SEMINAR NASIONAL
A. Peran PMT dalam Membina Gapoktan
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
53 dianalisis menggunakan skala likert dengan memaparkan persentase pencapaian skor maksimum yang menggunakan empat kategori skala sikap. Secara kualitatif pendapat responden yang dikemukakannya juga dianalisis walaupun pendapat tersebut belum tentu mencerminkan sikap yang sesungguhnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sikap merupakan pandangan seseorang terhadap suatu objek yang dihadapinya (Sanafiah, 1982). Berdasarkan skor kumulatif yang diperoleh dari setiap responden pengurus Gapoktan dapat diketahui apakah mereka mempunyai penilaian yang sangat setuju atau tidak setuju terhadap pendampingan yang dilaksanakan oleh PMT. Dua aspek yang berperan penting dalam keberhasilan mengembangkan keuangan Gapoktan dari aspek pembinaan oleh PMT adalah ketrampilan PMT dalam menjalin komunikasi dan memotivasi pengurus Gapoktan, serta ketrampilan PMT dalam membina administrasi keuangan dan mendampingi Gapoktan dalam membuat RUB.
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
54 terletak pada luasnya wilayah kerja mereka (lintas Kecamatan) dengan rata-rata 35 Gapoktan/Desa yang membutuhkan pendampingan PMT. Sedangkan bagi PP lebih kecil cakupan wilayah kerjanya, yaitu antara 1-5 desa yang menjadi wilayah binaan Penyuluh, walaupun idealnya satu desa dikawal oleh seorang penyuluh, namun hal ini masih belum dapat terealisasi. Tabel 1 memperlihatkan jumlah PMT dan jumlah Gapoktan yang menjadi wilayah binaannya.
Tabel 1. Jumlah PMT dan Gapoktan PUAP di Provinsi Jawa Tengah
Sumber Data Primer (2016)
Tabel diatas memperlihatkan luasnya wilayah binaan PMT, secara agregat satu PMT membina 35 Gapoktan yang tersebar di beberapa Kecamatan, sehingga kondisi riil di lapangan terdapat Gapoktan yang tidak mendapatkan kunjungan PMT, apalagi sebagian Gapoktan berlokasi di wilayah yang relatif jauh dari tempat tinggal PMT, berdasarkan pengalaman monitoring tim PUAP Provinsi, jenis Gapoktan tersebut jarang atau bahkan tidak pernah dikunjungi oleh PMT.
Memang perlu strategi pembinaan Gapoktan PUAP untuk lebih efisien dan tetap terpantau perkembangan pengelolaan keuangannya. PMT dan Tim teknis PUAP Kabupaten/Kota merupakan unsur pembina terdekat dalam struktur pembinaan PUAP sehingga kehadirannya sangat berarti dalam mengawasi perkembangan dana BLM-PUAP yang dikelola oleh Gapoktan. Selama ini sebagian PMT menerapkan strategi pembinaannya berdasarkan kedekatan tempat tinggal,
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
55 sedangkan yang lain menerapkan berdasarkan tahun Gapoktan menerima dana PUAP kedua strategi tersebut bergantung pada kearifan masing-masing daerah.
Ketrampilan PMT dalam berkomunikasi dan memotivasi petani memang belum merata, sebagai pendamping Gapoktan dalam urusan pengelolaan keuangan mikro agribisnis, awalnya (tahun 2008) PMT dikontrak oleh Kementerian Pertanian dengan kualifikasi memiliki kemampuan dan pengalaman dalam mengelola keuangan mikro, disamping standar pendidikan formal minimal D3, tetapi mulai tahun 2011 rekruitmen PMT melalui usulan dari tim teknis Kabupaten, dengan harapan PMT dan tim teknis Kabupaten dapat saling sinergi dalam membina Gapoktan. Tim teknis juga memiliki kewajiban untuk mengkoordinasikan pembinaan PUAP kepada PMT dan PP di lapangan, karena secara struktural penyuluh berada dalam koordinasi Dinas Pertanian/Badan Penyuluhan/Kelompok Jabatan Fungsional bergantung kepada kelembagan Kabupaten/Kota masing-masing. Berdasarkan Pedum PUAP (2015) Keterlibatan Penyuluh dan PMT dapat dilihat dalam Tabel 2.
Tabel 2. Tugas Penyelia Mitra Tani (PMT) dan Penyuluh Pendamping (PP) dalam Membina Gapoktan Penerima Dana BLM-PUAP
Penyelia Mitra Tani (PMT) Penyuluh Pendamping (PP) 1. Melaksanakan pertemuan reguler
dengan Penyuluh dan Gapoktan; 1. Melakukan identifikasi potensi ekonomi desa yang berbasis usaha pertanian;
2. melakukan verifikasi awal terhadap RUB dan dokumen administrasi lainnya;
2. memberikan bimbingan teknis usaha gribisnis perdesaan termasuk
pemasaran hasil usaha;
3. melaksanakan pengawalan
pemanfaatan dana BLM PUAP yang dikelola oleh Gapoktan;
3. membantu memecahkan
permasalahan usaha petani/poktan, serta mendampingi Gapokan selama penyusunan dokumen PUAP dan proses penumbuhan kelembagaan;
4. bersama dengan Penyuluh melakukan
pendampingan kepada Gapoktan; 4. melaksanakan pendampingan usaha agribisnis dan usaha ekonomi produktif sesuai potensi desa;
5. bersama dengan Tim Teknis Kabupaten/Kota lainnya
melaksanakan evaluasi pelaksanaan PUAP tahun sebelumnya dan membuat laporan tentang
5. membantu memfasilitasi kemudahan akses terhadap sarana produksi, teknologi dan pasar;
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
56 Penyelia Mitra Tani (PMT) Penyuluh Pendamping (PP) perkembangan pelaksanaan PUAP;
dan
6. melaksanakan fungsi pendampingan bagi Gapoktan PUAP yang telah berhasil meningkatkan kinerja usaha dan jumlah dana keswadayaan sehingga tumbuh menjadi lembaga ekonomi petani atau Lembaga
Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).
6. memberikan bimbingan teknis dalam pemanfaatan dan pengelolaan dana BLM PUAP 2015 bersama dengan PMT; dan
7. membantu Gapoktan dalam membuat laporan perkembangan pelaksanaan PUAP.
Sumber: Pedum PUAP (2015)
Tugas dan fungsi PMT dan PP apabila dicermati menuntut kekompakan dalam melakukan pembinaan di lapangan, namun sering terjadi benturan dalam pelaksanaannya, mengingat honor pendamping PMT dan PP (terutama Tenaga Harian Lepas (THL)-Penyuluh Pertanian) tidak sama, lebih besar PMT dibandingkan dengan THL-PP sehingga sering terjadi kecemburuan dalam melakukan tugasnya. Hal ini biasanya dipicu oleh ketidak hadiran PMT secara periodik di lapangan, permasalahan lainnya PMT sering berganti tiap tahun karena mereka tidak memperpanjang kontraknya, akibatnya koordinasi dengan PP mengalami hambatan yang sebelumnya sudah terjalin harmonis. Dengan demikian diperlukan ketrampilan antar pendamping (PMT-PP-Tim Teknis- Gapoktan) dalam menjalin komunikasi.
Ketrampilan PMT dalam berkomunikasi dan memotivasi Gapoktan merupakan parameter kemajuan Gapoktan dalam mengelola permodalan.
Penyaluran dana BLM PUAP yang dikoordinasikan oleh pengurus Gapoktan/manager LKM-A kepada kelompoktani yang bergabung atau petani anggota prosedurnya harus melalui rekomendasi PMT, sehingga proses penyaluran dan pengembalian dana sampai kepada perguliran dana berikutnya akan selalu diawasi secara ketat oleh PMT. Pelaksanaan ini menuntut ketrampilan PMT dalam berkomunikasi dan memotivasi pengurus Gapoktan.
Tabel 3 menginformasikan pernyataan sikap pengurus Gapoktan terhadap PMT dalam mendampingi petani di lapangan.
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
57 Tabel 3. Pernyataan Sikap Pengurus Gapoktan terhadap PMT pada
Aspek Komunikasi dan Memotivasi Petani
Sumber: Data Primer (2015)
Data yang ditampilkan pada Tabel 3 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden setuju (75,47%) tentang strategi atau teknik berkomunikasi dan memotivasi pengurus Gapoktan dalam mengembangkan keuangan mikro. Gapoktan masih memerlukan dan mengharapkan kehadiran PMT dan PP dalam mengembangkan dana PUAP serta penguatan kelembagaan petani.
Kelemahan Gapoktan dalam mengelola dana PUAP terletak pada ketersediaan sumberdaya trampil di desa, terutama dalam aspek administrasi keuangan dan pembuatan rencana usaha bersama (RUB) sebelum dana PUAP dimanfaatkan oleh petani anggota. Proses penyalurannya melalui Rencana Usaha Anggota (RUA ) - Rencana Usaha Kelompok (RUK) - Rencana Usaha Bersama (RUB). Belum seluruh Gapoktan mematuhi tahapan tersebut, bergantung kepada kehadiran pendamping dalam membina proses pembuatan RUB. Sehingga frekuensi kehadiran PMT dan intensitas pembinaan penyuluh menjadi ukuran kualitas kredit yang disalurkan kepada anggota kelompok.
Tabel 4 adalah hasil pernyataan sikap pengurus Gapoktan terhadap PMT pada aspek pembinaan administrasi dan pembuatan RUB.
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
58 Tabel 4. Pernyataan Sikap Pengurus Gapoktan terhadap PMT pada Aspek
Administrasi dan Pembuatan RUB
Sumber: Data Primer (2016)
Tabel 4 menggambarkan bahwa sebagian besar pengurus Gapoktan setuju (66,04%) apabila PMT selalu mendampingi Gapoktan dalam membuat laporan perkembangan keuangan, hanya 16,98% Gapoktan yang menyatakan kurang setuju. biasanya pada kelompok Gapoktan ini yang kurang dikunjungi oleh PMT atau kurang respon kepada kehadiran PMT karena buruknya pengembalian pinjamannya, sehingga mereka tidak ingin diketahui atau mendapat campur tangan dari PMT. Beberapa kejadian di langan pengurus dan pamong desanya ikut memanfaatkan dana PUAP tetapi belum melunasi pinjamannya.
Pada kelompok Gapoktan yang menyatakan sangat setuju (16,98%) dengan kehadiran PMT dapat dipastikan bahwa pengelolaan keuangannya baik dan dikelola dengan SDM yang mumpuni, sehingga tingkat kemacetan atau NPLnya rendah (dibawah 15%), menurut ukuran koperasi LKM kemacetan 15%
masih pada batas toleransi. Salah satu penciri Gapoktan baik perkembangan dana PUAPnya biasanya ditandai dengan potensi sumberdaya alamnya baik, yaitu menghasilkan komoditas pertanian yang diminati, serta dengan pengelolaan yang profesional, seperti terdapat di Kabupaten Magelang.
Kabupaten tersebut mempunyai produk unggulan salak pondoh yang diminati oleh masyarakat dan diekspor ke luar negeri dengan harga yang tinggi.
PENUTUP
Kemampuan pengurus Gapoktan dalam membuat laporan keuangan dan merencanakan usaha agribisnis merupakan kontribusi dari peran PMT dan PP
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
59 dalam membina Gapoktan. Intensitas kehadiran PMT merupakan indikator meningkatnya kemampuan Gapoktan dalam mengelola administrasi keuangan.
Gapoktan menyatakan setuju dengan cara PMT berkomunikasi dan memotivasi petani. Demikian juga pada aspek pembinaan administrasi dan membantu membuat RUB, petani memberikan pernyataan setuju. Sehingga aspek komunikasi, motivasi, administrasi, dan membantu dalam pembuatan RUB merupakan indikator keberhasilan PMT dalam menentukan kualitas kerdit dana BLM-PUAP yang dikelola oleh Gapoktan/LKM-A.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan M.A, dan F. Furywardhana. 2006. Evaluasi Non Performing Loan (Npl) Pinjaman Qardhul Hasan (Studi Kasus di BNI Syariah Cabang Yogyakarta)JAAI Volume 10 No. 2, Desember 2006: 155 – 171
Kementerian Pertanian. (2015). Pedoman Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Tahun 2015. Bogor: Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian.
Kementerian Pertanian. (2016.) Pedoman Teknis Penyelia Mitra Tani (PMT) Tahun 2016. Bogor: Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian.
Levis, L.R. (2013). Metode Penelitian Perilaku Petani. Yogyakarta: Seminari Tinggi Ledalero.
Sanafiah, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
60 TINGKAT PENGETAHUAN WANITA TANI MENGENAI MENU GIZI
SEIMBANG KOTA SAMARINDA
(Studi Kasus Pada Rumah Tangga Kelompok Wanita Tani) Dina Lesmana1 dan Alfa Raudah2
Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman ABSTRAK
Pengetahuan mengenai gizi seimbang merupakan satu unsur penting untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan untuk mengkonsumsi pangan sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ibu rumah tangga tentang menu gizi seimbang terkait dengan profesi mereka sebagai anggota kelompok wanita tani sayuran dan mengetahui bagaimana penerapan penganekaragaman pangan pada rumah tangga petani sayur.
Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan pada dua kelompok wanita tani sayuran yang terdapat di Kelurahan Lempake Jaya Kecamatan Samarinda Utara yang ditentukan secara purposive. Penentuan responden dilakukan dengan metode sampel jenuh (sensus) dengan responden adalah seluruh anggota pada kelompok wanita petani sayur dengan jumlah 28 responden.
Metode yang digunakan adalah survei dengan menggunakan kuisioner. Data dianalisis secara deskriptif, untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai menu gizi seimbang pada rumah tangga petani sayur yang juga merupakan anggota KWT menggunakan skala Likert dengan 10 indikator pedoman gizi seimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total skor rata-rata 10 indikator pedoman menu gizi seimbang adalah 138,96 (dari skor miminal 57 dan skor maksimal 171) yang artinya tingkat pengetahuan wanita tani mengenai menu gizi seimbang pada rumah tangga petani sayur termasuk pada kategori ‗tinggi‖
namun untuk penerapan penganekaragaman pangan masih dalam kategori kurang.
Kata Kunci: Tingkat pengetahuan wanita tani, pedoman menu gizi seimbang,
PENDAHULUAN
Penduduk Indonesia masih mengalami berbagai masalah gizi seperti masalah gizi kurang, gizi ganda, dan gizi tidak seimbang. Hasil kajian ilmiah Riskesdas 2013, menunjukkan bahwa perhatian masalah gizi ganda perlu ditingkatkan melalui upaya perubahan perilaku gizi masyarakat kearah perilaku gizi seimbang. Menurut Djafar (2015), untuk meningkatkan pemahaman kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan, perlu disosialisasikan perilaku sehat bagi seluruh lapisan masyarakat berdasarkan 4 pilar prinsip yaitu:
konsumsi anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
61 mempertahankan berat badan normal, yang diwujudkan dalam bentuk Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).
Perilaku buruk dalam menjalankan Menu Gizi Seimbang akan berdampak pada menurunnya status gizi dan jangka panjang akan berpengaruh pada keadaan fisik dan kesehatan (Novitasari, 2009). Bila asupan zat gizi kurang maka akan mengganggu para petani dari segi fisik yaitu menjadi lemah dan tidak bertenaga. Penggunaan PGS merupakan cara termudah untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi setiap hari. Tujuan mendasar pembuatan Pedoman Gizi Seimbang yaitu sebagai suatu informasi untuk memenuhi asupan gizi yang dibutuhkan tubuh setiap harinya. Setiap tubuh dan aktivitas yang dilakukan memerlukan gizi yang berbeda-beda. Sehingga Pedoman Gizi Seimbang dapat digunakan selanjutnya untuk merencanakan asupan makan sehari-hari guna meningkatkan kebutuhan energi.
Berdasarkan pesan pada Pedoman Gizi Seimbang, ada sepuluh pesan yang digunakan sebagai indikator seperti Mensyukuri dan menikmati anekaragam makanan, Memakan sayur dan buah-buahan yang cukup, Mengkonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi, Mengkonsumsi anekaragam makanan pokok, Membatasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak, Membiasakan sarapan, Meminum air putih yang cukup dan aman, Membaca label pada kemasan pangan, Mencuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir, Beraktivitas fisik yang cukup. Indikator tersebut digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan rumah tangga tani terhadap menu gizi seimbang yang dibagi dalam tiga kelas yaitu rendah, sedang dan tinggi. Petani adalah pelaku utama yang sangat penting untuk dapat menjalankan bidang pertanian khususnya dalam kegiatan usahatani. Kegiatan yang dilakukan petani setiap hari memerlukan energi yang cukup untuk beraktivitas. Energi yang cukup di dapat dari asupan makanan yang dikonsumsi setiap hari yaitu makanan yang sehat dan bergizi. Namun pengetahuan setiap petani tentang pangan yang baik dan sehat untuk dikonsumsi berbeda-beda sehingga dibutuhkan pengetahuan yang lebih tentang pangan agar asupan gizi yang
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
62 dibutuhkan para petani dapat terpenuhi. Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca indranya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (beliefs) takhyul (supersition) dan penerangan-penerangan yang keliru (misinformation). Pengetahuan ibu rumah tangga tani sayur tentang pemilihan makanan yang terbaik untuk mencapai hidup yang sehat dipengaruhi oleh bebrapa faktor antara lain, ekonomi, sosial, budaya, dan kondisi kesehatan.
Pengetahuan gizi merupakan salah satu unsur penting untuk meningkatkan status gizi masyarakat jangka panjang (Babys dkk, 2013).
Sayuran adalah bahan pangan yang menjadi syarat untuk memenuhi menu gizi seimbang setiap hari sehingga perlu adanya pengkajian terhadap tingkat pengetahuan yang dimiliki petani tentang menu gizi seimbang sehingga dapat dilakukan penyampaian kepada petani. Melalui sosialisasi dan penyampaian pesan-pesan gizi yang praktis akan membentuk suatu keseimbangan bangsa antara gaya hidup dengan pola konsumsi masyarakat.
Pola konsumsi masyarakat dengan tujuan akhir yaitu tercapainya status gizi masyarakat yang baik. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan menu gizi seimbang pada rumah tangga petani sayur dan Bagaimana penerapan penganekaragaman pangan untuk memenuhi menu gizi seimbang pada rumah tangga petani sayur
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan studi kasus pada KWT di Kelurahan Lempake yang merupakan petani sayur. Pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data dilaksanakan sejak bulan Pebruari sampai April 2016. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk menjangkau fakta yang terjadi di lapangan melalui kunjungan dan wawancara langsung. Metode penarikan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah metode sensus. Pengukuran pengetahuan dilakukan dengan seperangkat kuesioner tentang objek pengetahuan terhadap 10 pesan umum dalam Pedoman Gizi Seimbang (UU No. 41 Thn 2014 tantang Pedoman Gizi Seimbang) dengan parameter pengetahuan dan tingkat penerapan penganekaragaman pangan : Rendah, Sedang dan Tinggi.
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
63 HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden