SEMINAR NASIONAL
A. Karakteristik Wilayah dan Responden
Kelompok Bina Karya terletak di Desa Cileles Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang. Berdasarkan data yang tercantum dalam Profil Desa (2012), luas wilayah Desa Cileles 578,32 ha dengan mayoritas penggunaannya adalah tanah sawah 348,56 ha (60,3%). Jumlah penduduk 7.117 orang terdiri dari laki-laki 3.411 orang (47,93%) dan perempuan 3.706 orang (52,07%). Mata pencaharian penduduk mayoritas laki-laki bekerja sebagai petani dan buruh tani (869 orang), sedangkan perempuan sebagai karyawan perusahaan swasta sebanyak 730 orang.
Kelompok Bina Karya terbentuk tahun 2010 dengan anggota berjumlah 20 orang (laki-laki) mayoritas sebagai petani. Kisaran umur 21-70 tahun dengan pendidikan mulai tidak sekolah hingga lulus perguruan tinggi. Keberagaman umur dan latar belakang pendidikan tentunya menjadi peluang bagi kelompok Bina Karya mandiri dan maju. Pendidikan baik formal maupun informal merupakan sarana belajar untuk meningkatkan pengetahuan, yang selanjutnya akan menanamkan pengertian sikap dan mempengaruhi kemampuan petani untuk dapat bertindak yang lebih rasional sehingga semakin tinggi penerimaannya terhadap suatu inovasi (Suharyanto, dkk. 2006).
Sistem pemeliharaan sapi potong secara intensif dalam kandang koloni.
Kisaran kepemilikan ternak 1-6 ekor/KK. Pakan yang diberikan berupa rumput lapang dan jerami padi (tersedia setelah panen). Sistem perkawinan menggunakan campuran inseminasi buatan (IB) dan alam. Berdasarkan laporan pendampingan PSDSK di Provinsi Banten, Malik dkk (2014) melaporkan bahwa keberhasilan IB di kelompok Bina Karya mencapai 58,33%.
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
24 B. Tingkat Pengetahuan Responden
BPTP Banten berupaya meningkatkan petani ternak melalui pelatihan.
Pelaksanaan pelatihan mempertimbangkan karakteristik individu petani ternak meliputi umur, pendidikan dan kepemilikan ternak (Tabel 1). Pelatihan merupakan metode alih inovasi yang komunikasinya secara langsung. Petani dan sumber informasi dapat berdiskusi, bertukar pikiran dan pengalaman tentang berbagai aspek berkaitan dengan teknologi (Paryono dkk, 2004).
Sedangkan tujuan pelatihan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan peserta agar mampu megadopsi teknologi dan mendiseminasikan teknologi yang diajarkan (Wulanjari dkk, 2009a).
Tabel 1. Data umur, pendidikan, dan kepemilikan ternak peserta pelatihan.
Karakteristik Jumlah Peserta (Orang) Prosentase (%) Kategori Umur
Muda (20-36 th) 7 35
Dewasa (37-53 th) 10 50
Tua (54-70 th) 3 15
Jumlah 20 100
Kategori Pendidikan
Rendah (SD/sederajat) 14 70
Sedang (SLTP/sederajat) 4 20
Tinggi (SLTA/sederajat) 2 10
Jumlah 20 100
Kategori Kepemilikan Ternak
Sedikit (1-2 ekor) 11 55
Sedang (3-4 ekor) 5 25
Banyak (5-6) ekor 4 20
Jumlah 20 100
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Pada Tabel 1 diketahui bahwa usia termuda 20 tahun dan tertua 70 tahun.
Mayoritas umur peserta pelatihan kategori dewasa (50%), sehingga harapannya usia produktif mampu mewujudkan proses diseminasi yang efektif. Idealnya usia seseorang berkaitan erat dengan kemampuan fisik/panca indera dalam menerima dan menerapkan materi. Kapasitas belajar seseorang akan meningkat sampai dengan usia dewasa dan mulai menurun dengan bertambahnya usia (Slameto, dkk. 2014).
Tabel 1 menginformasikan mayoritas pendidikan peserta pelatihan kategori rendah (SD/Sederajat) sebesar 70% (14 orang). Tingkat pendidikan formal berhubungan dengan tingkat pemahaman peserta pelatihan terhadap
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
25 ilmu yang diperoleh. Semakin tinggi jenjang pendidikan dan bobot kurikulum yang ditempuh dalam pendidikan formal memungkinkan seseorang lebih tinggi tingkat pengetahuannya. Sehingga idealnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula kemampuan menerima dan menelaah informasi yang diterimanya (Sulistiyono L dkk, 2008).
Kepemilikan ternak anggota kelompok Bina Karya (Tabel 1) didominasi kategori sedikit 1-2 ekor/KK (55%). Rata-rata kepemilikan ternak 2,9 ekor/KK.
Sejalan dengan penelitian Wulajari, dkk (2009b) bahwa rata-rata kepemilikan ternak petani di Kabupaten Temanggung sebesar 2,93 ekor/orang. Peserta pelatihan yang memelihara ternak semakin termotivasi untuk mengikuti pelatihan dan memperoleh ilmu. Karena setelah pulang pelatihan peserta dapat mempraktikkan langsung pada ternak mereka.
Parameter tingkat pengetahuan peserta pelatihan yaitu nilai yang diperoleh dari hasil sebelum (pre test) dan setelah (post pest) pelatihan. Selisih nilai menunjukkan ada tidaknya peningkatan pengetahuan peserta pelatihan.
Komponen yang dinilai dalam teknologi budidaya sapi potong meliputi ciri-ciri bibit yang baik, sistem reproduksi, manajemen perkawinan, sistem pemeliharaan dan pakan. Adapun nilai pre test, post test dan selisih nilai peserta pelatihan ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Pres Test dan Post Test dan Peserta Pelatihan Teknologi Budidaya Sapi Potong
Jumlah Peserta (orang)
Rata-rata nilai Pre test Rata-rata nilai post test Selisih
20 10,45 27,10 16,65
Peningkatan pengetahuan (%) 61,44
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Anggota kelompok Bina Karya 100% mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti pelatihan (Tabel 2) sebesar 61,44%. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pelatihan memiliki kontribusi positif terhadap perubahan pengetahuan peserta. Peningkatan pengetahuan peserta pelatihan selanjutnya dianalisis dengan uji Wilcoxon untuk mengetahui signifikan tidaknya peningkatan pengetahuan tesebut (Tabel 3).
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
26 Tabel 3. Hasil Uji Wilcoxon Signed Ranks Test
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
Postest – Pretest Negative Ranks 0a .00 .00
Positive Ranks 20b 10.50 210.00
Ties 0c
Total 20
a. Postest < Pretest b. Postest > Pretest c. Postest = Pretest
Test Statisticsb
Postest – Pretest
Z -3.926a
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test
Hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon menerangkan bahwa keseluruhan peserta pelatihan 20 orang memiliki nilai post test lebih tinggi dibanding pres test (20b). Nilai Z kurang dari Asymp. Sig. (2-tailed) (-3,96 < 0.000) menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan peserta pelatihan yang nyata setelah mengikuti pelatihan.
Peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan menjadi salah satu indikator pelatihan yang efektif. Pelatihan yang efektif merupakan salah satu metode pemberdayaan petani ternak. Berawal dari peningkatan pengetahuan diharapkan mampu membangkitkan motivasi untuk menerapkan teknologi sehingga usaha ternak menjadi lebih maju. Sama halnya dengan komoditas yang lain, Kuntarningsih Apri dan Joko Mariyono (2016) menyatakan bahwa pelatihan berperan dalam peningkatan sumber daya manusia dan berpengaruh terhadap peningkatan produksi tanaman.