KARYA ILMIAH TERAPAN
OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT KESELAMATAN DIRI UNTUK MENIMALISIR RISIKO KECELAKAAN
DIATAS KAPAL X
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Program Studi
Diploma III Studi Nautika
Disusun Oleh :
UUN NANDA WICAKSONO NRT : 22.10.21.044
PROGRAM STUDI DIPLOMA III NAUTIKA POLITEKNIK PELAYARAN BANTEN
TANGERANG 2024
OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT KESELAMATAN DIRI UNTUK MENIMALISIR RISIKO KECELAKAAN
DIATAS KAPAL X
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Ahli Madya Transportasi (A.Md. Tra)
Disusun oleh :
UUN NANDA WICAKSONO NRT. 22.20.21.044
PROGRA STUDI DIPLOMA III NAUTIKA POLITEKNIK PELAYARAN BANTEN
TAHUN 2024
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Uun Nanda Wicaksono
NRT : 22.10.21.044
Program Studi : Diploma III Studi Nautika Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul:
OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT KESELAMATAN DIRI UNTUK MENIMALISIR RISIKO KECELAKAAN DIATAS KAPAL X Dengan ini saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam karya ilmiah terapan ini benar-benar karya sendiri. Saya tidak melakukan
penjiplakan/ pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan, baik sebagian atau seluruhnya.Pendapat atau temuan orang lain yang terdapa dalam karya ilmiah terapanini dikutip atau dirujuk
berdasarkan kode etik ilmiah. Atas pernyataan ini,saya siap menanggung risiko/ sanksi apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran etika keilmuan atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Tangerang, 1 April 2024 Yang membuat peryataan
Uun Nanda Wicaksono NRT. 22.10.21.044
PERSETUJUAN PEMBIMBING KARYA ILMIAH TERAPAN
Karya Ilmiah Terapan dengan judul:
“OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT KESELAMATAN DIRI UNTUK MENIMALISIR RISIKO KECELAKAAN DIATAS KAPAL X”
Nama Peserta : Uun Nanda Wicaksono
NRT : 22.10.21.044
Program Studi D III : NAUIKA
Telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang hasil Karya
Ilmiah Terapan
Tangerang,1 April 2024
Pembimbing I Pembimbing II
(ASTRI KUSTINA DEWI, S.ST., M.Si) (PRAMUDYASARI NUR BINTARI, M.Pd.) NIP. 19861226 201902 2 002 NIP. 19900629 202012 2 003
HALAMAN PENGESAHAN KARYA ILMIAH TERAPAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan yang maha Esa. Berkat rahmat dan anugerah-Nya tugas penelitian dengan judul “Optimalisasi Penggunaan Alat Keselamatan Diri Untuk Menimalisir Resiko Kecelakaan Diatas Kapal. Dapat diselesaikan dengan baik.
Maksud dan tujuan penelitian ini adalah sebagai pesyaratan untuk kelulusan dalam bidang Nautika dan sebagai tugas akhir (semester VI) Program Diploma III di Politeknik Pelayaran Banten.
Dalam penulisan Karya Ilmiah Terapan ini penulis mencoba
memaparkan kenyataan yang ada kaitannya dengan teori-teori yang ada dalam beberapa buku referensi dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan sedikit pemikiran untuk
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sesuai kemampuan dan pengetauhan yang ada, pada saat berlangsungnya pendidikan program diploma III Nautika.
Besar harapan penulis, agar Karya Ilmiah Terapan ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah referensi, mencegah serta mengatasi masalah yang terjadi diatas kapal. Melalui halaman kata pengantar ini penulis tidak lupa mengucapkan banyak
terimakasih kepada yang penulis sangat hormati:
1 .
Tuhan Yang Maha Esa.
2 .
Capt. SEMUEL PALEMBANGAN, M.T., M.Mar. selaku Direktur Politeknik Pelayaran Banten.
3 .
VIDIANA ANGGERANIKA, S.Si.T., M.M.Tr selaku Ketua Jurusan Nautika.
4 .
ASTRI KUSTINA DEWI, S.ST., M.Si selaku Dosen
Pembiming Materi yang telah memberikan pengarahan serta bimbingannya hingga terselesaikannya Karya Ilmiah Terapan
ini.
5 .
PRAMUDYASARI NUR BINTARI, M.Pd. Dosen Pembimbing Penulisan yang telah juga memberikan pengarahan serta bimbingannya hingga terselesaikan Karya Ilmiah Terapan ini.
6 .
Ibu, Ayah, Adik, dan Kerabat yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual kepada penulis selama menyusun Karya Ilmiah Terapan ini.
7 .
Para Dosen dan Civitas Akademika Politeknik Pelayaran Banten.
8 .
Seluruh taruna-taruni angkatan XIII yang selalu memberikan dukungan dan kerja sama.
9 .
Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tugas Karya Ilmiah Terapan (KIT) ini yang penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu.
Demikian, semoga penelitian ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat meningkatkan performa Pelayaran Indonesia
Tangerang, 1 April 2024
Penulis
ABSTRAK
ABSTRACT
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Transportasi mempunyai pengaruuh besar terhadap perorangan, masyarakat, pembangunan ekonomi, dan sosial politik suatu Negara.
Dalam perkembangannya, transportasi laut juga merupakan salah satu sarana perhubungan dalam membina hubungan kerjasama antar Negara dalam tukar-menukar teknologi dan perekonomian.
Transportasi laut juga dapat dijadikan sebagai iedntitas diri suatu Negara yang dikatakan maju di dalam perekonomiannya apabila memiliki sistem transportasi laut yang baik.
Dalam dunia usaha kemaritiman semua perusahaan pelayaran selalu mengharapkan agar setiap kru yang bekerja diatas kapal dapat bekerja dengan baik, dan mengetauhi risiko yang
kemungkinan terjadi apabila bekerja tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Data Komite Nasioanl Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat kasus kecelakaan laut dari tahun 2019-2023 masing masing-masing adalah 23 kasus, 12 kasus, 19 kasus, 13 kasus, dan 7 kasus.
Kecelakaan kerja di atas kapal dapat mengancam keselamatan jiwa, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan yaitu faktor alam, faktor teknis dan faktor non teknis. Faktor alam merupakan faktor yang sangat sulit untuk di prediksi kejadiannya karena tergantung dengan kejadian alam yang berakibat fatal. Faktor teknis merupakan alat atau mesin yang digunakan untuk operasioanl kegiatan, kondisi peralatan dan sanitasi lingkungan tempat bekerja seperti ventilasi, pencayahaan dan kebisingan di tempat kerja.
Didalam pengoprasian alat-alat diatas kapal yang memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi terhadap keselamatan awak kapal,
maka sangat di perlukan penggunaan alat pelindung diri (APD) sebagai tindakan prokteksi dini terhadap bahaya kecelakaan dengan demikian tingkat kecelakaan kerja di atas kapal dapat di minimalisir.
Faktor non teknis menyangkut kebijakan yang berupa peraturan, Standar Operasional Prosedur (SOP) dan sumber daya manusia.
Faktor manusia ini yang paling berisiko menimbulkan kecelakaan dalam bekerja karena menyangkut kedisiplinan, kemampuan, keterampilan, pengetauhan, dan sanksi.
Upaya pemahaman tentang keselamatan selalu ditingkatkan dari segi pemahaman mauapun segi keahlian dengan cara melakukan weekly inspection maupun meeting tools sebelum bekerja agar para kru kapal semakin terbiasa dalam menggunakan alat-alat
keselamatan. Sejauh ini masih ditemukan bahwa kru kapal hanya sekedar tanggung jawabnya saja tanpa memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang sekitarnya. Dengan ditemukan kru kapal mengabaikan SOP.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia celaka adalah (selalu) mendapatkan kesulitan, kemalangan, kesusahan, dan sebagainya, Malang; sial, dan kecelakaan adalah kejadian (peristiwa) yang menyebabkan orang celaka. Thomas Miller P & I Club di Inggris menemukan bahwa 90% kecelakaan disebabkan oleh ulah manusia.
Penyebabnya adalah kecerobohan kru kapal melalui perawatan kapal yang kurang maksimal, pemberian izin muatan yang berlebihan, tingkat kepercayaan diri terlalu tinggi, kurangnya
pengalaman, dan kurangnya taat para kru kapal terhadap prosedur keselamatan yang ditetapkan.
International maritime organitation (IMO) menekankan kepada seluruh perusahaan Internasional untuk lebih memperhatikan keselamatan para kru kapal. Adapun peraturan yang mengatur tentang keselamatan adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 1 tentang keselamatan kerja (1970) 2. Undang-Undang nomor 17 tentang pelayaran (2008)
3. Peraturan materi perhubungan nomor 46 tentang manajemen keselamatan kapal (2012)
4. International safety management code (ISM CODE), tentang manejemen Internasional untuk keselamatan pengoprasian kapal
5. Collision regulation, tentang kewajiban setiap awak kapal untuk berupaya menjaga keamanan dan keselamatan (1972) 6. Safety of life sea (SOLAS) mengatur tentang persyaratan
keselamatan di atas kapal (1974)
Peraturan ini ditunjukan kepada seluruh perusahaan pelayaran khususnya para kru kapal, agar lebih emahami dan mengerti tentang keselamatan saat bekerja di atas kapal, serta dapat menimalisir jumlah korban akibat kecelakaan.
Terjadinya kecelakaan kerja merupakan suatu bentuk kerugian baik bahi korban kecelakaan maupun bagi perusahaan tempat bekerja.
Upaya pencegahan kecelakaan kerja sangat diperlukan untuk
menghindari kerugian-kerugian yang timbul serta untuk meningkakan kinerja, maka itu diperlukan upaya-upaya pencegahan mulai dari pencegahan primer, sekunder, maupun tersier. Berbagai upaya untuk mencegah kecelakaan di tempat kerja, anatarlain:
1. Upaya pencegahan kecelakaan kerja melalui pengendalian bahaya di tempat kerja
2. Upaya pencegahan kecelakaan kerja melalui pembinaan dan pengawasan
3. Upaya pencegahan kecelakaan kerja melalui system menejemen
Faktor utama yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja terjadi karena perilaku manusia atau kru kapal yang tidak disiplin atau ceroboh serta tidak patuh terhadap peraturan, SOP atau prosedur keselamatan kerja, selain itu pembekalan pada kru kapal
dengankegiatan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja sebelum berlayar dapat memberikan pemahaman tentang akan pentingnya keselamatan kerja serta penegak sanksi yang tegas bagi kru yang melanggar.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti bermaksud melakukan penelitian tentang “ OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT KESELAMATAN DIRI UNTUK MENIMALISIR RISIKO
KECELAKAAN DIATAS KAPAL X” yang di lakukan selama praktek laut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka di dalam penelitian ini penulis akan menetapkan rumusan masalah tentang bagaimana optimalisasi penggunaan alat
keselamatan diri untuk menimalisir risiko kecelakaan diatas kapal x sebagai berikut:
1. Mengapa kru lalai dalam menggunakan alat keselamatan ?
2. Apa penyebab kru kapal kurang memahami pentignya alat keselamatan ?
3. Bagaiana monitoring kerusakan alat keselamatan diri bagi kru kapal ?
C. Batasan Masalah
Berdasarkan uraian dari pembahasan permasalahan diatas penulis akan mengangkat karya ilmiah terapan yang berfokus terhadap bagaimana penggunaan alat keselamatan kerja dalam menimalisir risiko kecelakaan diatas kapal karena kelalain. Cepat penulis menggunakan landasan peraturan yang mengatur keselamatan kerja.
D. Tujuan penelian
1. Tujuan umum penelitian ini adalah mengetauhi optimalisasi penggunaan alat keselamatan diri untuk menimalisir risiko kecelakaan diatas kapal x.
2. Tujuan khusus
a) Identifikasi kebijakan penerapan keselatan kerja dan memastikan bahwa kebijakan tersebut sudah berjalan dalam upaya pencegahan kecelakaan kru saat bekerja diatas kapal b) Untuk mengetauhi upaya yang dilakukan guna
meningkatkan kesadaran kru dalam menggunakan alat keselamatan kerja
c) Mengetauhi kelengkapan sarana dan prasarana penunjang keselamatan kerja diatas kapal
E. Manfaat penelitian 1. Secara teoritis
a) Dapat menambah ilmu pengetauhan serta dapat membantu dalam pengoptimalan penerapan keselamatn di dalam dunia kerja terutama penerapan keselamatan di atas kapal
b) Berfikir lebih kritis dan dapat menganalisis suatu permasalahan serta dapat memberikan solusi atas permasalahan tersebut
2. Seacara praktis a) Manajemen
Bagai manajemen perusahaan kiranya dapat dijadikan sebagai masukan dan catatan untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja dikapal dan dapat digunakan untuk bahan pengambilan keputusan mengenai upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan keselamatan kerja.
b) Kru kapal
Bagi kru kapal hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk
meningkatkan penerapan keselamatan dalam bekerja sehingga kecelakaan pada saat bekerja diatas kapal dapat menimalisir dan dapat
menjadi gamabran serta evaluasi bagi kru kapal dalam penerapan keselamatan saat bekerja c) Penulis
Bagi penulis hasil penilitian ini sebagai sarana pengembangan diri dan aplikasi dari teori-teori yang telah diperoleh disebelumnya dan
dilakukan dengan permasalahan tentang keselamatan bekerja di kapal serta menjadi peringatan bagi penulis sendiri agar selalu mengedepankan keselamatan dalam bekerja
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
1. Pengertian Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja ialah suatu peristiwa yang tidak diinginkan serta tidak diduga sebelumnya yang bisa memunculkan korban manusia serta atau harta benda (permenaker no. 03/MEN/1998).
Pemahaman lainnya kecelakaan kerja ialah semua peristiwa yang tidak direncanakan yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cidera, kesakitan, kerusakan atau kerugian yang lain (Standard AS/NZS4801:20001). Sedangkan pengertian kecelakaan kerja menurut OHSAS 18001:2007 ialah peristiwa yang terkait dengan pekerjaan yang bisa mengakibatkan cidera atau kesakitan (bergabung dari keparahannya) peristiwa kematian atau peristiwa yang bisa mengakibatkan kematian.
Dibawah ini beberapa pemahaman kecelakaan kerja dari beberapa sumber buku:
1) Menurut Heinrich (1980), kecelakaan kerja atau kecelakaan karena kerja ialah suatu peristiwa yang tidak terencana serta tidak terkendali akibatnya karena suatu aksi atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang menyebabkan cidera atau peluang karena lainnya.
2) Menurut gunawan serta waluyo (2015), kecelakaan ialah suatu peristiwa yang (tidak direncanakan) serta tidak diinginkan yang bisa mengganggu proses
produksi/operasi,mengakibatkan kerusakan harta benda/asset,mencederai manusia, atau mengakibatkan kerusakan lingkungan.
3) Menurut Tjandra (2008), kecelakaan kerja ialah suatu kecelakaan yang berlangsung saat seseorang lakukan pekerjaan. Kecelakaan kerja adalah momen yang tidak direncanakan yang dikarenakan oleh suatu aksi yang tidak waspada suatu kondisi yang tidak aman atau keduanya.
4) Menurut suma’mur (2009) kecelakaan kerja ialah suatu
peristiwa atau momen yang tidak diharapkan yang merugikan pada manusia, mengakibatkan kerusakan harta benda atau kerugian pada proses.
2. Jenis-jenis Kecelakaan Kerja
Menurut Bird serta Germain (1990), ada tiga tipe kecelakaan kerja, yakni:
a. Accident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang
memunculkan kerugian baik buat manusia ataupun pada harta benda.
b. Incident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang belum memunculkan kerugian.
c. Near miss, yakni peristiwa hampir celaka dalam kata lainnya peristiwa ini hampir memunculkan peristiwa incident atau accident
Berdasarkan pada tempat dan waktu, kecelakaan kerja dibagi jadi empat tipe, yakni (Sedarmayanti, 2011):
1) Kecelakaan kerja karena langsung kerja 2) Kecelakaan saat atau waktu kerja
3) Kecelakaan di perjalanan ( dari rumah ke tempat kerja sertasebaliknya, lewat jalan yang wajar).
Berdasarkan pada tingkatan karena yang
diakibatkan,kecelakaan kerja dibagi jadi tiga tipe, yakni (Suma’mur,19811):
a) Kecelakaan keja enteng, yakni kecelakaan kerja yang perlu penyembuhan di hari itu serta dapat melakukan tugasnya kembali atau istirahat < 2 hari. Contoh: terpeleset, tergesek, terkena pechan beling, terjatuh serta terkilir
b) Kecelakaan kerja sedang, yakni kecelakaan kerja yang membutuhkan penyembuhan serta perlu istrirahat saat > 2 hari. Contoh: terjepit, luka sampai robek, luka bakar.
c) Kecelakaan kerja berat, yakni kecelakaan kerja yang alami amputasi serta kegagalan fungsi badan. Contoh: patah tulang.
3. Mencegah kecelakaan kerja
Kecelakaan kerja bisa dihindari dengan memerhatikan faktor-faktor, diantaranya sebagai berikut (Suma’mur,2009):
a. Aspek lingkungan
Lingkungan kerjayang dipenuhi kriteria mencegah kecelakaan kerja, yakni:
Penuhi syarat aman, mencangkup higiene umum, sanitasi, ventilasi udara, pencahayaan seta
penerangan dalam tempat kerja serta penyusunan suhu udara ruangan kerja.
Penuhi prasyarat keselamatan, mencakup keadaan gedung serta tempat kerja yang bisa menjamin keselamatan.
Penuhi penyelenggaraan ketatarumahtanggaan, mencakup penusunan penyimpanan barang peletakan serta pemasangan mesin, pemakaian tempat serta ruang.
b. Aspek Mesin serta perlengkapan kerja
1) Mesin atau alat perkakas merupakan peralatan yang digerakan oleh suatu kekuatan/tenaga yang
dipergunakan untuk memabntu manusia dalam mengerjakan produk.
2) Aspek Peralatan kerja
Alat pelindung diri adalah peralatan kerja yang perlu tercukui buat pekerja. Alat pelindung diri berbentuk alat pelindung kepala (safety helmets),alat pelindung
badan, safety gloves, safety shoes,alat pelindung pernafasan, alat pelindung pendengaran, alat
pelindung mata dan wajah yang semuanya harus pas ukurannya hingga memunculkan kenyamanan dalam penggunaanya.
c. Aspek manusia
Mencegah kecelakaan pada aspek manusia mencakup ketentuan kerja, memperhitungkan batas potensi serta keterampilan pekerja, meniadakan beberapa hal yang mengurangi konsentrasi kerja, menegakan disiplin kerja, hindari tindakan yang menghadirkan kecelakaan dan
menghilangkan terdapatnya ketidakcocokan fisik serta mental.
Kecelakaan kerja bisa terjadi juga dikurangi, dihindari atau dijauhi dengan mengaplikasikan program yang diketauhi dengan tri-E ataru Triple E, yakni (Sedamayanti,2011)
1. Engineering (Teknik). Enggineering berarti aksi pertama ialah lengkapi semua perkakas serta mesin
dengan alat pencegah kecelakaan (safety guards) contohnya tombol untuk hentikan bekerjanya alat/mesin dan alat lainnya, supaya mereka dengan teknis bisa terpoteksi.
2. Education (Pendidikan). Education berarti perlu memberi pendidikan serta latihan pada para pegawai untuk memberikan rutinitas kerja serta langkah kerja yang pas dalam rencana sampai kondisi yang aman (safety) semaksimal mungkin.
3. Enforcement (Penerapan). Enforcement berarti aksi penerapan,yang memberikan jaminan jika ketentuan pengendalian kecelakaan dikerjakan.
4. Alat keselamatan dan keselamatan kerja
Menurut UU Nomor 1 Tahun 1970 definisi keselamatan kerja adalah suatu usaha atau kegiatan untuk
menciptakan lingkunga kerja yang aman dan mencegah semua bentuk kecelakaan. Menurut Suma’mur (2001:104) keselamatn kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum menurut Mathis dan Jackson (2002:245) Alat-alat keselamatan menurut Lewis (1993:292) yaitu segala sesuatu yang berguna untuk menyelamatkan hidup, bagian dari ketentuan, biasanya dilengkapi peralatan yang berada di atas kapal dlam sebuah
pelayarn sebelum kapal meninggalkan pelabuhan dan setiap waktu selama dalam pelayaran, semua alat-alat penolong harus dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan
Alat keselamatan pada dasarnya merupakan alat yang sangat penting, sebab alat tersebut adalah upaya terakhir dalam usaha melindungi pekerja setelah upaya rekayasa (Hindratmo, Astria, 2016). Jadi alat
keselamatan kerja adalah segala sesuatu yang berguna dan digunakan sebagai pelindung untuk menyelamatkan hidup dan sebagai upaya terakhir dalam melindungi diri.
Alat keselamatan dibutuhkan untuk menekan adanya krban jiw terjadi sesuatu yang tidak di inginkan di laut, dan ini telah terjadi suatu yang tidak di inginkan di laut, dan ini telah diatur dalam peraturan safety of life at sea (SOLAS) berdasarkan hasil pertemuan sejumlah negara pada tahun 1914.
Alat keselamatan yang bersifat pribadi yaitu alat yang harus tersedia untuk setiap individu diatas kapal dan adapula peralatan yang dapat digunakan secara
berkelompok. Alat keselamatan harus diperiksa secara rutin oleh perwira diatas kapal minimal satu bulan sekali untuk memastikan bahwa alat berfungsi dengan baik dan siap digunakan.
Jenis-jenis alat keselamatan menurut badan diklat perhubungan Repiblik Indonesia (2013:82) ada dua macam yaitu:
a. Untuk mesin-mesin
Alat ini sudah disediakan oleh pabrik-pabrik yang membuat dan mengeluarkan mesin-mesin tersebut misalnya kap-kap pelindung dari motor listrik, klep-klep keamanan dari ketel- ketel uap, pompa-pompa dan sebagainya.
b. Untuk para pekerja (safety equipment)
Alat-alat pelindung dar (APD) atau safety equipment adalah untuk melindungi pekerja dari bahaya-bahaya yang mungkin menimpangnya sewaktu menjalankan tugas.
Keselamatan kerja menurut badan diklat perhubungan (2000:63), keselamatan kerja adalah suatu usaha atau kegiatan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, mencegah semua bentuk kecelakaan. Jadi definisi
keselamatan kerja adalah sarana utama untukk pencegahan kecelakaan, cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja (Lewis 1993:292)
Peranan dalam penggunaan alat-alat keselamatan kerja merupakan salah satu usaha untuk mencegah atau
mengurangi adanya kecelakaan pada saat kerja. Oleh karena itu diharapkan seluruh kru yang bekerja di atas kapan agar selalu meggunakan alat-alat keselamatan pada saat bekerja, keselamatan kerja merupakan prioritas utama bagi seorang pelaut profesional saat bekerja di atas kapal.
Kegiatan pelayaran harus memastikan bahwa kru kapal mengikuti prosedur keamanan pribadi dan aturan untuk semua kegiatan kerja diatas di kapal, langkah dasar adalah memastikan bahwa kru kapal, alat keselamatan kerja yang paling utama diatas kapal antara lain yaitu:
1) Alat pelindung kepala (safety helmets)
safety helmets atau alat pelindung kepala berfungsi sebagai alat pelindung diri untuk melindungi kepala dari bahaya yang disebabkan oleh benda yang jatuh dari tempat yang lebih tinggi. Adalagi beberapa bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu atau tidak terduga seperti bahaya benturan dari benda sekitar, bahan kimia berbahaya, dan masih banyak lagi jenis bahaya.
Beberapa perusahaan pasti memiliki ketentuannya masin-masing mulai dari warna,bentuk, dan jenis yang dipilih.
2) Alat pelindung badan
Alat pelindung badan biasanya sering digunakan pada saat bekerja diluar lapangan, di tempat tertutup,
ataupun ditempat-tempat khusus. Pelindung badan berguna untuk melindungi kulit dari kontak langsung terhadap benda yang dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja ringan maupun beat, contohnya membatasi tubuh dari percikan api-api yang
ditimbulkan ketika melaksanakan kegiatan hot work, melindungi tubuh dari karat dan kotoran-kotoran yang ditimbulkan dari kegiatan pembersihan atau cleaning, atau membatasi kulit dengan beda halus yang dapat mengakibatkan iritasi ringan maupun berat.
3) Alat pelindung anggota badan (lengan dan kaki) a) Safety gloves
Safety gloves atau yang sering kita dengan sarung tangan memiliki banyak jenis sesuai dengan kebutuhan dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan contohnya seperti sarung tangan yang terbuat dari karet sintetik untuk menangani suatu yang berbahan asam atau
bahan kimia lainnya, sarung tangan yang terbuat dari bahankulit untuk menangani suatu benda dengan permukaan kasar.
b) Safety shoes
Banyak kasus kecelakaan yang terjadi di atas kapal terutama pada bagian kaki yang
diakibatkan oleh kelalaian para kru dalam penggunan safety shoes. Banyak jenis kecelakaan yang terjadi terjepit benda berat, benturan benda yang jatuh dari ketinggian, serta tumbukan.
4) Alat pelindung pernafasan
Alat pelindung penafasan biasa di dapati di atas kapal bertujuan apabila terjadi suatu insiden yang menyebabkan menipisnya kadar oksigen yang berada di dalam akomodasi kapal atau utuk
menyelamatkan kru yang masih terjebak di dalam akomodasi. Selain untuk keadaan emergency, alat pelindung pernafasan pada kapal curah pengangkut semen dibutuhkan sebagai saran utama apabila melakukan pengecekan atau pembersihan yang mengharuskan para kru untuk masuk kedalam palka. Contohnya seperti masker khusu, masker medis, buff, breating apparatus dan EEDB ( Emergency Escape Breathing Device). Alat pelindung keselamatan juga
digunakan pada saat memadamkan api untuk membantu tim fireman bernafas ketika memadamkan api.
5) Alat pelindung pendengaran
Banyak jenis type alat pelindung pendengaran ini tetapi yang palig umum dan biasa didapati di atas kapal adalah earplug, dikapal banyak banyak ditemukan kru terutama kru kamar mesin yang biasa mendengar bunyi yang keras menggunakan alat pelindung
pendengaran ini, selain di kamar mesin alat pelindung pendengaran
ini juga digunakan oleh kru kapal yang berada di bagian deck, untuk digunakan apabila bekerja dilapangan yang menimbulkan bunyi yang keras seperti membersihkan karat dengan menggunakan chipping hummer.
Selain digunakan untuk pekerjaan yan menimbulkan atau berada di sekeliling benda yang mengeluarkan suara keras, alat pelindung pendengaran ini juga digunakan untuk menghalangi benda asing atau serpihan-serpihan benda yang kecil untuk masuk keadalam telingan sehingga dapat merusak atau mengganggu alat
pendengaran sehingga risiko terjadinya infeksi didalam rongga telingan bisa dihindari.
6) Alat pelindung mata dan wajah
Pekerjaan yang berpotensi menciderai mata dan wajah wajib untuk menggunakan alat pelindung mata dan wajah yang tepat. Bahay ini banyak didapati apabila sedang melakukan kegiatan hotwork seperti sedang melakukan kegiatan welding, cutting, brush, dan grinding.
Bahaya yang dapat mengancam mata dan wajah adalah seperti partikel yang berterbangan, bahan kimia cair, logam cair, bahan kimia asam atau basa, ahan kimia menguap dan gas serta radiasi cahaya. Banyak kejadian kecelakaan kerja yang melukai mata atau wajah akibat pekrja tidak menggunakan alat pelindung mata dan wajah atau menggunakan dengan cara yang tidak benar.
5. Pencegahan
Salah satu upaya untuk menghindari kejadian kesakitan dan
kematian yaitu dengan melakukan pencegahan. Menurut kemenkes RI Ditjen P2P (2000:8) pencegahan adalah suatu usaha yang dilakukan individu atau kelompok dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam pengertian yang luas,
pencegahan dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan
sengaja agar tidak terjadi gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau kelompok. Tindakan yang dilakukan sebelum sesuatu terjadi. Pencegahan adalah suatu proses, cara, tindakan mencegah atau tindakan menahan agar sesuatu hal yang tidak terjadi. Dapat dikatakan pula suatu upaya yang dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran.
B. Peneltian yang relevan
Penelitian yang relevan sangat penting dilakukan oleh peneliti.
Manfaat penelitian yang relevan adalah untuk mengetauhi apa yang telah dihasilkan dan perbedaan apa dari peneliti
sebelumnya, serta untuk memperkuat hasil peneliti terdahulu.
N o
Nama
(Tahun) Judul Metode Hasil
1 Julius Agung Prasetyo Mudamak
in (2019)
Optimalis asi Penerap
an Keselam
atan Kerja di MV. New
Glory.
Pengumpula n data dan
teknik analisis
Kecelakaan terjadi karena:
faktor manusia, yang didalamnya rendah nya kedisiplinan,kura
ngnya penalaman dan
pemahaman crew dalam bekerja dan faktor peralatan kerja yang tidak
layak pakai.
2. Upik Widyanin
gsih
Analisis keselama
tan kerja
Survei atau observasi,de
ngan cara
Hasil penelitian yang telah menunjukan
(2022) pelayara n pada
kapal niaga
mengadakan pengamatan
langsung terhadap kegiatan
yang dilakukan oleh ABK
bahwa terjadinya kecelakaan kerja
pelayaran disebabkan ABK
tidak menggunakan
peralatan keselamatan kerja pada saat
melakukan pekerjaan.
Dari hasil penelitian yang relevan membuktikan bahwa di dalam suatu perusahaan masih terdapat keslahan atau kelalaian dalam bekerja. Kecelakaan terajadi karena: faktor manusia, yang didalamnya terdapat rendahnya kedisiplinan, kurangnya pengalaman dan pemahaman crew dalam bekerja. Serta faktor peralatan kerja yang tidak layak pakai.
C. Kerangka penelitian
Kerangka penelitian adalah suatu diagram yang menjelaskan secara garis besar alur logika berjalannya sebuah penelitian.
Kerangka pemikiran dibuat berdasarkan pertanyaan penelitian (research question), dan mempresentasikan suatu himpunan dari bebrapa konsep serta hubungan di antara konsep-konsep tersebut (Polancik,2009). Untuk mempermudah penulisan dalam penyusunan Karya Ilmiah Terapan (KIT), maka
menggunakan kerangka [ikir. Pada kerangka penelitian yang disusun secara sistematis. Menitik beratkan pada penelitian
tentang penerapan keselamatan kera yang tidak berjalan optimal yang disebabkan oleh beberapa faktor.
Faktor-faktor tersebut antara lain disebabkan manusia, kondisi, dan alat-alat. Dengan memperhatikan fakta-fakta yang menyebabkan prosedur keselamatan kerja tidak berjalan secara optimal, maka diberi acuan dalam optimalisasi
penerapan keselamatan kerja tersebut. Acuan tersebut tersebut berupa keselamatan kerja, sumber daya manusia, perawatan alat-alat keselamatan kerja, sumber daya manusia, perawatan alat-alat keselamatan kerja, serta pengarahan tentang kedisiplinan crew kapal tentang keselamatan kerja.
Hal ini dilaksanakan dengan harapan prosedur keselamatan kerja dapat dilaksanakan secara optimal dan aman juga terhindar dari risik kecelakaan kerjan.