• Tidak ada hasil yang ditemukan

nilai heroik novel “ayah, mengapa aku berbeda?”

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "nilai heroik novel “ayah, mengapa aku berbeda?”"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

i

THE HEROIC VALUE OF NOVEL “DAD, WHY I’M DIFFERENT?”

BY AGNES DAVONAR

Tesis Oleh:

SUARDI TAHIR

Nomor Induk Mahasiswa. 04.07.771.2012

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(2)

ii

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Magister

Program Studi

Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kekhususan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Disusun dan diajukan oleh

Suardi Tahir

Nomor Induk Mahasiswa. 04.07.771.2012

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(3)

iii

NILAI HEROIK NOVEL “AYAH, MENGAPA AKU BERBEDA?”

KARYA AGNES DAVONAR

yang disusun dan diajukan oleh

Suardi Tahir NIM: 04.07.771.2012

Telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Tesis Pada tanggal 12 November 2014

Menyetujui Komisi Pembimbing

Pembimbing I

Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum.

Pembimbing II

Dr. Siti. Aida Azis, M. Pd.

Mengetahui

Direktur Program Pascasarjana

Prof. Dr. H. M. Ide Said D, M., M. Pd.

NBM. 988 463

Ketua Program Studi

Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum.

NBM. 922 699

(4)

iv

Judul : Nilai Heroik Novel “Ayah, Mengapa Aku Berbeda?” Karya Agnes Davonar

Nama : Suardi Tahir

NIM : 04.07.771.2012

Program Studi : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Konsentrasi : -

Telah diuji dan dipertahankan di depan Panitia Pengujia Tesis pada tanggal 12 November 2014 dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan dan dapat diterima

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 16 Juni 2015

Tim Penguji :

Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum. ………..

(Ketua/Pembimbing/Penguji)

Dr. Siti. Aida Azis, M. Pd. ………..

(Sekretaris/Pembimbing/Penguji)

Prof. Dr. H. M. Ide Said D, M., M. Pd. ………..

(Penguji)

Dr. H. Irwan Akib, M. Pd. ………..

(Penguji)

(5)

v Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Suardi Tahir

Nomor Induk Mahasiswa : 04.07.771.2012

Program Studi : Bahasa dan Sastra Indonesia

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerim sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, 16 Juni 2015 Yang menyatakan, materi

6000

Suardi Tahir

(6)

vi

No body is perfect

Dalam dunia ini tidak ada satu manusia pun yang terlahir sempurna.

Manusia terlahir dengan segala keterbatasan, kekurangan, serta kelebihan yang Allah Swt anugerahkan untuk melengkapi ciptaan-Nya sehingga hidup ini jadi

berwarna.

Di balik kekurangan ada kelebihan dan di balik kelebihan ada kekurangan. Tidak mustahil kekurangan itu adalah kelebihan dan kelebihan itu dari kekurangan maka

dengan itu jadilah kita makhluk Allah Swt yang pandai bersyukur

(7)

vii

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt. atas segala karunia-Nya sehingga tesis yang berjudul Nilai Heroik Novel “Ayah, Mengapa Aku Berbeda?”

Karya Agnes Davonar salah satu syarat meraih gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan penulis dan berbagai hambatan serta kendala yang kadangkala menjadi rintangan dalam menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, sewajarnya jika penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum. pembimbing I dan Dr. Siti. Aida Aziz, M.Pd. pembimbing II, yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk senantiasa membimbing penulis dengan penuh keikhlasan selama proses penyelesaian tesis ini.

Tak lupa penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan pula kepada segenap sivitas Akademika Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar, para dosen dan Staf Administrasi, yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis, baik pada waktu perkuliahan, penelitian, maupun pada saat penulisan tesis.

Ucapan terima kasih pula penulis sampaikan kepada teman-teman mahasiswa seperjuangan Angkatan 2012 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah banyak memberikan dukungan, semangat, dan kerja sama penuh persahabatan selama proses perkuliahan. Ucapan terima kasih yang

(8)

viii motivasi kepada penulis

Tak lupa pula ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah MTs Negeri Pinrang tempat penulis mengabdikan diri sebagai pendidik, yang telah memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri menempuh pendidikan, dan seluruh rekan guru yang telah banyak membantu dan memberi masukan dan tak pernah lelah bersama-sama berjuang memberikan ilmunya kepada para siswa.

Terima kasih pula yang tak terhingga penulis ucapkan kepada sahabat-sahabat yang telah banyak membantu dan menemani dalam segala kesulitan, memberikan dorongan serta motivasi bagi penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya akan berbagai keterbatasan dalam penulisan tesis ini. Oleh karena itu, dengan rendah hati penulis menerima saran dan kritikan yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan tesis ini.

Akhirnya, penulis berharap agar tesis ini dapat bermanfaaat bagi peningkatan mutu pendidikan. Amin.

Makassar, November 2014

Penulis,

(9)

ix

SUARDI TAHIR, 2014, “Nilai Heroik Novel Ayah, Mengapa Aku Berbeda?”

Karya Agnes Davonar. Tesis Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar. (dibimbing oleh Andi Sukri Syamsuri Ketua Komisi dan Siti Aida Azis anggota).

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan nilai heroik yang terdapat dalam novel Ayah Mengapa Aku Berbeda? Karya Agnes Davonar, yang terdiri atas nilai heroik:

(1)keberanian, (2)ketangguhan, (3)pantang menyerah, dan (4) rela berkorban.

Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat deksriptif.

Data dalam penelitian ini adalah nilai heroik yang terdapat dalam novel Ayah Mengapa Aku Berbeda Karya Agnes Davonar yaitu nilai: (1)keberanian, (2)ketangguhan, (3)pantang menyerah, dan (4) rela berkorban. Dalam penelitian ini yang menjadi data adalah novel Ayah Mengapa Aku Berbeda? Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah novel Ayah Mengapa Aku Berbeda? Penerbit Intibook Publisher tahun 2011 dengan jumlah halaman 230 lembar.

Hasil penelitian menunjukkan nilai heroik dalam novel Ayah Mengapa Aku Berbeda mengandung nilai keberanian, ketangguhan, pantang menyerah, dan rela berkorban. pahlawan sejati adalah seseorang yang secara pribadi berjuang untuk kebaikan dan kejujuran yang dilandasi oleh semangat dan keihlasan untuk melakukan setiap tindakan nyata. Keberanian merupakan kemampuan untuk menghadapi rasa takut, rasa sakit, bahaya, ketidakpastian atau intimidasi. Pribadi tangguh yang utuh adalah tangguh secara mental, moral, dan fisik, serta terus memotivasi diri untuk muncul sebagai pemenang. Sifat pantang menyerah adalah sebuah wujud kepribadian tanpa rasa bosan bangkit dari kegagalan dalam mencapai kesuksesan. Dan bersedia mengorban diri bagi kepentingan orang banyak dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.

(10)

x

Suardi Tahir, 2014, The Heroic Valuae of the Novel “Dad, Why I’m Different?” By Agnes Davonar, Theses, Master degree of Education Indonesian Language and Literature Graduate Program in the Universty of Muhammadiyah Makassar, ( Supervised by Andi Sukri Syamsuri and Siti Aida Azis).

The purpose of this research is to describe the heroic values found in the novel “Dad, Why I’m Different?” by Agnes Davonar, which consists of the value of heroic (1) courage, (2) resilience, (3) never give up, and (4) self sacrifice.

This research included as descriptive qualitative research. The data in this research is the heroic value contained in the novel “Dad, Why I’m Different?” By Agnes Davonar, namely (1) courage, (2) resilience, (3) never give up, and (4) self sacrifice. In this research the data source is the novel “Dad, Why I’m Different?”

published by Intibook Publisher 2011 with the total page number 230 sheets.

The results showed that the value of struggle in the novel Dad, Why I’m Different? Is the value of courage, toughness, never give ap, and willing to sacrifice.

The real hero is someone who personally fight for goodness and honesty who are guided by the spirit and the willingness to do any real action. Courage is the ability to confront fear, pain, danger, uncertainty or intimidation. Courage is the human virtue that can be defined as the force that will be owned by someone to perform and act even though there are few distractions. Private intact tough is tough mentally, morally, and physically, as well as continiue to motivate themselves to emerge as the winner. Unyielding nature is a manifestation of a personality without feeling bored rise from failure to success, and are willing to sacrifice themselves for the sake of the people willingly without expecting anything in return.

(11)
(12)
(13)
(14)

xi

Halaman Sampul ... i

Halaman Judul ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Perbaikan ... iv

Pernyataan Keaslian Tesis ... v

Renungan ... vi

Kata Pengantar ... vii

Abstrak ... ix

Abstract ... x

Daftar Isi ... xi

Daftar Gambar ... xiii

Daftar lampiran... xiv

Daftar Singkatan ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus penelitian ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Definisi Fokus ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... A. Tinjauan Pustaka ... 14

1. Tinjauan Hasil Penelitian Sebelumnya ... 14

2. Pengertian Nilai ... 17

3. Nilai Heroik... 20

4. Teori Nilai Heroik dalam Penelitian ini ... 27

5. Pengertian Novel ... 41

6. Unsur Pembangun Novel ... 45

(15)

xii

7. Cirri-Ciri Novel ... 57

8. Macam-Macam Novel ... 58

9. Cybersastra ... 63

B. Kerangka Pikir ... 66

BAB III METODE PENELITIAN ... A. Jenis Penelitian ... 68

B. Desain Penelitian ... 69

C. Data dan Sumber Data ... 69

D. Teknik Pengumpulan Data ... 70

E. Teknik Analisis Data ... 70

F. Validitas Data ... 71

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... A. Hasil Penelitian ... 73

B. Pembahasan ... 97

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... A. Simpulan ... 118

B. Saran ... 119

DAFTAR PUSTAKA ... 121

Riwayat Hidup ... 126

Lampiran-lampiran ... 1. Sinopsis ... 127

2. Biodata Penulis ... 132

3. Izin Penelitian ... 134

(16)

xiii

DAFTAR GAMABAR

Gambar Teks Halaman

Gambar. 1 Bagan Kerangka Pikir ……… 73

(17)

xiv

Lampiran Teks Halaman

1. Sinopsis Novel Ayah Mengapa Aku

Berbeda Karya Agnes Davonar ……….126

2. Biodata Agnes Davonar ……….131

3. Izin Penelitian ……….134

4. Riwayat Hidup Penulis ……….135

(18)

xv

Singkatan Arti

AMAB Ayah Mengapa Aku Berbeda

QS Qur’an Surah

BP3K Badan Peneliti dan Pengembangan Pusat Kurikulum

Swt Subhanahu Wata’ala

Saw Sallallahu Alaihi Wasallam

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karya sastra dalam perkembangannya telah banyak mengangkat potret kehidupan manusia. Potret kehidupan tersebut merupakan fakta sosial dan kultural, permasalahan manusia dan perhatiannya terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang zaman dan memberikan kontribusi positif bagi penikmat sastra dalam menata hidup sebagi makhluk sosial dan berbudaya.

Kehadiran karya sastra bukan hanya sebagai karya seni yang menyuguhkan estetika semata, tetapi merupakan karya kreatif yang bernilai tinggi. Keberadaannya telah menempati dimensi ruang dan waktu dalam peradaban manusia. Membaca karya sastra merupakan wadah pengembangan wawasan keilmuan yang dapat memberikan informasi tentang keadaan masyarakat suatu bangsa dalam kurung waktu tertentu.

Gambaran kehidupan yang disajikan membuat para penikmat sastra akan lebih bijak dan arif melihat kehidupan serta dalam menjalani tatanan kehidupan yang dilakoninya (Nasrah, 2003: 2).

Sastra merupakan wujud gagasan pengarang melalui pandangannya terhadap lingkungan sosial yang ada di sekelilingnya Sastra hadir sebagai perenungan pengarang terhadap fenomena- fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk

(20)

individu dan makhluk sosial. (Budianto, dkk, 2008: 19-20) menggambarkan karya sastra sebagai potret atau sketsa yang ditampilkan pengarang tidak terlepas dari kehidupan sekitar pengaran itu sendiri.

Sastra sebagai karya fiksi memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap unsur-unsur pembangunnya. Baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Sastra bukan hanya cerita khayal atau imajinatif pengarang belaka, melainkan wujud dari kreativitas pengarang dalam menggali dan mengolah gagasan-gagasan yang ada dalam pikirannya dan menuangkannya dalam bentuk karya seni yang indah.

Senada dengan hal tersebut (Azis, 2012: 3) dalam istilah sastra terdapat kata yang saling terkait dalam menghasilkan karya sastra yang indah, yaitu ungkapan penghayatan dan kegiatan kreativitas. Ungkapan penghayatan berindikasi bahwa karya sastra merupakan hasil imajinasi pengarang terhadap seluruh aspek kehidupan manusia dan alam sekitarnya yang dilihat, dirasakan, dan diolah dengan kreativitas yang dimiliknya sehingga menghasilkan karya seni yang indah.

Karya sastra merupakan suatu kesatuan yang dinamis dan bermakna, yang senantiasa berubah-ubah sebagai perwujudan nilai-nilai dan peristiwa zamannya (Damono, 1978: 41). Pada dasarnya karya sastra selalu memberi pesan atau amanat kepada pembaca untuk berbuat baik, pembaca diajak untuk menjunjung tinggi norma-norma moral sastra, filsafat, dan agama yang dianggap sebagai sarana untuk menumbuhkan sifat kemanusiaan yang halus dan berbudaya. Sastra merupakan produk

(21)

budaya, kreasi pengarang yang hidup dan terkait dengan tata kehidupan masyarakat. Sastra berada dalam tarik menarik antara kebebasan kreasi pengarang dan hubungan sosial yang di dalamnya hidup etika, norma,

aturan, kepentingan ideologis, bahkan juga doktrin agama (Fauziah, 2011: 1).

Sastra menjadi produk individual yang pada saat berada di tengah masyarakat, seketika itu pula dipandang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena, itu ketika pengarang mengusung kebebasan kreasinya dan kemudian menjelama dalam bentuk karya sastra, seketika itu pula berhadapan dengan segala aturan, moral, etika, dan konvensi yang hidup dalam masyarakat yang bersangkutan.

Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel merupakan karya fiksi yang dibangun oleh unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur- unsur tersebut sengaja dipadukan oleh pengarang dalam novel dan dibuat mirip dengan dunia nyata yang lengkap dengan peristiwa-peristiwa di dalamnya. Dari jalinan peristiwa yang dibangun oleh pengarang membuat cerita dalam novel nampak sungguh ada dan benar-benar terjadi. Novel dapat memberi jalan bagi manusia untuk memperoleh konsep kehidupan, karena sastra memberi dan menyodorkan karya yang bernilai yang tidak sedikit mengandung makna kebenaran (Fauziah, 2011: 2).

Karya sastra diciptakan untuk memberikan rasa kenikmatan, keindahan, mudah dipahami, dan bermanfaat. Novel sebagi salah satu karya sastra tercipta bukan hanya berdasarkan daya imajinasi pengarang

(22)

belaka. Akan tetapi, penciptaanya juga didukung oleh keahlian pengarang menerjemahkan potret-potret kehidupan dalam masyarakat. Segala aspek kehidupan sosial dan kultur manusia dilukiskan dengan menghadirkan perpaduan unsur estetik dan realitas.

Melihat hubungan karya sastra dengan realitas sosial, (Wellek dan Warren, 1989: 109) menguraikan bahwa sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Dunia realitas hanyalah bahan karya sastra, pengarang akan mengolahnya dengan tetap mempertimbangkan estetika dan dunia ideal yang diimpikannya, yaitu menciptakan dunia baru, dunia imajinatif, dunia yang mungkin berdasarkan realita yang dilihat dan dirasakannya.

Disamping menyuguhkan keindahan, sastra acap kali dinilai sebagai pengemban pesan-pesan moral yang didramatisir oleh pengarang. Pesan pesan moral atau tata nilai kehidupan dalam karya sastra merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam hakikatnya sebagai sesuatu yang eksistenasial. Sastra sebagai produk kehidupan yang mengandung nilai-nilai sosial, filsafat, dan religi, baik yang bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang mempunyai penyodoran konsep baru (Suyitno, 1986: 3).

Novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur. Novel dapat pula memberikan ideal atau wawasan yang lebih luas dari sekedar fakta yang bersifat pengetahuan. Dari novel

(23)

mungkin manusia akan mendapatkan nilai-nilai dari sesuatu yang mungkin di luar perhatian manusia. Nilai-nilai yang dimaksud dalam novel adalah persepsi dan beberapa pengertian yang diperoleh pembaca lewat sastra seperti nilai pendidikan, agama, budaya, dan perjuangan.

Sebuah novel mengandung nilai-nilai kehidupan suatu kelompok masyarakat atau seseorang yang diwujudkan pengarang lewat gambaran watak para tokoh. Nilai-nilai tersebut dapat berpengaruh positif secara individual maupun kelompok yang dapat dilihat pada perubahan sikap,, kepribadian, pola hidup, perilaku, cara berpikir, dan pandangan hidup seseorang.

Nilai-nilai kehidupan dalam karya sastra tersebut dapat ditemukan oleh seseorang jika membacanya dengan penuh pemahaman dan penghayatan terhadap suatu karya sastra. Kemudian nilai-nilai inilah yang dapat mempengaruhi proses pendewasan diri, peningkatan mutu pendidikan, pengembangan potensi, serta peningkatan martabatnya sebagai manusia.

Salah satu nilai kehidupan dalam karya sastra adalah nilai perjuangan. Berbicara tentang nilai perjuangan dalam karya sastra, bukanlah suatu barang baru. Telah banyak karya satra yang tercipta dilatarbelakangi oleh fenomena-fenomena perjuangan. Sastrawan di negeri ini, mulai dari Angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 50 sampai Angkatan 60, Angkatan 66, Angkatan Reformasi, Angkatan 2000-an, hingga Cybersastra telah menjadi saksi sejarah

(24)

bangsa Indonesia. Ketika bangsa ini dihantui dengan perang dan ditindas penjajah, mereka justru melahirkan karya-karya besar demi menyelamatkan kaum tertindas. (Syahriani, 2012)

Tiap karya sastra tercipta mewakili gambaran kehidupan manusia pada zamannya masing-masing. Pada zaman penjajahan karya sastra cenderung mengisahkan tentang perjuangan tokoh mengangkat senjata di medang laga. Akan tetapi sekarang ini para novelis dalam penggarapan ceritanya tidak jarang tetap mengangkat tema-tema perjuangan dalam konteks yang lebih luas. Misalnya perjuangan para tokoh dalam membela hak dan kebenaran, perjuangan dalam meraih cita-cita, ataupun perjuangan dalam romantisme percintaan. Kisah perjuangan tersebut melahirkan nilai-nilai perjuangan yang patut diambil sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Novelis banyak mengangkat tema-tema perjuangan dalam karya- karya mereka. Salah satunya adalah Agnes Davonar. Agnes Davonar merupakan sosok fenomenal dalam dunia sastra Indonesia. Memulai kariernya sebagai penulis amatir di sebuah blog. Kemudian dengan cepat berkembang menjadi penulis yang mau belajar hingga melahirkan 5 novel online dan 40 cerita pendek yang begitu melekat bagi semua pembaca situs pribadinya.

Keunikan sendiri terdapat dalam nama Agnes Davonar. Agnes berasal dari namanya yaitu Agnes Li sedangkan Davonar diambil dari nama inisial adiknya yang bernama Teddy Li. Jadi mereka adalah dua

(25)

saudara yang bersatu dalam sebuah karya. Agnes lahir di Jakarta 8 oktober 1986 dan Teddy lahir di Jakarta, 7 Agustus 1989. Mereka adalah dua saudara yang besar dalam lingkungan seni. Mereka berdua membentuk sebuah blog dengan situs www.agnesdavonar.net. Agnes tinggal di luar negeri dan Teddy berkuliah di Universitas Tarumanegara.

(Tan, 2013).

Karya-karya dua kakak beradik ini bukan hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga dikenal sampai ke luar negeri. Beberapa karyanya menjadi koleksi resmi pada beberapa perpustakaan Universitas Asia dan Australia. Diantaranya My Idiot Brother, Surat Kecil untuk Tuhan, Kisah Sejati dan Tragedi Kehidupan, Ayah Mengapa Aku Berbeda?, dan Misteri Kematian Gaby dan Lagunya Jauh. Karya-karya Agnes Davonar tersebut telah menjadi best Seller dan telah dibaca oleh jutaan pembaca online lewat situs pribadinya.

Dari beberapa novel best seller karya Agnes Davonar di atas, penulis tertarik mengkaji salah satu novel yang berjudul Ayah, Mengapa Aku Berbeda? (selanjutnya disingkat AMAB), karena Sebuah novel akan dikatakan bermutu jika senantiasa mengandung nilai positif bagi pembacanya. Disamping itu juga pembaca mampu menangkap nilai-nilai positif yang disampaikan oleh pengarang.

Salah satu nilai positif yang kerap tertuang di dalam novel adalah nilai perjuangan, yang mencakup di dalamnya nilai keberanian, ketangguhan, pantang menyerah, dan keikhlasan atau kerelaan

(26)

berkorban. Melalui nilai-nilai inilah, pesan ingin disampaikan dan dibentuk menjadi sebuah ide sehingga menjadi sesuatu yang menarik dan bermanfaat. Di samping itu, novel ini disusun dengan rangkaian kalimat bersahaja yang begitu bening mengalirkan pesan sehingga mendapatkan banyak nilai yang bermanfaat bagi pembaca.

Novel ini mampu menyaingi novel lain yang isi ceritanya jauh dari novel-novel percintaan kalangan muda saat ini. Novel lain jarang sekali mengangkat tentang kehidupan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik yang inspiratif bagi pembaca. Selain itu novel ini juga banyak mengangkat tentang nilai perjuangan dan pendidikan.

Kisah perjuangan yang tercermin dalam jiwa Angel yang berani, tangguh, pantang menyerah, dan rela berkorban sangat inspiratif dan patut diteladani dalam dunia nyata serta memberi motivasi kepada pembaca agar tidak mendiskriminasi para penyandang cacat atau orang- orang yang berkebutuhan khusus terutama dalam bidang pendidikan. Hal ini berarti terdapat nilai-nilai positif yang dapat diambil dan direalisasikan oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari dan mengubah pandangan pembaca tentang orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik.

Keistimewaan dari novel ini adalah penempatan tokohnya yang merupakan icon tiga generasi. Hal ini bisa dilihat dari perbedaan umur tokoh yang signifikan. Sosok gadis kecil bernama Angel yang hidup dalam keterbatasan harus berjuang untuk dapat diterima di tengah masyarakat. Gadis kecil tunarungu yang dideritanya sejak dilahirkan.

(27)

Ibunya meninggal ketika terlahir dan ayahnya kemudian menjadi single parent yang merawatnya dengan tulus. Walau Angel tidak bisa mendengar apa pun di dunia ini, ayahnya tetap berusaha membuatnya mandiri dan tetap hidup dalam keadaan seperti anak-anak normal lainnya.

Demikian juga dengan nenek Angel ibu dari ayahnya, rela meninggalakan rumah dan pekerjaannya demi untuk merawat cucunya yang kelak diketahuinya akan tumbuh sebagai gadis tunarungu. Sosoknya yang lembut dan bijak membuat Angel dan ayahnya tegar menghadapi getirnya kehidupan.

Angel yang cacat harus berjuang keras untuk dapat diterima dan bergaul, baik dalam lingkungan tempat ia tinggal maupun di sekolah umum tempat menimbah ilmu. Namun, Angel harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang mau menerima kehadirannya.

Sekalipun harus menderita oleh hinaan dan caci maki sekitarnya tetap dijalaninya dengan tabah.

Di saat bersedih, Angel menemukan sesuatu dalam hidupnya.

Angel memiliki bakat bermain piano walau mustahil baginya untuk mendengar apa yang dimainkannya. Kini Angel percaya, bahwa Tuhan menciptakannya ke dunia ini dengan suatu tujuan. Tujuan yang harus diperjuangkan dengan keterbatasan fisiknya. (Davonar, 2011)

(28)

B. Fokus Penelitian

Berdasarka latar belakang di atas maka fokus dalam penelitian ini adalah penggambaran nilai-nilai heroik yang terdapat dalam novel AMAB karya Agnes Davonar. Adapun nilai-nilai heroik yang dimaksud adalah (1) keberanian, (2) tangguh, (3) pantang menyerah, dan (4) rela berkorban.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan atau menggambarkan nilai-nilai heroik dalam novel AMAB karya Agnes Davonar yang terdiri atas nilai (1) keberanian, (2) tangguh, (3) pantang menyerah, dan (4) rela berkorban.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoretis, hasil penelitian ini dapat menambah khasanah keilmuan dalam pengajaran bidang bahasa dan sastra, khususnya tentang pesan-pesan moral atau nilai-nilai dalam novel.

2. Manfaat praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak, antara lain:

a. Bagi Guru

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bagi guru dalam mengajarkan tentang pesan-pesan moral atau nilaiai-nilai

(29)

kepahlawanan dalam pembelajaran sastra yang menarik, kreatif, dan inovatif.

b. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menjadi jawaban dari masalah yang dirumuskan. Selain itu, dengan selesainya penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk semakin aktif menyumbangkan hasil karya ilmiah bagi dunia sastra dan pendidikan.

c. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini bagi pembaca diharapkan dapat lebih memahami isi novel AMAB dan mengambil manfaat darinya.

Selain itu, diharapkan pembaca semakin jeli dalam memilih bahan bacaan (khususnya novel) dengan memilih novel-novel yang mengandung pesan moral yang baik dan dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk sarana pembinaan watak diri pribadi.

d. Bagi Peneliti yang Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan inspirasi maupun bahan pijakan peneliti lain untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.

E. Definisi Fokus

Fokus dalam penelitian adalah analisis nilai heroistik dalam novel AMAB karya Agnes Davonar. Agar penulis terarah dalam menyelesaikan

(30)

penelitian ini maka perlu memberikan definisi operasional pada beberapa kata yang dianggap penting atau kata kunci pada penelitian ini, yaitu:

1. Nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dimana orang bertindak atau menghindar sesuatu tindakan, mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan.

2. Heroik pahlawan adalah sosok yang dikenal karena keberaniannya dengan tujuan yang mulia, berani mengambil resiko dan berkorban demi kepentingan orang lain, berjasa dan memberi inspirasi serta kontribusi bagi kemaslahatan orang banyak. Pahlawan sosok yang tangguh, baik mental maupun fisik, peka dan tanggap lingkungan, bekerja keras dan manusiawi dalam menangani berbagai masalah, tidak menyerah pada nasib, dan mampu mencukupkan kekurangan serta menambahkan kemampuan yang kemudian menjadi kelebihan.

3. Keberanian adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, tidak takut (gentar, kecut) sifat berani berhubungan erat dengan kebenaran.

Seseorang tidak akan takut jika dia sedang memperjuangkan kebenaran.

4. Tangguh artinya berjuang tanpa henti, tidak mudah goyah atau tidak mudah terpengaruh.

5. Pantang menyerah berarti terus berjuang meskipun menghadapi berbagai rintangan dan tidak berputus asa samapi kebenaran ditegakkan dan cita-cita tercapai.

(31)

6. Rela berkorban berarti bersedia mengorbankan dirinya bagi kepentingan orang lain. Pengorbanan bisa berupa pikiran, waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa.

(32)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka 1. Tinjauan Hasil Penelitian Sebelumnya

Hasil Penelitian sebelumnya yang relevan dan dapat dijadikan acuan serta masukan pada penelitian ini adalah: Pertama Kamaruddin (2007) yang berjudul Ananlisis Nilai Moral Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan, yaitu menggambarkan tentang seorang muslimah yang sedang frustasi akibat tidak tercapainya cita-cita yang diinginkan yakni menegakkan syariat Islam di Indonesia, bahkan pelampiasan frustasinya itu ke hal-hal yang sifatnya melanggar norma atau ajaran agama Islam.

Kedua, Ririh Yuli Atminingsih (2008) dalam penelitian berjudul

“Analisis Gaya Bahasa dan Nilai Pendidikan Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata”. Dalam kesimpulannya gaya bahasa yang digunakan dalam Novel Laskar Pelangi antara lain: personifikasi, hiperbola, antitesis, simile, metafora, epizeukis, eponim, anadipsis, repetisi, parifrasis, tautologi, koreksio, pleonasme, ironi, paradoks, satire, hipalase, innuendo, metonomia, sinekdoke pars prototo, sinekdoke totum pro parte, alusio, epitet, antonomasia, ellipsis, asidenton, tautotes, anaphora, pertanyaan retoris. Ririh juga menyatakan alasan pengarang menggunakan gaya bahasa pada novel Laskar Pelangi adalah untuk mengungkapkan ekspresi

(33)

jiwa atau perasaan tertentu, untuk menunjukkan kreativitas seni dalam bentuk bahasa, untuk membangkitkan inajinasi pembaca, untuk memberikan kesan keindahan pada novel, untuk memperjelas makna kata, untuk menampilkan variasi dan gaya yang berbeda dengan karangan novel lain. Nilai pendidikan yang digunakan adalah nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial. Persamaan karya ilmiah Ririh Yuli Atminingsih dengan penulis yaitu sama-sama mengkaji tentang nilai dalam karya sastra dengan judul novel dan pengarang yang berbeda.

Ketiga, Novita Rihi Amalia (2010) judul penelitian “Analisis Gaya Bahasa dan Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata” dengan metode Content Analysis. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkanan bahwa dalam novel Sang Pemimpi digunakan beberapa gaya bahasa. Gaya bahasa tersebut yaitu: (a) perbandingan meliputi hiperbola, metonomia, personifikasi, perumpaman, metafora, sinokdoke, alusio, simile, asosiasi, epitet, eponim, dan pars pro toto; (b) perulangan meliputi aliterasi, anafora, anadiplosis, simploke, epizeukis, dan mesodiplosis; (c) pertentangan meliputi litotes, antitesis, dan oksimoron; (d) penegasan meliputi repetisi dan epifora. Dan gaya bahasa yang paling dominan dipakai dalam novel Sang Pemimpi adalah personifikasi. Sedangkan Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi, berdasarkan hasil analisis terdiri dari empat nilai. Nilai-nilai pendidikan tersebut yaitu: (a) nilai pendidikan religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta alam dan

(34)

seisinya, dalam novel Sang Pemimpi memanfaatkan gaya bahasa pars pro toto dan hipalase. (b) Nilai pendidikan moral yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran patut tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan bermasyarakat, dalam novel Sang Pemimpi nilai tersebut dapat tersirat melalui pemanfaatan gaya bahasa sarkasme dan antifrasis. (c) Nilai pendidikan sosial yaitu suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek, gagasan, atau orang, dalam novel Sang Pemimpi nilai tersebut dapat tersirat karena ada pemanfaatan dari gaya bahasa hiperbola, alegori, paradoks, dan perumpamaan. (d) Nilai pendidikan budaya tingkat yang palig tinggi dan yang paling abstrak dari adat istiadat, dalam novel Sang Pemimpi nilai tersebut dapat tersirat karena memanfaatkan gaya bahasa paradoks dan hiperbola.

Keempat Siti Saidah (2012) dalam penelitian yang berjudul

“Religiusitas dana Novel Persembahan Cinta dari Surga Karya Nurrahman Effendi” yang menunjukkan religiusitas dapat diketahui melalui beberapa aspek penting yaitu: aspek keyakinan terhadap ajaran agama (aqidah), aspek ketaatan terhadap ajaran agama (syariah atau ibadah), aspek penghayatan terhadap ajaran agama (ikhsan), aspek pengetahuan terhadap ajaran agama (ilmu), dan aspek pelaksanaan ajaran agama (amal atau akhlak). Religiusitas bukan hanya penghayatan terhadap nilai- nilai agama saja namun juga perlu adanya pengalaman nilai-nilai tersebut. Kebermaknaan hidup adalah kualitas penghayatan individu terhadap seberapa besar ia dapat mengembangkan dan

(35)

mengaktualisasikan potensi-potensi serta kapasitas yang dimilikinya, dan seberapa jauh ia telah berhasil mencapai tujuan-tujuan hidupnya dalam rangka member makna dan arti dalam hidupnya.

Kelima, Isnaini Mutmainnah (2013) judul penelitian “Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara dan Relevansinya dengan Pendidikan Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah” dalam penelitian tersebut ditarik sebuah kesimpulan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Sepatu Dahlan yaitu, religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, persahabat/komunikatif, gemar membaca, peduli lingkunngan, peduli social, dan tanggung jawab. Adapun relevansinya nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dengan pendidikan akhlak adalah dalam kaitannya dengan pendidikan akhlak, terlihat bahwa pendidikan karakter mempunyai orientasi yang sama yaitu pembentukan karakter. Maka dapat disimpulkan bahwa ada relevansi atau hubungan antara nilai-nilai pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak di Madrasah Ibtidaiya.

Berdasarkan kelima penelitan di atas, penelitian ini tidak mengembangkan penelitian sebelumnya. Karena novel yang menjadi objek sasaran penelitian berbeda, yaitu Nilai Heroik Novel Ayah Mengapa Aku Berbeda Karya Agnes Davonar.

2. Pengertian Nilai

(36)

Nilai mempunyai pengertian kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan terhadap sesuatu hal mengenai baik-buruk, benar-salah, patut- tidak patut, mulia-hina, maupun penting atau tidak penting. Nilai adalah gagasan mengenai apakah pengalaman berarti atau tidak berarti, nilai juga mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang dalam mengambil keputusan ( Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, 1999: 71).

Nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dimana orang bertindak atau menghindar sesuatu tindakan, mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan. (Milton Rokeach dan James Bank dalam Thoha, 1994: 60-61).

Dalam pengertian ini nilai dapat dipahami sebagai sesuatu yang bersifat abstrak dan bukan kongkrit. Nilai bukan hanya persoalan benar atau salah yang menuntut pembuktian secara empiris akan tetapi merupakan soal penghayatan yang dikehendaki, disenagi dan tidak disenangi.

Senada dengan hal di atas bahwa nilai merupakan keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihan sendiri (Gordon Allport dalam Mulyana, 2004:9). Dalam hal ini nilai merupakan keputusan benar salah, baik buruk, indah dan tidak indah merupakan hasil dari serentetan proses psikologis yang kemudian mengarahkan individu pada tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan pilihannya.

Lebih lanjut Kupperman menegaskan bahwa nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya

(37)

diantara cara-cara normatif. Oleh sebab itu salah satu bagian terpenting dalam proses pertimbangan nilai adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku dalam masyarakat. (Kupperman dalam Mulyana, 2004:9).

Nilai juga merupakan ide atau konsep yang bersifat abstrak tentang apa yang dipikirkan atau dianggap penting oleh seseorang. Nilai mengacu pada estetika (keindahan), etika (pola tingkah laku), dan logika (benar atau salah) ataupun keadilan (justice). Nilai memberikan pedoman pada diri individu untuk berbuat terarah, indah, baik, efisien, dan bermutu atau bekerja secara benar dan adil. (Fraenhel dalam Rubino, 1999: 36).

Senada dengan pendapat di atas bahwa nilai atau value berarti berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, dan kuat. Nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, dihargai, dan menjadi objek kepentingan (Sjarkawi, 2007: 29).

Hal senada juga dikemukakan (Steeman dalam Sjarkawai, 2007:

29) nilai adalah yang memberikan makna hidup, nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi yang mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang.

Nilai seseorang itu diukur melalui tindakan karena itu moral menyangkut nilai.

Dengan demikian nilai adalah pegangan atau pedoman terhadap tindakan individu atau kelompok yang sesuai dengan kepentingan dan keyakinan dalam bertindak sehingga ketercapaian hasil akhirnya dapat menjadi pedoman dalam merencanakan suatu perubahan dalam bertutur dan bertingkah laku.

(38)

3. Nilai Heroik

Dilihat dari definisi klasiknya, pahlawan atau hero merupakan “ a man who is endowed with great courage or strength, celebrated for his bold exploits, and favored by the Gods”(www.thefreedictionary.com).

Dalam pengertian ini pahlawan merupakan seorang pria yang dianggap sebagai perwakilan dan utusan Tuhan yang diberi keberanian dan kemampuan untuk bertarung mempertahankan kebenaran. Dalam hal ini, pahlawan mempunyai definisi dan batasan yang jelas, sehingga tidak semua orang bisa menjadi pahlawan, bahkan seorang perempuan sekali pun (Angraini, 2007:3).

Kata heroik berasal dari bahasa Inggris "hero" adjective bersifat pahlawan: angkatan muda yang --; ke·he·ro·ik·an n perihal heroik;

kepahlawanan: yang diberi arti satu sosok legendaris dalam mitologi yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, keberanian dan kemampuan, serta diakui sebagai keturunan dewa.

Heroik dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah "Pahlawan"

yang merupakan sebuah kata benda. Secara etimologi kata "pahlawan"

berasal dari bahasa Sansekerta "phala", yang bermakna hasil atau buah.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela

kebenaran, pejuang yang gagah berani.

(www.KamusBahasaIndonesia.org)

(39)

Dalam pengertian lain, pahlawan dianggap sebagai seseorang yang dikenal karena keberaniannya serta tujuannya yang mulia. Terutama yang berani mengambil resiko dan berkorban demi kepentingan orang lain. Pahlawan dalam konteks ini dianggap sebagai orang yang berjasa dan memberi inspirasi serta kontribusi bagi kemaslahatan orang banyak, dan bukan lagi terpaku pada pengertian bahwa pahlawan adalah orang- orang yang mengangkat senjata di medan perang (Angraini, 2007:3).

Dari definisi tersebut terdapat kata kunci mengenai arti pahlawan yaitu berani dan pengorbanan yang menimbulkan tafsir yang luas sehingga setiap orang bisa disebut pahlawan. Kata kunci pertama berani mencakup beberapa hal. Keberanian seorang pahlawan tidak selalu identik dengan keberanian di medan laga/perang. Namun definisi ini dibatasi oleh kata “membela kebenaran”.

Sedangkan kata kunci kedua adalah pengorbanan. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk melakukan pengorbanan.

Seorang guru yang secara ikhlas memberikan pengajaran dan pembelajaran kepada murid dengan tulus bisa disebut sebagai pahlawan.

Seorang siswa yang giat belajar saja sudah dapat disebut sebagai pahlawan karena telah berkorban waktu keluar dari zona kenyamanan untuk bersantai-santai dan bermain ke zona ketidaknyamanan mengerutkan kening mempelajari setiap pelajaran. Seorang pelajar yang giat belajar tersebut juga berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik karena dengan belajar karena dengan ilmunya kelak dia dapat mengubah

(40)

takdir dirinya, keluarganya, bahkan bangsanya menjadi lebih baik, dan lain-lain.

Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan umat manusia.

Pahlawan juga dipandang sebagai orang yang dikagumi atas hasil tindakannya, serta sifat mulianya, sehingga diakui sebagai contoh dan teladan. Pahlawan sering dikaitkan dengan keberhasilan dalam prestasi gemilang dalam bidang kemiliteran. Pada umumnya pahlawan adalah seseorang yang berbakti kepada masyarakat, negara, bangsa dan atau umat manusia tanpa menyerah dalam mencapai cita-cita yang mulia, sehingga rela berkorban demi tercapainya tujuan yang dilandasi oleh sikap tanpa pamrih.

Sekarang ini, banyak definisi tentang siapa yang disebut pahlawan.

Tergantung siapa yang mengartikannya dan berjasa apa orang tersebut.

Pada prinsipnya pahlawan bukanlah sebutan formal, karena siapapun bisa menjadi pahlawan. Namun dalam konteks kelembagaan seperti negara kata pahlawan merupakan penghargaan formal yang disepakati oleh komponen bangsa, yang selanjutnya disahkan oleh pejabat politik yaitu presiden.

Kategori pahlawan pun banyak, tergantung dengan prestasi yang disumbangkannya, seperti pahlawan kemanusiaan, pahlawan nasional,

(41)

pahlawan perintis kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan proklamasi, pahlawan iman, pahlawan tanpa tanda jasa, dan pahlawan kesiangan.

Kepahlawanan tidak hanya didefinisikan dalam konteks tindakan tetapi pahlawan juga dapat diartikan dalam ucapan, merubah seseorang dari perilaku yang negatif merupakan bagian dari definisi tersebut.

Termasuk mengatakan yang Haq itu Haq dan yang Bathil itu Bathil meskipun perih adanya, itulah pahlawan sesungguhnya.

Kehidupan masyarakat sekarang sifat dari kepahlawanan itu sendiri terasa sangat sukar untuk ditemukan. Nilai-nilai kepahlawanan itu sendiri kian kabur serta sulit untuk dilihat realita yang jelas.

Kepahlawanan hanya dapat dirasakan sebagai suatu bentuk impian yang semakin sirna dari kehidupan dalam masyarakat dan terdesak oleh sifat keras kehidupan yang ada.

Pencerminan yang suram dari nilai kepahlawan itu tidak lepas dari moral etika yang mencuat dari generasi suatu bangsa, nilai kepahlawanan yang bersifat heroism, patriotism dan nasionalisme sebagai pencerminan watak generasi sebelumnya. Bagaimanapun generasi muda akan mewarisi nilai-nilai dari kepahlawanan itu sendiri jika semua itu hanya lewat anjuran-anjuran yang bersifat verbal dari mereka yang menginginkannya, sedangkan tindakan dari sang penganjur sendiri sangat bertentangan dari apa yang mereka katakan. Sebagaimana lain kata lain perbuatan dan ini tidak sejalan pula dengan tindakannya.

(42)

Kiranya pahlawan dalam arti keteladanan adalah sangat diperlukan pada masa ini, bukan hanya dengan omongan saja. Mereka yang lebih berhikmat dibidangnya masing-masing untuk memerangi kemiskinan, menjunjung tinggi hak azasi manusia yang kesemuanya itu lebih berarti daripada apa yang hanya berupa anjuran-anjuran belaka.

Pada zaman modern ini, kehidupan makin kompleks dan penuh resiko. Seperti pernah dikatakan oleh Giddens, modernity is a risk culture.

Modernitas memang mengurangi resiko pada bidang-bidang dan cara hidup tertentu, tetapi juga memperkenalkan bentuk resiko baru yang tidak dikenal pada era-era sebelumnya. Untuk itu maka diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh resiko (Suhardiyanto, 2008).

Jika dipahami perjuangan pahlawan itu memiliki keteguhan yang tinggi, selalu kukuh terhadap pendiriannya. Maka seorang pahlawan itu tidak mungkin ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Pahlawan sosok yang tangguh. baik mental maupun fisik, peka dan tanggap lingkungan, bekerja keras dan manusiawi dalam menangani berbagai masalah, tidak menyerah pada nasib, dan mampu mencukupkan kekurangan serta menambahkan kemampuan yang kemudian menjadi kelebihan.

Dengan kondisi seperti itu maka sesungguhnya kepahlawanan yang dibutuhkan bukan sosok yang siap berlaga di medan perang, yang dibutuhkan adalah sosok yang bisa mengisi kemerdekaan dengan cara ikut membangun bangsa lewat pemikiran dan karya sesuai dengan bidang

(43)

keilmuan atau ketrampilan masing-masing. Hero is a person noted for special achievement in a particular field (www.thefreedictionary.com).

Memakna kepahlawanan pun dapat diwujudkan dengan meneladani sifat kepahlawanan. Keberanian, ketangguhan, pantang menyerah, rela berkorban, tabah, dan ikhlas itu adalah beberapa sifat pahlawan yang dapat diteladani dengan menerapkan sifat-sifat teladan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat kepahlawanan adalah sesuatu yang langka saat ini, di tengah degradasi moral yang terjadi di Indonesia. Semangat kepahlawanan yang diindikasikan antara lain dengan membuat perubahan, memberi inspirasi juga nampaknya bisa dihitung dengan jari saat ini.

Beranjak dari uraian di atas dapat dipahami bagaimana konsep dan definisi pahlawan itu dibentuk dan kemudian berubah sesuai dengan konteks modern saat ini. Pada awalnya konsep pahlawan yang berkembang dalam masyarakat adalah orang-orang yang memiliki keberanian, walaupun mereka dalam posisi yang lemah dan rela berkorban.

Wacana yang berkembang tentang kepahlawanan juga berkaitan dengan nilai moral, sebab pahlawan biasanya dianggap sebagai contoh atau teladan bagi orang lain. Wacana inilah yang kemudian menjadi dasar dari nilai kepahlawanan, walaupun seseorang dianggap pahlawan karena bertempur di medan laga atau karena menciptakan sesuatu yang berguna

(44)

dalam kehidupan manusia, keduanya sama-sama menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya (Angraini, 2007: 3).

Dari uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa karaktersitik seorang pahlawan sejati adalah keberanian, kebangsawanan hati dan jiwa serta kejujuran hati nuraninya didalam menilai setiap keadaan, berani bertindak karena benar, selalu bersedia berkorban untuk kepentingan orang banyak/umum. Tidak mudah goyah di tengah-tengah godaaan untuk menghimpun kekayaan dan kekuasaan bagi diri sendiri. Orientasi yang konstan dari seorang pahlawan sejati adalah kepentingan bersama diatas segala-galanya dan ini mutlak untuk diharuskan.

Nilai kepahlawanan itu sebenarnya tidak terbatas pada suatu masa atau suatu bidang kehidupan tertentu saja. Potensi dan intuisi kepahlawan itu akan selalu ada dan hidup di dalam diri orang yang memiliki bakat untuk itu, dan ini akan selalu ada disegala zaman dan disegala bidang kehidupan. Karena sesungguhnya pahlawan sejati adalah seseorang yang secara pribadi berjuang untuk kebaikan dan kejujuran yang dilandasi oleh semangat dan keihlasan untuk melakukan setiap tindakan nyata, karena menjadi seorang pahlawan tidak selalu harus secara legal formal. Itulah sejatinya seorang pahlawan.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas tentang pahlawan, baik definisi klasik sampai mengalami perubahan makna yang global sesuai di mana kata pahlawan yang awalnya hanya didefinisikan sebagai seorang pejuang yang mengangkat senjata untuk membela

(45)

Negara, atau seorang yang berjuang keras membela ketidakadilan dan memperjuangkan kebenaran bukan hanya untuk kepentingan individual semata tetapi untuk kepentingan orang banyak. Namun yang lebih penting dari pengertian pahlawan pada saat ini adalah semangat dan jiwa pahlawan itu diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai kepahlawanan berupa semangat dan jiwa pahlawan dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya roh kepahlawanan itu masih ada dan tetap hidup samapi akhir zaman walaupun dalam konteks yang berbeda.

4. Teori Nilai Heroik dalam Penelitian ini

Pada pembahasan sebelumnya, telah disinggung tentang nilai-nilai kepahlawanan. Pahlawan adalah seseorang yang mempunyai sikap patriotik dalam perjuangan dan berjasa bagi negara. Perilakunya patut dicontoh dan diteladani. Sikap atau nilai kepahlawanan menurut (Badrun dalam Sulistyani, 2008:22-23) meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Tahan uji/ulet

b. Berani karena benar c. Rela berkorban d. Berjiwa kesatria e. Bertanggung jawab f. Berjiwa pemimpin g. Keteladanan

h. Cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan

(46)

i. Heroik

j. Berjiwa pelopor

Pandangan berbeda dikemukakan oleh Tantya dan Winardi bahwa seorang pahlawan memiliki sifat-sifat berani, pantang menyerah, rela berkorban, dan mendahulukan kepentingan orang lain (Tantya Hisnu P dan Winardi, 2008: 109).

Berdasarkan pandangan di atas, penulis berkesimpulan bahwa semangat , jiwa, dan roh kepahlawanan itulah yang diwariskan oleh para pejuang-pejuang bangsa ini yang membuat generasi muda rela berjuang dan berkorbang untuk kehormatan diri, bangsa, dan tanah air. Nilai-nilai kepahlawanan itulah yang patut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula dalam penelitian ini akan mengkaji nilai-nilai kepahlawanan yang relevan dengan fokus penelitian dalam tesis ini, yaitu nilai keberanian, ketangguh, pantang menyerah, dan rela berkorban.

a. Keberanian

“Berani karena benar, takut karena salah.” Itulah sebaris ungkapan yang tidak asing lagi di telinga. Kadang ungkapan itu memberi sugesti dan motivasi untuk berani dalam bertindak, tetapi kadang juga berupa sindiran pada sebuah hasil tindakan yang telah dilakukan. Namun yang esensial dari ungkapan itu adalah apa dan bangaimana keberanian itu sendiri.

Dalam buku Hours of Powers: My Daily Book of Motivation and Inspiration karangan Robert H. Schuller yang dikutip dalam sebuah artikel

(47)

dikatakan bahwa The truth is that courage isn’t a gift. Courage is a decision! Courage is not the absence of fear, it is the presence of a calling – a dream that pulls you beyond yourself. Hence it is something you can never lose. It is always something that you can choose. So, choose it today! Sebenarnya keberanian (atau Tekad) bukanlah sebuah talenta. Keberanian (atau Tekad) adalah sebuah keputusan! Keberanian (atau Tekad) bukanlah posisi tanpa rasa takut, keberanian (atau Tekad) adalah hadirnya sebuah panggilan – sebuah mimpi yang menarikmu ke sesuatu yang lebih dari dirimu sekarang. Maka dari itu, keberanian (atau Tekad) adalah sesuatu yang tidak mungkin hilang dari dirimu. Keberanian (atau Tekad) adalah sesuatu yang selalu dapat kamu pilih. Jadi, pilihlah keberanian hari ini! (Cellaneous: 2011)

Keberanian adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk. Aristoteles mengatakan bahwa, “The conquering of fear is the beginning of wisdom.

Kemampuan menaklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan.” Artinya, orang yang mempunyai keberanian akan mampu bertindak bijaksana tanpa dibayangi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya merupakan halusinasi belaka. Orang-orang yang mempunyai keberanian akan sanggup menghidupkan mimpi-mimpi dan mengubah kehidupan pribadi sekaligus orang-orang di sekitarnya.(Munawar, 2010).

Dari uraian di atas, keberanian dapat dipamahami sebagai kemampuan untuk bergerak ke depan dan melakukan sesuatu meskipun

(48)

itu menakutkan. Keberanian adalah kemampuan untuk menghadapi rasa takut, rasa sakit, bahaya, ketidakpastian atau intimidasi. Keberanian merupakan suatu kebajikan manusia, yang dapat didefinisikan sebagai kekuatan kehendak yang dapat dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tindakan meskipun terdapat beberapa gangguan. Walau pada akhirnya, gangguan tersebut menghasilkan keberanian menghadapi ketakutan yaitu kemampuan untuk mengatasi ketakutan dan bertahan dengan tindakan yang dimaksudkan.

Hidup ini adalah proses perjuangan meraih kesuksesan, namun patut disadari bahwa dalam proses meraih kesuksesan yang dimaksud dibutuhkan keberanian. Banyak orang yang ingin sukses, tetapi hanya sedikit yang berani mengambil resiko. Keberanian bukan berarti asal maju tanpa berhitung resiko, tapi keberanian itu adalah semua perilaku strategis yang telah terhitung secara akurat sebelum melangkah ketindakan lebih jauh.

Berbagai macam perjuangan telah dijalani, perjuangan dalam mewujudkan cita-cita yang didambakan, atau perjuangan dalam mengatasi setiap kesulitan/kegagalan yang selalu hadir di tengah kehidupan ini. Agar bisa tampil sebagai pemenang serta memperoleh kesuksesan di setiap perjuangan ini, sudah tentu harus memiliki berbagai macam faktor sebagai kekuatan yang dapat diandalkan. Di antara sekian banyak faktor sebagai sarana penunjang, ada satu faktor yang harus dimiliki yaitu keberanian. Keberanian adalah kekuatan, catatan sejarah

(49)

telah membuktikan, begitu banyak prestasi spektakuler di segala bidang tercipta di dunia ini karena ada faktor "keberanian". Demikian pula bagi yang menggeluti bidang apapun, bila ingin lebih berkembang dan sukses, sudah pasti harus mempunyai keberanian untuk mencoba dan memperjuangkan apa yang dicita-citakan. (Wongso, 2012).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keberanian suatu yang esensial untuk marih sukses. Dan yang terpenting adalah berani melawan rasa takut yang ada dalam diri sendiri. Untuk menjadi pribadi yang sukses maka harus berani bermimpi dan melakukan hal yang besar, berani berubah, berani fokus pada keyakinan, berani mengambil resiko, dan berani untuk menjadi pemenang.

Keberanian juga merupakan aset berharga bagi tiap individu, karena bisa menjadikan sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Keberanian pun bisa menjadikan sikap negatif menjadi positif, loyo menjadi semangat, pasif menjadi aktif, pesimis menjadi optimis, miskin menjadi kaya, gagal menjadi sukses. (Wongso, 2012).

b. Ketangguhan

Dalam kehidupan di alam fana ini, diwarnai dengan aneka ragam dinamika kehidupan. Ada sebagian orang yang dapat hidup sukses, bahagia, sejahtera, berkedudukan tinggi dan tercukupi semua kebutuhan hidupnya. Mereka dapat berbuat apa saja dengan kemampuan ilmu, kedudukan ataupun ekonomi yang dimilikinya. Namun demikian, ada juga

(50)

sebagian lain yang hidupnya terlunta-lunta, dijerat kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Pendek kata, orang semacam ini, tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan hidupnya justru menjadi beban orang lain. Kenyataan semacam ini, telah disinggung Allah dalam firman-Nya Q.S. Al-An’am: 165 berikut:













































"Dan Dia ialah Yang membuat kamu penguasa di bumi dan meninggikan derajat sebagian kamu, melebihi sebagian yang lain, agar ia menguji kamu dengan apa yang Ia berikan kepada kamu.

Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-cepat dalam menghukum (kejahatan); dan sesungguhnya Dia itu Yang Maha- pengampun, Yang Maha Pengasih". (QS. Al An’am: 165)

Dalam benak muncul pertanyaan, faktor apa sebenarnya yang paling berperan dalam menjadikan seseorang itu dapat hidup sukses dan gagal? Apakah faktor nasib atau karena itu semuanya sebagai bagian dari proses kehidupan yang memang banyak berkaitan dengan persoalan kapasitas pribadi setiap orang? Apa sebenarnya yang menyebabkan sebagian orang dapat hidup sukses dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing? Apakah karena faktor nasib atau keberuntungan yang berpihak kepada mereka atau karena mereka memang secara pribadi memiliki kelebihan (keunggulan) yang tidak dimiliki oleh orang lain?

Bukankah setiap diri manusia diciptakan Allah dari bahan yang sama, struktur tubuh yang sama, makanan baik jenis dan porsi yang relatif sama,

(51)

dan sebagainya. Tetapi, mengapa dalam perjalanan hidupnya ada sebagian yang sukses, namun ada sebagian lain yang gagal?

Secara umum, kesuksesan hidup seseorang itu karena dalam dirinya memiliki dua ketangguhan, yaitu ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial. Ketangguhan pribadi adalah ketika seseorang berada pada posisi atau dalam keadaan telah memiliki pegangan prinsip hidup yang kokoh dan jelas. Seseorang dikatakan tangguh ketika memiliki prinsip yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Ini berarti bahwa orang yang memiliki ketangguhan pribadi itu mampu untuk mengambil keputusan yang bijaksana dengan menyelaraskan antara prinsip yang dianut dengan kondisi lingkungannya, tanpa harus kehilangan pegangan hidup. (Mahlani, 2010)

Ketangguhan sosial adalah kecakapan untuk menentukan bagaimana kita menangani hubungan sosial atau bagaimana kita menyikapi interaksi sosial antara kita. Dalam membangun ketangguhan sosial ini, maka ada dua aspek yang paling menentukan, yaitu empati dan keterampilan sosial. Empati adalah kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Beberapa indikator mengenai empati, antara lain: (Mahlani, 2010)

1) Memahami orang lain (Understanding Others): Mengindra perasaan dan persfektif orang lain dan menunjukkan minat akatif terhadap kepnetingan orang lain,

(52)

2) Mengembangkan orang lain (Developing Others): Merasakan kebutuhan pengembangnan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan orang lain.

3) Orientasi Pelayanan (Service Orientation): Mengantisipasi, mengenali, dan beupaya memenuhi kebutuhan para pelanggan.

4) Memanfaatkan Keragaman (Leveraging Diversity) : menumbuhakna peluang dengan melalui pergaulan.

5) Kesadaran Politis (Political Awareness): mampu membaca arus- arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

Sedangkan keterampilan sosial, adalah kemampuan dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. Beberapa indikator mengenai keterampilan sosial, antara lain :

1) Pengaruh (influence) : Memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi.

2) Komunikasi (communicatuion): mengirim pesan yang jelas dan meyakinkan.

3) Manajemen Konflik (conflict management) : Penanganan masalah- masalah yang berkembang di dalam masyarakat.

4) Kepemimpinan (leadership): Memandu orang lain dengan membangkitkan inspirasi

5) Katalisator perubahan (Change Catalyst): Memulai dan mengelola perubahan.

(53)

6) Membangun hubungan (building bonds) : menumbuhkan hubungan yang bermanfaat.

7) Kolaborasi dan Kooperasi (Collaboration and cooperation) : kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.

8) Kemampuan tim (Team capabilities): menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Dari uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa ketangguhan atau strength adalah ketika seseorang berada pada posisi telah memiliki pegangan atau prinsip hidup yang kokoh dan jelas. Seseorang bisa dikatakan tangguh apabila telah memiliki prinsip yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang terus berubah dengan cepat.

Tidak menjadi korban dari pengaruh lingkungan yang dapat mengubah prinsip hidup atau cara berpikir. Prinsip hidup yang dimiliki bersifat abadi dan tidak akan goyah meski diterpa badai sekeras apapun. Orang yang telah memiliki prinsip hidup yang kuat, akan mampu untuk mengambil suatu keputusan yang bijaksana dengan menyelaraskan prinsip yang di anut dengan kondisi lingkungan, tanpa harus kehilangan pegangan hidup.

Memiliki prinsip dari dalam diri keluar, bukan dari luar ke dalam diri dan mampu mengendalikan pikiran sendiri ketika berhadapan dengan situasi yang sangat menekan.

c. Pantang Menyerah

Dalam kamus orang sukses, tidak ada istilah pemalas dan mudah menyerah. Tidak ada orang yang meraih kesuksesan tanpa bekerja keras

(54)

dan mengatasi seluruh hambatan yang merintangi jalannya. Jika gagal, bukan berarti berhenti dan menyerah begitu saja, kemudian malas bekerja dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Pada dasarnya sikap pantang menyerah harus dan mesti dimiliki tiap individu. Sikap pantang menyerah harus didasari dengan motivasi atau dorongan agar usaha yang dijalankan dapat berhasil.

Sikap pantang menyerah merupakan sikap bertahan untuk tetap ingin mencapai apa yang diinginkan kendati mengalami kegagalan, mendapat hambatan dan rintangan. Pada Hakikatnya sikap pantang menyerah merupakan perjuangan yang tangguh penuh semangat, tidak putus asa, kuat kerja keras dan tidak mudah menyerah. Seorang mempunyai cita-cita tinggi untuk sukses di dalam mengelolah kegiatan usahanya, akan menjadi pendorong dan daya tahan dalam menghadapi segala rintangan, hambatan, cobaan dan kendala. (Nofia, 2013)

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sikap pantang menyerah akan melahirkan pemenang. Sikap ini akan membawa sampai ke puncak.

Di tengah perjalanan, pasti akan menemukan kendala dan hambatan.

Orang yang kalah akan segera menyerah, dan seorang pemenang justru akan semakin Maju. Pribadi pantang menyerah adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Tidak berhasil menyelesaikan suatu permasalahan tidak membuat seseorang dikatakan gagal karena orang yang tidak berhasil

(55)

untuk pertama kali bisa mencoba lagi untuk kedua kalinya, dan orang yang gagal kedua kali bisa mencoba lagi untuk ketiga kali, sampai ia berhasil. Tetapi patah semangat yang muncul karena tidak berhasil menyelesaikan suatu permasalahan bisa membuat seseorang Gagal.

Menjaga konsistensi kegigihan dan pantang menyerah sama artinya seperti pergi mencari rahasia sukses dari orang-orang tersukses yang dikagumi. Hidup ini mengajarkan kepada semua untuk selalu melintasi semua medan perjalanan tanpa pernah mengeluh apa lagi putus asa terhadap situasi dan kondisi yang ditemukan di medan perjalanan tersebut. Konsistensi semangat juang harus selalu terpelihara dalam situasi dan kondisi apa pun, sebab hanya itu yang bisa membangkitkan dari setiap keterpurukan yang dialami selama perjalanan hidup dalam mencari mimpi, cita-cita, dan harapan.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk membangun sikap pantang menyerah, diantaranya : (Septiansyah, 2013).

1) Kalau mempunyai kecendrungan mudah menyerah, maka langkah pertama pertama yang paling penting adalah mengakui kelemahan itu. Dengan menyadarinya maka akan lebih siap untuk memperbaikinya.

2) motivasikanlah diri untuk mengembangkan sikap pantang menyerah. Sikap ini diperlukan untuk meraih keberhasilan dalam hidup. Perhatikanlah artis, atlit, karyawan dapat menajak karirnya karena berprestasi, mereka umumnya memperjuangkan apa yang

(56)

ingin diraihnya dengan daya dan upaya yang optimal. Sebaliknya, orang-orang yang mudah menyerah, frustasi dan mudah putus asa adalah orang-orang yang gagal.

3) Berpikirlah bahwa akan berhasil meraih apa yang diinginkan.

Keyakinan ini akan membuat lebih efektif dibandingkan bila terlalu mengantisipasi kemungkinan buruk. Menurut para ahli , orang yang optimis mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk berhasil dibanding orang yang pesimis. Mengapa? Karena keyakinan yang positif akan mempengaruhi mental dan fisik secar signifikan untuk mendapatkan apa yang di yakininya.

4) Arahkan pandangan pada tujuan, bukan pada hambatan. Bila memandang pada tujuan , maka hambatan tidak akan menakutkan.

Tapi sebaliknya, bila terfokus pada hambatan maka akan mudah kehabisan daya juang.

5) Beranilah mengambil resiko namun dengan perhitungan yang mantap. Hadapi dan alamilah pengalaman dan petualangan baru.

Keberanian yang benar bukan berarti seperti orang yang terjun bebas ke jurang, tapi seperti orang yang menuruninya setahap demi setahap dengan persiapan yang matang. Kalau Anda tidak berani mengambil resiko, tentu saja Anda berada pada tempat yang aman , namun Anda tidak akan berkembang.

6) Hadapilah semua tantangan dengan penuh keberanian. Anggaplah tantangan sebagai “Sparring Pathner” yang akan membuat

Gambar

Gambar  Teks             Halaman
Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir 1. Keberanian

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini, penulis pen akan mengungkapkan kapkan nilai nilai-nilai pendidikan akhlak dalam novel Surat kecil untuk Tuhan uhan Karya Agnes Davonar kemudian menafsirkan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan nilai moral dalam novel Surat Kecil Untuk Tuhan karya Agnes Davonar dapat diambil simpulan sebagai berikut. Nilai moral

Berdasarkan kutipan di atas dapat dilihat sikap yang diperlakukan oleh Agnes yang kondisi fisiknya normal dengan cara mengancam orang lain agar tidak berteman dengan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan nilai moral dalam novel Surat Kecil Untuk Tuhan karya Agnes Davonar dapat diambil simpulan sebagai berikut. Nilai moral

Berdasarkan kutipan di atas dapat dilihat sikap yang diperlakukan oleh Agnes yang kondisi fisiknya normal dengan cara mengancam orang lain agar tidak berteman dengan

Dari hasil analisis data penelitian, dalam novel “Ibu, Aku Mencintaimu” karya Agnes Davonar diperoleh deskripsi masalah dengan kesimpulan aspek kepribadian yang meliputi (1)

Data dalam penelitian ini berwujud kata, frase, ungkapan, dan kalimat yang berkaitan dengan aspek moral tokoh Angel dalam novel Ayah Mengapa Aku Berbeda.. Karya Agnes Davonar

Pesan Moral dalam Novel Ibu, Aku Mencintaimu karya Agnes Davonar Terdapat 42 data yang menunjukkan pesan moral dengan rincian: a hubungan manusia dengan diri sendiri bejumlah 14