PANDANGAN ISLAM TERHADAP MAKANAN SEHAT DAN GIZI SEIMBANG MATA KULIAH AGAMA ISLAM II
Dosen Pembimbing : Lailatul Muniroh, SKM., M.Kes
Oleh
KELOMPOK 2 :
Putri Nabilla Huda 192221003
Friska Flasinta 192221037
Najwa Frida Herdiana 192221038 Rizkya Ariyanti Ananda D 192221041 Hayyu Qoyyumur R. 192221043 Cheesa Yusranisa K. 192221045 Reny Dwi Desti Amalia 192221055
PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA 2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pandangan Islam terhadap Pola Makan Sehat dan Gizi Seimbang ”.
Dalam penulisan artikel ilmiah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada dosen pengampu mata perkuliahan Agama Islam II, Lailatul Muniroh, S.K.M., M.Kes. yang senantiasa memberikan petunjuk dan arahan selama penyusunan makalah ini. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik dan tepat waktu.
Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih terdapat kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan yakni susunan kalimat maupun tata bahasanya maupun materi.
Mengingat akan kemampuan yang kami miliki, untuk itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Surabaya, 3 September 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI... 3
BAB I... 1
TINJAUAN LITERATUR...1
1.1 Teori Makanan Sehat Menurut Pandangan Islam...1
1.2 Teori Gizi Seimbang Menurut Pandangan Islam...2
1.3 Pentingnya Pemenuhan Gizi Sehat dan Seimbang dalam Pandangan Islam...5
BAB II...6
STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN... 6
BAB III... 7
PENUTUP...7
DAFTAR PUSTAKA...9
BAB I
TINJAUAN LITERATUR 1.1 Teori Makanan Sehat Menurut Pandangan Islam
Dalam perspektif kesehatan, kata "makanan" merujuk pada benda yang dikonsumsi oleh manusia atau hewan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi tubuh, serta untuk memutus rantai penyebaran penyakit. Makanan dapat berupa berbagai jenis, seperti makanan pokok, sayuran, buah-buahan, daging, ikan, produk olahan, dan lain sebagainya. Makanan berperan penting dalam memelihara kesehatan dan kehidupan manusia, karena tubuh manusia memerlukan berbagai zat gizi yang terkandung dalam makanan untuk menjalankan berbagai fungsi tubuhnya.
Secara etimologi, kata "makanan" berasal dari kata dalam bahasa Arab "tha'am"
(Andriyani, 2019). Kata "tha'am" sendiri merujuk pada segala jenis makanan atau bahan makanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Dalam konteks bahasa Arab dan Islam,
"tha'am" juga sering digunakan untuk merujuk pada makanan yang halal atau diperbolehkan dalam agama Islam. Makanan sehat dalam pandangan Islam memiliki asas utama yang mencerminkan pedoman dan nilai-nilai agama. Didalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT telah memberi petunjuk tentang makanan sehat dan bergizi dengan istilah halalan thayyiban. Halal adalah syarat pertama makanan bergizi yang mengandung arti ganda, yakni tidak diharamkan fiqih dan diperoleh dari nafkah halal atau tidak melanggar hukum (Andriyani, 2019). Sedangkan syarat kedua makanan tersebut hendaknya thayyib atau baik, berarti bahwa makanan yang dikonsumsi haruslah baik, suci, dan bersih. Prinsip ini menggarisbawahi pentingnya memilih makanan yang berasal dari sumber yang sah, bersih, dan sehat, serta disiapkan dan diolah dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam. Anjuran mengkonsumsi makanan yang halalan thayyiban terkandung dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 168 yang berbunyi:
ﺎَﮭﱡﯾَﺎٰٓﯾ
ُسﺎﱠﻨﻟا ا ْﻮُﻠُﻛ ﺎﱠﻤِﻣ
ِض ْرَ ْﻻاﻰِﻓ
ًﻼٰﻠَﺣ ﺎًﺒﱢﯿَط
َﻻﱠوۖ
ا ْﻮُﻌِﺒﱠﺘَﺗ
ِت ٰﻮُﻄُﺧ
ِۗﻦٰﻄْﯿﱠﺸﻟا
ٗﮫﱠﻧِا
ْﻢُﻜَﻟ ﱞوُﺪَﻋ
ٌﻦْﯿِﺒﱡﻣ ١٦٨
Artinya : “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Selain itu, Islam juga menekankan keseimbangan dalam makanan. Konsep "makan secukupnya" diajarkan untuk menghindari kelebihan atau pemborosan makanan.
Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk membagi makanan dengan yang membutuhkan, menciptakan kesadaran sosial dalam mengonsumsi makanan. Islam juga memberikan panduan tentang makanan yang seimbang dan bergizi. Makanan sehat dalam pandangan Islam bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai moral dan spiritual yang mendalam.
1.2 Teori Gizi Seimbang Menurut Pandangan Islam
Dalam perspektif kesehatan, gizi adalah zat yang terkandung dalam makanan dan diperlukan tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan, secara etimologi, gizi atau
"ghidzdzi" berarti semua hal yang berkaitan dengan makanan. Makanan dan gizi tidak dapat dipisahkan karena setiap makanan seharusnya mengandung zat gizi esensial (makro dan mikro). Dengan mencukupi kebutuhan gizi tubuh, maka akan dapat mengurangi risiko terkena penyakit. Untuk memastikan bahwa asupan dan pengeluaran zat gizi tubuh seimbang, gizi seimbang memiliki prinsip empat pilar: mengonsumsi makanan beragam, membiasakan perilaku bersih dan sehat, melakukan aktivitas fisik, dan menjaga dan menyeimbangkan berat badan. Berikut yang merupakan enam zat gizi utama yaitu:
1. Air
Kehidupan manusia bergantung pada air untuk bertahan hidup. Air dalam tubuh manusia berfungsi sebagai pelarut zat gizi melalui proses pencernaan dan membawa zat gizi ke dalam saluran darah dan limfatik untuk sampai ke seluruh sel jaringan tubuh. Pentingnya air untuk kehidupan manusia terkandung dalam ayat yang menganjurkan agar manusia memperhatikan air minumnya sebagaimana tersurat dalam QS Al – Waqiah ayat 68:
ُﻢُﺘْﯾَأَﺮَﻓَأ
َءﺎَﻤْﻟا يِﺬﱠﻟا
َنﻮُﺑَﺮْﺸَﺗ ) ٦٨ (
Artinya: Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?
Kalimat pertanyaan berfungsi sebagai peringatan yang halus dan tidak langsung agar manusia memperhatikan air yang dia minum.
2. Karbohidrat
Karbohidrat berasal dari bahasa Yunani "sakcharon" yang berarti gula. Karbohidrat terdiri dari rangkaian senyawa organik seperti karbon, hidrogen, dan oksigen, yang berfungsi sebagai sumber tenaga dan energi. Namun, fungsi karbohidrat bukan hanya
sebagai sumber energi, tetapi juga membantu menjalankan proses metabolisme tubuh.
Beberapa bahan makanan yang mengandung karbohidrat diantaranya kentang, jagung, dan beras. Al-Qur’an mengungkapkan tentang bahan makanan biji – bijian itu dalam QS Ya-Sin ayat 33:
ٌﺔَﯾآَو
ُﻢُﮭَﻟ
ُض ْرﻷا
َﻢْﻟا
ُﺔَﺘْﯾ ﺎَھﺎَﻨْﯿَﯿ ْﺣَأ ﺎَﻨ ْﺟَﺮ ْﺧَأَو ﺎًّﺒَﺣﺎَﮭْﻨِﻣ
ُﮫْﻨِﻤَﻓ
َنﻮُﻠُﻛْﺄَﯾ
Artinya: Dan suatu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji- bijian) itu mereka makan.
3. Lemak
Lemak, selain berfungsi sebagai sumber energi, juga membantu menjaga suhu tubuh, termasuk organ dalam tubuh manusia, melarutkan vitamin A, D, E, dan K, dan berpartisipasi dalam pembentukan hormon dan asam empedu. Mentega, minyak, lemak hewan, dan lain-lain adalah beberapa makanan yang mengandung banyak lemak. Dalam Al –Qur’an diisyaratkan penggunaan minyak dalam makanan sebagaimana tertulis di QS Al- Mu’minun ayat 20:
ًةَﺮَﺠَﺷَو
ُجُﺮ ْﺨَﺗ
ِر ْﻮُط ْﻦِﻣ
َءۤﺎَﻨْﯿَﺳ
ُﺖُﺒْْۢﻨَﺗ
ِﻦْھﱡﺪﻟﺎِﺑ
ٍﻎْﺒِﺻَو
َﻦْﯿِﻠِﻜْْٰﻠِﱢﻟ
Artinya: Dan (Kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan.
4. Protein
Protein secara etimologi dikenal dengan “protos” yang berasal dari Bahasa Yunani memiliki arti paling utama. Secara umum, protein berfungsi untuk pertumbuhan, pembentukan, komponen struktural, penyimpanan nutrisi, enzim, pembentukan antibodi, dan sumber energi. Protein dibagi menjadi dua, yaitu protein yang bersumber dari hewan yang disebut protein hewani dan protein yang bersumber dari tumbuhan yang disebut protein nabati. Terkait bahan makanan hewani dari darat, Al – Qur’an memberikan petunjuk melalui QS Ghafir ayat 79:
ﱡﻞﻟَا
ْيِﺬﱠﻟا
َﻞَﻌَﺟ
ُﻢُﻜَﻟ
َمﺎَﻌَْﻧ ْﻷا ا ْﻮُﺒَﻛ ْﺮَﺘِﻟ ﺎَﮭْﻨِﻣ ﺎَﮭْﻨِﻣَو
َن ْﻮُﻠُﻛْﺄَﺗ
Artinya: Allah yang menjadikan hewan-hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan.
Mengenai bahan makanan nabati dari darat, Al – Qur’an memberikan petunjuk melalui QS surat Al- Baqarah ayat 61:
ْذِإَو
ْﻢُﺘْﻠُﻗ ﺎَﯾ
ٰﻰَﺳﻮُﻣ
َﺮِﺒ ْﺼَﻧ ْﻦَﻟ
ٰﻰَﻠَﻋ
ٍمﺎَﻌَط
ٍﺪِﺣاَو
ُعْدﺎَﻓ ﺎَﻨَﻟ
َﻚﱠﺑَر جِﺮْﺨُﯾ ﺎَﻨَﻟ ﺎﱠﻤِﻣ
ُﺖِﺒْﻨُﺗ
ُض ْرَ ْﻷا
ْﻦِﻣ ﺎَﮭِﻠْﻘَﺑ ﺎَﮭِﺋﺎﱠﺜِﻗَو
ﺎَﮭِﻣﻮُﻓَو ﺎَﮭِﺳَﺪَﻋَو
ِﻞَﺼَﺑَو
Artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, "Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah (…)
5. Vitamin dan Mineral
Tubuh membutuhkan vitamin dan dalam jumlah sedikit, tetapi penting untuk kehidupan dan kesehatan manusia. Baik kekurangan maupun kelebihan vitamin akan mengganggu kesehatan badan. Sayuran dianggap sebagai sumber mineral dan vitamin dari sudut pandang ilmu gizi. Dalam Al-Qur’an secara jelas menganjurkan agar manusia makan sayur-mayur, sebagaimana tersurat dalam QS Yunus ayat 24:
ﺎَﻤﱠﻧِإ
ُﻞَﺜَﻣ
ِةﺎَﯿَﺤْﻟا ﺎَﯿْﻧﱡﺪﻟا
ٍءﺎَﻤَﻛ
ُهﺎَﻨْﻟَﺰْﻧَأ ءﺎَﻤﱠﺴﻟا َﻦِﻣ
َﻂَﻠَﺘ ْﺧﺎَﻓ
ُتﺎَﺒَﻧِﮫِﺑ
ِض ْرَ ْﻷا ﺎﱠﻤِﻣ
ُﻞُﻛْﺄَﯾ
ُسﺎﱠﻨﻟا
ُمﺎَﻌَْﻧ ْﻷاَو
…
Artinya: Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman Bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak…
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat dengan jelas menganjurkan kepada umat manusia agar mereka mengkonsumsi buah – buahan yang merupakan sumber vitamin salah satunya QS Al- Mu’minun ayat 19:
ﺎَﻧْﺄَﺸَﻧﺄَﻓ ﻢُﻜَﻟ
ٍتﺎﱠﻨَﺟ ِﮫِﺑ ﻦِﱢﻣ
ٍﻞﯿِﺨﱠﻧ
ٍبﺎَﻨْﻋَأَو
ْﻢُﻜﱠﻟ ﺎَﮭﯿِﻓ
ُﮫِﻛاَﻮَﻓ
ٌةَﺮﯿِﺜَﻛ ﺎَﮭْﻨِﻣَو
َنﻮُﻠُﻛْﺄَﺗ
Artinya: Lalu dengan (air) itu, Kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur; di sana kamu memperoleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari (buah-buahan) itu kamu makan.
1.3 Pentingnya Pemenuhan Gizi Sehat dan Seimbang dalam Pandangan Islam
Islam memiliki keterkaitan yang erat dengan segala bidang kehidupan termasuk bidang kesehatan, salah satunya adalah ilmu gizi. Dalam islam sangat menganjurkan untuk menjaga kesehatan dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Seimbang yang dimaksud adalah tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Hal tersebut tercantum dalam Al-Quran tentang anjuran untuk mengkonsumsi makanan yang tidak berlebihan.
ْٓﻲِﻨَﺒٰﯾ
َمَدٰا ا ْوُﺬُﺧ
ْﻢُﻜَﺘَﻨْﯾِز
َﺪْﻨِﻋ
ٍﺪِﺠْﺴَﻣ ﱢﻞُﻛ ا ْﻮُﻠُﻛﱠو ا ْﻮُﺑَﺮْﺷاَو
ۚاْﻮُﻓِﺮْﺴُﺗ َﻻَو
ٗﮫﱠﻧِا ﱡﺐِﺤُﯾ َﻻ
َﻦْﯿِﻓِﺮْﺴُﻤْﻟا
Artinya : Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih- lebihan (Qs. Al-A’raf : 31).
Menurut Ibnu Qawwim terdapat tingkatan mengkonsumsi makanan antara lain memenuhi kebutuhan, sekedarnya atau secukupnya dan yang terakhir berlebihan . Pendapat tersebut terdapat pada sabda nabi. “ Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah untuk anak adam makan beberapa suap untuk sekedar menegakkan punggungnya (batas minimal makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup). Kemudian (jika harus makan lebih dari itu), maka sepertiganya untuk makan , sepertiga lagi untuk minum, dan sepertiga yang lain untuk bernafas” (Husnah, 2022).
Dalam sabda tersebut menjelaskan anjuran untuk mengkonsumsi makanan secukupnya.
Selain itu, adapun tujuan makan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup, membantu perkembangan dan pembentukan tubuh, serta menggantikan zat-zat yang hilang dari dalam tubuh. Jika ibarat manusia mengonsumsi makanan secara berlebihan sehingga perut terisi penuh dengan makanan, maka tidak terdapat ruang lagi untuk minum, sementara sebaliknya jika perut terisi penuh dengan minuman maka dapat mengakibatkan munculnya penyakit seperti malas dan rasa begah sehingga sulit untuk bernafas.
Makanan yang dikonsumsi harus mengandung istilah halalan tayyiban. Menurut istilah fiqh,halal berarti sesuatu yang diperbolehkan syara sementara tayyibandari segi bahasa berarti sedap, lezat, enak atau baik. Istilahtayyib sendiri semakna dengan istilah gizi yang mengandung arti sesuatu (zat) yang baik yang diperlukan oleh tubuh ,dan tidak membahayakan fisik maupun mental manusia. Hal tersebut ditafsirkan oleh Muhammad Jamaluddin Al Qasamy pada kata
ﺐﯿط
yang tertuang pada surat Al-Baqarah:168لﻮﻘﻌﻠﻟﻻﻮﻧاﺪﺑﻸﻟرﺎﺿﺮﯿﻏ‚ﮫﺴﻔﻨ ﻓﺎﺑﺎﻄﺘﺴﻣ
Artinya (Yang baik) yakni memberikan kebaikan pada jiwa manusia, tidak membahayakan fisik serta akalnya.
Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa makanan bergizi menurut al-quran merupakan segala hal yang wajar dimakan, yang baik untuk jiwa serta tidak membahayakan akal dan juga fisik manusia. Selain itu, istilah tayyib pada makanan semakna dengan “makanan sehat, proporsional dan aman” (Shihab, 2014). Makanan sehat berarti makanan yang mempunyai zat gizi yang cukup dan seimbang. Dalam alquran pula sudah dijelaskan beberapa makanan bergizi yang harus dikonsumsi diantaranya sayur dan buah pada surat Abasa : 24-32, pangan hewani pada surat An-Nahl:14, Madu pada surat An-Nahl:69, susu pada surat An-Nahl:66, dan masih banyak lagi (Aliyah, 2016).
Menurut Al-quran terdapat fungsi makanan bagi manusia antara lain:
1. Sebagai pertumbuhan dan perkembangan manusia
Pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat memerlukan zat gizi melalui konsumsi bahan makanan. Hal tersebut tertuang pada Q.S. Ali Imran :37
ﺎَﮭَﻠﱠﺒَﻘَﺘَﻓ ﺎَﮭﱡﺑَر
ٍل ْﻮُﺒَﻘِﺑ
ٍﻦَﺴَﺣ ﺎَﮭَﺘَﺒ ْۢﻧَاﱠو ﺎًﺗﺎَﺒَﻧ
ۖﺎًﻨَﺴَﺣ ﺎَﮭَﻠﱠﻔَﻛﱠو ﺎﱠﯾِﺮَﻛَز
ۗ ﺎَﻤﱠﻠُﻛ
َﻞَﺧَد ﺎَﮭْﯿَﻠَﻋ ﺎﱠﯾِﺮَﻛَز
َۙباَﺮْﺤِﻤْﻟا
َﺪَﺟَو
ﺎَھَﺪْﻨِﻋ ﺎًﻗ ْزِر
ۚ َلﺎَﻗ
ُﻢَﯾ ْﺮَﻤٰﯾ ﻰّٰﻧَا اَﺬٰھ ِﻚَﻟ
ۗ ْﺖَﻟﺎَﻗ
ْﻦِﻣ َﻮُھ
ِﺪْﻨِﻋ
ِ ّٰﷲ
ۗ ﱠنِا
َ ّٰﷲ
ُقُز ْﺮَﯾ
ْﻦَﻣ
ُءۤﺎَﺸﱠﯾ
ِﺮْﯿَﻐِﺑ
ٍبﺎَﺴِﺣ
Artinya : “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”
Dalam ayat tersebut diibaratkan oleh seorang ibu yang harus memberikan makanan yang baik kepada anak-anaknya untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.
2. Untuk memperoleh tenaga
Makanan yang dikonsumsi dengan baik akan mnjadi sumber nergi atau tenaga dalam menjalankan kehidupan sehari hari. Hal tersebut tertuang pada Q.S.Al- Furqon:20
ﺂَﻣَو ﺎَﻨْﻠَﺳ ْرَأ
َﻚَﻠْﺒَﻗ
َﻦِﻣ
َﻦﯿِﻠَﺳ ْﺮُﻤْﻟٱ ﱠﻵِإ
ْﻢُﮭﱠﻧِإ
َنﻮُﻠُﻛْﺄَﯿَﻟ
َمﺎَﻌﱠﻄﻟٱ
َنﻮُﺸْﻤَﯾَو
ِقاَﻮْﺳَ ْﻷٱ ﻰِﻓ
ۗ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟَو
ْﻢُﻜَﻀْﻌَﺑ
ٍﺾْﻌَﺒِﻟ
ًﺔَﻨْﺘِﻓ
َنوُﺮِﺒْﺼَﺗَأ
ۗ َنﺎَﻛَو
َﻚﱡﺑَر اًﺮﯿِﺼَﺑ
Artinya : Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.
3. Untuk menjaga kesehatan dan kehidupan Q.S. An-Nahl:69
ﻰِﻠُﻛ ﱠﻢُﺛ ﻦِﻣ
ِت َٰﺮَﻤﱠﺜﻟٱ ﱢﻞُﻛ ﻰِﻜُﻠْﺳﭑَﻓ
َﻞُﺒُﺳ
ِﻚﱢﺑَر
ًﻼُﻟُذ
ۚ ُجُﺮ ْﺨَﯾ
ۢﻦِﻣ ﺎَﮭِﻧﻮُﻄُﺑ
ٌباَﺮَﺷ
ٌﻒِﻠَﺘْﺨﱡﻣ ۥُﮫُﻧ َٰﻮْﻟَأ
ِﮫﯿِﻓ
ٌءﺂَﻔِﺷ
ِسﺎﱠﻨﻠﱢﻟ
ۗ ﱠنِإ
َﻚِﻟ َٰذ ﻰِﻓ
ًﺔَﯾاَءَل
ٍم ْﻮَﻘﱢﻟ
َنوُﺮﱠﻜَﻔَﺘَﯾ
Artinya : “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Ayat ini berhubungan dengan kesehatan dimana madu berfungsi antioksidan dan dapat menjaga kesehatan manusia
BAB II
STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN 2.1 Studi Kasus
Pandemi merupakan masa kelam yang menghantui manusia di seluruh dunia, mulai sampai merenggut nyawa, juga menurunnya grafik ekonomi di tiap negara. Selama masa pandemi berlangsung, banyak orang yang mudah terserang akibat imunnya yang kurang. Hal ini yang akhirnya memicu meningkatnya angka tertularnya virus Covid-19. Dalam masa isoman (isolasi mandiri) tentunya diperlukan makanan yang sehat juga bergizi untuk menunjang masa pemulihan. Pandemi Covid-19 juga menimbulkan banyak sekali hoax terhadap makanan, karena beberapa makanan ada yang masih dalam batas abu-abu antara halal dan haram. Tak hanya itu, karena ketakutan berlebihan ada beberapa orang yang sengaja menimbun makanan dan minuman seperti contohnya susu beruang karena dipercaya bisa menyembuhkan Covid sehingga mereka takut jika kehabisan. Dalam islam sendiri, bagaimana pandangan terhadap makan yang sehat dan bergizi yang dikonsumsi untuk tujuan kesehatan? Selain itu bagaimana pandangan islam terkait menimbun makanan dan minuman bergizi untuk tujuan kesehatan?
2.2 Pandangan Islam terhadap Makanan Sehat
Perspektif makanan dalam islam sangatlah diperhatikan. Secara etimologi, gizi atau ghidzdzi berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan makanan. Dan sehat wal’afiat dapat diartikan sebagai kondisi ragawi dan komponen-komponennya yang bebas dari virus penyakit. Allah SWT memperhatikan ketika seseorang sedang makan, makanan akan menjadi nikmat dan mengenyangkan, tetapi seringkali manusia menjadi lalai mengenai manfaat dari makanan yang seharusnya untuk menjaga kelangsungan hidupnya, bukan “hidup hanya untuk makan”. Kesehatan fisik seseorang dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsinya. Al - Qur’an telah mengatur tentang makanan sehat sebagaimana dijelaskan dalam Surah Abasa ayat 24,
ِﺮُﻈ ۡﻨَﯿ ۡﻠَﻓ
ُنﺎَﺴۡﻧِ ۡﻻا ﻰٰﻟِا
ٖۙۤﮫِﻣﺎَﻌَط ٢٤
“ Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya
"
Di zaman modern ini, taraf ekonomi yang semakin meningkat turut mempengaruhi gaya hidup manusia dalam kemakmuran hidupnya, terutama dalam pemilihan makanan dengan varian yang beragam. Perkembangan ini tentunya berdampak dalam pola makan yang cenderung tidak teratur, dan tidak memperhatikan kondisi kesehatan sama sekali.
Pilar dari pola makan yang baik telah diatur didalam Al - Quran. Sebagai seorang muslim, hendaknya melakukan usaha yang sesuai dengan syariat islam, tidak menyimpang dan penuh dengan kehati hatian. Allah pun juga memerintahkan seorang muslim untuk bekerja keras dengan memperoleh rezeki melalui cara yang halal. Halal untuk mendapatkannya bukan berarti dengan cara riba, curang, menipu, mencuri, ataupun korupsi, melainkan dengan hati, tenaga, serta niat yang ikhlas. Makanan yang dicari dengan cara halal akan berpengaruh kepada jasmani dan rohani seseorang
Ditegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 168 bahwa seorang muslim juga harus memperhatikan status makanan/minuman yang dikonsumsinya bukan hanya dari segi kesehatannya saja namun juga dari segi hukumnya (halalan thoyiban).
Berdasarkan status hukum, makanan/minuman secara zatnya dapat dikategorikan halal yakni hukum asalnya mubah untuk dikonsumsi dan dikategorikan haram dimana beberapa jenis makanan/minuman dilarang untuk dikonsumsi seperti khamr, babi, darah.
Bukan hanya berdasarkan zat, namun juga ghair li dzatihi (proses). Seperti disebutkan dalam Al-Quran Surah Al-Maidah Ayat 3:
ُﻢ ْﺤَﻟَو
ِﺮْﯾِﺰْﻨِﺨْﻟا ﺂَﻣَو
ﱠﻞِھُا
ِﺮْﯿَﻐِﻟ
ِ ّٰﷲ
ُﺔَﻘِﻨَﺨْﻨُﻤْﻟاَو ٖﮫِﺑ
ُةَذ ْﻮُﻗْﻮَﻤْﻟاَو
ُﺔَﯾﱢدَﺮَﺘُﻤْﻟاَو
ُﺔَﺤْﯿِﻄﱠﻨﻟاَو ﺂَﻣَو
َﻞَﻛَا
ُﻊُﺒﱠﺴﻟا ﺎَﻣ ﱠﻻِا
ْۗﻢُﺘْﯿﱠﻛَذ
"Daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang sempat disembelih."
Peneliti mikrobiologi LIPI, Sugiyono Saputra, dalam pemberitaan Tempo, menjelaskan bahwa material genetik 2019-nCoV pada kasus COVID-19 merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular. Data tersebut diperoleh setelah membandingkan sampel virus dengan lebih dari 200 jenis virus Corona dari berbagai hewan yang dijual di sebuah pasar di Wuhan, di mana sejumlah korban infeksi pertama diketahui pernah mendatanginya.
Kelelawar termasuk hewan yang buruk serta menjijikan. Oleh karenanya menurut Madzhab Hanbali dan Madzhab Syafi'i hukum memakan hewan tersebut haram. Selain itu ular termasuk hewan yang haram dikonsumsi karena Nabi melarang memakan hewan buas
yang bertaring. Memilih tidak memakan kelelawar dan ular yang digolongkan hewan menjijikan dalam Al-Qur’an dan Hadist dapat menghindarkan muslim dari virus penyakit seperti Covid-19.
2.3 Hukum Konsumsi Makanan Untuk Kesehatan
Tahun 2020 di berbagai dunia termasuk Indonesia menghadapi wabah virus corona yang dikenal dengan COVID-19. WHO menyatakan bahwa penyakit COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru ditemukan. Untuk menekan penyebaran virus ini beberapa upaya dilakukan, di antaranyasocial distancingyang akhirnya membatasi manusia dalam berbagai aktivitasnya sehingga melahirkan istilah baru yaitu work from home dalam dunia kerja. Diberlakukannya social distancing ini berdampak pada pendapatan, pola konsumsi serta perilaku mengambil keputusan seseorang, termasuk dalam mengkonsumsi barang atau jasa. Social distancing karena adanya COVID-19 bahkan membuat adaptasi konsumen dengan cepat merespon kehidupanNew Normaldalam berbagai bidang. Himbauan Stay At Home atau Work From Home menjadikan kegiatan terbatas dan meningkatkan konsumsi. Ditambah adanya imbauan makan sehat dan bergizi sebagai upaya meningkatkan imunitas.
Data dari survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pembelian untuk bahan makanan meningkat tajam sampai dengan 51% dalam rentang Februari hingga Juli 2020.
Sejalan dengan hasil survey McKinsey, produk yang banyak dikonsumsi selama COVID-19 didominasi oleh Food and Beverages. Pembelian buah-buahan, sayur-sayuran serta vitamin meningkat karena mulai banyak konsumen menyadari pentingnya mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi guna menjaga imunitas tubuh. Adaptasi konsumen selama pandemi ini memberikan opsi atau kecenderungan konsumsi seperti dalam survey McKinsey (2020), konsumen cenderung memilih memakan makanan yang sudah jadi dari restoran kemudian dikirimkan ke rumah dibandingkan dengan memakan langsung di Restoran. Sejak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai konsekuensi atas larangan aktivitas dine-in dan faktor keamanan, banyak restoran yang menyediakan pelayanan take away dan delivery online.
Berdasarkan survey Markplus inc, pembelianonline(online shopping) mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk yang sifatnya kebutuhan (needs) (Markplus inc, 2020). Pergeseran kecenderungan tersebut dalam perilaku konsumen muslim
termasuk motif rasional dalam mengkonsumsi barang maupun jasa. Ciri dari perilaku konsumen rasional adalah produk dibeli sesuai dengan kebutuhan serta memberikan manfaat yang optimal bagi konsumen.
Saat Pandemi Covid-19, pembelian susu Bear Brand meningkat pesat. Peningkatan minat beli hingga kelangkaan susu merek Bear Brand terjadi karena mitos penyembuhan penyakit covid pada saat itu. Mitos, aksi beli secara panik, citra merk, dan persepsi secara bersamaan memiliki dampak yang signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli susu Bear Brand (Ferdiana & Rahmawan, 2022).
Dalam ekonomi Islam, konsumsi ditentukan oleh kebutuhan (need). Kebutuhan ini ukurannya ditentukan oleh maslahah atau nilai barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan dasar dan tujuan hidup umat manusia. Maslahah sendiri mengandung arti adanya manfaat baik secara asal maupun melalui suatu proses, seperti menghasilkan kenikmatan dan faedah, ataupun pencegahan dan penjagaan seperti menjauhi kemudharatan dan penyakit. Kebutuhan yang berdasarkan maslahah ini merupakan bagian dari maqashid syariah yang mendorong terciptanya mashlahah dalam dua dimensi yakni dunia dan akhirat.
Tingkatan kebutuhan (need) menurut Imam Al-Syatibi (2003) terbagi ke dalam tiga kategori:
1. Al-Dharuriyah, sebagai kategori kebutuhan pokok, merupakan tingkatan dimana kelima unsur pokok kehidupan manusia atau yang mutlak harus ada pada diri manusia seperti agama, jiwa, akal, kekayaan, dan keturunan adalah mendasar untuk dilindungi.
2. Al- Hajiyah, sebagai tingkatan pelengkap setelah dharuriyah, bermakna menguatkan perlindungan kelima elemen pokok serta memberikan kemudahan dan menghilangkan kesulitan dalam kehidupan manusia.
3. Al-Tahsiniyah, memiliki sifat amelioratories dimana kebutuhan diperlukan untuk menunjang peningkatan kehidupan manusia di hadapan Allah dan bermasyarakat.
Tahsiniyah ada untuk menyempurnakan dua tingkatan kebutuhan sebelumnya dengan menitikberatkan kesenangan dan keindahan (estetika).
Adanya perbedaan rasionalitas konsumsi dalam konvensional dan Islam tentunya menjadikan perbedaan sikap konsumen dalam mengkonsumsi barang ataupun jasa. Di antara perilaku konsumen muslim yang mencirikan ia berbeda dengan perilaku konsumen lain, yaitu menghindari Israf (berlebih-lebihan) kebutuhan.
ۤۡﻰِﻨَﺒٰﯾ ۞
َمَدٰا ا ۡوُﺬُﺧ
ۡﻢُﻜَﺘَﻨ ۡﯾِز
َﺪ ۡﻨِﻋ
ٍﺪِﺠ ۡﺴَﻣ ﱢﻞُﻛ ا ۡﻮُﻠُﻛﱠو ا ۡﻮُﺑَﺮ ۡﺷاَو ا ۡﻮُﻓِﺮ ۡﺴُﺗ َﻻَو
ۚ ٗﮫﱠﻧِا ﱡﺐِﺤُﯾ َﻻ َﻦۡﯿِﻓِﺮ ۡﺴُﻤۡﻟا ٣١
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-Quran Surat Al-A'raaf ayat 31).
Pada bulan Maret ketika pemerintah Indonesia menghimbau untuk sosial distancing dan mengajak masyarakat untukStay at Home guna menekan laju pertumbuhan COVID-19, masyarakat mulai panik membeli berbagai macam barang. Banyak orang khawatir pembatasan tersebut membuat mereka kelaparan sehingga memborong makanan dan minuman. Kepanikan ini dapat memicu kelangkaan karena permintaan yang begitu tinggi dan hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu. Seperti contohnya pada saat itu orang-orang mempercayai bahwa susu beruang dapat mencegah atau bahkan menyembuhkan COVID-19 sehingga banyak orang berebut untuk membeli susu beruang di supermarket, bahkan tak sedikit yang membeli hingga berlusin-lusin, padahal harganya bisa dibilang cukup mahal.
Sementara perilaku konsumen muslim sendiri tidak akan melakukan permintaan terhadap barang maupun jasa yang melebihi pendapatannya. Konsumen muslim akan memperhatikan sumber pendapatannya apakah mencukupi dan memenuhi kebutuhannya secara wajar.
Islam memberikan batasan-batasan dalam mengkonsumsi baik secara kualitas maupun kuantitas. Batasan tersebut tidak bertujuan untuk mengekang namun batasan-batasan ini mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah (ḥablu minallah) dan manusia (ḥablu minannas) karena terdapat hak orang lain atas harta yang kita peroleh dan kepemilikan dalam Islam bukanlah kepemilikan yang mutlak. Sehingga sebagai seorang muslim, sebaiknya tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi barang ataupun jasa, karena dibalik harta yang berlebih itu terdapat hak orang lain.
BAB III PENUTUP
Makanan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan dan kehidupan manusia. Islam mendorong umatnya untuk menjaga keseimbangan dalam makanan dan menghindari pemborosan. Rasulullah SAW juga mendorong berbagi makanan dengan yang membutuhkan, menciptakan kesadaran sosial dalam mengonsumsi makanan.
Konsep "makan secukupnya" diajarkan untuk menghindari kelebihan atau kekurangan makanan. Makanan sehat dalam pandangan Islam tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai moral dan spiritual yang mendalam.
Dalam pandangan Islam, gizi seimbang adalah kunci untuk menjaga kesehatan tubuh.
Makanan yang seimbang harus mencakup berbagai zat gizi esensial, seperti air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Ayat-ayat dalam Al-Qur'an memberikan panduan tentang berbagai jenis makanan yang sehat, seperti sayur-mayur, buah-buahan, daging, dan lain sebagainya. Islam juga mengajarkan pentingnya memperhatikan status hukum makanan dan minuman yang dikonsumsi, sehingga memastikan bahwa mereka halal dan thoyiban (baik dan sehat).
Selama pandemi COVID-19, perilaku konsumen muslim mengalami perubahan yang signifikan. Ada peningkatan kesadaran akan pentingnya makanan sehat dan bergizi untuk meningkatkan imunitas tubuh. Pembelian bahan makanan, buah-buahan, sayur-sayuran, dan vitamin meningkat, sementara pembelian makanan dari restoran cenderung beralih ke layanan pengiriman dan pesan antar. Masyarakat juga perlu memperhatikan tindakan rasional dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, serta menghindari mitos yang tidak berdasar tentang penyembuhan penyakit.
Dalam pandemi, penting bagi umat Islam untuk menjaga kesehatan tubuh mereka dengan menjalani pola makan yang seimbang sesuai dengan ajaran Islam, menghindari kelebihan dan kekurangan, dan memastikan bahwa makanan yang mereka konsumsi adalah halal dan thoyiban. Kesadaran ini mencerminkan hubungan erat antara ajaran Islam dan kesehatan manusia, yang mengutamakan kesejahteraan fisik dan spiritual.
DAFTAR PUSTAKA
Aliyah, H. (2016). Urgensi Makanan Bergizi Menurut Al-Qur’an Bagi Pertumbuhan Dan
Perkembangan Anak. HERMENEUTIK, 10(2), 214-238.
doi:http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik.v10i2.4789
Andriyani. (2019). Kajian Literatur pada Makanan dalam Perspektif Islam dan Kesehatan.
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan,15(2).
Husnah, Z. B. (2022). PEDOMAN GIZI SEIMBANG DALAM AL-QUR’AN: Perspektif Tafsir Al Maraghi. Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin, 1(1), 26-38.
Ferdiana, R. K., & Rahmawan, G. (2022). PENGARUH MITOS PADA PEMBELIAN SUSU BEAR BRAND SEBAGAI PENANGKAL VIRUS CORONA: STUDI KASUS KONSUMEN SUSU BEAR BRAND. InJurnal Ilmu Sosial(Vol. 5, Issue 1).
Shihab, M. Q. (2014). Wawasan al-Quran. Bandung: Mizan