jelaslah bahwa Umar RA., tidak mengancam dengan sanksi terhadap orang yang melakukan haji tamattu’, tetapi memberikan bimbingan kepada manusia kepada sesuatu yang dinilainya lebih sempurna untuk haji dan lebih banyak pahalanya bagi mereka.
Diriwayatkan bahwa ketika Ali RA., mendegar Ibnu Abbas bersikap lunak tentang nikah mut‘ah, maka dia berkata kepadanya, “Jangan begitu Ibnu Abbas sesungguhnya engkau orang yang bingung. Sebab aku mendengar Rasulullah mengharamkan nikah mut‘ah dan daging keledai piaraan pada hari Khaibar.48
Terdapat banyak riwayat shahih yang menunjukkan bahwa fatwa Ibnu Abbas tersebut untuk keadaan darurat. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Jamrah. Bahwa dia berkata: “Saya mendengar Ibnu Abbas ditanya tentang nikah mut’ah, maka dia memberikan keringan kepadanya. Lalu
47 O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.5, h.186
48 O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.5, h.190.
mantan orang yang dimerdekakannya bertanya kepadanya.
“Sesungguhnya demikian itu dalam keadan mendesak dan ketika wanita sedikit, atau sepertinya?, maka Ibnu Abbas berkata “Ya”.
Maka dapat dilihat bahwa kebolehan nikah mut‘ah yang difatwakan oleh Ibnu Abbbas bukan kebolehan yang mutlak, namun kebolehan yang harus ada alasan yang kuat.49
49 O. Hasyem, Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari, (Yogyakarta: Rausyan Fikr, 2011), Cet.5, h.190
PROFIL ASY-SYAUKÂNI, AL-ALÛSI DAN ATH-THABATHABA’I DAN MASING-MASING TAFSIRNYA