SEMINAR NASIONAL
D. Respon Temu Lapang
Peserta temu lapang berjumlah 80 orang, terdiri atas tim pendamping (peneliti/penyuluh) BPTP Banten, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang dan petani ternak sapi potong lingkup Desa Cileles. Teknologi yang ditampilkan dan dievaluasi meliputi: teknologi pengolahan limbah, teknologi pakan ternak, teknologi perbibitan. Setelah pelaksanaan temu lapang, peserta diarahkan untuk mengisi lembar penilaian terhadap teknologi yang ditampilkan.
Kategori penilaian teknologi terbagi menjadi: (1) tidak puas dengan nilai < 6, (2)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
28 cukup puas dengan nilai 7-11, dan (3) puas dengan nilai > 12. Hasil penilian peserta temu lapang dengan nilai rata-rata sebesar 12,72 (puas).
PENUTUP
Pemberdayaan petani ternak melalui pendampingan teknologi budidaya sapi potong Kabupaten Tangerang efektif dengan indikator:
peningkatan pengetahuan petani ternak yang nyata setelah mengikuti pelatihan, peningkatan pbbh sapi potong yang signifikan setelah mendapatkan pakan tambahan, dan peserta temu lapang merasa puas terhadap teknologi yang ditampilkan.
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2013. Banten Dalam Angka 2013. Badan Pusat Statistik Provinsi Banten.
Dirjen PKH dan Keswan. 2012. Press Release Konfrensi Pers Direktur Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Tentang Supply Dan Demand Daging Sapi/Kerbau Sampai Dengan Desember 2012. Jakarta.
Satori D., Aan Komariah. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Alfabeta. Bandung.
Wulanjari M. Eti, Trie Joko Paryono, Nasriati. 2009a. Kajian Peningkatan Pengetahuan Petani melalui Pelatihan Pengembangan Agribisnis Peternakan.
Dalam: Masganti, Suprapto, Akhmad Prabowo, Yulia Pujiharti, Robet Asnawi, Alvi Yani, penyunting. Open House BPTP Lampung. Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Peningkatan Produksi Pertanian Spesifik Lokasi. Bogor.
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
29 PERSEPSI PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN TERHADAP PROGRAM
UPAYA KHUSUS PADI JAGUNG DAN KEDELAI DI KABUPATEN SLEMAN
Ade Intan Christian1, Subejo2, Dyah Woro Untari3
1Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Sekolah Pasca Sarjana, UGM
2Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada [email protected]
ABSTRAK
Upaya peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai dilakukan oleh Kementerian Pertanian melalui UPSUS PAJALE. Kegiatan UPSUS PAJALE melibatkan penyuluh pertanian, Babinsa, dan Mahasiswa pendamping.
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persepsi penyuluh pertanian lapangan terhadap program UPSUS PAJALE dan mengetahui faktor yang mempengaruhi persepsi penyuluh pertanian lapangan terhadap pelaksanaan program UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis melalui survey. Pemilihan responden digunakan metode sensus dan diambil seluruh penyuluh Tanaman Pangan Hortikultura (PNS dan THL-TBPP) di delapan UPT BP3K yang berlokasi di Kabupaten Sleman, dengan jumlah 66 orang. Analisis yang digunakan dalam pengujian data adalah tes proporsi dan regresi linier berganda. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lebih dari 50% penyuluh pertanian memiliki persepsi yang baik terhadap pelaksanaan program UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman.
Sedangkan, persepsi penyuluh pertanian dipengaruhi secara signifikan oleh empat faktor yaitu pengalaman, pengetahuan, pengharapan, dan manfaat.
Kata kunci: Persepsi, Penyuluh Pertanian Lapangan, UPSUS PAJALE, Sleman PENDAHULUAN
Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla menunjukan prioritas dalam jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan, maka dirumuskan sembilan agenda prioritas dalam pemerintahan kedepan.
Kesembilan agenda prioritas itu disebut NAWA CITA (BIPA UMM, 2014).
Upaya mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan nasional, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menyusun dan melaksanakan program Swasembada Padi, Jagung, dan Kedelai. Swasembada tiga komoditas strategis tersebut ditargetkan dapat dicapai pada tahun 2017. Target produksi yang akan dicapai pada tahun 2015 disajikan pada Tabel 1. Angka target peningkatan
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
30 produksi pada tiga komoditas pangan tersebut termasuk sangat tinggi, sehingga diperlukan serangkaian upaya khusus untuk mencapainya. Kementerian Pertanian telah merancang dan menetapkan Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai (UPSUS PAJALE) secara nasional.
Tabel 1.Target Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Tahun 2015
No Komoditas Produksi
(juta ton) Peningkatan (%)
1 Padi 73,4 2,21
2 Jagung 20,3 5,57
3 Kedelai 1,2 26,47
Sumber: Kementerian Pertanian RI, 2015
Selama ini, petani sebagai pelaku utama budidaya pertanian didampingi oleh penyuluh pertanian dalam usaha untuk meningkatkan produksi pangan.
Namun, sejak dua dasawarsa terakhir sistem kelembagaan dan sistem tata kerja penyuluhan pertanian mengalami pola perubahan yang tidak jelas, situasi tersebut tentu berdampak terhadap peran penyuluhan di Indonesia (Subejo, 2013).
Setiap penyuluh akan memberikan makna kepada stimulus dengan cara yang bermacam-macam terhadap pelaksanaan program UPSUS PAJALE.
Menurut Narso (2012) persepsi bersifat individual sehingga meskipun stimulus yang diterimanya sama, tetapi karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda, kemampuan berpikir yang berbeda, maka hal tersebut sangat memungkinkan terjadinya perbedaan persepsi pada setiap individu. Keadaan tersebut dapat terjadi pada penyuluh pertanian.
Persepsi ialah tentang bagaimana individu memahami informasi yang mereka terima atau mendaftar menggunakan indera mereka. (Brehm et al, 1999).
Menurut Umstot (1999) persepsi dipengaruhi oleh tiga faktor yakni obyek, individu, dan situasi. Persepsi dipengaruhi oleh faktor situasi atau konteks dimana proses persepsi itu berlangsung, baik situasi fisik-alam maupun nonfisik atau suasana. Beberapa faktor yang termasuk faktor situasi ini antara lain: faktor ekologis, waktu, suasana (setting), teknologi, dan lingkungan sosial (Riyanto, 2008). Faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain pendidikan dan dengan
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
31 pengalaman masa lalu (Démuth, 2013).
Secara umum terdapat dua faktor yang mempengaruhi terjadinya persepsi seseorang yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal merupakan persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang datang dari luar individu yang meliputi obyek dan faktor situasi. Faktor internal yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang berasal dalam diri individu. Faktor internal persepsi meliputi motif, minat, harapan, sikap, pengetahuan, pengalaman (Siagian, 1996).
Penelitian ini untuk mengetahui tingkat persepsi penyuluh pertanian dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap pelaksanaan program UPSUS PAJALE dilaksanakan di Kabupaten Sleman. Persepsi penting untuk diteliti dikarenakan perilaku penyuluh sangat dipengaruhi oleh persepsinya terhadap suatu obyek, sehingga cara penyuluh mempersepsikan UPSUS PAJALE akan berdampak pada implementasi kegiatan ketika penyuluh melaksanakan tugas pendampingan dan pengawalan program tersebut.
METODE PENELITIAN
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sugiyono (2005) menjelaskan bahwa metode penelitian deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, objek, sistem pemikiran maupun kelas peristiwa pada masa sekarang yang kemudian dibahas secara faktual dan akurat mengenai fakta, sifat, hubungan antara fenomena yang diteliti.
Lokasi penelitian dipilih di Kabupaten Sleman dikarenakan Kabupaten Sleman menjadi salah satu daerah pelaksanaan program swasembada pangan tahun 2015- 2017 melalui UPSUS PAJALE. Berdasarkan data BPS DIY (2014) Kabupaten Sleman memberikan andil 43,50% total produksi padi, 10,45% total produksi jagung, serta 1,96% total produksi kedelai di Daerah Istimewa Yogyakarta
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyuluh pertanian TPH, baik penyuluh THL-TBPP maupun penyuluh PNS yang ikut terlibat di
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
32 dalam program UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman. Penyuluh pertanian tersebut berada dalam 8 UPT BP3K. UPT BP3K Wilayah I, II, III, IV, V, V, VI,VII, DAN VIII. Berdasarkan masing-masing UPT, diambil seluruh populasi penyuluh TPH yakni 66 orang penyuluh.
Penyimpulan hipotesis apakah diterima atau ditolak dilakukan melalui analisis terhadap data yang diperoleh. Analisis dilakukan dengan membuat tabulasi dari data yang telah terkumpul. Setelah itu dilakukan analisis dengan menggunakan beberapa metode yang disesuaikan dengan hipotesis.
1. Pengujian Hipotesis Pertama
Analisis data yang digunakan untuk mengetahui tingkat persepsi penyuluh pertanian terhadap pelaksanaan program swasembada pangan melalui UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman dengan menggunakan uji proporsi sebagai berikut:
a) Hipotesis yang digunakan:
Ho : P≤50%
Ha : P>50%
Dengan pengertian:
Ho : Diduga kurang dari atau sama dengan 50% penyuluh pertanian memiliki persepsi yang baik terhadap pelaksanaan program swasembada pangan melalui UPSUS PAJALE.
Ha : Diduga lebih dari 50% penyuluh pertanian memiliki persepsi yang baik terhadap pelaksanaan program swasembada pangan melalui UPSUS PAJALE.
b) Statistik pengujian dihitung dengan menggunakan rumus:
Zhitung=
Keterangan:
x :jumlah penyuluh pertanian yang memiliki persepsi baik
n :jumlah keseluruhan penyuluh pertanian yang digunakan sebagai responden
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
33 Po : 50%
c) Tingkat signifikansi 0,1 (10%), n=66 d)Kriteria pengujian
Zhitung <Z tabel: Ho diterima, Ha tidak diterima Zhitung >Z tabel: Ho tidak diterima, Ha terima 2. Pengujian hipotesis kedua
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penyuluh pertanian terhadap penyuluh pertanian memiliki persepsi yang baik terhadap pelaksanaan program swasembada pangan melalui UPSUS PAJALE dilakukan.analisis linear berganda.
a) Persamaan regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
Y=A + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + b7X7 + b8X8 + b9X9
Keterangan:
Y : Persepsi penyuluh pertanian A: nilai konstanta
b1-b9 koefisien regresi X1 : umur
X2 : pendidikan X3 : pengalaman X4 : pengetahuan X5 : kebiasaan X6 : sikap
X7 : pengharapan X8 : lingkungan X9 : manfaat
b) Hipotesis yang digunakan
Ho = X1 = X2 = X3 = X4 = X5 = X6 = X7 = X8 = X9
Ha = X1 ≠ X2 ≠ X3 ≠ X4 ≠ X5 ≠ X6 ≠ X7 ≠ X8 ≠ X9
Dengan pengertian:
Ho : Diduga tidak ada pengaruh antara umur, pendidikan, pengalaman, pengetahuan, kebiasaan, sikap, ekspektasi,
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
34 lingkungan dan manfaat dengan persepsi penyuluh pertanian terhadap pelaksanaan program swasembada pangan melalui UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman
Ha : Diduga ada pengaruh antara umur, pendidikan, pengalaman, pengetahuan, kebiasaan, sikap, ekspektasi, lingkungan dan manfaat dengan persepsi penyuluh pertanian terhadap pelaksanaan program swasembada pangan melalui UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman.
HASIL DAN PEMBAHASAN