PANCASILA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL INDONESIA
DOSEN PENGAMPU
Dr. I Nyoman Bagiastra, S.H., M.H.
DISUSUN OLEH Edward Mazzoleri Wibowo
2204551361
UNIVERSITAS UDAYANA FAKULTAS HUKUM
BUKIT JIMBARAN
2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat- Nya kita masih diberi kesehatan dan mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar negara, pedoman bangsa, dasar hukum bangsa, hingga menjadi identitas nasional. Sebagai identitas nasional, itu artinya Pancasila berfungsi menjadi ciri khas atau hal yang membedakan antara Indonesia dengan negara lainnya.
Makalah ini dibuat untuk menjelaskan pokok bahasan tersebut, yaitu ‘Pancasila Sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional’. Semoga dengan makalah ini dapat menambah pemahaman tentang Pancasila, dan makna Pancasila sebagai kepribadian dan identitas nasional.
Penulis mengakui bahwa makalah yang saya buat ini adalah makalah pertama saya dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila sehingga masih akan terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu pandangan, kritik dan saran dari bapak dosen pengampu saya, Dr. I Nyoman Bagiastra, S.H., M.H. akan sangat membantu saya untuk membuat makalah yang lebih baik lagi ke depannya.
Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan kepada penulis, penulis mengucapkan terima kasih.
Jimbaran, Desember 2022
Penulis,
Edward Mazzoleri Wibowo
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan Pembahasan Masalah ... 1
BAB II PEMBAHASAN ... 2
A. Pengertian Pancasila ... 2
B. Pengertian Identitas Nasional Secara Umum ... 4
C. Pengertian Identitas Nasional Menurut Para Ahli ... 4
D. Identitas Nasional Bangsa Indonesia ... 5
E. Pancasila Sebagai Identitas Nasional ... 7
BAB III PENUTUP ... 9
Kesimpulan... 9
DAFTAR PUSTAKA ... iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Kewarganegaraan atau yang biasa disingkat PKN merupakan salah satu materi dasar di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bukan hanya terdapat di fakultas hukum saja, namun di fakultas lain hingga jenjang sekolah dasar sudah diajarkan mengenai Pendidikan Kewaganegaraan. Dalam materi kewarganegaraan, ada satu bahan pokok materi pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan, yaitu Pancasila. Sebagai mahasiswa fakultas hukum, tentu saja pengetahuan mengenai kewarganegaraan dan Pancasila harus lebih baik daripada fakultas lainnya, sebab kita yang akan menjadi ahli atau pakar dalam bidang mengenai kewarganegaraan dan Pancasila.
Pancasila yang menjadi kepribadian dan identitas nasional, mengartikan bahwa Pancasila harus dapat menjadi suatu ciri khas bangsa Indonesia. Pancasila harus dapat menjadi suatu hal yang membedakan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya. Mengingat sangat pentingnya pancasila sebagai kepribadian dan identitas nasional, maka kita harus meneruskan perjuagan serta memelihara, melestarikan menghayati , dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang menjadi identitas nasional agar negara kita tidak kehilangan jati dirinya.1
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, saya akan membahas beberapa hal terkait negara yang menjadi alasan serta tujuan dibuatnya makalah ini. Hal-hal yang akan menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini yaitu sebagai berikut.
1. Pengertian Pancasila;
2. Pengertian Identitas Nasional Secara Umum;
3. Pengertian Identitas Nasional Menurut Para Ahli;
4. Identitas Nasional Bangsa Indonesia;
5. Pancasila Sebagai Identitas Nasional.
C. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk menuntaskan tugas dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Selain itu, diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan mengenai pengertian Pancasila dan makna Pancasila sebagai kepribadian dan identitas nasional, serta menjadi bekal pengetahuan bagi mahasiswa untuk dapat memahami berbagai pelajaran yang akan dihadapi selama masa perkuliahan.
1Effendy Suryana dan Kaswan, Pancasila & Ketahanan Jati Diri Bangsa, PT. Refika Aditama, Bandung, 2015, hlm. 153.
Page 2 of 10
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pancasila
Pancasila memiliki pengertian yang luas, baik dalam konteks kedudukannya sebagai Dasar Negara, sebagai Pandangan Hidup Bangsa, Sebagai Ideologi Bangsa dan Negara, atau dalam konteks sebagai kepribadian bangsa, serta dalam proses terjadinya. Sehingga terdapat berbagai macam terminologi yang harus kita deskripsikan secara objektif. Sehingga dalam konteks pembahasan tentang pengertian Pancasila ini, akan dijumpai berbagai macam penekanan, sesuai dengan kedudukan dan fungsi Pancasila tersebut, terutama dalam perumusan dan pembahasan yang berdasarkan sejarah (kajian diakronis).
Pancasila, sejak masih berupa nilai-nilai yang terdapat dalam pandangan hidup bangsa, hingga menjadi menjadi Dasar Negara, bahkan sampai pada tataran pelaksanaannya dalam sejarah kenegaraan Indonesia di masa lalu. Misalnya ketika masa Orde Lama sedang berkuasa, pada saat itu kita jumpai berbagai macam rumusan Pancasila yang berbeda-beda. Agar dapat memahaminya secara baik dan benar, maka kita harus mendeskripsikannya secara objektif, sesuai dengan kedudukan dan perumusan dari Pancasila itu sendiri.2
1. Pengertian Pancasila Secara Etimologis
Bila dilihat secara harfiah (etimologis), Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yang dapat dijabarkan dalam dua kata, yaitu Panca yang berarti lima, dan Sila yang berarti dasar. Sehingga Pancasila berarti lima dasar, yaitu lima dasar Negara Republik Indonesia. Istilah sila juga bisa berarti sebagai aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa serta kelakuan atau perbuatan yang menurut adab, akhlak dan moral.
Menurut Muhammad Yamin, dalam bahasa Sansekerta perkataan Pancasila memiliki dua macam arti, yaitu, ‘Panca’ yang artinya lima dan ‘syila’ dengan vokal (i) pendek yang artinya batu sendi, atau alas, atau dasar, serta ‘syiila’ dengan vokal (i) panjang, yang artinya peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh. Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa Indonesia terutama bahasa Jawa diartikan susila yang memiliki hubungan dengan moralitas. Oleh sebab itu secara etimologi kata Pancasila yang dimaksudkan adalah istilah Pancasila dengan vokal (i) pendek yang memiliki makna berbatu sendi lima atau secara harfiah dasar yang memiliki lima unsur.
Perkataan Pancasila mula-mula terdapat dalam kepustakaan Budha di India.
Ajaran Budha bersumber pada kitab suci Tri Pitaka, yang terdiri atas tiga macam buku besar yaitu: Suttha Pitaka, Abhidama Pitaka, dan Vinaya Pitaka. Berikutnya dengan masuknya kebudayaan India dan menyebarnya agama Hindu dan Budha ke wilayah Nusantara, maka secara tidak langsung ajaran Pancasila Budhismepun juga masuk ke dalam kepustakaan jawa, terutama pada Jaman Majapahit. Oleh sebab itu di zaman
2Achmad Muchji, dkk. Pendidikan Pancasila. Penerbit Gunadarma, Jakarta, 2007, hlm. 7.
kerajaan Majapahit di bawah raja Hayam Wurk dan Maha Patih Gajah Mada, terdapat keropak Negarakertagama (syair pujian) dalam pujangga istana yang bernama Mpu Prapanca,3 yang berbunyi “Yatnaggegwani pancasyiila kertasangskarbhisekaka kerama”, yang artinya Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan (Pancasila), begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan-penobatan. Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan agama Islam mulai berkembang di kerajaan Majapahit, namun sisa-sisa ajaran moral Budha (Pancasila) terutama tentang berbagai larangan masih tetap dikenal di masyarakat. Ajaran tersebut dikenal dengan 5M atau lima Ma, yaitu larangan untuk mateni atau membunuh, larangan untuk maling atau mencuri, larangan madon atau main perempuan (berzina), larangan mabok atau meminum minuman keras, dan larangan main atau berjudi.4
2. Pengertian Pancasila secara Terminologis
Secara terminologi, Pancasila digunakan oleh Bung Karno sejak sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945 untuk memberi nama pada lima prinsip dasar negara.
Dengan diproklamasikannya Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, maka lahirlah negara Republik Indonesia. Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 dilanjutkan dengan sidang PPKI sebagai sarana untuk melengkapi alat-alat kelengkapan negara yang telah merdeka. Dalam sidang tersebut telah berhasil mengesahkan UUD Negara Republik Tahun Indonesia, yang selanjutnya dikenal dengan nama UUD 1945.
Naskah dalam UUD 1945 secara keseluruhan terdiri dan tersusun atas tiga bagian, yaitu: Bagian Pembukaan, yang terdiri atas 4 alinea yaitu bagian batang tubuh, yang terdiri atas 16 Bab, 37 Pasal, dan 4 Pasal Aturan Peralihan, dan 2 ayat Aturan Tambahan; dan Bagian Penjelasan, yang meliputi Penjelasan umum dan Penjelasan pasal demi pasal.
Namun pada waktu UUD 1945 disahkan oleh PPKI dalam sidangnya tanggal 18 Agustus 1945 baru meliputi Pembukaan dan Batang Tubuhnya saja. Sedangkan bagian Penjelasan belum termasuk di dalamnya. Baru setelah naskah resminya dimuat dan disiarkan dalam Berita Republik Indonesia tanggal 15 Februari 1946, bagian Penjelasan tersebut telah menjadi bagian dari UUD 1945. Sehingga sejak saat itu yang dimaksud dengan UUD 1945 adalah terdiri atas 3 bagian sebagaimana tersebut di atas.
Pada saat sidang pengesahan UUD 1945 beserta Pembukaannya oleh PPKI, naskah Pancasila yang terdapat dalam bagian Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
1) Ketuhanan Yang Maha Esa;
2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
3) Pesatuan Indonesia;
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan;
5) Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3Rio Christiawan, Pendidikan Pancasila dan Pluralisme, Penerbit Kencana, Jakarta, 2021, hlm.43.
4Purwito Adi, Buku Ajar Pancasila, Repository Unikama, Malang, 2015, hlm. 25.
Page 4 of 10 B. Pengertian Identitas Nasional Secara Umum
Identitas Nasional berasal dari kata Nationtal Identity yang berarti ‘kepribadian nasional’ atau ‘jati diri nasional’.5 Secara terminologis, identitas nasional merupakan ciri khas suatu bangsa secara filosofis, yang membedakan bangsa tersebut dengan bangsa-bangsa lainnya. Berdasarkan pengertian ini, maka bangsa-bangsa di seluruh dunia memiliki identitasnya masing-masing berdasarkan ciri khas, keunikan, sifat dan karakter dari bangsa tersebut.
Kelahiran dari identitas nasional disebabkan oleh beberapa faktor-faktor yang membuatnya berkembang. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1) Faktor objektif, adalah faktor yang meliputi geografis, ekologis, dan demografis;
2) Faktor subjektif, adalah faktor yang didasari pada historis, sosial, politik, dan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
C. Pengertian Identitas Nasional Menurut Para Ahli
Menurut Kaelan (2007), identitas nasional pada hakikatnya adalah manisfestasi nilai- nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan satu bangsa (nation) dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya. Nilai-nilai budaya yang berada dalam sebagian besar masyarakat dalam suatu negara dan tercermin di dalam identitas nasional.6
Robert de Ventos dalam bukunya yang berjudul The Power Of Identity mengemukakan teori tentang munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi antara empat faktor penting.7 Empat faktor tersebut, yaitu :
1) Faktor primer, faktor ini mencakup etnisitas, teritorial, bahasa, agama dan yang sejenisnya;
2) Faktor pendorong, faktor in terdiri dari pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan pembangunan lainnya dalam kehidupan negara. Dalam hubungan ini bagi suatu bangsa kemauan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan negara dan bangsanya juga merupakan suatu identitas nasional yang bersifat dinamis;
3) Faktor penarik, faktor ini mencakup kodifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantaan sistrm pendidikan nasional;
4) Faktor reaktif, faktor ini meliputi penindasan, dominasi, dan pencarian identitas alternatif melalui memori kolektif rakyat.
Pendapat lain mengenai identitas nasional oleh Koento Wibisono (2005) yang menyatakan bahwa identitas nasional adalah pengertian yang di dalamnya tersimpul perangkat nilai-nilai budaya yang mempunyai ciri khas dan membedakan dengan bangsa lain. Identitas
5Ani Sri Rahayu, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2017, hlm.
36.
6Dwi Sulisworo, Tri Wahyuningsih, Dikdik Baehaqi Arif, Bahan Ajar Identitas Nasional, Repository UAD, Yogyakarta, 2012, hlm. 4.
7Ibid, hlm. 7.
nasional merupakan konstruksi emosional, intelektual, dan ideologis yang terus-menerus harus dibangun agar tata nilai yang tersimpul di dalamnya tetap relevan, aktual, dan fungsional dalam menghadapi zaman yang terus-menerus berkembang dan berubah-ubah.8
D. Identitas Nasional Bangsa Indonesia
Pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia melalui pengembangan nilai-nilai kebudayaan Indonesia telah mulai dilakukan di masa Kebangkitan Nasional, jauh sebelum masa kemerdekaan. Berbagai kongres-kongres kebudayaan telah banyak memberi inspirasi dan memberi kesadaran berbangsa yang diwujudkan dengan semakin banyaknya organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik yang berdiri.
Apa pentingnya identitas nasional bagi bangsa Indonesia? Jawabannya sederhana, yaitu untuk menunjukkan siapa bangsa Indonesia itu, yaitu suatu bangsa yang berdaulat. Ada tiga alasan mengapa identitas nasional itu penting, yaitu :
1) Pertama, identitas nasional adalah hal mutlak yang dimiliki setiap bangsa; termasuk Indonesia agar bangsa Indonesia dikenal oleh bangsa lain. Apabila bangsa Indonesia sudah dikenal secara luas oleh bangsa lain, maka bangsa Indonesia dapat melanjutkan perjuangan untuk mampu eksis sebagai suatu bangsa dengan fitrahnya.
2) Kedua, identitas nasional bagi bangsa dan negara Indonesia sangat penting juga bagi keberlangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia sendiri. Tidak mungkin negara dapat hidup sendiri, apabila tidak memiliki eksistensi kepada bangsa dan negara lain. Setiap negara sama halnya dengan setiap individu, yang merupakan makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri; negara juga seperti itu sebab setiap negara memiliki keterbatasan dan memerlukan bantuan dari negara dan bangsa lainnya.
3) Ketiga, identitas nasional penting bagi kewibawaan bangsa dan negara Indonesia.
Sebab apabila setiap negara telah mengenal masing-masing identitas nasional, maka akan tumbuh pengakuan kedaulatan, rasa saling hormat, saling pengertian, dan menumbuhkan kepercayaan untuk melakukan kerjasama.
Identitas nasional itu sendiri memiliki berbagai bentuk. Setelah bangsa Indonesia lahir dan menyelenggarakan kehidupan bernegara, selanjutnya mulai dibentuk dan disepakati apa saja yang dapat dijadikan sebagai identitas nasional. Dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa Indonesia relative berhasil dalam membentuk identitas nasionalnya. Identitas nasional Indonesia tercantum dalam konstitusi Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 35-36C. Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia di antaranya adalah sebagai berikut :9
8Lasiyo, Reno Wikandaru, Hastangka, Pendidikan Kewarganegaraan, Penerbit Universitas Terbuka, Tangerang, 2020, hlm. 5.11.
9I Wayan Latra, Identitas Nasional Sebagai Salah Satu Determinan Dalam Pembangunan Bangsa dan Karakter, Repository Unud, Denpasar, 2017, hlm. 9.
Page 6 of 10
1) Sang Saka Merah Putih sebagai Bendera Negara
Ketentuan tentang Bendera Negara diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009 mulai dari Pasal 4 hingga Pasal 24. Bendera merah putih pertama kali dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Bendera tersebut disebut Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih; bendera itu kini disimpan di Monumen Nasional Jakarta.
2) Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional (Bahasa Persatuan)
Ketentuan tentang Bahasa Nasional diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009 mulai dari Pasal 25 hingga Pasal 45. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan hasil dari kesepakatan para pendiri NKRI dan diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928.
3) Garuda Pancasila sebagai Lambang Negara
Ketentuan tentang Lambang Negara diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009 mulai dari Pasal 46 hingga Pasal 57. Lambang Garuda Pancasila mulai diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada 11 Februari 1950. Lambang ini mengandung simbol sila-sila Pancasila.
4) Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan
Ketentuan tentang Lagu Kebangsaan diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009 mulai dari Pasal 58 hingga Pasal 64. Indonesia Raya pertama kali dinyanyikan pada Kongres Pemuda II dan selanjutnya menjadi lagu kebangsaan yang dinyanyikan pada setiap upacara kenegaraan dan upacara-upacara resmi lainnya.
5) Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara
Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Semboyan ini dirumuskan oleh para pendiri negara setelah memperhatikan kebangsaan Indonesia yang sangat pluralisme dan terdiri dari banyak suku bangsa. Semboyan ini mengandung makna bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang heterogeny sebab terdiri dari banyak suku bangsa, tetapi tetap berniat dan bersepakat untuk menjadi satu bangsa, yaitu Bangsa Indonesia.
6) Pancasila sebagai Dasar Falsafah
7) Pancasila awalnya merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Melalui perjalanan dan waktu yang Panjang, Pancasila memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Pancasila menjadi penciri khas dari bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, setiap orang yang mengaku sebagai Warga Negara Indonesia harus memiliki pemahaman, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan Pancasila.
E. Pancasila Sebagai Identitas Nasional
Budaya dapat membentuk identitas suatu bangsa melalui proses inkulturasi dan akulturasi. Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia merupakan konsekuensi dari proses inkulturasi dan akulturasi tersebut. Salah satu defisini kebudayaan adalah suatu desain untuk hidup yang merupakan suatu perencanaan dan sesuai dengan perencanaan itu masyarakat mengadaptasikan dirinya pada lingkungan fisik, sosial, dan gagasan. Apabila definisi kebudayaan ini ditarik ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka negara Indonesia memerlukan suatu rancangan masa depan bagi bangsa agar masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan lingkungan baru, yakni kehidupan berbangsa yang mengatasi kepentingan individu atau kelompok.
Kebudayaan bangsa Indonesia merupakan hasil inkulturasi, yaitu proses perpaduan berbagai elemen budaya dalam kehidupan masyarakat sehingga menjadikan masyarakat berkembang secara dinamis. (J.W.M. Bakker, 1984: 22) menyebutkan adanya beberapa saluran inkulturasi, yang meliputi: jaringan pendidikan, kontrol, dan bimbingan keluarga, struktur kepribadian dasar, dan self-expression. Haviland menegaskan bahwa akulturasi adalah perubahan besar yang terjadi sebagai akibat dari kontak antarkebudayaan yang berlangsung lama. Hal-hal yang terjadi dalam akulturasi meliputi :
1) Substitusi, yaitu penggantian unsur atau kompleks yang ada oleh yang lain yang mengambil alih fungsinya dengan perubahan struktural yang minimal;
2) Sinkretisme, yaitu percampuran unsur-unsur lama untuk membentuk sistem baru;
3) Adisi, yaitu tambahan unsur atau kompleks-kompleks baru;
4) Orijinasi, yaitu tumbuhnya unsur-unsur baru untuk memenuhi kebutuhan situasi yang berubah;
5) Rejeksi, yaitu perubahan yang berlangsung cepat dapat membuat sejumlah besar orang tidak dapat menerimanya sehingga menyebabkan penolakan total atau timbulnya pemberontakan atau gerakan kebangkitan.
Oleh karena hal tersebut, Pancasila sangat bagus untuk dijadikan sebagai identitas bangsa atau juga disebut sebagai jati diri bangsa Indonesia yang bersifat dinamis dan khas menjadi pandangan hidup dalam mencapai cita-cita dan tujuan hidup bersama.10 As’ad Ali mengatakan bahwa Pancasila sebagai identitas kultural dapat ditelusuri dari kehidupan agama yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Karena tradisi dan kultur bangsa Indonesia dapat diitelusuri melalui peran agama-agama besar, seperti peradaban Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen.
Agama-agama tersebut menyumbang dan menyempurnakan konstruksi nilai, norma, tradisi, dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat. Misalnya, konstruksi tradisi dan kultur masyarakat Melayu, Minangkabau dan Aceh tidak bisa dilepaskan dari peran peradaban Islam. Sementara konstruksi budaya Toraja dan Papua tidak terlepas dari peradaban Kristen. Demikian pula halnya dengan konstruksi budaya masyarakat Bali yang sepenuhnya dibentuk oleh peradaban Hindu.11
Pancasila disebut juga sebagai kepribadian bangsa Indonesia, artinya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal perbuatan. Sikap mental, tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia mempunyai ciri khas, artinya dapat dibedakan dengan bangsa lain. Kepribadian itu mengacu pada sesuatu yang unik dan khas karena tidak ada pribadi yang benar-benar sama.
Setiap pribadi mencerminkan keadaan atau halnya sendiri, demikian pula halnya dengan ideologi bangsa.
Meskipun nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan juga terdapat dalam ideologi bangsa-bangsa lain, tetapi bagi bangsa Indonesia kelima sila tersebut mencerminkan kepribadian bangsa karena diangkat dari nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia sendiri dan dilaksanakan secara simultan. Di samping itu, proses akulturasi dan
10I Putu Ari Astawa, Identitas Nasional, Simdos Unud, Denpasar, 2017, hlm. 8.
11Kunawi Basyir dkk, Pancasila dan Kewarganegaraan, Sunan Ampel Press, Surabaya, 2013, hlm. 126.
Page 8 of 10
inkulturasi ikut memengaruhi kepribadian bangsa Indonesia dengan berbagai variasi yang sangat beragam.
Kendatipun demikian, kepribadian bangsa Indonesia sendiri sudah terbentuk sejak lama sehingga sejarah mencatat kejayaan di zaman Majapahit, Sriwijaya, Mataram, dan lain- lain yang memperlihatkan keunggulan peradaban di masa itu. Nilai-nilai spiritual, sistem perekonomian, politik, budaya merupakan contoh keunggulan yang berakar dari kepribadian masyarakat Indonesia sendiri.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Pengertian Pancasila bisa dipahami secara etimologis dan terminologis. Pengertian Pancasila secara etimologis, Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, yang dapat dijabarkan dalam dua kata, yaitu Panca yang berarti lima, dan Sila yang berarti dasar. Sehingga Pancasila berarti lima dasar, yaitu lima Dasar Negara Republik Indonesia. Istilah ‘sila’ juga bisa berarti sebagai aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa; kelakuan atau perbuatan yang menurut adab (sopan santun), akhlak dan moral. Dalam buku Sutasoma ini istilah Pancasila juga mempunyai arti pelaksanaan Kesusilaan yang lima. Istilah Pancasila kemudian diangkat lagi oleh Soekarno saat merumuskan dasar negara Indonesia pasca kemerdekaan.
Pengertian Pancasila secara terminologis dapat diartikan sebagai lima prinsip dasar negara.
Pasca kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, keesokan harinya PPKI mengadakan sidang sebagai sarana untuk melengkapi alat-alat kelengkapan negara yang telah merdeka. Dalam sidang tersebut telah berhasil mengesahkan UUD negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal dengan nama UUD 1945. Pada saat sidang pengesahan UUD 1945 beserta Pembukaannya oleh PPKI, naskah Pancasila yang terdapat dalam bagian Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
3. Pesatuan Indonesia;
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/
Perwakilan;
5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Identitas Nasional berasal dari kata Nationtal Identity yang berarti ‘kepribadian nasional’
atau ‘jati diri nasional’. Kelahiran dari identitas nasional disebabkan oleh faktor objektif dan faktor sebjektif. Munculnya identitas nasional suatu bangsa merupakan hasil interaksi antara empat faktor penting, yaitu :
1) Faktor primer, faktor ini mencakup etnisitas, teritorial, bahasa, agama dan yang sejenisnya;
2) Faktor pendorong, faktor in terdiri dari pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan pembangunan lainnya dalam kehidupan negara. Dalam hubungan ini bagi suatu bangsa kemauan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan negara dan bangsanya juga merupakan suatu identitas nasional yang bersifat dinamis;
3) Faktor penarik, faktor ini mencakup kodifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantaan sistrm pendidikan nasional;
4) Faktor reaktif, faktor ini meliputi penindasan, dominasi, dan pencarian identitas alternatif melalui memori kolektif rakyat.
Page 10 of 10
Identitas nasional merupakan suatu hal yang penting bagi setiap bangsa. Ada tiga alasan mengapa identitas nasional itu penting, yaitu :
1) Identitas nasional yang memang merupakan hal mutlak setiap bangsa, sehingga bangsa Indonesia dikenal oleh bangsa lain;
2) Identitas nasional bagi bangsa dan negara Indonesia sangat penting juga bagi keberlangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia sendiri. Sebab negara setiap negara memiliki keterbatasan dan memerlukan bantuan dari negara dan bangsa lainnya.
3) Identitas nasional penting bagi kewibawaan bangsa dan negara Indonesia.
Dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa Indonesia relatif berhasil dalam membentuk identitas nasionalnya. Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia, yaitu :
1) Sang Saka Merah Putih sebagai Bendera Negara;
2) Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional (Bahasa Persatuan);
3) Garuda Pancasila sebagai Lambang Negara;
4) Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan;
5) Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara;
6) Pancasila sebagai Dasar Filsafah.
Pancasila sebagai kepribadian dan identitas nasional. Budaya dapat membentuk identitas suatu bangsa melalui proses inkulturasi dan akulturasi. Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia merupakan konsekuensi dari proses inkulturasi dan akulturasi tersebut. Kebudayaan bangsa Indonesia merupakan hasil inkulturasi, yaitu proses perpaduan berbagai elemen budaya dalam kehidupan masyarakat sehingga menjadikan masyarakat berkembang secara dinamis.
Ada beberapa saluran inkulturasi, yang meliputi jaringan pendidikan, kontrol, dan bimbingan keluarga, struktur kepribadian dasar, dan self-expression. Kebudayaan bangsa Indonesia juga merupakan hasil akulturasi. Akulturasi adalah perubahan besar yang terjadi sebagai akibat dari kontak antarkebudayaan yang berlangsung lama. Hal-hal yang terjadi dalam akulturasi meliputi:
1) Substitusi, yaitu penggantian unsur atau kompleks yang ada oleh yang lain yang mengambil alih fungsinya dengan perubahan struktural yang minimal;
2) Sinkretisme, yaitu percampuran unsur-unsur lama untuk membentuk sistem baru;
3) Adisi, yaitu tambahan unsur atau kompleks-kompleks baru;
4) Orijinasi, yaitu tumbuhnya unsur-unsur baru untuk memenuhi kebutuhan situasi yang berubah;
5) Rejeksi, yaitu perubahan yang berlangsung cepat dapat membuat sejumlah besar orang tidak dapat menerimanya sehingga menyebabkan penolakan total atau timbulnya pemberontakan atau gerakan kebangkitan.
Pancasila disebut juga sebagai kepribadian bangsa Indonesia, artinya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal perbuatan. Meskipun nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan juga terdapat dalam ideologi bangsa-bangsa lain, tetapi bagi bangsa Indonesia kelima sila tersebut mencerminkan kepribadian bangsa karena diangkat dari nilai- nilai kehidupan masyarakat Indonesia sendiri dan dilaksanakan secara simultan.
DAFTAR PUSTAKA
Suryana, Effendy. Kaswan. 2015. Pancasila & Ketahanan Jati Diri Bangsa. Bandung : PT.
Refika Aditama.
Muchji, Achmad, dkk. 2007. Pendidikan Pancasila.Jakarta : Penerbit Gunadarma.
Christiawan, Rio. 2021. Pendidikan Pancasila Dan Pluralisme. Jakarta : Penerbit Kencana.
Adi, Purwito. 2015. Buku Ajar Pancasila. Malang : Repository Unikama.
https://repository.unikama.ac.id/701/1/buku%20ajar%20pancasila%202015- purwito%20adi.pdf.
Sri Rahayu, Anis. 2017. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Jakarta : PT.
Bumi Aksara.
Sulisworo, Dwi, dkk. 2012. Bahan Ajar Identitas Nasional. Yogyakarta : Repository UAD.
http://eprints.uad.ac.id/9433/1/IDENTITAS%20NASIONAL%20Dwi.pdf.
Lasiyo. Wikandaru, Reno. Hastangka. 2020. Pendidikan Kewarganegaraan. Tangerang : Penerbit Universitas Terbuka.
Latra, I Wayan. 2017. Identitas Nasional Sebagai Salah Satu Determinan Dalam Pembangunan Bangsa dan Karakter. Denpasar : Repository Unud.
http://erepo.unud.ac.id/id/eprint/12599/1/73897666bed07ff50b5b2bf1ed73e60a.pdf.
Astawa, I Putu Ari. 2017. Identitas Nasional. Denpasar : Simdos Unud.
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/20bb958d430cc7d21ef6c2b58d14da 41.pdf.
Basyir, Kunawi, dkk. 2013. Pancasila dan Kewarganegaraan. Surabaya : Sunan Ampel Press.