• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nurlaili_PROSIDING SEMINAR NASIONAL-3.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Nurlaili_PROSIDING SEMINAR NASIONAL-3.pdf"

Copied!
935
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL

PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Penanggungjawab : Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S.

Ketua : Dr. Ir. Rahima Kaliky, M.Si.

Reviewer : Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S.

Dr. agr. Ir. Sri Peni Wastutiningsih Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.

Dr. Ir. Roso Witjaksono, M.S.

Dr. Ir. Rahima Kaliky, M.Si.

Editor : Kurnia Tanjungsari, S.P., M.Sc.

Eka Nur Jannah, S.P., M.Sc.

Mesalia Kriska, S.P., M.Sc.

Titis Puspita Dewi, S.Sos Ratih Setyowati, S.P.

Diah Ajeng Purwani, S.Ag., M.Si.

Agus Ganjar Runtiko, S.Sos., M.I.Kom.

Wike Oktasari, S.P., M.Sc.

Desain dan Layout : Miftah Faridl Widhagdha, S.I.Kom.

Mukti Ahmad Nurcahya, S.P.

Cetakan 1 : Desember 2016

Penerbit : Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Anggota IKAPI 077/DIY/2012

Alamat : Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 564239, Fax (0274) 564239

Email : [email protected] Website : http://pasca.ugm.ac.id ISBN : 978-602-8683-15-9

Dilarang memperbanyak prosiding ini dala bentuk dan dengan cara apapun, termasuk fotocopy, tanpa izin tertulis dari penerbit dan atau penulis

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya Prosiding Seminar Nasional Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dapat diterbitkan. Seminar dengan tema“Strategi Pemberdayaan Masyarakat di Era MEA” telah dilaksanakan pada tanggal 8 Oktober 2016 di Auditorium Sekolah Pascasarjana UGM. Seminar ini diselenggarakan sebagai media sosialisasi hasil penelitian dan pertukaran gagasan akademik serta pengalaman praksis di bidang penyuluhan dan komunikasi pembangunan.

Seminar Nasional Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dijadikan sebagai media tukar menukar informasi dan pengalaman, ajang diskusi ilmiah mengenai penyuluhan dan pengembangan sumberdaya manusia, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam mendukung sumberdaya manusia, serta pembangunan masyarakat perdesaan dalam menghadapi persaingan global di era MEA. Prosiding ini memuat karya tulis dari berbagai hasil penelitian dan pengalaman praksis mengenai penyuluhan dan komunikasi pembangunan dari berbagai instansi dan universitas terkait bidang pembangunan.

Semoga penerbitan prosiding ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber dalam pengembangan penelitian di masa akan datang, serta dijadikan bahan acuan dalam pengembangan penyuluhan dan komunikasi pembangunan. Akhir kata kepada semua pihak yang telah berkontribusi pada seluruh rangkaian Seminar Nasional, diucapkan terimakasih sebesar-besarnya.

Yogyakarta, Oktober 2016 Panitia Seminas Nasional PKP Sekolah Pascasarjana UGM

(4)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

i DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i PEMBINAAN KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MENDUKUNG

KETAHANAN PANGAN KELUARGA DI PROVINSI ACEH

Nazariah dan Basri AB ... 1 PROYEKSI DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN RADIO REPUBLIK

INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN DALAM KONSTELASI MEA

Gontom C. Kifli ... 10 EFEKTIVITAS PEMBERDAYAAN PETANI TERNAK MELALUI

PENDAMPINGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA SAPI POTONG

Rika Jayanti Malik dan Eko Kardiyanto ... 20 PERSEPSI PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN TERHADAP PROGRAM UPAYA KHUSUS PADI JAGUNG DAN KEDELAI

Ade Intan Christian, Subejo, Dyah Woro Untari ... 29 ANALISIS TINGKAT PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI PTT PADI PADA KAWASAN DAN NON KAWASAN PENGEMBANGAN PADI

Siti Sehat Tan dan Rita Indrasti ... 38 PERAN PENDAMPING PROGRAM DALAM MENENTUKAN KUALITAS KREDIT BANTUAN MODAL BLM-PUAP DI JAWA TENGAH

Wahyudi Hariyanto dan Parti Khosiyah ... 49 TINGKAT PENGETAHUAN WANITA TANI MENGENAI MENU GIZI

SEIMBANG KOTA SAMARINDA

Dina Lesmana dan Alfa Raudah ... 60 PASAR TUNGGAL DAN BASIS PRODUKSI PADA SEKTOR PERIKANAN INDONESIA

Praptono Guno Adi ... 78 PENGUASAAN TEKNOLOGI PETANI DALAM USAHATANI KAKAO DAN KAMBING DI TAMAN TEKNOLOGI PERTANIAN (TTP) NGLANGGERAN KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Ari Widyastutidan Gunawan ... 88 EKSISTENSI PENYULUH AGAMA

DALAM MEMBANGUN HARMONISASI KEBERAGAMAAN (Studi Kasus Penyuluh Agama Kota Bogor )

Hasan Sazali ... 98 PERAN PENYULUH DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING KELOMPOK TANI MANGGA GEDONG GINCU

Rani Andriani Budi Kusumo, Anne Charina, Dika Supyandi ... 106 PROFIL SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN DI KABUPATEN SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

(5)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

ii Rahima Kaliky ... 114 PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI MANGGA GEDONG GINCU DALAM MENGHADAPI MEA

Anne Charina, Rani Andriani Budi Kusumo, Dika Supyandi ... 125 KAJIAN KINERJA PENYULUH PERTANIAN PADA ERA MEA DI WILAYAH PENGEMBANGAN KOPI RAKYAT KECAMATAN SILO, JEMBER,

JAWATIMUR

Teguh Hari Santosa dan Oktarina ... 132 ANALISIS TINGKAT PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI PTT PADI PADA KAWASAN DAN NON KAWASAN PENGEMBANGAN PADI

Siti Sehat Tan dan Rita Indrasti ... 139 PENTINGNYA MEREK BAGI PRODUK PERTANIAN SEBAGAI UPAYA

MENINGKATKAN DAYASAING KOMODITAS PERTANIAN INDONESIA Adil Fadillah, Komalawati ... 150 EFEKTIFITAS PENYULUHAN DALAM MENDUKUNG PERTANIAN

ORGANIK DI KELOMPOK TERNAK GENDONGAN

Bekti Nur Utami , Deha Purwoko... 158 PENINGKATAN PEREKONOMIAN MELALUI PERBAIKAN PRODUKSI Cut R. Adawiyah, S. Rusdiana dan U. Adiati ... 167 PERAN PETANI DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI SEBAGAI

REALISASI PEMBANGUNAN PERTANIAN

Cut R. Adawiyah dan S. Rusdiana ... 177 PEMAHAMAN PETANI TERHADAP PENGENDALIAN HAMA TIKUS

TERPADU DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Subagiyo dan Arlyna Budi Pustika ... 191 ANALISA DAYA SAING DAN PELUANG EKSPORT WORTEL DI KELOMPOK TANI KATATA, PANGALENGAN, BANDUNG, JAWA BARAT

Muhammad Arief Budiman ... 205 KAJIAN KELEMBAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN DALAM

MENDUKUNG KEMANDIRIAN PETANI DI JAWA TENGAH

Sapja Anantanyu, Suwarto, Sutarto, Arip Wijianto ... 212 PERAN KELEMBAGAAN KELOMPOK DALAM MENDUKUNG

PENGEMBANGAN KAWASAN PETERNAKAN SAPI POTONG

Sri Budhi Lestari ... 220 TANTANGAN PERKEBUNAN KARET UNTUK MENGATASI KELANGKAAN TENAGA PENYADAP DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) Akhmad Rouf, Mudita Oktorina Nugrahani, Yoga Bagus Setya Aji ... 227 DIVERSIFIKASI EKONOMI MASYARAKAT PETANI BERBASIS POTENSI BIOFARMAKA DI KABUPATEN KLATEN DI ERA MEA

Sri Marwanti dan Pardono ... 235 PENYULUHAN ERA MODERN MELALUI SDMC

(6)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

iii Septi Wulandari, Martina Sri Lestari, Yuliantoro Baliadi ... 243 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PEMBERDAYAAN USAHA SAPI PERAH

RAKYAT DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI SUSU

Mukson, M. Handayani dan H. Setiyawan ... 252 PERAN KELOMPOK DALAM MENJAGA KEBERLANJUTAN DAN DAYA SAING PETANI APEL

Acep Hariri, Sunarru Samsi Hariadi, Roso Witjaksono ... 261 POLA TANAM UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN DI DAERAH RAWA LEBAK SUMATERA SELATAN

Waluyo ... 269 KESIAPAN PETANI DAN PERAN PENYULUH DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DI KABUPATEN PROBOLINGGO JAWA TIMUR

Wahyu Windari, Andi Warnaen, Nurlaili ... 278 PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KEAMANAN PANGAN PADA UKM PANGAN LOKAL : KAJIAN PUSTAKA

Muhammad Fajri ... 286 KERAGAAN IMPLEMENTASI PENYULUHAN INOVASI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI, JAGUNG DAN KEDELAI DI LAMPUNG

Slameto ... 294 KETAHANAN SOSIAL EKONOMI SEBAGAI JAWABAN KREATIF

TERHADAP KUALITAS SOSIAL KELOMPOK TANI DALAM MENGHADAPI MEA

Hikmah Nur Annisa ... 307 PROSPEK PENGEMBANGAN AYAM KUB MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DI KABUPATEN SLEMAN

Budi Setyono ... 315 PERSEPSI KWT DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT ADOPSI MODEL-KRPL SERTA KEERATAN HUBUNGANNYA

Wiendarti I Werdhany, Murwati, Kurnianita, Adhi Surya Perdana ... 323 STRATEGI PEMBINAAN BUDIDAYA PETANI PADI SAWAH SUKU MARIND DI KABUPATEN MERAUKE MELALUI KEKUATAN MODAL SOSIAL

MENGHADAPI ERA MEA

Yolanda Holle dan Amestina Matualage... 332 PENERAPAN SISTEM PEREMAJAAN KELAPA SAWIT DI PROVINSI JAMBI Shinta Anggreany, Ardhiyan Saputra... 340 PERUBAHAN PERILAKU PETANI DALAM PENERAPAN ―SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION‖ DI DESA SITU ILIR, KECAMATAN CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR

Elih Juhdi Muslihat, Yul Harry Bahar dan Lindon Berry Pangwalahew ... 348

(7)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

iv STRATEGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT PARTISIPATIF DENGAN

PEMASARAN SOSIAL

Nurasih Shamadiyah ... 356 MODEL PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KERJA PEGAWAI DI UPT

PENGUJIAN SERTIFIKASI MUTU BARANG LEMBAGA TEMBAKAU JEMBER Devi Arieni, Tanti Kustiari ... 364 KEEFEKTIFAN METODE DEMPLOT PADA SOSIALISASI TEKNOLOGI

BUDIDAYA KENTANG RAMAH LINGKUNGAN DI DESA TLAHAB KECAMATAN KLEDUNG KABUPATEN TEMANGGUNG

Sherly Sisca Piay, Nur Fitriana ... 372 AKSESIBILITAS PETANI TERHADAP INFORMASI TEKNOLOGI

PENGENDALIAN HAMA TIKUS TERPADU MELALUI MEDIA KELOMPOK Sylvatra Puspita Sari, Subejo, Roso Witjaksono ... 380 PERAN KELOMPOK TANI DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI MELALUI ADOPSI INOVASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KECAMATAN PRAMBANAN

Diah Fitria Widhiningsih, Sunarru Samsi Hariadi, Roso Witjaksono ... 387 RESPONS PETANI KEDELAI HITAM MALLIKA TERHADAP PROGRAM KEMITRAAN PT. UNILEVER DI KECAMATAN PITURUH KABUPATEN PURWOREJO

Ria Widyaningrum, Subejo, Dyah Woro Untari ... 395 STRATEGI PEMBERDAYAAN SANTRI PESANTREN KAHUDUL ULUM PENAJUNG DESA BOJONGSARI KECAMATAN ALIAN KABUPATEN KEBUMEN

Ratna widiyati ... 405 RESPONS PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN TERHADAP PROGRAM UPAYA KHUSUS PADI JAGUNG DAN KEDELAI DI KABUPATEN SLEMAN Ani Dwi Wimatsari, Subejo, Roso Witjaksono ... 411 STRATEGI PENYULUHAN PERTANIAN UNTUK PENGUATAN

KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT PAPUA

Detia Tri Yunandar ... 419 RELASI AGAMA DAN PETANI DI DESA KURIPAN KABUPATEN

WONOSOBO

Najmu Tsaqib Akhda ... 427 UPAYA PENINGKATAN DAYA SAING SAPI POTONG MELALUI

BIOINDUSTRI INTEGRASI PADI-SAPI DI KABUPATEN BANTUL

Kurnianita Triwidyastuti, Erna Winarti dan Ari Widyastuti ... 434 PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PETANI TERHADAP

INOVASI TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH KEDELAI MELALUI PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA PEDESAAN

Chanifah, J. Triastono dan R. K. Jatuningtyas... 443

(8)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

v REGULASI PENYULUHAN PERTANIAN, TITIK KRITIS DAN

IMPLEMENTASINYA DI KALIMANTAN BARAT

Gontom C. Kifli ... 454 KOMPLEKSITAS NEW MEDIA DALAM BUDIDAYA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) DI KABUPATEN PURWOREJO

Tatag Handaka, Hermin Indah Wahyuni, Endang Sulastri, Paulus Wiryono .... 467 KOMUNIKASI STRATEGIS DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KAWASAN LAHAN GAMBUT

Arifudin ... 476 PENGUATAN KOMUNIKASI KELOMPOK DALAM PEMBERDAYAAN

PETANI KAKAO DALAM PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI DI KABUPATEN KOLAKA

M. Najib Husain ... 486 ANALISIS DETERMINASI ADOPSI E-COMMERCE DALAM

PEMBERDAYAAN PENGRAJIN ALAS KAKI DI CIOMAS KABUPATEN BOGOR

Sulistiono dan Mumuh Mulyana ... 495 STRATEGI PENGGUNAAN MEDIA KOMUNIKASI DALAM

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PADA KELOMPOK USAHA MANDIRI DI KOTA KENDARI

Jumrana ... 503 MODEL KOMUNIKASI DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT

Cut Alma Nuraflah ... 514 PERSEPSI DAN PREFERENSI PETANI TERHADAP INOVASI TEKNOLOGI JAJAR LEGOWO DI KABUPATEN PEKALONGAN

Endah Nurwahyuni, Selvia Dewi Anomsari, Setyo Budiyanto ... 523 ADOPSI PETANI TERHADAP TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI DI KABUPATEN PEKALONGAN

Endah Nurwahyuni, Selvia Dewi Anomsari, Setyo Budiyanto ... 534 PERAN PENYULUH SEBAYA DALAM MEMBENTUK PERILAKU PREVENTIF KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI KABUPATEN BANYUMAS

Agoeng Noegroho, Sunarru Samsi Hariadi, Paulus Wiryono Priatamtama ... 546 TINGKAT PERILAKU PETANI KEDELAI MELALUI PENDEKATAN PTT DI KAMPUNG SANGGARIA DISTRIK ARSO I KABUPATEN KEEROM

Septi Wulandari, Sri Rahayu D. Sihombing, Syafruddin Kadir, Sitti Raodah Garuda ... 555 KOMUNIKASI PARTISIPATIF DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Nur Fitriana, Sherly Sisca Piay ... 569 TINJAUAN EMIK DINAMIKA PERTANIAN DI ERA OTONOMI

La Mani, Dwiningtyas Padmaningrum ... 575

(9)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

vi RURAL SOCIETY DEVELOPMENT STRATEGY CONFRONT GLOBAL

COMPETITION IN THE ERA ASEAN ECONOMIC COMMUNITY

Ben Ibratama ... 594 PERAN KOMUNIKATOR PEMBANGUNAN DALAM MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT UNTUK PENCEGAHAN BENCANA KEKERINGAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BINANGA LUMBUA KABUPATEN JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN

Ayu Adriyani, Despry Nur Annisa Ahmad ... 604 PERBANDINGAN KONTRIBUSI SURAT KABAR LOKAL DENGAN

NASIONAL DALAM PEMBERITAAN PERTANIAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Paksi Mei Penggalih, Subejo, dan Harsoyo ... 612 KOMUNIKASI PARIWISATA DALAM MENGGAGAS TIGA DESA UMKM DI KABUPATEN CIREBON

Nurul Chamidah, M.I.Kom, Resti Titis Purbasari, Agung Sulistio... 619 KOMUNIKASI TERAPEUTIK SEBAGAI BENTUK PELAYANAN PRIMA DI PUSKESMAS

Ida Wiendijarti ... 633 PERLINDUNGAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DARI

PESATNYA PERKEMBANGAN TOKO MODERN DI KABUPATEN SLEMAN MELALUI PERDA NO 18 TAHUN 2012

Clara Shinta Paskasari ... 641 PENGUATAN MODAL SOSIAL PETANI MELALUI KOMUNIKASI

INTERPERSONAL DALAM ADOPSI TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DI LAHAN PASIR PANTAI KABUPATEN BANTUL

Roso Witjaksono, Supriyati... 649 PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI KORBAN KEKERASAN DI PONOROGO

Muhamad Fajar Pramono ... 660 KEMANDIRIAN EKONOMI SEBAGAI STRATEGI PEMBERDAYAAN KAUM PEREMPUAN DI DESA REJODADI KECAMATAN CIMANGGU CILACAP S. Bekti Istiyanto, Nuryanti ... 669 PERAN KEJREUN BLANG TERHADAP PERILAKU PETANI DALAM

MENGIKUTI KETENTUAN ADAT PERTANIAN DI ACEH

Andrian WiraSyah Putra, Sunarru Samsi Hariadi, Subejo. ... 680 PERAN SEKTOR PARIWISATA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM

PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA DI ERA GLOBAL

Toti Rahayu ... 694 STRATEGI PEMBERDAYAAN PETANI MUDA KOPI WIRAUSAHA DI

KABUPATEN SIMALUNGUN

Titik Sumarti, Rokhanidan Sriwulan Ferindian ... 705

(10)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

vii MEMBANGUN KEBERDAYAAN PEMULUNG BERBASIS ASET DI ERA

PASAR BEBAS (MEA)

Tri Prasetijowatidan Ita Kusuma Mahendrawati ... 715 MENUJU PERGESERAN PARADIGMA KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DI INDONESIA

Subejo ... 729 STRATEGI KOMUNIKASI BERBASIS SUMBERDAYA KOMUNIKASI DALAM PENINGKATANEFEKTIVITAS PENDAMPINGANPROGRAM SIMANTRI DI BALI

I Dewa Putu Oka Suardi ... 744 PENGARUH MEDIA KOMIK TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN SISWA SEKOLAH DASAR TENTANG MANFAAT TELUR DI KELURAHAN NONGKOSAWIT KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG

Sriroso Satmoko dan Siwi Gayatri ... 758 CONTRACT FARMING SEBAGAI UPAYA PEMBINAAN PETANI KECIL DI ERA MEA

Komalawati ... 768 CERTIFICATION STRATEGIES SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING SUMBER DAYA DESA DALAM MENGHADAPI MEA

Sutiyono ... 777 STRATEGI PEMBERDAYAAN UMKM DALAM MENGHADAPI ERA MEA S. Djuni Prihatin ... 786 REVITALISASI PERAN KELUARGA DALAM PENANAMAN NILAI

NASIONALISME DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA):TINJAUAN TERHADAP HASIL-HASIL PENELITIAN

Agus Ganjar Runtiko ... 793 PETANI SAWIT DI HADAPAN MEA DAN STRATEGI KEBUDAYAAN:

STUDI LEVEL MIKRO PADA PETANI PLASMA DI KECAMATAN LONG IKIS, KALIMANTAN TIMUR

Sukapti Wartiharjono ... 801 ANALISIS EFEKTIVITAS TEKNIK INTERVENSI PENGEMBANGAN

PEREMPUAN PELAKU USAHA EKONOMI PRODUKTIF DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

Suminah dan Sapja Anantanyu... 811 PARTISIPASI RUMAH TANGGA DALAM PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI

M. Zulkarnain. Y, Subejo, Slamet Hartono ... 821 IDENTIFIKASI POTENSI ASET RUMAH TANGGA MISKIN BAGI

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: PENDEKATAN SUSTAINABLE LIVELIHOOD FRAMEWORK

Dini Yuniarti ,, Lestari Sukarniati, Arif Rahman Hakim ... 829

(11)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

viii MODEL PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM INDUSTRI

RUMAHTANGGA DI KABUPATEN KARANGASEM BALI

Ni Wayan Sri Astiti, Dwi Putra Darmawan,DewaGedeRakaSarjana... 837 RESTORASI PARADIGMA KUD : ―PENDEKATAN TEORI ORGANISASI

DALAM MEREBUT PELUANG MEA‖

Ahmad Tarmizi Yusa, Hendry Andry dan Andri Kurniawan ... 847 PENINGKATAN KETERAMPILAN WANITA PESISIR DALAM

MENGHADAPI MEA DI KECAMATAN PURWODADI KABUPATEN PURWOREJO

Istiko Agus Wicaksono, S.P., M.Sc., Isna Windani, S.P., M.Sc., dan Arta

Kusumaningrum, S.P., M.Sc. ... 857 POSISI SOSIAL DAN ARAH TRANSFORMASI MASYARAKAT MARITIM Eymal B. Demmallino, M. Saleh S. Ali,Abd. Qadir Gassing, Munsi Lampe,La Nalepo dan Sri Rezki Eskawaty Rosmala ... 863 PENYULUHAN DAN LITERASI TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI (TIK) PADA PETANI

Muksin ... 874 PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PERUSAHAAN PT

PERTAMINA TERMINAL BAHAN BAKAR MINYAK REWULU DALAM PEMBERDAYAAN PETANI DI DESA ARGOMULYO KABUPATEN BANTUL Christine Sri Widiputranti, Ir. M.P. ... 884 STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI PROVINSI JAWA TIMUR

Kadhung Prayoga ... 894 PERSPEKTIF PETANI PADA GAYA BERTANI RAMAH LINGKUNGAN

Adi Nugraha, Yayat Sukayat, Rani Andriani ... 902 MEWUJUDKAN INDUSTRIALISASI PEDESAAN MELALUI

PEMBERDAYAAN PETANI BERBASIS KOMODITI JAGUNG UNTUK MENGHADAPI ERA MEA BAGI PETANI DI NTT

Leta Rafael Levis; Keppi Sukesi, Sugiyanto dan Yayuk Yuliati ... 909

(12)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

1 PEMBINAAN KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MENDUKUNG

KETAHANAN PANGAN KELUARGA DI PROVINSI ACEH

Nazariah1 dan Basri AB2

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh Jl. P. Nyak Makam No. 27 Banda Aceh

Email : [email protected] ABSTRAK

Keberadaan wanita di Aceh sangat dijunjung tinggi, akibat konflik, tsunami dan karena kaum pria mencari kerja ke kota telah menempatkan wanita sebagai kepala keluarga. Akan tetapi sebagaimana wanita tani didaerah lain, wanita tani Aceh juga menghadapi masalah yang sama, yaitu; tingkat hidup yang rendah dan jumlah keluarga yang relatif besar, tingkat pendidikan dan kesempatan belajar kurang, pengetahuan dan keterampilan yang sangat terbatas dan tertinggal dalam usaha tani, kurangnya sikap positif terhadap kemajuan baik karena adat, agama, maupun kebiasaan hidup. Salah satu cara yang digunakan untuk mengubah paradigma tersebut adalah dengan pendekatan kelompok.

Melalui kelompok wanita tani (KWT) memungkinkan anggotanya saling memberi dan menerima informasi. Pembinaan KWT dilakukan oleh BPTP Dan ACIAR dengan tujuan agar KWT memiliki peran dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga khususnya, serta meningkatkan status sosial dan ekonomi para anggotanya. Aktivitas pembinaan mencakup; bantuan modal usaha kelompok, peningkatan capacity building (kunjungan antar KWT, Forum komunikasi, Pelatihan teknis dan pelatihan pasca panen). Pembinaan yang dilakukan menunjukkan peningkatan taraf hidup anggota KWT dilihat dari aspek social, ekonomi dan kesehatan.

Kata kunci: KWT, Aceh, ACIAR

PENDAHULUAN

Di Provinsi Aceh keberadaan wanita sangat dijunjung tinggi. Akibat konflik, tsunami dan karena pria mencari kerja ke kota telah menempatkan wanita sebagai kepala keluarga. Tetapi sebagaimana wanita tani didaerah lain, wanita tani di Aceh juga menghadapi masalah yang sama, yaitu; tingkat hidup yang rendah dan jumlah keluarga yang relatif besar, tingkat pendidikan dan kesempatan belajar kurang, pengetahuan dan keterampilan yang sangat terbatas dan tertinggal dalam usaha tani, kurangnya sikap positif terhadap kemajuan baik karena adat, agama, maupun kebiasaan hidup.

(13)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

2 Salah satu cara yang digunakan untuk mengubah dan memperbaiki tingkat pemikiran, tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan wanita tani adalah dengan pendekatan kelompok. Melalui pendekatan kelompok, para wanita tani diajak, dibimbing serta diarahkan, yang diwujudkan dalam usaha peningkatan peranan anggota untuk melaksanakan sesuatu kegiatan yang tentunya lebih produktif atas dasar kerjasama (Sajogyo, 1994).

Kelompok Wanita Tani (KWT) adalah sebuah organisasi wanita tani, merupakan wadah berkumpulnya para wanita tani yang memungkinkan para anggotanya saling memberi dan menerima informasi. KWT diharapkan memiliki peran dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga khususnya meningkatkan status sosial dan ekonomi bagi para anggotanya. Dalam kelompok wanita tani setiap anggota akan berintegrasi, bekerjasama dan mencapai tujuan bersama yang diinginkan (Deptan, 1977).

Untuk meningkatkan produktivitas KWT yang sudah terbentuk, perlu dilakukan pembinaan, yang merupakan suatu usaha untuk memberikan pengarahan dan bimbingan guna mencapai tujuan tertentu. Pembinaan menekankan pada pendekatan praktis, pengembangan sikap, kemampuan dan kecakapan. Pembinaan adalah sesuatu yang dilakukan secara sadar dan terencana, teratur dan terarah untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan keterampilan subjek dengan tindakan pengarahan dan pengawasan untuk mencapai tujuan (Poerwadaminta, 2003).

Berdasarkan hal tersebut, BPTP Aceh dan ACIAR melaksanakan pembinaan terhadap kelompok wanita tani (KWT) di Propinsi Aceh sejak tahun 2009, yang tersebar pada empat Kabupaten, yaitu : Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Barat. Kecuali di Pidie Jaya, semua KWT-KWT tersebut berjalan dan dibina oleh PPL pendamping setempat selain dibina langsung oleh BPTP Aceh.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga wanita tani khususnya, serta meningkatkan status sosial dan ekonomi para anggotanya.

(14)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

3 Prosedur

Kegiatan pembinaan dilakukan sejak tahun 2009 di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Barat dan Bireuen. Melibatkan PPL setempat sebagai pembingbing lapangan serta berkoordinasi dengan Dinas/instansi terkait.

Aktivitas pembinaan mencakup; bantuan modal usaha kelompok, peningkatan capacity building (kunjungan antar KWT, Forum komunikasi, Pelatihan teknis dan pelatihan pasca panen).

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT)

KWT merupakan kelompok wanita tani yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan wanita tani dengan kisaran umur antara 20 – 65 tahun. Setiap kelompok mempunyai anggota 10 – 50 orang. Kegiatan usahatani dilaksanakan dibawah bimbingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Terbentuknya sebuah KWT dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, antara lain : (1) Keinginan ibu-ibu untuk mempunyai suatu wadah seperti halnya kelompok tani, (2) Saran dari PPL, (3) Melihat keberhasilan KWT lain, (4) Karena adanya bantuan modal usaha/saprodi, (5) Keinginan untuk memenuhi kebutuhan sayuran sendiri , (6) Keinginan menambah pendapatan keluarga.

BPTP Aceh dan ACIAR melaksanakan pembinaan terhadap kelompok wanita tani (KWT) di Propinsi Aceh sejak tahun 2009. KWT yang dibina tersebar di Kabupaten : Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Barat.

B. Ragam Aktivitas Pembinaan 1. Bantuan modal usaha kelompok

Untuk menggerakkan kelompok, pembinaan dilakukan dengan memberikan modal awal kepada KWT yang akan dibina. Pemberian modal berupa uang tunai dilakukan melalui PPL pendamping desa.

Umumya modal ini dipergunakan untuk mengolah tanah pertama dan pembelian sarana produksi yang mereka butuhkan. Penggunaan modal awal dilakukan bersama-sama antara PPL dan anggota KWT.

2. Peningkatan Kapasitas Anggota KWT (Capacity Building)

(15)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

4 a. Kunjungan Antar KWT

Untuk meningkatkan kapasitas anggota KWT yang dibina salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah kunjungan antar KWT. Tujuan kegiatan ini antara lain : Saling belajar, tukar menukar informasi, berbagi pengalaman dan meningkatkan motivasi. Kegiatan kunjungan juga diharapkan terbentuknya jaringan antar kelompok wanita tani yang telah dibina khususnya dan wanita tani diluar kelompok yang sudah ada umumnya. Kunjungan antar KWT dilakukan antar kabupaten dan juga dalam kabupaten masing-masing KWT.

b. Forum Komunikasi KWT

Forum Komunikasi Wanita Tani ini bertujuan; (1) Memberi kesempatan bagi anggota KWT dan PPL untuk berbagi pengalaman, belajar dan saling tukar menukar informasi antara satu dengan yang lain, (2) Memberikan pelatihan bagi anggota KWT untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, (3) Menggali potensi kemitraan, (4) Membangun dukungan untuk pembentukan jaringan wanita tani dan (5) Mempromosikan keberhasilan dan memetik pelajaran dari kegiatan KWT

c. Pelatihan Teknis

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan wanita tani agar dapat lebih produktif dalam sistem budidaya usahatani yang mereka laksanakan, diperlukan pelatihan teknis yang menyangkut masalah tanah dan tanaman. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan difokuskan pada : peningkatan produktivitas lahan usahatani, kesuburan tanah/lahan usahatani, penerapan teknologi usahatani yang mengikuti cara budidaya yang baik (Good Agricultural Practices). Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan pelatihan pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati.

d. Pelatihan Pasca Panen

Keahlian penanganan pasca panen yang tepat sangat dibutuhkan oleh anggota KWT. Kebutuhan pelatihan ini bukan hanya

(16)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

5 untuk menambah nilai ekonomi pada usahatani yang mereka hasilkan, akan tetapi juga menghindari kehilangan zat gizi untuk pemenuhan kebutuhan gizi keluarga karena penanganan pasca panen yang salah khususnya dalam pengolahan hasil, seperti; cara mengolah dan memasak sayuran yang tepat. Beberapa hal yang ingin dicapai oleh KWT sehubungan dengan penanganan pasca panen adalah : (1) Meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan, (2) Diversifikasi pangan untuk pemenuhan gizi keluarga dan Meningkatkan peluang usaha berbasis sumberdaya lokal.

3. Dampak Pembinaan Terhadap Kelompok Wanita Tani a. Aspek Sosial

Pembinaan yang telah dilaksanakan memberikan dampak yang sangat positif terhadap anggota KWT. Sejak bergabung dengan KWT umumnya wanita tani menyatakan bisa bercocok tanam lebih baik, ikut dalam forum-forum pertemuan yang diselenggarakan sehingga sangat bermanfaat untuk mereka, dimana ada yang menyatakan selama ini belum pernah mengikuti pertemuan walau tingkat desa sekalipun. Setelah mendapat pembinaan mereka berani tampil ke depan, berani mengemukakan pendapat apabila ada sesuatu hal yang dibicarakan baik dalam diskusi kelompok sendiri maupun forum- forum lainnya. Hal ini sangat kontradiktif dengan sebelumnya, dimana wanita tani tidak berani bicara apalagi memberikan ide atau pendapat.

Beberapa manfaat yang dirasakan oleh anggota KWT adalah;

(1) terjalinnya silaturahmi antar anggota sendiri maupun anggota KWT lain, (2) Bisa bekerjasama dengan orang lain dalam kelompok, (3) Mengatasi permasalahan bersama/diskusi, (4) Mengisi waku kosong dengan kegiatan bermanfaat /bercocok tanam sayuran, (5) Mengenal orang lain di luar kelompok, (6) Tahu memanfaatkan lahan/pekarangan kosong dengan tanaman, (7) Ajang hiburan untuk masalah pribadi/keluarga, (8) Mendapatkan hal-hal baru/inovasi

(17)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

6 yang selama ini tidak mereka ketahui, (9) Meningkatkan gairah/semangat dalam bekerja, (10) Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dan (10) Berbagi pengalaman/transfer ilmu dan pengalaman.

Selain hal tersebut diatas, dampak pembinaan yang dilakukan oleh BPTP-ACIAR terhadap KWT adalah; (1) mendapatkan bantuan/program dari Pemerintah Daerah, (2) mendapatkan bantuan alat mesin pertanian baik dari perusahaan maupun Dinas/Instansi terkait lainnya, (3) mendapatkan bantuan sarana/alat pengolahan pangan lokal , (4) mampu memproduksi benih beberapa jenis tanaman sayuran yang sering di budidayakan seperti; bayam, sawi, seledri dan slada, (4) berkembangnya usaha simpan pinjam kelompok dan (5) desa menjadi terkenal.

b. Aspek Produksi dan Ekonomi

KWT mulai melaksanakan aktivitas usahatani pada lahan kelompok dengan mempergunakan modal awal yang dialokasikan oleh BPTP-ACIAR melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Dalam praktek bercocok tanam, tidak ada KWT yang mengkhususkan pada satu jenis tanaman saja, akan tetapi mereka mengusahakan berbagai jenis tanaman sayuran yang ditanam secara bergiliran berdasarkan prediksi permintaan pasar dan waktu tanam sepanjang tahun.

Beberapa jenis sayuran yang dibudidayakan adalah; bayam, kangkung, seledri, terong, timun, kacang panjang, slada, cabai merah dan tomat. Namun beberapa KWT juga menanam jagung dan kacang tanah.

Tidak ada penanganan pasca panen khusus untuk semua produksi yang dihasilkan. 10% produksi yang didapatkan untuk konsumsi sendiri dan 90% lainnya di jual. Pendapatan yang diterima dari usahatani kelompok lebih digunakan untuk kebutuhan sehari- hari. Untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar, anggota KWT bercocok tanam sayuran sendiri dengan dibantu keluarga. Untuk

(18)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

7 lebih jelas biaya produksi dan keuntungan yang diperoleh anggota KWT pada setiap jenis tanaman yang diusahakan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis tanaman, biaya produksi dan keuntungan yang diperoleh anggota KWT setiap musim tanam

Jenis Sayuran Biaya rata-rata

(Rp)

Harga Jual rata-rata

(Rp)

Keuntungan (Rp)

Keterangan (Rp)

Kangkung 70,000 240,000 170,000

1x 10m/

bedeng = 3 bedengan

Bayam 50,000 192,000 142,000

Sawi 100,000 240,000 140,000

Seledri 150,000 480,000 330,000

Slada sendok 100,000 500,000 400,000

Slada biasa 100,000 240,000 140,000

Kacang tanah 300,000 500,000 200,000 Luas lahan

1500 m

Jagung 500,000 1,500,000 1,000,000

Timun 350,000 1,000,000 650,000

Sumber : Data Primer Diolah, 2015

Umumnya anggota kelompok tidak beraktivitas maksimal pada saat musim turun ke sawah. Hanya beberapa orang anggota saja yang melaksanakan aktivitas bercocok tanam sayuran pada lahan sendiri.

Pendapatan anggota KWT secara berkelompok antara Rp. 100.000,- sampai Rp.1.000.000,- pertahun. Sedangkan anggota yang juga menanam sendiri memperoleh pendapatan antara Rp. 200.000,- sampai Rp. 300.000,- per bulan. Minimnya pendapatan dalam kelompok tidak menjadi masalah bagi anggota, karena kelompok merupakan tempat untuk belajar bersama. Bahkan permasalahan yang mereka dapatkan pada usahatani sendiri menjadi bahan diskusi dalam kelompok dengan bimbingan PPL terutama yang menyangkut teknis penanganan tanaman yang mereka budidayakan.

Meskipun cuma 10% hasil produksi untuk konsumsi sendiri, akan tetapi memberikan kontribusi yang besar terhadap pengeluaran rumah tangga petani. Umumnya mereka memanfaatkan hasil

(19)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

8 produksi 10% tersebut bukan sekaligus saat panen besar, tetapi berdasarkan kebutuhan sayur keluarga. Seminggu menjelang panen sudah diambil untuk konsumsi sendiri sampai tiga kali. Selain bercocok tanam tanaman sayuran utama untuk dijual, KWT juga memanfaatkan lahan-lahan pinggir untuk ditanami dengan beberapa jenis tanaman sayuran dengan tujuan khusus konsumsi, seperti;

kacang panjang, terung, ubi kayu. Rata-rata anggota KWT bisa menghemat uang untuk membeli sayuran sebesar Rp. 120.000,- per bulan dengan asumsi Rp. 4,000,- pengeluaran per hari. Minimnya penghematan biaya untuk membeli sayuran konsumsi keluarga hasil produksi sendiri terbatas. Hal ini disebabkan mereka merasa bosan makan sayuran yang ditanam sendiri, untuk variasi membeli sayuran lain seperti; wortel, kentang, kol, dan buncis, yang tidak bisa tumbuh di lahan mereka.

Selain bercocok tanam sayur-sayuran, KWT juga membuka usaha simpan pinjam. Usaha simpan pinjam sangat dirasakan manfaatnya oleh anggota. Mereka dapat memperoleh pinjaman dengan cepat tanpa ada administrasi yang sulit selama uang kas tersedia dan cukup untuk dipinjamkan. Besarnya uang yang bisa dipinjamkan kepada anggota setiap KWT bervariasi, antara Rp.

200.000 – 500.000,- dengan pembayaran bunga 10% dari jumlah yang dipinjamkan dalam batas waktu 1 – 6 bulan.

c. Aspek Kesehatan

Meningkatnya budaya makan sayuran dalam keluarga.

Sayuran menjadi salah satu menu utama dalam meningkatkan gizi keluarga. Sayuran yang diproduksi sendiri umumnya meminimalkan pemakaian bahan kimia, bahkan tidak memakai sama sekali.

Kendala Yang Dihadapi

Meskipun dampak yang didapatkan begitu besar, namun KWT yang masih aktif bukan tidak mendapat kendala dalam melaksanakan aktivitasnya.

Kendala terbesar yang mereka hadapi adalah masalah iklim, hama penyakit dan

(20)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

9 harga. Iklim ekstrim baik kemarau panjang maupun curah hujan yang tinggi merupakan ancaman utama dalam budidaya sayuran. Demikian juga dengan serangan hama dan penyakit terutama pada saat musim hujan dan harga yang rendah pada saat panen besar.

PENUTUP

Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang dilaksanakan oleh BPTP Aceh – ACIAR memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap peningkatan kapasitas wanita tani di Provinsi Aceh dari aspek social, ekonomi/produksi dan kesehatan, guna mendukung ketahanan pangan keluarga khususnya dan pembangunan pertanian umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Poerwadaminta, W.J.S. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.

Jakarta.

Sajogyo, P. 1994. Peranan wanita dalam perkembangan ekonomi. Obor. Jakarta Soekanto. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grasindo Persada. Jakarta

Departemen Pertanian. 1977. Pedoman Pembinaan Kelompok Wanita Tani. Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan. Jakarta

(21)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

10 PROYEKSI DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN RADIO REPUBLIK

INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN DALAM KONSTELASI MEA

Gontom C. Kifli1)

1) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat [email protected]

ABSTRAK

Pada era tahun 1980 hingga 1990-an, pola penyuluhan pertanian mendapat dukungan penuh melalui media massa yang bersifat konvergen dan intensif menyampaikan informasi kepada audiens, termasuk petani di dalamnya. Radio Republik Indonesia (RRI) saat itu menjadi salahsatu media komunikasi yang berperan penting di dalam mendukung pembangunan pertanian nasional, namun sejalan gejolak kondisi politik nasional pada tahun 1998 dan berkembang pesatnya media televisi, jumlah pendengar RRI mengalami penurunan secara umum di berbagai daerah. Tujuan dari kajian yang dilakukan adalah 1) menggambarkan dan menjelaskan kondisi umum RRI dalam konteks penyuluhan pertanian saat ini, 2) merancang strategi dalam memberdayakan kiprah RRI secara maksimal dalam pembangunan pertanian dalam konstelasi MEA. Metode kajian yang dilakukan adalah analisis statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa RRI saat ini memiliki potensi aset dan SDM yang tinggi dengan 62 stasiun penyiaran dan 7.600 orang pegawai. Beberapa strategi pengembangan yang dapat ditempuh RRI, khususnya Programa 1, adalah mengintensifkan penelitian atau kajian mengenai aspek penyiaran radio untuk meningkatkan daya saing dalam konstelasi MEA, strategi lainnya adalah mengintensifkan sosialisasi mengenai keberadaan dan program RRI Programa 1 kepada pendengarnya di wilayah perdesaan dan strategi terakhir adalah menambah jam siar dari acara-acara siaran pedesaan pada siang dan sore hari.

Kata kunci: RRI, Pembangunan Pertanian, Aset dan SDM, Strategi pengembangan dan pedesaan.

PROJECTION AND STRATEGY FOR EMPOWERMENT OF RADIO REPUBLIK INDONESIA IN AGRICULTURE DEVELOPMENT IN MEA

CONSTELLATION ABSTRACT

The agriculture extension system have supported by many mass media in the year of 1980 to 1990. Many media inform to audience, especially farmers in converging and intensively. RRI had been important media which played role in agriculture development in that time, but nevertheless the political condition in year of 1998 and the fast growing of TV media made listener of RRI had declined include farmers in rural. It was regrettable when many asset and human resources have not utilized maximally. It is interesting condition to do of research or study. The objectives of study are 1) to describe

(22)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

11 and to explain recently condition of RRI in the context of agriculture development and MEA, 2) to design of strategy for empowerment of RRI in agriculture development in MEA constellation. The Method of study has used by descriptive statistical analysis with quantitative approach. Some results of the study are RRI have great potential in asset and human resources with 62 radio stations and 7.600 persons. Some strategies which can do to develop RRI are to more increase research intensively than now, to more socialize of RRI existence and program, to develop partnership with many institutions and to do some researches or studies and to add airwaves hours of rural or farming program and to invite of qualified speakers of farming radio program.

Keywords: RRI, Agriculture development, Asset and Human resources, Strategy for development and rural.

PENDAHULUAN

Radio Republik Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang seiring dengan masa pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, kemudian turut mengisi masa awal kemerdekaan di era orde lama, yang dilanjutkan dengan kiprahnya di masa orde baru sebagai salahsatu media komunikasi yang menjadi andalan pemerintah saat itu dalam menggemakan gerak pembangunan. Era reformasi bergulir, RRI mengalami dinamikanya hingga saat ini menjadi satu Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) dengan mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran Bab III pasal 14 ayat 2 dengan fungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat. Istilah RRI yang digunakan selanjutnya dalam tulisan ini, yang dimaksud adalah LPP RRI.

RRI pada masa orde baru, sejalan dengan masa revolusi hijau, menjadi salahsatu media komunikasi yang mendominasi di dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, termasuk kelompok masyarakat petani, salahsatunya ditunjukkan jam siar yang intensif memiliki jam siar sebanyak lebih dari 100 jam per minggu yang disiarkan oleh satu stasiun RRI saat itu (Depari dan McAndrews, 1985). Peran RRI saat itu diduga kuat turut memberikan kontribusi di dalam keberhasilan Indonesia dalam capaian swasembada beras pada tahun 1984. Fenomena berikutnya, seiring dengan perjalanan waktu, media komunikasi pada awal tahun 1990-an ditandai dengan munculnya beberapa statsiun televisi swasta yang secara perlahan menggeser

(23)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

12 pola akses masyarakat media komunikasi dari radio ke televisi dengan keunggulan kecepatan informasi dan visualnya. Penetrasi informasi yang diakses oleh petani, menjadi semakin rendah dengan kondisi tersebut.

Kondisi berikutnya yang menggembirakan adalah dengan lahirnya UU RI Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dan perkembangan penyuluhan pertanian setelahnya mengalami perkembangan yang terus membaik, seperti perekrutan penyuluh pertanian yang baru secara bertahap. RRI yang memiliki beberapa kelebihan dan keunggulan-nya memiliki potensi tinggi dalam mendorong aktivitas penyuluhan pertanian melalui beberapa kegiatan dan program-program siarannya, sehingga kondisi tersebut menjadi menarik untuk dilakukan kajian dalam upaya mencari cara yang tepat guna memberdayakan RRI secara maksimal.

Uraian pada pendahuluan menunjukkan adanya permasalahan dalam eksistensi RRI saat ini, maka permasalahan tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut; (1) Bagaimanakah gambaran kondisi umum RRI saat ini dalam konteks pembangunan penyuluhan pertanian? dan (2) Bagaimanakah desain strategi dalam memberdayakan kiprah RRI secara maksimal dalam pembangunan pertanian dalam konstelasi MEA saat ini? Upaya untuk memusatkan hasil penulisan makalah ini, maka dirumuskan tujuan dari kajian ini adalah; (1) Menggambarkan dan menjelaskan kondisi umum RRI saat ini dalam konteks pembangunan penyuluhan pertanian, serta (2) Merancang strategi dalam memberdayakan kiprah RRI secara maksimal dalam pembangunan pertanian dalam konstelasi MEA.

METODE PENELITIAN

Kajian atau studi yang dilakukan, menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan pengambilan data sekunder yang didapatkan dari berbagai sumber yang berkaitan dengan RRI dan penyuluhan pertanian nasional. Data tersebut kemudian diolah, ditransformasi dan diterjemahkan, serta dibahas untuk mendapatkan kesimpulan dan saran atau rekomendasi akhir.

(24)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

13 HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi umum media radio dan RRI saat ini

Media radio masih banyak diakses oleh masyarakat, Pramiyanti dkk (2014) mengungkapkan bahwa kelompok remaja di Kabupaten Bandung sebanyak 15%-nya sering mendengarkan siaran radio melalui media telepon seluler. Media televisi masih menjadi andalan utama bagi para remaja tersebut dalam mengakses informasi dan hiburan, yaitu sebanyak 56,66%, sedangkan sisanya sebesar 43,34% mengaksesnya melalui telepon seluler. Laila (2012) mengungkapkan bahwa radio swasta menjadi andalan masyarakat di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah radio, terutama dalam mendapatkan informasi layanan masyarakat seperti layanan PLN, PDAM, izin usaha dan informasi catatan sipil. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat umum masih memerlukan informasi lokal daerahnya melalui radio, namun RRI belum menjadi acuan utama dalam akses informasi tersebut, sedangkan RRI merupakan media radio yang diandalkan pemerintah dalam mempublikasikan informasi dan aktivitas-aktivitasnya.

Hal yang sedikit berbeda terjadi dari hasil penelitian Ding (2016), yang mengungkapkan bahwa program acara Selamat Pagi Kaltim dari siaran Programa 1 RRI Samarinda telah cukup baik dalam menampung aspirasi dari masyarakat Kota Samarinda dan sekitarnya, Senada dengan hasil penelitian tersebut, Nur dan Pamungkas (2014) mengungkapkan dari hasil penelitiannya bahwa Programa 1 RRI Jayapura masih memiliki pendengar setia, khususnya untuk acara pagi hari dengan kelompok umur kriteria tua, yaitu 45-54 tahun.

Suparman (2011) mengungkapkan dari hasil penelitiannya di 5 kota besar Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar, bahwa sebagian besar pekerjaan dari pendengar RRI Programa 1 adalah wiraswasta, sedangkan Programa 2 adalah mahasiswa dan pelajar. Selain itu RRI masih termasuk ke dalam 5 besar media yang menjadi sumber informasi dan hiburan dari seluruh stasiun radio yang ada di 5 kota besar tersebut. Fahrianoor dkk (2012) mengungkapkan dari hasil penelitiannya di kota Banjarmasin, bahwa dari 5 stasiun radio swasta di Kota Banjarmasin, muatan lokal dari acara kelima stasiun

(25)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

14 tersebut dianggap masih minim atau kecil yaitu rata-rata mencapai 13,7% jam siaran dari seluruh jam siaran.

Harianti dkk (2014) mengungkapkan mengenai pelayanan publik di RRI Yogyakarta secara umum termasuk ke dalam pelayanan yang baik. Satmoko dkk (2007) mengungkapkan bahwa format Majalah Udara dalam Siaran Pedesaan di RRI Semarang yang terdiri dari beberapa sub-format, efektif di dalam menyampaikan informasi kepada para pendengarnya, termasuk para petani. Sanga dkk (2013) mengungkapkan bahwa program siaran radio bagi petani di Tanzania dalam acara Suara Radio Petani (FVR), yang dipadukan dengan kecepatan respon pendengar melalui internet, telah berhasil memperkenalkan teknologi pertanian baru kepada masyarakat petaninya.

Bentley dkk (2007) mengungkapkan bahwa media radio penyuluhan di Bolivia dapat secara serentak mencakup banyak petani dalam menyampaikan informasi tentang teknologi pertanian dibandingkan pertemuan kelompok atau sekolah lapang, namun efektivitas penguasaan informasi dan teknis teknologi tersebut kurang efektif dibandingkan dengan pertemuan kelompok dan sekolah lapang.

Fachry dan Pertamasari (2011) mengungkapkan bahwa media radio kurang efektif di dalam menyadarkan masyarakat nelayan dalam pemeliharaan batu karang di Pangkep Sulawesi Selatan. Beberapa hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa media radio saat ini dengan segala keunggulan dan kelemahannya masih memiliki pangsa pengguna atau peminatnya sendiri, termasuk kelompok para petani di pedesaan. Namun deikian, radio tidak menjadi media pilihan utama masyarakat secara umum dibandingkan media lainnya seperti televisi atau telepon seluler dalam mendapatkan informasi dan sejenisnya.

RRI hingga tahun 2016, tercatat memiliki 62 stasiun penyiaran termasuk Siaran Luar Negeri, serta diperkuat 16 studio produksi serta 11 perwakilan RRI di Luar negeri. RRI memiliki 61 programa-1, 61 programa-2, 61 programa-3, 14 programa-4 dan 7 studio produksi, sehingga secara kuantitas RRI setara dengan 205 stasiun radio saat ini. Sumberdaya Manusia (SDM) di lingkup RRI seluruh Indonesia berjumlah 6.800 orang, yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil

(26)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

15 sebanyak 4.400 dan Pegawai Bukan PNS (PBPNS) atau honorer sebanyak 2.400 orang (http://rri.co.id). Wiratmaja (2015) mengungkapkan bahwa realisasi anggaran RRI yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara pada tahun 2014 mencapai Rp 808.588.687.336,00.

Programa 1 dan Programa 2 umumnya memiliki unit produksi, ruang siaran dan program tersendiri. Program siaran mengenai penyuluhan pertanian umumnya termasuk ke dalam programa 1, sehingga di dalam tulisan ini, pembahasan yang dimaksud mengenai program yang meliputi aspek penyuluhan pertanian, adalah siaran Programa 1 RRI. RRI (2011) mencatat bahwa pada beberapa tahun terakhir, wilayah perbatasan menjadi salahsatu target sasaran RRI dalam meningkatkan pelayanannya, yang salahsatu upayanya adalah dengan mendirikan sedikitnya 14 stasiun di wilayah perbatasan.

Tabel 1. Beberapa unit Programa siaran di RRI

Unit Siaran Visi Program Format Programa

Programa 1 Pusat Siaran Pemberdayaan Masyarakat

Informasi, Pendidikan, Budaya dan Hiburan

Programa 2 Pusat Siaran Kreativitas Anak Muda Musik dan Informasi Programa 3 Pusat Jaringan Berita Nasional dan

Kantor Berita Radio Nasional News and Talk

Programa 4 Pusat Kebudayaan Indonesia Saluran Budaya, Pembangun Karakter Bangsa

Sumber: RRI, 2013

Programa 1 merupakan programa yang dikembangkan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat lokal (Tabel 2). Melalui siaran pemberdayaan, publik didorong agar mampu memanfaatkan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal serta terlibat secara penuh dalam mekanisme produksi, ekonomi, sosial dan ekologi (RRI, 2013). Acara Siaran Pedesaan yang terdapat pada Programa 1 RRI tersebut memiliki durasi siaran selama 6o menit, yang dapat terdiri dari dua sub-program acara seperti Kiprah Desa dan Siaran Pedesaan. Waktu siaran dari program cara Siaran Pedesaan tersebut memiliki alokasi pada waktu malam hari antara jam 19.00 hingga 20.00 WIB.

(27)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

16 Tabel 2. Profil Pendengar dan Program Acara RRI Programa 1

Profil Uraian Keterangan

Visi programa Pusat Siaran Pemberdayaan Masyarakat

Prosil programa Informasi, Pendidikan, Budaya dan Hiburan

Sebutan untuk

pendengar ―Pendengar‖

Pronomina persona

orang ke-dua ―Anda‖ Nara sumber

Waktu Siaran 19 jam 05.00-24.00 WIB

Gender Pria 50%, Wanita 50%

Pendengar utama Berumur 25 – 49 tahun Pendidikan minimal SD

Klasifikasi siaran Informasi dan berita : 35%

Pendidikan dan Kebudayaan : 20%

Iklan dan Pelayanan Masy : 15%

Hiburan dan musik : 30%

Program acara Jelang fajar : 04.30 – 06.00 WIB Pro Aspirasi : 06.00 – 13.00 WIB Music box oldies: 14.00 – 15.00 WIB Gender touch : 15.00 – 16.00 WIB Personal Show : 16.00 – 17.00 WIB Zona petang : 17.00 – 18.00 WIB Siaran Pedesaan : 19.00 – 20.00 WIB Zona Edukasi : 20.00 – 21.00 WIB Music Box : 22.00 – 23.30 WIB Renungan : 23.50 – 24.00 WIB

1) Program acara adalah secara umum, dapat terdiri dari beberapa sub- program acara.

2) Waktu jeda 3 X 60 menit digunakan untuk siaran

langsung relay berita nasional.

Sumber: RRI, 2013

Sasaran pendengar dari Programa 1 apabila diamati masih bersifat umum, belum sepenuhnya tertuju kepada kelompok masyarakat di pedesaan, dengan melihat jam khusus program Siaran Pedesaan yang hanya mendapatkan jam siar selama 60 menit. Jangkauan RRI (RRI, 2015), termasuk di dalamnya adalah programa 1, pada tahun 2010 telah menjangkau atau meliputi 60%

wilayah NKRI, sedangkan data terakhir pada tahun 2015, RRI mengklaim siarannya telah menjangkau 80% dari wilayah NKRI.

B. Strategi pemberdayaan RRI

Beberapa strategi yang dapat ditempuh oleh RRI dalam memberdayakan dirinya, khususnya dalam memberdayakan pada aspek pembangunan pertanian, yaitu strategi pertama adalah pemberdayaan RRI dalam tatanan makro dapat dilakukan dengan lebih mengintensifkan penelitian, kajian atau studi ilmiah

(28)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

17 yang berhubungan langsung dengan kinerja RRI sendiri, termasuk dalam bidang penyuluhan dan pembangunan pertanian di daerah pedesaan. Strategi pemberdayaan yang ke-dua adalah pemberdayaan RRI dalam tatanan meso (menengah) di tingkat daerah atau stasiun daerah dapat dilakukan dengan meningkatkan sosialasi, ekspos atau publikasi RRI kepada kelompok masyarakat sasaran. Kondisi tersebut dilakukan untuk mengingatkan kembali (mengingat ulang) ingatan masyarakat akan keberadaan RRI di masa lalu dan masa kini, selain itu juga memperkenalkan kepada generasi baru yang belum mengenal atau dekat dengan keberadaan RRI, khususnya generasi tua dan generasi muda petani di pedesaan, sehingga kelompok masyarakat tersebut memiliki ketertarikan dan keterikatan kepada program-program siaran RRI, khususnya dalam aspek pembangunan pertanian, khususnya penyuluhan pertanian.

Strategi Pemberdayaan yang ke-tiga adalah pemberdayaan RRI pada tatanan mikro, dengan meningkatkan frekuensi dan kualitas program secara proporsional. Upaya yang dilakukan dapat menambah waktu atau jam program siaran yang menyangkut program pertanian dan aktivitas pertanian, seperti membuat program siaran pedesaan yang telah ada pada waktu pagi hari, siang hari atau sore hari. Kuantitas jam siaran pedesaan saat ini dirasakan masih sedikit (60 menit).

PENUTUP

Beberapa kesimpulan dan sekaligus saran atau rekomendasi sebagai jawaban dari permasalahan dan tujuan penulisan adalah sebagai berikut: RRI memiliki stasiun radio yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di wilayah perbatasan negara, selain itu RRI memiliki aset berupa sarana, prasarana, fasilitas, perlengkapan dan sumberdaya manusia yang cukup lengkap dan mumpuni. RRI masih menjadi salahsatu media rujukan atau acuan bagi pendengar radio dalam mengakses berita dan informasi lainnya, walaupun tidak menjadi media utama yang diakses.

Strategi pemberdayaan yang dilakukan RRI, khususnya Programa 1, dapat dilakukan dengan tiga strategi, yaitu pada tatanan makro (strategi pertama), meso (strategi ke-dua) dan mikro (strategi ke-tiga). Pertama, dengan

(29)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

18 mengintensifkan penelitian atau kajian ilmiah mengenai berbagai aspek penyiaran radio. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing dengan media lainnya, terutama dalam konstelasi MEA. Penelitian dapat dilakukan melalui mekanisme kerjasama dengan mitra RRI, sehingga sumber pembiayaan penelitian dapat ditanggung bersama dengan mitra. Strategi kedua adalah dengan mengintensifkan sosialisasi mengenai keberadaan RRI beserta program-program siarannya. Strategi ketiga adalah dengan menambah jam siaran dari program-program siaran pedesaan pada siang hari dan sore hari, sehingga petani, penyuluh dan warga pedesaan lainnya dapat secara intensif mengakses informasi-informasi mengenai usahatani dan bidang pertanian lainnya, serta mengundang nara sumber yang berkompeten untuk mengisi program siaran pedesaan tersebut, seperti penyuluh, tokoh petani, peneliti dan pengajar/dosen.

DAFTAR PUSTAKA

Bentley, J.E., O. Barea, S. Priou, H. Equise and G. Thiele. 2007. Comparing Farmer Field Schools, Community Workshops, and Radio: Teaching Bolivian Farmers about Bacterial Wilt of Potato, Journal of International Agricultural and Extension Education, Volume 13 Number 3. University of Florida, USA Depari E. dan McAndrews, E. 1985. Peranan Komunikasi Massa dalam

Pembangunan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Ding, A. 2016. Efektivitas Program Siaran Opini Publik ―Selamat Pagi Kaltim‖

Programa 1 RRI Samarinda. e-Journal Ilmu Komunikasi. Volume 4 No.3.

Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Mulawarman. Samarinda

Fachry, M.E dan A. Pertamasari. 2011. Analisis Efektifitas Metode Penyuluhan Pada Masyarakat Pesisir di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jurnal Agribisnis Volume X Nomor 3. Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin, Makasar

Fahrianoor, S. Astuty dan Sarwani. 2012. Identifikasi Program Muatan Budaya Lokal dan Implementasi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran pada Radio Lokal di Banjarmasin. Jurnal Penelitian Pers dan Komunikasi Pembangunan Volume 16 No.2. Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Banjarmasin. Banjarmasin Harianti, N., T. Alhabsy dan Soekarto. 2014. Pengaruh Kualitas Pelayanan

Terhadap Kepuasan Publik di Kantor Radio Republik Indonesia Malang.

Jurnal Kebijakan dan Manajemen Publik Vol. 2, Nomor 1. FISIPOL Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Laila. 2012. Peranan Siaran Radio dalam Penyebaran Informasi Publik. Jurnal Penelitian Pers dan Komunikasi Pembangunan Volume 16 No.2. Balai

(30)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

19 Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Banjarmasin.

Banjarmasin

Nur, T.H.N dan T. Pamungkas. 2014. Pandangan dan Harapan Khalayak Terhadap RRI Jayapura: Sebuah Riset Audiens. Jurnal KomuniTi, Vol VI, No.1 Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta

Pramiyanti, A., L.P. Putri, I.P. dan R. Nureni. 2014. Motif Remaja Dalam Menggunakan Media Baru (Studi Pada Remaja Di Daerah Sub-Urban Kota Bandung). Jurnal KomuniTi, Vol VI, No.2 Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

RRI. 2011. Potret Studio Produksi. Direktorat Program dan Produksi LPP RRI Jakarta

RRI. 2013. Company Profile. LPP RRI, Jakarta

RRI. 2013. Pidato Direktur Utama RRI pada Hari Radio ke-68. Radio Republik Indonesia, Jakarta

RRI. 2014. Nasional: SKP dan RB disosialisasikan, Direksi RRI Targetkan Angkasawan Setara dengan Broadcaster Dunia. http://rri.co.id Tanggal unggah 5 Mei 2014. Tanggal akses 11 Agustus 2016

RRI. 2015. Penyampaian Direktur Utama LPP RRI. Raker Tengah Tahun. Dewan Pengawas RRI. Jakarta

RRI. 2016. Home: Profil Radio Republik Indonesia. http://rri.co.id tanggal akses 11 Agustus 2016.

Sanga, C., V. J. Kalungwizi, and C. P. Msuya. 2013. Building an agricultural extension services system supported by ICTs in Tanzania: Progress made, Challenges remain. International Journal of Education and Development

(31)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

20 EFEKTIVITAS PEMBERDAYAAN PETANI TERNAK MELALUI

PENDAMPINGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA SAPI POTONG DI KABUPATEN TANGERANG

Rika Jayanti Malik1 dan Eko Kardiyanto2 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten Jl. Ciptayasa Km. 01 Ciruas, Serang, Banten 42182

Tlp: (0254) 281055 Fax: (0254) 282507 Email: [email protected] ABSTRAK

Pemberdayaan merupakan proses berkesinambungan yang dilaksanakan untuk mewujudkan kemampuan dan kemandirian individu/kelompok. Tujuan kegiatan yaitu untuk mengetahui efektivitas pemberdayaan petani ternak melalui pendampingan teknologi budidaya sapi potong. Pendampingan dilaksanakan di Desa Cileles Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang pada Pebruari-November 2014. Ruang lingkup pendampingan yaitu pelatihan dan temu lapang tentang teknologi budidaya sapi potong, dan display pemberian pakan tambahan untuk pejantan umur 1-2 tahun. Metode pengumpulan data menggunakan survey dengan teknik wawancara, diskusi dan recording bobot badan ternak. Alat pengambilan data menggunakan kuisioner terstrukur.

Analisis perubahan pengetahuan petani ternak sapi potong diuji menggunakan uji Wilcoxon, perubahan pertambahan bobot badan harian (pbbh) sapi potong dianalisis secara diskriptif (sebelum dan sesudah), dan respon peserta temu lapang dianalisis secara diskriptif. Hasil yang diperoleh meliputi: (1) peningkatan pengetahuan petani ternak (61,44%), (2) peningkatan pbbh sapi potong (41,58%), dan (3) respon peserta temu lapang terhadap teknologi yang ditampilkan menunjukkan kategori puas. Pemberdayaan petani ternak sapi potong efektif melalui pendampingan yang intensif dan berkelanjutan.

Kata Kunci: efektivitas, pendampingan, budidaya sapi ABSTRACT

Empowerment is a continuous process undertaken to realize the capacity and independence of the individual/group. The purpose of this activity is to determine the effectiveness of farmer empowerment through accompaniment cattle farming technology.

Assistance was realized in the village Cileles of the District Tigaraksa Tangerang District on February until November 2014. The scope of the assistance that is training and field days on cattle farming technology, and showing supplementary feeding for bulls that aged between 1-2 years. Data was collected through survey methods by interviewing, discussion and recording animal body weight. Data retrieval tool using a structured questionnaire. Analysis of changes in farmers knowledge of cattle tested using the Wilcoxon test, body weight daily (pbbh) cattle were tested using discriptive analysize (before and after), and field days participants' responses were analyzed descriptively. The results obtained include: (1) increasing knowledge of livestock farmers (61.44%), (2) improvement of beef cattle pbbh (41,58%), and 3) field days participants response to cattle farming technology showing satisfied category. Empowerment of cattle farmers effectively through intensive mentoring and ongoing.

Keywords : effectiveness , assistance , cattle farming

(32)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

21 PENDAHULUAN

Pencapaian swasembada daging dan peningkatan penyediaan pangan hewani yang aman, sehat utuh dan halal merupakan salah satu sasaran yang tercantum dalam Renstra Kementerian Pertanian tahun 2010-2014. Berdasarkan Press Release Konfrensi Pers Direktur Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan (2012), kebutuhan daging sapi dan kerbau untuk konsumsi dan industri sebanyak 484.000 ton. Ketersediaan daging dari sapi lokal 399.000 ton (82,5%), sehingga kekurangannya 85.000 (17,5%) dipenuhi dari impor. Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan produksi daging dalam negeri melalui program swasembada daging sapi/kerbau (PSDSK).

Lokasi pelaksanaan PSDSK, dikelompokkan menjadi dua yaitu 20 provinsi prioritas dan 13 provinsi pendukung. Provinsi Banten merupakan urutan ke-4 penyumbang populasi kerbau secara nasional. Posisi ini menjadikan Banten sebagai provinsi pendukung swasembada daging sapi/kerbau sejak tahun 2011. BPS Banten (2013), populasi kerbau di Banten sebanyak 124.108 ekor.

Sebaran ternak kerbau terbesar di tiga lokasi yaitu: (1) Kabupaten Lebak 44.771 ekor (36,07%), (2) Kabupaten Serang 30.857 ekor (24,86%), dan (3) Kabupaten Pandeglang 29.106 ekor (23,45%). Sedangkan populasi sapi potong sebanyak 55.424 ekor dan sentranya (78,07%) berada di Kabupaten Tangerang (43.270 ekor).

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten mendukung program Kementerian Pertanian melalui pelaksanaan pendampingan program swasembada daging sapi/kerbau (PSDSK) di Provinsi Banten. Pendampingan program dilaksanakan sejak tahun 2011-2014 di Kabupaten Lebak, Serang Pandeglang dan Tangerang. Objek pendampingan adalah peternak dengan tujuan program yaitu meningkatkan produksi ternak. Konsep pemberdayaan diterapkan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya peternak.

Berdasarkan UU No 19 Th 2013 tentang Perlindungan Pemberdayaan Petani, pemberdayaan petani adalah segala upaya untuk meningkatkan kemampuan petani untuk melaksanakan usaha tani yang lebih baik melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil pertanian, konsolidasi dan jaminan luasan

(33)

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

22 lahan pertanian, kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, serta penguatan kelembagaan petani. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberdayaan petani ternak melalui pendampingan teknologi budidaya sapi potong di Kabupaten Tangerang.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan bersamaan dengan pendampingan PSDSK di Desa Cileles Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang pada Februari- November 2014. Sampel penelitian (responden) merupakan sasaran pendampingan yaitu anggota kelompok Bina Karya (20 orang). Kegiatan yang dilakukan meliputi: (1) introduksi teknologi budidaya sapi potong melalui pelatihan pada 18 Juni 2014, (2) aplikasi teknologi pakan melalui pemberian pakan tambahan kepada sapi potong selama 4 bulan (Mei-Agustus 2014), dan (3) temu lapang pada 18 November 2014.

Penelitian menggunakan metode kualitatif survey dengan teknik wawancara, dan diskusi dengan petani ternak dan pencatatan (recording) mengenai status ternak. Alat pengambilan data menggunakan kuisioner terstruktur. Data yang diambil meliputi: (1) tingkat pengetahuan petani ternak sebelum dan setelah pelatihan teknologi budidaya sapi potong, (2) bobot badan ternak yang diukur setiap bulan sekali, (3) respon peserta terhadap teknologi yang ditampilkan dan pelaksanaan temu lapang.

Manurut Satori (2009) bahwa wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan kondisi peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti informasi apa yang akan diperoleh. Sedangkan instrumen pengambilan data yang digunakan memuat pertanyaan-pertanyaan tertulis dengan alternatif jawaban yang telah disiapkan. Hasil wawancara akan memudahkan peneliti mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi.

Data tentang peningkatan pengetahuan petani ternak tentang teknologi budidaya sapi potong diuji menggunakan uji Wilcoxon. Data tentan

Gambar

Tabel  1.  Jenis  tanaman,  biaya  produksi  dan  keuntungan  yang  diperoleh anggota KWT setiap musim tanam
Tabel 1. Data umur, pendidikan, dan kepemilikan ternak peserta pelatihan.
Tabel 4. Pertambahan Bobot Badan Sapi Potong di Desa Cileles  Keterangan  N
Tabel 1.Target Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Tahun 2015
+7

Referensi

Dokumen terkait

PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN PERTANIAN 2015 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA Peningkatan Sinergi dan Inovasi Teknologi Untuk Kedaulatan

Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada ke-47, Panitia menyelenggarakan Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Peternakan

Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada ke-47, Panitia menyelenggarakan Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Peternakan

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Kedaulatan Pangan dan Pertanian yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada di Yogyakarta pada tanggal 6

Jurusan Teknologi Industri Pertanian – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2014 3 Seminar Nasional MEA 2015 “Strategi Pendidikan Teknologi

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Kedaulatan Pangan dan Pertanian yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada di Yogyakarta pada tanggal 6

Informasi yang diperoleh dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Bantul (2012), di Kecamatan Pajangan terdapat sebuah lembaga pertanian

Prosiding Seminar Nasional Pembelajaran Fisika ini berisikan makalah-makalah yang telah disajikan dalam Seminar Nasional Pembelajaran Fisika yang diselenggarakan oleh