Simplicitas in habitum
Pada tanggal 16-20 Oktober, bertepatan dengan acara Temu Kolese yang ada di Kolese Dr Britto diadakan juga Live-in Sosial. Seminaris yang tidak mengikuti Temu Kolese diutus untuk Live-in di Panti Asuhan, Asrama SLB, Biara, dan Rumah Umat di Paroki. Tujuannya adalah agar setiap seminaris dapat merasakan tema yang diusung Temu Kolese 2023 “To Be Friends with The Poor”. Saya diutus untuk hidup bersama dan berdinamika di Biara PPYK di Kalikuning, Yogyakarta. Biara tersebut merupakan tempat pendidikan calon Suster PPYK, sehingga kami ditemani 15 calon suster yang kesehariannya dibimbing oleh 3 Suster senior.
Hari kami dimulai setiap paginya dengan ibadat pagi yang dilanjut misa harian atau meditasi. Mensyukuri berkat pagi dengan sarapan bersama sebagai bekal untuk beraktivitas.
Membantu para suster di kebun yang menghasilkan makanan untuk sehari-hari. Pada siang hari, kami diajak untuk menyerahkan seluruh pekerjaan kami kepada Bunda Maria melalui Rosario dan Ibadat siang. Makan siang yang hangat dilanjut istirahat, sungguh menyegarkan badan dan pikiran setelah setengah harian bekerja. Sore, kembali ke kebun sebentar hingga akhirnya menutup pekerjaan dengan Ibadat sore dan makan malam. Malam hari, kami menyerahkan seluruh apa yang sudah kami kerjakan ke Tuhan melalui ibadat malam.
Seperti itulah kurang lebih keseharian saya di Suteran PPYK. Tidak banyak hal yang kami lakukan selain pada jadwal. Terkesan monoton pada awalnya, tetapi bukankah ini yang saya rasakan di Seminari juga. Hingga akhirnya saya menikmati setiap kegiatan yang ada tanpa merasa keberatan. Jadwal yang ketat, monoton, dan repetitif membantu saya dalam menjaga habitus atau pembiasaan yang ada di Seminari. Malah, saya merasa jadwal yang ketat seperti itu membantu saya dalam menghayati peristiwa tanpa muluk-muluk dan sederhana.
Saya mensyukuri pengalaman live-in yang saya dapat. Pengalaman live-in ini membantu saya merenungkan dan menyadari habitus yang dibangun di seminari, hal-hal kecil yang mungkin selama ini terlupakan. Saya bersyukur atas pengalaman ini, yang tidak hanya memperdalam pemahaman saya tentang tema "To Be Friends with The Poor", tetapi juga membantu saya menghargai kehidupan sederhana dan pengorbanan para suster yang saya temui selama live-in sosial ini.